romantis

Baby, Oh Baby! – Chapter 12 (Melepas Rindu)

 

Follow IG @Zennyarieffka untuk mengetahui Info lebih lanjut tentang updatetan.

Ebook sudah tersedia di google play!

 

Chapter 12

-Melepas Rindu-

 

Sudah lima hari berlalu sejak hari dimana Dimitri berjanji padanya bahwa akan menjemputnya dimalam itu. Nyatanya, hingga hari ini, hingga malam ini, lelaki itu tak kunjung menghubunginya.

Khawatir? Ya, tidak bisa dipungkiri jika Rosaline merasa khawatir, karena lelaki itu menghilang begitu saja seperti ditelan bumi, tak ada kabar, bahkan saat Rosaline mencoba menghubungi nomor Dimitri, nomor lelaki itu nyatanya tidak aktif.

Beruntung, Tiga hari terakhir ada Ana yang selalu setia di sisinya. Ya, temannya itu ternyata memiliki sedikit masalah dengan Sean, kekasihnya. Tapi kemarin, keduanya sudah menyelesaikan masalahnya, hingga tadi siang, Ana sudah kembali pulang ke rumahnya.

Malam ini, tinggallah Rosaline seorang diri di dalam kamarnya, kesepian, dan hanya ditemani Snowky yang ternyata sudah tertidur tepat di sebelahnya.

Rose tak dapat menutup matanya, karena entah kenapa malam ini ia kembali teringat dengan sosok Dimitri. Jemarinya dengan spontan mengusap lembut perutnya. Sedikit rasa sesal ia rasakan saat mengingat bahwa ia tak pernah bersikap baik dengan Dimitri selama Dimitri berada di sekitarnya. Apa karena itu Dimitri pergi meninggalkannya? Apa karena itu Dimitri menyerah dan pergi?

Rosaline menghela napas panjang. Kenapa juga dirinya berharap jika Dimitri tidak meninggalkannya? Toh, mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun selain kompromi tentang bayi mereka. Jadi seharusnya ia lega karena Dimitri sudah meninggalkannya tanpa ia suruh.

Rosaline memainkan jemarinya di atas perutnya sendiri sembari bertanya pada bayinya “Kau merindukan Daddy?” tanyanya dengan spontan.

Rosaline tersenyum, seakan menertawakan dirinya sendiri saat menyebut Dimitri sebagai Daddy dari sang bayi.

“Kemana perginya dia? Bukankah seharusnya dia berpamitan? Kenapa dia pergi tanpa kabar?” tanyanya pada dirinya sendiri. Rosaline menghela napas panjang, ketika ia mendengar telepon flatnya berbunyi.

Ia bangkit, dan segera menuju ke arah teleponnya. Lalu mengangkatnya. “Halo.”

“Bagaimana keadaanmu?” pertanyaan itu sontak membuat tubuh Rosaline kaku seketika, jantungnya berdetak lebih cepat lagi dari sebelumnya saat sadar, siapa sang pemilik suara dari seberang.

“Kau?”

“Ya Rose, aku.”

Emosi Rosaline tersulut seketika. “Ohh, jadi kau baru berani menghubungiku? Kemana saja kau? Apa kau tahu kalau malam itu aku menunggumu selama lebih dari Tiga jam? Lalu selama ini kau pergi tanpa kabar sedikitpun, dan sekarang, dengan begitu santainya kau menanyakan kabarku? Dimana letak tanggung jawabmu?!” entah dari mana asal emosi Rosaline yang membuatnya meledak-ledak seperti ini.

“Rose, maafkan aku.”

“Aku tidak mau.” Lalu dengan spontan, Rosaline mematikan sambungan telepon mereka. Napas Rosaline memburu karena emosi yang bergejolak di dalam dadanya. Astaga, kenapa juga ia harus seemosi ini?

Tak berapa lama, teleponnya kembali berbunyi, Rose tahu jika Dimitri pasti menghubunginya lagi. Setelah menghela napas panjang, Rosaline kembali mengangkat teleponnya.

“Apa lagi?”

“Kau marah?”

“Apa salah jika aku marah? Kau sudah membuang-buang waktuku malam itu. Kau sudah membuatku kesal saat aku tiba-tiba memikirkanmu, kau menghilang begitu saja tanpa kabar dan itu membuatku tiba-tiba merasa khawatir padamu. Aku merasakan kewalahan dengan hormon sialanku dan kau juga membuatku berteman dengan toilet. Apa kau pikir aku tidak berhak marah?” lagi-lagi Rosaline tak dapat mengontrol emosinya.

“Ya, kau berhak marah, Rose. Kau bahkan berhak memukuliku sesuka hatimu nanti, saat kita bertemu.”

“Aku ingin memukulimu sekarang.” Rosaline menjawab dengan spontan.

“Maaf, aku belum bisa menemuimu.” Suara Dimitri terdengar begitu lembut, seakan menenangkan siapapun yang mendengarnya. “Aku di Rusia.”

“Apa?”

“Ya, ada sedikit masalah dengan pekerjaanku hingga aku harus pulang hari itu juga setelah aku mengantarmu.”

“Tapi kau bisa menghubungiku.”

“Aku sudah menghubungimu.”

“Ya, sekarang, lima hari setelahnya.”

“Maaf.” Hanya itu yang bisa dikatakan Dimitri.

“Bagaimana jika aku tiba-tiba akan melahirkan.”

“Tidak mungkin, masih Dua puluh tiga minggu.”

“Ya sudah, lupakan saja.” Rosaline kesal, karena ia tidak ingin Dimitri menjawab dengan kalimat itu.

“Rose, aku akan kembali secepatnya.”

“Kau tidak perlu kembali karena ini bukan tempatmu untuk kembali.”

“Tidak Rose. Aku akan segera kembali padamu. Dan maaf, aku baru bisa menghubungimu.”

“Terserah kau saja.” Rosaline menjawab dengan enggan.

“Aku kembali minggu depan.”

“Apa? Kenapa tidak sekalian saja kau menetap di sana.” Sindirnya dengan nada kesal.

“Masih ada yang harus kuurus.”

“Terserah kau saja.”

“Aku akan kembali secepat mungkin.”

Rosaline tidak menjawab. Ia masih bingung dengan perasaan yang sedang ia rasakan saat ini. kesal? Karena apa?

“Bagaimana keadaanmu, Rose?”

“Baik.”

“Kau, makan dan tidur dengan baik, bukan?”

“Ya, semua baik-baik saja. Kecuali kenyataan jika aku semakin sering ke toilet dan mulai susah tidur.”

“Aku akan kembali secepat mungkin, dan aku akan menghubungimu sesering mungkin selama aku di sini.”

“Tidak perlu.”

“Rose.”

“Ya.. ya.. ya… terserah kau saja.”

“Sekarang tidurlah, aku tahu di sana sudah larut malam.”

“Ya.”

“Rose.” Dimitri memanggil sekali lagi, rosaline tidak menjawab, tapi ia tetap mendengarkan apa yang akan diucapkan Dimitri. “Jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera kembali.” Dan setelah itu, Dimitri memutus sambungan teleponnya.

Rosaline ternganga, ia merasakan jantungnya meledak saat itu juga. Kalimat yang diucapkan Dimitri bukanlah kalimat cinta, atau kalimat romantis lainnya, tapi itu merupakan sebuah kalimat manis yang mampu meledakkan jantungnya, mampu membuat Rosaline merasa terbang ke awan dam tak ingin kembali lagi.

***

Sepanjang hari, Rosaline tidak berhenti menatap layar ponselnya, bukan tanpa alasan, karena sepanjang hari ini, Dimitri tak berhenti mengirimkan pesan untuknya.

Lagi-lagi, itu bukanlah pesan romantis, hanya pesan-pesan pendek biasa, seperti apa yang sedang kau lakukan? Bagaimana kabarmu? Sudah makan? Dan lain sebagainya. Tapi entah kenapa pesan-pesan tersebut membuat Rosaline senang. Rosaline bahkan tidak sadar jika dirinya sejak tadi sangat antusias membalas pesan-pesan dari Dimitri.

Apa yang telah terjadi dengannya?

Ini sudah seminggu, sejak Dimitri meneleponnya dimalam itu dan mengabari jika lelaki itu berada di Rusia karena urusan pekerjaan. Dimitri seharusnya sudah kembali hari ini, tapi lelaki itu berkata jika penerbangannya di tunda hingga besok pagi karena faktor cuaca.

Selama seminggu terakhir, Dimitri menepati janjinya untuk sering-sering menghubungi Rosaline meski itu hanya sekedar mengirim pesan. Entah kenapa sikap Dimitri yang seperti itu semakin membuat Rosaline mengingikan untuk segera bertemu kembali dengan lelaki tersebut.

Inikah yang namanya rindu? Apa ia benar-benar merindukan sosok Dimitri? Astaga… Rosaline menggeleng pelan.

Dimitri : Kau sedang apa?

Pertanyaan itu membuat Rosaline tersenyum jahil. Ada sebuah keinginan untuk mencoba merayu Dimitri, apa lelaki itu akan tergoda dengannya? Atau sebaliknya.

Rosaline : Mandi.

Dimitri : Kau yakin?

Rosaline : Ya, aku sedang berendam.

Ya, karena Rosaline saat ini memang sedang berendam. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba ingin berendam tadi sepulang dari pet shopnya. Mungkin karena ia ingin terlihat lebih segar besok saat menyambut kedatangan Dimitri. Entahlah.

Dimitri : kau tidak takut ponselmu masuk ke dalam bathub?

Rosaline : Tidak, karena aku memiliki mantan suami yang kaya raya, aku bisa memintanya untuk membelikan ponsel baru.

Dimitri : jangan terlalu lama, kau bisa masuk angin.

Rosaline : aku suka berendam lama-lama.

Dimitri : Apa yang kau suka?

Rosaline : kulitku yang akan semakin halus, harum dan segar setelah lama berendam.

Dimitri : kau menggodaku?

Rosaline tersenyum.

Rosaline : untuk apa aku menggoda orang yang tidak berada di hadapanku?

Dimitri : Bagaimana jika saat ini aku berada di depan pintu flatmu.

Rosaline : Jangan bercanda. Penerbanganmu ditunda.

Dimitri : Buka pintu flatmu.

Rosaline mengangkat sebelah alisnya. Tidak! tidak mungkin Dimitri sudah berada di sini. Sepanjang hari ini, lelaki itu mengirimkan pesan untuknya, jadi tidak mungkin tiba-tiba lelaki itu berada di depan pintu flatnya.

Akhirnya Rosaline bangkit, ia meraih kimononya, lalu mengenakannya hingga menutupi tubuhnya yang telanjang dan masih basah karena berendam. Dengan hati-hati, Rosaline melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamarnya dan segera menuju ke arah pintu depan flatnya.

Masih dengan rasa penasaran, Rosaline membuka pintu flatnya. Dan ketika pintu terbuka, alangkah terkejutnya ketika ia mendapati Dimitri benar-benar berada di hadapannya.

“Kau?” dengan ternganga Rosaline mengucapkan kata tersebut. Ia masih tak percaya jika Dimitri benar-benar berada di depan pintu Flatnya.

“Ya, aku. Kau benar-benar sedang berendam?” tanya Dimitri dengan tenang tapi serselip sebuah penekanan di setiap katanya, seperti lelaki itu sedang menahan sesuatu di dalam dirinya.

“Ya.” Hanya jawaban dari Rosaline, karena jujur saja, ia masih tidak menyangka jika Dimitri benar-benar sudah berada di hadapannya.

Dimitri menatap intens ke arah Rosaline, wajah wanita itu polos tanpa riasan sedikitpun, dan terlihat lebih lembab. Rambutnya terurai basah, meneteskan beberapa tetes air yang membasahi kimono yang dikenakan wanita tersebut. Lehernya, oh, jangan ditanya lagi. Dimitri menelan ludah dengan susah payah ketika melihat penampilan Rosaline saat ini. berantakan, tapi begitu menggairahkan.

Jemari Dimitri terulur, mengusap lembut pipi Rosaline, dan dengan spontan ia berkata “Aku menginginkanmu.”

Lalu, tanpa banyak bicara lagi, Dimitri segera menyambar bibir ranum Rosaline, melumatnya dengan ciuman yang sarat akan kerinduan. Tubuhnya mendorong sedikit demi sedikit tubuh Rosaline agar masuk ke dalam tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Kaki Dimitri dengan spontan menutup pintu flat Rosaline, ia bahkan tidak peduli apa pintu tersebut akan terkunci secara otomatis atau tidak, karena yang ia pedulikan saat ini hanya Rosaline yang begitu menggodanya.

Sedangkan Rosaline sendiri, ia tak dapat berbuat banyak. Keterkejutannya atas kehadiran Dimitri bercampur aduk dengan sebuah rasa senang yang entah kenapa tiba-tiba tumbuh didalam hatinya secara spontan saat ia mendapati Dimitri benar-benar berada di hadapannya malam ini. Rosaline tidak menolak apa yang dilakukan Dimitri padanya, ia bahkan membalasnya, mengalungkan lengannya pada leher lelaki itu dan juga sesekali mengerang dalam cumbuan mereka.

Oh, akhirnya, penantian panjangnya akan terbayarkan malam ini juga. Malam ketika ia akan melepas semua rindu yang entah mengapa terasa menggebu ketika Dimitri pergi meninggalkannya selama hampir dua minggu terakhir. Apa itu juga yang dirasakan Dimitri padanya? Apa lelaki itu juga merindukannya sedalam yang ia rasakan selama ini?

-TBC-

2 thoughts on “Baby, Oh Baby! – Chapter 12 (Melepas Rindu)”

  1. Tembok penghalang akhirnya runtuh…
    Tak sanggup aku, aku tergoda melihat dimi sama rose…🙉🙉🙉🙈🙈🙈🙈🙈🤣🤣🤣🤣🤣🤣

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s