romantis

Baby, oh Baby! – Chapter 18 (Benjamin Armanzandrov)

 

 

Chapter 18

-Benjamin Armanzandrov-

 

Dimitri segera menghidupkan ponselnya saat ia turun dari pesawat. Ia sedikit mengerutka keningnya ketika mendapati banyak sekali pesan suara yang ia terima dari nomor Ana. Akhirnya Dimitri segera menghubungi Ana karena takut terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.

“Astaga, kemana saja, Kau?” tanya Ana dari seberang dengan suara yang sedikit meninggi.

“Aku baru turun dari pesawat.”

“Rose mengalami kontraksi. Kemungkinan bayinya akan lahir permatur.”

“Apa?”

“Kutunggu di rumah sakit.”

Setelah itu, telepon di tutup. Dan Dimitri segera bergegas menuju ke rumah sakit, tempat Rosaline berada. Semuanya akan baik-baik saja, ya, semuanya akan baik-baik saja. Pikirnya.

***

Setelah mendapatkan penjelasan dari Ana dan beberapa dokter kandungan lainnya, akhirnya Rosaline mau tidak mau menghadapi kenyataan bahwa bayinya akan dilahirkan secara prematur melalui operasi caesar.

Rasa gugup, takut, dan sedih bercampur aduk menjadi satu ketika ranjangnya di dorong memasuki sebuah ruangan yang ia yakini sebagai ruang operasi.

Rosaline ingin bayinya baik-baik saja, dan Rose tidak ingin melalui semua ini sendiri. Hal itu membuat Rosaline tak kuasa meneteskan air matanya.

Pada detik itu, sebuah suara memanggil namanya dengan nama Ana. Seseorang tampak berlari menuju ke arah ranjangnya. Dia Dimitri.

“Ana, bolehkah aku ikut masuk ke dalam?” tanyanya pada Ana.

Ana menatap semua dokter yang akan membantunya melakukan operasi. Dan semua menyerahkan keputusan pada Ana. Ana menatap sekilas pada Rosaline, lalu kembali menatap Dimitri. “Tentu saja, Suster, bantu Tuan ini menggunakan pakaian steril.” Ucapnya pada seorang suster.

Dimitri sangat senang karena Ana mau mengizinkannya. Ia menatap Rosaline yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ruang operasi. Semua akan baik-baik saja, ya, semuanya akan baik-baik saja. Pikirnya sekali lagi.

Dimitri masuk ke dalam ruang operasi saat rosaline mendapat tindakan Anestesi Spinal pada tulang belakangnya. Sempat tidak tega melihat wanita itu kesakitan, tapi Dimitri mencoba mengabaikannya dan tetap berjalan mendekat ke arah Rosaline.

“Hei, kau baik-baik saja?” tanyanya.

Rosaline menatap Dimitri, kemudian mengangguk. Ia tahu, hubungan mereka masih bermasalah, tapi fokusnya saat ini hanyalah pada bayinya.

“Rose, jangan takut, kita akan melahirkan bayimu bersama-sama. Semuanya akan-baik-baik saja.” Ana menghampiri Rosaline lalu mengucapkan kalimat tersebut dengan sedikit senyum yang terukir di wajahnya.

“Aku takut, Ana.” Rosaline masih tidak dapat mengendalikan rasa takutnya.

“Jika kau takut, kami bisa membuatmu tertidur. Jika itu membuatmu lebih baik.”

Ana lalu memberi isyarat pada seorang dokter, kemudian dokter tersebut menyuntikkan sesuatu pada pangkal infus yang tertancap pada punggung tangan Rosaline.

“Itu apa, Ana?” tanya Dimitri.

“Obat tidur.” Jawabnya. “Kau akan tidur sebentar, dan akan bangun saat semuanya sudah selesai.” Lanjut Ana lagi pada Rosaline yang merasakan matanya mulai berat sebelum kesadaran merenggutnya.

***

Rosaline terbangun ketika dirinya sudah berada di ruang perawatan. Saat ia membuka matanya, ia mendapati Ana, temannya yang sedang duduk menungguinya tepat di sebelah ranjangnya. Sedangkan di belakang wanita itu, tampak Sean, yang tengah tertidur di sofa panjang di ujung ruangan.

Ana yang tadi membaca buku, mengangkat wajahnya saat mendapati rosaline bergerak. “Rose, kau sudah sadar?”

“Baby..”

Ana tersenyum. “Bayimu sudah lahir, laki-laki, dan harus masuk ke dalam inkubator. Besok kau bisa melihatnya.”

Rosaline mengernyit saat merasakan luka bekas operasinya terasa nyeri. Tapi ia tidak bisa mengabaikan Ana yang berada di sana.

“Kenapa kau di sini?”

“Menunggumu. Dimitri pulang, mengambil beberapa perlengkapanmu. Kau tahu, sejak tadi dia tidak mau beranjak dari ruang bayi. Dia berkata bahwa bayi kalian sangat kecil, jadi dia takut meninggalkannya.”

“Ana, kau tahu, maksudku bukan?”

“Rose, aku tahu. Hubungan kita memang sedang bermasalah, tapi saat ini, kau adalah pasienku. Aku akan menjagamu hingga sembuh. Lebih baik kau kembali beristirahat agar cepat pulih. Aku berjanji akan menjelaskan semuanya padamu, nanti. Saat keadaamu sudah membaik.”

Rosaline mengangguk, lalu ia mulai memejamkan matanya kembali.

“Tidurlah, Rose. Aku dan Sean menjagamu..” kalimat terakhir Ana mengantarkan Rosaline ke alam mimpi. Ia merasa bahwa Ana benar-benar tulus padanya. Tapi benarkah demikian?

***

Hari ke Empat Rosaline di rawat di rumah sakit….

Siang ini, seperti biasa, Rosaline menatap bayinya dari balik kaca yang memisahkan mereka. Matanya selalu berkaca-kaca saat melihat bayi kecilnya berada di dalam sana sedangkan ia tak dapat berbuat banyak.

Sedangkan Dimitri, lelaki itu selalu menemani di sisinya. Melayaninya ketika ia membutuhkan sesuatu layaknya seorang suami yang selalu melayani istrinya ketika sang istri sedang sakit. Tapi, bukankah memang seharusnya seperti itu? Mengingat status pernikahan mereka yang masih belum jelas.

Saat Rosaline sibuk menatap bayinya dari jauh. Ana datang. Ya, wanita itu selalu bersikap ceria, seakan tak terjadi masalah apapun diantara mereka, padahal Rose tahu, jika hubungan mereka masih bermasalah.

“Bagaimana keadaanmu, Rose?” tanya Ana antusias.

“Baik.”

“Kau ingin menggendong bayimu?”

Rosaline menatap Ana dengan antusias. “Bolehkah?”

“Ya, tapi sebentar saja.”

“Ya, aku mau.” Jawabnya antusias.

Lalu Rosaline mengikuti Ana, masuk ke dalam ruangan tersebut, dan mulai melakukan apa yang di perintahkan Ana padanya. Dalam sekejap mata, Rosaline melihat sang bayi berada dalam dekapannya.

“Lihat, aku menggendongnya.” ucapnya penuh haru.

Rosaline lalu menatap ke arah Dimitri. “Kau, ingin menyentuhnya?” tawarnya pada Dimitri.

“Bolehkah?” Dimitri bertanya balik.

“Tentu saja.”

Dimitri mengulurkan jemarinya, lalu mengusap lembut pipi dari bayi kecil mereka.

Baby, kau merasakan sentuhan kami? Cepat membaik. Mommy akan segera membawamu pulang.”

Ana yang melihat keduanya hanya bisa tersenyum. Matanya ikut berkaca-kaca penuh haru, ia tahu pasti bahwa Rosaline sudah berjuang banyak melawan kesakitannya, dan Dimitri pun demikian, lelaki itu juga sudah melewati banyak hal hingga berdiri pada saat seperti ini. dan keduanya pantas mendapatkan kebahagiaan mereka.

“Kau tidak ingin memberinya nama?” tanya Ana kemudian.

“Aku belum memikirkannya sama sekali, bahkan setelah melihatnya, aku tak dapat memikirkan nama apapun karena terlalu bahagia melihatnya.” Rosaline lalu bertanya pada Dimitri “Kau, ada ide.”

“Kau ingin aku yang memberinya nama?” Dimitri bertanya balik.

“Jika bagus, aku bisa mempertimbangkannya.”

“Aku tidak tahu, aku tidak pandai dalam hal ini.” jawab Dimitri.

“Bolehkah aku yang memberi nama?” tanya Ana dengan antusias. “Bagaimanapun juga, Aunty Ana juga ikut serta dalam ‘pembuatannya’, bukankah begitu?” Dimitri dan Rosaline tersenyum mendengar ucapan Ana. Ya, Ana memang berperan penting dalam kelahiran bayinya, jadi tidak salah jika Ana ikut mengusulkan sebuah nama untuk bayi mereka.

“Kau ingin menamainya apa?” tanya Rosaline.

“Benjamin, bukankah itu bagus? Ben, kita dapat memanggilnya dengan panggilan Ben.”

“Kau suka dengan nama itu?” tanya Dimitri pada Rosaline.

“Ya, sepertinya bagus juga.”

“Jadi, kalian setuju dengan nama itu?” tanya Ana dengan senyum yang sudah mengembang di wajahnya.

“Ya, tentu saja, Aunty.” Rosaline yang menjawab. Ana tersenyum bahagia, pun dengan Rosaline dan Dimitri.

“Benjamin Armanzandrov.” Dimitri mengucapkannya dengan spontan. Rosaline menatap Dimitri seketika dengan senyum yang tiba-tiba lenyap dari wajahnya. “Kenapa? Kau tidak suka ada nama belakangku di sana?” tanya Dimitri secara terang-terangan.

Rosaline kembali menatap bayinya. “Tidak, hanya saja, terdengar sedikit aneh.”

“Ya, nama keluarganya memang sedikit aneh, sampai aku saja tak ingin menggunakannya.” Ana berseloroh sembari tertawa lebar. Sedangkan Rosaline, ia tidak tahu harus ikut tertawa atau bagaimana, karena sungguh, ia kembali teringat tentang masalah mereka.

“Rose, kembalikan dia padaku, dia harus dikembalikan ke dalam kotak itu agar segera pulih.”

“Ya.” Dengan hati-hati Rosaline memberikan Ben pada Ana. Dan Ana segera mengembalikan Ben ke tempat semula di dalam inkubator.

“Dia akan segera membaik. Aku tahu dia bayi yang kuat.” Ucap Ana sembari menatap intens ke arah Benjamin, sebelum ia kembali menatap Rosaline dan berkata “Kita keluar sebentar, ada yang ingin kubicarakan.”

Ya, inilah saatnya, saat dimana mereka mulai membahas masalah yang sebenarnya. Sebenarnya, Rosaline sudah cukup lelah, tapi bagaimana lagi, ia tidak mungkin terus-terusan memusuhi Ana, sedangkan wanita itu sudah banyak sekali membantunya. Yang bisa Rosaline lakukan hanya menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya.

Apa yang akan dikatakan Ana? Apa Ana akan membenarkan semua tuduhannya? Apa Ana memang memiliki rencana lain dibalik ini semua?

-TBC-

1 thought on “Baby, oh Baby! – Chapter 18 (Benjamin Armanzandrov)”

  1. Bayi na laki” , untung dimi datang tepat waktu .
    astagah semoga stlah ini rose biza baikan lagi ma dimi .
    rose ma dimi yng punya baby ko q yng girang banget yaa , astagah saking happy na dada q sampe dagdigdug 😊😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s