romantis

Future Wife – Chapter 10 (Safriana Panjaitan)

 

 

Chapter 10

-Safriana Panjaitan-

 

Evan, Tiara dan Dirly pulang saat hari sudah sore. Sampai di rumah, Dirly segera berlari masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Tiara dan juga Evan yang sejak tadi memang saling berdiam diri.

“Kenapa?” tanya Evan yang sedikit tidak nyaman dengan Tiara yang sejak tadi diam tanpa membuka suara sepatah katapun.

“Kenapa apanya?” Tiara bertanya balik.

“Kamu banyak diam.”

“Karena tidak ada yang ingin dibicarakan.” Tiara akan keluar, dari dalam mobil Evan tapi kemudian ia menghentikan aksinya saat Evan berkata terang-terangan padanya.

“Jangan dimasukkan hati apa yang saya lakukan atau saya bicarakan tadi. Ingat, kita hanya partner di atas ranjang, saling menguntungkan, saya tidak mau hubungan kita menjadi membosankan dengan perasaan yang ikut campur kedalamnya.”

Tiara sempat ternganga dengan apa yang dikatakan Evan, tapi kemudian ia berkata “Pak Evan tenang saja. Saya juga tidak mungkin tertarik dengan pria seperti Bapak.”

“Memangnya saya kenapa?”

“Suka memanfaatkan keadaan.”

“Apa?” sungguh, Evan tidak menyangka jika Tiara akan membalas telak ucapannya. Dan wanita itu segera keluar sebelum ia sempat membuka suaranya lagi. Apa-apaan dia?

***

Di dalam rumah Davit…

Dirly asyik bercerita dengan Mama dan Papanya, sedangkan Tiara entah dimana, karena saat Evan masuk, ia tidak melihat Tiara ada di ruang tengah bersama dengan keluarga Davit.

“Gimana lo? Seneng jalan-jalan ke kebun binatang?” Davit bertanya dengan setengah mengejek.

“Sialan, anak lo cerewet banget.”

“Om Epan tuh yang cerewet.” Dirly tak mau kalah.

Evan merebahkan diri di sofa tepat di sebelah Davit. “Cinta kenapa? Nggak ada yang serius kan?”

“Enggak, cuma demam biasa.” Davit menatap Evan dari ujung rambut sampai ujung kakinya, dan itu membuat Evan tidak nyaman.

“Lo ngapain liatin gue gitu?”

“Enggak, gue pikir, lo kayaknya udah pantes punya anak.”

“Sialan lo.”

“Kalau lo mau, gue bisa cariin teman kencan.”

“Nggak, gue lagi nggak pengen kencan.”

Davit tertawa lebar. “Lo nggak menyimpang kan, Van?”

Evan mendengus sebal. Sungguh, andai saja ia bisa membuka rahasia bagaimana panasnya hubungannya bersama Tiara, mungkin Davit akan menggelengkan kepalanya saat tahu bahwa dirinya adalah lelaki panas yang akan selalu bergairah jika melihat wanita tersebut.

Pada saat bersamaan, Tiara muncul dari dalam. “Bu, saya langsung pulang saja.” Tiara berkata pada Sherly.

“Loh nggak nunggu makan malam dulu? Saya mau pesen makan malam ini, biar sekalian Evan juga.”

Tiba-tiba Evan berdiri “Nggak usah, aku juga mau ada acara. Oh iya, Tiara biar aku aja yang ngantar pulang.” Ucap Evan dengan cepat.

“Lo yakin nggak makan di sini dulu?” tawar Davit.

“Enggak, makan di luar saja.”

“Jangan bilang kalau kalian sedang kencan.” Davit berseloroh sembari tertawa lebar, tapi hal itu sontak membuat Tiara salah tingkah, begitupun dengan Evan.

Sherly segera menyikut Davit saat merasakan kecanggungan diantara Evan dan juga Tiara. “Kamu apaan sih.”

“Astaga, bercanda aja, Sayang.”

“Uuum, ya sudah, Bu. Saya pulang dulu. Dirly, aku pulang ya.” Tiara berpamitan.

Dirly menghampiri Evan. “Jangan godain Tiara.” Pesannya pada Evan yang sontak membuat semua orang yang berada di sana tertawa lebar menertawakan kelucuan bocah kecil itu.

Tiara sendiri hanya menggelengkan kepalanya, sedanhkan Evan, ia malah menggoda Dirly dengan menggandeng Tiara di hadapan semua yang berada di sana.

“Tiara sudah jadi milik Om Epan, Dirly belajar pipis dulusana.”

Dirly berteriak kesal, Davit dan Sherly yang memang tidak tahu apapun tentang hubungan Tiara dan Evan yang sebenarnya akhirnya hanya tertawa. Sedangkan Tiara, sungguh, ia merasakan jantungnya berdebar lebih cepat lagi dari sebelumnya. Meski ia tahu Evan hanya mengucapkan kalimat itu untuk menggoda Dirly, tapi tetap saja, ia tidak bisa memungkiri jika dirinya terbawa perasaan oleh kalimat Evan tersebut.

Astaga, ia harus segera menepis semuanya. Tidak seharusnya ia terjerumus dalam pesona lelaki ini. Lelaki yang hanya memikirkan selangkangannya tanpa mempedulikan perasaan yang lainnya.

***

Setelah dua kali memutari taman di kompleks perumahan agar Evan terlihat benar-benar mengantarkan Tiara pulang, akhirnya mereka kembali ke rumah Evan. Tiara segera keluar dari dalam mobil Evan saat keduanya sudah berada di dalam garasi rumah Evan.

Tiara berjalan cepat menuju ke arah dapur. Entahlah, ia hanya ingin menghindar sesegera mungkin dari Evan. Melihat Evan berada di sekitarnya membuatnya sesak.

Entah, apa yang sudah terjadi dengannya.

Sebenarnya, bohong, jika selama ini Tiara tidak tertarik dengan Evan. Maksudnya, tertarik secara fisik. Bagaimana tubuh tegap lelaki itu terpahat dengan sempurna, lengkap dengan otot-ototnya yang begitu menggoda. Wajah tampannya yang mirip dengan model di cover-cover majalah yang sering dibaca oleh Sherly. Serta kemahiran lelaki itu saat berada di atas ranjang.

Ya, Tiara memang polos dalam hal hubungan di atas ranjang, tapi ia tahu, dan ia sadar pasti jika Evan selalu membuatnya senang saat di atas ranjang. Lelaki itu memanjakannya, menjalin keintiman hingga tak jarang jantung Tiara seakan meledak saat mereka melakukan hubungan ranjang tersebut. Atau, apa memang seperti itukah rasanya?

Entahlah. Yang Tiara tahu, ia memang tertarik dengan Evan. Tapi ia tidak bisa memupuk apa yang ia rasakan karena ia tahu jika ia melakukannya maka pada akhirnya, dirinyalah yang akan sakit hati.

Sampai di dapur, Tiara segera mengeluarkan air dingin dari dalam lemari pendingin. Menuangnya pada sebuah gelas lalu meminumnya. Pada saat bersamaan, Evan datang, dan itu benar-benar membuat Tiara terkejut karena lelaki itu mencul begitu saja di hadapannya tanpa suara sedikitpun.

“Pak Evan.” pekik Tiara yang sedikit terbatuk-batuk karena tersedak.

“Kenapa?’

“Pak Evan ngagetin saya.”

“Ngagetin? Saya kan masuk bareng sama kamu. Jangan-jangan, kamu lagi mikirin yang enggak-enggak tentang saya, Ya?”

“Tidak. Saya tidak pernah memikirkan yang tidak-tidak tentang Bapak.” Tiara segera mengelak. Sungguh, ia tidak ingin Evan menangkap apa yang saat ini berada di dalam pikirannya.

Evan menyandarkan tubuhnya pada meja dapurnya. Sambil bersedekap, ia berkata “Sayang sekali, padahal saya sedang memikirkan yang tidak-tidak tentang kamu.”

“Apa yang Pak Evan pikirkan?”

“Kamu telanjang di dapur saya, menggoda saya, lalu kita bercinta di sini, sore ini.”

“Pak!” Tiara berseru keras. “Saya tidak mau memikirkannya.”

“Sayangnya, kepala saya tidak bisa berhenti memikirkan hal itu.” Lalu secepat kilat Evan meraih pergelangan tangan Tiara, menariknya hingga tubuh Tiara jauh menempel pada tubuh bagian depan Evan.

“Kamu merasakannya? Ya, saya sedang bergairah.”

Mata Tiara sempat membulat, ingin menolak tapi tentu saja tatapan mata Evan segera membiusnya, mengirimkan gelenyar panas yang seketika itu juga membuat Tiara basah dan ingin melakukan apa yang diinginkan Evan.

Saat Tiara sibuk dengan pikirannya sendiri, Evan segera menyambar bibir ranum Tiara, melumatnya dengan panas hingga Tiara tak mampu menolaknya lagi. Evan melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Tiara, karena ia lebih memilih untuk menangkup kedua pipi Tiara agar wanita itu tidak melepaskan tautan bibir mereka.

Sedangkan Tiara sendiri, ia merasa tergoda, jemarinya dengan spontan mendarat pada dada bidang Evan, dada yang terasa keras, berotot, hingga ketika menyentuhnya saja membuat Tiara mendambakan untuk berada di sana, dalam dekapan lelaki itu.

Keduanya saling terpancing gairah satu sama lain, ya, selalu seperti itu ketika mereka hanya berdua seperti saat ini. Tapi saat keduanya tak dapat mengelak gairah satu sama lain, ponsel Evan berbunyi. Evan tidak mengindahkannya, karena ia lebih memilih melanjutkan aksinya, membuat Tiara telanjang di dapurnya lalu bercinta dengan wanita itu hingga mencapai puncak yang begitu ia dambakan.

Berbeda dengan Tiara, ia segera meronta, melepaskan diri dari Evan, melepas paksa tautan bibir mereka, lalu dengan napas terengah ia berkata “Ponselnya bunyi, Pak.”

Evan mendengus sebal. “Kita bisa mengabaikannya.”

“Pak Evan angkat saja dulu, siapa tahu penting, lagian, saya belum mandi.” Tiara sedikit menjauh. Sungguh, apa Evan tidak jijik terhadap dirinya yang bahkan belum mandi setelah pulang dari kebun binatang. Tentu Tiara tidak merasakan hal tersebut pada Evan, karena walau Evan juga belum mandi sama seperti dirinya, tapi lelaki itu masih berbau harum, aroma khas yang menguar dari tubuh lelaki itu seperti biasanya. Dan aroma itu juga salah satu hal yang membuat Tiara tertarik dengan Evan.

“Saya juga belum mandi, kamu tidak perlu mandi, karena saya suka aroma kamu.”

“Aroma keringat?” tanya Tiara dengan begitu polosnya.

Evan malah tersenyum. Diraihnya pergelangan tangan Tiara, lalu dikecupnya punggung tangan Tiara. Evan mengendusnya pelan tapi pasti, merambat ke atas melewati kulit lembut lengan Tiara yang terpampang di hadapannya, karena saat ini Tiara memang mengenakan kaus lengan pendek.

“Aroma khas yang sudah menyatu dengan aroma tubuhku.” Bisik Evan dengan parau, masih dengan mengendus permukaan lengan Tiara, lalu Evan mengecupnya, kemudian memainkan lidah basahnya di sana hingga membuat bulu Tiara meremang seketika.

Ohhh, rasa apa ini? Tiara merasakan pusat dirinya berkedut saat Evan mencumbu permukaan lengannya.

Ketika Evan sedang Asyik menggoda tubuh Tiara, ponselnya kembali berbunyi, dan itu benar-benar membuat Evan terganggu.

“Tuh kan… Ponselnya, bunyi lagi.” Tiara mengingatkan dengan sedikit menahan gairah yang sudah terbangun di dalam dirinya.

Dengan kesal Evan merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponselnya dan mengangkat telepon tersebut.

“Halo, siapa ini?” tanya Evan dengan nada yang tidak ramah.

“Evan Pramudya, masih ingat saya?”

Evan mengerutkan keningnya saat mendengar suara lembut dari seberang telepon. Lalu ia segera menegakkan tubuhnya saat berpikir tentang seorang wanita yang kemarin ia jemput di bandara.

“Kamu?”

“Ya, saya, calon istri kamu.”

Evan sedikit salah tingkah. Apalagi saat Tiara masih di hadapannya dan menatapnya dengan penuh tanya.

“Sebentar.” Ucapnya pada suara di seberang. “Tiara, saya keluar sebentar, kamu tunggu saya di bathub. Oke?”

Tiara mengangguk. “Siapa Pak? Ada masalah?” tanya Tiara dengan wajah polosnya.

Evan menggeleng. “Bukan siapa-siapa.” Setelah itu Evanpergi meninggalkan Tiara dan kembali melanjutkan percakapannya dengan orang di seberag telepon.

Sungguh, Evan tidak mengerti kenapa ia harus berbohong pada Tiara, toh Tiara sudah pernah ia beri tahu jika ia akan dijodohkan dengan perempuan lain, dan sepertinya Tiara tidak keberatan. Tapi entah apa yang membuat Evan dengan spontanitas berbohong tentang wanita di seberang telepon itu. Apa karena ia tak ingin menyakiti Tiara?

Tidak!

Ia tahu, apa yang dirasakan Tiara bukan seperti itu, jadi Tiara tidak akan tersakiti olehnya. Pikir Evan.

***

Evan masuk ke dalam sebuah kafe, tempat dimana ia janjian dengan seseorang. Ya, siapa lagi jika bukan Safriana, wanita yang dijodohkan dengan dirinya. Sebenarnya, Evan sudah enggan menemui wanita itu. Yang pertama tentu karena Evan masih kesal saat ia menjemput wanita itu di bandara kemaren dan menunggunya, tapi wanita itu malah sudah pergi dengan kekasihnya. Benar-benar menyebalkan.

Dan kini, Evan mencoba memberi kesempatan untuk wanita itu lagi, mencari tahu apa yang diinginkan wanita itu hingga dia ingin bertemu secara khusus.

Setelah mencari-cari dimana keberadaan wanita itu, akhirnya Evan melihatnya saat seorang wanita berdiri dan melambaikan tangannya ke arahnya. Itukah dia? Safriana? Calon istrinya?

Evan melangkahkan kakinya menuju ke arah wanita tersebut. Ya, tampak cantik dan seksi, tapi entah kenapa tak dapat membangkitkan gairahnya seperti ketika ia melihat Tiara.

Sial! Apa yang sudah kau pikirkan? Evan menggerutu dalam hati.

Sampai dihadapan wanita itu, tanpa di duga, dengan senyum mengembang, wanita itu mengulurkan jemarinya untuk memperkenalkan diri.

“Safriana Panjaitan, panggil saja Ana.”

“Evan.” Evan membalas uluran tangan wanita itu.

Safriana bersedekap lalu menatap Evan dari ujung rambut hingga ujung kakinya. “Well, luar biasa.” ucapnya menilai diri Evan.

“Apanya yang luar biasa?”

“Kamu. Kupikir, kamu masih secupu dulu.”

Evan mengerutkan keningnya. “Kita pernah kenal?”

Safriana tertawa lebar. “Kamu dulu kuliah di UI, kan? Bareng Dirga, kan? Aku mantan pacarnya Dirga. Mungkin kamu nggak ingat karena si berengsek itu tentunya punya banyak mantan pacar.”

“Maaf, aku benar-benar nggak ingat.” Evan tampak sangat menyesal.

“Ya, nggak apa-apa. Duduklah, kita langsung saja bahas masalah utama, nggak perlu banyak basa-basi.”

Evan akhirnya menuruti apa mau wanita itu. Ia duduk di hadapan wanita itu kemudian sang wanita segera memberinya beberapa berkas untuk Evan.

“Apa ini?” tanya Evan sedikit bingung.

“Kontrak pernikahan kita.”

“Apa?”

“Aku tahu ini pasti sangat mengejutkan buat kamu. Tapi please, demi kelangsungan hidup kita bersama, kamu tanda tangani saja kontraknya.”

Evan tersenyum miring. “Apa untungnya buatku?”

“Jadi kamu belum tahu? Jika kita menikah, perusahaan keluarga kita akan semakin maju bersama. Itulah yang diinginkaan kedua orang tua kita.”

“Lalu? Kupikir itu tidak ada untungnya buatku.”

“Benarkah? Bagaimana jika keluargamu tahu tentang perempuan yang tinggal denganmu di rumah yang baru kamu beli?” Safriana tersenyum miring. “Perempuan yang hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah temanmu, perempuan yang hanya memiliki seorang kakak yang saat ini menjadi seorang narapidana, bagaimana perasaan keluargamu nanti saat tahu jika anaknya tidak sepolos yang mereka kira.”

Tubuh Evan menegang seketika. “Kamu mengancam? Darimana kamu tahu semua itu?”

“Perlu kamu tahu, aku mengetahui semua tentangmu, tentang siapapun yang ingin kuketahui. Itu bukan hal yang sulit.”

Evan menghela napas panjang. “Lalu apa untungnya buat kamu? Kamu nggak mungkin kan menerima pernikahan ini begitu saja jika kamu sendiri tidak diuntungkan oleh apapun.”

“Pertanyaan bagus. Intinya, aku nggak mau nikah, aku nggak suka hubungan terikat, begitupun dengan kekasihku.”

“Lalu?”

“Tapi di sisi lain aku membutuhkan pernikahan ini agar orang tuaku segera mewariskan semuanya kepadaku, dua tahun adalah waktu yang cukup untuk mendapatkan semuanya, jadi pernikahan kita hanya akan berumur Dua tahun. Tidak lebih.”

“Lalu, bagaimana dengan hubungan kita? Maksudku, hubungan… kamu tahu sendiri kan.” Evan mengangkat kedua bahunya.

“Setelah menikah, kita akan tinggal di rumah sendiri, dan itu memungkinkan kamu untuk kembali pada simpanan kamu itu, sedangkan aku bisa dengan bebas berhubungan dengan kekasihku.”

“Dia bukan simpanan.” Entah kenapa Evan tidak suka saat ada yang menyebut Tiara seperti itu.

“Lalu? Apa sebutan yang pas untuk wanita yang dikencani secara diam-diam oleh seorang pria, jika bukan ‘simpanan’?”

Evan tidak bisa menjawab. Sungguh, Safriana benar-benar sosok yang menyebalkan. Ya, setidaknya dengan sikap yang menyebalkan seperti itu, Evan bisa yakin jika dirinya tidak akan tertarik dengan sosok seperi seorang Safriana, karena wanita itu, sama sekali bukan tipenya.

“Dihadapan orang tua, kita akan berpura-pura menjadi pasangan yang serasi. Aku nggak mau semuanya terbongkar sebelum aku mendapatkan apa yang kumau.”

“Kenapa harus aku?” tanya Evan tiba-tiba. “Maksudku, dengan kekuasaan keluargamu, kamu atau keluargamu bisa memilih orang yang lebih, kenapa memilihku?” tanya Evan lagi.

Safriana sedikit tersenyum, ia lagi-lagi menatap Evan dari ujung rambut hingga ujung kakinya. “Kupikir, karena kamu satu-satunya kandidat yang menarik. Ya, hanya itu alsannya.”

Sial! Benar-benar menyebalkan perempuan ini. Evan tak berhenti menggerutu dalam hati.

“Jika semuanya tidak ada yang membuatmu keberatan, kabarin aku, aku ingin pernikahan kita dilaksanakan awal tahun depan, lebih cepat lebih baik. Oke?”

Setelah itu, Safriana bangkit, tanpa diduga ia mendekat ke arah Evan, menundukkan kepalanya lalu mengecup lembut pipi Evan.

“Aku pergi dulu.” Bisiknya dengan nada menggoda sebelum pergi meninggalkan Evan. Sial! Evan benar-benar tidak suka dengan perempuan itu. Tapi, bagaimana lagi?

***

Sudah cukup lama Tiara menunggu Evan di dalam Bathub di kamar mandi lelaki itu. Tubuh Tiara sudah kedinginan, kulitnya bahkan sudah mengerut karena terlalu lama terendam air. Tiara ingin berhenti menunggu Evan, tapi disisi lain, ia teringat permintaan Evan untuk menunggunya, akhirnya yang bisa Tiara lakukan adalah tetap menunggu lelaki tersebut.

Saat Tiara masih asyik bermain dengan busa-busa yang merendam tubuhnya, ia mendengar pintu kamar mandi di buka. Tiara menegakkan posisi duduknya saat merasakan jika ada seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi Evan.

Dan rupanya, itu adalah Evan. lelaki itu bahkan sudah polos tanpa sehelai benangpun saat menghampirinya. Pipi Tiara merona seketika saat mengetahui betapa bergairahnya lelaki itu. Astaga, apa Evan tak akan pernah bosan terhadapnya?

“Sudah lama menunggu?” tanya Evan sembari ikut masuk ke dalam bathub. Memposisikan dirinya duduk di belakang tubuh Tiara. Tiara tak banyak memprotes karena ia sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukan Evan padanya.

“Ya, kulit telapak tangan saya sudah mengerut. Airnya juga sudah mendingin.”

Evan tersenyum. Ia malah meraih tubuh Tiara agar duduk di atas pangkuannya, kemudian meraih jemari Tiara dan menyentuhkannya pada bukti gairah miliknya. “Sentuh saya.” bisik Evan parau.

Tiara tidak menolak. Ya, ia juga ingin menyentuhnya, akhirnya. Tiara melakukan apa yang diperintahkan Evan, menggoda lelaki itu dengan jemarinya hingga tak lama, Evan merasa jika dirinya tak mampu bertahan lebih lama lagi.

Evan mengangkat tubuh Tiara, lalu menyatukan diri dengan begitu erotis. Rupaya Tiara sudah siap menerimanya. Membungkusnya dengan kehangatan dinding kewanitaannya.

Evan tidak menggerakkan diri, ia malah memeluk erat tubuh Tiara dari belakang, mencumbu sepanjang pundak halus dari wanita tersebut, sebelum ia berkata “Tiara, sepertinya, aku akan menikah.” Untuk pertama kalinya, Evan menyebut dirinya dengan sebutan ‘aku’ di hadapan Tiara, karena selama ini, ia memang selalu menyebut dengan sebutan ‘saya’ dan berbicara dengan nada formal saat dihadapan Tiara, seakan menunjukkan jika hubungan yang mereka bina selama ini tak lebih dari sekedar partner seks saja. Namun entah kenapa, berbeda dengan saat ini.

Sedangkan Tiara sendiri. Tubuhnya kaku begitu saja. Bahkan kenikmatan yang baru saja ia rasakan saat tubuh Evan menyatu dengannya, terasa hambar. Dadanya tiba-tiba sesak, apa karena air yang merendam paru-parunya hingga ia kesulitan bernapas? Atau, karena kabar yang diucapkan Evan yang mampu menghisap habis udara yang ada di dalam paru-parunya? Entahlah… Yang pasti, Tiara sadar, jika setelah ini, statusnya akan lebih menjijikkan lagi dari sebelumnya. Ya, ia akan menjadi simpanan lelaki yang sudah beristri. Dapatkah ia menerimanya?

-TBC-

3 thoughts on “Future Wife – Chapter 10 (Safriana Panjaitan)”

  1. Tentu saja tidak,,,tdk ada yg mau jd simpanan,,,tp kehendak takdir siapa yg bsa menolak…..
    Turut bersedih utk Tiara,,smg aja Evan batal nikah,,,,Amiiiiinnnn

    Like

  2. Pengen banget getok kpla evan , haedehhhhhhh semoga az tiara hamil biar papa peri nyesel …
    knp selalu perempuan yng harus d rugikan , karna pada akhir na tiara lah yng akan berakhir sakit hati , karna perempuan selalu menggunakan perasaan na dalam sgala hal .

    Like

  3. Future wife kok lama bgt up nya mbak, padahal cerita ini lebih dulu di publish dr pada “baby oh baby”. D tunggu next part nya ya mbak. Taangkiiiuuuu…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s