romantis

Baby, oh baby! – Chapter 13 (Sepanas bara)

 

Chapter 13

-Sepanas bara-

 

Dimitri sedikit mengangkat tubuh Rosaline, membawa wanita itu masuk ke dalam kamar tanpa melepaskan tautan bibir mereka.

Kulit Rosaline terasa halus dan lembut, harum menyenangkan, dan juga, basah menggairahkan. Gabungan dari semua yang ia rasakan pada tubuh Rosaline membuat Dimitri seakan tak mampu menahan diri lagi. Ia menurunkan Rosaline tepat di belakang pintu kamar Rosaline setelah pintu itu kembali di tutup. Lalu tanpa banyak bicara lagi, Dimitri meraih tali kimono yang membalut tubuh Rosaline, menariknya hingga kimono itu terbuka dan mendapati tubuh bagian depan Rosaline yang terpampang jelas di hadapannya.

“Kau, sangat menakjubkan.” bisiknya parau.

Rosaline tidak menjawab, ia malam mengulurkan jemarinya untuk membuka kancing-kancing kemeja yang dikenakan oleh Dimitri, matanya menelusuri dada bidang milik mantan suaminya tersebut. Ya, masih sebidang dulu, sekekar dulu, dan begitu menggairahkan seperti dulu.

Dimitri tidak  berubah, dan itu benar-benar membuat Rosaline merasa tidak adil karena lelaki itu selalu tampak gagah dan menggairahkan di matanya.

Setelah selesai membuka baju Dimitri, tanpa meminta izin, Rosaline juga segera melucuti celana yang membungkus kaki dari lelaki di hadapannya tersebut.

Dimitri sedikit tersenyum sembari menahan sesuatu di dalam dirinya ketika jemari mungil Rosaline melucuti pakaiannya. Sial! Terasa sangat panas, dan Dimitri benar-benar tergoda dengan jari jemari mungil milik Rosaline tersebut.

“Kau menyukainya?” tanya Dimitri dengan suara parau.

“Apa?”

“Melucuti pakaianku.”

“Kau juga menyukainya, bukan? Menelanjangiku di hadapanmu.” Rosaline membalas.

Dimitri sudah telanjang bulat tepat di hadapannya. Berdiri dengan gagah dan tampak begitu berkuasa, hingga Rosaline bahkan menahan napas saat melihat betapa bergairahnya lelaki di hadapannya tersebut.

“Ya, aku selalu menyukainya, Rose.”

Jemari Dimitri terulur, mendarat pada pundak Rosline, lalu mengusap lembut permukaan kulitnya sebelum melepaskan kimono yang dikenakan Rosaline dengan lembut, sedikit demi sedikit.

Kimono itu jatuh di lantai, meninggalkan Rosaline yang tampak indah dengan tubuh polosnya. Kulitnya seperti bersinar, sesekali tampak kemerahan dibawah tatapan mata Dimitri.

“Kau selalu tampak indah di mataku.” Racaunya dengan spontan menggunakan bahasa Rusia.

Rosaline tidak mempermasalahkannya, karena mungkin memang seperti itulah Dimitri. Ia tidak bisa memaksa lelaki itu untuk selalu menggunakan bahasa inggris seperti dirinya.

Dimitri melangkah mendekat, kepalanya menunduk, mendaratkan bibirnya pada pundak Rosaline. Mengecupnya dengan kecupan basah menggoda. Jemarinya terulur, mendarat pada payudara Rosaline yang tampak lebih padat dari sebelumnya, melambai-lambai seakan ingin disentuh, digoda, dan dimainkan dengan jemarinya.

Rosaline mengerang pelan, kakinya merasa gemetar saat Dimitri mulai menggdoa sebelah payudaranya. Bibir lelaki itu kini turun, membuat Rosaline tak kuasa menengadahkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya menahan sesuatu didalam dirinya.

Puncak payudaranya mengeras, saat bibir basah Dimitri sampai di sana, menggodanya dengan kecupan-kecupan lembut, meniup-niupnya, hingga Rosaline merasa tak mampu untuk berdiri pada kakinya sendiri.

“Dimitri.” Rosaline mengerang, mengulurkan lengannya untuk menyentuh kepala Dimitri agar tidak pergi dari sebelah payudaranya. Tapi secepat kilat Dimitri meraih pergelangan tangan Rosaline, memenjarakannya di atas kepala dengan sebelah tangannya, sedangkan bibirnya tidak berhenti menggoda puncak payudara wanita tersebut.

“Oh, Dimitri, tolong.” Rosaline memohon, agar lelaki itu segera memulai permainan panas mereka.

Bukannya mendengar keinginan Rosaline, Dimitri malah menjalankan sebelah jemarinya, bergerilya pada tubuh Rosaline  sebelum mendarat sepenuhnya pada pusat diri wanita tersebut.

Dimitri menggodanya, membuat Rosaline mengerang tak tertahan. Astaga, bagaimana mungkin lelaki ini bisa semahir ini memainkan tubuhnya? Tubuhnya seakan terpanggil dengan sentuhan demi sentuhan yang dilakukan oleh Dimitri, seakan bangkit, berkobar dan sulit dipadamkan sebelum ia mencapai puncaknya.

“Astaga, apa yang kau-” Rosaline tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba Dimitri meninggalkan payudaranya lalu menyambar bibir ranumnya. Membungkamnya dengan cumbuan panas menggoda.

Lalu Dimitri melepaskan cekalan tangannya, sedikit mengangkat tubuh Rosaline kemudian menyatukan diri sepenuhnya dengan bukti gairahnya.

“Aaarrgghhhh.” Rosaline mengerang diantara cumbuan mereka ketika penyatuan sempurnya itu terjadi. Sedangkan Dimitri, ia menahan geramannya saat merasakan Rose begitu rapat membungkusnya.

Rosaline tak kuasa untuk tidak mengalungkan lengannya pada leher Dimitri. Ia memeluk erat tubuh lelaki itu saat tautan bibir mereka terputus.

Sedangkan Dimitri, dengan perkasa ia mengangkat tubuh Rosaline, menggendongnya dalam keadaan menyatu sepenuhnya.

“Apa yang sudah kau lakukan padaku, Rose?” Dimitri meracau.

Tubuhnya mulai bergerak, menghujam ke dalam tubuh Rosaline, mencari kenikmatan diantara pergerakan panas yang sedang ia lakukan. Bibirnya mencumbu pundak Rosaline, menikmati kelembutannya, menghirup aroma segar yang menguar dari kulit indah tersebut.

Rosaline semakin mengeratkan pelukannya, bibirnya tak berhenti mengerang seirama dengan hujaman yang diberikan Dimitri padanya.

“Aku merindukanmu, Aku begitu merindukanmu.” Dimitri kembali meracau, dan Rosaline tak peduli karena yang ia pedulikan saat ini hanyalah kenikmatan yang diciptakan oleh Dimitri yang tak berhenti bergerak menghujam dirinya.

“Jangan berhenti, astaga.” Perintah Rosaline sembari mempererat pelukannya. Oh, ia sangat suka, ia begitu menikmati permainan panas yang diberikan Dimitri padanya ia tidak ingin menghentikan permainan tersebut.

Dimitripun demikian. Ia senang karena Rosaline juga menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Hal ini membawanya pada keadaan Empat tahun yang lalu. Keadaan dimana Rosaline masih menjadi miliknya seutuhnya, keadaan dimana hubungan mereka masih sepanas bara hingga kemudian sebuah badai meluluh lantakkan semuanya.

Dimitri mempercepat lajunya, ia bahkan tidak sadar jika dirinya sudah menggeram penuh dengan kenikmatan sesekali meracau dengan menggunakan bahasa Rusia.

“Jangan tinggalkan aku… Jangan lagi pergi dariku…”

Rosaline meneriakkan nama Dimitri ketika ia merasakan gairahnya memuncak. Badai kenikmatan menghantamnya hingga membuat otot-ototnya kaku. Rosaline tak dapat menahannya lagi. Sekali lagi Dimitri membawanya pada jurang kenikmatan yang tak berdasar.

Teriakan Rosaline ditambah dengan reaksi tubuh Rosaline akibat orgasme yang dialami wanita itu benar-benar membuat Dimitri tak mampu menahan diri lebih lama lagi. Rosaline semakin terasa erat mencengkeramnya hingga membuat Dimitri menggeram dan dengan spontan menaikkan ritme permainannya. Dimitri menghujam lagi dan lagi, hingga setelah beberapa kali hujaman kerasnya, Dimitri meledakkan gairahnya di dalam tubuh Rosline.

Napas keduanya memburu, bahkan Dimitri masih sesekali menggeram seperti seekor singa jantan yang menikmati hidangan dihadapannya.

Setelah beberapa menit berlalu dan gelombang orgasme sudah mulai mereda. Dimitri menurunkan tubuh Rosaline yang memang sejak tadi masih menyatu dengannya dalam genggodannya.

Jemarinya terulur mengusap lembut pipi Rosaline yang tampak merona merah dibawah tatapan matanya. Dan tanpa banyak bicara lagi, Dimitri kembali menyambar bibir ranum Rosaline, kembali menikmati rasanya hingga gairah diantara mereka kembali terbangun secara kilat.

***

Dini hari, Rosaline terbangun. Seperti biasa, ia akan ke kamar mandi untuk buang air kecil. Melihat Dimitri yang masih tertidur nyenyak di sebelahnya membuat Rosaline tersenyum dengan spontan. Tidak dipungkiri, ia senang mendapati Dimitri berada di sisinya, tapi disisi lain, luka di hatinya dulu belum sepenuhnya kering.

Rosaline menghela napas panjang, ia segera bangkit, meraih kimononya lalu segera menuju ke arah kamar mandi.

Setelah selesai, Rosaline keluar dari kamar mandi, berharap jika dirinya bisa menyelinap masuk ke dalam selimut sebelum Dimitri bangun dan melanjutkan tidur indahnya dibawah selimut yang sama dengan lelaki tersebut. Tapi saat ia membuka pintu kamar mandi, alangkah terkejutnya ketika ia mendapati Dimitri yang sudah berdiri menjulang tinggi di hadapannya, lelaki itu polos, tak mengenakan pakaian apapun. Tampak bukti gairah lelaki itu yang sudah menegang seperti sebelum mereka melakukan hubungan panas tadi.

Dengan spontan Rosaline menutup wajahnya sendiri. “Apa yang kau lakukan?!” tanyanya setengah berseru keras. Sungguh, ia sangat terkejut dengan adanya Dimitri yang berdiri menjulang dihadapannya tanpa sehelai benangpun.

“Apa? Kenapa?” tanya Dimitri sedikit bingung. Apa ada yang aneh dengan dirinya?

“Kenapa kau berdiri di sana dalam keadaan telanjang bulat seperti itu?”

“Aku, aku tidak memiliki kimono seperti yang kau gunakan.”

“Kau bisa menggunakan celanamu.”

“Kalau hormonmu kacau lagi?”

“Tidak akan!” Rosaline menjawab cepat tapi tak mampu menyembunyikan rona merah di pipinya. “Aku sudah Tiga kali mencapai klimaks, kurasa itu cukup.” ucapnya lagi dengan lebih pelan dari sebelumnya.

“Baiklah.” Dimitri meraih celananya, lalu memakainya.

“Aku, mau ambil minum, kau mau?” Rosaline menawarkan diri. Sungguh, ia merasa canggung berada di dalam kamar berdua hanya dengan Dimitri dalam keadaan seperti ini dengan hormon yang kacau balau seperti saat ini.

“Aku saja, kau duduk saja.” Lalu Dimitri keluar dari kamarnya dan Rosaline dapat menghela napas panjang.

Rosaline duduk di pinggiran ranjang. Mengusap perutnya lembut dan kembali melamunkan hubungannya dengan Dimitri. Apa ini benar? Apa ia dapat bertahan dengan hanya berhubungan seperti ini bersama Dimitri?

Lalu tak berapa lama, pintu kamarnya dibuka dan ia mendapati Dimitri membawakan segelas air untuknya.

“Minumlah.” Ucapnya sembari memberikan segelas minuman itu pada Rosaline. Rosaline meraihnya, lalu meminumnya dan mengembalikannya pada Dimitri.

Dimitri menaruh gelas tersebut pada meja kecil di sebelah ranjang, sebelum ia kembali pada Rosaline dan berjongkok dihadapan wanita itu.

“Kau baik-baik saja?”

“Ya.” Hanya itu jawaban Rosaline. “Bagaimana tadi kau bisa berada di depan? Bukankah penerbanganmu ditunda?”

“Aku sudah kembali sejak kemarin, dan tadi sebenarnya aku ingin memberimu sedikit kejutan.”

Rosaline tidak menanggapi jawaban Dimitri, karena ia sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa pada lelaki itu setelah apa yang sudah mereka lakukan tadi.

Dimitri lalu merogoh sesuatu di dalam saku celananya. Mengeluarkan barang tersebut, lalu tanpa permisi memakaikannya pada pergelangan tangan Rosaline.

“Ini…” Rosaline sedikit terkejut. Itu adalah kalung anjing kecil yang dibeli Dimitri di Pet shopnya siang itu dan sudah dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi gelang tangan yang cantik.

“Untukmu.”

“Untuk apa?”

“Mengikatmu.”

“Aku bukan milikmu, kau tak bisa mengikatku sesuka hatimu.”

“Kalau begitu, anggap saja sebagai hadiah kecil untuk mengingatkan bayi kita dengan Daddynya.”

“Kau berkata seolah-olah kau akan meninggalkanku lagi.”

“Bukankah itu yang kau inginkan, Rose?”

Rosaline tak dapat menjawab. Ia memang menginginkan hal itu, tapi disisi lain, ia tidak bisa memungkiri jika dirinya juga ingin Dimitri selalu berada di sampingnya saat ini.

“Aku… aku…”

“Katakan apa maumu. Aku akan pergi jika itu yang kau inginkan.”

“Jika kau ingin pergi, maka pergi saja. Kau tidak perlu memintaku untuk mengusirmu.” Rosaline sedikit emosi karena Dimitri terdengar seakan-akan dirinyalah yang ingin pergi dari sisi Rosaline dengan alasan Rosaline yang memintanya.

“Aku tidak ingin pergi.” Dimitri menjawab dengan pasti.

Rosaline menundukkan kepalanya. Lagi-lagi, ia tak dapat menyembunyikan pipinya yang tiba-tiba saja merona merah karena ucapan lelaki tersebut.

“Maka jangan pergi, dan jangan banyak tanya lagi, aku bingung mau menjawab apa.” Rosaline melirih. Ya, ia memang bingung dengan rasa yang sedang ia rasakan, ia bingung dengan perasaan yang saat ini sedang menyerang hatinya.

Menanggapi pernyataan Rosaline tersebut, Dimitri segera bangkit, lalu secara pelan tapi pasti, ia mendorong sedikit demi sedikit tubuh Rosaline agar kembali terbaring di atas ranjang dengan posisi dirinya berada di atas wanita tersebut.

“Kau, mau apa?” tanya Rosaline sedikit terpatah.

“Ingin memilikimu sekali lagi.” Setelah kalimatnya tersebut, Dimitri mendaratkan bibirnya pada bibir Rosaline, mencumbunya dengan lembut, hingga kembali membangkitkan gairah cinta diantara mereka berdua.

Malam itu menjadi malam yang panjang, malam yang panas sepanas bara yang seakan tak ingin padam begitu saja meski telah dihantam oleh sang badai.

-TBC-

Maaf bgt baru sempat up yaa.. iya karena aku mudik, dan sinyalnya astaga… parah. ini aja aku ngungsi dulu ke rumah mertua, dan sebagai ucapan maaf ku, aku akan update baby, oh baby ampek tamat hari ini yaaa.. happy reading, semoga suka. yeaayyy

1 thought on “Baby, oh baby! – Chapter 13 (Sepanas bara)”

  1. akhir na yng d tunggu” d up juga , dimi kau membuat q tidak tenang ..
    makasih bu udah d up dimi na , pdhal udah dari tadi pengen baca tapi ditahan” karna lagi puasa 😊😊😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s