About The Batman

Comments 2 Standard

About The Batman

  • James  Drew Roberth (Jiro The Batman) 

James, biasa dikenal dengan nama Jiro adalah Personel The Batman yang paling tua. Usianya 32 th. Blasteran indo inggris. Bertubuh tinggi, kekar, dengan rambut panjang sebahu berwarna cokelat kepirangan. Jiro adalah personel dengan tampang yang mendekati cantik. Dia paling kritis tetang penampilan diantara personel yang lain, meski begitu, dia juga punya banyak Tatto ditubuhnya loh… Hubungan percintaannya tak pernah terekspos.  Bahkan dimata para personel The Batman, Jiro ini yang paling misterius karena Jiro gak pernah ngomongin masalah pribadinya saat mereka kumpul2 gitu. Meski begitu, Jiro pernah sekali kepergok kamera The Danger sedang berciuman dengan seorang cewek di kelab malam.  Dan hal itu benar2 membuat dia super marah.  Dia paling gak suka ada yang ngorek atau bahas tentang masalah pribadinya. 

  • Kenzo Arya (Ken The Batman) 

Kenzo, atau biasa dikenal dengan Ken The Batman adalah salah satu personel yang paling bersih diantara personel yang lain.  Dia juga memiliki satu dua Tatto, tapi itu tersembunyi di balik bajunya. Dia juga dikenal sebagai personel yang setia.  Karena sejak sebelum jadi artis hingga terkenal seperti saat ini, dia setia dengan seorang kekasihnya. Ken adalah sosok yang romantis. Memiliki paras tampan, tinggi tegap namun sedikit lebih pendek dibandingkan dengan Jiro. Wajah tampannya khas cowok2 kalem, tapi gaya alisnya yang terbelah membuat Dia kadang terlihat keras dan keren, tak sekalem biasanya. Dan dia tidak pernah main2 dengan wanita2 bayaran ataupun fans2nya untuk mencari kepuasan dan sejenisnya. Pokoknya dia itu good boy nya The Batman. 

  • Thomas Ryan Yoseph (Troy The Batman) 

Thomas, atau biasa dipanggil Troy ini kebalikan dari Ken sifatnya. Kalau Ken itu good boynya The Batman, maka Troy ini Bad boynya. Dia memiliki darah Amerika dari ayahnya. Dia paling sebel kalo ada yg manggil nama aslinya. Posturnya tinggi tegap seperti Jiro,  bedanya, Troy ini gaya rambutnya lebih suka tipis2 stengah gundul gitu, trus di ukir2 gitu. Dia lebih pede kalo pakek topi, padahal walau gak pekek topi dia kelihatan keren bgt. Troy ini paling berengsek diantara yg lain, dan dia masuk dalam jajaran cowok2 penjahat kelamin.  Hahhaha. Ehh iya, dia paling muda lohh diantara yang lain. Usianya 27th. Dan dia sering banget nongol di majalah2 dewasa dengan setengah telanjang bersama beberapa model cewek lainnya. Yaaa kalian bisa bayangin lah seperti apa.  Hahhahahha 

  • Jason Febrian (Jason The Batman) 

Seperti yang sudah digambarkan sebelumnya, Jason punya postur tinggi tegap dengan Tato yang menghiasi kedua belah lengannya. Usianya 28th. Tapi dia lebih suka menumbuhkan bulu2 diwajahnya hingga membuatnya terlihat lebih dewasa dari usianya. Jason punya suara emas. Dia vokalis sekaligus pencipta lagu di The Batman (meski yg lain juga sesekali nyiptain lagu tapi yaa banyakan Jason). Dia lebih suka punya gaya rambut seperti anak Punk dan juga hobby ganti2 gaya rambutnya. Pun dengan gaya berpakaiannya,  lebih suka tanpa lengan dengan celana robek2. Selain hobby Tatto, dia juga hobby pasang tindik, katanya itu membuatnya lebih percaya diri. Jason itu tipe cowok setia kayak Ken, tapi karena dia patah hati, dia jadi ketularan berengsek seperti Troy. Meski begitu,  jika dia sudah menyukai seorang gadis, maka dia gak akan melepaskannya, bahkan sifat over posesifnya benar2 membuat siapa saja merasa tercekik.

Ps. Jika Jason, Troy dan Ken berteman dan ngeband bareng sejak sekolah,  maka Jiro baru bergabung ama mereka saat mereka mulai debut jadi artis.  Itu sebabnya umur dia beda jauh.
 😁😁

Oke, cukup itu aja kayaknya gambarannya. Update lagi malam minggu lah…  Hhehehe minggu ini bener2 sibuk.  Aku bolak balik Rs. 😂😂😂😂😂 see you…  Muaaahhh 😚😚😚💋💋💋❤❤❤

Advertisements

Rex Spencer (Dark Romance) – Bab 1

Comments 5 Standard

 

Yuhhuuuu yuhhuuuu sapa yang sudah nuggu buat kenalan ama abang Misterius Rex Spencer kita??? marii merapat manjahh.. hahahahhaa

 

Bab 1

 

Renne masih tak dapat mengabaikan apa yang ia alami hari ini.  Seorang wanita mengangkat telepon suaminya,  dan wanita itu berkata seolah-olah apa yang dikatakan wanita tersebut adalah benar adanya.  Bahwa Rex, lelaki yang baru Tiga bulan menikahinya, berhubungan dengan kematian Lucas, mantan suaminya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Renne tentu ingin mengabaikan saja apa yang dikatakan wanita tersebut,  toh,  ia tidak mengenalnya.  Tapi entah kenapa apa yang dikatakan wanita tadi terasa membekas di dalam hatinya.  Seakan terputar berulang kali di kepalanya.  Sebenarnya,  apa yang sedang terjadi?

Hingga kini,  Renne memang tidak tahu dengan jelas apa yang menimpa suaminya saat itu. Lucas memang bekerja di perusahaan Rex, keduanya memang berteman dengan akrab karena mereka memang belajar di perguruan tinggi yang sama. Hingga kemudian Renne dan Lucas memutuskan untuk mengakhiri masa lajang mereka.

Pernikahannya saat itu baru seumur jagung saat kenyataan bahwa Lucas pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Sungguh, Renne cukup terpukul karena hal itu. Polisi setempat hanya mengidentifikasi jika Lucas mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal. Tak ada indikasi pembunuhan di sana,  dan hal itu membuat Renne tak mencari tahu apapun tentang kemungkinan kematian Lucas.  Lagi pula,  saat itu dirinya sedang sangat berduka. Tak ada yang ingin Renne pikirkan kecuali kepergian Lucas yang begitu menyakitkan untuknya.

Lalu Rex, selaku temannya dan juga teman Lucas datang.  Memberikan hiburan tersendiri untuk Renne.  Rex bahkan tampak sedang mencoba menggantikan posisi Lucas,  dan itu benar-benar menyentuh hati Renne.

Hingga kemudian hubungan mereka semakin dekat lagi dan lagi, semakin serius. Renne bahkan mengira jika kehadiran Rex mampu mengobati luka hatinya akibat ditinggalkan oleh Lucas.  Dan benar saja, Rex benar-benar mengobati lukanya.

Keduanya berakhir dengan komitmen serius mereka.  Bahkan awal tahun,  Rex melamar Renne dan berakhir menikahi Renne tiga bulan yang lalu.

Kini, saat hubungan  pernikahannya berjalan dengan baik dan begitu sempurna,  kenapa harua ada seorang wanita gila yang mebcoba menghancurkan semuanya? Renne tahu jika mungkin saja wanita itu menyukai Rex lalu melakukan apapun untuk membuat hubunganya dengan Rex Renggang,  atau bahkan putus. Tapi Renne sama sekali tak bisa mengenyahkan perkataan wanita tadi tentang Rex yang mungkin berhubungan dengan kematian Lucas.

Renne berjingkat seketika saat merasakan sebuah lengan kekar melingkari perutnya. Hal itu membuat si pemilik lengan melepaskan pelukannya pada tubuh Renne dan bertanya “Ada apa?”

Renne membalikkan tubuhnya seketika,  ia medapati Rex yang sudah berdiri tegap dengan kemeja yang sudah tak serapih tadi pagi.  Dasi yang sudah dilonggarkan,  serta lengan panjang yang sudah disisingkan sesikunya.  Oh,  bahkan melihat Rex yang seperti itu saja membuat Renne kepanasan.

Ya, Rex memang memiliki sesuatu yang membuatnya tampak begitu memikat siapa saja yang sedang menatapnya. Lelaki itu memiliki sebuah sisi sensual yang saat menatapnya saja membuat siapa saja kepanasan dan juga sesak napas dibuatnya.  Tak terkecuali dengan Renne.  Hal itu pulalah yang melandasi dirinya menerima Rex ketika lelaki itu menawarkan diri untuk menjaga Renne dan menggantikan posisi Lucas di hatinya.

“Ah,  tidak.  Aku hanya terkejut dengan kedatanganmu. “

“Ada yang kau pikirkan?” Rex bertanya dengan penuh selidik.

“Tidak.” Renne berbohong.

Kemudian tanpa diduga, Rex kembali memeluk erat tubuh Renne.  “Kau tahu,  sepanjang hari ini aku begitu merindukanmu.  Aku tak berhenti memikirkanmu.” Bibir Rex lalu turun pada leher jenjang Renne dan menggodanya dengan kecupan-kecupan basahnya “Memikirkan setiap lekuk tubuhmu.” Lanjut Rex lagi.

Renne memejamkan matanya frustasi.  Memang selalu seperti ini ketika berdekatan dengan Rex.  Rex adalah lelaki panas dengan gairah yang selalu menyala-nyala.  Lelaki itu juga sangat menggairahkan bagi siapapun yang melihanya. Ketertarikan seksual diantara mereka seakan tak pernah padam, meski mereka sudah sering kali melakukannya.

“Rex, ini,  di dapur.” Bisik Rennne dengan suaranya yang sudah tertelan oleh gairah.

“Kalau begitu,  kau tak keberatan bukan, jika aku mengajakmu ke kamar kita, saat ini?” Rex melepaskan pelukannya.  Lalu menatap tajam ke arah Renne.

Renne tentu tak dapat menolak permintaan Rex.  Ia sama bergairahnya dengan lelaki itu.  Renne juga ingin disentuh,  dengan sentuhan panas Rex,  dengan cumbuan lembutnya.  Dan akhirnya, Renne menuruti apapun permintaan Rex.

Rex menuntun Renne menuju ke arah kamar mereka,  dan sampai di sana,  Rex tak menunggu lama lagi.  Ia segera menerkam tubuh Renne kemudian mencumbu habis bibir istrinya itu.

Oh,  Rex bahkan tak mengerti,  kenapa ia bisa begitu terobsesi dengan seorang Rheinata MCBride. Rheinata dulu adalah temannya ketika di perguruan tinggi.  Wanita cantik dengan rambut cokelatnya.  Bermata biru dan senyumannya benar-benar manis dan menggoda. Tapi sayang,  wanita itu adalah kekasih dari temannya sendiri, Lucas Hoover. Akhirnya,  Rex hanya mampu memendam keinginannya di dalam hati.

Rex tak tahu,  keinginan itu akan menjadi boomerang baginya seiring berjalannnya waktu.  Ya,  keinginan itu semakin besar lagi dan lagi,  hingga muncul rasa obsesi yang sulit untuk dikendalikan Rex.

Dan kini,  saat Rex benar-benar memiliki diri Renne seutuhnya, Rex tak ingin membuang-buang waktu lagi.  Selama mereka berdekatan,  saat itulah gairah terpantik hingga membakar hangus semuanya.

Jemari Rex melepaskan satu persatu pakaian yang membalut tubuh Renne tanpa menghentikan cumbuannya. Sedangkan Renne sendiri lebih sibuk menikmati cumbuan Rex dengan sesekali mencengkeram kemeja suaminya itu tepat di dadanya.

Renne begitu menikmati cumbuan Rex hingga ia tak sadar jika kini tubuhnya sudah setengah telanjang dengan hanya berbalutkan bra dan juga celana dalamnya saja. Kemudian dengan spontan,  Renne melepaskan dasi yang masih dikenakan Rex, membuka kancing demi kancing kemeja lelaki itu kemudian mepepaskannya hingga kini lelaki itu sudah berdiri telanjang dada.

“Kau, tak pernah membuatku bosan, Renne.” Ucap Rex parau sembari berjalan mendekat.

Dengan senyuman lembutnya,  Renne berjalan mundur,  lagi dan lagi hingga kakinya sampai pada ranjang mereka berdua.

Rex mendorong tubuh Renne hingga kini wanita itu terbaring diatas ranjang dengan dirinya berada di atas wanita tersebut.  Oh,  Renne tampak begitu indah dari tempatnya melihat. Tampak begitu menggairahkan hingga membuat Rex tak dapat menahan diri lagi.

Secepat kilat Rex melucuti sisa-sisa pakaian yang membalut tubuh mereka hingga kemudian keduanya sudah terbaring telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Setelah sesekali mencumbu Renne Rex tak menunggu waktu lama lagi untuk menyatukan diri.

Renne mengerang panjang, begitupun dengan Rex yang tak mampu menahan hasratnya lagi.  Oh,  Renne benar-bebar luar biasa,  hingga membuat Rex merasa tak ingin menarik diri dari balutan lembut tubuh istrinya tersebut.

Rex menundukkan kepalanya.. Ia mengecup lembut bibir Renne,  kemudian bibirnya turun menggapai payudara wanita itu,  lalu memainkannya.  Sedangkan dirinya sendiri mulai menggerakkan dirinya menghujam maju mundur kedalam tubuh istrinya tersebut.

Renne tak mampu menahan kenikmatan bertubi-tubi yang diberikan oleh Rex terhadap tubuhnya.  Yang bisa Renne lakukan hanya mengerang,  pasrah dengan gelombang kenikmatan yang seakan menghilangkan kewarasannya.

***

Makan malam telah tiba.

Renne melayani Rex seperti biasanya. Padahal dirumah Rex tentu banyak pelayan yang siap melayani keduanya.  Tapi sejak awal,  Renne memang ingin dirinyalah yang melayani Rex.  Dan hal itu disetujui oleh Rex karena ia tak akan menolak apapun yang ingin diberikan istrinya itu pada dirinya.

Berbeda dengan malam-malam sebelumnya,  Renne kini tampak banyak diam,  dan hal itu membuat Rex kurang nyaman.

“Kau,  ada masalah?” tanya Rex kemudian.

Renne yang saat itu menuangkan minuman untuk Rex akhirnya menatap suaminya tersebut.  “Tidak,  memangnya ada apa?” Renne berbalik bertanya.

“Kau banyak diam,  apa aku tadi menyakitimu?” tanya Rex lagi.

Tentang hubungan di atas ranjang,  kadang, Rex memang berjalan di luar kendalinya. Lelaki itu memperlakukannya dengan manis,  dengan panas,  tapi saat lelaki itu tak dapat mengendalikan gairahnya lagi, Rex melakukannya dengan keras.  Meski begitu, Renne suka.  Ia tidak pernah merasa sakit atau sejenisnya. Malah,  ia merasa berbeda dan lebih bergairah dari sebelum-sebelumnya.

Renne tersenyum dengan perhatian yang diberikan Rex padanya.  Ah..  Lelaki ini memang selalu perhatian, sejak dulu hingga sekarang.

“Tidak,  kau sama sekali tidak menyakitiku.” Ucap Renne dengan lembut menggoda.  Saat ini,  Renne bahkan sudah memutari tubuh Rex, berada di belakang lelaki itu kemudian menyandarkan dagunya pada pundak Rex. “Kenapa?” Renne bertanya balik.

“Kau banyak diam.”

“Uum, aku hanya sedikit berpikir.”

“Tentang apa?”

“Tentang seorang wanita yang mengangkat teleponku tadi.”

Renne merasakan jika tubuh Rex menegang seketika.  Ada apa?

“Kau meneleponku?” tanya Rex tak percaya.

“Ya,  memangnya kenapa? Apa perempuan tadi tidak memberitahu jika aku menghubungimu?” tanya Renne kemudian.

“Kara. Sialan!” Rex mengumpat pelan.

“Kara? Sekertaris pribadimu?” tanya Renne tak percaya.  Sebenarnya,  tadi Renne sempat menyangka jika itu adalah suara Kara.  Tapi menurutnya sangat tidak masuk akal jika Kara berani mengangkat telepon dari ponsel pribadi atasannya. Kecuali kalau mereka….

Renne tak ingin memikirkannya.  Sungguh.

“Kenapa kau meneleponku?” tanya Rex yang saat ini nada suaranya sudah berubah, terdengar dingin dan kurang bersahabat.

Renne menjauh seketika Dari Rex. “Ada apa Rex? Apa benar-benar ada yang kau sembunyikan dariku?”

Rex berdiri,  ia membalikkan tubuhnya dan menatap Renne ketika wanita itu mundur menjauhinya.

“Kenapa kau tidak bertanya tentang apa yang dia katakan padaku?” tanya Renne kemudian.

“Aku tahu itu tidak penting.”

Renne tahu bahwa itu sangat penting.  Tapi Rex hanya tak ingin membahas hal itu dengannya.  Apa Rex tahu apa yang sudah dikagakan sekertarisnya itu padanya? Tentang keterlibatan lelaki itu dengan kematian Lucas? Haruskah Renne menanyakannya secara langsung pada Rex? Atau, haruskah ia mencari tahu kepada Kara?

 

-To Be Continue-

Rex Spencer (Dark Romance 1) – Prolog

Comments 10 Standard

 

Haiiiii ada yang baru di sini… ia dong tentu saja. dan yang special adalah, cerita ini TIDAK aku publish di Wattpad, hanya ada di sini dan nanti bakal rilis di google play… yeaayyyy semoga suka yaa…. Genrenya radak beda sih, Dark Romance gitu hahahha semoga sukaa…

 

Prolog

 

 

“Siapa kau?” sekali lagi,  Renne bertanya kepada suara di seberang.  Suara seorang wanita yang sedang mengangkat teleponnya.  Siapa wanita itu? Kenapa ponsel Rex bisa berada dalam genggaman wanita itu?  Tanyanya dalam hati.

“Mrs. Spencer,  kau tidak perlu tahu siapa aku.  Yang perlu kau tahu adalah, siapa lelaki yang kini hidup bersamamu.”

“Apa maksudmu?” Renne tak mengerti.

“Rex Spencer. Teman dari mantan suamimu, Lucas Hoover.”

“Ada apa dengan Rex? Dan kenapa ponselnya bisa berada ditanganmu?”

“Dengar,  Mrs. Spencer. Apa kau tidak curiga dengan kematian mantan suamimu? Apa kau tahu bahwa Rex berhubungan dengan kematian Lucas?”

“Apa maksudmu?” lagi-lagi,  Renne bertanya dengan dua kata tersebut.  Ia tidak mengerti,  karena wanita itu terdengar berbelit-belit.

“Kematian suamimu Tiga tahun yang lalu tidaklah wajar.  Itu bukan sebuah kecelakaan lalu lintas,  karena ada seseorang yang membuatnya terlihat seperti itu. Kau seharusnya sadar, Seorang Rex Spencer,  pengusaha Black Media yang terkenal dengan ketampanan sekaligus kesuksesannya,  bagaimana mungkin bisa jatuh begitu saja dalam pelukanmu yang hanya seorang janda biasa?”

“Karena,  kami saling mengenal sejak kami di perguruan tinggi.”

Terdengar suara tawa mengejek dari seberang “Itu tidak cukup dijadikan sebuah alasan,  Mrs. Spencer. Rex terobsesi padamu, hingga Tiga tahun yang lalu, ia melakukan hal yang kejam dengan membunuh temannya sendiri agar dapat menikahi mantan istri temannya tersebut.”

“Tidak! Itu tidak benar.”

Lagi-lagi,  suara di seberang tertawa lebar.  “Kalau begitu,  tunggu saja.  Cepat atau lambat rahasia suamimu itu akan terbongkar.  Dan ketika kau sudah mengetahui semuanya, maka kau akan mencariku.” Stelah itu,  panggilan tersebut ditutup begitu saja.  Membuat Renne berdiri lemas seakan tak mampu menahan dirinya dengan kedua kakinya.

Benarkah apa yang dikatakan wanita itu? Benqrkan kematian Lucas berhubungan dengan Rex, suaminya saat ini?

-TBC-

Hayooooo seneng gak, seneng gak…. ngacung sini yang seneng.. jangan malu2 gitu dong,,, ayokk komen2 biar rame blognya. hehehe kalo rame kan aku juga bakal sering2 update… janjiii….

Ps. Kalo ada yang tanya, kenapa covernya namanya Ravenwood? jadi ceritanya aku mau buat nama pena baru kemaren, untuk kisah2 Dark Romance. kalian komen2 yaa kalian suka apa enggak sama cerita2 kayak model gini..

Bianca – Chapter 8 (Gugup dan salah tingkah)

Comments 2 Standard

 

Chapter 8

-Gugup dan Salah tingkah-

 

Aldo berjalan mondar-mandir di depan UGD sebuah klinik yang tak jauh dari tempat konser band Jason. Sesekali ia tampak menghubungi seseorang, tapi yang membuat ekspresinya keras adalah, orang yang ia hubungi tidak mengangkat telepon darinya sekalipun.

Tak lama, seorang suster keluar dan Aldo segera menghampirinya. “Bagaimana istri saya?” tanya Aldo kemudian.

“Istri bapak baik-baik saja, mungkin sedikit kelelahan.” Jawab suster tersebut sembari mempersilahkan Aldo masuk.

Saat Aldo masuk, ia sudah mendapati Sienna yang ternyata sudah duduk dan tersenyum ke arahnya. Aldo tahu, senyum apakah itu. Apa Sienna sedang mengerjainya? Seperti dulu yang pernah dilakukan istri usilnya itu padanya?

“Hai, kak.” Sapa Sienna sembari mengangkat tangannya.

“Kamu, baik-baik saja, kan?” tanya Aldo yang masih tampak khawatir dengan keadaan Sienna.

Sienna menunggu para suster keluar dari bilik tempatnya duduk di sebuah ranjang UGD. Setelah suster tersebut pergi dari sana, Sienna terkikik sendiri. Ia merengkuh jemari Aldo kemudian berkata “Maaf, aku harus melakukan ini. Habisnya kamu mau gangguin Bianca sama Kak Jason.” Ucap Sienna dengan nada yang dibuat semanja mungkin.

Mata Aldo membulat seketika. “Jadi kamu nggak apa-apa? Nggak ada yang sakit?”

“Ya, maaf, ya…”

“Sienna!” Aldo mendengus sebal. Ia tidak menyangka jika Sienna akan berbuat seperti ini lagi. Menggunakan calon bayi mereka untuk membohonginya. “Apa kamu nggak tahu bagaimana khawatirnya aku? Kita sudah pernah kehilangan calon bvayi kita, bisa-bisanya kamu membuat lelucon ini.” Aldo benar-benar sangat kesal dengan sikap Sienna. Masalahnya, dulu, mereka sudah pernah kehilangan calon buah hati mereka, jadi bisa dibayangkan bagaimana khawatirnya Aldo dengan keadaan Sienna saat ini.

“Kak, aku hanya ingin kamu memberikan Bianca sedikit kebebasan.”

“Kebebasan berciuman di depan umum? Yang benar saja. Dulu, saat Felly menjalin hubungan dengan berandalan itu, aku sangat tidak suka. Dan kini, aku tidak akan membiarkan adikku jatuh ke tangannya.”

“Kak Aldo. Jangan lebay deh. Bianca itu hanya gadis bunga malam ini. Mereka nggak ada hubungan apapun.”

“Jadi dia di cium di depan umum hanya untuk keperluan konser sialan itu?” tanya Aldo yang tampak semakin emosi dengan penjelasan Sienna.

“Enggak kak. Astaga, aku bingung bagaimana jelasinnya. Makanya, kak Aldo jangan terlalu kuno, dong.”

“Apa kamu bilang? Kuno? Di saat-saat seperti ini kamu masih ngolokin aku?”

Kali ini Sienna yang mendengus sebal. “Terserah Kak Aldo deh, aku malas ngomong sama Kak Aldo lagi.” Ucap Sienna dengan kesal sambil membaringkan diri memunggungi Aldo. Sungguh, tak ada gunanya beradu argumen dengan suaminya pada saat seperti ini. Aldo memang sedang emosi, dan ketika lelaki itu sedang emosi, maka tak akan ada yang bisa menenangkannya kecuali Sienna dengan jurus andalannya yaitu merajuk.

“Kamu merajuk? Hei, aku marah dengan berandalan sialan itu, kenapa kamu yang merajuk?” Aldo tak bisa berbuat banyak. Saat Sienna sudah merajuk maka tak ada yang bisa ia lakukan selain mengalah dengan istrinya tersebut.

Sienna tidak mengindahkan perkataan Aldo, ia masih terbaring miring memunggungi suaminya, tapi dalam hati ia tertawa penuh dengan kemenangan. Ya, dengan begini Aldo tak dapat berkutik lagi, dan Sienna berharap jika lelaki itu tak akan lagi membahas apapun tentang ciuman yang terjadi antara Jason dan Bianca di atas panggung tadi.

Ciuman? Astaga, Sienna bahkan baru mengingat hal itu. Bocah nakal sialan itu ternyata menonton konser Jason tanpa sepengatahuannya. Dan entah kenapa, Sienna malah suka dengan kenyataan tersebut.

***

Pagi itu, adalah pagi yang cukup aneh untuk Bianca. ia merasa kurang nyaman dengan tubuhnya. Dan ketika dirinya membuka mata, Bianca baru sadar jika dirinya tidur dalam keadaan telanjang bulat.

Bianca segera duduk, lalu meraih selimut yang melorot hingga pinggangnya. Kemudian sebuah sapaan lembut dari Jason membuat Bianca mengingat, bagaimana panasnya hubungan mereka semalam.

“Pagi, Babee.”

Bianca menatap ke arah Jason. Rupanya lelaki itu sudah mengenakan kimononya, dan lelaki itu sudah tampak tampan dan segar. Mungkin karena baru saja mandi. Bianca merutuki dirinya sendiri, berharap jika saat ini dirinya tidak tampak berantakan. Tapi sepertinya, itu hanya sebuah harapan semu.

Dengan sedikit salah tingkah, Bianca hanya membalas sapaan Jason dengan “Hai.”

Bianca merasakan pipinya memanas, mungkin kini sudah merah merona. Dan astaga, Bianca benar-benar merasa gugup dan salah tingkah ketika berada di hadapan Jason saat ini.

Jika sebelumnya Bianca bisa mengontrol dirinya, maka tidak dengan pagi ini, tidak ketika ia mengingat bagaimana panasnya hubungan mereka semalam. God! Jason tampak sangat berkuasa, dan Bianca benar-benar suka saat membayangkan bagaimana panasnya Jason ketika berada di atasnya.

Sedangkan Jason sendiri, kini hanya bisa menahan senyumnya. Ia tersenyum karena Bianca tampak berbeda dari biasanya. Wanita itu tampak memerah, malu, bercampur dengan gugup. Kenapa? Padahal sebelumnya, Bianca merupakan gadis yang sangat percaya diri bagi Jason. Dan kini, wanita itu benar-benar tampak menggemaskan untuknya.

“Cokelat panasmu.” Ucap Jason sembari memberikan sebuah cangkir yang sejak tadi berada dalam tangannya.

Bianca menerimanya begitu saja, ia bahkan tidak berani menatap mata Jason dengan terang-terangan. Entahlah. Bagi Bianca, ada sebuah gelenyar panas yang seketika merayapi tubuhnya ketika mata mereka saling menatap satu sama lain.

Jason lalu duduk di pinggiran ranjang. Ia mencoba mengabaikan Bianca yang membenarkan letak selimut untuk menutupi tubuh telanjang wanita itu. Astaga, Jason mencoba mengendalikan diri setenang mungkin, padahal saat ini, dirinya sedang menegang kembali karena tergoda dengan keberadaan Bianca di hadapannya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan nada lembut.

“Baik.” Ucap Bianca sembari menundukkan kepalanya. Bianca bahkan memilih menatap ke arah cokelat yang berada di dalam tangannya ketimbang harus menatap ke arah Jason yang begitu mempengaruhinya.

“Tidak perlu malu-malu begitu.” Ucap Jason dengan mata yang tak berhenti menatap ke arah wajah Bianca yang memerah.

“Malu-malu kenapa? Aku nggak malu-malu, kok.” Bianca mencoba mengelak dan hal itu membuat Jason semakin gemas dengan sosok Bianca.

Jason mendekat, dan dengan spontan dia mengecup puncak kepala Bianca hingga membuat Bianca mematung seketika. Bianca merasakan jika jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak ketika Jason mengecup puncak kepalanya.

Astaga, kenapa lelaki ini bisa semanis ini? pikir Bianca saat itu.

“Bee, kamu milikku sekarang.” Jason mengungkapkan kepemilikannya atas diri Bianca.

Bianca mengangkat wajahnya. Ia menatap Jason dengan wajah tak mengertinya. “Maksudmu?”

“Sekarang, kamu benar-benar menjadi kekasihku yang sesungguhnya. Jangan menolakku, jangan tinggalkan aku, dan jangan menyakitiku. Kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang kusayangi.”

Bianca tersenyum.  Dan hal itu membuat Jason mengerutkan keningnya.

“Kenapa tersenyum? Kamu nggak suka dengan apa yang kukatakan?”

“Bukannya begitu. Kamu sudah mengambil apa yang kupunya. Bukankah seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu? Jangan tinggalkan aku, karena semuanya sudah menjadi milikmu.”

“Kamu belum mengenalku, Bee.” Jason menghela napas panjang. “Sebelum ini, aku pernah mencintai seseorang begitu dalam. Dan dia mematahkan hatiku seketika, aku terluka, aku tersakiti. Benar-benar sangat sakit. Dan aku tidak ingin mengalami hal itu untuk kedua kalinya denganmu.”

Bianca menaruh cokelat panasnya di atas nakas, lalu jemarinya terulur menggenggam erat telapak tangan Jason.

“Aku tidak akan menyakitimu, Jase.”

“Apa ini sebuah janji?”

Bianca tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Setelah itu, Jason mendekatkan wajahnya pada wajah Bianca sedangkan Bianca segera memejamkan maytanya. Ia tahu bahwa Jason akan menciumnya. Tapi ketika bibir mereka hampir saja saling menyentuh, suara ketukan pintu menyadarkan keduanya.

Jason menghentikan aksinya. Ia menatap ke arah Bianca, sedangkan Bianca sendiri segera membuka matanya mendapati Jason yang menatapnya dengan tatapan aneh. Keduanya lalu tersenyum satu sama lain.

Jason mengacak poni Bianca, sebelum ia bangkit dan membuka pintu kamarnya.

“Mungkin sarapan pesananku.” Ucapnya sembari meninggalkan Bianca. Bianca hanya tersenyum menanggapinya. Ia melihat Jason pergi menuju ke arah pintu.

Saat Jason membuka pintu kamar hotelnya, rupanya yang datang bukanlah pelayan hotel yang membawakan sarapan pesanannya, melainkan salah seorang personil The Batman, Troy. Untuk apa temannya itu datang pagi-pagi buta seperti ini?

“Sial, lo Jase. Kemana aja semaleman? Elo nggak keliatan setelah konser selesai.”

Jason mendengus sebal. Ia membuka sedikit pintu kamarnya agar Troy bisa melihat apa yang ada di dalam kamarnya. Dan benar saja, kepala Troy melonggok ke dalam dan ia mendapati Bianca yang masih berbalutkan selimut tebal dari hotel. Wanita itu tampk asik menikmati sesuatu di atas ranjang Jason, dan hal itu segera membuat Troy mengumpat keras.

“Berengsek!”

Jason segera mendorong tubuh Troy keluar, dan dirinya sendiri ikut keluar dari kamarnya sebelum menutupnya agar Bianca tidak mendengar umpatan khas dari temannya itu.

Troy tertawa lebar. “Elo benar-benar bajingan ya. Gerak cepet banget lo.”

“Udah, nggak perlu basa-basi. Sekarang kenapa elo ke sini?”

“Produser dan yang lain ngajak meeting pagi ini. Yang lain sudah nunggu di resto.”

Jason menghela napas panjang. Ia tidak suka kebersamaannya dengan Bianca pagi ini terganggu. Lagi pula, tumben sekali produsernya itu mengajak meeting pagi-pagi. “Oke, gue ganti baju dulu.” Jason bersiap masuk, tapi kemudian perkataan Troy membuatnya menghentikan langkahnya.

“Elo, nggak nganggep dia kayak cewek-cewek yang gue sediain selama ini, kan Jase?” tanya Troy dengan sedikit serius.

Jason mengerutkan keningnya, ia membalikkan tubuhnya dan menatap temannya tersebut. “Kenapa elo tanya begitu?”

“Gue hanya nggak mau elo salah jalan. Fine! Gue memang berengsek karena ngajarin elo yang enggak-enggak selama ini. Tapi, setidaknya, wanita yang selama ini elo tidurin dan elo campakan setelahnya adalah wanita bayaran, bukan wanita kayak Bianca.”

“Tenang saja, dia berbeda.”

Troy menepuk-nepuk pundak Jason. “Oke, kalau gitu, gue bisa lega.”

“Elo, nggak ada maksud lain, kan?” tanya Jason kemudian.

“Maksud lo?” Troy bertanya balik karena tidak mengerti.

“Bianca, elo ngga sedang tertarik sama dia, kan?”

Troy tertawa lebar. “Lo gila? Gue nggak akan pernah macarin cewek temen gue sendiri.”

“Kalau mantan?” tanya Jason kemudian.

Troy tersenyum penuh dengan kemisteriusan. “Gue nggak janji, makanya, jangan sampai buat dia jadi mantan elo. Hahahaha.” Jawab Troy sembari tertawa lebar dan meninggalkan Jason di depan pintu kamarnya.

“Sialan!” Yang bisa Jason lakukan hanya mengumpati kelakukan temannya itu. Mantan? Tidak, ia tidak akan membiarkan Bianca menjadi mantan kekasihnya. Tidak dalam waktu dekat.

***

Jason sarapan bersama dengan teman-teman dan juga official The Batman. Meski dirinya berada di sana, tapi pikiran Jason seakan masih tertinggal di kamarnya. Ditempat Bianca berada. Apa Bianca menghabiskan sarapannya? Apa Bianca sudah mandi? Sudah berpakaian? Apa dia bosan? Dan entah apalagi pertanyaan-pertanyaan tentang Bianca yang kini sedang menari-nari di kepalanya.

Raga, selaku Produser The Batman tampak memperhatikan gelagat Jason. Dan hal itu membuatnya bertanya “Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Jason menatap Raga seketika. “Oh, tidak ada.”

“Konser kalian berjalan dengan sangat sempurna tadi malam. Pagi ini, semua media memberitakan tentang konser kalian. Video gadis bunga di youtube bahkan menjadi trending hanya dalam semalam.”

Jason hanya memainkan kopi di hadapannya sembari menganggukkan kepalanya.

“Siapa gadis itu, Jase?” pertanyaan Raga membuat Jason menatap ke arah produsernya tersebut seketika.

Sebenarnya, dalam Band mereka memang ada kontrak yang menyatakan jika semua personel The Batman tidak boleh memiliki kekasih dalam waktu yang sudah ditentukan. Tapi nyatanya, mereka semua memiliki kekasih. Raga, selaku Produser yang mengorbitkan mereka tentu mengetahui hal itu. Tapi Raga tampak enggan mengurus masalah sepele itu. Yang penting, mereka tidak menampakkannya di depan umum dan juga yang penting hal itu tidak berpengaruhi pasar atau image The Batman sendiri. Tapi kini, Raga seakan memiliki keingin tahuan pada hubungan Jason dengan Bianca. Hal tu yang membuat Jason merasa tidak nyaman.

“Ayolah, dia hanya gadis acak yang di pilih Jason. Bukan begitu, Jase?” Troy membela Jason.

Raga bersedekap. “Aku cuma nggak mau timbul gosip yang tidak-tidak tentang kalian, terutama kamu, Jase. Gosip-gosip tentang kamu Gay saja sudah cukup memusingkan.”

“Itu karena peraturan sialan di managemen, lagian, kita bisa dengan mudah menepis gosip itu dengan cara Jason mengenalkan perempuan sebagai kekasihnya.”

“Tidak!” Raga berseru dengan ide yang diungkapkan Ken. “gosip itu sebenarnya cukup menguntungkan pasar kita. Anggap saja itu sebagai bahan promosi album baru kalian nanti. Selagi para media belum mendapatkan bukti yang konkrit maka kalian akan sering di beritakan. Anggap saja itu sebagai promosi gratis.” Raga lalu menatap Jason dengan mata tajamnya. “Lagi pula, aku nggak mau, kalau sampai gadis itu yang akan dikenalkan Jason di depan publik.”

Mata Jason menatap tajam ke arah Raga. “Kenapa?” sungguh, Jason bingung dengan keinginan lelaki yang duduk di hadapannya tersebut. Sedikit informasi, bahwa Raga memang belum pernah sekalipun bertatap muka secara langsung dengan Bianca. Bianca memang selalu memani Jason saat konser selama dua bulan terakhir, tapi Bianca belum pernah bertemu dengan Raga secara langsung.

“Kamu tidak perlu tahu alasannya, kamu bisa mencari gadis lain, tapi tidak dengan dia.”

Mata keduanya saling menatap dengan tatapan tajam masing-masing. Meja mereka tampak hening, suasana terasa tidak enak, hingga kemudian, Troy merasa jika dia harus kembali mencairkan suasana.

“Udahlah, kalian kenapa bahas masalah gak penting ini sih. Mending kita bahas tema konser selanjutnya. Ya nggak?” tanyanya sembari menyikut Ken.

“Bener banget kata Troy.” Ken setuju. Lalu semuanya kembali membahas konser selanjutnya yang akan datang.

Meski begitu, hal tersebut tidak membuat Jason mengenyahkan semua perkataan Raga tadi. Ia merasa ada yang aneh dengan produsernya itu. Biasanya, Raga hanya akan membahas tentang pasar dan sejenisnya. Bukan tentang masalah pribadinya seperti saat ini. Lagi pula, Raga itu siapa? Lelaki itu baru menjadi Produsernya selama setengah tahun terakhir setelah menggantikan kakaknya yang pensiun dini. Kenapa pria itu tampak ingin sekali mengurusi masalah pribadinya?

***

Setelah menghabiskan sarapan paginya dengan lahap. Bianca memilih membuka ponselnya sembari berguling-guling manja di ranjang hotel. Ia mendapati banyak sekali missed call dari Aldo, kakaknya. tapi Bianca malah memilih mengabaikannya.

Bianca membuka sosial medianya. Membuka akun Jason, dan melihat begitu banyak lelaki itu di tandai dalam berbagai macam foto di akun instagramnya.  Yang membuat Bianca kaget adalah, bahwa kebanyakan foto-foto tersebut menampakkan saat Jason berciuman dengannya di atas panggung.

Jason dengan Gadis bunga, tadi malam.

Ceweknya gendut dan jelek.

Jason sangat manis.

Jalang sialan! Menjauh dari pacarku!

Membaca-baca berbagai macam caption dan komentar yang dituliskan para peggemar Jason membuat Bianca kesal.

“Gendut? Astaga, apa matanya rabun?” Bianca menanggapi caption itu dengan kesal.

Dia akan menjadi pelacur Jason.

Jangan cium suamiku!

Bitch!

Dan banyak lagi caption-caption dan juga komentar-komentar yang membuat Bianca kesal. Akhirnya, Bianca tak kuasa menahan diri. Ia membalas sesuatu di kolom komentar di salah satu postingan fans Jason yang membuatnya sangat kesal.

Dia bukan jalang, dia hanya gadis yang beruntung.

Setelah itu, Bianca mengeluarkan diri dari sosial medianya, melemparkan ponselnya ke sembarang arah dan menenggelamkan wajahnya diantara bantal yang tersedia di sana. Ia benar-benar kesal. Dan mungkin ia tidak akan lagi menanggapi komentar-komentar menyakitkan  dari fans fanatik Jason. Bianca menghela napas panjang. Sungguh, ia menyesal menjadi stalker akun sosial media kekasihnya itu.

“Ada apa?” suara itu membuat Bianca mengangkat wajahnya. Ia tidak menyangka jika Jason sudah kembali dari meetingnya bersama dengan para officialnya.

“Hai.” Bianca duduk seketika. Ia bahkan segera merapikan rambut pirangnya agar tidak terlihat berantakan di mata Jason. Astaga, kenapa ia merasa gugup dan salah tingkah seperti ini saat berhadapan dengan Jason?

“Sudah habis sarapannya?” tanya Jason sambil duduk di pinggiran ranjang.

“Ya, itu sudah habis.”

“Kenapa kayak kesal gitu?”

Dengan nada merajuk, Bianca menjawab “Fans kamu tuh, ngeselin. Masa aku dibilang gendut dan jelek.”

Jason tertawa lebar. Ia mengulurkan jemarinya mengacak poni Bianca, hal yang saat ini sangat ia gemari. “Mereka hanya cemburu.”

“Tapi mereka keterlaluan. Aku dibilang jalang lah, pelacur lah.”

“Maafkan aku, Bee. Seharusnya aku nggak melakukan itu di depan umum tadi malam.”

“Enggak, itu bukan salah kamu. Maksudku, penyanyi luar juga sering melakukan itu.”

“Itu kan budaya luar, bukan budaya kita. Dulu, memang sering ada gadis bunga, tapi aku hanya memberinya bunga, mempersilahkan dia mengecup pipiku, lalu memeluknya dengan kasih sayang. Hanya itu. Tidak sampai menciumnya seperti yang kulakukan padamu tadi malam. Tapi di hadapanmu, aku tidak dapat menahannya. Akhirnya, kamu yang kena bully.”

“Enggak Jase, sungguh, aku nggak menyesali hal itu.”

Jason tersenyum. “Aku tahu.” Lalu dia menghela napas panjang sebelum berkata “Bee, maafkan aku, aku belum bisa mengungkapkan hubungan kita di depan publik.” Ucap Jason dengan serius.

Bianca hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tahu, apa konsekuensi yang harus ia terima saat memutuskan untuk menjalin kasih dengan seorang superstar. Dan ia akan bertahan. Ya, bukankah dirinya adalah gadis yang kuat?

***

Di lain tempat…

Aldo mengangkat panggilan di ponselnya yang berdering. Sedikit mengereutkan keningnya ketika ia mendapati siapa si pemanggil. Rupanya itu salah seorang teman SMAnya yang sudah cukup lama tidak saling menyapa. Ada apa? Apa mereka akan mengadakan reuni?

“Hei, Ga. Apa kabar?” tanya Aldo dengan sedikit basa basi.

“Baik. Elo sendiri gimana kabarnya?”

“Baik juga. Ada apa? Tumben elo hubungin gue.”

“Al, gue mau tanya. Uuum, Bianca, adek elo sudah pulang dari Inggis, Ya?” tanya suara di seberang.

Aldo mengerutkan keningnya. Oh ya, dulu, temannya ini memang sempat naksir dengan adiknya yang saat itu masih SMP. Dan Aldo masih tidak menyangka jika temannya ini masih ingat dengan Bianca dan menanyakan tentang Bianca secara terang-terangan.

“Ya, dia sudah balik dari beberapa bulan yang lalu. Kenapa Ga? Astaga, jangan bilang kalau elo masih naksir adek gue.”

“Hahahahha” terdengar suara tawa di seberang. “Al, kapan-kapan, kita ngopi bareng. Mau kan?”

“Hahhaha oke, oke. Gue tunggu undangan elo.”

Dan setelah itu panggilan di tutup. Aldo hanya menggelengkan kepalanya. Lelaki itu adalah Raga, temannya dulu semasa SMA dan di bangku perguruan tinggi. Raga sendiri pernah mengaku tertarik dengan Bianca. tapi itu dulu. Dan Aldo tidak menyangka jika sekarang, setelah cukup lama tak saling menyapa, Raga malah menghubunginya lebih dulu dan menanyakan tentang Bianca.

Apa ini tandanya bahwa ia harus mencomblangkan adiknya itu dengan temannya? Sejauh yang Aldo tahu, Raga adalah sosok yang baik. Jadi, kenapa tidak mencobanya saja.

-TBC-

Bianca – Chapter 7 (first night with Bee)

Comments 2 Standard

 

Haiiii aku balik lagi nih… hehehhehe maaf bgt kemarin gak update karena aku tutup malem. huwaaa oke langsung saja yaa. Ehhh BTW, sedikit infi kalau FUTURE WIFE sudah aku hapus sebagian seperti yang sudah aku rencanakan Yaa,… maafffff bgt. hehehehhe

 

 

Chapter 7

-First Night with Bee

 

Aldo berdiri dan bersiap berjalan menuju ke arah panggung. Tapi kemudian, Sienna menghentikannya.

“Kak, kamu apa-apaan sih?” tanya Sienna dengan sedikit kesal.

“Apa-apaan bagaimana? Itu Bianca. Dan si Berengsek sialan itu sedang menciumnya di depan umum.”

Aldo masih bersiap pergi, tapi kemudian Sienna memeluk tubuh Aldo dari belakang. Berharap jika Aldo menghentikan langkahnya. Dan benar saja, Aldo menghentikan langkahnya.

“Apa yang kamu lakukan, Si?”

“Tolong, jangan ganggu mereka.”

“Apa maksudmu?” tanya Aldo tak mengerti.

Sienna melepaskan pelukannya “Kak, hal seperti ini wajar dilakukan saat konser. Mungkin ini hanya keberuntungan bagi Bianca, karena dia yang terpilih sebagai gadis bunga. Kalau Kak Aldo ke sana dan mengacaukan semuanya, bisa-bisa Kak Aldo di keroyok sama keamanan karena mengganggu jalannya konser.”

“Aku nggak peduli.”

“Kak.” Sienna kembali memeluk Aldo kembali.

“Sienna…”

“Ahhh, perutku, perutku sakit.” Sienna lalu tergeletak begitu saja, dan hal tersebut membuat Aldo panik dan memanggil-manggil nama istrinya tersebut.

***

Di atas panggung.

Setelah bercumbu mesra dengan Bianca tanpa menghiraukan para fansnya. Jason akhirnya melepaskan tautan bibir mereka setelah ia merasa napas Bianca hampir habis. Jemarinya terulur mengusap lembut pipi Bianca yang merah merona.

Bianca tampak sangat mengoda, apalagi saat wanita itu tak  berhenti menggigit bibir bawahnya sendiri.

“Tunggu aku di ruang ganti.” Bisik Jason ditengah-tengah riuhnya para Fans yang histeris dengan ulahnya.

Bianca hanya tersenyum. Ia mengagguk. Lalu turun dari bangku yang ia duduki. Kemudian Jason mengajaknya menuruni panggung dan menuju ke arah Official. Setelah itu, Jason kembali naik ke atas panggung dan melanjutkan konsernya.

Bianca hanya menatap lelaki itu. Lelaki yang baru saja menciumnya di depan umum. Lelaki yang baru saja memberinya sebuah ciuman pertama. Astaga, ciuman pertama?

Jika saat ini Bianca tak sedang berada di tempat umum, mungkin ia sudah bersorak sorai seperti orang gila karena ciuman pertamanya jatuh pada seorang yang begitu keren seperti Jason. Astaga, Bianca benar-benar tak dapat menahan kebahagiaan yang membuncah di hatinya.

***

Setelah menungggu cukup lama, Bianca akhirnya mendapati pintu ruang ganti Jason terbuka menampilkan lelaki yang sejak tadi ia tunggu. Jason kembali dengan keringat di wajahnya, dengan kaus tanpa lengannya. Dan sial! Lelaki itu benar-benar tampak panas untuk Bianca.

“Hai.” Bianca berdiri seketika sambil menyapa Jason.

“Ayo ikut aku.”  Jason meraih hoodynya, lalu menyambar pergelangan tangan Bianca, kemudian mengajak Bianca keluar dari dalam ruang gantinya dengan mengenakan hoddy yang baru saja ia ambil dari ruang gantinya.

“Kita mau kemana?” tanya Bianca sedikit bingung. “Kamu, sudah selesai konsernya?” lanjutnya lagi.

“Ya, sudah. Ikut saja kemanapun aku pergi.” Dan yang bisa Bianca lakukan hanya menuruti apapun yang dikatakan Jason padanya.

***

Keduanya menuju ke arah hotel yang memang tak jauh dari tempat konser Jason. Jantung Bianca tak berhenti berdebar kencang apalagi saat keduanya masuk ke dalam lift yang hanya mereka tumpangi berdua.

Jason tak berhenti menggenggam erat jemari Bianca, dan hal itu membuat Bianca semakin gugup merasakan perasaan yang sulit ia artikan.

Keluar dari dalam lift, Jason membimbing Bianca menuju ke arah kamarnya. Meski konser tersebut di adakan di kota yang sama, tapi penyelenggara konser memang menyediakan kamar hotel untuk masing-masing personel The Batman beserta officialnya. Dan kini, Jason sedang mengajak Bianca menuju ke kamar hotelnya.

Masuk ke dalam kamar tersebut, Jason mengunci diri mereka berdua di dalam kamar itu. Bianca sempat tak mengerti apa yang akan dilakukan Jason selanjutnya. Tapi ketika Jason membalikkan tubuhnya untuk menatap lelaki itu, Bianca tahu, jika kini Jason sedang menginginkan sesuatu darinya.

Mata lelaki itu tampak berkabut, dan menurut yang ia baca, saat seorang lelaki menatap seorang perempuan dengan mata berkabutnya, maka itu tandanya bahwa lelaki itu sedang menginginkan sesuatu dari wanita di hadapannya. Sesuatu yang intim tentunya.

“Jase….” Bianca memanggil nama Jason, karena mata Jason tampak tak berkedip menatap ke arahnya.

Jemari Jason tiba-tiba terulur, mengusap lembut pipi Bianca. Mata Bianca terpejam ketika merasakan kelembutan Jason yang membuat tubuhnya bergetar seketika.

“Jase… hemmm.” Racau Bianca saat ibu jari Jason mengusap lembut bibir bawahnya.

“Apa kamu tahu, kamu membuatku tergoda.” Bisik Jason dengan suara seraknya. “Aku harus bagaimana, Bee?” tanya Jason kemudian.

Bianca membuka matanya, kemudian ia bertanya balik pada Jason. “Apa yang kamu inginkan dariku?” suara Bianca bahkan sudah ikut serak, pelan, hampir tak terdengar.

“Kamu, aku menginginkan kamu.” Jason menjawab dengan lembut, sebelum ia mendaratkan bibirnya pada bibir Bianca. mencumbunya dengan panas menggoda.

Bianca sendiri tidak menolak. Ia bahkan mengalungkan lengannya pada leher Jason, membalas cumbuan Jason tersebut.

Keduanya larut dalam gairah. Jason merasakan pusat gairahnya menegang, semakin sesak ingin dibebaskan. Sedangkan Bianca merasa basah seketika hanya dengan cumbuan panas yang mereka lakukan.

Astaga, Jason benar-benar pandai berciuman, dan hal itu membuat Bianca tak kuasa untuk menolak keinginan dari lelaki tersebut.

Jason melepaskan tautan bibir mereka. Lalu ia menatap Bianca dengan matanya. “Bee, aku benar-benar menginginkanmu.” Ucap Jason sekali lagi. Berharap jika Bianca mengerti apa yang ia inginkan, dan wanita itu mengizinkan untuk menyentuhnya.

“Maka lakukanlah.” Jawab Bianca yang memang tak dapat menolak permintaan Jason.

Ya, Bianca sempat lama tinggal di luar negeri. Ia tahu pasti bagaimana pergaulan di sana. Seks bebas di luar nikah tentu bukan hal yang tabu di sana. Meski begitu, ia belum pernah melakukannya sekalipun. Bianca lebih asyik dengan dunianya sendiri, baginya, tak ada satupun lelaki yang tampak hot seperti tokoh di dalam novel-novel yang pernah ia baca. Tapi dengan Jason, pandangan tersebut berubah. Jason sudah seperti visualisasi dari tokoh-tokoh dalam novel impiannya. Tampan, panas, menggoda, dan Bianca rela memberikan semuanya pada lelaki ini.

“Kamu yakin?” tanya Jason sekali lagi.

Selama ini, Jason memang sering meniduri wanita. Tapi wanita-wanita itu adalah wanita bayaran. Bukan wanita seperti Bianca yang merupakan wanita baik-baik dengan keluarga terhormat. Setidaknya, itu yang Jason tahu. Maka dari itu, Jason ingin memastikan sekali lagi. Karena dia tidak ingin, ada penyesalan dengan diri Bianca nantinya.

“Ya, lakukanlah.” Bianca menjawab dengan mantap.

Jason tersenyum. Ia kembali mengusap lembut pipi Bianca sebelum kemudian jemarinya turun dan mulai membuka T-shirt yang dikenaka Bianca.

“Sejak di atas panggung, aku sudah menahannya. Kamu membuatku tidak fokus.”

Bianca tersenyum dengan ucapan Jason. Ia tidak menyangka jika Jason akan mengucapkan kalimat itu. Membuatnya semakin berdebar dengan perkataan lelaki tersebut.

Jason menurunkan rok pendek yang dikenakan Bianca. lalu ia terpaku sebentar menatap keindahan yang terpampang di hadapannya.

“Kamu sangat indah.” Ucap Jason dengan suara seraknya.

Jemari Bianca terulur, meraba dada Jason, lalu dengan penuh percaya diri, ia membuka Hoody yang dikenakan lelaki di hadapannya tersebut.

“Aku yakin, kamu juga sama indahnya.” ucapnya sembari membuka kaus tanpa lengan yang  dikenakan Jason.

Jason berdiri telanjang dada, sedangkan Bianca hanya mengenakan dalamannya saja.

“Kupikir, kita akan cocok, Bee.”

“Ya, tentu saja.” Bianca setuju.

Sambil menelan ludah dengan susah payah, Jason membalikkan tubuh Bianca hingga berdiri membelakanginya. Kemudian, ia mendaratkan bibirnya, mencumbu pundak Bianca, lalu turun, menuruni punggung wanita tersebut.

Bianca hanya bisa memejamkan matanya sembari menahan gelenyar panas yang menghantamnya. Jason benar-benar mampu memancing gairah seseorang.

Jason menghentikan aksinya ketika bibirnya sampai pada pangkal punggung Bianca. lalu jemarinya membuka tautan bra yang dikenakan Bianca. Jason melepaskan bra tersebut kemudian mengirup aromanya.

“Harum.” Bisiknya.

Jason membalikkan tubuh Bianca hingga wanita itu berdiri telanjang dada tepat di hadapannya. Jemari Jason menangkup payudara Bianca kemudian menggodanya.

Bianca memejamkan matanya, sesekali menggigit bibir bawahnya saat Jason melakukan hal tersebut. Ia tergoda, ia bergairah, dan semua itu karena seorang Jason.

Tanpa di duga, Jason mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Bianca. Menggoda puncak tersebut dengan bibirnya, memainkan dengan lidahnya, hingga tak kuasa membuat Bianca mengerang dengan ulahnya.

Setelah cukup lama menggoda kedua payudara Bianca, dengan nakal jemari Jason turun, menelusup memasuki panty yang masih dikenakan Bianca, mencari-cari pusat diri Bianca dan mulai memainkannya.

“Ohhh, astaga…” dengan spontan Bianca mengalungkan lengannya pada leher Jason. Meminta lelaki itu agar tidak menghentikan aksinya, karena Bianca sangat menyukainya, ya, sangat suka.

Tapi Jason berpikir lain. Ia sudah cukup lama menahan diri, jadi ia tak ingin menahan terlalu lama lagi.

Jason menghentikan semua aksinya hingga membuat Bianca menatapnya dengan kecewa. Jason tersenyum dengan tatapan Bianca tersebut. Kemudian ia berkata “Jangan kecewa, aku hanya akan memulainya lebih cepat dari yang kuinginkan.”

“Kenapa?”

“Aku tak bisa menahannya terlalu lama.” Jawab Jason sembari membuka celana yang ia kenakan.

Bianca tersenyum, lalu ia menyadari keadaannya yang masih perawan, apa ia harus mengatakan pada Jason tentang kenyataan tersebut? Bagaimana jika Jason memilih untuk menghentikan aksinya karena takut?

“Uuum, Jase. Aku boleh bilang seuatu?” tanya Bianca sedikit ragu.

“Ya, apa? Jangan bilang kalau kamu berubah pikiran.”

Bianca tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Uumm, aku, aku masih perawan.” Ucap Bianca dengan jujur.

Jason terpaku seketika. Ia menatap Bianca dengan tatapan tak percayanya. Dan hal itu membuat Bianca tidak nyaman.

“Uum, aku tahu ini akan menggelikan untuk kamu. Tapi aku benar-benar ingin melakukan ini. Dan aku mengatakannya padamu supaya kamu tidak kecewa karena kamu baru tahu kalau aku tidak pandai di atas ranjang.” Ucap Bianca panjang lebar dengan wajah merona karena malu.

Bukannya merasa takut dengan apa yang dikatakan Bianca, Jason malah segera menangkup kedua pipi Bianca kemudian menyambar bibir Bianca tanpa basa basi lagi.

Bianca terkejut dengan apa yang dilakukan Jason. Bahkan kini Jason sudah mengangkat tubuh Bianca dan membaringkan wanita tersebut di atas rajangnya. Jason menindih tubuh Bianca, tanpa menghentikan cumbuannya. Jemarinya mencoba melepaskan celana dalamnya sendiri dan berusaha untuk tidak melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Bianca.

Tak berapa lama, Jason sudah terbaring tanpa sehelai benangpun. Segera ia menurunkan pakaian dalam Bianca yang masih tersisa di tubuh wanita tersebut, hingga kemudian, keduanya sudah sama-sama polos dan siap dengan hubungan panas yang akan mereka lakukan.

“Aku, akan memulainya, Bee.” Bisik Jason dengan suara seraknya.

Bianca hanya menganggukkan kepalanya. Matanya menatap intens mata Jason yang juga sedang menatapnya. Keduanya saling beradu pandang. Mata Jason yang menyiratkan sebuah keberanian, sebuah tanggung jawab yang hanya bisa di artikan oleh lelaki itu sendiri. Sedangkan mata Bianca terpancar sebuah kepercayaan, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jason tidak akan menyakitinya dan Bianca percaya dengan hal itu.

Jason mencoba menyatukan diri. Awalnya sangat sulit, tapi setelah mencoba beberapa kali, akhirnya, Jason dapat menyatukan diri dengan sempurna. Bianca mengerang, tak pernah berpikir bahwa melepaskan kehormatannya akan terasa begitu sakit. Sakit tapi sangat intim.

Jemari Jason bahkan menenangkan Bianca dengan cara mengusap lembut pipi Bianca, ibu jarinya mengusap bibir bawah Bianca, dan hal tersebut memancing sebuah gelenyar dari dalam tubuh Bianca.

“Aku akan bergerak, aku akan bergerak.” Ucap Jason berulang kali. Berharap jika Bianca dapat meredakan rasa sakitnya dan mereka bisa segera memulai permainan panas di atas ranjang.

Bibir Jason lalu menyapu puncak payudara Bianca, sedangkan yang di bawah sana mulai bergerak menghujam dengan begitu lembut tapi pasti.

Bianca mengerang, mendesah dengan kenikmatan yang di berikan oleh Jason. Astaga, bahkan rasa sakit yang tadi ia rasakan kini menghilang entah kemana, digantikan dengan rasa aneh yang membuatnya dengan spontan ingin meneriakkan nama lelaki diatasnya tersebut.

“Jase… ohh…” Bianca mengerang. Dan karena erangan Bianca yang terdengar erotis di telinga Jason, Jason segera menghentikan aksinya. Ia kembali ke arah Bianca, dan menatap lembut wanita tersebut.

“Apa, aku menyakitimu?” tanya Jason dengan tubuh yang masih menyatu tapi tanpa pergerakan sedikitpun.

Bianca menggelengkan kepalanya. “Lakukan lagi, astaga, lakukan lagi.” Pereintah Bianca, bahkan kini, wanita itu sudah mencengkeram kedua pundak Jason.

“Kamu suka?” tanya Jason lagi.

“Ya, ya, ya. Aku suka.” Bianca menjawab dengan antusias.

Dan karena jawaban Bianca tersebut, Jason tersenyum. Ia meraih kedua tangan Bianca yang mencengkeram pundaknya, lalu memenjarakan tangan tersebut ke atas kepala Bianca dengan sebelah tangannya. Sedangkan sebelah tangan Jason yang lainnya mencoba mengarahkan wajah Bianca pada wajahnya. Jason kemudian mencumbu bibir Bianca dengan panas, pada saat bersamaan, tubuhnya mulai bergerak kembali, menghujam lagi dan lagi untuk mencari kenikmatan.

Keduanya hanyut dalam suasana panas dan intim. Jason merasa bahwa Bianca adalah wanita yang sangat luar biasa. Menggoda, menggairahkan dan tentunya memuaskan untuknya dalam hal di atas ranjang. Sedangkan Bianca sendiri, ia merasa bahwa Jason benar-benar panas, panas hingga membuatnya basah seketika dan memohon agar lelaki itu segera menyentuhnya.

Astaga, bagaimana mungkin Bianca bisa berpikir seperti itu? Bagaimana bisa seorang Jason mampu membuat fantasinya menjadi sebuah kenyataan?”

-TBC-

Catatan Cancer Warrior – Tiga

Comment 1 Standard

 

Ps. aku nggak tau, kenapa aku sangat emosional saat menulis bagian Tiga ini tadi pagi. Ya, aku merasakan perasaan seperti itu lagi hingga mungkin membuat bagian ini kurang dinikmati. 

***

aku ingat, saat itu adalah waktu ibu pulang dari rumah sakit. semua keluarga bisa tertawa karena mungkin merasa lega saat tahu bahwa ibu sudah membaik dan benjolan di payudaranya sudah di angkat. tapi tidak denganku. perkataan Dokter Muhammad terputar lagi dan lagi dalam pikiranku, hingga saat itu, aku tak kuasa menahan tangis saat diperjalanan pulang.

Suamiku bertanya. “Apa yang terjadi?” aku hanya menggelengkan kepala. ingin rasanya aku bercerita padanya, tapi bibir ini terasa kelu. lalu dia bertanya sekali lagi “Apa yang terjadi?” dan akhirnya aku memilih berbohong padanya.

“Mas, aku hanya takut, kamu nggak mau menerima keluargaku.”

“Kamu ngomong apa? mereka juga keluargaku.”

“Tapi Ibu bakal nggak bisa kerja lagi.” tangisku semakin menjadi. “Aku mau merawat dia, tapi aku takut kamu keberatan.”

Aku ingat, saat itu dia segera menghentikan kendaraan kami. ditengah hutan saat perjalanan pulang (Kebetulan rumahku melewati hutan-hutan). lalu dia berkata padaku. “Sayang, Kamu ngomong apa? kenapa kamu berpikiran pendek begitu denganku? selama ini, Kamu sudah menerima keluargaku, merawat mereka dari jauh, menyayangi mereka seperti keluargamu sendiri. kalau aku sampai mengabaikan keluargamu, maka tinggalkan saja aku.”

Ya, kurang lebih ucapannya seperti itu. dan hingga kini, aku mengingatnya. bahkan saat menulis kisah ini dan menulis kalimat di atas, mataku berkaca-kaca.

Sedikit bercerita, Suamiku itu memang bukan orang yang romantis, banyak diam, tapi aku tahu bahwa dia adalah orang yang super sekali pengertiannya. kadang, kediamannya membuatku salah paham, tapi bukankah itu yang namanya hubungan? penuh dengan kesalah pahaman.

baiklah, kita kembali lagi pada cerita awal. Akhirnya, aku tidak memiliki nyali untuk memberitahu suamiku. satu-satunya orang di dunia ini yang mengetahui apapun tentangku. aku tak punya satupun rahasia dengan dirinya, begitupun sebaliknya. kami sering bicara dari hati ke hati saat menjelang tidur, tapi malam itu, aku sama sekali tak bisa mengatakan kondisi Ibu pada suamiku.

akhirnya, aku memilih diam dan memendam semuanya sendiri. bisa dibayangkan, bagaimana stress dan terpuruknya aku saat itu.

Teman?

Ya, aku punya. banyak malah. karena menjadi penulis menambah banyak teman dikalangan penulis maupun reader. setiap harinya, Chat hapeku tak pernah sepi. reader2 yang dekat denganku hobby sekali menggangguku dan menerorku untuk lekas menyelesaikan ceritaku. sedangkan teman-teman penulisku biasanya sering curhat tentang masalah kepercayaan dirinya, maupun tentang yang lainnya hingga berakhir kami saling menyemangati satu sama lain. percayalah, aku mendapatkan kehidupan yang sempurna di dunia maya. tapi saat aku mendapatkan masalah ini, aku sama sekali tak berani bercerita dengan salah satunya.

Sebut saja Tania, dia salah satu teman terdekatku. penulis juga, yang sudah kuanggap sebagai belahan jiwaku. aku bahkan sempat berpikir, jika aku berjenis kelamin laki2 dan masih single, maka aku akan datang kerumahnya untuk menikahinya saat itu juga.

aku banyak bercerita dengan Tania, kebanyakan tentang problem hidup di dunia nyata, begitupun sebaliknya. dia juga sering bercerita padaku tentang dunia nyatanya. aku merasa sangat cocok denganya, bahkan dia termasuk dalam daftar salah satu orang yang ingin kutemui.

tapi saat aku mendapati masaah ini, aku tak bisa bercerita apapun padanya.

Barbie, temanku yang lainnya. pun sama. kebanyakaan dia sering buat aku ketawa. dan akupun tak bisa cerita padanya karena aku nggak mau berbagi kesedihan dengan dirinya.

Echa, dia teman yang benar-benar nyata. karena hanya Echalah teman yang sering mengunjungiku ke rumah. dan ya, bisa ditebak, aku nggaak mungkin bercerita padanya tentang semua ini.

aku merasa sendiri, aku merasa takut, aku merasa terpuruk. apalagi saat itu Dokter muhammad juga berkata padaku “Sepertinya ini ada faktor turunan”. well, itu yang membuatku semakin tidak tenang.

penyakit Kepo yang kuderita akhirnya kambuh. Aku melakukan pencarian lagi di situs internet, tentang penyebab Kanker Payudara dan sejenisnya. Astaga, aku benar-benar panik saat itu.

Oke, kita bisa memutus semuanya dengan kata ‘takdir’. tapi aku adalah salah satu orang yang rasional. yang ingin berpikir tentang sebab akibat. saat aku menerima kabar jika ibuku Kemungkinan menderita kanker Payudara, pertanyaan pertama yaang terlintas dalam kepalaku adalah, Kenapa dia? kenapa bisa dia?

Jika itu karena faktor makanan, aku pikir tidak. kenapa? karena semasa hidup, Ibu tak pernah makan enak. aku berani jamin. dia adalah orang kolot yang lebih suka masak sendiri ketimbang beli makanan di warung apalagi fastfood.

Minuman?

No!

 Dia hanya pernah minum air putih, sesekali kopi.

jadi, kemungkinan besar dia terkena penyakit itu adalah karena turunan.

Huuffttt… tenang.. tenang…. aku meminta diriku untuk lebih tenang dan tidak panik. lalu aku mengingat cerita ibu, bahwa dulu, nenekku juga pernah memiliki benjolan di payudaranya. Kakak dari Nenekku, meninggal karena penyakit di payudaranya. Anaknya kakak dari Nenekku, yang bernama Budhe Wati, juga memiliki benjolan di payudaranya, bahkan anak dari Budhe wati, sudah 2x operasi benjolan di payudaranya.

Fix! pikiranku semakin tidak tenang.

Bukan tentang aku, sungguh. yang kupikirkan adalah puteri kecilku. aku tidak bisa membayangkan dia sakit. aku tidak bisa membayangkan dia tergeletak di ranjang rumah sakit lagi. Aku pernah melihat dia sakit, memasuki Ruang Operasi sebanyak 3x karena keteledoranku. saat itu, dia masuk ke dalam Wajan besar yang penuh dengan air mendidih rebusan ayam. aku berteriak histeris, bahkan saat mengingat kejadian itu saja bulu kudukku meremang seketika. aku tidak bisa melihat dia sakit, aku tidak bisa. dan hal itulah yang membuatku ketakutan.

Informasi di internet membuatu semakin menggila. tertulis di sana, jika Kanker payudara memang kemungkinan besar bisa diturunkan oleh keturunannya.

satu-satunya harapanku saat itu adalah, Semoga Dokter muhammad salah. Semoga itu hanya benjolan biasa tanpa ada sel kanker seperti yang kutakutkan. semoga… semoga…. semoga… tapi sungguh, itu tidak menolongku sama sekali dari stress.

Aku tahu, aku butuh bicara. tapi aku tidak tahu harus bicara dengan siapa.

Chat di hp selalu menumpuk, dari readers, dari teman-teman, dari penulis-penulis baru yang ingin bergabung dengan penerbitan yang sedang kudirikan, dari orang-orang baru yang baru membaca ceritaku (biasanya dari Blog) dan ingin mengenalku secara dekat. tapi aku tak bisa bercerita pada mereka. aku tak bisa bercerita pada salah satunya secara acak. padahal aku tahu, kalaupun aku bercerita pada mereka, mereka tak akan mengatakannya pada Ibuku. kami hanya mengenal di dunia maya, tapi aku tetap tak bisa melakukannya.

Aku merasa duniaku runtuh. tak ada semangat menulis sama sekali. jangankan untuk menulis, untuk berpikir jernih saja susah. aku merasa ada beban berat di pundakku, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengurai beban tersebut.

lalu suatu malam, seorang Reader yang sangat sangat cerewet, menghubungiku. panggil saja dia Memey. si cina surabaya, biasa aku mengoloknya begitu.

Dia berkata melalui Chat “Mom, Elo kapan ngeluarin buku baru? gue mau ke malaysia, awas aja kalau elo ngeluarin buku saat gue di sana.”

Aku hanya menjawab, ‘Masih lama, elo ngapain di malaysia?’

Dan dia bercerita. ‘Gue mau chek up kesehatan. kemaren gue ngerasa ada benjolan gitu di salah satu payudara gue, gue takut kejadian nyokap gue terulang, jadi gue mau chek up semuanya, semoga apa yang gue takutin gak kejadian.’

percaya atau enggak, saat itu aku yang stress seketika itu juga seakan mendapatkan titik terang. kupikir, aku bisa bercerita padanya.

lalu aku bertanya padanya ‘Emangnya nyokap elo kenapa?’

“Dia kena kanker lambung.”

Degg.. Degg.. Degg…

“Dan sekarang?” tanyaku.

“Ya sudah meninggal. soalnya telat pas tau.”

Oh My, aku lemas seketika. 

Hai Memey, kalau kamu baca ini, sungguh, aku minta maaf karena pernah menanyakan hal itu padamu. aku bener-bener menyesal.

Dari caranya bercerita, Memey terlihat sangat tegar. dia bercerita semuanya, tentang Ibunya, pengobatannya, dan juga tentang dirinya sendiri. Dari sana aku bisa menangkap, kalau Memey juga memiliki ketakutan yang sama denganku. dia bahkan berkata padaku, bahwa jika nanti hasil pemeriksaannya baik-baik saja, dia bersumpah jika dia tidak akan makaan-makanan cepat saji lagi.

kemudian, meledaklah semua beban yang kupendam selama beberapa hari itu padanya.

Dengan Memey aku bisa bercerita semuanya, semua ketakutan yang kurasakan, semua kegalauanku, kegelisahanku, semua tangis terpendamku. dan dia bilang “Bangun Mom, itu belum terjadi. Ibu kamu bakal baik -baik saja, kamu juga akan baik-baik saja, dan anakmupun bakal baik-baik saja. itu belum terjadi, bangun dan berdoalah pada Tuhanmu agar semua itu tak terjadi.” Ya, kami memang berbeda keyakinan, tapi dia tak pernah bosan mengingatkan aku untuk sholat dan berdoa.

Bercerita padanya membuatku merasa plong. aku merasa lebih tegar dari sebelumnya. Memey mengemas semua percakapan serius kami dengan santai dan penuh canda. dan hal itu benar-benar membuatku nyaman.

Stress sedikit demi sedikit menghilang. kemudian, aku kembali menjalani hidup dan berusaha berpikir positif seperti yang dikatakan Memey. toh, vonis itu belum kami dapatkan, jadi, kenapa aku harus stress?

lalu, aku bertemu orang lainnya. kini, aku menganggap dia sebagai salah satu adikku. Fransiska namanya, nama asli, karena aku tahu dia nggak mungkin membaca cerita ini.

awal perkenalanku dengannya adalah saat itu di akun Gosip sedang ramai membahas tentang anak salah satu artis yang menderita kanker darah (Leukimia). dia berkomentaar di sana tentang ibunya yang terkena kanker payudara, dan dengan spontan, aku memberinya pesan pribadi melalui instagram.

kami berkenalan, dan dia banyak bercerita. Ibunya divonis kanker payudara sekitar Tiga tahun yang lalu, saat itu dia masih kuliah. dan saat mengetahui hal itu, dia sama terpukulnya seperti aku.

dia tidak keluar kamar selama kurang lebih seminggu lamanya, dia tidak kuliah selama berbulan-bulan. dan aku mengerti apa yang dirasakannya saat itu.

lalu dia bangkit, karena ibunya memiliki kemauan keras untuk sembuh. Ibunya di rawat di salah satu Rumah sakit kanker ternama dan terbaik di negeri ini. MRCCC (kalau nggak salah) nama Rsnya. disana dia menggunakan asuransi (Bpjs), dan sama sekali tidak dikenakan biaya. Fransiska bilang, bahkan banyak orang dari luar (negara tetangga) yang ikut berobat di sana.

kini, ibunya sudah dinyatakan bersih dari kanker. dan dia harus chek up minimal Enam bulan sekali ke Rs. Ya, Fransiska juga, karena katanya, keturunan kanker, lebih beresiko terkena kanker ketimbang orang normal pada umumnya.

Oke, mendengar cerita panjang dari Fransiska membuatku semangat. apalagi Memey saat itu juga bilang ‘Lagi pula, Kanker Payudara itu Survive hidupnya paling tinggi, jadi jangan terlalu stress, itu malah nggak baik buat kesehatan.’

aku memiliki semangat kembali dari mereka, aku memiliki kekuatan kembali, dan hal itulah yang membuatku berani membuka suara.

pertama-tama, aku mengatakan pada Tania, Echa, dan Barbie. lalu aku mengatakannya pada suamiku. kemudian, saat waktu senggang, aku memberanikan diri mengatakan pada ibuku.

Aku ingat saat itu di sore hari. dia bertanya padaku “Kapan hasil lab keluar?”

dan aku menjawab “Mungkin minggu depan.” aku diam sebentar untuk memberanikan diri mengatakan kemungkinan terburuk pada ibuku. lalu, terucaplah kalimat itu. “Kalau misalnya, hasilnya nggak sesuai harapan gimana Bu?”

“Nggak sesuai harapan gimana?”

“Kita kan berharap kalau itu tumor jinak, nah kalau jinak kan berarti pengobatan sudah selsai. sedangkan kalau sebaliknya, berarti perjalanan kita masih panjang.”

“Jadi?” tanyanya lagi.

“Kita harus mempersiapkan kemungkinan terburuknya, Bu.”

“Memangnya kalau ganas, aku harus apa?”

Aku menghela napas panjang. “Ya, harus di angkat payudaranya.”

“Kok diangkat? terus bagaimana?”

aku sedikit panik saat dia terlihat ketakutan “Ya, itu kan kemungkinan terburuk, dan itu belum pasti, Bu. misalnya, ini misalnya loh ya, kalau misalnya kemunginannya kayak begitu, Ibu mau di operasi lagi?”

“Gimana? aku takut.”

“Ibu nggak sendiri, ada aku.”

“Tapi yang operasi nanti kan aku.”

“Iya, tapi kemaren nggak apa-apa kan? kemaren nggak berasa kan?”

“Iya juga sih.” jawabnya.

“Jadi, Ibu mau di operaasi lagi kalau misalnya…”

“Kalau setelah itu bisa sembuh, aku mau.”

Alhamdulillah. tak ada kelegaan yang kurasakan seperti saat itu. beban-beban yang menumpuk beberapa hari belakangan sirnah sudah setelah mengetahui jawaban ibuku tersebut. aku merasa dia bisa menerimanya, aku merasa dia bisa menghadapinya. dan hal itu pulalah yang membuatku tegar dan seakan berani menghadapi apapun kenyataan dihadapan kami.

Lalu…….

mimpi buruk itu benar-benar nyata.

Saat hasil lab keluar. Dokter benar-benar memvonis Ibuku Kanker Payudara stadium 2 Grade III. Dokter berkata Payudaranya harus segera diangkat (Kalau setuju). dan, kami menangis berdua di dalam ruang Dokter saat itu.

Hari itu masuk ke dalam jajaran Hari terburuk dalam hidupku. Ibuku tak berhenti gemetar, tangisnya membuatku ikut menangis. bahkan saat keluar dari Ruangan Dokter muhammad, tangisnya pecah. dia memelukku, dan tak berhenti bertanya ‘Aku harus bagaimana? aku harus bagaimana? aku harus bagaimana?’ berkali-kali tanpa putus.

Aku ikut menangis, bahkan puteri kecilku yang saat itu kuajak ke rumah sakit pun, ikut menangis.

Kami menangis bersama…

aku merasakan apa yang dia rasakan..

aku merasakan bagaimana ketakutannya…

aku merasakan bagimana kegelisahan dan kekhawatirannya…

Aku harus bagaimana? apa yang harus kulakukan selanjutnya? itupulalah pertanyaan yang ada dibenakku saat itu.

Samarinda

10 – Oktober – 2018

Catatan Cancer Warrior – Dua

Leave a comment Standard

 

 

Menjadi penulis membuatku dapat menciptakan kebahagiaanku sendiri, meski sebenarnya banyak tekanan hidup di dunia nyata. Sering kali aku menyebutnya sebagai sebuah pelarian. Aku sangat suka menulis, dan hal itu membuatku lupa dengan masalah besar yang seharusnya kuhadapi di dunia nyata.

Tepatnya, akhir Juni, Bapak telepon dan berkata jika Ibu sakit. Malam itu juga, melewati hutan-hutan yang panjangnya hampir 37 Km, aku ke rumah Ibu dan Bapak.

Ibu bilang jika dia merasakan dadanya panas, sesak, perut tidak enak, dan sejenisnya. Padahal setahuku, Ibu tidak pernah mengalami sakit seperti itu. Aku sempat mengajaknya ke IGD, tapi dia menolak mentah-mentah.

Ya, sebelumnya, dia memang belum pernah di rawat di rumah sakit. Karena itulah, mendengaar kata IGD membuatnya ngeri. Ibu berkata jika dia ingin periksa ke Dokter langganannya. Dan akhrnya aku menyetujui apapun keinginannya.

Esoknya, kami benar-benar ke Dokter. Sebenarnya, Dokter hanya memeriksa tekanan darah, gula, kolesterol dan sejenisnya. Dokter lalu meresepkan obat. Dan pada saat itu, entah kenapa Ibuku berkata dengan sendirinya pada dokter terseut.

“Dok, saya ada benjolan di payudara saya, apa in berhubungan dengan sakitnya saya?”

Aku terkejut, tentu saja.

Sejak hari dimana aku dengan sok tahunya memvonis ibuku itu, kami tak pernah lagi membahas tentang benjolan itu lagi. Ibu tampak baik-baik saja, dan kupikir, obat itu bekerja dengan baik. Tapi saat ibu menanyakan hal itu secara langsung pada Dokter, aku melihat sebuah kekhawatiran di wajahnya. Ketakutan itu tampak jelas terlihat, dan bodohnya, selama ini aku tak memperhatikaan hal itu.

Dia tertekan, aku tahu itu. dia tertekan dan dia tidak memiliki orang yang bisa diajak bicara.

Aku lebih fokus dengan keluarga kecilku, aku lebih fokus dengan dunia fantasiku hingga aku tidak tahu, bahwa dia sebenarnya sangat membutuhkan dukungan dariku.

Tuhan! Aku benar-benar tak berguna!

Mendengar itu, Dokter meminta ibuku kembali berbaring, dan dia mulai memeriksa dimana letak benjolan tersebut.

“Besar ini Bu, Ibu ada Bpjs? Kalau ada langsung konsul ke rumah sakit saja Bu. Bawa surat rujukan dulu dari Faskes pertama.” Dokter menyarankan.

“Apa parah, Dok? Apa itu yang membuat ibu saya sakit sesak seperti kemarin.” Tanyaku kemudian.

“Semuanya butuh pemeriksaan lebih lanjut, Mbak. Tidak bisa langsung di diagnosis. Lebih baik langsung ke spesialis tumornya. Nanti di sana Dokternya yang akan menangani.”

Takut, tentu saja. Bahkan wajah ibukupun tampak pucat dibuatnya. Astaga…. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Pikirku saat itu.

***

20 Juli 2018

Sebenarnya, Ibu tidak ingin melakukan ini. Tapi karena sejak saat itu aku khawatir dan aku melihat dengan jelas bagaimana dia juga khawatir dengan keadaannya sendiri sampai darah tingginya kambuh, akhirnya aku memintanya periksa ke Dokter Spesialis onkologi. Tiga hari sebelumnya, kami sudah berkonsultasi, lalu tgl 20 juli ini, Ibu melakukan pemeriksaan USG Mamae seperti yang di jadwalkan.

Sejak pagi, kami di Rumah sakit. Melakukan USG lalu bertemu lagi dengan Dokternya, Dokter Muhammad Sp. B Onk sorenya untuk membaca hasil USG tersebut.

“Lumayan besar, Bu. Dan nggak hanya satu. Harus di angkat ini.” Ucap Dokter Muhammad sembari membaca hasil USG ibuku tersebut.

“Operasi, Dok?” tanyaku kemudian.

“Ya, Mbak. Harus di operasi ini.”

“Tapi itu nggak ganas kan Dok?” tanyaku lagi.

“Kalau di lihat dari ciri-cirinya dan juga dari gambar USG seharusnya ini nggak ganas. Tapi kita tidak bisa mendiagnosis hanya dari gambar. Nanti, kalau sudah di angkat, akan ada tahap Patologi anatomi, yaitu benjolan yang diangkat itu akan diteliti lagi di Lab, untuk memastikan ganas atau tidaknya.”

“Kalau jinak bagaimana? Dan kalau ganas bagaimana?” aku masih tak ingin diam.

Dokter Muhammad tersenyum. “Kalau Jinak, alhamdulillah, pengobatan slesai, tapi kalau ganas, akan ada tahapan pengobatan selanjutnya.”

Aku menatap ke arah Ibu seketika. “Ibu mau di operasi?”

“Gimana? Aku takut.” Jawabnya.

“Nggak apa-apa, Bu. Kan nanti di bius.” Dokter Muhammad menenangkan dengan begitu sabar. “Saya sendiri yang operasi Bu, insha allah baik-baik saja. Yang penting berdo’a ya Bu.”

Akhirnya, Ibuku memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Dia hanya ingin jika semua ini segera selesai dan dia tidak kepikiran lagi. Akupun demikian, aku mendukung penuh apapun arahan dari Dokter. A Ibu akhirnya mendapatkan jadwal Operasi tgl 26 Juli 2018.

***

26 Juli 2018

Jam 5 sore, Ibu masuk ruang operasi. Lama kami menunggu, sekitar Jam 7 Ibu keluar ddari ruang operasi dan diaa sudah sadar sepenuhnya. Dia menatapku dan tersenyum , matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi tampak jelas kelegaan di wajahnya.

“Gimana Bu?” tanyaku saat kami memasuki lift menuju ke ruang perawatan yang berada di lantai Tiga rumah sakit tersebut.

“Aku nggak ingat apa-apa. Dokternya mijetin aku, suruh aku baca Do’a. lalu ada dokter yang lain suruh baca Bismillah sebelum nyuntik di pangkal infusku. Lalu aku nggak ingat apapun.”

“Nggak sakit kan?” tanyaku kemudian.

“Iya, nggak sakit. Malah tadi, aku di bangunin suster. ‘Bu, bangun, Bu, bangun. Sudah selesei operasinya.’ Aku buka mataku, terus aku jawab ‘Belum’ Susternya ketawa terus bilang ‘Maksudnya, Ibu sudah selesai di Operasi, Bu.’ Abis itu aku merasa plong banget.”

Aku tertawa mendengar ceritanya. Ternyata, dia mampu melewati semuanya. Kupikir, dia akan menyerah.

Melihat Ibuku yang kondisinya sangat baik itu, membuatku semangat. Ya, dia akan sembuh aku tahu itu. tapi ternyata, mimpi burukku saat itu belum di mulai.

Esoknya. Tepatnya tanggal 27 Juli. Saat kami sedang asyik di ruang rawat Ibuku. Dokter Muhammad datang, dia memeriksa ibuku dengan sesekali bercanda di sana. Ya, Dokternya memang sangat ramah dan luar biasa. Aku bahkan merasa sangat dekat dengannya.

Saat dia keluar dari ruang inap ibuku, aku melihat dia melambaikan tangannya padaku, seakan-akan memintaku untuk menemuinya. Akhirnya, aku menuruti saja. Dan aku menemuinya di ruang perawat yang berada tepat di sebelah ruang inap ibuku.

“Ya, Dok. Ada apa?” tanyaku. Aku sedikit curiga karena saat itu, Dokter Muhammad sudah menampilkan raut wajah seriusnya. Tak ada lagi senyum terukir seperti di ruang inap ibuku tadi.

“Mbak jangan panik, Ya. Saya mau bilang ini supaya nanti mbak nggak kaget. Sepertinya ada kemungkinan ini ganas, Mbak.”

“Apa? Maksud Dokter?”

“Benjolannya tidak hanya satu, dan beruntung segera ketahuan. Ada benjolan lainnya yang kemungkinan besar ganas.”

Aku ternganga tak bisa membuka suara satu katapun.

“Kemungkinan Ibu kena Kanker Payudara. Tapi lebih pastinya kita tunggu hasil PA ya Mbak. Jangan bilang sama Ibunya dulu, kita berdoa saja semoga saya salah.”

“Kalau, kalau itu beneran ganas, bagaimana, Dok?”

“Ada pengobatan selanjutnya, biasanya kalau ukurannya besar dan sudah menyebar, kita rekomendasikan untuk kemoterapi dulu, baru pengangkatan Payudara. Tapi kalau ukurannya masih kecil, kami rekomendasikan segera di angkat saja payudara beserja jaringannya.”

“Maksudnya, Ibu saya bakal nggak punya payudara lagi?”

“Iya, Mbak, memang seperti itu prosedur pengobatan dari Kami. Tapi tentunya itu meminta persetujuan dari pasiennya. Jika pasiennya tidak ingin, Ya, kami tidak memaksa.”

“Apa nggak ada lagi pengobatan yang lain selain mengangkat payudaranya, Dok?”

Dokter Muhamman menggelengkan kepalanya. “Dari kami, prosedur pengobatannya memang seperti itu.”

Mataku berkaca-kaca seketika. Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. Aku ingin menangis, tapi Dokter bilang kalau aku tidak boleh mengatakan apapun pada Ibu atau keluargaku yang lain sebelum hasilnya benar-benar keluar.

Dengan sedikit lemas, aku kembai ke ruang inap ibuku yang di sana ternyata sudah ada beberapa saudaraku. Kalian tahu apa yang kulakukan di sana? Aku tertawa lebar dan berkata jika malam itu juga, Ibu sudah boleh pulang. Semuanya baik-baik saja, tinggal kontrol saja. Lalu entah mereka kembali membahas apa sembari saling melemparkan candaan.

Aku ikut tersenyum, ikut tertawa, tapi dalam hati, aku merasakan kekhawatiran yang amat sangat. Ketakutan seakan menghantuiku, menyelimuti diriku, padahal di sisi lain, aku harus tetap tersenyum dan menunjukkan jika semuanya baik-baik saja.

Tuhan! Kenapa ini terjadi padaku?

Samarinda 

10 oktober 2018