romantis

Baby, oh Baby! – Chapter 16 (Hancur)

 

Chapter 16

-Hancur-

 

“Kate?” Rosaline masih tak percaya dengan seorang gadis yang berada di hadapannya.

“Ya, aku.” Katavia berbicara menggunakan bahasa Inggris. Ia tahu sebenarnya gadis itu bisa berbahasa Inggris, tapi gadis itu tetap menggunakan bahasa Rusia untuk mengejeknya. Rosaline tahu itu.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menemuimu.”

“Maaf, aku sedang sibuk.”

“Kau tak akan sibuk saat mengetahui apa yang akan kukatakan padamu, Rose.”

“Tidak Kate! Aku tidak ingin mendengarkan apapun. Kau hanya ingin merusak semuanya, dan aku tidak ingin kau melakukanitu lagi padaku.”

Katavia tersenyum mengejek. “Benarkah? Bagaimana jika ini berhubungan dengan temanmu, Anastasya William?”

Mata Rosaline membulat seketika. “Apa yang akan kau lakukan terhadapnya? Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.”

Kali ini gadis itu tertawa lebar seakan menertawakan kebodohan Rosaline.

“Rose, sungguh, kau tak perlu mengasihaninya, karena yang perlu dikasihani disini adalah kau. Kau yang terlalu polos, bahkan mungkin mendekati bodoh.”

“Apa maksudmu?”

“Keluarlah, aku akan menjelaskan semuanya padamu.” ucap Katavia dengan bersungguh-sungguh.

Rosaline ragu, tapi ada sesuatu dari dalam dirinya yang ingin mengetahui semuanya. Ada apa tentang Ana? Apa hubungannya dengan Katavia? Bagaimana Katavia bisa menyebut Ana, padahal jika dipikir-pikir, gadis itu pasti tidak mengenal Ana sebelumnya. Akhirnya Rosaline mengangguk, dan menuruti apa keinginan Katavia.

***

Di dalam sebua Cofee Shop, Rosaline hanya menatap Katavia yang sedang menyesap kopinya. Ia membiarkan kopi pesanan Katavia mengepul di hadapannya dan tak ingin menyentuhnya sedikitpun.

“Minumlah, Rose. Aku tidak mungkin meracunimu dengan kopi itu. Meski aku membencimu, aku tidak sebodoh itu.”

“Aku tidak berpikir seperti itu.” Rosaline menjawab sindiran keras dari Katavia.

“Jadi, kau benar-benar mengandung bayinya?” tanya Katavia sembari melirik jemari Rosaline yang sejak tadi memang tidak berhenti mengusap lembut perut buncitnya.

“Ya, tapi aku mengandungnya bukan karena akan kuserahkan pada keluarga kalian untuk menjadi penerus. Aku mengandungnya karena kupastikan bahwa dia akan tumbuh besar bersamaku.”

“Kau melupakan sesuatu, Rose. Bagaimanapun juga, dia memiliki darah keluarga kami, Dimitri akan membawanya pulang, dan sekali lagi, kau tidak akan mendapatkan apapun.”

“Tidak! Itu tidak akan terjadi. Dimitri sudah memberikan kami rumah untuk kami tinggali bersama nanti. Jadi kau, jangan coba-coba untuk mengacaukannya.”

“Kau percaya dengannya?” Katavia tertawa lebar. “Aku sangsi, kau masih akan tetap percaya padanya atau tidak setelah tahu bagaimana hubungan dia dengan temanmu itu saat di belakangmu.”

“Apa maksudmu?”

“Apa aku dulu pernah bercerita padamu tentang kakakku yang pernah jatuh cinta dengan seseorang yang seharusnya tidak ia cintai? Jika aku tidak pernah menceritakannya, maka mari, akan kuceritakan padamu kisah indah mereka.”

“Tidak.” Rosaline menggelengkan kepalanya. Ia tidak suka dengan hal ini, ia tidak suka saat pikirannya mulai berkelana sendiri, menerka-nerka sesuatu yang bahkan belum tentu kebenarannya. Ia tidak suka!

“Kenapa Rose? Kau takut menerima kenyataan yang ingin kuceritakan padamu?”

“Aku tidak ingin mendengar apapun!”

“Benarkah? Termasuk kenyataan bahwa Anastasya adalah kakakku yang merupakan cinta pertama Dimitri? Kau tidak ingin mendengar cerita tentang mereka?”

Rosaline tercengang dengan kenyataan itu. Ia merasa bagaikan tersambar petir di siang hari. Sungguh, pikirannya tidak sampai ke sana. Karena tadi ia hanya berpikir bahwa mungkin saja Katavia akan mengatakan jika Dimitri ada hubungan special dengan Ana, bukan tentang hubungan seperti yang dikatakan gadis itu tadi. Sungguh, mendengar hal tersebut membuat Rosaline shock berkali-kali lipat.

Seketika itu juga, Rosaline teringat cerita Sang mantan mertua. Ibu Dimitri pernah bercerita tentang Dimitri yang mencintai adiknya sendiri yang saat itu sudah diusir dari rumah mereka karena hubungan terlarang tersebut, yang bahkan Rose saja lupa dengan nama adiknya itu karena yang Rosaline ingat saat itu hanyalah fakta bahwa kemungkinan Dimitri memiliki keinginan yang menyimpang.

Rosaline tidak pernah berpikir jika adiknya itu adalah Anastasya, teman dekatnya sendiri, dan sepertinya itu tidak mungkin. Anastasya adalah puteri dari keluarga Williams, salah seorang keluarga terpandang di Inggris sana. Mungkin Katavia hanya mengarang-ngarang cerita untuk menghancurkannya. Pikirnya.

***

Di lain tempat…

Setelah selesai dengan urusan jual beli rumah, Dimitri segera merogoh ponselnya. Ia menghubungi seseorang yang memang ia tugaskan untuk menjaga Rosaline dari jauh.

“Apa dia masih di dalam flatnya?” tanyanya pada orang di seberang.

“Tidak, Tuan, saya melihat Nona Rosaline sedang keluar dengan seorang wanita, keduanya tengah asyik bercakap di sebuah cofee shop.”

“Apa itu Ana?” Dimitri melirik jam tangannya. “Seharusnya dia belum keluar karena belum waktunya makan siang.”

“Bukan, Tuan, wanita lainnya.”

Dimitri mengerutkan keningnya. Ia tidak yakin Rosaline memiliki teman perempuan lain selain Ana. “Apa kau bisa mengambil gambar mereka?” tanya Dimitri pada orang tersebut.

“Bisa, Tuan. Saya akan mengirimnya lewat Email.”

“Oke.” Setelah itu Dimitri menutup sambungan teleponnya. Ia menunggu, lalu tak berapa lama, bunyi dering dari ponselnya membuatnya melihat kembali ponselnya tersebut. Sebuah Email masuk, berisi rincian tempat keberadaan Rosaline saat ini dan juga sebuah gambar yang memperlihatkan dua orang wanita sedang duduk berhadap-hadapan di sebuah kafe. Wanita yang sangat dikenalinya.

Mata Dimitri membulat seketika. Berharap jika ia salah lihat, tapi nyatanya tidak.

Secepat kilat ia menghubungi seseorang. Siapa lagi jika bukan orang yang ia bayar untuk mengawasi Katavia.

“Ya Tuan?”

“Apa yang terjadi? Kenapa kalian tidak mengabariku?”

“Maaf? Maksud Tuan?”

“Sial! Dimana Katavia?”

“Oh Ya, kami hampir lupa mengabari Tuan Dimitri. Nona Katavia sedang berlibur ke Maldives dengan beberapa orang temannya.”

“Kalian yakin? Apa kalian sudah memastikannya?”

“Ya, kami sudah memstikan tiket keberangkatannya.”

“Sialan! Apa kalian juga mengikutinya?” tanya Dimitri yang sudah mulai marah.

“Tidak Tuan, kami tetap di Rusia.”

“Astaga, apa kalian tahu? Dia berada di sini! Sialan!” dan setelah itu, Dimitri segera mematikan sambungan teleponnya. Sial! Katavia pasti sudah tahu jika dirinya sedang diawasi hingga mampu mengelabui orang-orang pesuruhnya.

Secepat kilat Dimitri menyalakan mesin mobilnya, lalu mengemudikannya ke arah cofee shop tempat dimana Rosaline dan Katavia bertemu. Demi Tuhan, ia tidak akan memaafkan Katavia jika sampai adiknya itu berbuat macam-macam terhadap Rosaline.

Dengan spontan, Dimitri menghubungi Ana. Ya, ia takut jika Katavia berbuat nekat, dan jika benar seperti itu, maka ia membutuhkan Ana.

“Hai, ada apa?” Ana menyapa dari seberang.

“Kau dimana? Aku jemput sekarang.”

“Di rumah sakit, aku baru saja mau makan siang. Ada apa?”

“Kate, Kate menemui Rosaline.”

“Apa? Bagaimana bisa?”

“Aku akan menjemputmu, aku takut dia berbuat macam-macam.”

“Jangan, itu akan membuang waktu. Kau segera ke sana saja. Beri tahu dimana tempatnya, aku akan segera ke sana.” Dimitri setuju dengan ide Ana, lalu ia menyebutkan tempat cofee shop tersebut berada.

***

Sampai di Cofee Shop….

Dimitri segera keluar dari dalam mobilnya. Ia berlari masuk ke dalam cofee Shop tersebut. Dalam hati ia masih berharap jika apa yang ia lihat tadi salah. Katavia tidak berada di sini. Tapi sampai di dalam, ia sadar jika ini bernar-benar nyata, saat dirinya melihat Katavia duduk dengan posisi menghadapnya, sedangkan Rosaline duduk tepat di hadapan gadis itu dengan posisi membelakanginya.

Kaki Dimitri berhenti seketika, kaku, seakan tak berani melangkah mendekat ke arah Rosaline.

Pada saat bersamaan, Ana datang tepat di belakang Dimitri. “Dimitri.” Panggilnya.

Keduanya melihat Katavia berdiri. Dengan begitu menjengkelkannya, gadis itu bahkan bertepuk tangan pada Dimitri dan Ana.

“Kejutan… Aku masih tidak menyangka, setelah begitu lama, kalian ternyata masih tetap bersama.”

“Jaga ucapanmu, Kate!” Ana berseru keras. Sedangkan Dimitri masih diam membatu melihat reaksi Rosaline yang bahkan tidak bergerak sedikitpun. Wanita itu seakan enggan untuk membalikkan badannya, untuk menghadap ke arahnya.

Kaki Dimitri berjalan satu langkah mendekat. Dengan spontan ia memanggil nama Rosaline. “Rose.”

“Kau melihatnya, Rose? Bahkan mereka masih tampak semesra dulu.”

“Kate!” lagi-lagi Ana yang berseru keras. Sedangkan Dimitri sama sekali tidak mempedulikan Katavia. Yang ia pedulikan hanya Rosaline dan reaksi dari wanita itu.

Rosaline bangkit seketika. Sambil menunduk, ia membalikkan tubuhnya bersiap keluar, berjalan secepat yang ia bisa, melewati Dimitri dan juga Ana.

Dimitri hanya diam melihat reaksi Rosaline, ia tahu bahwa semuanya sudah hancur. Dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya agar Rosaline bisa percaya lagi kepadanya.

Sedangkan Ana, ia segera menghentikan Rosaline saat temannya itu berada di hadapannya.

“Rose, kau tidak mempercayai dia, bukan? Rose, biarkan kami menjelaskan semuanya padamu.”

“Apa lagi yang perlu kau jelaskan? Kau adalah dalang dari semua ini, bukan? Apa tujuanmu, Ana?”

“Aku tidak memiliki tujuan apapun, aku hanya ingin melihat kalian bahagia, kalian bersama lagi.”

“Ckk, jangan bersikap seolah-olah kau adalah malaikat!”

“Aku tidak bersikap seperti itu, karena memang itulah tujuanku.”

“Untuk mendapatkan dia kembali?” tanya Rosaline dengan tajam. Matanya bahkan tak mampu menampung butiran-butiran bening itu hingga jatuh menuruni pipinya.

“Rose, aku tidak pernah berpikir tentang hal itu. Kau tahu jika aku sudah memiliki Sean, kami akan menikah.” Ana bahkan menunjukkan jari manisnya yang sudah dilingkari cincin tunangannya bersama Sean, kekasihnya.

“Sean?” Rosaline tertawa diantara tangisnya. “Aku bahkan tidak mempercayai lagi tentang hubungan kalian. Bisa saja kau menikah dengan orang lain hanya untuk menutupi hubungan sialanmu dengan dia.” Ucap Rosaline sembari menunjuk ke arah Dimitri.

“Cukup, Rose. Kau hanya terlalu emosi. Tidak seharusnya kau berkata seperti itu pada Ana setelah apa yang sudah dia lakukan untuk kita.” Dimitri membuka suaranya. Meski berat, tapi ia tidak akan membiarkan Ana dihina seperti itu.

“Aku tidak sedang bicara denganmu, dan aku tidak ingin bicara denganmu lagi!” Rosaline berseru keras pada Dimitri. Rosaline melanjutkan langkahnya, tapi Ana kembali menghentikannya.

“Tolong, jangan seperti ini, Rose. Kita bisa membicarakannya baik-baik.” Ana memohon sembari mencekal pergelangan tangan Rosaline. Sungguh, ia tidak ingin hubungannya dengan Rosaline memburuk karena kesalah pahaman ini.

Tapi tanpa sepatah katapun, Rosaline melepas paksa cekalan tangan Ana, lalu pergi dengan meninggalkan tatapan penuh kebencian pada Ana.

Mata Ana berkaca-kaca saat melihat kepergian Rosaline. Lalu ia menatap ke arah Dimitri. “Apa yang kau lakukan di sini? Kejar dia.”

Dimitri menggeleng pelan. “Semuanya sudah hancur.”

“Tolong, jangan begini, kejar Rosaline, dia membutuhkanmu.” Ana memaksa Dimitri tapi Dimitri masih berdiri pada tempatnya, bahkan lelaki itu tak bergerak sedikitpun.

Ya, semuanya sudah hancur, dan Dimitri sangsi dapat memperbaikinya kembali. Atau mungkin, sebenarnya ia takut untuk menghadapi Rosaline, takut jika wanita itu menolak kedatangannya.

“Aku benar-benar kecewa padamu.” Ana memukul dada bidang Dimitri. “seharusnya kau tidak menyerah, seharusnya kau mengejar apa yang kau inginkan! Kau tidak akan mendapatkan apapun jika dirimu saja tidak mau berusaha lebih keras. Dan kau.” Ana menunjuk pada Katavia yang sejak tadi tak berhenti menyunggingkan senyumannya saat melihat kehancuran mereka bertiga. “Kau akan menerima akibatnya. Tuhan yang akan membalasnya.” Setelah itu, Ana segera pergi. Ya, ia harus segera menghampiri Rosaline. Bagaimanapun juga, kondisi Rosaline tidak baik. Dan ia harus selalu berada di dekat temannya itu.

Sedangkan Dimitri, ia menatap Katavia dengan tatapan membunuhnya. “Kita pulang.”

“Tidak, urusanku belum berakhir di sini.”

“Aku sedang tidak meminta persetujuanmu, aku memaksamu.” Lalu setelah perkataannya tersebut. Dimitri menyeret Katavia keluar dari dalam cofee shop tersebut, sedangkan Katavia, ia sesekali meronta karena sikap kasar yang diberikan Dimitri padanya. Ya, ia tidak menyangka jika Dimitri akan bersikap sekasar ini padanya. Kenapa? Karena Rosaline? Sial!

-TBC-

1 thought on “Baby, oh Baby! – Chapter 16 (Hancur)”

  1. ingin rasa na q kasih sianida k kopi na kate , biar dia tau rasa , knp ga d buat kate mati kecelakan yng mngenas kan , q terlalu esmosi 😤😤
    akhir na apa yng q takut kan terjadi , seharus na ana ma dimi jujur dri awal ma rose .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s