romantis

Bianca – Chapter 8 (Gugup dan salah tingkah)

 

Chapter 8

-Gugup dan Salah tingkah-

 

Aldo berjalan mondar-mandir di depan UGD sebuah klinik yang tak jauh dari tempat konser band Jason. Sesekali ia tampak menghubungi seseorang, tapi yang membuat ekspresinya keras adalah, orang yang ia hubungi tidak mengangkat telepon darinya sekalipun.

Tak lama, seorang suster keluar dan Aldo segera menghampirinya. “Bagaimana istri saya?” tanya Aldo kemudian.

“Istri bapak baik-baik saja, mungkin sedikit kelelahan.” Jawab suster tersebut sembari mempersilahkan Aldo masuk.

Saat Aldo masuk, ia sudah mendapati Sienna yang ternyata sudah duduk dan tersenyum ke arahnya. Aldo tahu, senyum apakah itu. Apa Sienna sedang mengerjainya? Seperti dulu yang pernah dilakukan istri usilnya itu padanya?

“Hai, kak.” Sapa Sienna sembari mengangkat tangannya.

“Kamu, baik-baik saja, kan?” tanya Aldo yang masih tampak khawatir dengan keadaan Sienna.

Sienna menunggu para suster keluar dari bilik tempatnya duduk di sebuah ranjang UGD. Setelah suster tersebut pergi dari sana, Sienna terkikik sendiri. Ia merengkuh jemari Aldo kemudian berkata “Maaf, aku harus melakukan ini. Habisnya kamu mau gangguin Bianca sama Kak Jason.” Ucap Sienna dengan nada yang dibuat semanja mungkin.

Mata Aldo membulat seketika. “Jadi kamu nggak apa-apa? Nggak ada yang sakit?”

“Ya, maaf, ya…”

“Sienna!” Aldo mendengus sebal. Ia tidak menyangka jika Sienna akan berbuat seperti ini lagi. Menggunakan calon bayi mereka untuk membohonginya. “Apa kamu nggak tahu bagaimana khawatirnya aku? Kita sudah pernah kehilangan calon bvayi kita, bisa-bisanya kamu membuat lelucon ini.” Aldo benar-benar sangat kesal dengan sikap Sienna. Masalahnya, dulu, mereka sudah pernah kehilangan calon buah hati mereka, jadi bisa dibayangkan bagaimana khawatirnya Aldo dengan keadaan Sienna saat ini.

“Kak, aku hanya ingin kamu memberikan Bianca sedikit kebebasan.”

“Kebebasan berciuman di depan umum? Yang benar saja. Dulu, saat Felly menjalin hubungan dengan berandalan itu, aku sangat tidak suka. Dan kini, aku tidak akan membiarkan adikku jatuh ke tangannya.”

“Kak Aldo. Jangan lebay deh. Bianca itu hanya gadis bunga malam ini. Mereka nggak ada hubungan apapun.”

“Jadi dia di cium di depan umum hanya untuk keperluan konser sialan itu?” tanya Aldo yang tampak semakin emosi dengan penjelasan Sienna.

“Enggak kak. Astaga, aku bingung bagaimana jelasinnya. Makanya, kak Aldo jangan terlalu kuno, dong.”

“Apa kamu bilang? Kuno? Di saat-saat seperti ini kamu masih ngolokin aku?”

Kali ini Sienna yang mendengus sebal. “Terserah Kak Aldo deh, aku malas ngomong sama Kak Aldo lagi.” Ucap Sienna dengan kesal sambil membaringkan diri memunggungi Aldo. Sungguh, tak ada gunanya beradu argumen dengan suaminya pada saat seperti ini. Aldo memang sedang emosi, dan ketika lelaki itu sedang emosi, maka tak akan ada yang bisa menenangkannya kecuali Sienna dengan jurus andalannya yaitu merajuk.

“Kamu merajuk? Hei, aku marah dengan berandalan sialan itu, kenapa kamu yang merajuk?” Aldo tak bisa berbuat banyak. Saat Sienna sudah merajuk maka tak ada yang bisa ia lakukan selain mengalah dengan istrinya tersebut.

Sienna tidak mengindahkan perkataan Aldo, ia masih terbaring miring memunggungi suaminya, tapi dalam hati ia tertawa penuh dengan kemenangan. Ya, dengan begini Aldo tak dapat berkutik lagi, dan Sienna berharap jika lelaki itu tak akan lagi membahas apapun tentang ciuman yang terjadi antara Jason dan Bianca di atas panggung tadi.

Ciuman? Astaga, Sienna bahkan baru mengingat hal itu. Bocah nakal sialan itu ternyata menonton konser Jason tanpa sepengatahuannya. Dan entah kenapa, Sienna malah suka dengan kenyataan tersebut.

***

Pagi itu, adalah pagi yang cukup aneh untuk Bianca. ia merasa kurang nyaman dengan tubuhnya. Dan ketika dirinya membuka mata, Bianca baru sadar jika dirinya tidur dalam keadaan telanjang bulat.

Bianca segera duduk, lalu meraih selimut yang melorot hingga pinggangnya. Kemudian sebuah sapaan lembut dari Jason membuat Bianca mengingat, bagaimana panasnya hubungan mereka semalam.

“Pagi, Babee.”

Bianca menatap ke arah Jason. Rupanya lelaki itu sudah mengenakan kimononya, dan lelaki itu sudah tampak tampan dan segar. Mungkin karena baru saja mandi. Bianca merutuki dirinya sendiri, berharap jika saat ini dirinya tidak tampak berantakan. Tapi sepertinya, itu hanya sebuah harapan semu.

Dengan sedikit salah tingkah, Bianca hanya membalas sapaan Jason dengan “Hai.”

Bianca merasakan pipinya memanas, mungkin kini sudah merah merona. Dan astaga, Bianca benar-benar merasa gugup dan salah tingkah ketika berada di hadapan Jason saat ini.

Jika sebelumnya Bianca bisa mengontrol dirinya, maka tidak dengan pagi ini, tidak ketika ia mengingat bagaimana panasnya hubungan mereka semalam. God! Jason tampak sangat berkuasa, dan Bianca benar-benar suka saat membayangkan bagaimana panasnya Jason ketika berada di atasnya.

Sedangkan Jason sendiri, kini hanya bisa menahan senyumnya. Ia tersenyum karena Bianca tampak berbeda dari biasanya. Wanita itu tampak memerah, malu, bercampur dengan gugup. Kenapa? Padahal sebelumnya, Bianca merupakan gadis yang sangat percaya diri bagi Jason. Dan kini, wanita itu benar-benar tampak menggemaskan untuknya.

“Cokelat panasmu.” Ucap Jason sembari memberikan sebuah cangkir yang sejak tadi berada dalam tangannya.

Bianca menerimanya begitu saja, ia bahkan tidak berani menatap mata Jason dengan terang-terangan. Entahlah. Bagi Bianca, ada sebuah gelenyar panas yang seketika merayapi tubuhnya ketika mata mereka saling menatap satu sama lain.

Jason lalu duduk di pinggiran ranjang. Ia mencoba mengabaikan Bianca yang membenarkan letak selimut untuk menutupi tubuh telanjang wanita itu. Astaga, Jason mencoba mengendalikan diri setenang mungkin, padahal saat ini, dirinya sedang menegang kembali karena tergoda dengan keberadaan Bianca di hadapannya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan nada lembut.

“Baik.” Ucap Bianca sembari menundukkan kepalanya. Bianca bahkan memilih menatap ke arah cokelat yang berada di dalam tangannya ketimbang harus menatap ke arah Jason yang begitu mempengaruhinya.

“Tidak perlu malu-malu begitu.” Ucap Jason dengan mata yang tak berhenti menatap ke arah wajah Bianca yang memerah.

“Malu-malu kenapa? Aku nggak malu-malu, kok.” Bianca mencoba mengelak dan hal itu membuat Jason semakin gemas dengan sosok Bianca.

Jason mendekat, dan dengan spontan dia mengecup puncak kepala Bianca hingga membuat Bianca mematung seketika. Bianca merasakan jika jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak ketika Jason mengecup puncak kepalanya.

Astaga, kenapa lelaki ini bisa semanis ini? pikir Bianca saat itu.

“Bee, kamu milikku sekarang.” Jason mengungkapkan kepemilikannya atas diri Bianca.

Bianca mengangkat wajahnya. Ia menatap Jason dengan wajah tak mengertinya. “Maksudmu?”

“Sekarang, kamu benar-benar menjadi kekasihku yang sesungguhnya. Jangan menolakku, jangan tinggalkan aku, dan jangan menyakitiku. Kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang kusayangi.”

Bianca tersenyum.  Dan hal itu membuat Jason mengerutkan keningnya.

“Kenapa tersenyum? Kamu nggak suka dengan apa yang kukatakan?”

“Bukannya begitu. Kamu sudah mengambil apa yang kupunya. Bukankah seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu? Jangan tinggalkan aku, karena semuanya sudah menjadi milikmu.”

“Kamu belum mengenalku, Bee.” Jason menghela napas panjang. “Sebelum ini, aku pernah mencintai seseorang begitu dalam. Dan dia mematahkan hatiku seketika, aku terluka, aku tersakiti. Benar-benar sangat sakit. Dan aku tidak ingin mengalami hal itu untuk kedua kalinya denganmu.”

Bianca menaruh cokelat panasnya di atas nakas, lalu jemarinya terulur menggenggam erat telapak tangan Jason.

“Aku tidak akan menyakitimu, Jase.”

“Apa ini sebuah janji?”

Bianca tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Setelah itu, Jason mendekatkan wajahnya pada wajah Bianca sedangkan Bianca segera memejamkan maytanya. Ia tahu bahwa Jason akan menciumnya. Tapi ketika bibir mereka hampir saja saling menyentuh, suara ketukan pintu menyadarkan keduanya.

Jason menghentikan aksinya. Ia menatap ke arah Bianca, sedangkan Bianca sendiri segera membuka matanya mendapati Jason yang menatapnya dengan tatapan aneh. Keduanya lalu tersenyum satu sama lain.

Jason mengacak poni Bianca, sebelum ia bangkit dan membuka pintu kamarnya.

“Mungkin sarapan pesananku.” Ucapnya sembari meninggalkan Bianca. Bianca hanya tersenyum menanggapinya. Ia melihat Jason pergi menuju ke arah pintu.

Saat Jason membuka pintu kamar hotelnya, rupanya yang datang bukanlah pelayan hotel yang membawakan sarapan pesanannya, melainkan salah seorang personil The Batman, Troy. Untuk apa temannya itu datang pagi-pagi buta seperti ini?

“Sial, lo Jase. Kemana aja semaleman? Elo nggak keliatan setelah konser selesai.”

Jason mendengus sebal. Ia membuka sedikit pintu kamarnya agar Troy bisa melihat apa yang ada di dalam kamarnya. Dan benar saja, kepala Troy melonggok ke dalam dan ia mendapati Bianca yang masih berbalutkan selimut tebal dari hotel. Wanita itu tampk asik menikmati sesuatu di atas ranjang Jason, dan hal itu segera membuat Troy mengumpat keras.

“Berengsek!”

Jason segera mendorong tubuh Troy keluar, dan dirinya sendiri ikut keluar dari kamarnya sebelum menutupnya agar Bianca tidak mendengar umpatan khas dari temannya itu.

Troy tertawa lebar. “Elo benar-benar bajingan ya. Gerak cepet banget lo.”

“Udah, nggak perlu basa-basi. Sekarang kenapa elo ke sini?”

“Produser dan yang lain ngajak meeting pagi ini. Yang lain sudah nunggu di resto.”

Jason menghela napas panjang. Ia tidak suka kebersamaannya dengan Bianca pagi ini terganggu. Lagi pula, tumben sekali produsernya itu mengajak meeting pagi-pagi. “Oke, gue ganti baju dulu.” Jason bersiap masuk, tapi kemudian perkataan Troy membuatnya menghentikan langkahnya.

“Elo, nggak nganggep dia kayak cewek-cewek yang gue sediain selama ini, kan Jase?” tanya Troy dengan sedikit serius.

Jason mengerutkan keningnya, ia membalikkan tubuhnya dan menatap temannya tersebut. “Kenapa elo tanya begitu?”

“Gue hanya nggak mau elo salah jalan. Fine! Gue memang berengsek karena ngajarin elo yang enggak-enggak selama ini. Tapi, setidaknya, wanita yang selama ini elo tidurin dan elo campakan setelahnya adalah wanita bayaran, bukan wanita kayak Bianca.”

“Tenang saja, dia berbeda.”

Troy menepuk-nepuk pundak Jason. “Oke, kalau gitu, gue bisa lega.”

“Elo, nggak ada maksud lain, kan?” tanya Jason kemudian.

“Maksud lo?” Troy bertanya balik karena tidak mengerti.

“Bianca, elo ngga sedang tertarik sama dia, kan?”

Troy tertawa lebar. “Lo gila? Gue nggak akan pernah macarin cewek temen gue sendiri.”

“Kalau mantan?” tanya Jason kemudian.

Troy tersenyum penuh dengan kemisteriusan. “Gue nggak janji, makanya, jangan sampai buat dia jadi mantan elo. Hahahaha.” Jawab Troy sembari tertawa lebar dan meninggalkan Jason di depan pintu kamarnya.

“Sialan!” Yang bisa Jason lakukan hanya mengumpati kelakukan temannya itu. Mantan? Tidak, ia tidak akan membiarkan Bianca menjadi mantan kekasihnya. Tidak dalam waktu dekat.

***

Jason sarapan bersama dengan teman-teman dan juga official The Batman. Meski dirinya berada di sana, tapi pikiran Jason seakan masih tertinggal di kamarnya. Ditempat Bianca berada. Apa Bianca menghabiskan sarapannya? Apa Bianca sudah mandi? Sudah berpakaian? Apa dia bosan? Dan entah apalagi pertanyaan-pertanyaan tentang Bianca yang kini sedang menari-nari di kepalanya.

Raga, selaku Produser The Batman tampak memperhatikan gelagat Jason. Dan hal itu membuatnya bertanya “Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Jason menatap Raga seketika. “Oh, tidak ada.”

“Konser kalian berjalan dengan sangat sempurna tadi malam. Pagi ini, semua media memberitakan tentang konser kalian. Video gadis bunga di youtube bahkan menjadi trending hanya dalam semalam.”

Jason hanya memainkan kopi di hadapannya sembari menganggukkan kepalanya.

“Siapa gadis itu, Jase?” pertanyaan Raga membuat Jason menatap ke arah produsernya tersebut seketika.

Sebenarnya, dalam Band mereka memang ada kontrak yang menyatakan jika semua personel The Batman tidak boleh memiliki kekasih dalam waktu yang sudah ditentukan. Tapi nyatanya, mereka semua memiliki kekasih. Raga, selaku Produser yang mengorbitkan mereka tentu mengetahui hal itu. Tapi Raga tampak enggan mengurus masalah sepele itu. Yang penting, mereka tidak menampakkannya di depan umum dan juga yang penting hal itu tidak berpengaruhi pasar atau image The Batman sendiri. Tapi kini, Raga seakan memiliki keingin tahuan pada hubungan Jason dengan Bianca. Hal tu yang membuat Jason merasa tidak nyaman.

“Ayolah, dia hanya gadis acak yang di pilih Jason. Bukan begitu, Jase?” Troy membela Jason.

Raga bersedekap. “Aku cuma nggak mau timbul gosip yang tidak-tidak tentang kalian, terutama kamu, Jase. Gosip-gosip tentang kamu Gay saja sudah cukup memusingkan.”

“Itu karena peraturan sialan di managemen, lagian, kita bisa dengan mudah menepis gosip itu dengan cara Jason mengenalkan perempuan sebagai kekasihnya.”

“Tidak!” Raga berseru dengan ide yang diungkapkan Ken. “gosip itu sebenarnya cukup menguntungkan pasar kita. Anggap saja itu sebagai bahan promosi album baru kalian nanti. Selagi para media belum mendapatkan bukti yang konkrit maka kalian akan sering di beritakan. Anggap saja itu sebagai promosi gratis.” Raga lalu menatap Jason dengan mata tajamnya. “Lagi pula, aku nggak mau, kalau sampai gadis itu yang akan dikenalkan Jason di depan publik.”

Mata Jason menatap tajam ke arah Raga. “Kenapa?” sungguh, Jason bingung dengan keinginan lelaki yang duduk di hadapannya tersebut. Sedikit informasi, bahwa Raga memang belum pernah sekalipun bertatap muka secara langsung dengan Bianca. Bianca memang selalu memani Jason saat konser selama dua bulan terakhir, tapi Bianca belum pernah bertemu dengan Raga secara langsung.

“Kamu tidak perlu tahu alasannya, kamu bisa mencari gadis lain, tapi tidak dengan dia.”

Mata keduanya saling menatap dengan tatapan tajam masing-masing. Meja mereka tampak hening, suasana terasa tidak enak, hingga kemudian, Troy merasa jika dia harus kembali mencairkan suasana.

“Udahlah, kalian kenapa bahas masalah gak penting ini sih. Mending kita bahas tema konser selanjutnya. Ya nggak?” tanyanya sembari menyikut Ken.

“Bener banget kata Troy.” Ken setuju. Lalu semuanya kembali membahas konser selanjutnya yang akan datang.

Meski begitu, hal tersebut tidak membuat Jason mengenyahkan semua perkataan Raga tadi. Ia merasa ada yang aneh dengan produsernya itu. Biasanya, Raga hanya akan membahas tentang pasar dan sejenisnya. Bukan tentang masalah pribadinya seperti saat ini. Lagi pula, Raga itu siapa? Lelaki itu baru menjadi Produsernya selama setengah tahun terakhir setelah menggantikan kakaknya yang pensiun dini. Kenapa pria itu tampak ingin sekali mengurusi masalah pribadinya?

***

Setelah menghabiskan sarapan paginya dengan lahap. Bianca memilih membuka ponselnya sembari berguling-guling manja di ranjang hotel. Ia mendapati banyak sekali missed call dari Aldo, kakaknya. tapi Bianca malah memilih mengabaikannya.

Bianca membuka sosial medianya. Membuka akun Jason, dan melihat begitu banyak lelaki itu di tandai dalam berbagai macam foto di akun instagramnya.  Yang membuat Bianca kaget adalah, bahwa kebanyakan foto-foto tersebut menampakkan saat Jason berciuman dengannya di atas panggung.

Jason dengan Gadis bunga, tadi malam.

Ceweknya gendut dan jelek.

Jason sangat manis.

Jalang sialan! Menjauh dari pacarku!

Membaca-baca berbagai macam caption dan komentar yang dituliskan para peggemar Jason membuat Bianca kesal.

“Gendut? Astaga, apa matanya rabun?” Bianca menanggapi caption itu dengan kesal.

Dia akan menjadi pelacur Jason.

Jangan cium suamiku!

Bitch!

Dan banyak lagi caption-caption dan juga komentar-komentar yang membuat Bianca kesal. Akhirnya, Bianca tak kuasa menahan diri. Ia membalas sesuatu di kolom komentar di salah satu postingan fans Jason yang membuatnya sangat kesal.

Dia bukan jalang, dia hanya gadis yang beruntung.

Setelah itu, Bianca mengeluarkan diri dari sosial medianya, melemparkan ponselnya ke sembarang arah dan menenggelamkan wajahnya diantara bantal yang tersedia di sana. Ia benar-benar kesal. Dan mungkin ia tidak akan lagi menanggapi komentar-komentar menyakitkan  dari fans fanatik Jason. Bianca menghela napas panjang. Sungguh, ia menyesal menjadi stalker akun sosial media kekasihnya itu.

“Ada apa?” suara itu membuat Bianca mengangkat wajahnya. Ia tidak menyangka jika Jason sudah kembali dari meetingnya bersama dengan para officialnya.

“Hai.” Bianca duduk seketika. Ia bahkan segera merapikan rambut pirangnya agar tidak terlihat berantakan di mata Jason. Astaga, kenapa ia merasa gugup dan salah tingkah seperti ini saat berhadapan dengan Jason?

“Sudah habis sarapannya?” tanya Jason sambil duduk di pinggiran ranjang.

“Ya, itu sudah habis.”

“Kenapa kayak kesal gitu?”

Dengan nada merajuk, Bianca menjawab “Fans kamu tuh, ngeselin. Masa aku dibilang gendut dan jelek.”

Jason tertawa lebar. Ia mengulurkan jemarinya mengacak poni Bianca, hal yang saat ini sangat ia gemari. “Mereka hanya cemburu.”

“Tapi mereka keterlaluan. Aku dibilang jalang lah, pelacur lah.”

“Maafkan aku, Bee. Seharusnya aku nggak melakukan itu di depan umum tadi malam.”

“Enggak, itu bukan salah kamu. Maksudku, penyanyi luar juga sering melakukan itu.”

“Itu kan budaya luar, bukan budaya kita. Dulu, memang sering ada gadis bunga, tapi aku hanya memberinya bunga, mempersilahkan dia mengecup pipiku, lalu memeluknya dengan kasih sayang. Hanya itu. Tidak sampai menciumnya seperti yang kulakukan padamu tadi malam. Tapi di hadapanmu, aku tidak dapat menahannya. Akhirnya, kamu yang kena bully.”

“Enggak Jase, sungguh, aku nggak menyesali hal itu.”

Jason tersenyum. “Aku tahu.” Lalu dia menghela napas panjang sebelum berkata “Bee, maafkan aku, aku belum bisa mengungkapkan hubungan kita di depan publik.” Ucap Jason dengan serius.

Bianca hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tahu, apa konsekuensi yang harus ia terima saat memutuskan untuk menjalin kasih dengan seorang superstar. Dan ia akan bertahan. Ya, bukankah dirinya adalah gadis yang kuat?

***

Di lain tempat…

Aldo mengangkat panggilan di ponselnya yang berdering. Sedikit mengereutkan keningnya ketika ia mendapati siapa si pemanggil. Rupanya itu salah seorang teman SMAnya yang sudah cukup lama tidak saling menyapa. Ada apa? Apa mereka akan mengadakan reuni?

“Hei, Ga. Apa kabar?” tanya Aldo dengan sedikit basa basi.

“Baik. Elo sendiri gimana kabarnya?”

“Baik juga. Ada apa? Tumben elo hubungin gue.”

“Al, gue mau tanya. Uuum, Bianca, adek elo sudah pulang dari Inggis, Ya?” tanya suara di seberang.

Aldo mengerutkan keningnya. Oh ya, dulu, temannya ini memang sempat naksir dengan adiknya yang saat itu masih SMP. Dan Aldo masih tidak menyangka jika temannya ini masih ingat dengan Bianca dan menanyakan tentang Bianca secara terang-terangan.

“Ya, dia sudah balik dari beberapa bulan yang lalu. Kenapa Ga? Astaga, jangan bilang kalau elo masih naksir adek gue.”

“Hahahahha” terdengar suara tawa di seberang. “Al, kapan-kapan, kita ngopi bareng. Mau kan?”

“Hahhaha oke, oke. Gue tunggu undangan elo.”

Dan setelah itu panggilan di tutup. Aldo hanya menggelengkan kepalanya. Lelaki itu adalah Raga, temannya dulu semasa SMA dan di bangku perguruan tinggi. Raga sendiri pernah mengaku tertarik dengan Bianca. tapi itu dulu. Dan Aldo tidak menyangka jika sekarang, setelah cukup lama tak saling menyapa, Raga malah menghubunginya lebih dulu dan menanyakan tentang Bianca.

Apa ini tandanya bahwa ia harus mencomblangkan adiknya itu dengan temannya? Sejauh yang Aldo tahu, Raga adalah sosok yang baik. Jadi, kenapa tidak mencobanya saja.

-TBC-

2 thoughts on “Bianca – Chapter 8 (Gugup dan salah tingkah)”

  1. Hahahaha pntes raga ga rela jase ma bianca jadian 😂😂
    Kek na bakal seru ni jase punya saingan dan q mendukung aldo 💃💃

    aaahhhhh jadi pengen baca aldo lagi 😢

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s