romantis

Baby, Oh Baby! – Chapter 11 (Seorang Dawson)

Follow IG @Zennyarieffka untuk mengetahui info update terbaru.

Ebook sudah tersedia di googla play

 

Chapter 11

-Seorang Dawson-

 

Setelah makan siang. Dimitri menawarkan diri untuk mengantar Rosaline pulang, tapi Rosaline menolak, karena ia ingin kembali ke Pet Shopnya. Akhirnya Dimitri menuruti saja apa keinginan Rosaline. Toh, hari ini sepertinya sudah cukup kebersamaannya dengan Rosaline.

Sepanjang makan siang tadi, mereka memang tak banyak saling bicara, tapi setidaknya, itu membuat Dimitri senang karena Rosaline tidak sedikitpun melawannya atau melemparinya dengan perkataan-perkataan sinis dari wanita tersebut.

“Jika ada apa-apa, hubungi aku.” Ucap Dimitri ketika hampir sampai di pet shop Rosaline.

“Ya.”

“Jika kau membutuhkan tumpangan, hubungi aku.” Tambahnya.

“Jadi kau beralih profesi sebagai supir pribadi?”

“Jika itu memungkinkan untuk membuatmu tidak menumpang mobil pria lain, maka aku akan melakukannya.”

“Ckk, kau masih kesal karena aku menumpang mobil Alan?”

“Ya.”

“Dimitri, ingat, kita hanya berkompromi karena bayi ini. Bukan berarti kau bisa dengan suka hati mengatur hidupku.”

“Baiklah, aku hanya tidak suka melihatmu dengan pria lain.”

“Maka kau tidak perlu melihat.” Rosaline menjawab cepat.

“Aku tidak ingin merusak hari ini, Rose. Maaf.” Lagi-lagi Dimitri mengalah, dan Rosaline hanya bisa menghela napas panjang.

Tak lama, sampailah mereka di pet shop Rosaline. Dimitri menghentikan mobilnya, sedangkan Rosaline memilih segera keluar dari dalam mobil Dimitri. Ia tidak ingin berdebat panjang lebar lagi dengan lelaki itu. Tapi sebelum Rosaline menutup pintu mobil Dimitri, lelaki itu sudah berkata cukup keras pada Rosaline.

“Nanti malam kujemput.”

“Terserah kau saja.” Setelah itu, Rosaline menutup pintu mobil Dimitri dan pergi meninggalkan Dimitri yang masih menatap punggungnya dari dalam mobil.

Ya, Dimitri tahu, bahwa ia harus berusaha lebih keras lagi untuk kembali mendapatkan Rosaline di sisinya. Dan ia akan bersabar karena hal itu.

Saat Dimitri akan menghidupkan kembali mesin mobilnya. Ponselnya berbunyi. Dimitri menatap siapa sang pemanggil. Rupanya itu nomor dari seorang pesuruhnya yang berada di Rusia. Orang yang ia suruh untuk mengawasi gerak gerik Katavia selama ia berada di New York.

Dimitri segera mengangkat telepon tersebut, karena ia tahu, bahwa telepon itu pasti sangat penting.

“Pak, ada kabar.”

“Apa?”

“Nona Katavia, beliau akan ke New York akhir minggu nanti.”

“Apa?!” mata Dimitri membulat seketika. Dimitri segera memutus sambungan teleponnya. Ia harus pulang, ya, ia harus segera pulang. Katavia tidak boleh menyusulnya sampai ke New York apalagi kembali mengganggu hubungannya dengan Rosaline yang hingga kini bahkan belum membaik. Ya, ia harus pulang dan menahan adiknya itu agar tetap di sana dan membatalkan keberangkatannya ke New York.

***

Hingga malam tiba, Rosaline tak juga keluar dari tokonya. Meski sebenarnya sudah sejak tiga jam yang lalu tokonya tutup. Rose memilih mengistirahatkan diri di dalam tokonya sembari menunggu seseorag. Ya, siapa lagi jika bukan Dimitri.

Lelaki itu tadi berkata jika akan menjemputnya, dan saat ini, entah apa yang membuat Rosaline ingin menunggunya.

Rosaline memainkan ponselnya, ingin rasanya ia menghubungi Dimitri dan bertanya apa lelaki itu jadi menjempurtnya atau tidak. Tapi, gengsinya terlalu tinggi untuk melakukan hal tersebut.

Akhirnya, Rosaline memilih menghubungi Ana. Setidaknya, ia bisa membunuh kebosanannya dengan menelepon temannya itu.

“Ada masalah, Rose?” Ana mengangkat panggilan Rosaline.

“Kau sibuk?”

“Aku baru akan pulang, ada apa?”

“Bolehkah aku menumpang?”

“Tentu saja, apa Dimitri tidak menjemputmu?”

“Aku tidak berharap begitu, meski tadi siang dia menawariku untuk menjemputku. Tapi hingga kini aku belum melihat batang hidungnya.”

“Kalau begitu, kau tunggu dia saja, Rose.”

“Tidak, Ana. Tolong, jemput aku.”

Terdengar suara tawa dari seberang. “Baiklah, aku akan menjemputmu, dan menginap di tempatmu, mungkin.”

“Kau, ada masalah dengan Sean?”

“Tidak. Oke, aku berangkat.” Dan teleponpun ditutup.

Rosaline berpikir sebentar, ya, mungkin Ana memang sedang ada masalah dengan kekasihnya, tapi ia tidak ingin ikut campur terlalu jauh jika bukan Ana sendiri yang menceritakan semuanya. Rosaline menghela napas panjang.

Astaga, sebenarnya, dimana Dimitri? Kenapa lelaki itu mengingkari janjinya?

***

Tiga hari berlalu….

Dimitri menyantap makan siang di hadapannya. Saat ini, ia masih berada di Rusia, tepatnya di rumahnya, di ruang makan dengan Katavia di sebelahnya. Sedikit kesal, karena sejak kembali dari New York, Katavia seakan tak pernah membiarkannya sendiri hingga membuatnya tak dapat menghubungi Rosaline hingga saat ini.

Ya, Dimitri masih tak dapat berbuat banyak. Dulu, setelah ia kembali dari perjalanan bisnisnya dan mendapati Rosaline sudah pergi dari rumahnya, Dimitri hanya diam. Ia merasa jika selama ini, Rosaline memang tidak begitu tertarik dengannya. Mungkin Rosaline bosan dengannya yang tidak romantis atau yang lainnya. Hingga yang Dimitri lakukan hanya melepaskan Rosaline. Apalagi saat itu, perusahaan keluarganya sedang mendapat masalah yang cukup serius hingga membuatnya untuk lebih fokus pada pekerjaannya ketimbang dengan urusan pribadinya.

Dimitri tahu, ada yang tidak beres setelah itu, tapi ia mencoba untuk tidak memikirkannya. Karena fokusnya saat itu hanya tertuju pada pekerjaannya.

Tak ada kecurigaan sedikitpun tentang Katavia yang ternyata ikut campur dengan kehidupan rumah tangganya, hingga suatu hari, Ana bercerita padanya tentang Rosaline yang merasa dihianati olehnya. Lalu beberapa hari yang lalu, Ana mengatakan jika Rose sudah mengetahui hubungannya dengan Katavia.

Ya, semuanya jadi semakin masuk akal. Kepergian Rosaline Empat tahun yang lalu pasti berhubungan dengan Katavia. Adiknya itu pasti telah mengatakan yang tidak-tidak dengan Rosaline, dan Dimitri tidak tahu sekarang harus berbuat seperti apa.

Mata Dimitri melirik ke arah ibunya yang tampak kurang suka dengan kedekatannya bersama Katavia saat ini. Apa ibunya juga tahu tentang perasaan Katavia?

“Kate, aku bisa sendiri.” Dimitri menolak ketika Katavia akan melayaninya. Mengambilkan potongan daging kalkun dan lain sebagainya.

Selama ini, Dimitri tetap bersikap baik kepada Katavia, karena ia memang tidak tahu dengan apa yang sudah diperbuat adiknya itu. Tapi, ada satu sisi dimana Dimitri membenci sikap Katavia yang memperlakukannya seolah-olah ia adalah kekasih gadis tersebut. Itulah alasan kenapa beberapa tahun belakangan, Dimitri jarang tinggal di rumahnya bahkan memilih menginap di sebuah apartemen yang tak jauh dari tempat kerjanya.

“Kau jarang pulang, aku merindukanmu, jadi wajar bukan jika aku melayanimu.”

Dimitri mencoba mengontrol dirinya agar tidak meluapkan emosinya kepada Katavia.

“Bagaimana dengan New York? Apa kau tahu bahwa aku sudah memesan tiket untuk menyusulmu ke sana sembari jalan-jalan?”

Ya, karena Katavia hanya tahu jika ia sedang menjalankan bisnis di New York, bukan untuk mengejar Rosaline.

“Keadaannya kurang stabil, apa yang akan kau lakukan di sana?”

“Entahlah, mungkin membantumu.”

“Kate, disana aku bukan untuk bersenang-senang. Kau tidak bisa ke sana, Kate.”

“Tapi aku merindukanmu.”

Dimitri menghela napas panjang. Ia tidak tahu harus menjelaskan apalagi pada Katavia agar gadis itu dapat mengontrol perasaannya sendiri tanpa ia harus menyakitinya. “Aku akan pulang, jika kau memintanya. Tapi tolong, sementara ini, jangan menyusulku ke sana.”

“Kenapa? Kau tertarik dengan perempuan Amerika?” Katavia meningkatkan nada bicaranya.

“Cukup Kate! Kau berkata seolah-olah kau adalah kekasih Dimitri yang begitu posesif. Ingat, kau hanya adiknya. Bukan menjadi urusanmu jika Dimitri tertarik dengan wanita manapun.” Sang ibu yang sejak tadi sudah cukup diam dan muak dengan kemesraan kedua anaknya akhirnya membuka suara.

“Ibu tidak mengerti apa yang kami miliki.”

“Ibu mengerti! Kalian sedarah. Dan kau harus menghilangkan perasaan sialanmu itu sebelum ayah kalian mengetahuinya.” Nyonya Armanzandrov segera bangkit dan meninggalkan putera dan puterinya tersebut.

Dimitri segera berdiri, dan berharap dapat menyusul sang Ibu, tapi Katavia menghentikannya. “Kau kemana?”

“Apa kau tidak melihat? Ibu sudah mengetahui perasaan sialanmu.” Dengan kesal, Dimitri melepaskan cekalan tangan Katavia dan ia segera mengikuti ibunya untuk menjelaskan semuanya.

***

Dimitri mengetuk pintu kamar ibunya, karena tidak ada jawaban, Dimitri membukanya, dan ia mendapati sang Ibu ternyata sedang menangis di pinggiran ranjangnya. Dimitri berjalan cepat ke arah ibunya, lalu berjongkok di hadapannya.

“Apa yang terjadi, Bu?”

Sang Ibu menatap Dimitri. Masih dengan menangis, ibunya berkata “Apa salahku hingga aku harus mengalami ini?”

“Apa yang Ibu katakan?”

“Kau. Kau memiliki semuanya, kau bahkan bisa memilih wanita mana yang ingin kau nikahi, yang ingin kau miliki, tapi kenapa kau memilih adikmu sendiri?”

“Ibu salah paham.”

“Tidak! Karena itulah yang kulihat saat kau dengan Ana dan kini, saat kau dengan Katavia.”

“Apa yangkurasakan pada Ana tentu berbeda dengan apa yang kurasakan pada Katavia. Aku mencintai Ana saat itu, karena aku tidak tahu kalau dia adalah puteri dari simpanan Ayah. yang kutahu dia hanya puteri dari teman Ayah yang dititipkan sementara di rumah kita, apa salah jika aku menyimpan rasa padanya saat itu? sedangkan apa yang kurasakan pada Kate, sama sekali bukan seperti itu. Aku menyayanginya sebagai adikku.”

“Benarkah? Lalu kenapa kau melepaskan Rosaline saat itu? Kenapa kau membiarkannya pergi?”

“Karena kupikir, dia tak cukup mencintaiku. Kupikir aku tidak cukup membahagiakannya, maka dari itu aku melepaskannya.”

“Kate mencintaimu. Ibu bisa melihat dari matanya, dari setiap gerak-geriknya, dan ibu takut jika ini akan menjadi bumerang untuk keluarga kita.”

Dimitri menghela napas panjang. “Maaf, selama ini aku menyembunyikan hal ini pada Ibu. Tapi ya, Kate memang memiliki perasaan lebih padaku. Aku tidak bisa berbuat banyak. Yang bisa kulakukan selama ini hanya mencoba menghindarinya dengan alasan pekerjaan. Aku tidak bisa menghindarinya secara terang-terangan karena itu akan mengguncangnya seperti yang terjadi Empat tahun yang lalu saat ia mencoba bunuh diri karena tidak tahan melihat kedekatanku dengan Rosaline.”

“Jadi, kau benar-benar tidak menyimpang?” tanya sang ibu sekali lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Dimitri tersenyum dan menggeleng dengan pasti pada sang ibu. “Tidak, aku mencintai seseorang, dan orang itu bukan Kate.”

“Apa kau masih mencintai Ana?”

“Bu, Ana sudah bahagia dengan pilihannya. Dan aku sudah merelakannya jauh sebelum aku bertemu dengan Rosaline empat tahun yang lalu.”

“Aku takut kau tergoda dengan Katavia.”

“Tidak! Itu tidak mungkin. Bu, tolong, jangan berpikir terlalu jauh.”

“Bagaimana mungkin aku bisa tenang sedangkan didepan mata kulihat anak-anakku seperti orang sakit, jika ayah kalian mengetahui hal ini, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan terhadap kalian.”

“Karena itu, aku ingin meminta bantuan Ibu.” Sang ibu menatap ke arah Dimitri lekat-lekat. “Aku sedang mengejar seseorang, aku sedang mencoba mendapatkan kebahagiaanku di New York. Aku tidak bisa membiarkan Kate mengikutiku sampai ke sana, aku juga tidak akan membiarkan Kate mengetahui apa yang sedang kulakukan disana.”

“Lalu setelah kau mendapatkannya, apa yang akan kau lakukan?”

“Mungkin aku akan menetap di sana, dan hanya sesekali pulang.”

“Kau, meninggalkan kami?”

“Bu, kupikir itu adalah satu-satunya cara untuk membuat Kate sembuh, tanpa mengusir dia dari rumah ini. Ibu tetap bisa merahasiakan semuanya dari Ayah.”

“Bagaimana dengan perusahaan?”

“Sementara, aku akan mengurusnya dari sana sampai kita menemukan cara untuk menyembuhkan Kate tanpa melibatkan Ayah.”

Jemari sang ibu mengusap lembut kepala puteranya. “Siapa wanita itu? Siapa yang sudah membuatmu berani memilih keputusan untuk keluar dari rumah ini?” ya, karena selama ini, sang Ibu tahu bagaimana disiplin dan patuhnya seorang Dimitri terhadap peraturan keluarga mereka. Dimitri bukan sosok yang suka membangkang dan melawan orang tuanya. Bahkan dulu, ketika Ana di usir dari rumah keluarga mereka, Dimitri tidak berusaha mengejarnya dan hanya memilih diam, patuh seperti robot rakitan sang Ayah. dan sekarang, puteranya itu memilih meninggalkan rumah demi seorang wanita.

“Seorang Dawson. Aku jatuh cinta pada seorang Dawson.”

“Apa?”

“Rose Dawson, dia wanita yang membuatku berani mengambil keputusan seperti itu.”

Sang ibu ternganga. Meski Dimitri mengucapkannya dengan tenang, tapi tersimpan sebuah ketegasan di sana. Tampak jelas sebuah keyakinan jika puteranya itu benar-benar tulus dengan apa yang ia katakan, dan tak ada sedikitpun keraguan. Dimitri benar-benar sedang jatuh cinta, dan sang Ibu dapat menghela napas lega saat menyadari jika puteranya tidak seperti apa yang sudah ia pikirkan selama ini.

-TBC-

1 thought on “Baby, Oh Baby! – Chapter 11 (Seorang Dawson)”

  1. Ternyata ibu dimi juga salah paham ma dimi ..
    ket bener” membuat jantung q dagdigdug , somoga dia ga bakal menyusul dimi dan mengetahui semua na .
    ciyeeeeee kek ma ada yng kangen ni .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s