romantis

Bianca – Chapter 9 (Lagu Cinta)

Haiiii aku update yeaaayy.. malam ini aku Update Bianca 2 Chapter yaa… sama Rex Spencer part 1. jadi kalian wajib baca semuanya. hhhahahah enjoy reading…

 

Chapter 9

-Lagu Cinta-

 

Bianca pulang dengan perasaan gembiranya. Sepanjang hari ini, Jason memperlakukannya dengan begitu manis, dan hal itu membuat Bianca tak berhenti berbunga-bunga.

Saat masuk ke halaman rumahnya, Bianca mendapati mobil Aldo terparkir di sana. Tumben sekali kakaknya itu datang sore-sore begini.

Bianca memasuki rumahnya, dan benar saja. Rupanya di sana sudah ada Aldo bersama dengan Sienna. Aldo berdiri seketika saat mendapati kedatangan Bianca. dengan keras dia bertanya. “Dari mana saja kamu?!”

Bianca mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak suka dengan sikap Aldo yang seperti ini. suka mengaturnya seperti dulu saat dia masih sekolah. Astaga, sekarang ia sudah besar, jadi Bianca tahu bagaimana menjaga diri. Seharusnya Aldo tidak perlu bertanya sekasar itu.

Bianca malah bersedekap, dan bertanya “Kenapa tiba-tiba kepo?”

“Aku nggak akan seingin tahu ini jika mama nggak bilang kalau kamu nggak pulang semalaman.”

“Al, mama kan sudah bilang kalau Bee nginep di rumah Felly.” Sang Mama datang membawakan minuman untuk Aldo dan juga Sienna.

Sebelumnya, Bianca memang berpamitan kepada orang tuanya jika dirinya tidak akan pulang dan akan menginap di rumah Felly. Bianca tidak menyangka jika hal itu akan bermanfaat untuk membuat kakaknya yang sok ikut campur ini tutup mulut.

“Tapi Ma, dia nonton konser sialan itu.”

“Kita juga nonton, Kak.” Sienna menyahut, membela Bianca.

“Sienna.” Mata Aldo menatap tajam ke arah istrinya itu. Aldo benar-benar kesal dengan istrinya itu.

“Jadi kamu juga nonton? Astaga, mereka keren banget kan?” Bianca yang pada dasarnya ingin mengabaikan kakaknya dan mengubah topik pembicaraan mereka akhirnya duduk tepat di sebelah Sienna, seakan ingin saling bercerita tentang konser Jason yang baru saja mereka tonton.

Sienna mendengus sebal. “Bukankah sebelunya kamu bilang kalau kamu nggak akan tertarik dengan The Batman, ya?” tanya Sienna kemudian.

Bianca terkikik geli. “Maaf, maaf, seakarang, aku juga jadi salah satu penggemar mereka, kok.”

“Kalian ini apa-apaan sih?! Aku sedang serius membahas masalah ini dengan kamu, Bee.” Aldo menengahi keduanya. Ia merasa jika dirinya sedang diabaikan oleh kedua wanita manja di hadapannya ini.

“Haduh kak, masalah apaan sih? Aku kan nggak ada masalah. Santai aja coba, biar nggak kelihatan makin tua.”

“Bee, aku kesini karena aku khawatir sama keadaan kamu. Kamu pikir aku bisa diam gitu aja setelah melihatmu dijadikan bahan pelengkap untuk konser sialan itu?”

“Bahan pelengkap?” Bianca tidak mengerti dengan ucapan Aldo.

Sambil tersenyum, Sienna menjawab. “Bee, kami melihat apa yang kalian lakukan di atas panggung.”ucapnya sembari terkikik geli.

“OMG.” Bianca membungkam bibirnya sendiri. “Kalian tahu itu aku? Astaga, Jason benar-benar luar biasa, dia sangat pandai-”

“Cukup, Bee!” Aldo memotong kalimat Bianca. “Aku nggak mau melihat hal itu terulang lagi. Dan berhenti mengidolakan laki-laki berandalan itu.” Ucap Aldo sembari pergi masuk ke dalam meninggalkan dua orang wanita yang benar-benar membuatnya kesal dengat tingkah keduanya.

“Astaga, dia kenapa? Nggak kamu kasih jatah, ya?” tanya Bianca pada Sienna. Sungguh, Bianca tidak suka dengan sikap sok mengatur yang ditampilkan kakaknya pada dirinya.

“Haduh, tadi malam malah parah. Aku sampai harus pura-pura kontraksi agar dia tidak menyusul kamu naik ke atas panggung.”

“Beneran?” tanya Bianca tak percaya. Lalu dia tertawa lebar menertawakan kekonyolan kakak iparnya tersebut. Astaga, kenapa kakaknya ini tampak sangat tidak suka dengan sosok Jason?

***

Siang itu, Aldo akhirnya bertemu kembali dengan teman lamanya. Namanya Raga, setahu Aldo, Raga dulu sempat akan pergi melanjutkan studynya ke luar negeri, tapi entah, apa lelaki itu melakukan rencananya atau tidak.

Kini, Aldo sebenarnya sedikit heran, saat kemarin tiba-tiba Raga menghubunginya lalu menanyakan tentang adiknya, Bianca. Apa Raga masih berharap dengan Bianca?

“Gue bener-bener nggak nyangka kalau elo sudah nikah.” Raga membuka suaranya setelah ia merasa jika mereka sudah cukup saling berbasa-basi.

“Ya, elo sendiri kapan? Dan sorry, kalau gue nggak ngundang. Gue kira elo di LN.”

Raga tertawa lebar. Kemudian ia menghela napas panjang. “Ya, gue emang sempet lanjutin study di LN, tapi nggak lama. Dan untuk pertanyaan elo tentang kapan gue nikah, gue sedang nunggu adek elo.” Raga berkata secara langung tanpa basa-basi lagi.

Aldo sempat ternganga dengan keinginan Raga yang sangat terang-terangan itu, tapi kemudian ia tertawa lebar, berpikir jika Raga hanya bercanda dengan ucapannya.

“Kok Elo malah ketawa? Gue nggak sedang bercanda, Al.” lanjut Raga dengan wajah seriusnya.

“Elo serius suka sama Bianca?”

“Kalau enggak, gue nggak mungkin hubungin elo lagi.”

“Sialan.” Aldo mengumpat tapi masih dengan tertawa. “Lagian, kenapa tiba-tiba banget? Kan elo bisa dari kemaren atau dari dulu ngajak dia hubungan, gue pasti dukung.”

“Gue kira, adek elo belom pulang dari LN. lagian, gue sempet lupa karena fokus sama kerjaan. Kemaren gue nggak sengaja lihat dia, makanya gue langsung hubungin elo.”

“Oke, jadi gimana? Gue langsung comblangin elo, atau elo mau usaha sendiri?”

Raga berpikir sebentar. “Gue mau usaha sendiri, elo cukup ngasih kontak dia.”

“Yakin, elo bisa dapetin adek gue tanpa bantuan gue?” tanya Aldo sekali lagi.

“Gue akan coba.”

Aldo kembali tertawa. “Oke, gue suka cowok gentle kayak elo.” Kemudian Aldo benar-benar memberi kontak Bianca untuk Raga. Bagi Aldo, Raga adalah orang baik, jadi tidak salah untuk mencoba mendekatkan temannya itu dengan Bianca. setidaknya, ia sudah cukup lama mengenal Raga, jadi ia cukup tenang jika tahu Bianca bersama degan Raga.

***

Di lain tempat….

“Aku senang kamu ke sini.” Jason menatap Bianca dengan mata intensnya. Kemudian tanpa canggung lagi ia membuka kaus tanpa lengan yang sejak tadi memang dia kenakan, hingga kini, Jason sudah bertelanjang dada.

“Bukannya tadi kamu yang memintaku kemari?” tanya Bianca dengan mengendalikan diri agar tidak tergoda dengan ketelanjangan Jason di hadapannya.

Asataga, hingga kini, Bianca tidak bisa melupakan bagaimana panasnya Jason saat berada di atas ranjang ketika malam itu. Malam dimana mereka bercinta untuk pertama kalinya. Bianca tidak munafik jika saat ini dirinya tergoda kembali ketika melihat bagaiaman pahatan sempurna pada tubuh Jason.

“Ya, di tempat latihan tadi aku bosen. Jadi aku memintamu datang kesini, dan untungnya kamu sudah sampai di sini saat aku baru saja sampai.”

“Oke, jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Bianca sambil bersedekap.

Jason tersenyum. Matanya masih menatap Bianca dengan tatapan tajam namun menggoda. Kemudian, ia mulai membuka celana jeans yang ia kenakan tepat di hadapan Bianca.

“Aku, akan, mandi.” Ucap Jason penuh penekanan pada setiap katanya. Ia bahkan sudah menurunkan celananya sendiri meninggalkannya hanya dengan bokser yang ia kenakan.

Bianca menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu bahwa Jason saat ini sedang menggodanya. Bahkan Bianca dapat melihat dengan jelas, bagaimana bukti gairah Jason yang menegang di balik bokser yang dikenakan lelaki itu.

“Mandi? Ini masih sore.” Bianca tak ingin mengalah. Ia bahkan mendekati Jason, kemudian menggoda Jason dengan membisikkan kalimat itu tepat di telinga Jason. Bianca bahkan mencoba untuk mengenyahkan rasa malunya saat dengan gerakan mengoda ia memutari tubuh Jason.

Jason menangkap telapak tangan Bianca ketika tangan tersebut menyentuh pundaknya, kemudian Jason mengecup lembut punggung tangannya, merayap ke atas sesekali menggoda dengan lidahnya.

“Bukan hanya mandi, tapi juga sedikit bermain-main.” Kali ini Jason sudah bersuara dengan serak.

Ia menarik tangan Bianca agar semakin mendekat ke arahnya, lalu menangkup kedua pipi Bianca sebelum mendaratkan bibirnya pada bibir Bianca. Bianca hanya bisa memejamkan matanya ketika bibirnya mulai bertautan dengan Jason. Lelaki itu mencumbunya dengan begitu mesra hingga Bianca meruntuhkan dinding penghalang diantara mereka berdua.

Jason mencoba membuka pakaian yang dikenakan Bianca, sedangkan Bianca pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh Jason. Ia tahu, bahwa mereka akan melakukannya lagi, dan Bianca merasa senang ketika ia berpikir bahwa dirinya akan mendapatkan pengalaman luar biasa sekali lagi dari seorang Jason.

Sejak dulu, Bianca memang memimpikan hal ini. ia adalah penggemar sastra-sastra roman erotis, jadi Bianca selalu membayangkan bagaimana indahnya bercinta dengan lelaki apalagi saat lelaki itu sudah seperti gambaran sempurna dari novel-novel yang ia baca. Bianca tentu tak akan menolak, karena seperti inilah fantasinya.

Ketika Bianca hanya berdiri dengan pakaian dalamnya saja akibat jemari nakal Jason, Jason melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap Bianca dengan tatapan berkabutnya. Lalu bertanya “Apa kamu mau bermain-main sebentar denganku?” tanyanya dengan suara parau.

Bianca tersenyum. Ia mengangguk dengan antusias. Akhirnya, Jason membimbing Bianca masuk ke dalam kamar mandinya.

Disana, ia menempatkan Bianca tepat di bawah pancuran. Jason menyalakan airnya hingga membasahi keduanya. Bianca sempat memekik karena air dingin yang mengguyur tubuh telanjangnya. Tapi kemudian, suara Jason membuat Bianca melupakan guyuran air tersebut.

“Kamu indah sekali.” Jason kembali berbisik dengan suara paraunya. “ Apa kamu tahu sejak malam itu yang kubayangkan hanyalah lekuk tubuhmu?”

“Jadi, kamu hanya menginginkan tubuhku?” pancing Bianca.

“Tidak, aku ingin lebih.” Setelah itu, Jason kembali mencumbu bibir ranum Bianca, sedangkan jemarinya sudah mencoba membuka kaitan bra yang dikenakan Bianca. Bianca membiarkannya saja karena saat ini ia lebih menikmati bibir Jason yang sedang membelasi bibirnya, lidah lelaki itu yang kini mengajak lidahnya menari bersama.

Setelah Jason berhasil membuka pakaian dalam yang dikenakan Bianca, bibir lelaki itu kemudian turun, menuruni rahang Bianca, memberi tanda cinta di leher wanita tersebut, lalu turun lagi hingga kini berhenti pada puncak payudara Bianca.

Bianca melekungkan punggungnya ketika bibir Jason melumat puncak payudaranya. Gelenyar panas menghantamnya, membuat Bianca tak kuasa mengerang. Dan sialnya, Jason sangat menyukai erangan tersebut.

Bibir Jason turun lagi, mengecup lembut perut datar Bianca. Entahlah, ia sangat suka melihat bentuk tubuh Bianca. Payudaranya yang pas, perut datarnya, pinggulnya yang sedang, serta lekuk tubuhnya, membuat Jason ingin selalu memuja wanita di hadapannya tersebut.

Bibir Jason kembali turun, menjelajah hingga ia sampai pada pusat diri Bianca. Jason mengangkat wajahnya menatap Bianca degan mata tajamnya. Lalu jemarinya menurunkan sisa pakaian yang membalut tubuh Bianca hingga kini, Bianca sudah polos tanpa sehelai benangpun. Masih menatap tajam ke arah Bianca, Jason mulai mendaratkan bibirnya pada pusat diri Bianca.

Bianca mengerang seketika. Ia tidak menyangka jika akan dihantam oleh sebuah rasa yang membuat gairahnya menanjak seketika.

“Jase…” Sesekali Bianca menyebut nama Jason, seakan memohon pada lelaki itu untuk menghentikan aksinya.

Jason sendiri tak peduli. Ia sangat suka dengan rasa Bianca, warna merah muda yang menggairahkan, serta suara erangan Bianca yang semakin membuatnya menegang. Guyuran air dari shower memperparah semuanya. Membuat Jason tak ingin berhenti menikmati diri Bianca. hingga kemudian, lenguhan panjang Bianca menandakan jika wanita itu sudah sampai pada pelepasan pertamanya.

Jason menghentikan aksinya. Ia melihat Bianca lunglai, lemas karena pelepasan pertamanya. Jason mendorong Bianca ke dinding. Membiarkan lengan Bianca mengalung pada lehernya, dan membiarkan wanita itu bergantung padanya. Air dari shower masih deras mengguryur, tapi itu tak memadamkan sedikitpun gairah dari Jason.

Jason menatap wajah Bianca sangat dekat. Napas wanita itu memburu, wajahnya terbingkai begitu cantik dan erotis karena basah terguyur air. Lalu Jason tersenyum lembut. Astaga, wanita ini miliknya, Ya, Bianca miliknya.

Kemudian, Jason berbisik serak “Baru pertama, masih ada banyak lagi.”

Bianca tak mengerti saat itu, tapi kemudian ia mengerti apa yang diucapkan oleh Jason ketika tiba-tiba lelaki itu mengangkat sebelah kakiknya kemudian menenggelamkan diri sedalam-dalamnya pada tubuhnya.

Ohhh, rasanya begitu luar biasa. Bianca bahkan tak dapat berkata apapun. Baru saja beberapa menit yang lalu ia mencapai pelepasannya, dan kini, saat lelaki ini menyatukan diri, Bianca kembali bergairah. Gairahnya menggebu-gebu, dan Bianca tak mengerti kenapa ia merasa begitu candu dengan sentuhan Jason pada tubuhnya?

***

Bianca membuka matanya saat hari sudah gelap. Ia menggapai ponselnya untuk melihat jam. Rupanya, waktu sudah menunjukkan pukul Tujuh malam.  Bianca lalu duduk, ia membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh telanjangnya.

Telanjang?

Astaga, Bianca bahkan baru ingat jika saat ini ia berada di dalam kamar Jason, di dalam apartemen pribadi lelaki itu, dan mereka baru saja selesai melakukan percintaan panas di dalam kamar mandi hingga lelah dan tertidur di ranjang sebelum sempat mengenakan pakaian masing-masing.

Bianca tersenyum, ia menggelengkan kepalanya tak percaya jika dirinya sudah bercinta dengan Jason. Silanya, Bianca belum bisa melupakan bagaimana panasnya lelaki itu, bagaimana berkuasanya Jason ketika lelaki itu memainkan tubuhnya dengan begitu mahir. Bagaimana menggairahkannya lelaki itu ketika memberikan sebuah pelepasan lagi dan lagi untuk diri Bianca.

Akhirnya Bianca mencoba mengenyahkan semuanya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak boleh mengingat bagaiamana panasnya Jason, karena saat ia mengingatnya, ia yakin jika gairah akan tumbuh dengan begitu mudah mempengaruhi otak mesumnya.

Bianca mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Jason. Rupanya lelaki itu ada di balkon, sedang duduk di sofa panyang yang memang tersedia di sana. Jason mengenakan kimono, dengan sebuah gitar yang sedang ia mainkan. Sesekali, Bianca melihat lelaki itu menulis sesuatu.

Bianca akhirnya bangkit, membalut tubuhnya dengan selimut Jason sebelum ia melangkahkan kakinya menuju ke arah lelaki itu.

‘Jreengg… jreeng… jreng…’

Samar-samar Bianca mendengar nada dari gitar yang dipetik oleh Jason. Sesekali lelaki itu bahkan bersenandung. Hingga kemudian, Jason menghentikan aksinya saat mendapati Bianca datang dan duduk tepat di sebelahnya.

“Hei, sudah bangun?” sapa Jason dengan suara lembutnya. Jason bahkan tidak segan lagi mengecup lembut bibir Bianca saat menyapa Bianca.

“Uum, ya.” Hanya itu jawaban Bianca. “Kamu sedang apa?” tanya Bianca sedikit penasaran.

Jason tersenyum, ia malah menatap Bianca dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan astaga, itu benar-benar membuat Bianca salah tingkah.

“Ayolah, Jase. Jangan menatapku seperti itu. Kamu sedang apa? Coba, sini aku lihat.” Bianca mencoba menghindari tatapan mata Jason yang sangat mengintimidasi dengan meraih kertas yang berada di hadapan Jason.

Jason membiarkan saja apa yang dilakukan Bianca. ia tersenyum saat Bianca mulai membaca bait demi bait lagu yang baru saja ia tuliskan untuk wanita itu.

“A –apa ini, Jase?” tanya Bianca tak percaya.

“Lagu cinta.” Jawab Jason pendek.

“Kamu, nulis untuk aku?” tanya Bianca masih dengan wajah tak percayanya.

Jason tersenyum dan mengangguk. “Mau dengar?” tanyanya dengan lembut.

Kali ini Bianca yang mengangguk. Ia kemudian mendengar Jason menanyi. Memetik senar gitarnya menghasilkan nada-nada indah, suaranya merdu, liriknya begitu menyentuh, membuat pipi Bianca tak kuasa menahan rona merahnya. Apalagi sejak tadi, mata Jason tak berhenti menatap tepat pada matanya, senyum lelaki itu tak surut sedikitpun. Bianca tahu, ia akan terpesona, terpana dengan sebuah kata yang selama ini tak pernah ia percaya. Kata cinta.

Jantung Bianca tak dapat memompa dengan normal, degupannya semakin cepat tak menentu. Ya, Bianca hampir yakin jika dirinya sudah jatuh pada seorang Jason. Astaga, apa yang harus ia lakukan selanjutnya?

“Bee, kamu suka?” pertanyaan Jason menyadarkan Bianca dari lamunannya. Bianca baru sadar jika sejak tadi ia ternganga menikmati pertunjukan kecil dari Jason.

“Ya, tentu saja.” Bianca mencoba mengendalikan diri. Ia menatap kertas Jason dimana tertulis bait-bait lagu ciptaan lelaki itu, Bianca melakukannya karena ingin menghindari tatapan mata Jason yang benar-benar mengintimidasinya. “Tapi, ini ada namaku, kalau kamu nyanyikan ini di tempat umum, apa nggak aneh?” tanya Bianca kemudian.

“Kata siapa aku akan menyanyikannya di tempat umum?” Jason bertanya balik.

Bianca mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”

“Ini Lagu Cinta, kuciptakan untukmu, dan hanya akan kunyanyikan di hadapanmu.” Jawab Jason dengan senyuman lembutnya.

Oh, Bianca benar-benar tak tahu apa yang kini ia rasakan. Perutnya seakan penuh dengan kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya. Kebahagiaan membuncah, ketika ia menyadari jika Jason begitu menyayanginya hingga lelaki itu mampu menciptakan sebuah lagu khusus untuknya. Tapi, apa benar Jason benar-benar menyayanginya?

Bianca tak dapat berpikir jernih lagi ketika ia mendapati Jason menaruh gitarnya di sembarang tempat lalu lelaki itu mencondongkan tubunya kearahnya.

“Jase, a –apa yang akan kamu lakukan?” tanya Bianca yang kini seakan terpenjara dengan tubuh Jason dan tak dapat melakukan apapun untuk menghindari lelaki di hadapannya tersebut.

“Kamu benar-benar menggodaku, Bee. Aku merasa tak ingin berhenti.” Setelah kalimatnya tersebut, Jason membuka sampul selimut yang dikenakan Bianca untuk menutupi tubuh polosnya. Bibir Jason segera menyambar bibir Bianca, sedangkan jemarinya kembali bermain menggoda Bianca dan memancing gairah wanita tersebut. Ya, Jason tak ingin berhenti, ia menginginkan Bianca lagi dan lagi, seakan tak pernah bosan dengan kelembutan tubuh wanita itu yang menyelimutinya.

***

Kutuliskan lagu cinta…

Untuk seorang wanita manja…

Wanita ceria dengan senyum indahnya…

Bibir ranum menggodanya…

Rambut pirang  terurainya…

Dan juga mata cokelat indahnya…

Siapakah dia…

Dialah yang kini kucinta…

Dialah yang kini kupuja…

Bianca… Bianca… Bianca…

Inilah lagu cinta…

Yang kuciptakan untuknya….

Lagu Cinta – Jason The Batman   

-TBC-

2 thoughts on “Bianca – Chapter 9 (Lagu Cinta)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s