romantis

Bianca – Chapter 7 (first night with Bee)

 

Haiiii aku balik lagi nih… hehehhehe maaf bgt kemarin gak update karena aku tutup malem. huwaaa oke langsung saja yaa. Ehhh BTW, sedikit infi kalau FUTURE WIFE sudah aku hapus sebagian seperti yang sudah aku rencanakan Yaa,… maafffff bgt. hehehehhe

 

 

Chapter 7

-First Night with Bee

 

Aldo berdiri dan bersiap berjalan menuju ke arah panggung. Tapi kemudian, Sienna menghentikannya.

“Kak, kamu apa-apaan sih?” tanya Sienna dengan sedikit kesal.

“Apa-apaan bagaimana? Itu Bianca. Dan si Berengsek sialan itu sedang menciumnya di depan umum.”

Aldo masih bersiap pergi, tapi kemudian Sienna memeluk tubuh Aldo dari belakang. Berharap jika Aldo menghentikan langkahnya. Dan benar saja, Aldo menghentikan langkahnya.

“Apa yang kamu lakukan, Si?”

“Tolong, jangan ganggu mereka.”

“Apa maksudmu?” tanya Aldo tak mengerti.

Sienna melepaskan pelukannya “Kak, hal seperti ini wajar dilakukan saat konser. Mungkin ini hanya keberuntungan bagi Bianca, karena dia yang terpilih sebagai gadis bunga. Kalau Kak Aldo ke sana dan mengacaukan semuanya, bisa-bisa Kak Aldo di keroyok sama keamanan karena mengganggu jalannya konser.”

“Aku nggak peduli.”

“Kak.” Sienna kembali memeluk Aldo kembali.

“Sienna…”

“Ahhh, perutku, perutku sakit.” Sienna lalu tergeletak begitu saja, dan hal tersebut membuat Aldo panik dan memanggil-manggil nama istrinya tersebut.

***

Di atas panggung.

Setelah bercumbu mesra dengan Bianca tanpa menghiraukan para fansnya. Jason akhirnya melepaskan tautan bibir mereka setelah ia merasa napas Bianca hampir habis. Jemarinya terulur mengusap lembut pipi Bianca yang merah merona.

Bianca tampak sangat mengoda, apalagi saat wanita itu tak  berhenti menggigit bibir bawahnya sendiri.

“Tunggu aku di ruang ganti.” Bisik Jason ditengah-tengah riuhnya para Fans yang histeris dengan ulahnya.

Bianca hanya tersenyum. Ia mengagguk. Lalu turun dari bangku yang ia duduki. Kemudian Jason mengajaknya menuruni panggung dan menuju ke arah Official. Setelah itu, Jason kembali naik ke atas panggung dan melanjutkan konsernya.

Bianca hanya menatap lelaki itu. Lelaki yang baru saja menciumnya di depan umum. Lelaki yang baru saja memberinya sebuah ciuman pertama. Astaga, ciuman pertama?

Jika saat ini Bianca tak sedang berada di tempat umum, mungkin ia sudah bersorak sorai seperti orang gila karena ciuman pertamanya jatuh pada seorang yang begitu keren seperti Jason. Astaga, Bianca benar-benar tak dapat menahan kebahagiaan yang membuncah di hatinya.

***

Setelah menungggu cukup lama, Bianca akhirnya mendapati pintu ruang ganti Jason terbuka menampilkan lelaki yang sejak tadi ia tunggu. Jason kembali dengan keringat di wajahnya, dengan kaus tanpa lengannya. Dan sial! Lelaki itu benar-benar tampak panas untuk Bianca.

“Hai.” Bianca berdiri seketika sambil menyapa Jason.

“Ayo ikut aku.”  Jason meraih hoodynya, lalu menyambar pergelangan tangan Bianca, kemudian mengajak Bianca keluar dari dalam ruang gantinya dengan mengenakan hoddy yang baru saja ia ambil dari ruang gantinya.

“Kita mau kemana?” tanya Bianca sedikit bingung. “Kamu, sudah selesai konsernya?” lanjutnya lagi.

“Ya, sudah. Ikut saja kemanapun aku pergi.” Dan yang bisa Bianca lakukan hanya menuruti apapun yang dikatakan Jason padanya.

***

Keduanya menuju ke arah hotel yang memang tak jauh dari tempat konser Jason. Jantung Bianca tak berhenti berdebar kencang apalagi saat keduanya masuk ke dalam lift yang hanya mereka tumpangi berdua.

Jason tak berhenti menggenggam erat jemari Bianca, dan hal itu membuat Bianca semakin gugup merasakan perasaan yang sulit ia artikan.

Keluar dari dalam lift, Jason membimbing Bianca menuju ke arah kamarnya. Meski konser tersebut di adakan di kota yang sama, tapi penyelenggara konser memang menyediakan kamar hotel untuk masing-masing personel The Batman beserta officialnya. Dan kini, Jason sedang mengajak Bianca menuju ke kamar hotelnya.

Masuk ke dalam kamar tersebut, Jason mengunci diri mereka berdua di dalam kamar itu. Bianca sempat tak mengerti apa yang akan dilakukan Jason selanjutnya. Tapi ketika Jason membalikkan tubuhnya untuk menatap lelaki itu, Bianca tahu, jika kini Jason sedang menginginkan sesuatu darinya.

Mata lelaki itu tampak berkabut, dan menurut yang ia baca, saat seorang lelaki menatap seorang perempuan dengan mata berkabutnya, maka itu tandanya bahwa lelaki itu sedang menginginkan sesuatu dari wanita di hadapannya. Sesuatu yang intim tentunya.

“Jase….” Bianca memanggil nama Jason, karena mata Jason tampak tak berkedip menatap ke arahnya.

Jemari Jason tiba-tiba terulur, mengusap lembut pipi Bianca. Mata Bianca terpejam ketika merasakan kelembutan Jason yang membuat tubuhnya bergetar seketika.

“Jase… hemmm.” Racau Bianca saat ibu jari Jason mengusap lembut bibir bawahnya.

“Apa kamu tahu, kamu membuatku tergoda.” Bisik Jason dengan suara seraknya. “Aku harus bagaimana, Bee?” tanya Jason kemudian.

Bianca membuka matanya, kemudian ia bertanya balik pada Jason. “Apa yang kamu inginkan dariku?” suara Bianca bahkan sudah ikut serak, pelan, hampir tak terdengar.

“Kamu, aku menginginkan kamu.” Jason menjawab dengan lembut, sebelum ia mendaratkan bibirnya pada bibir Bianca. mencumbunya dengan panas menggoda.

Bianca sendiri tidak menolak. Ia bahkan mengalungkan lengannya pada leher Jason, membalas cumbuan Jason tersebut.

Keduanya larut dalam gairah. Jason merasakan pusat gairahnya menegang, semakin sesak ingin dibebaskan. Sedangkan Bianca merasa basah seketika hanya dengan cumbuan panas yang mereka lakukan.

Astaga, Jason benar-benar pandai berciuman, dan hal itu membuat Bianca tak kuasa untuk menolak keinginan dari lelaki tersebut.

Jason melepaskan tautan bibir mereka. Lalu ia menatap Bianca dengan matanya. “Bee, aku benar-benar menginginkanmu.” Ucap Jason sekali lagi. Berharap jika Bianca mengerti apa yang ia inginkan, dan wanita itu mengizinkan untuk menyentuhnya.

“Maka lakukanlah.” Jawab Bianca yang memang tak dapat menolak permintaan Jason.

Ya, Bianca sempat lama tinggal di luar negeri. Ia tahu pasti bagaimana pergaulan di sana. Seks bebas di luar nikah tentu bukan hal yang tabu di sana. Meski begitu, ia belum pernah melakukannya sekalipun. Bianca lebih asyik dengan dunianya sendiri, baginya, tak ada satupun lelaki yang tampak hot seperti tokoh di dalam novel-novel yang pernah ia baca. Tapi dengan Jason, pandangan tersebut berubah. Jason sudah seperti visualisasi dari tokoh-tokoh dalam novel impiannya. Tampan, panas, menggoda, dan Bianca rela memberikan semuanya pada lelaki ini.

“Kamu yakin?” tanya Jason sekali lagi.

Selama ini, Jason memang sering meniduri wanita. Tapi wanita-wanita itu adalah wanita bayaran. Bukan wanita seperti Bianca yang merupakan wanita baik-baik dengan keluarga terhormat. Setidaknya, itu yang Jason tahu. Maka dari itu, Jason ingin memastikan sekali lagi. Karena dia tidak ingin, ada penyesalan dengan diri Bianca nantinya.

“Ya, lakukanlah.” Bianca menjawab dengan mantap.

Jason tersenyum. Ia kembali mengusap lembut pipi Bianca sebelum kemudian jemarinya turun dan mulai membuka T-shirt yang dikenaka Bianca.

“Sejak di atas panggung, aku sudah menahannya. Kamu membuatku tidak fokus.”

Bianca tersenyum dengan ucapan Jason. Ia tidak menyangka jika Jason akan mengucapkan kalimat itu. Membuatnya semakin berdebar dengan perkataan lelaki tersebut.

Jason menurunkan rok pendek yang dikenakan Bianca. lalu ia terpaku sebentar menatap keindahan yang terpampang di hadapannya.

“Kamu sangat indah.” Ucap Jason dengan suara seraknya.

Jemari Bianca terulur, meraba dada Jason, lalu dengan penuh percaya diri, ia membuka Hoody yang dikenakan lelaki di hadapannya tersebut.

“Aku yakin, kamu juga sama indahnya.” ucapnya sembari membuka kaus tanpa lengan yang  dikenakan Jason.

Jason berdiri telanjang dada, sedangkan Bianca hanya mengenakan dalamannya saja.

“Kupikir, kita akan cocok, Bee.”

“Ya, tentu saja.” Bianca setuju.

Sambil menelan ludah dengan susah payah, Jason membalikkan tubuh Bianca hingga berdiri membelakanginya. Kemudian, ia mendaratkan bibirnya, mencumbu pundak Bianca, lalu turun, menuruni punggung wanita tersebut.

Bianca hanya bisa memejamkan matanya sembari menahan gelenyar panas yang menghantamnya. Jason benar-benar mampu memancing gairah seseorang.

Jason menghentikan aksinya ketika bibirnya sampai pada pangkal punggung Bianca. lalu jemarinya membuka tautan bra yang dikenakan Bianca. Jason melepaskan bra tersebut kemudian mengirup aromanya.

“Harum.” Bisiknya.

Jason membalikkan tubuh Bianca hingga wanita itu berdiri telanjang dada tepat di hadapannya. Jemari Jason menangkup payudara Bianca kemudian menggodanya.

Bianca memejamkan matanya, sesekali menggigit bibir bawahnya saat Jason melakukan hal tersebut. Ia tergoda, ia bergairah, dan semua itu karena seorang Jason.

Tanpa di duga, Jason mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Bianca. Menggoda puncak tersebut dengan bibirnya, memainkan dengan lidahnya, hingga tak kuasa membuat Bianca mengerang dengan ulahnya.

Setelah cukup lama menggoda kedua payudara Bianca, dengan nakal jemari Jason turun, menelusup memasuki panty yang masih dikenakan Bianca, mencari-cari pusat diri Bianca dan mulai memainkannya.

“Ohhh, astaga…” dengan spontan Bianca mengalungkan lengannya pada leher Jason. Meminta lelaki itu agar tidak menghentikan aksinya, karena Bianca sangat menyukainya, ya, sangat suka.

Tapi Jason berpikir lain. Ia sudah cukup lama menahan diri, jadi ia tak ingin menahan terlalu lama lagi.

Jason menghentikan semua aksinya hingga membuat Bianca menatapnya dengan kecewa. Jason tersenyum dengan tatapan Bianca tersebut. Kemudian ia berkata “Jangan kecewa, aku hanya akan memulainya lebih cepat dari yang kuinginkan.”

“Kenapa?”

“Aku tak bisa menahannya terlalu lama.” Jawab Jason sembari membuka celana yang ia kenakan.

Bianca tersenyum, lalu ia menyadari keadaannya yang masih perawan, apa ia harus mengatakan pada Jason tentang kenyataan tersebut? Bagaimana jika Jason memilih untuk menghentikan aksinya karena takut?

“Uuum, Jase. Aku boleh bilang seuatu?” tanya Bianca sedikit ragu.

“Ya, apa? Jangan bilang kalau kamu berubah pikiran.”

Bianca tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Uumm, aku, aku masih perawan.” Ucap Bianca dengan jujur.

Jason terpaku seketika. Ia menatap Bianca dengan tatapan tak percayanya. Dan hal itu membuat Bianca tidak nyaman.

“Uum, aku tahu ini akan menggelikan untuk kamu. Tapi aku benar-benar ingin melakukan ini. Dan aku mengatakannya padamu supaya kamu tidak kecewa karena kamu baru tahu kalau aku tidak pandai di atas ranjang.” Ucap Bianca panjang lebar dengan wajah merona karena malu.

Bukannya merasa takut dengan apa yang dikatakan Bianca, Jason malah segera menangkup kedua pipi Bianca kemudian menyambar bibir Bianca tanpa basa basi lagi.

Bianca terkejut dengan apa yang dilakukan Jason. Bahkan kini Jason sudah mengangkat tubuh Bianca dan membaringkan wanita tersebut di atas rajangnya. Jason menindih tubuh Bianca, tanpa menghentikan cumbuannya. Jemarinya mencoba melepaskan celana dalamnya sendiri dan berusaha untuk tidak melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Bianca.

Tak berapa lama, Jason sudah terbaring tanpa sehelai benangpun. Segera ia menurunkan pakaian dalam Bianca yang masih tersisa di tubuh wanita tersebut, hingga kemudian, keduanya sudah sama-sama polos dan siap dengan hubungan panas yang akan mereka lakukan.

“Aku, akan memulainya, Bee.” Bisik Jason dengan suara seraknya.

Bianca hanya menganggukkan kepalanya. Matanya menatap intens mata Jason yang juga sedang menatapnya. Keduanya saling beradu pandang. Mata Jason yang menyiratkan sebuah keberanian, sebuah tanggung jawab yang hanya bisa di artikan oleh lelaki itu sendiri. Sedangkan mata Bianca terpancar sebuah kepercayaan, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jason tidak akan menyakitinya dan Bianca percaya dengan hal itu.

Jason mencoba menyatukan diri. Awalnya sangat sulit, tapi setelah mencoba beberapa kali, akhirnya, Jason dapat menyatukan diri dengan sempurna. Bianca mengerang, tak pernah berpikir bahwa melepaskan kehormatannya akan terasa begitu sakit. Sakit tapi sangat intim.

Jemari Jason bahkan menenangkan Bianca dengan cara mengusap lembut pipi Bianca, ibu jarinya mengusap bibir bawah Bianca, dan hal tersebut memancing sebuah gelenyar dari dalam tubuh Bianca.

“Aku akan bergerak, aku akan bergerak.” Ucap Jason berulang kali. Berharap jika Bianca dapat meredakan rasa sakitnya dan mereka bisa segera memulai permainan panas di atas ranjang.

Bibir Jason lalu menyapu puncak payudara Bianca, sedangkan yang di bawah sana mulai bergerak menghujam dengan begitu lembut tapi pasti.

Bianca mengerang, mendesah dengan kenikmatan yang di berikan oleh Jason. Astaga, bahkan rasa sakit yang tadi ia rasakan kini menghilang entah kemana, digantikan dengan rasa aneh yang membuatnya dengan spontan ingin meneriakkan nama lelaki diatasnya tersebut.

“Jase… ohh…” Bianca mengerang. Dan karena erangan Bianca yang terdengar erotis di telinga Jason, Jason segera menghentikan aksinya. Ia kembali ke arah Bianca, dan menatap lembut wanita tersebut.

“Apa, aku menyakitimu?” tanya Jason dengan tubuh yang masih menyatu tapi tanpa pergerakan sedikitpun.

Bianca menggelengkan kepalanya. “Lakukan lagi, astaga, lakukan lagi.” Pereintah Bianca, bahkan kini, wanita itu sudah mencengkeram kedua pundak Jason.

“Kamu suka?” tanya Jason lagi.

“Ya, ya, ya. Aku suka.” Bianca menjawab dengan antusias.

Dan karena jawaban Bianca tersebut, Jason tersenyum. Ia meraih kedua tangan Bianca yang mencengkeram pundaknya, lalu memenjarakan tangan tersebut ke atas kepala Bianca dengan sebelah tangannya. Sedangkan sebelah tangan Jason yang lainnya mencoba mengarahkan wajah Bianca pada wajahnya. Jason kemudian mencumbu bibir Bianca dengan panas, pada saat bersamaan, tubuhnya mulai bergerak kembali, menghujam lagi dan lagi untuk mencari kenikmatan.

Keduanya hanyut dalam suasana panas dan intim. Jason merasa bahwa Bianca adalah wanita yang sangat luar biasa. Menggoda, menggairahkan dan tentunya memuaskan untuknya dalam hal di atas ranjang. Sedangkan Bianca sendiri, ia merasa bahwa Jason benar-benar panas, panas hingga membuatnya basah seketika dan memohon agar lelaki itu segera menyentuhnya.

Astaga, bagaimana mungkin Bianca bisa berpikir seperti itu? Bagaimana bisa seorang Jason mampu membuat fantasinya menjadi sebuah kenyataan?”

-TBC-

2 thoughts on “Bianca – Chapter 7 (first night with Bee)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s