romantis

Bianca – Chapter 10 (Dia Canduku)

 

Chapter 10

-Dia Canduku-

 

Jason mengantarkan Bianca sampai di depan pagar rumah Bianca. seperti sebelum-sebelumnya. Bianca tidak ingin Jason masuk ke dalam rumahnya karena ia takut, papanya akan menolak kehadiran Jason karena penampilan lelaki itu.

“Jadi, aku masih belum dibolehkan masuk?” tanya Jason saat Bianca turun dari atas motor Jason dan membuka helm yang dikenakan wanita tersebut.

“Belum. Sudah sana pulang.”

“Bee.” Jason memanggil Bianca dengan nada serius. Bianca yang akan membalikkan tubuhnya meninggalkan Jason akhirnya menghentikan aksinya dan menatap ke arah Jason.

“Apa, Jase?”

“Aku serius.” Dua kata itu membuat Bianca bingung.

“Maksudmu?”

Jason menelan ludah dengan susah payah. “Kita sudah bercinta sebelumnya. Aku hanya ingin lebih serius lagi. Kenapa kamu melarangku?”

“Jase, bercinta bukan tolak ukur sebuah hubungan apa serius atau tidak.”

“Kamu nggak sedang hidup di luar negeri, Bee.”

Bianca lalu menghela napas panjang.

“Oke, mungkin bagimu aku akan terlihat seperti perempuan murahan karena mau ditiduri tapi tak ingin diseriusi. Maksudku, Papa orang yang cukup mengerikan. Aku nggak mau dia ikut campur dengan urusan percintaanku.”

“Kita belum lihat bagaimana reaksinya saat bertemu denganku.”

“Tapi aku sudah bisa menebaknya, Jase.”

“Seperti apa?” tanya Jason penasaran.

Saat Bianca akan menjawab pertanyaan Jason, keduanya terganggu oleh sorot lampu mobil yang tampak akan masuk ke dalam rumah Bianca. Bianca sedikit panik saat tahu bahwa itu adalah mobil Papanya.

“Astaga, kenapa dia baru datang?” sungguh, Bianca terkejut dengan kedatangan Papanya. Seharusnya, Papanya sudah datang sejak tadi. Tapi, kenapa papanya itu baru datang saat ini.

“Siapa?” Jason tak tahu siapa yang dimaksud Bianca.

“Papa.” Mata Jason sempat membulat saat mendengar jawaban Bianca. Jason kembali menatap ke arah mobil tersebut. Seseorang keluar dari dalam mobil tersebut. Tampak gagah dan rapih dengan setelannya.

Sial! Apa itu ayah Bianca?

Jason segera turun dari motornya. Ia membuka helmnya, serta penutup wajahnya. Sesekali ia membenarkan letak rambutnya agar tampak sedikit sopan. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin kesan pertama ayah Bianca buruk terhadapnya.

“Bee, apa yang kamu lakukan di sini?” Mike, ayah Bianca, menanyakan kalimat tersebut pada Bianca. Namun matanya menatap ke arah Jason dari ujung rambut hingga ujung kakinya, seakan menilai lelaki itu.

Bianca menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Uum, itu, Pa. Aku baru pulang. Dari tempat Felly.” Jawab Bianca seadanya. Ia tidak mungkin mengatakan pada sang Papa jika dirinya baru pulang dari apartemen Jason dan mereka baru saja melakukan hubungan panas. Oh, yang benar saja.

“Naik ojek?” tanya Mike lagi sembari menunjuk Jason dengan dagunya.

Mata Bianca membulat tak percaya jika Papanya menilai Jason sebagai tukang ojek. Come on, Pa! mana ada tukang ojek se-HOT dia?! Bianca menjerit dalam hati.

“Papa apaan sih.” Bianca akhirnya memberengut kesal. Bagaimanapun juga, Sang Papa seharusnya bisa menilai kalau Jason bukanlah tukang ojek, tapi teman dekatnya. Apa ini cara Papanya menunjukan kalau dia tidak suka dengan Jason? Sungguh, ini adalah pertama kalinya Bianca membawa seorang teman pria ke rumahnya, dan Bianca tak ingin reaksi Papanya berlebihan.

“Kenapa di sini? Kenapa nggak masuk?” tanya Mike kemudian hingga membuat Bianca kembali mengangkat wajahnya ke arah Mike dengan mata berbinarnya.

“Maksunya, Jason boleh masuk?”

Mike mengangkat kedua bahunya. “Kalau dia bukan tukang ojek, kamu boleh mengajaknya masuk.” Ucapnya dengan dingin sembari kembali menatap ke arah Jason, menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki Jason kembali sebelum Mike berbalik dan kembali ke arah mobilnya.

Mobil Mike memasuki rumah. Dan setelah itu, Bianca menghela napas panjang, begitupun dengan Jason.

“Ya ampun, dia hampir membuat jantungku copot.” Gerutu Bianca. “Kamu, mau masuk, kan?” tanyanya kemudian pada Jason.

“Ternyata bener kata kamu. Papamu mengerikan.”

Bianca tertawa lebar. “Kubilang juga apa. Sekarang, dia sudah mengundangmu masuk. Kamu ikut?”

“Ya, tentu saja.” Akhirnya, Jason memutuskan untuk ikut masuk.

***

Setelah bersalaman dan memperkenalkan diri, Jason dipersilahkan duduk di ruang tamu. Hana, Mama Bianca memilih ke dapur untuk membuatkan minuman, sedangkan Bianca memilih menemani Jason agar Papanya tidak berbuat macam-macam pada kekasihnya tersebut.

“Jadi, apa pekerjaan kamu?” tanya Mike kemudian.

“Saya penyanyi.”

Mike mengangkat sebelah alisnya. “Penyanyi?”

“Jason ini penyanyi populer Pa. dia sering masuk di TV kok.”

Mike hanya mengangguk. Dia meraih Tabletnya kemudian melakukan pencarian di internet tentang Jason. Sialnya, hal itu benar-benar mengintimidasi Jason.

“Anak Band, Ya? Gay?” tanyanya kemudian.

Bianca tertawa mencoba mencairkan suasana. “Pa, itu cuma gosip. Kalau dia Gay, aku nggak mungkin mau pacaran sama dia.” ucapnya sembari tertawa lebar.

Mata Jason membulat ke arah Bianca. Begitupun dengan Mike. Jason tak percaya jika Bianca dengan terang-terangan mengungkapkan hubungan mereka berdua tanpa sungkan sedikitpun dengan Papanya.

“Pacaran?” tanya Mike sambil menatap tajam pada Bianca. Bianca menghentikan tawanya seketika. Sungguh, ia tak menyangka jika dirinya akan keceplosan seperti tadi. Untung saja Bianca tidak menyebutkan bagaimana panasnya Jason saat di atas ranjang.

“Uum, itu, nggak apa-apa kan kalau aku pacaran? Aku sudah hampir Dua puluh tujuh Tahun.”

“Pacaran seperti apa dulu?” desak Mike pada Bianca dan juga Jason. “Sejauh ini, Papa belum melihat hal yang positif darinya. Penampilannya jauh dari kata sopan.”

“Sayang.” Hana datang dengan membawa minuman. Ia mendekat ke arah Mike dan berkata “Penampilan belum tentu mencerminkan orangnya, lagi pula, Jason adalah seorang entertain, bisa jadi itu hanya tuntutan pasar. Benar, kan?” Hana meminta dukungan dari Bianca dan Jason.

“Ya, Mama benar.” Sebenarnya, Bianca tidak menyangka jika mamanya akan membela Jason. Karena saat itu, Mamanya pernah memperingatkan Bianca tentang reaksi yang akan ditampilkan Sang Papa saat tahu Bianca menjalin kasih dengan Jason.

“Baiklah.” Mike menggenggam jemari Bianca. “Papa cuma nggak mau kamu tersakiti, Bee.”

Hana tersenyum. “Kamu harus ingat, Cinta itu bukan hanya tentang bahagia, tapi juga rasa sakit.” Ucapnya pada Mike sembari mengerlingkan matanya, seakan mengingatkan pada Mike bagaimana awal mula kisah cinta mereka dulu terbangun.

Mike lalu bangkit disusul dengan Hana. Ia melirik jam tangannya lalu berkata “Jam Sepuluh sudah harus pulang.” Setelah itu, Mike melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang tamu.

Hana tersenyum melihat kepergian suaminya. Kemudian ia menatap Bianca dan juga Jason. “Jangan kecewakan dia.” ucap Hana pada Bianca dan juga Jason. Ia berharap agar Jason dan juga Bianca tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan oleh Mike. Kemudian Hana pergi meninggalkan ruang tamu yang kini hanya ada jason dan juga Bianca di sana.

“Huufttt, syukurlah. Aku lega mama belain kita.” Ucap Bianca sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.

“Di benar-benar menyayangimu.” Ucap Jason kemudian. Ia menatap ke arah Bianca. jemarinya terulur mengusap lembut puncak kepala Bianca.

“Iya, tapi kadang aku merasa tertekan.”

Jason tersenyum dengan gerutuhan Bianca. Sebenarnya, dalam hati ia sempat merasa tidak enak. Tidak adil karena ia sudah meniduri wanita baik-baik seperti Bianca. gadis itu sangat dilindungi oleh keluarganya, terutama ayahnya. Tapi dirinya malah merusaknya. Disisi lain, Jason juga bersyukur karena ternyata pilihannya tak salah. Dengan ini, Jason semakin yakin, bahwa ia memang harus belajar untuk mencintai Bianca seutuhnya. Ya, Bianca adalah wanita yang tepat, dan ia tahu bahwa wanita itu tak akan pernah memperlakukannya seperti yang dilakukan Felly padanya.

***

Bianca melemparkan diri ke atas ranjangnya. Ia berguling ke kanan dan ke kiri tanpa bisa menghilangkan senyuman di wajahnya. Wajahnya memerah dengan sendirinya saat ia mengingat bagaimana panasnya hubungan dirinya dengan Jason. Astaga, hingga kini, Bianca bahkan masih tak percaya bahwa dia sudah bercinta dengan lelaki terkeren di negeri ini.

Kemudian Bianca mengingat Papanya. Bianca bersyukur karena sang Papa tidak bersikap sekeras yang Bianca bayangkan. Meski ia tahu bahwa sang Papa tak begitu suka dengan Jason, atau mungkin penampilannya, tapi Bianca cukup lega, setidaknya ia tidak perlu sembunyi-sembunyi dengan hubungannya di hadapan kedua orang tuanya.

Saat Bianca tak juga dapat melupakan bayang-bayang Jason di dalam kepalanya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Bianca menggapai ponselnya lalu melihat ternyata ada nomor baru yang menghubunginya. Bianca mengabaikan saja nomor tersebut, karena seperti biasa, Bianca tidak peduli dengan nomor-nomor baru yang menghubunginya.

Setelah cukup lama dan panggilan tersebut berakhir, Bianca kembali mendengar ponselnya berbunyi dengan nomor yang sama. Lagi-lagi Bianca mengabaikannya.

Ponselnya berbunyi lagi dan lagi. Entah sudah berapa kali, dan akhirnya Bianca mau tidak mau mengangkat panggilan tersebut. Ia takut jika itu adalah panggilan yang benar-benar penting karena si pemanggil tampaknya tak lelah menghubungi Bianca.

“Halo?” sapa Bianca dengan nada ketusnya. Sungguh, ia tidak suka diganggu ketika dirinya asyik membayangkan tentang Jason.

“Bianca? akhirnya kamu mau mengangkat teleponnya.” Itu suara pria. Dan darimana pria itu mengetahui namanya?

“Siapa ya? Apa kita pernah kenal sebelumnya?”

“Ya, aku pernah beberapa kali main ke rumahmu, dulu. Beberapa tahun yang lalu.”

Bianca mengerutkan keningnya. Ia menjauhkan ponselnya dan berpikir, siapa yang pernah datang ke rumahnya beberapa tahun yang lalu?

“Kamu salah orang kayaknya. Aku baru pulang dari luar negeri beberapa bulan yang lalu.”

“Aku nggak salah orang, aku main ke rumahmu sebelum kamu ke luar negeri.”

Bianca semakin tak mengerti apa yang dikatakan pria tersebut. “Udah deh, ngaku aja, ini siapa? Kalau main rahasia-rahasiaan aku akan menutup panggilan ini dan akan memblokir nomor kamu.”

“Bianca, jangan.” Lelaki itu berucap cepat. “Aku, Raga, teman Aldo, kakak kamu. Kuharap kamu mengingatku.” Ucap lelaki itu kemudian.

Raga? Raga? Astaga, Raga?!! Bianca hampir berteriak dalam hati. Untuk apa lelaki itu menghubunginya saat ini??

Sedikit bercerita, kalau Bianca dulu memang sempat mengenal Raga. Tapi saat ini, tentu Bianca hampir lupa bagaimana wajah lelaki itu. Dulu, Raga adalah salah seorang teman Aldo yang sering main ke rumahnya. Saat itu Bianca masih sekolah. Raga sering menggodanya saat itu, hingga kadang membuat Bianca ke-GRan, tapi hanya cukup begitu saja. Tak ada peningkatan dari hubungan mereka. Karena saat itu, Bianca juga masih SMP dan setelahnya, keduanya disibukkan dengan study masing-masing. Kini, Bianca masih tak habis pikir, kenapa lelaki ini datang menghubunginya? Apa lelaki itu sedang mengantar surat undangan pernikahannya?

“Bianca, kamu masih di sana, kan?” tanya Raga lagi saat Bianca melamun sejak tadi.

“Ah ya, aku masih di sini.”

“Kamu, masih ingat aku?” tanya Raga lagi.

“Sejujurnya, aku nggak ingat.” Bianca merasa tak enak dengan Raga. “Tapi aku ingat kalau kamu adalah teman kak Aldo. Iya, kan?” tanya Bianca kemudian.

“Ya, aku teman Aldo, kan aku tadi sudah bilang.” Terdengar sedikit kikikan dari seberang.

Bianca juga ikut terkikik menertawakan kebodohannya. “Oh, maksudku, aku ingat kalau itu kamu. Tapi aku lupa bagaiaman wajah kamu.”

Bianca mendengar suara desahan dari seberang. “Jahat sekali, padahal aku selalu ingat bagaimana kamu saat merah padam waktu kugodain saat itu.”

“Hei, aku nggak kayak gitu sekarang. Aku sudah dewasa.” Bianca berkata seolah-olah ia merajuk dengan ejekan Raga. Entah kenapa Bianca bisa merasa cukup dekat dengan lelaki tersebut.

“Ya, aku sudah melihatnya. Kamu memang sangat berbeda sekarang.”

Bianca diam seketika. Ia merasa bahwa Raga berkata dengan nada serius.

“Jadi, apa yang membawamu menghubungiku? Apa kamu sedang menyebar undangat pernikahan?” tanya Bianca mencoba mengubah topik pembicaraan.

Terdengar tawa renyah dari Raga.

“Hei, kenapa ketawa.”

“Kamu lucu.”

“Dih, aneh. Apa yang lucu coba?”

Kemudian Raga menghentikan tawanya. “Aku menghubungimu karena aku ingin bertemu. Kamu, mau kan bertemu denganku. Ngopi-ngopi bersama, atau kencan mungkin.”

Bianca sempat tercenung, tapi kemudian ia tertawa lebar. “Hahahaha, ini pasti Kak Aldo kan yang nyuruh kamu buat nggodain aku? Bilang sama dia, nggak ngaruh.”

“Enggak, Bianca. Bahkan aku senidrilah yang menghubungi Aldo dan meminta nomormu ini. Kamu, mau ketemuan, kan sama aku?” tanya Raga lagi.

Bianca kembali terdiam. Apa-apaan ini? kenapa disaat ia sedang berhubungan dengan seorang lelaki, lalu ada lelaki lain yang datang menggodanya?

Menggoda?

Astaga Bee, dia hanya ingin ketemuan, nggak lebih. Bianca meruntuki dirinya sendiri.

“Bianca, gimana? Kamu, mau kan ketemu sama aku lagi?”

“Ahhh, ya. Baiklah. Nggak ada salahnya kan kalau kita ketemuan, hehehe.” Bianca mencoba mengendalikan dirinya sendiri.

“Oke, besok aku telepon lagi. Simpan nomor ini. Dan, selamat malam.” Setelah itu panggilan di tutup begitu saja. Membuat Bianca bingung dan menatap ponselnya sendiri.

Apa-apaan itu tadi? Pikirnya kemudian.

***

Di lain tempat….

Setelah mengantar Bianca pulang, Jason segera pulang ke apartemennya. Jika dulu ia akan menghabiskan waktu untuk sendirian atau bersama dengan teman-teman Bandnya di studio musik untuk latihan, maka kini Jason memilih menghabiskan waktunya di rumahnya sendiri.

Bukan tanpa alasan, karena Jason ingin memikirkan tentang Bianca, tentang wanita itu, tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada hubungan mereka.

Jason melepaskan T-shirt yang ia kenakan. Kemudian ia berjalan menuju ke arah kamar mandi. Berdiri di depan westafel. Ia menatap tampilan dirinya pada cermin di hadapannya. Jason menatap pipinya yang memang di tumbuhi oleh bulu-bulu kasar. Kemudian ia juga menatapi kumis tipisnya dan berakhir tersenyum.

“Aku nggak pantes sama Bianca kalau seperti ini.” ucapnya pada diri sendiri.

Jason lalu meraih krim dan alat cukurnya. Ia memangkas habis semua bulu-bulu di wajahnya hingga kini dirinya tampak lebih muda dari sebelumnya.

Jason kemudian melepaskan tindik yang berada di bawah bibirnya, lidahnya, hidungnya, serta di ujung alisnya. Ia kembali menatap dirinya sendiri. Tampak seperti laki-laki baik-baik.

Sial! Selama ini, Jason tak pernah mencoba menjadi siapapun. Saat menyukai Felly, ia tak pernah memikirkan bagaimana jika keluarga Felly tak menyukainya atau lebih tepatnya tak menyukai penampilan serta gaya hidupnya. Tapi dengan Bianca, ia bahkan berpikir sampai kesana.

Kenapa? Apa yang terjadi denganmu, Jase?

Jason hanya tersenyum dengan kebingungannya. Kemudian ia merogoh ponsel yang berada dalam saku celananya. Membuka kuncinya dan seketika itu juga ia melihat potret Bianca menjadi wallpaper ponselnya.

Lagi-lagi, Jason tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tak pernah ia merasa seperti ini sebelumnya. Kemarin, saat pertama kali mendekati Bianca. ia hanya ingin menjadikan Bianca sebagai pelarian. Sebagai obat untuk luka patah hatinya. Ia tidak bermaksud untuk berhubungan lebih serius lagi dengan Bianca. Tapi ketika ia tak dapat menahan hasratnya, Jason akhirnya terpuruk pada pesona Bianca.

Menyadari jika Bianca bukan wanita murahan, Jason berpikir, jika apa salahnya mempertahankan hubungan mereka dan mencoba belajar mencintai wanita itu? Mungkin saat ini, Jason masih belum ingin jatuh cinta lagi, atau mungkin ia masih memungkiri perasaannya sendiri. Yang pasti, Jason ingin hubungannya dengan Bianca menjadi serius.

Ya, Bianca bukanlah wanita sembarangan, bukan wanita murahan yang rela melemparkan diri di ranjang laki-laki lain. Setidaknya, itulah yang Jason tahu saat mendapati Bianca masih perawan ketika mereka baru melakukan hubungan intim untuk pertama kalinya.

Jadi, tak ada salahnya bukan untuk menjadikan wanita itu sebagai wanita yang paling special dihatinya saat ini?

Jason menuju ke arah ranjangnya, melemparkan diri disana masih dengan menatap potret Bianca pada layar ponselnya. Jason membuka-buka ponselnya yang ternyata terdapat beberapa foto Bianca di sana.

Ya, selama berhubungan dengan Bianca, Jason memang beberapa kali mencuri-curi foto wanita itu. Selain untuk dijadikan inspirasi membuat lagu, Jason merasa bahwa Bianca memang memiliki wajah yang selalu cantik meski di foto dari sisi manapun. Itulah yang membuat Jason tak berhenti mengamati wanita tersebut.

Kemudian, Jason mendapati sebuah foto yang dengan spontan membuat dia menelan ludah dengan susah payah. Jason masih ingat, ia mengambil foto itu setelah malam pertama mereka. Saat itu, rambut pirang Bianca dibiarkan terurai ke samping. Tampak leher jenjang wanita itu serta wajah polosnya dan juga bibir merahnya yang membuat Jason tergoda.

Sial! Ia kembali menginginkan Bianca setelah melihat foto tersebut. Kemudian, dalam hati Jason timbul sebuah rasa posesif yang sulit untuk diartikan. Bagaimana jika ada lelaki lain yang menyadari bagaimana menakjubkannya seorang Bianca? bagaimana jika ada seseorang yang ingin merebut Bianca dari sisinya?

Memikirkan hal itu membuat Jason marah dan kesal, ia tidak bisa mengatakan pada semua orang tentang hubungannya dengan Bianca, tapi disisi lain, ia ingin mengklaim diri Bianca jika wanita itu adalah miliknya. Akhirnya, Jason memutuskan untuk mengunggah sesuatu di akun sosial medianya.

Foto Bianca, ia mengunggahnya. Tapi dengan memotong sebagian dari foto tersebut. Jason hanya memperlihatkan rambut pirang Bianca, hidung mancungnya, serta bibir merah wanita itu. Dengan spontan Jason menuliskan caption ‘Dia Canduku’ kemudian mengirimnya begitu saja.

Jason tersenyum setelahnya. Ia tahu pasti bahwa nanti para fansnya akan dibuat menggila dengan postingannya tersebut. Tak akan ada yang bisa mengenali Bianca jika bukan teman dekat dari wanita itu sendiri, Jason tahu itu. Yang terpenting saat ini, bahwa ia sudah mengklaim diri Bianca, bahwa wanita itu adalah miliknya, wanita itu sudah menjadi candunya.

-TBC-

3 thoughts on “Bianca – Chapter 10 (Dia Canduku)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s