romantis

Baby, oh Baby! – Chapter 20 (Rumah baru, kebahagiaan baru)

 

 

Chapter 20

Rumah baru, kebahagiaan baru

 

Mitya, kau berkata jika kau suka saat aku memanggilmu seperti ini. tapi apa kau tahu jika aku membencinya? Ya, aku ingin memanggilmu dengan menggunakan namamu saja, seperti yang dilakukan Ana, seperti yang dilakukan Rosaline, karena kupikir, itu akan merubah pandanganmu terhadapku, tapi ternyata aku salah.

Mitya, jika kau bertanya seberapa besar aku mencintaimu, maka aku tak dapat menjawabnya. Aku bahkan tidak mengerti, inikah yang dinamakan cinta?

Maaf, aku melakukan hal ini. karena sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah rela melihatmu bersama dengan perempuan lain.

Ada sedikit keinginan, suatu saat nanti, kita bisa hidup bahagia bersama sebagai sebuah keluarga, seperti masa kecil kita dulu. Lalu putera dan puterimu memanggiku dengan panggilan ‘Aunty’. Kau bersama dengan perempuan yang kau cintai, sedangkan aku sudah menemukan penggantimu yang begitu kucintai. Tapi kupikir, semua itu hanya anganku, hanya bayang semu, saat diriku sendiri belum dapat membunuh kecenderunganku yang menyimpang.

Aku mencintaimu, Mitya. Kau tahu itu.

Tapi aku tidak bisa melihatmu sedih saat aku mengucapkan kalimat itu padamu.

Karena itu aku melakukan ini.

Pergi jauh, sejauh yang kubisa. Mengobati hatiku yang kau patahkan, lalu membiarkanmu bahagia, meski bukan aku yang ada di sisimu.

Aku mencintaimu, Dimitri….

 

Entah, sudah berapa kali Dimitri membaca surat peninggalan dari Katavia tersebut. Saat ini, dirinya berada di dalam pesawat yang menuju ke New York. Ya, ia tetap kembali ke New York setelah pemakaman Katavia tadi pagi.

Dimitri memejamkan matanya, memijit pelipisnya saat mengingat kembali apa yang sudah dilakukan Katavia hingga meninggalkan duka yang begitu dalam pada dirinya dan juga keluarga mereka.

Ya, kemarin, Katavia melompat dari ruang inapnya di rumah sakit yang berada di lantai Sepuluh. Gadis itu tewas seketika, hanya meninggalkannya sebuah surat yang kini berada di dalam genggaman tangannya.

Dimitri sangat menyesalkan hal itu. Kenapa Katavia melakukannya? Kenapa gadis itu memilih jalan pintas seperti itu daripada berusaha untuk sembuh?

Sang ibu tak berhenti menangis. Tapi tak ada lagi yang dapat ia lakukan selain menenangkan ibunya. Ya, Dirinya juga hancur, semuanya hancur karena kepergian Katavia. Lalu apa? Apa memang ini tujuan Katavia agar semua ikut hancur bersamanya?

***

Dini hari, Rosaline terbangun saat mendengar pintu flatnya diketuk oleh seseorang. Ya, malam ini, ia sengaja tidur di sofa ruang tengah, karena ia tahu bahwa Dimitri hari ini kembali ke New York, dan entah apa yang membuat dirinya menunggu lelaki tersebut.

Mungkin, Rosaline tahu jika Dimitri akan ke flatnya, mengingat lelaki itu pasti butuh teman karena apa yang sudah terjadi.

Kemarin, Ana memberi kabar buruk tentang Katavia yang telah meninggal karena bunuh diri. Sungguh, Rosaline tak menyangka jika akan seperti ini akhirnya. Meski ia tak seberapa menyukai Katavia, tapi tetap saja, gadis itu tentu sangat berarti untuk Dimitri, jadi sudah pasti, jika Dimitri akan terpukul oleh kepergian Katavia.

Rosaline bangkit, menuju ke arah pintu flatnya, lalu membukanya. Dan benar saja, ia sudah mendapati Dimitri yang berdiri di sana dengan wajah lelahnya.

“Hai.” Sapa Dimitri.

“Hai.” Balas Rosaline sembari menyunggingkan senyumannya.

Lalu tanpa di duga. Dimitri segera pepeluk tubuh Rosaline, memeluknya erat-erat, dan mulai terisak di sana.

Rosaline sendiri tidak menyangka jika Dimitri akan memperlihatkan sisi rapuhnya pada dirinya. Lelaki itu biasanya selalu bersikap tegas, mengintimidasi, dan sikap-sikap lainnya, tapi lelaki itu tak pernah sekalipun menunjukkan kerapuhannya seperti saat ini.

Dengan spontan, Rosaline membalas pelukan Dimitri, lalu mengusap-usap punggung lelaki itu dengan lembut.

It’s, okay, bukan salahmu, semua akan baik-baik saja.” Ucap Rosaline berkali-kali sembari menenangkan Dimitri dengan mengusap-usap punggung lelaki tersebut. Ya, Dimitri membutuhkan seseorang untuk menopangnya saat ini, lelaki itu tampak sangat rapuh, dan entah kenapa Rosaline ingin menjadi penopang dari lelaki tersebut. Apa salah?

***

Saat ini, Rosaline tengan terbaring memeluk Dimitri di atas ranjangnya. Lelaki itu menenggelamkan wajahnya pada dada Rosaline, sedangkan Rosaline sendiri hanya bisa mengusap-usap lembut rambut Dimitri.

Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir lelaki tersebut, tapi Rosaline mengerti. Dimitri masih sangat terpukul, dan ia tahu jika lelaki itu belum siap bercerita kepadanya.

“Rose, apa kau mau memaafkanku?” tiba-tiba Dimitri membuka suaranya.

“Kau sadar dimana letak kesalahanmu hingga kau meminta maaf padaku?”

“Aku sudah terlalu banyak salah, Rose. Aku mempermainkanmu, aku membuatmu sakit, dan aku terlalu pengecut.”

“Kau, tidak seperti itu.”

“Ya, aku seperti itu. Aku sama sekali tidak tegas, jika dari awal aku bisa lebih tegas lagi, mungkin ini semua tak akan terjadi.”

“Dimitri, cukup. Jangan menyalakan dirimu sendiri. Kau sudah cukup tegas, jika kau kurang tegas, mungkin kau sudah menerima perasannya saat ini. kau sudah melakukan yang terbaik. Jadi jangan salahkan dirimu lagi.”

“Aku hanya menyesal, karena dia memilih pergi daripada berjuang melawan perasaannya.”

Rosaline menghela napas panjang. “Ya, itu wajar. Semua akan menyesal, semua akan berduka jika melihat orang yang disayanginya pergi begitu saja. Itu wajar.”

“Rose, maafkan aku.” Dimitri melirih sekali lagi.

Rosaline mengeratkan pelukannya. “Ya, aku sudah memaafkanmu, tidurlah.” ucapnya lembut sembari mengecup puncak kepala Dimitri.

Ahh, lelaki ini, kenapa membuat dadanya sesak saat melihatnya serapuh ini? Rosaline tidak suka melihat Dimitri sedih seperti ini, Rose ingin melihat senyum lelaki ini lagi. Ya, ia akan mendapatkannya nanti, setelah semua ini berlalu dan mereka kembali membuka lembaran baru.

***

Satu bulan kemudian…..

-Rosaline-

Pagi ini adalah pagi yang begitu cerah untukku. Aku melaluinya dengan begitu semangat. Membuatkan Dimitri sarapan sepagi mungkin, karena aku ingin, pagi ini kami berangkat ke rumah sakit sepagi mungkin.

Ya, ini adalah hari dimana Ben sudah diperbolehkan keluar dari rumah satit. Oh, Baby ku, putera kecilku yang begitu mungil. Aku tak sabar untuk selalu membawanya dalam dekapanku. Setiap hari, kami memang selalu pergi ke rumah sakit, mengunjungi Ben. Ana berkata jika sentuhan dan dekapan ibu memang bagus untuk pertumbuhannya. Dan ya, aku melakukan apa yang disarankan Ana.

“Pagi, Sweetheart.” Dimitri menyapaku sembari mengecup lembut pipiku. Sedangkan aku sendiri, masih sibuk menyiapkan makanan Snowky.

“Hei, pagi.” Sapaku balik. “Itu kopi dan rotimu, aku akan bersiap-siap dulu.”

“Ya, santai saja.”

“Aku tidak bisa santai, aku ingin ke sana secepat mungkin. Ahh, aku bahkan tak sabar untuk menggendongnya lalu membawanya pulang.”

Dimitri tertawa melihat tingkahku. Ya, dan aku sangat menyukainya ketika dia menampilkan tawa spontannya.

Tuhan, aku benar-benar menyuaki lelaki ini.

“Baiklah, aku akan ke depan untuk memanaskan mobil.” Dimitri bangkit, dan Snowky mengikutinya. Dasar anjing nakal, saat ini, Snowky bahkan memilih untuk lebih dekat dengan Dimitri ketimbang denganku.

“Snowky, habiskan makananmu.” Teriakku dari dalam kamar, pintu kamarku terbuka jadi aku dapat melihat dengan jelas saat Snowky mengikuti Dimitri, padahal saat ini aku sedang mengenakan braku.

Ya, selama sebulan terakhir, beginilah kehidupan kami. Kami bersama, saling mendukung, saling memiliki, tak ada lagi kecanggungan diantara kami, padahal kupikir, masih ada yang perlu kami selesaikan. Tapi aku tidak ingin merusak semuanya dengan pemikiran-pemikiranku.

Aku senang melihat Dimitri kembali tersenyum lagi setelah dia kehilangan Katavia, aku senang saat dia berada di sisiku, tapi aku tahu bahwa senang saja tidaklah cukup. Kami harus segera menyelesaikan masalah kami, kesalahpahaman kami, dan menjelaskan status kami sejelas-jelasnya, tapi aku belum siap. Aku belum siap jika apa yang aku inginkan nyatanya jauh dari jangkauanku, lalu semuanya hancur kembali.

Aku menghela napas panjang. Snowky tidak menghiraukanku, dia tetap mengikuti kemanapun Dimitri pergi. Ya, bahkan anjing saja bisa terpesona dengan dia, apalagi aku.

***

Di rumah sakit….

Dengan senang hati Ana melepaskan semua peralatan yang menempel pada tubuh Ben, lalu mengeluarkan Ben dari kotak kaca yang sebulan lebih ia tempati. Aku tersenyum melihatnya, dan aku tak dapat menahan haruku saat Ana memberikan Ben untuk kugendong.

“Sudah kubilang, dia bayi yang kuat. Dia baik-baik saja.” Ana berkomentar.

“Oh, Ana, aku tidak tahu apa jadinya tanpa kau. Aku benar-benar berterimakasih padamu, terlepas kesalahan yang sudah kau perbuat padaku.”

Ana tertawa lebar. “Ya, kesalahan yang berujung dengan kebahagiaan.” Komentarnya.

Aku tertawa, Dimitri hanya tersenyum lalu dia berkata “Terimakasih, Ana, kau benar-benar memberi kami kesempatan kedua.”

Masih dengan senyum lebarnya, Ana bertanya “Jadi, kapan undangannya?” tanya Ana dengan spontan.

“Undangan?” aku bertanya tak mengerti.

Ana menatap Dimitri dengan bingung. “Jadi kau belum melakukannya?” tanyanya tak percaya.

“Melakukan apa?” kali ini aku yang bertanya. Sungguh, aku tak mengerti apa yang sedang mereka bahas.

“Sudahlah, kau tak perlu tahu, sekarang, mari kita pulang, Snowky sudah menunggu terlalu lama di luar.”

Ah ya, Snowky, dia kutinggalkan dengan satpam penjaga rumah sakit di luar. Jadi aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama.

“Astaga, aku lupa.”

“Baiklah, aku akan mengurus administrasinya. Dan kau.” Dimitri menunjuk Ana. “Jangan banyak bicara.” Ancamnya, dan Ana hanya tertawa lebar.

Dimitri pergi, lalu aku bertanya pada Ana. “Apa yang kalian sembunyikan dariku?”

Masih dengan tertawa, Ana menjawab, “Bukan apa-apa. Ayo, kutemani keluar.” Lalu kami keluar bersama meski dalam pikiranku, aku masih curiga dengan apa yang sedang mereka rencanakan.

***

Di dalam mobil….

Aku tak berhenti menimang Ben di dalam gendonganku. Dia tertidur pulas, dan lagi-lagi aku terpesona dengan wajahnya yang tampak begitu tampan. Ya, mirip sekali dengan ayahnya.

Snowky duduk di belakang, dia sangat pintar karena tidak menggonggong sedikitpun dan itu membuat tidur Ben tidak terganggu.

Sesekali aku melirik ke arah Dimitri, rupanya lelaki itupun menatapku sesekali, melihat apa yang sedang kulakukan dengan Ben yang berada di dalam gendonganku.

Hingga kemudian, dia bertanya. “Kau benar-benar menyukainya, ya?”

“Tentu saja, dia putera kecilku.”

“Kau tidak berhenti tersenyum saat melihatnya, dan aku suka.” Komentarnya.

“Kaupun sama. Kau juga selalu tersenyum saat melihat kami.”

“Darimana kau tahu?”

“Aku melirikmu.” Jawabku jujur. Dan Dimitri hanya tersenyum mendengar jawabanku.

Aku melihat ke arah jendela pintu di sebelahku. Ini bukan jalan ke arah flatku, atau ke pet shopku, ini adalah jalan ke sebuah pemukiman elit yang saat itu pernah kukunjungi dengan Dimitri. Kenapa Dimitri membawaku kemari? Apa jangan-jangan…..

“Kenapa kita kemari?” tanyaku dengan spontan.

Dimitri hanya tersenyum, dia tidak menjawab, tapi dia segera membelokkan mobilnya ke halaman sebuah rumah yang beberapa bulan yang lalu kukunjungi. Ya, itu adalah rumah yang akan dibeli Dimitri saat itu, bahkan mungkin sudah dibelinya. Karena terakhir kali kami membahas tentang rumah ini, Dimitri memang sedang mengurusi surat-surat jual beli rumah ini.

Dimitri menghentikan mobilnya, dan juga mematikan mesin mobilnya. Lalu dia menatapku lekat-lekat, “Kita pulang.”

“Pulang?”

“Bukankah saat itu kau sudah bersedia tinggal denganku di rumah ini? lihat, aku sudah menyiapkan semua ini untukmu. Ayo keluar.” Ajaknya.

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Dimitri sudah keluar, dia juga mengeluarkan Snowky, dan Anjing itu dengan begitu gembiranya berlari-lari diatas rumput hijau halam rumah. Lalu dia juga segera menuju ke sebuah rumah anjing kecil yang ternyata sudah di siapkan di ujung halaman rumah ini.

Kapan Dimitri menyiapkannya? Kupikir saat itu, belum ada rumah anjing di sana. Dan sekarang, Snowky tampak begitu gembira berada di sana. Ya, tentu saja. Bahkan halamannya saja lebih luas daripada flat yang kutinggali.

“Keluarlah Rose, kita masuk ke dalam.” Ajaknya lagi saat aku belum juga keluar dari dalam mobilnya. Aku keluar sembari menggendong Ben, sedangkan Dimitri sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah tersebut, dan Snowky, ya, anjingku itu masih asyik bermain di rumah barunya dengan sesekali menggali tanah halaman rumah tersebut.

Aku menyusul Dimitri, dan alangkah terkejutnya saat aku mendapati bagian dalam rumah tersebut. Sangat berbeda dengan beberapa bulan yang lalu saat pertama kali aku melihatnya. Kini, rumah ini sudah lengkap dengan segala jenis perabotan. Sudah di tata rapih sedemikian rupa. Dan aku hanya ternganga melihatnya.

Dimitri menghampiriku, dia menarik pergelangan tanganku sembari berkata. “Kemarilah, akan kuperlihatkan kamar Ben.” Dia mengajakku ke sebuah kamar, membukanya, dan aku kembali ternganga di buatnya.

Kamar bayi yang begitu indah. Pikirku.

Aku masuk mengamati segala penjuru ruangan. Ranjang bayi, Semua perlengkapan bayi sudah siap di sana. Lemari-lemarinya bahkan sudah terisi penuh dengan baju-baju bayi dan lain sebagainya. Mainan-mainan lucu tergeletak diatas lantai, tertata dengan rapih hingga membuatku ingin menangis.

Aku menyukainya.

“Kau lihat ini, ini adalah connection door, yang akan langsung menuju ke kamar utama.” ucap Dimitri sembari membukanya, dan terlihat ranjang king size terletak di sana. Tempat tidur kami. Dan lagi-lagi, aku menyukainya.

“Semuanya menghadap ke taman samping rumah yang menyatu dengan kolam renang, jadi kau tinggal membuka gordennya saja, atau membuka jendelanya, maka akan terlihat indah dan sejuk dengan pekarangan rumah kita yang hijau.” Dimitri membuka gordennya, dan lagi-lagi aku terpesona.

Sangat indah.

Dia menyiapkan rumah indah untukku, untuk Ben, untuk Snowky. Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya?

“Kau, masih mau tinggal di sini, berasamaku, kan?” tanyanya kemudian.

“Kau sudah melakukan semua ini, bagaimana mungkin aku bisa menolakmu?”

“Jika kau belum siap, atau tidak suka, kau bisa menolakku, Rose. Jangan menerimaku karena kau tidak enak hati.”

“Aku tidak menerimamu karena alasan itu. Aku menerimamu karena aku mau, aku ingin melakukannya.”

Dimitri tersenyum. Ia menunduk, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. “Menikahlah denganku, lagi.”

Aku tersenyum melihatnya. “Kita sudah menikah, Sayang. Dan kupikir, kau belum mengabulkan surat pembatalan pernikahan yang kutinggalkan saat itu.”

“Ya, memang belum. Jadi status kita memang masih suami istri. Tapi aku ingin menikahimu sekali lagi. Dengan cara yang lebih benar, dihadiri semua orang-orang terdekat kita. Orang tuaku, Ana, dan mungkin beberapa teman dekat kita.”

“Kau yakin mau melakukannya?”

“Ya.” Dimitri menjawab dengan tegas. “Aku ingin melanjutkan hubungan kita dengan benar, dan itu dimulai dengan pernikahan kita nanti. Maukah?”

Aku tersenyum dan menjawab. “Ya. Aku mau.”

Lalu Dimitri menangkup kedua pipiku, mengecup lembut bibirku, melumatnya penuh gairah. Ya, seperti biasa.

Dimitri melepaskan tautan bibir kami, mengusap lembut pipiku, lalu berkata. “Aku mencintaimu, Rose. Sungguh, hanya kau.”

“Ya, aku tahu. Sejak sebelum kita bertemu, kan?”

“Darimana ku tahu?”

“Ana sudah menceritakan semuanya. Aku tahu kau sulit mengatakannya, tapi mendengar penjelasan Ana saat itu, membuatku berpikir, Ya, semuanya jadi lebih masuk akal. Kau merencanakan semuanya karena kau mencintaiku. Dan aku percaya dengan itu.”

“Oh Rose, aku benar-benar mencintaimu. Sungguh.”

“Ya, aku juga mencintaimu, Tuan Rusia.” Ucapku dengan pasti.

Dimitri mengecup lembut puncak kepalaku, lalu ia mengecup lembut pipi Ben yang masih berada dalam gendonganku. Dan tak berapa lama, Snowky datang, melompat-lompat di kaki kami dengan sesekali menggonggong.

Dimitri berlutut mengusap lembut puncak kepala Snowky dan berkata “Ya, ya, aku juga mencintaimu, Snowky.” Snowky segera menjilati wajah Dimitri

Aku tersenyum melihatnya. Kebahagiaan begitu kental terasa. Ya, aku sangat bahagia dengan kehidupan baru kami, dengan keluarga baru kami, dan dengan rumah baru kami. Dan semua itu karena Dimitri, lelaki yang sudah mewujudkan semua impian indahku hingga mampu membuatku sebahagia ini.

-TBC-

1 thought on “Baby, oh Baby! – Chapter 20 (Rumah baru, kebahagiaan baru)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s