romantis

Baby, oh Baby! – Chapter 10 (Laki-laki)

 

Follow IG @Zennyarieffka untuk info2 selanjutnya. 

Chapter 10

-Laki-laki-

 

Setelah mandi dan membersihkan diri, Rosaline segera menuju ke arah dapur. Ia kelaparan, Ya, mengingat hari sudah mulai siang. Lalu ia teringat perkataan Dimitri bahwa lelaki itu sudah menyiapkan sarapan untuknya.

Rose menuju ke arah meja makannya, dan benar saja, di sana ada Tiga potong roti isi seperti yang dikatakan Dimitri lengkap dengan saus kejunya.

Well, apa dia berpikir bahwa aku monster yang dapat menghabiskan semua ini?” gerutunya.

Rosaline lalu duduk. Dan ketika ia duduk, Snowky berlari kearahnya sesekali menjilati kakinya.

“Hei, hei… Maaf, Sayang. Kau tidur sendirian semalam?” tanya Rose pada Snowky sembari mengusap-usap bulu tebal anjingnya itu. “Ya, sepertinya aku punya teman tidur baru.” Ucapnya dengan pipi yang kembali memerah. “Astaga, apa yang sudah kukatakan?” Rosaline menggelengkan kepalanya saat sadar apa yang sudah ia ucapkan dengan spontan tadi.

“Kau sudah makan?” tanya Rose sembari melirik ke arah ranjang mungil Snowky yang sengaja ia siapkan untuk tempat tidur anjingnya tersebut. Ranjang itu berada di ujung ruangan dengan tempat makan di depannya. Dan tampak, sisa-sisa makanan berada di dalam tempat makan Snowky.

“Apa dia memberimu makan tadi pagi?” tanyanya lagi. Snowky hanya menggonggong sembari melompat-lompat.

“Kau tahu? Kadang aku merasa bahwa aku tidak mengenalnya. Dia terlalu misterius, dia terlalu susah untuk ditebak.”

Rosaline menghela napas panjang.

“Baiklah, lebih baik kita makan, aku sudah sangat lapar.” Gumam Rosaline sambil mengusap lembut puncak kepala Snowky.

Pagi yang aneh, tapi entah kenapa dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Rose ingin pagi-pagi selanjutnya ia alami seperti saat ini.

***

Siang itu…

Setelah melayani beberapa pelanggan tokonya. Rosaline berniat menutup tokonya sementara dan akan pergi makan siang. Ya, ia ada janji untuk memeriksakan kandungannya dengan Ana, temannya. Dan setelahnya, ia akan makan siang bersama dengan temannya itu.

Ini sudah Empat hari berlalu sejak malam dimana ia menghabiskan malam bersama dengan Dimitri. Dan sejak pagi itu, ia tidak lagi bertemu dengan lelaki itu. Bahkan, menghubunginya saja tidak.

Ya, Rosaline berharap jika ia mampu mengendalikan dirinya. Ia tidak ingin memiliki ketergantungan dengan Dimitri, meski ia sudah berkompromi, tapi ia akan berusaha untuk tidak menghubungi lelaki itu kecuali akhir pekan.

Rosaline berusah keras, ia tahu bahwa ini mungkin akan sulit untuknya. Hormonnya semakin kacau, apalagi saat ia mengingat bagaimana malam panas mereka beberapa hari yang lalu. Sungguh, Rosaline merasa pusat dirinya berkedut dan basah seketika hanya karena membayangkan adegan panas tersebut.

Rose menggelengkan kepalanya. Ia membuka pintu Pet shopnya, lalu menutupnya dan menguncinya kembali sebelum ia pergi. Tapi ketika ia membalikkan tubuhnya, ia sudah mendapati Alan berada di hadapannya.

“Hei. Apa kabar?” sapa Rosaline.

“Baik, kau sendiri? Akan pergi?”

“Ya, aku ada janji dengan seseorang.”

“Ayah si bayi?”

Rosaline tertawa lebar. “Bukan, tentu saja bukan. Aku akan bertemu Ana, memeriksakan keadaannya.”

“Oh, itu bagus. Bolehkah aku ikut denganmu?”

“Alan, kupikir kau memiliki kesibukan lain.”

“Tidak, maksudku, aku sedang kacau, butuh teman, jadi aku menghampiri tokomu. Dan ternyata kau akan memeriksakan bayimu. Jadi, kupikir tidak salah jika aku ingin mengantarmu.”

Well, kalau itu membuat perasaanmu membaik, kau bisa mengantarku.”

“Terimakasih.”

Rosaline tertawa lebar. “Seharusnya aku yang berterimakasih, karena kau mengantarku, aku tidak perlu membayar taksi atau berjalan kaki.”

Alan tertawa, lalu ia mengajak Rosaline menuju ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari pet shop milik Rosaline. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Alan segera menghidupkan mesin mobilnya lalu ia segera mengemudikan mobilnya tersebut.

Belum Tiga menit Rosaline berada di dalam mobil Alan, ponsel Rosaline berbunyi. Rose segera merogoh ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut begitu saja tanpa melihat siapa yang sedang menghubunginya.

“Halo?”

“Kemana?” hanya satu kata, dan itu mampu membuat Rosaline menjauhkan ponselnya dari dari daun telinganya seketika. Itu Dimitri, dan Rose tidak mendengar nada bersahabat dari sana.

“Kau? Ada apa?”

“Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau tidak menghubungiku?”

“Sepertinya aku tidak memiliki kewajiban untuk menghubungimu.”

“Kupikir kita sudah berkompromi.”

“Ya, setiap akhir pekan, bukan? Dan sekarang belum akhir pekan.”

“Kau kemana? Aku bisa mengantarmu.”

“Kau tahu aku pergi?”

“Tentu saja, aku selalu mengamatimu dari jauh.”

“Oh, Dimitri. Ini tidak lucu. Aku tidak suka dimata-matai.” Lalu tanpa banyak bicara lagi, Rosaline menutup sambungan teleponnya dengan kesal. Tak berapa lama, ponselnya kembali berbunyi, dan Rosaline tidak ingin mengangkatnya kembali.

“Siapa? Mantan suamimu?” tanya Alan yang tampak sedikit penasaran dengan orang yang menghubungi Rosaline.

Rose menghela napas panjang. “Ya, dia.”

“Dia tampak perhatian padamu. Mungkin dia masih mencintaimu.”

“Ayolah, aku tidak ingin membahasnya. Dan asal kau tahu, tidak pernah ada cinta diantara kami.”

“Oh, begitukah? Aku hanya tidak ingin kau menyesal dikemudian hari, Rose.”

“Tidak. Aku tak akan menyesal.” Rose melirih pelan.

Ya, tentu saja ia tidak akan menyesal. Atau lebih tepatnya, ia akan berusaha untuk tidak menyesali apa yang sudah ia lakukan saat ini. Menjaga jarak dengan Dimitri memang harus ia lakukan jika ia tidak mau jatuh semakin dalam pada pesona lelaki tersebut.

***

Sampai di tempat praktik Ana. Rosaline sedikit terkejut saat ia sudah mendapati Dimitri berada di sana. Astaga, darimana lelaki ini tahu bahwa tujuannya adalah ke tempat Ana?

Sebenarnya, hari ini bukanlah jadwal Rosaline memeriksakan kandunganya. Ia bertemu ana karena akan makan siang bersama. Tapi Ana meminta Rosaline ke tempat praktiknya sekalian untuk memeriksakan kandungannya. Bagaimanapun juga, kehamilan Rose terjadi bukan karena proses yang normal, jadi Ana ingin sering-sering memantau kandungannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dan kini, disanalah ia. Di ambang pintu ruang praktik Ana dengan Ana yang duduk di kursinya dan juga Dimitri yang sudah duduk tenang si sofa di ujung ruangan Praktik Ana.

“Hai Rose. Ahh, rupanya kau tidak sendiri.” Ana menghambur ke arah Rosaline dan memeluk temannya itu.

“Ya, kaupun demikian.” Rosaline melikir kesal ke arah Dimitri. “Kau memberitahunya jika aku ke sini?” bisik Rosaline pada telinga Ana.

“Ya, tadi dia menghubungiku, dan bertanya tentang kehamilanmu, jadi aku memberi taunya jika kau akan memeriksakan bayi kalian siang ini.”

“Oh Ana, kau ingin membuatku gila?”

Ana malah tertawa lebar. “Hai Alan, apa kabar?” Ana menyapa Alan. Ana memang sudah beberapa kali bertemu dengan Alan melalui Rosaline.

“Baik, kau sendiri?”

“Seperti yang kau lihat.” Ana mengangkat kedua bahunya. “Masuklah.” Ana mempersilahkan Alan masuk. Dan lelaki itu mengangguk sembari menuju ke arah sofa panjang yang di duduki oleh Dimitri.

“Kau pasti ayah si bayi.” Alan mencoba menyapa Dimitri.

“Kau pasti si pemilik anjing.” Dimitri membalas. Ia tahu tentang Alan dari Ana. Ya, meski begitu, Dimitri tidak dapat menyembunyikan rasa tidak sukanya pada lelaki itu.

“Ya, kau mengenalku?” Alan malah tidak berhenti bersikap ramah pada Dimitri. “Alan Parker.” Ucapnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan jemarinya pada Dimitri.

“Dimitri.” Dimitri menjawab singkat sembari menyambut uluran tangan Alan.

Hal tersebut tak luput dari perhatian Ana dan juga Rosaline yang saat ini bersiap-siap masuk ke dalam ruang USG.

“Dia benar-benar menyebalkan.” Rosaline menggerutu sebal.

Ana malah tertawa dengan reaksi yang ditampilkan Rosaline. “Dia hanya melindungi apa yang seharusnya menjadi miliknya, Rose.”

“Oh, jadi kau membelanya? Kadang aku bingung, apa yang dia lakukan padamu hingga kau seperti sedang mendukungnya.”

Anastasya malah tersenyum. “Kau berpikir terlalu jauh. Aku hanya ingin, hubungan kalian kembali membaik. Sepertinya, dulu hanya ada kesalah pahaman antara kalian.”

“Benarkah? Kenapa bukan kau saja yang berkencan dengannya?”

“Rose, kau tahu aku tidak bisa. Aku sudah memiliki Sean.”

“Ya, dan itu bukan berarti kau bisa menjodohkanku kembali dengan mantan suamiku yang memiliki kelainan.” Rosaline menggerutu sebal, ia masuk ke dalam ruang USG terlebih dahulu, sebelum kemudian Ana memanggil Dimitri untuk mengikuti mereka.

“Dia ikut masuk?” tanya Rosaline saat Ana mulai membuka baju yang menutupi perut buncitnya.

“Tentu saja, dia ayahnya, Rose.”

Tak lama, lelaki yang mereka bicarakan masuk ke dalam ruang USG tersebut. Dimitri melirik sekilas ke arah Rosaline lalu ia kembali menatap ke arah Ana.

“Ada masalah?” tanyanya dengan sedikit tegang.

Ana tertawa lebar. “Kami bahkan belum memulainya. Ayolah, jangan terlalu tegang.”

Rosaline mendengus sebal. “Dia takut terjadi sesuatu dengan penerusnya.” Sindirinya.

Meski Rosaline menyindirinya, Dimitri tetap bersikap tenang dan mencoba tidak menghiraukan sindiran wanita tersebut.

“Jadi, Dua puluh dua minggu.” Ana mengoles alat USGnya dengan sebuah gel yang sudah tersedia di sana. “Mari kita lihat, apa yang terjadi dengan si kecil.” Ucapnya sembari meletakkan alat USG pada permukaan perut Rosaline.

Tampak gambar empat dimensi pada layar yang sudah tersedia. Dimitri maupun Rosaline menatap ke arah layar tersebut. Kehangatan menyapa keduanya sata mereka melihat buah hatinya terlihat cukup jelas di sana.

Ana menerangkan mana saja bagian tubuh bayi mereka sembari terus memeriksa. Dimitri hanya diam, mendengarkan dengan tenang dan tak ingin berpaling sedikitipun dari layar tersebut. Hatinya berkecamuk oleh emosi yang ia sendiri tidak mengerti, darimana datangnya emosi tersebut.

Sedangkan Rosaline, kebahagiaan membuncah di hatinya, apalagi saat Ana memperdengarkan suara detak jantung bayinya. Akhirnya, apa yang ia inginkan akan menjadi kenyataan. Ia akan memiliki bayi, ia tidak akan sendirian lagi. Dan astaga, itu membangkitkan suasana haru di dalam dirinya.

“Laki-laki, sepertinya kalian akan memiliki bayi laki-laki.”

“Be-benarkah?” Rosaline bertanya dengan terpatah-patah.

“Lebih pastinya saat lahir nanti, tapi dari USG sedikit tampak  jika dia laki-laki.” Jawab Ana. “Kau menangis?” tanya Ana sembari melihat mata Rosaline yang sudah basah karena tangis harunya.

“Aku, aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini. Air mataku jatuh dengan sendirinya. Aku tak mengerti.”

Ana tersenyum. Ia membersihkan sisa-sisa gel yang menempel pada perut Rosaline dengan sebuah handuk kecil yang tersedia di sana. “Itu wajar, kebanyakan ibu memang seperti itu. Itulah yang membuatku mencintai pekerjaan ini. Aku dapat merasakan kebahagiaan mereka saat melihat mereka menangis haru dihadapanku.”

“Oh Ana, aku berterimakasih sekali padamu, kau sudah mewujudkan impianku untuk memilikinya.”

“Ya, semua itu karena dia juga.” Ana melirik sekilas ke arah Dimitri yang sejak tadi memang hanya diam tak membuka suaranya sedikitpun. “Oke, aku keluar dulu. Alan sudah terlalu lama menunggu.” Ana keluar, meninggalkan Rosaline dan Dimitri di dalam ruangan tersebut.

“Kau, baik-baik saja?” tanya Dimitri dengan spontan. Ia tidak tahu apa yang harus ia tanyakan.

“Ya, seperti yang kau lihat.”

Dimitri menatap intens pada perut Rosaline, sedikit ragu ia bertanya. “Bolehkah aku menyentuhnya?”

Rosaline menjawab dengan spontan. “Ya.”

Jemari Dimitri terulur, mendarat pada permukaan perut Rosaline, lalu mengusapnya dengan lembut. “Laki-laki, ya?” gumamnya sendiri.

“Kau, tidak akan memisahkan kami, bukan?” tiba-tiba Rosaline bertanya hingga membuat Dimitri mengangkat wajahnya menatap tajam ke arah Rosaline seketika.

“Kenapa kau berpikir jika aku sejahat itu?”

“Karena kupikir, apa lagi yang kau inginkan jika bukan bayi ini? Kau kemari hanya untuk bayi ini, bukan?”

“Tidak bisakah kau melihat ketulusanku, Rose? Aku datang untukmu. Untuk membawamu kembali padaku.”

“Tidak, aku tidak bisa kembali.”

“Maka jangan melarangku untuk datang padamu.”

“Dimitri cukup. Aku hanya tidak ingin kau memisahkanku dengan bayiku.”

“Aku tidak akan pernah melakukannya.” Dimitri menjawab penuh penekanan. Ya, ia tidak akan memisahkan Rosaline dengan bayinya, karena ia tahu jika itu akan menyakiti wanita tersebut. Dan menyakiti Rosaline adalah hal terakhir yang pernah terpikirkan dalam kepala Dimitri.

“Kau yakin?”

“Kau bisa percaya dengan apa yang kukatakan, Rose. Aku tidak akan pernah memisahkan kalian.” Dimitri berjanji, dan janji itu seakan tertanam di dasar hatinya yang paling dalam.

***

“Hai, jadi bagaimana? Sepertinya kita tidak bisa makan siang bersama, Rose. Sean menghubungiku.” Ana segera menyambut Rosaline dan Dimitri yang baru keluar dari ruang USG.

“Alan mana?”

“Oh Alan, dia pulang lebih dulu, ada urusan.”

“Aku akan mengantarmu pulang.” Dimitri berujar cepat.

“Kau yakin? Maksudku, kau bukannya harus kerja.”

“Kau yang paling kuutamakan, Rose.”

Rosaline merasakan pipinya memanas seketika. Apa Dimitri benar-benar sudah berubah? Benarkah lelaki ini sudah lebih mengutamakan dirinya ketimbang pekerjaannya?

“Ckk, perayu ulung.” Ana berkomentar.

“Baiklah, kami pergi.” Dimitri segera mengakhiri perjumpaan mereka sebelum Ana berkomentar semakin banyak dan membuat Rosaline curiga.

Rosaline sendiri hanya mengangguk apa yang diusulkan Dimitri, setelah memeluk Ana dan berpamitan pada temannya itu, Rosaline segera mengikuti Dimitri tepat di belakang lelaki itu.

Keduanya masuk ke dalam mobil Dimitri. Baru saja Dimitri memposisikan diri duduk di balik kemudi mobilnya, ponselnya berbunyi. Rupanya Ana yang telah mengirimkan pesan untuknya.

Anastasya : Aku yang mengusir Alan, jadi jangan sia-siakan kesempatan ini. Semangat dapatkan hati dia kembali.

Dimitri tersenyum membaca pesan singkat tersebut. Hal itu tak luput dari perhatian Rosaline. Hati Rosaline menghangat seketika saat melihat senyum spontan yang terukir pada wajah Dimitri. Tampan, ya, tampak sangat tampan, dan Rose ingin bayinya nanti akan setampan sang ayah. Dengan spontan, Rosaline mengusap lembut perutnya.

“Siapa?” Rosaline bertanya karena cukup penasaran dengan apa yang bisa membuat Dimitri tersenyum manis seperti tadi.

“Bukan siapa-siapa, hanya staffku.”

“Oooh.”

“Jadi, ingin makan siang dimana?” tanya Dimitri.

“Entahlah.”

“Bolehkan aku yang memilih restorannya?”

“Ya, jika kau yang membayarnya.”

Dimitri tertawa lebar, dan sekali lagi, hati Rosaline kembali menghangat melihat tawa lepas dari mantan suaminya itu. Tuhan, jika seperti ini terus, Rose tak yakin jika ia dapat bertahan dengan pesona Dimitri yang akan selalu mengusik hati dan perasaannya. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan selanjutnya?

-TBC-

1 thought on “Baby, oh Baby! – Chapter 10 (Laki-laki)”

  1. astaga dimi manis banget yaa , aduhhhh massa kau tidak mlhat ketulusan dimi ..
    dimi orang na cuek tapi ql dia marah kek na mengerikan ..

    punya ade yng super pengertian kek ana mah sangat beruntung ,
    tapi gmn ql sampe ros tau tentang hubungan ana ma dimi , pasti rose bakal kecewa banget ma ana .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s