romantis

Bianca – Chapter 11 (Raga Mahesa)

Foto Bianca, ia mengunggahnya. Tapi dengan memotong sebagian dari foto tersebut. Jason hanya memperlihatkan rambut pirang Bianca, hidung mancungnya, serta bibir merah wanita itu. Dengan spontan Jason menuliskan caption ‘Dia Canduku’ kemudian mengirimnya begitu saja.

Jason tersenyum setelahnya. Ia tahu pasti bahwa nanti para fansnya akan dibuat menggila dengan postingannya tersebut. Tak akan ada yang bisa mengenali Bianca jika bukan teman dekat dari wanita itu sendiri, Jason tahu itu. Yang terpenting saat ini, bahwa ia sudah mengklaim diri Bianca, bahwa wanita itu adalah miliknya, wanita itu sudah menjadi candunya.

***

Chapter 11

-Raga Mahesa-

 

Pagi itu, Bianca dibuat heboh dengan telepon dari Sienna. Masih dengan setengah mengantuk, Bianca seakan enggan menerima panggilan telepon dari kakak iparnya tersebut. Tapi karena takut ada hal yang penting, akhirnya Bianca mau tidak mau mengangkat telepon dari kakak iparnya tersebut meski dengan sesekali menggerutu kesal.

“Astaga, ada apa sih? Ini masih pagi, tau!” Bianca sungguh sangat kesal. Semalam ia hampir tak bisa tidur karena memikirkan tentang Jason dan juga sedikit tentang Raga yang tiba-tiba menghubunginya. Kini, Bianca ingin tidur sampai siang, tapi kenapa Sienna malah mengganggunya?

“Bee, Please. Buka sosmed. Lihat sosmednya Jason.”

Bianca menguap lebar. “Kenapa? Apa kamu nggak bisa nunggu nanti? Ini kan masih pagi. Lagian, apa kamu nggak takut dimarahin kak Aldo karena bahas tentang Jason?”

“Pagi? Ini sudah jam sembilan tahu. Kak Aldo udah di kantor.”

Bianca duduk seketika, ia melirik jam di nakas dan benar saja, rupanya sekarang sudah siang.

“Bee, ayo, cepetan, cek sosmed Jason.”

Bianca mengembuskan napasnya dengan kasar. Jika boleh jujur, Bianca sudah tak pernah lagi men-stalk akun sosial media lelaki itu. Tentu Bianca tidak ingin kejadian sebelumnya terulang lagi. Dimana ia tidak bisa menahan diri untuk membalas komen para haters yang membuatnya kesal.

“Enggak ah, ngapain. Lagian kamu ada-ada aja. Pagi-pagi udah bikin ribut.”

Please Bee. Dia mengunggah foto kamu.”

Bianca merasa jika ada yang salah dengan pendengarannya. “Apa? Jangan ngaco.”

“Astaga, Bee. Kalau enggak, aku nggak bakalan hubungin kamu saat ini. cepat lihat.”

Akhirnya, Bianca memutus sambungan teleponnya, ia mencoba melihat sosial media Jason. Dan ternyata, ya, Sienna benar. Jason telah mengunggah fotonya. Meski lelaki itu memotong bagian atas wajahnya hingga sulit dikenali, tapi orang yang telah mengenal dan sering bertemu dengan dirinya tentu mengenali foto siapa yang telah diunggah oleh Jason.

Ya, itu benar-benar dirinya.

Astaga, apa yang sedang dilakukan Jason?

Bianca melihat jika lelaki itu mengunggah fotonya tersebut tadi malam. Lalu ia melihat jika sudah lebih dari sembilan puluh ribu komentar tersematkan di foto tersebut.

Bianca mencoba membuka komentar-komentar tersebut. Ia berharap jika tak ada yang mengenali jika itu dirinya.

‘Hari patah hati nasional.’

‘Patah hati.’

‘My heart is broken’

‘Siapa dia?’

‘Kayaknya itu foto gue, deh’

‘Nggak Rela anjirr, Jomblo aja biar buat bersama’

‘Kamu tega, mas, kamu tega! Bagaimana dengan kita?’

‘Jason? suka cewek? OMG gak nyangka gue, Cin.’

‘Kenapa harus dia? nggak cantik-cantik amat.’

‘Cantik kayaknya.’

‘Apa cuma gue yang berpikir kalau dia mirip sama gadis bunga kemaren?’

‘Jase… aku nggak rela!’

‘Jason suamiku…’

‘Aku nggak akan pernah bilang “Congratulation” im sorry.’

‘Cuma mau bilang, Gue mau ke Indomaret, ada yang mau nitip?’

‘Hey Bitch! Menjauhlah dari Jason kami.’

‘Jelek.’

‘Gak pantes.’

‘Pelacur barunya Jason, Ya?’

‘Settingan.’

Dan masih banyak lagi. Bianca tak mungkin dapat membaca semua komentar yang ada di sana. Secepat kilat Bianca mencoba menghubungi Jason. Ia ingin meminta penjelasan kenapa lelaki itu mengggunggah fotonya tadi malam. Lagi pula, sejak kapan Jason memiliki fotonya? Dan astaga, Bianca juga tak bisa mengenyahkan caption yang ditulis lelaki itu di foto tersebut.

‘Dia canduku.’

Meski hanya dua kata, tapi itu benar-benar mampu membuat pipi Bianca merah padam. Bukannya Bianca tidak suka Jason mempublikasikan hubungan mereka. Hanya saja, Bianca takut jika itu akan berimbas buruk dengan karir Jason. Bianca juga tidak nyaman jika tiba-tiba ada yang mengenalinya kemudian berbuat yang tidak-tidak padanya untuk membuat Jason malu. Lagi pula, mereka bukannya sudah sepakat untuk menyembunyikan hubungan mereka dari publik?

Telepon Bianca akhirnya diangkat pada deringan ketiga.

“Hai, Bee. Tumben kamu telepon.”

“Jase, apa yang kamu lakukan?” tanya Bianca sedikit panik.

“Apa? Kenapa?” Jason bingung apa yang dimaksud oleh Bianca.

“Fotoku, darimana kamu dapat? Dan kenapa kamu mengunggahnya di akun sosial media kamu?”

“Ohh.” Jason menghela napas panjang. “Aku hanya ingin mengklaim seseorang saja.”

“Mengklaim aku?”

“Ya. Kenapa? Kamu nggak suka?”

“Astaga Jase. Publik menggila. Kamu nggak lihat apa kalau komentarnya sampai jebol puluhan ribu? Fans kamu menggila, Jase.”

“Bee. Dengar. Jika mereka benar-benar menyayangiku, maka mereka akan ikut bahagia dengan pilihanku.”

“Tapi bagaimana dengan management kamu? Katanya kamu punya kontrak yang mengharuskan kalian tetap sendiri.”

“Aku kan nggak sedang bilang kalau aku punya pacar. Lagi pula, nggak ada yang ngenalin kalau itu kamu. Aku memotong sebagian wajah kamu.”

“Tapi Sienna mengenalinya.” Bianca menjawab cepat. Sungguh, yang ia khawatirkan saat ini adalah karir Jason.

“Dia jeli juga ternyata.” Jason sempat terkikik dan itu benar-benar membuat Bianca sebal.

“Jase, aku nggak sedang bercanda. Oke?”

Jason tertawa lebar. “Iya, Sayang. Aku tahu kamu khawatir. Tapi kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Oke?”

Bianca menghela napas panjang. Mendengar Jason memanggilnya dengan panggilan sayang membuat Bianca luluh seketika. “Aku hanya khawatir kalau aku akan mengganggu karir kamu.”

“Kamu gila? Itu nggak akan terjadi. Oke? Jadi tolong, jangan khwatir lagi.” Bianca akhirnya bisa menghela napas lega. “Jadi, apa siang ini kita bisa ketemu?” tanya Jason lagi.

Bianca berpikir sebentar. “Kayaknya aku belum bisa ke sana. Soalnya aku mau keluar sama Sienna. Nggak apa-apa, kan?” Bianca sedikit tidak enak.

“Ya, nggak apa-apa sih.” Suara Jason terdengar sedikit kecewa. “Tapi, apa aku boleh ke rumahmu nanti malam?”

“Kamu mau ngapelin aku?” tanya Bianca sedikit tak percaya.

“Tentu saja. Bukannya aku sudah mendapatkan lampu hijau dari Papa kamu?”

Bianca tertawa girang. “Ya, boleh. Kamu boleh main ke sini. Aku akan menunggu.”

“Oke, Jam tujuh aku ke sana. Sekarang, aku mau ke studio dulu.”

“Oke.” Bianca menjawab dengan senang. Kemudian telepon mereka akhirnya berakhir. Meski masih khawatir dengan keadaan yang ada, tapi Bianca cukup lega saat Jason sadar apa yang sudah lelaki itu lakukan. Setidaknya, Jason bertanggung jawab dengan apa yang lelaki itu lakukan.

***

Siang itu, Bianca akhirnya bertemu dengan Sienna. Mereka memang sudah saling berjanji akan berbelanja bersama. Dan kini, mereka melakukannya.

Sienna masih tak berhenti dan tak lelah bertanya pada Bianca tentang apa yang terjadi diantara Bianca dan juga Jason. Mungkin, jika Jason tidak mengunggah foto Bianca, maka Sienna tak akan peduli dan menganggap masalah ciuman di atas panggung saat itu hanya sebuah keberuntungan saja untuk Bianca. Tapi kini, Sienna berubah pikiran saat ia sudah melihat Jason mengunggah foto Bianca seakan mendeklarasikan pada dunia bahwa lelaki itu sudah memiliki Bianca di sisinya.

“Aisssh, kamu nggak asyik, Bee. Aku kan cuma tanya, kalian beneran nggak ada hubungan apa-apa?”

“Kan aku sudah bilang, mungkin Jasonnya iseng.” Bianca masih tak mau kalah, ia sungguh belum ingin hubungannya diketahui oleh Sienna, apalagi Aldo, kakaknya yang tampak tak suka dengan Jason.

“Terus, apa untungnya juga dia ngisengin kamu? Memangnya kamu artis?” ucap Sienna dengan kesal.

“Ya kan, secara aku cantik dan ngangenin, mungkin Jason ketagihan sama ciumanku saat itu.” Bianca menjawab dengan penuh percaya diri hingga membuat Sienna memutar bola matanya karena kesal.

“Bee, ayolah, aku serius.” Sienna merengek.

“Jangan merengek padaku. Lagian, Si, kamu itu kan kakak ipar aku, kenapa kesannya jadi kayak kamu adikku sih.”

Sienna mendengus sebal. “Tahu gitu, kita nggak usah belanja aja tadi. Rugi aku pinjam kredit card Kak Aldo buat neraktir kamu belanjaan kalo ujung-ujungnya aku nggak dapetin gosip apapun tentang Jason dari kamu.”

Bianca tertawa lebar. “Jadi kamu sedang nyogok aku?”

“Ya.” Sienna menjawab dengan ketus. Lagi-lagi itu membuat Bianca tertawa lebar. Sungguh, Bianca merasa jika dirinya akan awet muda jika Sienna selalu berada di sekitarnya. Wanita ini benar-benar menggemaskan, pantas saja kakaknya jatuh hati pada wanita manja di hadapannya ini.

Saat Bianca tak juga menghentikan tawanya, ponselnya berbunyi. Bianca melirik sekilas dan terpampang nama Raga di sana. Segera Bianca menghentikan tawanya, dan itu benar-benar membuat tingkat kekepoan Sienna meningkat seketika.

“Siapa Raga?” tanya Sienna yang sama sekali tak digubris oleh Bianca karena ia memilih mengangkat telepon tersebut ketimbang menjawab pertanyaan kakak ipar manjanya itu.

“Hai, ada apa?”

“Hai. Sudah makan?” tanya Raga berbasa basi.

“Oh, ini aku lagi cari tempat makan, sama iparku.”

“Istrinya Aldo, ya? Jadi kalian lagi di luar? Uum, boleh aku ketemu?”

Bianca mengerutkan keningnya seketika. Ia merasa jika Raga terlalu terburu-buru untuk berhubungan dengannya. Astaga, lagi pula berhubungan macam apa Bee? Jangan berpikir yang tidak-tidak. Gerutunya dalam hati.

“Iya, tadi dia ngajak aku belanja. Ini mau cari tempat nongkrong. Memangnya, kamu nggak lagi kerja?”

“Kan jam makan siang.”

“Oh, iya ya.” Hanya itu jawaban Bianca.

“Gimana? Boleh aku nyusul?”

“Ya, kalau kamu mau sih. Sekarang aku lagi di Plaza xxx, kalo mau ke sini ya silahkan.”

“Oke, kebetulan nggak jauh dari kantorku. Tunggu aku, nanti kuhubungi lagi kalau sudah sampai.”

“Oke.” Dan akhirnya, panggilanpun ditutup.

Bianca menatap ke arah Sienna, dan wanita itu ternyata sudah bersedekap sembari menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Bianca kembali tertawa lebar.

“Oke, oke. Aku akan bercerita tentang dia padamu. Tapi, kita cari tempat makan dulu, oke?”

“Kamu yang bayar.”

“Enggak, enak aja. Kan kamu yang ngajak belanja.” Bianca mengelak.

“Tapi kamu nggak cerita apapun sama aku, jadi aku merasa sia-sia ngajak belanja.” Sienna berkata dengan jujur tanpa menghilangkan nada manjanya.

Lagi-lagi Bianca tertawa. “Oke, oke, aku akan bercerita tentang Raga padamu.”

“Jason juga.”

“Diih, apaan sih, dibilang nggak ada apa-apa sama Jason juga.”

“Ayolah Bee….” Lagi-lagi Sienna merengek.

“Hahaha, oke, akan kuberi tahu sedikit rahasiaku. Tapi kita cari tempat makan dulu.”

“Oke.”

Akhirnya, keduanya mendapatkan sebuah kesepakatan dan berakhir menuju ke sebuah tempat makan siang yang akan menjadi tempat dimana mereka akan bergosip ria selama beberapa jam kedepan.

Sedangkan tak jauh dari tempat mereka berdiri, sepasang mata mengamati keduanya dengan sesekali mengambil gambar Bianca dan juga Sienna. Tak lama, orang itu menelepon seseorang lainnya.

“Apa benar dia?” tanyanya sedikit ragu.

“Ya, dialah orangnya. Dia gadis bunga saat itu, dia juga pelacur sialan yang fotonya di unggah oleh Jason tadi malam.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Ikuti saja.”

“Oke.” Kemudian telepon tersebut ditutup. Dan orang itu melaksanakan tugasnya mengamati Bianca seperti yang diperintahkan orang di seberang telepon tadi.

***

Bianca berdiri seketika saat mendapati seorang pria tampan berjalan menuju ke arah mejanya. Apa itu Raga? Benarkah? Sejauh yang ia ingat, teman Aldo dulu bertubuh kurus dan, tidak tampak seperti pria di hadapannya ini.

“Hai, Bianca.” Raga menyapa.

“Hai, kamu, Raga?” tanya Bianca masih tak percaya.

Sungguh, Bianca merasa jika kini dewi keberuntungan sedang menempel padanya. Hingga usianya yang sudah hampir menginjak Dua puluh tujuh tahun, Bianca tak pernah merasa jika ada pria sempurna di dunia nyata. Mungkin karena selama ini dirinya lebih fokus pada pria-pria dalam fantasi novel yang sering ia baca hingga dirinya tidak pernah memperhatikan orang-orang disekitarnya. Tapi saat Jason hadir di dunianya, Bianca merasa jika kehidupannya di dunia nyata baru saja dimulai. Petualangan baru, orang-orng baru bermunculan, seperti pria di hadapannya saat ini. darimana datangnya dia? kenapa pria setampan dan sekeren Raga baru datang saat ini?

“Ya, kamu masih ingat?” tanya Raga yang seketika itu juga membuat Bianca sadar jika sejak tadi dirinya ternganga menatap tampang lelaki di hadapannya tersebut.

“Enggak.” Bianca menjawab jujur. Dan itu membuaat Raga tak kuasa menahan tawa lebarnya.

Ya, Bianca sama sekali tidak mengingat jika Aldo memiliki teman sekeren Raga. Perubahan lelaki itu begitu banyak, dan astaga, Bianca merasa jika Raga mampu mengintimidasinya hanya dengan melihat penampilan lelaki itu.

“Kamu jujur sekali.” Ucap Raga masih dengan senyuman lembutnya.

“Duduk saja dulu.” Bianca mempersilahkan duduk. “Sejujurnya yang kuingat dulu adalah cowok kurus dan tinggi, bukan seperti kamu sekarang ini.”

“Memangnya sekarang seperti apa?” tanya Raga kemudian.

“Tampan, keren, berwibawah kayak Kak Aldo.” Sienna yang sejak tadi merasa dicuekin akhirnya menyahut dengan nada cueknya.

Raga menatap Sienna seketika. “Oh, jadi ini istrinya Aldo.”

Sienna memberengut kesal. “Ya, dan terimakasih karena kalian sudah sempat melupakan keberadaanku di sini.” Sindir Sienna pada raga dan juga Bianca.

“Hadeh, lebay banget.” Gerutu Bianca kemudian. Sedangkan Raga, ia kembali tertawa menertawakan kelakuan Bianca dan juga Sienna. Bianca kembali menatap Raga. “Mau pesan sesuatu?” tawarnya. “Sienna yang bayarin.” Lanjutnya kemudian hingga membuat Sienna mengumpatinya. Sedangkan Raga hanya tertawa sembari menggelengkan kepalanya.

Setelah itu, Raga akhirnya memesan makan siangnya. Suasana disekitar mereka mencair seiring berjalannya waktu. Jika tadi sempat ada kecanggungan yang dirasakan Bianca, maka kini entah kenapa hilang perlahan karena sikap Raga yang ternyata asyik saat diajak berbicara.

“Jadi, kenapa kamu tiba-tiba menghubungiku?” tanya Bianca yang tak bisa menahan diri dengan rasa peasaran yang menyelimutinya sejak Raga menghubunginya malam itu.

“Aku melihatmu di Youtube.” Jawaban Raga tersebut membuat Bianca menegang seketika. Pasti Raga melihat tentang ciumannya dengan Jason saat itu. “Kupikir, kamu belum kembali dari study kamu di Luar Negeri, ternyata kamu sudah pulang. Jadi, aku berinisiatif menghubungi Aldo dan meminta kontak kamu.”

“Kamu, kamu lihat saat aku sedang-”

“Aku nggak mau bahas itu.” Raga menjawab cepat. “Lagian, itu kan hanya keperluan konser supaya konser itu menjadi ramai diperbincangkan dikalangan media.”

“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.” Bianca menjawab cepat. Sungguh, ia tidak suka saat ada yang mengatakan jika ciumannya dengan Jason malam itu hanya karena keperluan konser yang sudah direncanakan. Nyatanya, Bianca merasa bahwa hubungannya dengan Jason adalah nyata, bukan Settingan seperti komentar-komentar yang beredar di sosial media.

Raga tersenyum. Ia menyesap kopinya lalu berkata “Percayalah, aku lebih mengetahui semuanya. Karena itu berhubungan dengan pekerjaanku.”

“Memangnya, apa pekerjaan kamu?” tanya Sienna kemudian.

“Aku produser. Dan The Batman salah satu yang berada dibawah naunganku.”

Bianca dan Sienna ternganga dengan jawaban Raga.

“Sebenarnya aku nggak mau membahas hal ini, sungguh. Karena tujuanku menemuimu hanya ingin supaya hubungan kita dekat.” Ucap Raga secara terang-terangan. “Tapi aku juga nggak bisa membiarkan kamu jatuh kedalam mimpi yang tak akan menjadi nyata bagi kamu, Bianca.” kalimat terakhir diucapkan Raga penuh dengan penekanan sembari menatap tajam ke arah Bianca.

“Maksud kamu?” tanya Bianca kemudian.

“Kamu tahu apa maksudku.” Jawab Raga dengan senyuman lembutnya.

Ya, Bianca tahu, tapi tidak dengan Sienna. Sienna bingung apa yang sedang mereka bahas. Sedangkan Bianca merasa jika Raga saat ini sedang memperingatinya tentang hubungannya bersama dengan Jason.

***

Bianca akhinya mengantar Raga hingga sampai ke parkiran. Setelah itu, ia kembali pada Sienna yang masih menunggunya di dalam restoran. Bianca terduduk lemas di kursinya kembali setelah mengantar Raga.

“Dia benar-benar mengintimidasi, ya.” Ucap Bianca secara spontan pada Sienna,

“Yang kutangkap dari setiap perkataan dan gerak geriknya, dia terlihat menyukaimu. Mungkin, lebih ke terobsesi denganmu.”

“Kamu yakin begitu?”

“Ya, dia terlihat seolah-olah meyakinkanmu supaya kamu tidak terlalu bermimpi dengan ‘khayalanmu’ bersama dengan Jason.” Ucap Sienna sembari mengutip kata-katanya. “Tapi apa bener kalau dia produsernya Jason? Ucapannya meyakinkan banget.” Komentar Sienna lagi.

“Aku juga nggak tahu, aku baru ketemu sama dia, Si.”

“Kalau begitu, kita cari tahu saja.” Ucap Sienna sembari menyodorkan smartphonenya. “Kita cari namanya di google, ‘Raga Mahesa’.” Setelah melakukan klik pencarian, Sienna ternganga dibuatnya.

Ternyata banyak sekali artikel yang memuat tentang lelaki tersebut. Dan pernyataan jika lelaki itu adalah produser dari The Batmanpun merupakan sebuah fakta.

“Dia bener-bener produser Jason.” Ucap Sienna kemudian. “Kayaknya, apa yang dia katakan memang ada benarnya juga, Bee.”

“Si, kamu nggak ngerti.”

Sienna menghela napas panjang. “Oke, aku memang sempat ingin comblangin kamu sama Jason, karena kupikir hidupmu saat itu cukup membosankan karena kamu hanya fokus sama ponselmu saja. Tapi Please Bee, aku nggak suka membayangkan jika apa yang dikatakan Raga itu benar. Kamu hanya sebagai pelengkap konser Jason, dia memanfaatkanmu dan sejenisnya. Aku sayang sama kamu, aku nggak mau kamu terlalu berharap kemudian jatuh terpuruk karena kenyataannya tak sesuai dengan impian kamu.”

Kali ini, giliran Bianca yang menghela napas panjang. Astaga, Sienna berpikir terlalu jauh, dan sepertinya, ia harus menceritakan tentang hubungannya bersama dengan Jason.

“Si, sepertinya aku harus memberitahumu sesuatu.”

“Apa? Apa? Jangan bilang kalau kamu ternyata sudah terlanjur jatuh hati pada Jason. Astaga, Bee.”

“Sebenarnya, lebih dari itu.”

“Apa maksudmu?” tanya Sienna tak mengerti.

“Kami sudah tidur bersama.”

“Tidur apa?!”

Sungguh, Sienna tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Jika Sienna mendengar kabar ini sebelum ia bertemu dengan Raga dan sebelum ia mendengar tentang Bianca yang mungkin saja dimanfaatkan oleh Jason dan penyelenggara konser, mungkin Sienna akan bersorak gembira, senang bukan kepalang karena Bianca memiliki kemajuan yang begitu pesat. Tapi sayangnya, Sienna mendengar kabar ini setelah ia bertemu dengan Raga dan setelah ia berpikir bahwa apa yang dikatakan Raga masuk akal mengingat lelaki itu adalah produser Jason. Sienna kini bahkan berpikir bahwa Jason tak cukup baik untuk Bianca. Astaga, apa yang harus ia lakukan?

“Bee, kak Aldo akan membunuhmu.” Ucap Sienna kemudian.

“Dan aku akan membunuhmu lebih dulu kalau sampai kamu berniat membuka mulutmu padanya.” Bianca mengancam Sienna.

Sienna hanya menggelengkan kepalanya. Ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. Mungkin, jika Bianca bercerita kalau gadis itu dekat dengan Jason, Sienna akan percaya, mengingat Jason juga baru saja mengunggah foto Bianca. Tapi tidur bersama? Astaga, Sienna masih tak percaya jika adik iparnya yang tampak polos dan cupu dengan novel-novel dewasa yang menjadi bacaannya tersebut akan seberani dan seliar tokoh di dalam novel-novel tersebut. Bianca benar-benar sudah gila, Sienna tahu itu.

-TBC-

1 thought on “Bianca – Chapter 11 (Raga Mahesa)”

  1. Huwaaahhhhhh raga keren , ga salah kalo dari awal q udah suka ma dia 😍😍😍
    dulu kan jase yng terobsesi ma felly sekrang raga yng terobsesi ma bianca .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s