romantis

Baby, oh Baby! – Chapter 19 (Tentang Dimitri, Anstasya, dan Katavia)

 

Chapter 19

-Tentang Dimitri, Anastasya dan Katavia-

 

Rosaline duduk di sebuah kursi roda di taman rumah sakit. Dengan Ana yang duduk di bangku rumah sakit tepat di sebelahnya. Sedangkan Dimitri, lelaki itu diminta Ana untuk menjauh, dan memilih mengamati ikan-ikan peliharaan yang ada di sebuah kolam kecil di tengah-tengah taman rumah sakit tersebut.

Rosaline merasakan de javu. Bagaimana tidak, Empat tahun yang lalu, ia juga sedang duduk di bangku taman rumah sakit dengan Ibu Dimitri yang duduk di sebelahnya. Lalu wanita paruh baya itu menceritakan tentang masa lalu Dimitri yang cukup membuat Rosaline tercengang. Dan kini, ia merasa dalam keadaan yang sama, dimana seseorang akan menceritakan sesuatu yang mungkin saja akan mencengangkan untuknya di sebuah taman rumah sakit.

Oh, bagaimana bisa kebetulan seperti ini?

“Apa yang dikatakan Katavia kepadamu, Rose?” tanya Ana dengan serius.

“Dia hanya bilang, bahwa kau adalah slah satu puteri dari keluarga Dimitri, kalian saling jatuh cinta, kau diusir, tapi kalian tetap menjalin hubungan secara diam-diam selama ini.”

“Lalu?”

“Kau , maksudku, kalian, memanfaatkan kehadiranku untuk menyamarkan hubungan kalian.”

Ana menghela napas panjang. “Sebelumnya, perkenankan aku mengenalkan diriku. Baiklah, Dimitri memang kakakku. Ayah kami, selingkuh dengan ibuku, lalu ibu meninggal saat melahirkanku, dan karena tidak ingin malu, ayah memberikan aku pada sebuah keluarga. Ya, keluarga Williams, dari sanalah namaku berasal.”

“Maaf, aku tak bermaksud untuk-”

“Tidak apa-apa, Rose. Aku hanya ingin menjelaskan padamu agar kau tidak salah paham.” Ana menghela napas panjang lalu ia kembali melanjutkan ceritanya. “Saat aku berusia tiga belas tahun, orang tua asuhku mengembalikanku kepada Ayah kami, dengan alasan, dititipkan sementara. Dan dari sanalah, aku mulai mengenalnya.” Ana bercerita sembari menatap Dimitri yang sedang asyik menatap ikan-ikan di dalam kolam kecil jauh di hadapan mereka.

“Aku dan Dimitri tumbuh besar bersama tanpa mengetahui status hubungan kami sebenarnya. Lalu perasaan itu muncul begitu saja dengan sendirinya. Ya, Rose. Kami saling mencintai saat itu.”

Mata Rosaline berkaca-kaca. Terasa sakit saat mendengarnya, tentu saja.

“Dimitri sempat mengajukan pada ayahnya jika dia akan menikahiku saat usiaku sudah menginjak Dua puluh tahun, tapi gagasan itu ditolak mentah-mentah oleh ayahnya. Karena itulah rahasia Ayah kami terbongkar, rahasia bahwa aku adalah adik tiri Dimitri, puteri dari simpanannya.”

“Ibu Dimitri hancur, padahal aku tidak ingin melihat wanita itu hancur, Dimitri dan akupun sama. Yang kami miliki saat itu hanya cinta, cinta yang bermekaran indah, tapi semuanya layu begitu saja dalam satu malam, saat kami tahu bahwa seharusnya kami tak saling mencintai.”

“Aku diusir dari rumah, dikembalikan kepada orang tua asuhku dengan tujuan supaya aku dan Dimitri saling melupakan satu sama lain. Well, itu cukup berefek. Karena tak lama setelah itu, saat aku masuk sekolah kedokteran, aku bertemu Sean, dan hatiku terpaut padanya. Berbeda denganku, Dimitri tidak seperti itu. Dia sosok yang sulit disentuh, sulit didekati, apalagi saat ia harus menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja, bekerja, dan bekerja.”

“Saat itu, entah kapan tepatnya, aku lupa, tapi ketika itu aku sudah tinggal di New York, aku melihat dia berada di salah satu cover majalah bisnis, dan aku tersenyum saat membaca judulnya. ‘Salah satu milyader muda yang betah sendiri, apa dia Gay?’” Ana tersenyum saat mengutip judul berita tersebut, dan dengan spontan Rosaline ikut tersenyum.

“Aku mencoba menghubungi Dimitri, mencari lagi kontaknya. Lalu kami berhubungan kembali. Dia kacau. Dimitri kesepian, tidak memiliki pasangan, tertekan, dan satu lagi, dia ketakutan.”

“Ketakutan?”

“Ya, kau tentu tahu apa yang dirasakan Katavia pada Dimitri, Dimitri mengetahuinya, dan dia takut, takut jika dia akan terpancing lalu jatuh cinta pada adiknya sendiri. Dari sanalah aku membantunya, Rose.”

“Jadi, kau benar-benar yang sudah merencanakan semua ini? mengenalkanku dengannya? Mengatur pertemuan kami di Kremlin?”

“Rose, dengarkan aku. Perlu kau ketahui, Dimitri yang memilihmu.”

“Bagaimana bisa?”

“Aku mengusulkan beberapa wanita untuk dia, Miss Walter tetanggaku yang sukses di bidang fashion, teman Gymku Kelly, bahkan Miss Robbinson, salah seorang pasienku yang hamil tanpa suami. Tapi Dimitri memilihmu, seorang pemilik pet shop kecil langgananku, yang menjelma menjadi teman dekatku saat aku kehilangan anjing kecilku.”

Ya, perlu diketahui, hubungan Ana dengan Rosaline dulu tak lebih dari seorang pelanggan, seperti Rosaline dengan Alan. Tapi hubungan mereka menjadi lebih dekat ketika anjing kecil Ana meninggal karena tertabrak seorang mengendara mobil. Dari sanalah mereka menjadi semakin dekat, lalu lebih dekat lagi setelah Ana mengenalkan Rosaline pada Dimitri secara sembunyi-sembunyi.

“Dia yang memilihmu.”

“Bagaimana bisa?”

“Aku juga tidak tahu. Dia hanya menunjukmu, lalu, semuanya terjadi. Ya, aku lah yang mengusulkan tentang voucer berhadiah itu, lalu pertemuan kalian, semuanya terjadi karena ideku, tapi hubungan kalian mengalir begitu saja karena kemauan Dimitri, aku bahkan terkejut saat mendapati kabar bahwa kalian sudah menikah di sana, itu sama sekali bukan rencanaku, atau rencana Dimitri, itu mengalir secara spontan, tidak direncanakan sama sekali.”

“Dan inseminasinya?”

“Ya, saat kau kembali dalam keadaan patah hati, aku tahu jika ada masalah internal diantara kalian. Dan aku memang tidak mau ikut campur didalamnya. Lalu aku melihatmu yang masih belum bisa Move on, begitupun dengan Dimitri. Apalagi kenyataan saat Dimitri bercerita, jika dia tidak pernah menyetujui surat pembatalan pernikahan yang kau ajukan. Lalu kau meminta bantuanku untuk melakukan inseminasi buatan, dan pada saat itulah aku melihat ada jalan untuk kalian kembali bersama, meski dengan cara yang bisa dibilang curang.”

“Ya, kau sangat curang, Ana. Semuanya terjadi seakan-akan sesuai dengan apa yang sudah kau rencanakan. Seakan-akan kami adalah pion-pion yang kau kendalikan.”

“Kau salah, Rose, aku hanya memberi kalian jalan, memberi kalian kesempatan untuk kembali berhubungan, sisanya, kalian sendiri yang menentukan. Apa aku pernah memaksamu untuk tertarik atau jatuh cinta dengan Dimitri? Tidak, apa aku pernah memaksa Dimitri untuk tertarik atau bahkan memilihmu? Tidak. Ya, aku memang salah karena sudah terlalu banyak ikut campur masalah kalian, tapi kembali lagi, semua perasaan, keputusan, dan lain sebagainya ada ditangan kalian.”

Ya, Ana benar, tapi di sisi lain, Rosaline tidak bisa membenarkan sikap Ana.

Ana lalu menggenggam erat jemari Rosaline. “Rose, aku hanya ingin kalian bahagia. Kalian saling mencintai. Aku tahu itu, aku bisa melihatnya, jadi kuharap, kalian dapat mengesampingkan ego kalian demi kebahagiaan nyata yang sudah berada di hadapan kalian.”

Rosaline menatap sungguh-sungguh ke arah Ana, dan tampak jelas ketulusan di sana.

“Tentang hubunganku dengan Dimitri, sungguh, itu hanya masa lalu kami, masa remaja kami saat kami baru mengenal cinta, sekarang kau sudah memiliki seluruh isi hatinya, dan Sean, sudah memiliki seluruh hidupku. Aku hanya seorang adik untuknya, itupun yang kurasakan padanya, dia hanya seorang kakak untukku, apa salah jika aku ingin melihat kakakku bahagia?”

Pada saat bersamaan, Dimitri datang. Lelaki itu tadi berlari cepat ke arah keduanya setelah melihat ponselnya. Rosaline tahu jika ada yang tidak beres.

“Ada apa?” Ana yang bertanya.

“Katavia, dia nekat mengiris pergelangan tangannya.”

“Apa?” Ana dan Rosaline saling membulatkan matanya masing-masing.

Dimitri menatap ke arah Rosaline dengan penuh penyesalan, jemarinya terulur, mengusap lembut puncak kepala wanita itu. “Aku akan pulang ke Rusia, tapi aku akan kembali padamu dan juga Ben.” Lalu Dimitri menatap ke arah Ana. “Ana, jaga mereka untukku.” Ana mengangguk patuh.

Dimitri mengecup lembut puncak kepala Rosaline sebelum kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan dua wanita tersebut.

“Ya, Dimitri harus pergi, dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Katavia.” Ana melirih, dan Rosaline mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Ana.

***

Setelah Dua hari tak sadarkan diri. Malam itu, Katavia akhirya terbangun saat Dimitri berada di sebelahnya. Ia sangat senang saat mendapati lelaki itu berada di sana. Dimitri berada di sana untuknya, Katavia tahu itu, dan ia rela menanggung lebih banyak kesakitan jika itu membuat Dimitri kembali padanya.

“Kate, kau sudah sadar?”

“Kau, kembali? Untukku?”

Dimitri tak dapat menjawab sungguh.

“Kate, apa yang kau lakukan? Kau bisa terbunuh karena hal ini?”

“Aku rela melakukan apapun, menanggung lebih banyak kesakitan jika itu mampu menarikmu kembali kesisiku, Mitya.”

Dimitri memejamkan matanya frustasi saat ia mendengar betapa lemahnya Katavia saat mengucapkan kalimat itu. Ketika gadis itu memanggilnya dengan panggilan ‘Mitya’, panggilan masa kecilnya yang sudah sangat lama tak ia dengar dari bibir Katavia.

“Katya.” Dimitri melirih frustasi. Panggilan sayangnya pada sang adik di masa kecil membuat ia seakan tak mampu berbuat lebih tegas lagi dari sebelumnya. Ia takut menyakiti hati Katavia, tapi disisi lain, ia harus melakukannya.  “Aku menyayangimu, sungguh, tapi hanya sebagai adik kecilku. Kau tahu, sekarang kau sudah memiliki keponakan kecil, putera keciku, Benjamin, namanya. Aku ingin kau bisa menghilangkan perasaanmu lalu keluarga kita kembali utuh. Ben akan memanggilmu Aunty Katya, kau senang bukan dipanggil dengan panggilan itu?”

Katavia menggelengkan kepalanya pelan. “Jika aku bisa memilih, maka aku akan memilih menjadi adik yang kau sayangi, daripada menjadi wanita yang kau benci.”

“Kate…”

“Aku tidak bisa, aku tidak bisa menghilangkannya. Ini seperti sebuah keinginan yang sudah tertanam di dasar hatiku yang paling dalam, seperti sebuah kecenderungan yang tidak dapat kuhentikan. Aku tidak bisa menghilangkan semuanya. Aku menginginkanmu, dan keinginan itu semakin tumbuh membesar setiap harinya. Aku tidak bisa menghentikannya.”

“Maka aku hanya bisa meminta maaf padamu, Kate. Aku mencintai Rosaline, dan hanya dia. Aku tidak akan pernah meninggalkannya, meski kau menyakiti dirimu sendiri hingga seperti ini. Aku akan meninggalkanmu, jika itu membuatmu sedikit melupakanku.”

“Dimitri.” Katavia melirih.

“Kau tahu, aku sangat senang saat kau memanggilku dengan panggilan ‘Mitya’. Kenapa? Karena saat kau memanggilku seperti itu, kau mengingatkanku pada masa kecil kita yang bahagia. Kau akan selalu menjadi adikku, Kate, aku selalu menyayangimu seperti itu, dan tidak akan pernah berubah.”

Katavia menangis, hatinya patah, remuk menjadi berkeping-keping. Harapannya sudah pupus, ia tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk membuat Dimitri jatuh pada pelukannya. Ya, dalam hatinya yang paling dalam, ia tidak bisa melihat Dimitri yang tersakiti karena perasaan yang ia miliki untuk lelaki tersebut, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa memilih. Perasaannya tumbuh begitu saja tanpa bisa ia cegah. Keinginannya semakin membesar tanpa bisa ia kendalikan. Apa yang harus ia perbuat?

***

Hari ke Lima Dimitri di Rusia. Siang nanti, Dimitri akan kembali ke New York. Setelah malam itu, Dimitri tidak lagi menemui Katavia. Ia hanya memantau keadaan adikya itu dari jauh. Dan kini, keadaan adiknya itu sudah membaik, hingga ia memutuskan untuk segera kembali ke New York. Bagaimanapun juga, Rosaline dan putera kecilnya juga membutuhkan kehadirannya, dan ia tidak mungkin bisa meninggalkan keduanya lebih lama lagi.

Saat Dimitri mengepak beberapa buku-buku di kamarnya. Ponselnya berdering. Dimitri segera mengangkat panggilan teleponnya tanpa meninggalkan buku-bukunya.

“Dimitri… Katya…” itu Sang Ibu, yang terdengar menangis di seberang telepon.

“Ibu?”

“Dia melompat dari kamarnya, dia pergi… dia meninggalkan kita…” Dimitri ternganga dengan ucapan ibunya. Ponselnya jatuh seketika, kakinya terasa lemas bahkan tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Dimitri jatuh berlutut, lalu ia mulai menangis, menyesali semua yang sudah terjadi. Menyesali semua kehancurannya.

Katavia, kenapa kau melakukannya?

-TBC-

1 thought on “Baby, oh Baby! – Chapter 19 (Tentang Dimitri, Anstasya, dan Katavia)”

  1. Astagah kate beneran meninggal , nyesel udah mndo’a kan dia mati tadi 😤😤😤
    tapi mungkin itu yng berbaik buat mereka semua , kate yng malang 😤😤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s