romantis

Baby, oh Baby! – Chapter 15 (Rumah pohon)

 

Chapter 15

Rumah Pohon

 

Dua bulan kemudian…….

“Aku masih berharap kau menutup saja Pet Shopmu.” Dimitri berbicara sembari menyantap sarapan di hadapannya.

Sejak malam itu, hubungan Dimitri dengan Rosaline memang semakin dekat. Hampir setiap hari, Dimitri datang menemani Rosaline, bahkan bisa dikatakan jika mereka kini sudah hidup bersama di dalam flat Rosaline, hanya saja, Rosaline masih memungkiri kenyataan itu ketika Ana bertanya padanya.

Dimitri hampir menghabiskan waktunya di flat Rosaline. Menghabisnya perhatiannya untuk wanita itu. Sedangkan Rosaline sendiri, ia merasa senang, nyaman karena dimanjakan oleh sosok Dimitri.

“Aku sudah pernah membahas ini sebelumnya, bahwa aku akan tetap membukanya selama aku masih bisa.”

“Aku hanya khawatir dengan keadaanmu, kau tampak semakin sulit bergerak.” Ya, karena usia kandungan rosaline kini sudah lebih dari Tiga puluh Tiga minggu.

“Kata siapa? Apa kau tidak bisa melihatnya?” Rosaline bangkit lalu memutar-mutar dirinya di hadapan Dimitri, dan Dimitri akhirnya tak dapat menahan senyumannya. “Aku bahkan masih bisa menari-nari.”

“Kau tahu bukan itu yang kumaksud.”

“Dimitri, aku baik-baik saja. Oke?” Rosaline kembali duduk, lalu meminum susunya sebelum membuka suara lagi pada Dimitri. “Aku masih memikirkan tentang pindah ke rumah baru.”

Ya, beberapa saat yang lalu, setelah hubungan mereka semakin dekat seperti saat ini. Dimitri memang sudah mengusulkan pada Rosaline tentang pindak ke sebuah rumah di dalam sebuah pemukiman elit. Bukan ke apartemennya. Karena bagaimanapun juga, Dimitri berpikir bahwa memiliki bayi artinya memiliki kehidupan baru, dan harusnya mereka sudah menyiapkan semuanya secara matang. Seperti, dimanakah nantinya anak itu sekolah, bermain dan lain sebagainya. Dimitri tidak akan membiarkan bayinya besar di sebuah lingkung Flat sederhana atau di sebuah apartemen yang bahkan tidak memiliki tetangga.

Belum lagi jika berpikir tentang barang-barag bayi mereka nantinya yang pastinya tidak sedikit. Flat kecil Rosaline mungkin akan penuh dengan barang-barang tersebut. Dan Dimitri tidak mau memikirkan bagaimana sesaknya flat tersebut nantinya.

“Bagaimana? Kau berubah pikiran?” Dimitri bertanya dengan cepat. Ya, karena hingga saat ini, Rosaline memang belum ingin memikirkan tentang hal tersebut. Berpindah ke sebuah rumah dengan Dimitri tandanya ia kembali menjalin hubungan serius dengan lelaki tersebut, tapi jika ia tidak memikirkannya, ia juga cukup merasa kebingungan dengan masa depan bayi mereka nantinya.

“Ya, sedikit. Sepertinya tawaranmu tidak salah, maksudku, seorang anak memang lebih bagus tumbuh di sebuah pemukiman. Memungkinkan ia berteman dengan beberapa anak tetangga dan lain sebagainya. Dan memiliki rumah bukan ide buruk, mengingat barang-barang nantinya akan semakin banyak.”

“Jadi, kau mau pindak ke sebuah rumah yang akan kubelikan untukmu nantinya?”

“Ya, jika aku boleh mencicil separuhnya.”

“Rose, ayolah.” Dimitri mendesah kesal. Sungguh, ia tidak suka saat Rosaline menolak semua bentuk tanggung jawabnya.

“Dimitri, aku masih mengizinkanmu membayar separuhnya karena kau adalah ayah dari bayi ini, itu bentuk tanggung jawabmu, tapi aku tidak akan membiarkanmu membayar sepenuhnya.”

“Kenapa? Karena aku bukan suamimu?”

“Ya.”

“Kita bisa menikah lagi, jika itu yang kau inginkan.”

“Aku tidak pernah bilang ingin kau menikahiku.”

“Rose.” Dimitri kembali mendesah.

“Lanjutkan saja sarapanmu. Aku ingin kita berangkat pagi, karena akan banyak yang ingin kubeli untuk bayi kita.” Rosaline tidak mempedulikan desahan kesal dari Dimitri. Ia malah berkata seolah-olah mereka akan mengalami hari yang luar biasa.

Ya, jadwal mereka hari ini memang cukup padat. Mereka akan berbelanja kebutuhan si bayi, dan jika memungkinkan, mereka akan memeriksakan si bayi pada Ana. Ya, seperti biasa.

***

Di lain tempat.

Seorang gadis duduk dengan begitu anggun, menatap semua foto-foto yang sedang berada di hadapannya. Gadis itu adalah Katavia, yang kini sudah berada di New York.

Ya, sudah sejak Tiga hari yang lalu, wanita itu berada di kota tersebut. Niatnya, tak lain adalah untuk menghampiri Rosaline, wanita sialan yang ternyata menjadi dalang dari perginya Dimitri dari sisinya.

Setelah hampir dua bulan lamanya mengintai Dimitri melalui seseorang, Katavia mendapatkan informasi yang cukup mencengangkan, yaitu, bahwa lelaki itu kini sedang menjalin hubungan kembali dengan dua orang wanita di masa lalunya. Sial!

Katavia tidak mampu menahan emosinya, apalagi saat ia melihat foto-foto yang memperlihatkan bagaimana kedekatan diantara mereka bertiga. Sepertinya ketiganya tidak memiliki masalah apapun, tapi apakah memang seperti itu?

Belum lagi kenyataan bahwa Rosaline ternyata sedang hamil. Katavia curiga jika bayi itu adalah bayi Dimitri, mengingat Dimitri ternyata juga tinggal di flat kecil bersama dengan Rosaline.

Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apa yang terjadi dengan hubungan mereka?

Ponselnya berbunyi. Katavia mengangkat panggilan tersebut saat tahu jika sang pemanggil adalah seorang pesuruhnya.

“Ada kabar terbaru?” tanyanya secara langsung.

“Ya, Nona. Kami baru saja mendapatkan kabar yang sangat falid tentang target kita.”

“Apa?”

“Bayi itu memang milik Tuan Dimitri. Namun terjadi karena campur tangan Nona Anastasya.”

“Apa?” Sungguh, Katavia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa Ana membantu Rosaline? padahal, wanita itu masih ia curigai memiliki hubungan special dengan Dimitri meski hanya sembunyi-sembunyi.

“Ya, Nona. Mereka melakukan inseminasi. Dokter Anastasya yang membantunya.”

Katavia berdiri seketika. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Jika Dimitri memiliki bayi dari Rosaline, maka ia akan kehilangan lelaki itu untuk selama-lamanya. Katavia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Ia harus melakukan sesuatu untuk menghancurkan semuanya dan merebut Dimitri kembali ke sisinya.

***

“Aku bingung, padahal, saat di rumah tadi, sudah banyak daftar yang ingin kubeli, aku bahkan sudah mencatatnya, tapi saat sampai di sana tadi, semangatku untuk membeli barang-barang itu seakan menurun.” Rosaline menggerutu pada dirinya sendiri. Saat ini, mereka sudah berada di dalam mobil Dimitri, keduanya baru saja pulang dari sebuah pusat perbelanjaan. Dan mereka hanya membeli beberapa pakaian bayi saja. Itu tentu karena Rosaline yang tiba-tiba tidak bersemangat.

“Kau kehilangan semangatmu.”

“Ya, dan aku tidak tahu karena apa.” Rosaline menatap ke jalan yang berada di hadapan mereka. Lalu ia merasa jika ada yang berbeda. “Tunggu, ini bukan jalan ke tempat Ana.”

“Ya, kita tidak akan ke sana siang ini.”

“Lalu?”

“Aku akan menunjukkans sesuatu padamu.”

“Apa?”

“Kau akan tahu nanti.”

“Tapi, kita kan ada janji dengan Ana. Dia akan menunggu kita nanti.”

“Aku sudah menghubunginya, bahwa kita akan menunda pertemuan kita besok.”

“Benarkah? Kadang, aku curiga dengan hubungan kalian. Kau tampak dekat dengannya.”

Dimitri sedikit tersenyum. “Kenapa? Kau cemburu?”

Rosaline tampak salah tingkah seketika. “Tidak. Yang benar saja.” Gerutunya. Ya, ia tidak mungkin cemburu degan Ana. Toh, Ana sudah memiliki kekasih. Jadi tidak akan mugkin ada sesuatu diantara Ana dan Dimitri.

Rosaline menegakkan punggungnya saat mobil Dimitri memasuki pemukiman elit di pinggiran kota. Pemukiman itu sangat tenang, indah dan tampak begitu nyaman. Kenapa mereka kesana? Jangan-jangan….

“Ke-kenapa kita ke sini?”

“Kita akan melihat rumah.”

“Dimitri. Aku bahkan belum menyetujui keputusanmu untuk pindah rumah.”

“Aku belum membelinya, kita hanya melihat-lihat saja. Siapa tahu kau suka atau ada yang kurang menurut pandanganmu.”

Rosaline menghela napas panjang. Rupanya, sikap Dimitri yang semaunya sendiri sudah mulai kambuh, dan ia sedikit kesal karena hal tersebut. Tak lama, Rosaline ternganga saat mendapati mobil Dimitri membelok ke sebuah halaman rumah.

Rumahnya memang tak seberapa besar jika dilihat dari luar, tak tampak mewah juga, tapi tentu sangat indah. Rumputnya tumbuh hijau dan terawat. Ada beberapa tanaman bunga di sana, dan juga sebuah pohon yang cukup rindang yang berada di halaman rumah tersebut.

Dimitri menghentikan mobilnya, mematikan mesinnya sebelum berkata “Inilah rumahnya.”

Rosaline masih ternganga menatapnya. Menatap ke segala sudut dari halaman rumah tersebut. Tampak asri, tenang, nyaman, indah, dan sepertinya jauh dari kata berisik seperti di falnya yang berada di tengah-tengah kota.

“Ke-kenapa kau memilih rumah ini?”

Dimitri menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kemudianya. Ia mendesah panjang, lalu menjawab “Entahlah, aku hanya ingin tinggal di sana. Kau suka?” tanyanya pada Rosaline.

Dengan spontan, Rosaline menganggukkan kepalanya. “Sangat indah. Padahal aku belum melihat bagian dalamnya.”

“Ya, itu juga yang kurasakan saat pertama kali melihatnya. Di dalamnya juga ada sebuah taman kecil yang menyatu dengan kolam renangnya.”

“Taman? Kolam renang?” tanya Rosaline tak percaya.

Dimitri mengangguk dengan antusias. “Ya, kita bisa mengadakan pesta kecil-kecilan di area kolam renang dengan para tetangga, aku bisa mermain sepak bola di taman kecil di samping rumah. Dan yang paling penting, kau lihat itu.” Dimitri menunjuk pohon rindang yang berada di halaman rumah tersebut. Rosaline menatapnya dan menganggukkan kepalanya. “Aku sudah membayangkan bahwa aku akan membangun rumah pohon dengan Baby di pohon itu.”Dimitri tersenyum menatap ke arah pohon rindang tersebut.

Rosalinepun demikian. Dengan spontan ia tersenyum saat membayangkan seorang anak laki-laki kecil sedang berlari-lari di halaman rumah tersebut, sedangkan Dimitri sedang berada di atas pohon membangun rumah pohon untuk putera kecil mereka. Keduanya tampak tertawa bahagia, dan itu benar-benar membuat perasaan bahagia membuncah di dalam dada Rosaline.

Dengan spontan ia mengusap perutnya yang sudah semakin membesar, lalu tanpa sadar ia berkata “Ya, aku mau.”

Dimitri menatap Rosaline seketika. “Maksudmu?”

“Aku mau pindah kemari. Dengan syarat.”

Dimitri sempat senang, tapi kemudian ia mengangkat sebelah alisnya. “Apa?” tanyanya dengan sedikit curiga.

“Kau, juga harus tinggal di sana, bersamaku, dan bayi kita nanti.”

“Oh Rose, tentu saja.” Dimitri meraih tubuh Rosaline dan memeluk wanita tersebut dengan sesekli megecup puncak kepalanya. Tak berapa lama, ia melepaskan pelukannya, lalu bertanya pada Rosaline. “Kau ingin melihat bagian dalamnya?” tawarnya.

Rosaline mengangguk dengan antusias. “Ya, aku ingin melihatnya.”

“Baiklah, kita akan melihatnya.” Ucap Dimitri sembari meraih jemari Rosaline lalu mengecup lembut punggung tangannya. Oh, ia merasa begitu bahagia. Rosaline memang sosok yang sulit ditebak, satu detik wanita itu bersikap ketus padanya dan juga menolaknya, tapi di detik selanjutnya, wanita itu bersikap seolah-olah tak dapat berbuat apapun selain menuruti permintaannya. Apa karena hormonnya? Atau, karena wanita itu memang sudah luluh dan tak mampu mengelak dari pesona yang sudah ia berikan?

Sedangkan Rosaline sendiri, saat ini ia sudah tidak mempedulikan apapun lagi. Masa lalu mereka yang selalu ia ingat seakan tertutupi dengan harapan akan masa depan mereka yang berada di rumah baru tersebut. Rose tak dapat memungkiri fakta, bahwa dengan Dimitri ikut tinggal bersamanya, berarti lelaki itu mau membuang egonya, lelaki itu mau mengalah dengannya, bahkan mungkin lelaki itu sudah membuang sebagian hidupnya dimasa lalu untuk bisa hidup dengan dirinya di masa depan. Bukankah itu sudah cukup? Tapi benarkah begitu? Benarkah Dimitri melakukan semua itu demi membuktikan cintanya?

***

Besok siangnya……

Rosaline tengah menyibukkan diri, menata barang-barang di dalam flatnya. Ya, setelah kemarin sore mengunjungi calon rumah mereka, akhirnya diputuskan bahwa ia akan menuruti apa permintaan Dimitri yaitu pindah ke rumah tersebut.

Sorenya, Dimitri segera menyelesaikan semua kepentingan pembelian agar mereka bisa segera pindah ke rumah tersebut sebelum sang bayi lahir. Ya, tentu saja, mengingat barang-barang bayi tidaklah sedikit, dan entah kenapa Rosaline seakan baru tersadarkan akan hal tersebut. Ya, ia tidak bisa membesarkan bayinya di dalam flat mungilnya, ia butuh ruang yang lebih besar, ia burtuh sebuah rumah impian, dan rumah pilihan Dimitrilah yang cocok memenuhi persyaratannya.

Apa benar karena alasan itu? Tentu saja tidak. Rosaline tahu pasti bahwa keputusannya untuk menerima ide Dimitri itu bukan hanya karena pemikiran logis diatas, melainkan karena hatinya yang sudah terketuk, bahkan bisa dibilang, terbuka sepenuhnya untuk menerima Dimitri kembali.

Ya, ia ingin memulai kembali dengan Dimitri. Bukan hanya seperti Dua bulan terakhir, tapi lebih. Ia ingin lelaki itu yang akan selalu ia lihat saat ia membuka dan menutup matanya, ia ingin memasangkan dasi lelaki itu saat bekerja seperti dulu, ia ingin menyiapkan sarapannya, atau bahkan mungkin mengunjunginya ke kantor sembari membawakan makan siang untuk Dimitri, dan ia juga ingin, menyambut lelaki itu setiap pulang dari kerja, menghilangkan rasa lelahnya dengan secangkir kopi yang sudah ia siapkan.

Ia ingin kembali menjadi istri Dimitri, miliknya seutuhnya. Karena hal itulah ia menerima ajakan lelaki itu untuk pindah ke rumah indah yang kemarin sore mereka kunjungi.

Saat Rosaline sibuk memasukkan beberapa bukunya ke dalam kardus-kardus yang sudah ia siapkan, ia mendengar pintu flatnya di ketuk oleh seseorang. Rosaline menghentikan pekerjaannya lalu berpikir sebentar tentang kemungkinan siapa yang datang.

Dimitri? Tidak mungkin, karena lelaki itu masih menyelesaikan administrasi pembelian rumah dan lain sebagainya, sedangkan Ana? Tidak mungkin juga karena nanti sore mereka sepakat akan bertemu di tempat praktik Ana untuk memeriksakan bayinya seperti biasa.

Kemungkinan yang darang berkunjung ke flatnya adalah Alan. Ya, mungkin saja lelaki itu ingin bertemu dengan Snowky, mengingat lelaki itu sudah cukup lama tak bertemu dengan anjingnya tersebut.

Rosaline bangkit, lalu menuju ke arah pintu flatnya. Ia membukanya, dan alangkah terkejutnya saat mendapati siapa sosok yang sudah berada di depan pintu Flatnya.

“Halo, Rose, bagaimana kabarmu?” gadis itu menyapa dalam bahasa Rusia.

Tidak! Rosaline tidak ingin semua impiannya hancur begitu saja hanya karena kehadiran dari perempuan tersebut. Bagaimana bisa gadis ini berada di hadapannya? Apa yang akan ia lakukan selanjutnya?

-TBC-

1 thought on “Baby, oh Baby! – Chapter 15 (Rumah pohon)”

  1. Terkadang kebahagiaan itu sejati na selalu d ikuti dengan k hancuran , seharus na rose sudah bisa mnebak itu …

    kadang q berpikir dari mn ibu dapet ide seindah ini buat bikin cerita , masa dari awal sampe akhir selalu d buat terpesona ma certa na..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s