romantis

Bianca – Chapter 5 (My Muse)

 

Chapter 5

-My Muse-

Sampai di studio musik tempat Jason latihan. Bianca di sambut hangat oleh teman-teman Jason. Ada Troy, yang memegang Drumer The Batman. Jiro yang memegang Bass, dan juga Kenzo yang memegang Gitar. Ketiganya berdandan seperti Jason. Tapi yang membuat Bianca senang adalah sikap ketiganya yang hangat menyambutnya.

Apalagi ketika Jason dengan terang-terangan menyebut bahwa Bianca adalah kekasihnya. Ketiganya bersorak bahagia sesekali menggoda Jason.

“Jadi, Jase, lo bener-bener punya pacar sekarang?” Troy bertanya sekali lagi untuk meyakinkan jika telinganya tidak salah dengar saat Jason mengumumkan hubungannya dengan Bianca tadi.

“Ya, kenapa Troy? Elo juga pengen punya cewek?” Jason bertanya balik.

Semua yang ada di dalam ruangan tersebut tertawa lebar. “Bung, pacar? Sial! kata itu nggak ada dalam kamus gue.” Jawab Troy sembari tertawa lebar.

“Kenapa?” Bianca bertanya dengan spontan.

“Bee, dia Gay.” Jiro menjawab cepat.

“Berengsek Lo!” Troy mengumpat hingga membuat yang ada di dalam studio tersebut kembali tertawa.

“Udah, udah, mending kita latihan. Konser selanjutnya sudah semakin dekat.” Jason menengahi. Akhirnya mereka menuju ke posisi masing-masing, sedangkan Bianca, ia memposisikan dirinya duduk senyaman mungkin di sebuah sofa panjang yang memang tersedia di ujung ruangan.

Sambil bersantai, ia menikmati pertunjukan Jason dan teman-temannya. Bianca suka saat mendengar suara lelaki itu. Bianca suka saat melihat aksi panggungnya, dan astaga, Bianca menyukai semua yang ada pada lelaki itu.

Bagaimana ini?

***

Tiba saatnya makan siang.

Bianca sempat berpikir jika mereka akan makan siang di sebuah restoran mewah atau mungkin di tempat seru lainnya. Mengingat mereka masih muda dan mereka sudah mencapai kesuksesannya jadi mereka bisa melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan.

Tapi ternyata, mereka hanya memesan makanan cepat saji yang akan dimakan di studio tersebut. Tak ada yang special, hingga membuat Bianca bertanya-tanya, beginikah kehidupan sang Superstar?

“Kenapa nggak dimakan? Kamu nggak suka?” tanya Jason yang saat ini duduk di hadapan Bianca sembari menikmati makanannya.

“Enggak, aku hanya ingin bertanya, apa kalian melakukan ini setiap hari?” Bianca bertanya balik.

“Apa? Latihan?”

“Ya, latihan dan makan-makan seperti ini.”

“Ya, kami melakukannya setiap hari, kecuali saat konser dan hari minggu tiba.” Jason meminum minuman bersoda di hadapannya. “Kenapa?” tanyanya kemudian.

“Enggak, aku heran saja sama kalian. Kalian keren, punya banyak uang, pastinya. Tapi kalian memilih menghabiskan waktu kalian di dalam Studio ini setiap hari. Apa kalian nggak bosan?”

Jason menghela napas panjang. “Bosan pastinya. Tapi ini konsekuensi yang harus kami terima saat kami sudah terkenal.”

“Maksudnya?”

“Bee, ketika kami keluar, kami seakan tidak memiliki privasi lagi. Orang-orang –terutama remaja, akan dengan mudah mengenali kami, mengajak kami berfoto bersama, memeluk, mencium, bahkan ada yang terang-terangan minta ditiduri.”

Bianca membungkam bibirnya seketika. “Kamu yakin sampai segitunya?”

“Ya, kalau itu Troy, dia bisa menerima dengan senang hati, tapi tidak denganku atau yang lainnya.”

“Sialan, Lo!” Troy yang berada di seberang ruangan mendengar dan segera mengumpat pada Jason.

Jason tertawa. “Itu harga yang harus kami bayar utuk menjadi seorang superstar, Bee. Kehidupan kami seperti tidak memiliki privasi. Lalu, kami juga memiliki peraturan yang diatur oleh pihak management kami. Seperti, tidak boleh menikah, memiliki pacar, atau beberapa peraturan gila lainnya.”

“Jadi, kalian semua selama ini menjomblo?” Bianca bertanya denga raut wajah tak percayanya.

“Enggak semuanya. Ken punya pacar kok, tapi pacarnya nggak boleh keluar di publik. Itupun yang terjadi denganmu nanti.”

Oke, sekarang Bianca baru mengerti, kenapa Jason tidak ingin hubungan mereka kedepannya tercium oleh publik, dan kenapa lelaki itu sampai digosipkan Gay, karena ternyata managemen mereka memang melarang untuk mempublikasikan hubungan pribadi pada personelnya.

“Tapi, tadi pagi kamu keluar menjemputku.”

“Nggak akan ada yang tahu, aku pakai helm dan menutup hampir seluruh wajahku. Siapa yang tahu kalau itu Jason Vokalis The Batman.”

Bianca mengangguk setuju. Rupanya kehidupan Jason dan teman-temannya cukup menyedihkan. Bahkan bisa dibilang membosankan karena harus mengikuti peraturan management mereka layaknya anak yang masih sekolah yang harus disiplin dengan peraturan sekolah.

Tiba-tiba, Jason menggenggam jemari Bianca, hingga membuat Bianca sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Jason terhadapnya.

“Oleh karena itu, aku memilihmu. Kupikir, kamu berbeda dengan sosok gadis kebanyakan. Aku nggak mau menghabiskan hariku dengan begitu membosankan. Aku harap kamu mampu memberi warna tersendiri untukku, dan bisa menginspirasiku untuk menciptakan lagu-lagu baru.”

Woowww menginspirasi? Bianca benar-benar merasa terhormat dengan hal tersebut.

“Jase, itu terdengar keren. Menginspirasimu, ya?” Bianca menanggapi dengan sedikit bodoh. “Lalu, siapa selama ini yang sudah menginspirasimu membuat lagu-lagu keren itu?”

Tubuh Jason menegang. Ia sedang tidak ingin membahas tentang hubungan asmaranya yang sial, apalagi dengan Bianca.

“Aku suka banget saat dengerin kamu nyanyi lagu apa itu, ‘Pujaan hatiku’ ya?” tanya Bianca pada Jason untuk meyakinkan dirinya sendiri.

‘Pujaan Hatiku’, adalah judul lagu Jason yang memiliki irama melankolis. Cukup berbeda dengan lagu-lagu The Batman lainnya yang kebanyakan iramanya ngeRock. Lagu tersebut merupakan ciptaan Jason sendiri yang saat itu sengaja ia ciptakan untuk seseorang. Siapa lagi jika bukan Felly.

“Kenapa kamu suka dengan lagu itu?” Jason bertanya tanpa ekspresi. Jika boleh jujur, saat ini Jason tidak ingin lagi menyanyikan lagu tersebut. Ia ingin mengubur kenyataan bahwa Felly merupakan Sang Pujaan Hatinya.

“Nggak tahu, rasanya aku pengen ikutan nangis saat lihat dan dengar kamu nyanyi lagu itu.”

Jason menanggapi ucapan Bianca dengan sebuah anggukan. Lagu tersebut memang cukup Booming diantara lagu The Batman yang lain. Jika dicermati, nada dan liriknya cukup menyayat hati. Menunjukkan kesakitan yang teramat dalam oleh seseorang yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan.

“Apa itu lagu ciptaanmu?” tanya Bianca tiba-tiba.

“Ya, kenapa? Menggelikan, ya?”

“Menggelikan? Ayolah. Itu adalah salah satu lagu kesukaanku. Maksudku, selama ini aku suka lagu-lagu bernada Rock, keras, dan sejenisnya. Tapi lagu itu terdengar sangat lembut ditelingaku. Aku seperti sedang merasakan apa yang kamu nyanyikan saat itu.” Komentar Bianca panjang lebar. “Kalau itu benar-benar ciptaanmu, berarti ada seseorang yang menginspirasimu menciptakan lagu tersebut. Benar bukan?”

Jason tak ingin membahasnya. Sungguh.

Muse, biasanya kami memanggilanya dengan sebutan Muse.”

“Apa itu?” Bianca sedikit bingung.

Muse adalah sebutan untuk seseorang atau sesuatu yang menjadi sumber inspirasi untuk pekerja seni. Dalam hal ini, aku sebagai pencipta lagu.”

“Wooow, jadi, kamu sudah memiliki seorang Muse? Siapa dia? Apa dia mantan pacarmu dulu?” tanya Bianca yang tampak begitu antusias dengan apa yang akan diceritakan oleh Jason.

Muse tidak harus menjadi seorang pacar atau kekasih. Muse bisa jadi siapa saja. Orang tua, saudara, guru, atau bahkan seseorang yang kamu lihat dijalanan.”

“Lalu, siapa Muse kamu ketika kamu menciptakan lagu ‘Pujaan hatiku’?” tanya Bianca sekali lagi. Ia tidak ingin mengalah. Ia ingin mengenal lelaki di hadapannya ini sedalam yang ia bisa. Karena entah kenapa, Bianca merasakan, ketika ia mengenal Jason lebih dalam lagi, maka ia seperti sedang menyelami sebuah dunia baru yang lebih menantang ketimbang dunianya yang selama ini cukup membosankan.

Jason meringis perih, ia menatap makan siang di hadapannya dengan tak berselera. “Hanya seorang teman biasa.” Jawabnya pendek.

Dengan ceria, Bianca menopang dagunya dengan sebelah tangannya lalu menatap Jason dengan tatapan menyelidik. “Teman biasa, ya? Teman biasa yang kamu cinta?” goda Bianca.

“Lupakan. Lebih baik cepat habiskan makan siangmu.” Pungkas Jason dengan wajah yang sudah ditekuk. Ia tidak suka ketika seseorang mengorek masa lalunya yang begitu menyedihkan. masa yang seharusnya segera ia lupakan.

Sedangkan Bianca, ia tertawa melihat keketusan Jason. Bianca semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Jason. Jason sedikit menampilkan sisi rapuhnya. Bianca yakin jika lagu tersebut sangat berarti untuk Jason. Begitupun seseorang yang menginspirasinya. Meski begitu, Bianca menghormati keputusan Jason untuk tidak bercerita padanya. Bagaimanapun juga, ia hanya seorang kekasih baru, atau lebih tepatnya teman dekat baru Jason. Ia tidak akan memaksa Jason atau menuntut lebih dari lelaki itu.

***

“Bee, apa kamu tahu? Ini gila.” Jason berkomentar.

Saat ini Jason sedang berada di sebuah gedung bioskop dengan Bianca di sebelahnya. Bianca malah asyik menikmati minuman yang baru saja ia beli. Sedangkan Jason, ia sedikit khawatir jika ada yang mengenalinya nanti.

Ya, setelah menjadi terkenal dan dipuja-puja banyak gadis di negeri ini, Privasi Jason dan teman-temannya menjadi suatu yang mahal untuknya. Jason sangat jarang sekali pergi ke tempat-tempat ramai seperti ini. jika itu tidak penting. Dan kini, Bianca mengajaknya ke tempat seperti ini hanya dengan sebuah topi dan juga kumis palsu. Semoga saja tak ada yang mengenalinya.

“Ayolah, Jase. Nggak akan ada yang mengenalimu. Mereka ke gedung ini untuk menonton film, bukan untuk menonton konsermu. Mungkin aku sedikit kasar, tapi meskipun kamu amat sangat terkenal, ada beberapa orang yang mungkin saja tidak peduli atau bahkan tidak mengenalimu. Contohnya, aku.”

“Kamu yakin?”

“Ya, aku tidak tahu siapa kamu atau The Batman sebelum kakak ipar manjaku itu menyeretku dengan paska ke konser kalian saat itu.”

“Ohh, jadi sebenarnya, kamu ini fans dadakan, Ya?” tanya Jason sembari menatap Bianca dengan wajah datarnya.

“Hahhaha mungkin bisa dibilang, Fans karbitan.” Bianca membenarkan ucapan Jason sembari tertawa lebar. “Ayo masuk, filmnya sudah mau mulai.” Ucap Bianca yang kini sudah mengapit lengan Jason dan menyeret Jason masuk ke dalam sebuah ruangan dimana film yang akan mereka tonton akan diputar.

Dengan spontan Jason menatap Bianca. Gadis ceria, dan etah kenapa ia suka. Jason tidak memungkiri jika sejak tadi, Bianca mampu membuatnya tersenyum dan terhibur. Setidaknya, ia bisa melupakan masalahnya, ia bisa mengabaikan sakit karena patah hati. Dan Jason membutuhkan hal ini untuk bertahan.

Mereka duduk deretan tengah. Bianca masih setia mengapit sebelah lengan Jason, seakan mereka adalah sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara. Sedangkan Jason sendiri, sesekali ia menatap ke arah Bianca dengan sedikit gugup.

Apa yang membuatnya gugup? Bahkan Bianca tampak santai dan biasa-biasa saja.

“Bee, apa kamu sering melakukan ini?” tanya Jason kemudian. Ya, Jason sempat berpikir, jika mungkin saja Bianca memang sering melakukan hal ini, berhubungan dengan lelaki tanpa menggunakan perasaannya hingga Bianca selalu tampak santai dan biasa-biasa saja seperti ini.

“Melakukan apa?” tanya Bianca dengan sedikit bingung.

“Hubungan tanpa perasaan. Kupikir, kamu tampak menikmatinya.”

Bianca tersenyum. “Jase, kalau boleh jujur, kamu adalah pria pertama yang menjadi kekasihku.”

“Apa? Nggak mungkin.” Ya, jika ia pria pertama, maka seharusnya Bianca menampilkan sikap malu-malu kucingnya. Bukan malah tampak biasa-biasa saja seperti sering melakukannya.

“Ya, kamu adalah pria pertamaku. Aku nggak perlu menjelaskannya padamu. Lagipula itu nggak penting.”

“Tapi kamu tampak santai dan seperti sudah pernah melakukan ini sebelumnya.” Jason masih menatap Bianca dengan raut wajah herannya. “Kamu benar-benar berbeda dengan gadis kebanyakan, Bee. Dan aku suka.”

Bianca tersenyum “Jadi, sekarang, kamu mulai menggunakan perasaanmu, ya?” goda Bianca.

“Jika itu bisa membuatku lebih baik, maka aku akan melakukannya, Bee.”

“Oke, kalau begitu, kita sudah sepakat.”

“Sepakat apa?” tanya Jason bingung.

“Kalau kita akan menyukai satu sama lain. Boleh, kan?”

Kali ini Jason yang tersenyum. “Ya, tentu saja.” Jason lalu menggenggam erat jemari Bianca, ia mengecupnya singkat dan berkata. “Bee, aku ingin menjadikanmu sebagai Museku.”

Bianca ternganga dengan ucapan Jason. Senang? Tentu saja. Ia tidak menyangka jika Jason akan secepat ini menjadikannya sebagai seorang Muse, seorang yang akan menginspirasi lelaki itu untuk menciptakan lagu-lagu baru. Tapi, bisakah ia melakukannya? Mampukah ia membuat Jason menciptakan lagu-lagu yang lebih bagus lagi dari sebelumnya?

***

Pujaan hatiku – The Batman

Kisah yang dulu pernah ada…

Bukan sebuah kisah cinta…

Namun aku bahagia…

Memiliki sebuah rasa untuknya…

Rasa ini sungguh suci…

Terpatri didalam hati…

Meski gadisku selalu memungkiri…

Apa yang tlah kurasakan selama ini..

Wahai Gadis cantikku…

Pujaan hatiku…

Aku mencintaimu…

Sungguh sungguh mencintaimu…

Wahai gadis manisku…

Teman dalam candaku….

Aku mencintaimu…

Wahai pujaan hatiku….

-TBC-

2 thoughts on “Bianca – Chapter 5 (My Muse)”

  1. Itu lagu na beneran ada ?
    siapa yng nyanyi ?
    Bearti jase ga tau yaa kalo bianca sepupu na felly dan asem ipar na seina ?
    dan bianca juga ga tau kalo jase mantan na felly .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s