romantis

Baby, oh Baby! – Epilog

 

Epilog

 

-Dimitri-

 

“Ben…. Ben… Sayang, dimana kau?” Teriakan Rosaline membuatku dan juga Ben terkikik geli. Saat ini, kami berdua sedang bersembunyi di dalam rumah pohon yang memang sudah kubangun untuk Ben. Rumah diatas sebuah pohon di halaman rumah kami.

Usia Ben saat ini sudah menginjak Lima tahun, dan dia sudah mulai bersekolah. Hari ini adalah hari dimana kami akan mengadakan pesta perayaan Halloween. Dan sepanjang pagi tadi, Rosaline sibuk menyiapkan segala sesuatunya di dapur kami. Ya, dia selalu saja seperti itu.

Suara anjing membuat Ben kesal hingga berkata “Daddy, Snowky dan anak-anaknya akan menunjukkan persembunyian kita pada Mommy.”

Ya, Snowky, Anjing kami itu kini sudah memiliki banyak anak. Sebagian sudah diadopsi oleh beberapa dog lovers, tapi beberapa diantaranya masih tinggal. Ada Timmy, Billy, Kessy, Chelly, dan entah apa lagi. Aku bahkan sulit mengingat namanya. Tapi aku senang, dengan adanya mereka, rumah kami jadi semakin ramai.

“Hai, Mom tahu kalau kalian berada di atas sana, ayo turun. Autny Ana sudah datang. Grandma dan Grandpa juga sudah datang.”

Aunty.” Ben akhirnya keluar saat mendengar nama Ana di sebut. Ya, dia memang begitu menyayangi Ana, dan aku tidak bisa melarangnya.

Ben menuruni anak tangga, lalu aku pun demikian. Kulihat Rosaline sudah berdiri di bawah pohon ini sembari berkacak pinggang. Aku melihatnya dari atas, tampak cantik, dan akan selalu seperti itu. Apalagi ketika dia berbadan dua seperti saat ini. ya, dia kembali mengandung bayi kedua kami. Hebat bukan?

Ben berlari masuk ke dalam. Aku melihat ada dua mobil di depan garasi rumah kami. Ya, itu pasti mobil Sean, suami Ana, dan juga mobil orang tuaku yang selalu kuundang jika kami memiliki perayaan-perayaan kecil seperti saat ini.

“Hai Baby.” Aku menyapa Rosaline, kukecup lembut puncak kepalanya, tapi dia masih tidak berhenti memanyunkan bibirnya. “Ada apa?” tanyaku padanya.

“Apa kau tidak bisa membantuku di dapur? Astaga, bahkan tamu kita sudah berdatangan, dan kau masih asyik bermain di dalam rumah pohon. Jika saja perutku belum sebesar ini, mungkin aku akan ikut naik dan menyeretmu dari sana.”

Aku tertawa lebar. “Kau tampak semakin cantik saat sedang marah.”

“Ya, teruskan saja kau merayu, aku tidak peduli.”

“Bagaimana dengan Alan? Dia belum datang, bukan?”

“Belum, karena dia menjemput calon istrinya terlebih dahulu sebelum kemari.” Ya, Akhirnya akupun juga ikut berteman dengan Si pemilik anjing.

Rosaline akan pergi, tapi kemudian ia menghentikan langkahnya saat ada seorang lelaki dan perempuan datang ke rumah kami dengan seorang puteri kecilnya.

“Selamat Sore, Happy Halloween, bibi, kami mau minta permen.” Ucap si gadis kecil itu dengan begitu lucunya lengkap dengan kostum dan make up penyihir yang dikenakannya, hingga membuat Rosaline tersenyum gemas dengan gadis tersebut. Sedangkan sang kedua orang tua hanya berdiri di luar pagar rumah kami.

“Hei, siapa namamu? Bibi baru melihatmu di sekitar sini?”

“Andrea Alexander.”

Well, Andrea, bukankah ini terlalu sore untuk meminta permen?” tanya Rosaline dengan lembut penuh perhatian. Lalu fokus Rosaline jatuh pada kedua orang tua Andrea dan dia menggumam. “Sepertinya dia cukup familiar.”

“Siapa?” tanyaku.

Kedua orang tua Andrea datang menghampiri kami dan mengulurkan jemarinya. “Halo, Samantha Brown. Panggil saja Sam. Kami baru pindah minggu lalu di sebelah kalian.” Ucap ibu Andrea sembari menunjuk rumah di sebelah kanan rumah kami.

“Oh, tetangga baru. Rose Dawson.” Balas Rose sembari menyambut uluran tangan perempuan yang mengaku bernama Samantha tersebut.

“Dimitri.” Aku segera mengulurkan jemariku berharap bisa berkenalan dengan ayah Andrea.

“Nick.” Balas lelaki di hadapanku itu sembari menjabat tanganku.

“Oh, jadi Anda benar-benar Nick? Nick Alexander, bukan?” tanya Rosaline antusias.

Nick dan istrinya tertawa. “Ya, begitulah, Rose.” Samantha yang menjawab.

“Astaga, aku tidak menyangka kita akan bertetangga. Well, jika berkenan, kalian kami undang untuk menghadiri pesta kebun yang kami selenggarakan nanti malam di rumah kami.” Lanjut Rosaline.

“Ya, kalian bisa datang. Ben pasti senang jika memiliki teman baru.” Tambahku.

“Ben?” Pertanyaan Nick ditunjukkan padaku.

“Ya, putera kecil kami.”

“Jadi, kalian mengadakan pesta?” kali ini Samantha yang bertanya.

“Ya, tentu saja. Dan kau Sayang,” Rosaline menunduk sembari mengusap lembut poni Andrea. “Nanti malam akan ada banyak permen untukmu. Kalian bisa datang, bukan?”

“Ya, tentu saja. Kami akan datang. Bukan begitu, Nick?” Samantha yang menjawab.

“Ya, pasti.”

Setelah sedikit berbasa-basi, keduanya akhirnya pamit untuk mengunjungi tetangga lainnya. Sedangkan aku dan Rosaline segera masuk ke dalam rumah.

“Astaga, aku masih tidak menyangka jika Nick Alexander menjadi tetanggaku. Ana harus tahu.”  Ucapnya masih dengan begitu antusias. Dan aku mendengus sebal.

“Memangnya dia siapa?” tanyaku, tapi Rosaline tidak menghiraukanku dan segera menuju ke arah Ana yang sedang duduk di kursi meja makan dengan suaminya, Sean.

Aku melihat ke arah dapur, Ibu rupanya sedang membuat sesuatu di sana, sedangkan di taman samping rumah, ayahku sedang bermain dengan Ben, Snowky dan anak-anaknya. Aku senang melihat semuanya.

“Ana, kau tidak akan percaya siapa yang tinggal di sebelah rumah kami.”

“Memangnya siapa?” tanya Ana sedikit malas.

“Nick Alexander.”

Ana yang tadi sedang menyantap panekuk akhirnya tersedak seketika saat mendengar jawaban dari Rosaline.

“Kau yakin?” tanya Ana yang tampak tak percaya dengan apa yang telah ia dengar.

“Ya, dan nanti malam dia akan datang di pesta kita. Astaga, aku ingin dia mengusap perutku nanti.”

“Hei, apa-apaan kau, Baby?” Aku segera membuka suara. “Lagi pula, dia siapa? Dan apa kau lupa kalau dia sudah beristri?”

Sean malah tertawa lebar. “Bung, kau harus sabar menghadapi kedua penggemar fanatik seorang Nick Alexander ini.”

“Dia siapa?” aku bertanya sekali lagi, kali ini kepada Sean.

“Salah satu model dan aktor papan atas yang paling digandrungi di New York. Percaya atau tidak, Ana bahkan sering menyebut namanya saat orgasme.” Jawab Sean dengan santai sembari menyantap panekuknya.

“Sean!” Rosaline dan Ana berseru keras pada Sean. Sedangkan lelaki itu malah tertawa lebar menertawakan kedua perempuan di hadapannya.

Aku duduk dan mendengus sebal. Lalu dengan manja, Rosaline duduk di atas pangkuanku. “Ayolah, baby. Ini hanya semacam seorang fans yang bertemu idolanya. Kau tidak perlu merajuk, oke?”

“Aku hanya sedikit kesal.” Jawabku.

“Astaga, dia begitu panas. Foto-fotonya di majalah membuat para wanita meneteskan liurnya.” Ana berkomentar.

“Termasuk kau.” Sean menyahut.

“Kau, tidak terganggu, Sean?” tanyaku pada Sean, karena kupikir lelaki itu sama sekali tidak terganggu saat pasangannya begitu antusias menceritakan lawan jenisnya.

“Tidak. Ana milikku, semua orang tahu itu. Untuk apa aku terganggu dengan fantasinya?”

“Aku tidak sedang berfantasi, Sean.”

Aku menggelengkan kepala saat mendapati interaksi keduanya. Ya, pasangan dihadapanku ini memang unik. Sean yang cuek, Ana yang selalu ceria.

“Apa yang kau sukai dari dia?” tanyaku pada Rosaline. Ya, bagaimanapun juga, aku tidak suka saat istriku mengagumi pria lain. Dan kemana saja aku selama ini sampai tidak tahu apa yang dia sukai?

“Nick itu model panas, dan menarik. Tapi yang kusukai dari dia adalah, dia cukup misterius di depan publik, dan satu lagi, dia sangat romantis. Apa kau tahu, dia menuliskan sebuah buku untuk mengungkapkan isi hatinya pada istrinya. Astaga, aku bahkan sampai tersentuh dan menangis saat membacanya. Sayang, dia sudah mengundurkan diri dari dunia hiburan, jadi kami hampir tak pernah melihatnya lagi selain sesekali keluar di majalah bisnis.”

Aku kembali mendengus sebal. “Apa aku harus menulis buku dulu untuk merebut perhatianmu dari dia?” Sindirku.

“Astaga, Baby. Maksudku, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan keromantisannya pada pasangannya. Kau tak perlu melakukannya, karena aku tahu, kau memiliki cara sendiri untuk membuatmu terlihat romantis di mataku.”

“Benarkah? Misalnya?”

Rosaline tampak sedikit berpikir. “Uuum, membersihkan kolam renang, menyapu, menyuci piring, memijat dan masih banyak lagi.” Ana dan Sean tertawa lebar. Begitupun dengan Rosaline. Dan aku semakin kesal dibuatnya.

“Baiklah, kupikir kalian siap mendengarkan aku.” Ana membuka suara setelah puas menertawakan aku. “Aku hamil.” Ucap Ana dengan bahagia.

Rosaline bangkit seketika dan menghampiri Ana. “Kau yakin?”

“Ya, Aaahh, senang sekali bisa melewati masa kehamilanku bersama denganmu.” Ucapnya sembari memeluk tubuh Rosaline.

“Ya, Astaga, aku juga sangat senang.”

“Sepertinya kita akan semakin gila dengan dua orang wanita hamil di sekitar kita.” Sean berkata padaku. Lalu Sean mengangkat gelasnya yang berisi jus dan berkata “Untuk kehamilan.”

Aku tersenyum, menggelengkan kepalaku. Rose dan Ana mengangkat gelas mereka dan berkata bersama “Untuk kehamilan.” Dan akupun mau tidak mau ikut bersulang dengan mereka. Sembari mengangkat gelasku aku berkata “Untuk kehamilan.” Lalu menegak jus di dalam gelasku hingga tandas.

Kami tertawa bersama, saling menceritakan kejadian menarik kami sehari-hari. Melemparkan lelucon-lelucon bahagia hingga tiba-tiba membuatku berpikir. Inikah akhirnya?

Ya. Inilah akhirnya. Terkadang, aku sedikit menyesal, dan berpikir, andai saja Katavia saat itu mau lebih berusaha lagi, mungkin dia akan sembuh, mungkin dia akan berada di antara kami, tertawa bersama dengan pasangannya. Tapi aku tahu, beginilah kenyataannya, beginilah akhirnya. Meski Katavia tidak berada di sini, tapi aku yakin jika dia ikut tersenyum bahagia di sana melihat kebahagiaan kami. Ya, disana dia sudah sembuh, disana dia sudah bahagia, dan disini, akupun demikian.

Rosaline, Ben, dan calon bayi kedua kami, aku akan selalu bahagia bersama dengan mereka….. Ya, selamanya….

-The End-

yaaaaayyyyy makasih banyak buat semuanya yang sudah mau baca dari awal sampek akhir. nggak nyangka kalo bakal tamat secepat ini. hehehhe. Next, aku akan ngebut pak Epan ya… semoga sabar nunggu, sete;ah itu aku ngebut Bianca. yeaaayyy selamat berpuasa semuanyaaa…

3 thoughts on “Baby, oh Baby! – Epilog”

  1. Astagah knp nick tiba” muncul dsni , bahagia na q palagi ql ada squel certa mereka nanti 😀😀
    sukses trus yaa bu dan .makasih udah nge up dimi sampe ending , q kadang bingung dari mn ibu dapet ide sehingga certa dimi biza sekeren ini .
    d tunggu karya selanjut na dan selamat menikmati liburan na , siapa tau ketemu ma mantan 🙊🙊😁😁😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s