Non Fiksi

Catatan Cancer Warrior – Satu

 

 

Perkenalkan dulu. Aku Enny, perempuan usia 25 Tahun. Aku sudah menikah dan sudah memiliki satu anak perempuan yang kini duduk di bangku TK. Selama ini, aku hanya tinggal bertiga dengan puteri kecilku itu dan juga Suamiku.

Aku memiliki seorang Kakak yang sudah berkeluarga dan tinggal di rumahnya sendiri dengan puteri dan istrinya. Kedua orang tuaku masih lengkap. Ibu, Bapak, meski usianya tak muda lagi, tapi mereka masih giat bekerja sendiri tanpa meminta-minta pada anak-anaknya.

Ya, padahal anak-anaknya bekerja. Kakakku memiliki usaha rumah makan, begitupun denganku dan juga suamiku. Hobby menulisku pun menjadi penghasilan sampinganku. Tapi hebatnya kedua orang tuaku itu tak pernah sekalipun meminta-minta padaku atau pada kakakku.

Semuanya berjalan dengan sempurna. hingga suatu hari, tepatnya bulan Lima kemarin, mimpi burukku itu baru saja dimulai.

Ibu baru berani jujur padaku jika ada yang salah dengan tubuhnya. ia merasakan sebuah benjolan yang terasa ketika di raba di area payudara kanannya.

Shock? tentu saja.

Selama ini, Ibuku tidak pernah sakit. Dia adalah wanita terkuat yang pernah kukenal. Dulu, saat aku masih kecil, Bapak pergi merantau ke Negeri seberang tanpa kabar. dan hebatnya, Ibuku mampu membiayahi sekolahku dan sekolah kakakku saat itu dengan hanya menjadi buruh tani. Ya, dia benar-benar wanita terkuat yang pernah kukenal.

Tapi saat dia menceritakan keadaannya saat itu padaku, kulihat ada sebuah ketakutan yang begitu kentara di matanya. kulihat kerapuhan yang tampak jelas di wajahnya. Ya, dia takut. begitupun denganku.

Aku bukanlah wanita kuno, aku adalah wanita yang suka memanfaatkan teknologi saat ini untuk kepentingan yang lebih positif. seperti belajar sesuatu, atau mencari kabar-kabar melalui artikel-artikel di internet.

mendengar kata Benjolan di payudara, tentu saja pikiranku segera menjurus ke sana. Ya, Kanker payudara. Jika kalian mengetik kata kanker wanita di internet, maka akan banyak sekali artikel-artikel kesehatan yang akan membahas tentang 1. Kanker Serviks, 2. Kanker payudara. Dan saat itu, ketika ibuku berkata tentang benjolan di dadanya, maka yang kupikirkan hanya Kanker Payudara.

Oh Tuhan! Tidak. Aku berharap jika itu hanya sebuah benjolan biasa, tumor jinak yang mungkin tak perlu di angkat. Atau mungkin hanya sebuah kelenjar normal yang membesar karena pengaruh hormon wanita atau sejenisnya.

“Sejak kapan, Bu?” tanyaku padanya. Dalam hati aku berharap jika dia menjawab bahwa dia baru merasakannya.

“Baru kurasakan minggu lalu.”

Aku menghela napas lega. Kupikir, jika itu baru saja kemarin, mungkin itu hanya sebuah benjolan biasa yang tidak berbahaya.

“Boleh kulihat?” tanyaku padanya.

Ibu mempersilahkan aku memeriksa dirinya. Kuraba dan kurasakan, ternyata ya, memang ada sebuah benjolan yang bagiku cukup besar.

“Bu, Yakin ini baru kemaren dirasainnya?” Aku curiga jika dia sudah merasakannya sejak lama tapi takut untuk memberitahukannya padaku atau pada yang lainnya.

“Ya, Baru kemaren aku tahu.”

Kemudian aku lanjut memeriksa dia. Hanya berbekalkan artikel-artikel yang kubaca di internet atau situs-situs kesehatan, aku dapat menghela napas lega. Tak ada ciri-ciri Kanker seperti yang kubaca di artikel-artikel tersebut. Padahal, aku tak tahu jika ada beberapa kasus yang berbeda, sedangkan apa yang di tulis di artikel-artikel itu adalah kasus kebanyakan.

Dengan begitu bodohnya aku berkata “Jinak ini Bu. Mau di operasikan atau gimana?”

Sombong? Ya, itulah aku. Padahal aku bukan orang kesehatan, aku bukan dokter, tapi dengan begitu angkuhnya, aku bisa memvonis ibuku sendiri hanya berbekalkan artikel di internet.

“Kok din operasi, apa nggak bisa di obatin aja? obat herbal misalnya.”

“Kalau menurutku, bagus di operasi, Bu. kok Ibu seneng sih, ngerawat penyakit. kalau sudah ketahuan benjolan, mending langsung di angkat.”

“Enggak, Ahh, aku takut. di obatin dulu aja ya.” ucapnya lagi dengan nada memohon.

Aku menghela napas panjang. “Ya sudah lah, terserah Ibu aja.”

Pikirku saat itu adalah, Ya sudahlah, toh itu hanya tumor jinak, biar saja di obatin herbal, nanti juga hilang sendiri, karena kata Ibuku sebelumnya, nenekku juga pernah punya benjolan di payudaranya, lalu hilang seiring berjalannya waktu dengann dia mengkonsumsi obat herbal itu. jika nenekku sembuh, ibuku pasti juga akan sembuh. pikirku saat itu.

Tapi bodohnya, aku tidak memikirkan kemungkinan terburuknya. Hatiku dipenuhi dengan kesombongan, dengan keangkuhan bahwa aku maha tahu semuanya dengan pengalamanku yang hanya melalui artikel-artikel kesehatan yang pernah kubaca. seharusnya aku tahu, bahwa sebuah vonis baru bisa didapatkan setelah melalui proses pemeriksaan, bukan hanya melalui pengalaman membaca.

Aku tidak menyalahkan artikel itu, Tidak! aku hanya tidak tahu, bahwa ada beberapa keadaan yang memang tidak sama. Pasien satu dengan pasien lainnya memiliki keadaan yang berbeda. seharusnya aku bisa memikirkan hal itu saat itu. tapi karena aku terlalu sombong, aku terlalu bodoh, maka aku membiarkan saja apa yang sudah diputuskan oleh ibuku.

Ya, itu bukan sebuah tumor jinak….

Itu bukan sebuah benjolan biasa…

Itu adalah Kanker…

Penyakit yang selama ini menjadi penyakit yang begitu menakutkan untuk kebanyakan orang. dan penyakit itu, kini sedang tumbuh di tubuh orang yang begitu kusayangi, dia Ibuku….

Samarinda

10 – Oktober – 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s