romantis

Baby, oh Baby! – Chapter 17 (Masih istriku)

 

Chapter 17

-Masih Istriku-

 

“Benarkah? Termasuk kenyataan bahwa Anastasya adalah kakakku yang merupakan cinta pertama Dimitri? Kau tidak ingin mendengar cerita tentang mereka?”

“A-apa?”

“Ya, Rose, hubungan mereka lebih dari yang kau kira.”

Rosaline menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin. Ana adalah orang Inggris, bahkan dia memiliki keluarga yang cukup terpandang di sana.”

Katavia tersenyum mengejek. “Biar kuceritakan sedikit cerita padamu.” Katavia menyesap kopi pesanannya, sebelum ia mulai membuka suara. “Ayah kami, yang hampir tidak pernah pulang, nyatanya memiliki seorang simpanan, wanita Inggris. Dari wanita itu, dia memiliki Anastasya. Wanita itu meninggal saat melahirkan, karena tidak ingin namanya tercoreng, ayah kami memberikan Anastasya pada salah seorang temannya, pun dengan nama belakangnya.”

Sambil menggelengkan kepalanya, Rosaline tidak percaya dengan cerita tersebut.

“Saat Ana berusia Tiga Belas tahun, ayah kami membawanya pulang dengan alasan, orang tua Ana menitipkannya sementara. Dan saat itulah, kisah cinta mereka dimulai, hingga Ana dikembalikan pada orang tua asuhnya dan rahasia tentang perselingkuhan ayah kami terbongkar.”

“Tidak mungkin.”

“Kau berpikir bahwa kau adalah orang yang dia cintai, akupun berpikir demikian bahwa Dimitri hanya mencintaiku sebelum aku melihatnya bersama Ana. Ya, dia dan Ana mungkin kembali menjalin hubungan terlarang mereka.”

Rosaline masih ternganga, mencerna semuanya. Ya, dulu, ibu Dimitri pernah menceritakan sedikit tentang masa lalu Dimitri dengan seseorang, tapi Rose melupakan namanya, karena yang terpenting saat itu bagi Rose hanya keadaan dimana Dimitri memiliki kecenderungan yang aneh, yaitu mencintai adiknya sendiri. Dan kini, ia merasa seperti tersambar petir saat tahu jika adik yang dimaksud adalah Anastasya Williams, teman dekatnya sendiri.

“Kau hanya dimanfaatkan, Rose, dari dulu hingga sekarang, keberadaanmu masih sama. Hanya dimanfaatkan untuk menyamarkan kecenderungan Dimitri yang menyimpang.”

Mata Rosaline berkaca-kaca saat mendengar kalimat itu. Ia ingin untuk tidak mudah percaya, tapi semuanya seakan lebih masuk akal jika memang Dimitri dan Ana saling mengenal sejak awal.

Rosaline menghela napas panjang. Malam ini, ia mengurung dirinya sendiri di dalam kamar. Setiap perkataan yang dilontarkan oleh Katavia seakan tidak ingin pergi meninggalkan kepalanya. Semuanya terputar lagi dan lagi, hingga membuat Rosaline tersadarkan oleh sesuatu, bahwa memang dirinya selama ini ternyata adalah boneka yang dimainkan oleh Dimitri.

Ya, jika melihat lebih jauh, pertemuan awal mereka memang sudah tidak masuk akal. Tiba-tiba saja dirinya mendapatkan sebuah undian berhadiah ketika memakan Pizza di sebuah restoran Itali, yang pada saat itu, Ana lah yang merekomendasikan restoran tersebut.

Sedikit tak percaya, karena jika seharusnya ia makan di restoran Itali, seharusnya voucer jalan-jalan gratis itu ke negara tersebut, bukan ke negara lainnya. Tapi pada saat itu, mata Rosaline buta karena kesenangan dan kebahagiaan yang membuncah karena hadiah tersebut.

Rosaline mengusap lembut perutnya. Saat ini, ia merasa sendiri, ia merasa tak dapat mempercayai siapapun. Bahkan teman terdekatnya saja sudah menusuknya dari belakang, lalu, apa lagi yang harus ia percaya?

***

Setelah terbang lebih dari Sembilan jam, malam itu juga Dimitri sampai di rumahnya dengan menyeret Katavia ikut serta bersamanya. Ia ingin menumpahkan semua emosinya, tapi tentu saja, kontrol diri yang dimiliki Dimitri masih sangat tinggi.

Perkataan Ana selalu terputar pada kepalanya. Ya, benar apa yang dikatakan Ana. Jika ia mencintai seseorang, ia harus mengejarnya, ia harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan semuanya, ia tidak boleh menyerah. Tapi sebelum itu, ia harus menyelesaikan dulu masalahnya dengan Katavia.

Sang ibu datang menyambut kehadiran putera dan puterinya. Sedikit terkejut saat mendapati Katavia nyatanya pulang bersama dengan Dimitri. Karena setahunya, Katavia sedang berlibur bersama beberapa orang temannya ke Maldives.

“Kalian, datang bersama?” tanyanya dengan sedikit bingung.

“Dia sudah menghancurkan semuanya.” Dimitri berkata dingin, penuh penekanan.

“Apa yang sudah kuhancurkan? Aku hanya memberitahu dia apa yang terjadi sebenarnya, bahwa kau hanya memanfaatkannya.” Katavia membalas ucapan Dimitri.

“Kau tidak tahu apapun, Kate.”

“Yang kutahu, kau ternyata diam-diam kembali menjalin hubungan dengan Anastasya.”

“Apa?” sang ibu tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Ana hanya membantuku.”

“Bukan seperti itu yang kulihat. Kau menjalin hubungan kembali dengannya. Jika kau masih bisa mencintainya, kenapa kau tak bisa mencintaiku?!”

“Apa-apaan ini?” suara tegas namun berat yang berasal dari ruang tengah rumah mereka memaksa Dimitri dan Katavia menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut.

Mata Dimitri membulat seketika saat mendapati sang ayah berada di sana. Pun dengan Katavia, ia tidak menyangka jika ayahnya ternyata berada di rumah hari ini, dan astaga, apa yang sudah ia katakan tadi? Katavia merasa tubuhnya menggigil saat membayangkan bahwa ia akan ditendang dari rumah mereka karena sang ayah sudah mengetahui apa yang sudah ia rasakan selama ini.

“Apa yang kau katakan, Katya? Cinta? Kenapa kau menuntut kakakmu untuk mencintaimu?” tanya Tuan Armanzandrov pada puterinya.

Katavia menunduk seketika, sungguh, jika ia dihadapkan dengan sang ayah, maka ia tidak akan bisa melawannya, bagaimanapun juga, hidupnya masih berada dalam kekuasaan sang ayah.

“Suamiku, kita bicarakan baik-baik di dalam. Tolong, izinkan Mitya dan Katya menjelaskan semuanya.” Nyonya Armanzandrov menenangkan suaminya. Ia tentu tidak ingin membuat suasana semakin panas dengan emosi yang tersulut diantara mereka. Sang suami nyatanya mengangguk dan menerima ajakannya, meski ia sempat meninggalkan tatapan membunuh pada Dimitri yang berdiri di hadapannya.

***

Di ruang tengah rumah keluarga Armanzandrov…..

“Apa tidak ada salah satu dari kalian yang akan membuka suara dan menjelaskan semuanya? Apa yang dimaksud dengan perkataan Katavia tadi?”

“Dimitri kembali menjalin hubungan dengan Ana.” Katavia berkata cepat.

Tubuh Dimitri menegang seketika saat Katavia dengan begitu menjengkelkannya menfitnahnya seperti itu.

“Benarkah apa yang dikatakan Katya?” tanya sang ayah pada Dimitri.

“Tidak. Itu tidak benar.”

“Lalu apa yang terjadi? Katakan.”

“Ana hanya membantuku untuk mendapatkan seseorang.”

“Siapa?”

“Rosaline Dawson. Istriku.”

Sang ayah menghela napas panjang. “Jadi kau masih belum bisa melupakan perempuan itu?”

“Bagaimanapun juga, statusnya masih menjadi istriku, aku tidak pernah menandatangani surat pembatalan pernikahan kami, dan surat-surat sialan itu tidak pernah di proses secara hukum. Meski selama ini Rosaline mencoba melupakannya, atau aku sudah melepaskannya, tapi kenyataannya, dia masih istriku, statusya masih sebagai istriku. Jauh dalam lubuk hati kami, kami menyadari fakta itu.”

“Dia sudah meninggalkanmu, Nak.” Sang ayah mengingatkan. Tentu saja harga diri ayahnya saat itu ternodai saat mengetahui kabar bahwa puteranya ditinggalkan begitu saja oleh seorang wanita Amerika yang bahkan belum genap Tiga bulan dinikahi oleh Dimitri.

“Itu karena Kate yang membuatnya salah paham.”

“Dimitri, Maaf, karena saat itu, Ibu juga sempat menceritakan tentang hubunganmu dan Ana pada Rosaline.” Sang ibu menyahut.

“Apa?” sungguh, Dimitri tak percaya. Pantas saja Rosaline amat sangat marah padanya. Ternyata, saat itu Rose tak hanya mendengar hal buruk tentangnya hanya dari Katavia, tapi dari ibunya juga yang saat itu masih salah paham terhadapnya.

“Intinya adalah, kau kembali berhubungan dengan Anastasya.” Katavia menyahut.

“Hubungan kami tidak seperti yang kau pikirkan, Kate. Aku sudah menganggap Ana sebagai adikku sendiri, teman terdekatku, hingga dia mau membantuku kembali mendapatkan Rosaline.”

“Kau hanya perlu mengakui, kalau kau juga menyimpang. Kau tidak perlu menjadikan semua ini rumit seolah-olah kau begitu mencintai Rosaline. Padahal kau hanya memanfaatkannya untuk kembali dekat dengan Anastasya.” Katavia tak mau mengalah.

“Kenapa kau menginginkan kenyataan bahwa aku menyimpang? Apa karena jika aku menyimpang, lantas aku bisa jatuh cinta padamu? Kau salah, Kate. Aku tidak menyimpang. Aku mencintai Rosaline, dan aku tidak peduli kau mempercayainya atau tidak.”

“Cukup!” Sang ayah menegahi. “Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya sang ayah pada Dimitri.

“Aku tidak bisa tinggal di sini lagi.”

“Kau meninggalkan kami? Bagaimana dengan perusahaan?” sang Ayah bertanya lagi.

“Aku akan tinggal dimana Rosaline akan tinggal. Tentang perusahaan, aku tetap akan mengurusnya. Lagi pula, pekerjaan tidak harus di kerjakan di rumah ini. aku hanya akan tinggal bersama Rosaline, bukan berarti aku meninggalkan keluarga ini. Dengan begitu, Kate tidak perlu keluar dari rumah ini karena perasaan sialannya.”

“Kau mengancamku? Aku akan melukai diriku sendiri jika kau keluar dari rumah ini.”

“Kau tidak akan melakukan apapun, Katya. Karena setelah ini, Ayah yang akan mengurusmu.” Sang Ayah menyahut ucapan Katavia. “Dan kau, pergilah, jika itu menjadi keputusanmu.”

“Ayah yakin? Bagaimana dengan dia?” tanya Dimitri sembari menunjuk ke arah Katavia dengan dagunya.

“Ayah yang akan mengurusnya.”

Dimitri sedikit tersenyum dan mengangguk, ia lalu bangkit, dan akan kembali ke bandara untuk mengejar penerbangan selanjutnya ke New York. Ya, ia harus kembali secepat mungkin untuk Rosaline. Tapi saat ia baru beberapa langkah meninggalkan keluarganya, suara Katavia menghentikan langkahnya.

“Jika kau pergi meninggalkanku, maka aku akan mengiris pergelangan tanganku hingga nadiku putus.”ancamnya.

Dimitri menghentikan langkahnya, tapi tidak membalikkan tubuhnya. Setelah sempat ragu, ia memantapkan hatinya untuk melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan ucapan Katavia. Ya, Katavia sudah bukan menjadi urusannya lagi, karena Sang Ayah lah yang akan mengurusnya. Sekarang, fokusnya hanya akan tertuju kepada Rosaline, bagaimana caranya untuk mengembalikan kepercayaan wanita itu.

***

Siang itu, Ana memutuskan untuk ke pet shop Rosaline, tapi ternyata, toko temannya itu tutup. Akhirnya, Ana memutuskan untuk datang ke flat Rosaline. Ya, ia harus menjelaskan semuanya pada Rosaline sebelum Rosaline berpikir semakin jauh dan membuat hubungan mereka semakin renggang bahkan sulit untuk dikembalikan seperti semula.

Ana tahu, bahwa ia sudah sangat bersalah. Ya, bahkan sejak awal, ia sudah salah. Jika ia ingin mengenalkan Dimitri dengan salah seorang temannya, maka ia harus meminta izin temannya tersebut terlebih dahulu, bukan melakukan kebohongan seperti ini pada Rosaline.

Belum lagi kenyataan bahwa dirinya kembali ikut campur urusan keduanya saat ia menggunakan Dimitri sebagai pendonor sperma untuk proses Inseminasi yang dilakukan Rosaline tanpa sepengetahuan temannya tersebut.

Meski semua itu ia lakukan demi keduanya, ia sadar, jika dirinya sudah melakukan kecurangan untuk membantu Dimitri. Dan berdirinya dia di sini untuk menjelaskan semuanya pada Rosaline hingga temannya itu tidak salah paham lagi terhadap hubungannya dengan Dimitri.

Ana mengetuk pintu flat Rosaline lagi dan lagi, hingga setelah entah berapa ketukan, Rosaline membukanya dari dalam.

Rosaline tampak berantakan, tampak kacau, dan wanita itu tampak mengerutkan keningnya seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.

“Kau? Untuk apa kau kemari?” tanya Rosaline dengan nada tidak bersahabat.

“Rose, apa yang terjadi denganmu? Kau baik-baik saja, bukan?” Ana malah bertanya balik karena ia merasa khawatir dengan keadaan Rosaline yang tidak seperti biasanya.

“Jawab saja pertanyaanku, untuk apa kau kemari?” tanya Rosaline sekali lagi dengan nada lebih keras dari sebelumnya.

“Rose, aku hanya ingin menjelaskan semuanya, aku tidak ingin pertemanan yang selama ini kita jalin hancur begitu saja karena kesalah pahamanmu.”

“Pertemanan ya? Jika kau menganggapku sebagai teman, kau tidak akan memanfaatkan keberadaanku untuk kakakmu atau kekasihmu itu.”

“Rose. Tolong, dengarkan aku. Aku hanya-” Ana menghentikan kalimatnya saat melihat Rosaline tiba-tiba mengerang kesakitan sembari memeluk perutnya sendiri. “Rose, apa yang terjadi?” tanya Ana dengan begitu panik.

“Aku tidak tahu, sejak tadi pagi aku merasa kesakitan.”

“Astaga, kenapa kau mengabaikannya?”

“Aku, aku, Ana, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan bayiku.”

“Kita akan ke rumah sakit, sekarang.” Ana membatu Rosaline dengan memapahnya, tapi baru berapa langkah, mereka berhenti saat melihat sesuatu mengucur deras melewati kaki Rosaline.

“Ana aku berdarah, apa yang terjadi?” Rosaline benar-benar sangat panik. Begitupun dengan Ana.

“Tenang Rose, kemungkinan terburuk, bayinya akan lahir prematur.”

“Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan bayiku. Tolong aku, Ana.”

“Ya, aku akan menolongmu semaksimal mungkin.” Lalu Ana kembali memapah Rosaline hingga sampai di mobilnya.

Di dalam mobil…

“Kita harus menghubungi Dimitri.”

Rosaline menatap Ana seketika. “Untuk apa?”

“Bagaimanapun juga, dia ayahnya. Dan kau, kau masih menjadi istrinya hingga detik ini.”

Rosaline ternganga. Ia tidak suka dengan kenyataan itu, dan ia tidak suka jika ada orang yang mengingatkan tentang fakta tersebut.

“Rose, mungkin kau akan merasa tidak nyaman saat tahu tentang hal ini, tapi aku memang mengetahui semua tentang hubunganmu dan juga Dimitri. Kalian tidak pernah berpisah secara hukum, kau hanya membohongi dirimu sendiri selama ini, Dimitri masih suamimu.”

Rosaline memejamkan matanya frustasi. Ya, Ana benar. Selama ini ia menyebut Dimitri sebagai mantan suaminya, tapi kenyataannya bukan seperti itu. Empat tahun yang lalu, ia memang meninggalkan Dimitri dengan surat pembatalan pernikahan yang sudah ia tanda tangani. Tapi membatalkan pernikahan tak cukup dengan meninggalkan surat tersebut lalu pergi menghilang. Ia membutuhkan surat persetujuan dari pihak Dimitri, lalu melakukan beberapa sidang hingga keluar sebuah keputusan jika pernikahan mereka benar-benar telah dibatalkan secara hukum di Rusia sana. Tapi ia tidak pernah mendapatkan hal tersebut, tak ada surat yang bertanda tangan atas nama Dimitri, tak ada panggilan sidang, yang artinya pembatalan pernikahannya selama ini hanya fatamorgana semata baginya.

Dimitri memang telah melepaskannya selama Empat tahun terakhir, tapi itu tidak menghapus fakta bahwa lelaki itu masih menjadi suaminya.

-TBC-

1 thought on “Baby, oh Baby! – Chapter 17 (Masih istriku)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s