romantis

Bianca – Chapter 4 (Seorang Pelarian)

 

Haiii haiii haiiiii…. kali ini aku  bakal ingetin kalian tentang Bee dan Jase dalam cerita Bianca. hayooo merapat merapat…. yang lupa bica cek link di bawah ini yaa

Prolog Bianca

Bianca Chapter 1 

Bianca Chapter 2

Bianca Chapter 3

Nahhh, Chapter2 di atas sebenarnya versi lama sih, sedngkan Bianca yang saat ini aku tulis adalah Bianca versi baru, tapi gak banyak juga yang berubah, hanya sebagin kecilnya aja. jadi kalo gak sinkorn yaa mohon dimaklumin yaa karena aku belom edit Chapter2 di atas di blog ini hehhehehe udah, langsung aja, happy reading… Btw sedikit info, kalo saat ini aku sedang cinta2nya ama Jason, jadi cerita ini aku kebut nihh hahahhaha enjoy reading yaa.. muaacchhhh

 

Chapter 4

-Seorang Pelarian-

Bianca masih duduk di sebuah kursi di ujung ruang apartemen milik Jason. Sedangkan Jason sendiri, sejak tadi belum keluar dari dalam sebuah ruangan yang diyakini Bianca sebagai ruang ganti baju.

Di hadapan Bianca, terdapat segelas anggur. Jason sendirilah tadi yang tadi memberikannya pada Bianca sebelum dia masuk kembali untuk mengganti pakaiannya. Bianca hanya mengamati anggur tersebut, mengangkat gelasnya, lalu menghirup aromanya.

Pada saat bersamaan, Jason keluar dari dalam ruang gantinya. Ia tersenyum melihat tingkah aneh Bianca yang tampak polos di matanya.

“Itu anggur dari Paris.” Mendengar suara Jason, Bianca segera meletakkan anggur tersebut pada tempat semula. “Di produksi dan di datangkan langsung dari sana. Kamu mau mencobanya?” tanya Jason sembari mendekat ke arah Bianca.

Bianca hanya menggelengkan kepalanya. Ia sempat melihat bagaimana kerennya Jason saat ini. lelaki itu mengenakan kaus tanpa lengan, yang dipadukan dengan celana jeans pendek dengan beberapa robekan di bagian pahannya.

Astaga, kenapa lelaki ini tak pernah terlihat jelek?

“Kenapa?” tanya Jason yang saat ini sudah mengambil sebuah gelas, lalu menuangkan anggur ke dalam gelasnya.

“Aku nggak biasa minum-minuman seperti itu.”

“Lalu, apa yang biasa kamu minum?” tanya Jason yang kini sudah mendekat dan duduk tepat di sebelah Bianca. Jason menggoyang-goyangkan gelas anggurnya, menghirupnya sebentar sebelum menyesap isinya.

“Jus, ice cream, teh, dan sejenisnya.” Bianca menjawab tanpa ragu sedikitpun.

Jason tertawa melihat kepolosan Bianca yang tampak tak biasa.

“Ada yang lucu?” tanya Bianca kemudian.

“Kamu, sangat lucu.” Jason kembali menyesap anggurnya, lalu ia mengangkat gelas Bianca kemudian memberikannya pada Bianca. “Cobalah, kamu pasti suka.”

Bianca menerima gelas berisikan anggur pemberian Jason. Ia meminum begitu saja anggur tersebut hingga tandas. Bianca mengernyit karena kurang suka dengan rasanya, dan hal tersebut membuat Jason kembali tertawa.

“Hei, bukan begitu. Kamu nggak akan bisa menikmati sensasinya. Ikuti aku, seperti ini.” Jason menuang kembali anggur ke dalam gelas Bianca. Lalu mengajari Bianca cara meminum anggur yang benar.

“Begini, goyangkan sebentar.”

“Kenapa harus di goyangkan?”

“Supaya lemas.” Jawab Jason asal. Bianca mengerutkan keningnya, dan hal tersebut kembali membuat Jason tertawa lebar. “Untuk meningkatkan intensitas aromanya.” Jawab Jason lagi.

Bianca mendengus sebal. Rupanya, Jason juga tipe orang yang suka bercanda.

“Hirup aromanya.” Lanjut Jason. “Kamu bisa merasakan aromanya.”

Bianca mengendusnya. “Kupikir sama saja, aromanya agak aneh, begitupun dengan rasanya.” Bianca kembali meminum anggur tersebut, dan ia kembali mengerutkan keningnya saat tak suka dengan rasa minuman yang baru saja ia minum.

Jason kembali tertawa. “Oke, sepertinya kamu nggak cocok minum anggur.”

“Ya, memang. Aku lebih suka meminum jus atau minuman manis lainnya.” Bianca menaruh sembarangan gelas kosongnya pada meja Jason. “Jadi, apa yang membuatmu mengundangku ke apartemenmu yang mewah ini?” tanya Bianca secara langsung.

Sebenarnya, Bianca cukup terintimidasi dengan keberadaan Jason di sekitarnya, tapi ia tak mau kalah apalagi sampai salah tingkah.

“Jadi, aku mau memberikan sebuah penawaran untukmu.” Ucap Jason sembari menaruh gelasnya pada meja di hadapan mereka. Jason mencondongkan tubuhnya ke arah Bianca, “Kamu mau tahu apa penawaranku?” tanyanya kemudian.

“Ya, memangnya apa?”

“Bee, kupikir, kamu adalah kandidat yang tepat untuk menjadi kekasihku.”

Mata Bianca membulat seketika. Apa ia salah dengar? Apa ia sedang dipermainkan oleh lelaki ini? kenapa tiba-tiba lelaki ini ingin menjadikannya sebagai seorang kekasih?

“Kamu bercanda?” tanya Bianca masih dengan raut wajah tak percayanya.

“Memangnya kenapa? Kamu nggak mau?” Jason bertanya balik.

“Bukannya gitu, kita kan baru saja ketemu, bahkan aku belum seberapa mengenalmu.”

“Kamu bisa mencari informasi tentangku di akun-akun gosip di sosial media, di koran, majalah maupun di acara gosip di televisi. Kamu akan menemukan dan mengenal, siapa aku.”

“Aku sudah melakukannya. Tapi sepertinya, kamu sosok yang cukup misterius untuk mereka. Dan, hanya gosip kalau kamu Gay saja yang kudapatkan.”

Jason tertawa lebar. Ia bahkan bertepuk tangan dan berkata “Wooww, rupanya kamu sudah mencari tahu semua tentangku, ya?” tanyanya dengan nada menyindir. “Lalu, apa kamu percaya dengan kabar itu?”

“Sedikit.” Jawab Bianca sembari menyunggingkan senyumannya. “Tapi kupikir, tidak ada seorang Gay yang memiliki penampilan panas menggoda sepertimu.” Bianca terkikik geli.

Sedangkan Jason menanggapinya dengan tertawa lebar. “Jadi, bagaimana dengan tawaranku? Kamu mau jadi kekasihku?”

Bianca berpikir sebentar. Sebenarnya ia mau, sangat mau malah. Tapi ia juga berpikir, jika ia menerima tawaran Jason begitu saja, maka ia terlihat seperti perempuan murahan. Tapi tawaran tersebut cukup menggiurkan. Masalahnya, Jason bukanlah lelaki biasa, dia adalah vokalis papan atas yang dipuja hampir seluruh wanita di negeri ini. kapan lagi ia mendapatkan tawaran seperti itu?

“Oke, aku menerimanya.” Dengan spontan Bianca menjawab. Bianca bahkan tidak mempedulikan alasan Jason yang tiba-tiba mengajaknya menjalin kasih.

“Kamu yakin, Bee?” tanya Jason sekali lagi.

“Ya, kapan lagi menerima tawaran emas seperti ini? diajak menjalin kasih oleh laki-laki populer di negeri ini. Jika aku menolaknya, maka aku menjadi wanita terbodoh yang pernah ada.”

“Kamu, nggak mikirin perasaanmu? Biasanya, kebanyakan wanita sangat rumit. Mereka banyak menuntut dan sibuk memikirkan perasaannya sendiri.”

“Bung, aku bukan wanita membosankan seperti itu. Lagi pula kupikir sepertinya cukup keren kalau aku mengingat bahwa aku akan menjadi kekasih lelaki terpanas di negeri ini.”

Jason tersenyum. “Begitukah gambaranmu tentang diriku?”

“Ya. Gambaran semua gadis-gadis di negeri ini, lebih tepatnya.”

“Hahahha, kupikir mereka termakan dengan gosip murahan itu. Oke.” Jason menegakkan tubuhnya. “Jadi, mari kita mulai peraturannya.”

“Peraturan?” Bianca mengerutkan keningnya.

“Ya, sedikit peraturan agar hubungan kita tidak membosankan seperti hubungan kebanyakan.”

Bianca mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak mengerti apa yang di maksud Jason. Tapi ia tidak bisa mundur. Bianca sudah mengambil keputusan. Dan ia akan maju terus apa pun yang terjadi.

***

Di dalam mobil, Bianca masih memikirkan apa saja yang dikatakan Jason padanya tadi. Peraturan tentang hubungan mereka kedepannya. Sebenarnya tak banyak, Jason hanya tidak ingin hubungan mereka diketahui publik. Publik, atau wartawan tak boleh tahu tetang siapa Bianca sebenarnya, dan sepertinya itu tidaklah sulit untuk Bianca.

Hanya saja, Bianca masih bingung, kenapa tiba-tiba Jason mengajaknya berkencan? Kenapa lelaki itu memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya? Apa ada yang jason sembunyikan?

Seharusnya, Bianca tak perlu memikirkan semua itu. Toh, ia hanya suka dengan Jason, tak lebih. Hanya suka karena Jason keren dan populer. Bukan cinta seperti wanita lembek pada umumnya. Jadi, Bianca berpikir, itu tidaklah sulit, jika suatu saat hubungan mereka berakhir.

Bianca mendengus sebal. Sebenarnya, ia ingin sekali mempamerkan hubungannya dengan Sienna, atau mungkin dengan Felly. Pasti mereka tidak menyangka kalau ia benar-benar akan menjalin hubungan dengan Jason. Tapi, ia teringat janjinya tadi dengan Jason, bahwa hubungan mereka harus dirahasiakan di depan publik.

Ada rasa tertantang dari dalam diri Bianca, tapi di sisi lain, ia juga merasa kesal karena tak dapat menunjukkan bahwa ia bisa mendapatkan lelaki yang lebih panas ketimbang suami dari Sienna dan Felly.

Saat Bianca sibuk dengan pikirannya sendiri, ponselnya berbunyi. Bianca segera mengangkatnya ketika melihat nama Sang Pemanggil adalah Jason.

“Hai, ada apa?” sapanya.

“Sudah sampai rumah?” tanya Jason kemudian.

“Belum, masih di jalan, tadi aku mampir ke supermarket sebentar.”

“Oh, aku cuma mau ngingetin, kalau besok, kencan kita sudah dimulai.”

“Oh ya? Jadi, kita akan mulai dari mana?” tanya Bianca menantang.

“Kamu bisa datang ke studio musikku, aku akan mengenalkanmu dengan teman-teman Band ku.”

Bianca membungkam bibirnya sendiri agar ia tidak berteriak histeris. Sungguh, satu orang rocker macam Jason saja bisa membuatnya kepanasan, bagaimana jika ia dikenalkan oleh semua personel The Batman? Bisa-bisa Bianca tak dapat menjernihkan pikirannya dari hal-hal yang tidak-tidak.

“Bee, kamu masih di sana?” tanya Jason karena ia tidak mendengar tanggapan Bianca.

“Ya, aku masih di sini.”

“Kamu, mau kan ke studio musik untuk nemanin aku latihan?”

“Ya, tentu saja.” Jawab Bianca dengan penuh percaya diri.

“Oke, kalau gitu, sampai jumpa.” Ucap Jason yang kemudian memutus sambungan teleponnya begitu saja.

Bianca hanya menatap ponselnya, kurang suka dengan sikap Jason yang tak berbasa-basi padanya. Tapi di sisi lain, ia tetap senang, karena mulai besok, statusnya sebagai kekasih Sang Rocker akan segera di mulai. Apakah akan menyenangkan?

***

Besok siangnya…

Jason benar-benar menjemputnya.

Sebenarnya, tadi pagi, Jason sempat menguhubungi Bianca dan berkata jika akan menjemput wanita itu. Tapi Bianca sempat berpikir jika mungkin saja Jason menyuruh seseorang untuk menjemput Bianca. Tapi rupanya, lelaki itu benar-benar menjemputnya sendiri. Bahkan Jason menjemput Bianca langsung ke rumahnya seperti saat ini.

“Jadi, kamu benar-benar menjalin hubungan dengan lelaki itu?” Hana, Ibu dari Bianca bertanya sekali lagi pada Bianca ketika Bianca sibuk menyiapkan diri di dalam kamarnya.

“Kenapa Ma? Ganteng ya? Keren ya? Panas ya?” Bianca malah menggoda ibunya.

“Bee, Mama serius. Dia tampak seperti seorang berandal. Pakaiannya robek-robek, gaya rambutnya seperti anak Punk, belum lagi anting dan Tattonya. Untung saja Papa kamu nggak ada di rumah. Kalau dia lihat kamu di jemput cowok kayak gitu, mungkin dia akan di usir sebelum masuk rumah kita.”

“Ma, jangan nilai seseorang dari penampilannya, Ya. Asal Mama tahu, Jason itu penyanyi papan atas negeri ini loh.”

“Mama nggak peduli, mama cuma nggak suka sama penampilannya, dan kebanyakan orang yang berpenampilan seperti itu, pergaulannya sangat bebas. Mama khawatir-“

“Ma, Please. Bianca bisa jaga diri. Lagian, kami cuma teman kok.” Bianca meyakinkan Sang Mama. Ia tentu tidak ingin mamanya khawatir terhadapnya.

Hana menghela napas panjang. “Ya sudah, cepat keluar, dia nunggu kamu.”

Bianca kembali membetulkan riasanya, lalu meraih tas mungilnya sebelum kemudian ia mengecup lembut pipi Sang Mama dan berkata “Aku pergi dulu, Ma. Ingat, jangan bilang siapa-siapa tentang dia.” Pesannya sebelum ia berlari keluar dari dalam kamarnya.

Hana hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan puteri bungsunya tersebut. Semoga saja apa yang dikatakan Bianca benar, bahwa pria yang sedang menunggu puterinya tersebut merupakan pria baik.

***

Bianca sangat senang. Pasalnya, ini adalah pertama kalinya ia dibonceng dengan sepeda motor besar dan si pengemudinya adalah seorang Rocker. Penampilan Jason siang ini benar-benar keren. Setidaknya, itu bagi Bianca. Mungkin bagi mamanya tadi, Jason tampak mengerikan seperti seorang berandalan, tapi bagi Bianca, lelaki ini sangat keren.

Suara bising motor Jason membuat Bianca ingin berteriak bahagia. Gaya mengemudi Jason yang sedikit ugal-ugalan bukan membuat Bianca takut, tapi malah menantang adrenalin di dalam diri Bianca hingga membuat Bianca merasakan sensasi yang berbeda.

Bianca merasa bebas, Ia suka seperti ini, ia suka dengan gaya hidup Jason, gaya berpakaian lelaki itu, gaya mengemudinya, dan astaga, Bianca menyukai semua yang ada dalam diri lelaki itu.

“Kamu suka?” Jason sedikit meneriakkan pertanyaannya agar Bianca mampu mendengar pertanyaan tersebut.

“Ya, aku suka.”

“Suka apa?” Jason bertanya lagi.

“Nggak tahu, memangnya, kamu tadi tanya apa?” Bianca bertanya balik.

“Asal tanya aja.” Jawab Jason pendek sembari terkikik geli.

Bianca ikut terkikik dengan kekonyolan mereka. Lalu ia berkata “Jase, Kamu keren siang ini. aku menyukainya.”

Jika Jason tadi tertawa lebar dengan kekonyolan mereka, maka setelah mendengar kalimat sederhana Bianca tersebut, tawa Jason lenyap seketika. Ada sebuah rasa di dalam dirinya yang berpikir jika apa yang ia lakukan saat ini adalah salah.

Menjadikan seorang gadis ceria ini sebagai pelariannya adalah hal yang salah. Meski Jason yakin, jika Bianca bukanlah gadis lembek pada umumnya, tapi Jason takut, jika suatu saat nanti ia mampu membuat Bianca benar-benar jatuh hati padanya lalu berubah menjadi gadis melankolis seperti kebanyakan gadis yang sedang jatuh hati. Jason tak ingin sampai mematahkan hati Bianca.

Ia hanya ingin mengobati lukanya, tapi bisakah ia melakukannya tanpa menyakiti hati yang lainnya?

-TBC-

 

2 thoughts on “Bianca – Chapter 4 (Seorang Pelarian)”

  1. Itu hana istri na mike kan ?
    astagahhhhhhhhh q kangen ma mereka , seorang CEO kaya raya yng mo bls dendam ma adek mantan pacar adek na tpi ga jadi karna keburu jatuh cinta .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s