romantis

Bianca – Chapter 6 (Gadis Bunga)

 

Chapter 6

-Gadis Bunga-

Jason mengantar Bianca pulang saat jarum jam menunjukkan pukul Delapan malam. Sebenarnya, Jason ingin sekali masuk ke dalam rumah Bianca dan menyapa Ibu Bianca seperti tadi pagi. Tapi Bianca berkata jika tidak perlu.

“Kenapa?” tanya Jason yang saat ini sudah membuka helmnya. Ia menghentikan motornya tepat di depan pintu pagar rumah Bianca seperti yang diinginkan gadis itu. “Mama kamu baik, aku ingin menyapanya lagi. Lagi pula, nggak pantas kalau kamu pulang sendirian.” Jelas Jason.

Bukan tanpa alasan Bianca melarang Jason turun dan masuk ke dalam rumahnya. Masalahnya, ini sudah malam, yang artinya Papanya sudah pulang. Bianca tidak mau Jason bertemu dengan Papanya dengan penampilan seperti ini. Sedikit informasi, bahwa Mike, Ayah Bianca merupakan sosok yang keras, seperti Aldo, kakaknya. Bianca tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, seperti Sang Papa tidak menyukai Jason karena penampilannya, mungkin.

“Papa sudah pulang, jadi, kamu pulang saja.”

“Memangnya kenapa dengan papamu? Dia galak? Aku nggak takut.” Jason menjawab dengan serius.

Bianca tersenyum. “Aku nggak meragukan keberanianmu, tapi aku belum mau aja mengenalkanmu dengan ayahku.”

“Kenapa? Kamu malu?” tanya Jason penuh selidik.

“Apa yang harus membuatku malu? Pacarku adalah seorang superstar. Satu-satunya alasan adalah, bahwa aku nggak mau hubungan kita menjadi serius dan membosankan karena orang tuaku ikut campur didalamnya.”

“Ikut campur?” Jason mengangkat sebelah alisnya.

“Papaku orang yang sangat mengerikan.” Bisik Bianca. Dan setelah itu, ia tertawa lebar. “Sudah ah, pokoknya, cepat balik.” Lanjut Bianca.

“Oke, tapi ingat, besok malam, kita ada kencan lagi.”

“Oke.” Bianca menyetujui apa yang dikatakan Jason. Kemudian, tanpa di duga, ia menjinjitkan kakinya, dan mengecup singkat pipi Jason. “Selamat malam.” Ucapnya sembari berlari pergi memasuki gerbang rumahnya.

Jason hanya ternganga menatap kepergian Bianca. Gadis itu tampak berlari dengan ceria memasuki rumahnya. Ketika Bianca sudah menghilang di balik pintu pagar rumahnya, Jemari Jason mengusap lembut pipinya sendiri bekas kecupan Bianca di sana.

Ketika Jason sibuk dengan perasaannya sendiri, ponselnya berbunyi. Jason merogohnya dan mengangkat panggilan tersebut saat tahu siapa yang sedang meneleponnya.

“Hai, Li.” Itu Lili, sahabat lamanya yang hubungannya sempat renggang, namun kini hubungan mereka sudah kembali membaik saat kesalahpahaman diantara mereka sudah terselesaikan.

“Jase, maukah kamu menjemputku?” tanya Lili yang terdengar sedikit ragu.

Jason tersenyum “Tentu saja, dimana?” tanyanya kemudian.

“Di kafe, tempat kerjaku. Kutunggu, Jase.”

“Oke, segera meluncur kesana.” Dan setelah itu. Sambungan teleponnya diputus. Jason kembali menatap singkat ke arah rumah Bianca. Ia tersenyum sendiri sebelum kembali mengenakan helmnya dan mulai menyalakan mesin motornya. Jason melaju dari rumah Bianca dengan perasaan campur aduk.

Sial, apa ini? tanyanya dalam hati.

***

Jason menunggu di sebuah ruangan yang memang sudah disiapkan. Ruangan khusus untuk dirinya. Kafe tempat Lili bekerja memang sering mendatangkan Jason sebagai bintang tamu untuk bernyanyi di sana, bernyanyi sendiri, bukan dengan teman-teman Bandnya. Si pemiliknya memang kenal dekat dengan Jason, jadi ketika Jason datang ke tempat tersebut, Jason sudah disediakan tempat sendiri.

Saat ini, Jason sedang sibuk memeriksa ponselnya, dimana dia mendapati banyak sekali komentar di akun sosial medianya. Kadang, Jason berpikir, bagaimana jadinya ketika ia memposting sesuatu tentang wanita di akun jejaring sosialnya. Apa para fansnya akan menggila?

Saat Jason masih sibuk dengan ponselnya sendiri, pintu ruangan tersebut di buka dari luar. Jason mengangkat wajahnya dan mendapati Lili sedang masuk ke dalam ruangan tersebut.

Lili merupakan teman Jason sejak SMA, dia bekerja sebagai penyanyi sekaligus waiters di kafe tersebut. Hubungannya dengan Lili dulu sempat memburuk karena sebuah kesalah pahaman, tapi beberapa minggu terakhir, hubungan mereka sudah kembali membaik.

“Hai.” Jason berdiri seketika dan menyapa Lili dengan sedikit canggung. Masalahnya, saat Felly memutuskan hubungannya dengan Jason beberapa minggu yang lalu, Felly juga sempat mengatakan jika Lili memiliki perasaan lebih terhadap Jason. Dan hal tersebut membuat Jason canggung.

Jason sendiri tidak pernah menganggap lebih hubungannya dengan Lili. Lili adalah teman terbaiknya dulu sejak SMA, sejak dirinya belum terkenal. Dan hanya teman dekat, tidak lebih. Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin menyakiti perasaan temannya itu dan membuat hubungan mereka kembali merenggang.

“Hai, kamu datang dari tadi?” tanya Lili yang kini sudah berada tepat di hadapan Jason.

“Ya, kamu baru selesai?” Jason bertanya balik.

“Harusnya dari tadi, tapi mereka ingin aku menyanyikan sebuah lagu lagi.”

“Woww, rupanya sudah ada punya penggemar, ehh.” Godan Jason.

“Tetap saja, tidak sebanyak kamu.” Pipi Lili memerah karena godaan Jason tersebut.

Jason tertawa lebar. “Oke, oke, sekarang, ayo kuantar pulang.”

Lili mengangguk, lalu ia berkata “Terimakasih sudah mau menjemputku.”

“Kalau nggak sibuk, apapun yang kamu inginkan, akan kuturuti.” Jawab Jason sembari keluar dari kafe tersebut.

“Aku senang, kamu masih sama dengan Jason yang dulu. Padahal sekarang, karir kamu semakin menanjak.” Lili yang mengekor di belakang Jason berkomentar.

Jason tersenyum. “Karir tidak akan mempengaruhi kehidupan pribadiku. Li.” Jason menanggapi pernyataan Lili.

Pada saat bersamaan, ia sudah memakai penutup wajahnya sebelum keluar dari dalam kafe tersebut. Jason lalu menuju ke arah motornya, memakai helmnya dan memberikan Lili helm.

“Kamu habis keluar? Sama siapa?” tanya Lili kemudian.

“Ya, tadi nonton sama seseorang.”

“Pacar?” tanya Lili yang ingin Ttahu.

Jason tersenyum ia menatap ke arah Lili dan menjawab “Bukan.” Tentu saja Jason tak akan menceritakan tentang Bianca pada Lili. Lili akan sakit hati dengannya, dan ia tidak ingin hubungannya dengan Lili kembali merenggang.

“Ohh, kirain.” Ucap Lili sembari menaiki motor Jason. Keduanya berlalu dari halaman kafe tersebut meninggalkan sepasang mata yang sejak tadi mengawasi mereka.

***

Jason menatap bayangan di hadapannya. Sesekali ia menghela napas panjang, mengatur perasaannya agar ia tidak merasakan demam panggung.

“Apa kamu deg-degan?” pertanyaan Bianca membuat jason menatap ke arah bayangan wanita itu. Bianca kini memang sedang berdiri di belakangnya. Jason menatap bayangan Bianca dari cermin yang sama.

“Ya, ini sudah biasa.” Jawab Jason mencoba mengendalikan dirinya.

Saat ini, memang sudah tiba waktunya konser band The Batman. Seharusnya Jason tak perlu merasakan deg-degan lagi, karena ini bukan pertama kalinya ia melakukan konser. Hanya saja, kehadiran Bianca saat ini membuat Jason merasa bahwa ia harus membuat wanita itu terkesan nantinya.

Ini sudah lebih dari dua bulan lamanya Jason menjalin hubungan dengan Bianca. dan dalam jangka waktu tersebut, Bianca benar-benar mampu membuat dirinya melupakan sosok Felly. Setidaknya itu yang dirasakan Jason saat ini.

Bianca benar-benar memberikan dampak positif untuk Jason, Jason jadi lebih sering tersenyum dan lebih ceria ketika Bianca berada di sekitarnya. Hal itu membuat semua personel The Batman ikut senang. Troy bahkan terang-terangan memuji Bianca, bahkan temannya itu pernah berkata jika Jason nanti selesai dengan Bianca, maka Troy mau menjadi pengganti Jason untuk Bianca.

Benar-benar berengsek temannya itu.

“Kalau gitu, jangan diem gitu dong. Semangat.” Bianca memberi semangat Jason, dan yang bisa dilakukan Jason hanya tersenyum sembari mengacak poni pirang milik Bianca.

“Kamu duduk di tempat penonton lagi?” tanya Jason kemudian.

“Ya, kan aku juga beli tiket.” Bianca mempamerkan tiketnya.

“Bodoh, aku kan sudah pernah bilang, lain kali nggak usah beli. Kamu bisa duduk di tempat official.”

“Nggak asik, enakan teriak-teriak bareng sama fans-fans kamu.” Jawab Bianca dengan ceria.

Ini memang bukan pertama kalinya Bianca menonton konser Jason setelah hubungan mereka resmi menjadi sepasang kekasih Dua bulan yang lalu. Jason sudah beberapa kali melakukan konser, karena jadwal konsernya kini sedang cukup padat. Dan pada saat-saat itu, Bianca meluangkan waktunya untuk menemani Jason, dan menjadi penonton setia diantara ratusan bahkan ribuan fans-fans The Batman.

Hubungan mereka masih tersimpan dengan rapih, bahkan Bianca tidak pernah menceritakan apapun dengan orang-orang terdekatnya, termasuk Sienna.

“Jangan teriak terlalu kencang, tenggorokanmu nanti sakit.”

“Kan biar kamu bisa lihat aku.”

Jason tertawa. “Makanya, duduk saja di Official, atau di barisan depan. Maka aku bisa melihatmu dengan mudah.” Ya, karena selama ini, Jason memang tidak bisa menemukan dimana Bianca berada ketika menyanyi di atas panggung.

“Yee, berusaha mencariku, dong. Nanti aku kasih hadiah.”

“Apa?” tanya Jason penasaran.

Bianca terkikik geli, ia bangkit dan berkata. “Temukan aku, maka aku akan memberimu hadiah.” Setelah itu, Bianca pergi begitu saja dari ruang ganti Jason sembari melambaikan tangannya pada lelaki itu.

Jason hanya tersenyum melihat kepergian Bianca. pada saat bersamaan, Troy masuk ke dalam ruang gantinya. Troy sempat merasa heran dengan Jason yang tersenyum sendirian dalam ruangannya, tapi kemudian, Troy tahu, bahwa semua itu karena Bianca, karena ia baru saja mendapati Bianca keluar dari dalam ruang ganti Jason.

“Jase, elo sudah siap?”tanya Troy kemudian.

“Ya, Tentu saja.”

“Karena Bianca, ya?” pancing Troy.

“Elo apaan, sih.” Jawab Jason dengan tawa lebarnya.

“Jase, gue hanya bisa ngingetin. Jangan terlalu dalam menyukai seseorang, kalau elo nggak mau tersakiti lagi nantinya.” Ucap Troy sembari menepuk-nepuk bahu Jason.

Jason hanya mengangguk. Ia membenarkan apa yang dikatakan Troy. Ya, Jason tak akan membiarkan dirinya jatuh cinta lagi pada seorang wanita. Cukup seorang Fellysia saja yang membuatnya patah hati dan tersakiti. Tidak dengan wanita lain. Tapi Bianca? ahhh, apa yang ia rasakan pada Bianca hanya sebuah ketertarikan sekilas. Ya, hanya sebuah ketertarikan sekilas yang membantunya mendapatkan sebuah kesenangan. Tidak lebih. Pikir Jason dalam hati.

***

Konsernya berjalan dengan begitu meriah. Bahkan tempat tersebut penuh dengan para fans dari The Batman. Mungkin karena ini akhir pekan, atau mungkin karena popularitas The Batman yang semakin menanjak setiap harinya.

Bianca tak berhenti berteriak, memanggil-manggil nama Jason diantara banyak wanita yang mengidolakan lelaki itu. Kadang Bianca berpikir, rupanya, gosip jika Jason Gay tak mempengaruhi wanita-wanita di sekitarnya ini. nyatanya, mereka tetap saja mengeluh-eluhkan nama Jason dengan sesekali berteriak histeris.

Bianca tersenyum memikirkan hal itu. Kemudian ia kembali meneriakkan nama Jason agar lelaki itu dapat menemukan dirinya diantara ratusan fans The Batman. Dan betapa beruntungnya dia, pada detik itu, mata Jason menatap ke arah Bianca.

Bianca melambai-lambaikan tangannya dengan semangat. Jason tersenyum ke arahnya. Lalu Bianca mendengar Jason menyanyikan lagu ‘Pujaan Hatiku’ kali ini aransemennya dirubah menjadi lebih romantis, tidak menyakitkan seperti pertama kali ia mendengar Jason menyanyikan lagu tersebut.

Bianca melihat Jason melompat turun dari panggung. Beberapa bodyguard segera mengamankan diri Jason dari anarkisme para fans The Batman. Yang tidak dipercaya Bianca adalah, bahwa lelaki itu kini sedang berjalan menuju tempatnya berdiri.

Bianca ternganga, ia segera membungkam bibirnya sendiri ketika Jason benar-benar berada di hadpaannya. Lelaki itu masih menyanyi, sedangkan jemarinya yang lain terulur, seperti sedang mengajak Bianca untuk berjalan bersamanya.

Dengan jantung yang berdebar-debar tak karuan, Bianca menyambut uluran tangan Jason. Kemudian ia ikut berjalan disisi lelaki itu dengan diiringi teriakan histeris oleh para penggemar The Batman.

Wahai Gadis cantikku…

Pujaan hatiku…

Aku mencintaimu…

Sungguh sungguh mencintaimu…

Wahai gadis manisku…

Teman dalam candaku….

Aku mencintaimu…

Wahai pujaan hatiku….

Jason masih saja bernyanyi hingga mereka sampai di atas panggung. Bianca bahkan baru sadar jika di atas panggung sudah di siapkan sebuah kursi untuk ia duduki. Bianca akhirnya duduk di sana saat setelah Jason menyelesaikan lagunya.

“Baiklah, sepertinya sudah sangat lama aku tidak melakukan ini.” Jason berkata dengan para penggemarnya. Semua penggemar berteriak histeris setelah mendengar ucapan Jason.

Bianca sendiri masih tak mengerti apa yang akan dilakukan Jason padanya di depan umum. Lalu lelaki itu tampak sedang memanggil seseorang. Dan benar saja, ada seorang panitia konser tersebut yang datang memberikan Jason seikat bunga.

“Malam ini, dia akan menjadi gadis bungaku.” Jason berkata dengan lembut sembari memberikan bunga tersebut pada Bianca. Mata Jason bahkan menatap Bianca dengan begitu intens. Oh, Bianca merasa jika jantungnya akan meledak saat itu juga.

Mengesampingkan dadanya yang terasa nyeri karena debaran jantungnya yang memukul-mukul begitu keras, Bianca menerima bunga tersebut. Jason kembali bernyanyi, kali ini tanpa diiringi dengan musik yang pelan namun terdengar begitu romantis, bernyanyi mengitari kursi yang di duduki Bianca. Lalu lelaki itu menunjuk pipinya sendiri, seakan ingin jika Bianca mendaratkan kecupan lembut di sana.

Bianca menggelengkan kepalanya. Pipinya memerah seperti tomat. Ia tak pernah diperlakukan begitu manis seperti ini, apalagi di depan umum.

Masih dengan bernyanyi, Jason meraih telapak tangan Bianca. ia mendaratkan telapak tangan Bianca pada dadanya. Seakan menunjukkan pada Bianca jika jantung lelaki itu kini sedang berdebar menggila. Bianca yang merasakannya segera mematung, matanya menatap tepat pada mata Jason.

Jason lalu membawa jemari Bianca pada pipinya, seakan meminta Bianca untuk menyentuh pipinya. Sesekali lelaki itu mengangguk, mengisyaratkan agar Bianca menuruti apa maunya.

Dengan setengah melamun karena terbawa suasana, Bianca mendekatkan wajahnya ia memejamkan matanya dan bersiap mengecup lembut pipi Jason. Tapi kemudian, Bianca tersentak, ketika tiba-tiba Jason menghentikan nyanyiannya, menangkup kedua pipinya kemudian menautkan bibirnya pada bibir Bianca.

Mata Bianca terbuka seketika, membulat karena tak percaya jika dirinya akan di cumbu dihadapan banyak orang. Teriakan para fans The Batman tidak menghentikan keduanya saling mencumbu mesra satu sama lain.

Astaga, apa yang sudah terjadi? Pikir Bianca dalam hati.

***

Di sisi lain…

“Apa-apaan itu? Sialan!” Aldo bersiap maju meninggalkan tempat duduknya.

Saat ini, Aldo memang sedang menemani Sienna, istrinya, menonton konser yang baginya tidak masuk akal. Aldo memang bukan tipe orang yang suka hal-hal seperti ini. bahkan Aldo kerap kali melarang Sienna untuk menonton konser-konser seperti ini. Tapi hari ini, ia menuruti kemauan Sienna karena istrinya itu berkata jika sedang mengidam ingin menonton konser The Batman.

Dan kini, saat ia menuruti permintaan tersebut, sebuah fakta menggelikan ia dapatkan. Sang adik, Bianca, kini sedang berada di atas panggung, dan dengan begitu berengseknya si Jason mencium adiknya itu di hadapan banyak orang.

Apa-apaan lelaki itu? Bukankah itu sebuah pelecehan? Aldo tak akan membiarkannya. Sejak dulu Aldo tidak pernah suka dengan sosok Jason, dengan penampilan lelaki itu yang sudah seperti berandalan.

Dan sampai kapanpun, Aldo tidak akan pernah menyukainya!

-TBC-

Next, Part 7 di cerita Bianca adalah ‘First Night with Bee’ hayookkkkkk mikir apa.. hahahhahaa selamat menunggu yaaa…

2 thoughts on “Bianca – Chapter 6 (Gadis Bunga)”

  1. Gila berani sekali itu jase ngekiss bianca d atas panggung …
    waduhhhhh ka aldo ternyata ikut nnton pemirsah , kek na seru kalo aldo nyamperin jase dan mukul tepat d muka na 😂😂😂😂😂

    Betewe lily itu adek na raka kan , yng mo d bikin cerita na juga ma ibu ?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s