Non Fiksi

Catatan Cancer Warrior – Dua

 

 

Menjadi penulis membuatku dapat menciptakan kebahagiaanku sendiri, meski sebenarnya banyak tekanan hidup di dunia nyata. Sering kali aku menyebutnya sebagai sebuah pelarian. Aku sangat suka menulis, dan hal itu membuatku lupa dengan masalah besar yang seharusnya kuhadapi di dunia nyata.

Tepatnya, akhir Juni, Bapak telepon dan berkata jika Ibu sakit. Malam itu juga, melewati hutan-hutan yang panjangnya hampir 37 Km, aku ke rumah Ibu dan Bapak.

Ibu bilang jika dia merasakan dadanya panas, sesak, perut tidak enak, dan sejenisnya. Padahal setahuku, Ibu tidak pernah mengalami sakit seperti itu. Aku sempat mengajaknya ke IGD, tapi dia menolak mentah-mentah.

Ya, sebelumnya, dia memang belum pernah di rawat di rumah sakit. Karena itulah, mendengaar kata IGD membuatnya ngeri. Ibu berkata jika dia ingin periksa ke Dokter langganannya. Dan akhrnya aku menyetujui apapun keinginannya.

Esoknya, kami benar-benar ke Dokter. Sebenarnya, Dokter hanya memeriksa tekanan darah, gula, kolesterol dan sejenisnya. Dokter lalu meresepkan obat. Dan pada saat itu, entah kenapa Ibuku berkata dengan sendirinya pada dokter terseut.

“Dok, saya ada benjolan di payudara saya, apa in berhubungan dengan sakitnya saya?”

Aku terkejut, tentu saja.

Sejak hari dimana aku dengan sok tahunya memvonis ibuku itu, kami tak pernah lagi membahas tentang benjolan itu lagi. Ibu tampak baik-baik saja, dan kupikir, obat itu bekerja dengan baik. Tapi saat ibu menanyakan hal itu secara langsung pada Dokter, aku melihat sebuah kekhawatiran di wajahnya. Ketakutan itu tampak jelas terlihat, dan bodohnya, selama ini aku tak memperhatikaan hal itu.

Dia tertekan, aku tahu itu. dia tertekan dan dia tidak memiliki orang yang bisa diajak bicara.

Aku lebih fokus dengan keluarga kecilku, aku lebih fokus dengan dunia fantasiku hingga aku tidak tahu, bahwa dia sebenarnya sangat membutuhkan dukungan dariku.

Tuhan! Aku benar-benar tak berguna!

Mendengar itu, Dokter meminta ibuku kembali berbaring, dan dia mulai memeriksa dimana letak benjolan tersebut.

“Besar ini Bu, Ibu ada Bpjs? Kalau ada langsung konsul ke rumah sakit saja Bu. Bawa surat rujukan dulu dari Faskes pertama.” Dokter menyarankan.

“Apa parah, Dok? Apa itu yang membuat ibu saya sakit sesak seperti kemarin.” Tanyaku kemudian.

“Semuanya butuh pemeriksaan lebih lanjut, Mbak. Tidak bisa langsung di diagnosis. Lebih baik langsung ke spesialis tumornya. Nanti di sana Dokternya yang akan menangani.”

Takut, tentu saja. Bahkan wajah ibukupun tampak pucat dibuatnya. Astaga…. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Pikirku saat itu.

***

20 Juli 2018

Sebenarnya, Ibu tidak ingin melakukan ini. Tapi karena sejak saat itu aku khawatir dan aku melihat dengan jelas bagaimana dia juga khawatir dengan keadaannya sendiri sampai darah tingginya kambuh, akhirnya aku memintanya periksa ke Dokter Spesialis onkologi. Tiga hari sebelumnya, kami sudah berkonsultasi, lalu tgl 20 juli ini, Ibu melakukan pemeriksaan USG Mamae seperti yang di jadwalkan.

Sejak pagi, kami di Rumah sakit. Melakukan USG lalu bertemu lagi dengan Dokternya, Dokter Muhammad Sp. B Onk sorenya untuk membaca hasil USG tersebut.

“Lumayan besar, Bu. Dan nggak hanya satu. Harus di angkat ini.” Ucap Dokter Muhammad sembari membaca hasil USG ibuku tersebut.

“Operasi, Dok?” tanyaku kemudian.

“Ya, Mbak. Harus di operasi ini.”

“Tapi itu nggak ganas kan Dok?” tanyaku lagi.

“Kalau di lihat dari ciri-cirinya dan juga dari gambar USG seharusnya ini nggak ganas. Tapi kita tidak bisa mendiagnosis hanya dari gambar. Nanti, kalau sudah di angkat, akan ada tahap Patologi anatomi, yaitu benjolan yang diangkat itu akan diteliti lagi di Lab, untuk memastikan ganas atau tidaknya.”

“Kalau jinak bagaimana? Dan kalau ganas bagaimana?” aku masih tak ingin diam.

Dokter Muhammad tersenyum. “Kalau Jinak, alhamdulillah, pengobatan slesai, tapi kalau ganas, akan ada tahapan pengobatan selanjutnya.”

Aku menatap ke arah Ibu seketika. “Ibu mau di operasi?”

“Gimana? Aku takut.” Jawabnya.

“Nggak apa-apa, Bu. Kan nanti di bius.” Dokter Muhammad menenangkan dengan begitu sabar. “Saya sendiri yang operasi Bu, insha allah baik-baik saja. Yang penting berdo’a ya Bu.”

Akhirnya, Ibuku memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Dia hanya ingin jika semua ini segera selesai dan dia tidak kepikiran lagi. Akupun demikian, aku mendukung penuh apapun arahan dari Dokter. A Ibu akhirnya mendapatkan jadwal Operasi tgl 26 Juli 2018.

***

26 Juli 2018

Jam 5 sore, Ibu masuk ruang operasi. Lama kami menunggu, sekitar Jam 7 Ibu keluar ddari ruang operasi dan diaa sudah sadar sepenuhnya. Dia menatapku dan tersenyum , matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi tampak jelas kelegaan di wajahnya.

“Gimana Bu?” tanyaku saat kami memasuki lift menuju ke ruang perawatan yang berada di lantai Tiga rumah sakit tersebut.

“Aku nggak ingat apa-apa. Dokternya mijetin aku, suruh aku baca Do’a. lalu ada dokter yang lain suruh baca Bismillah sebelum nyuntik di pangkal infusku. Lalu aku nggak ingat apapun.”

“Nggak sakit kan?” tanyaku kemudian.

“Iya, nggak sakit. Malah tadi, aku di bangunin suster. ‘Bu, bangun, Bu, bangun. Sudah selesei operasinya.’ Aku buka mataku, terus aku jawab ‘Belum’ Susternya ketawa terus bilang ‘Maksudnya, Ibu sudah selesai di Operasi, Bu.’ Abis itu aku merasa plong banget.”

Aku tertawa mendengar ceritanya. Ternyata, dia mampu melewati semuanya. Kupikir, dia akan menyerah.

Melihat Ibuku yang kondisinya sangat baik itu, membuatku semangat. Ya, dia akan sembuh aku tahu itu. tapi ternyata, mimpi burukku saat itu belum di mulai.

Esoknya. Tepatnya tanggal 27 Juli. Saat kami sedang asyik di ruang rawat Ibuku. Dokter Muhammad datang, dia memeriksa ibuku dengan sesekali bercanda di sana. Ya, Dokternya memang sangat ramah dan luar biasa. Aku bahkan merasa sangat dekat dengannya.

Saat dia keluar dari ruang inap ibuku, aku melihat dia melambaikan tangannya padaku, seakan-akan memintaku untuk menemuinya. Akhirnya, aku menuruti saja. Dan aku menemuinya di ruang perawat yang berada tepat di sebelah ruang inap ibuku.

“Ya, Dok. Ada apa?” tanyaku. Aku sedikit curiga karena saat itu, Dokter Muhammad sudah menampilkan raut wajah seriusnya. Tak ada lagi senyum terukir seperti di ruang inap ibuku tadi.

“Mbak jangan panik, Ya. Saya mau bilang ini supaya nanti mbak nggak kaget. Sepertinya ada kemungkinan ini ganas, Mbak.”

“Apa? Maksud Dokter?”

“Benjolannya tidak hanya satu, dan beruntung segera ketahuan. Ada benjolan lainnya yang kemungkinan besar ganas.”

Aku ternganga tak bisa membuka suara satu katapun.

“Kemungkinan Ibu kena Kanker Payudara. Tapi lebih pastinya kita tunggu hasil PA ya Mbak. Jangan bilang sama Ibunya dulu, kita berdoa saja semoga saya salah.”

“Kalau, kalau itu beneran ganas, bagaimana, Dok?”

“Ada pengobatan selanjutnya, biasanya kalau ukurannya besar dan sudah menyebar, kita rekomendasikan untuk kemoterapi dulu, baru pengangkatan Payudara. Tapi kalau ukurannya masih kecil, kami rekomendasikan segera di angkat saja payudara beserja jaringannya.”

“Maksudnya, Ibu saya bakal nggak punya payudara lagi?”

“Iya, Mbak, memang seperti itu prosedur pengobatan dari Kami. Tapi tentunya itu meminta persetujuan dari pasiennya. Jika pasiennya tidak ingin, Ya, kami tidak memaksa.”

“Apa nggak ada lagi pengobatan yang lain selain mengangkat payudaranya, Dok?”

Dokter Muhamman menggelengkan kepalanya. “Dari kami, prosedur pengobatannya memang seperti itu.”

Mataku berkaca-kaca seketika. Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. Aku ingin menangis, tapi Dokter bilang kalau aku tidak boleh mengatakan apapun pada Ibu atau keluargaku yang lain sebelum hasilnya benar-benar keluar.

Dengan sedikit lemas, aku kembai ke ruang inap ibuku yang di sana ternyata sudah ada beberapa saudaraku. Kalian tahu apa yang kulakukan di sana? Aku tertawa lebar dan berkata jika malam itu juga, Ibu sudah boleh pulang. Semuanya baik-baik saja, tinggal kontrol saja. Lalu entah mereka kembali membahas apa sembari saling melemparkan candaan.

Aku ikut tersenyum, ikut tertawa, tapi dalam hati, aku merasakan kekhawatiran yang amat sangat. Ketakutan seakan menghantuiku, menyelimuti diriku, padahal di sisi lain, aku harus tetap tersenyum dan menunjukkan jika semuanya baik-baik saja.

Tuhan! Kenapa ini terjadi padaku?

Samarinda 

10 oktober 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s