romantis

Future Wife – Chapter 9 (Kebun Binatang)

 

Chapter 9

-Kebun Binatang-

 

Paginya…

Evan bangun lebih siang dari sebelumnya. Ya, karena ini minggu dan Evan memang berencana menghabiskan minggunya hanya di dalam rumah, tentunya bersama dengan Tiara.

Saat minggu, Tiara memang libur bekerja, karena biasanya, Davit dan keluarga kecilnya menghabiskan minggu mereka dengan berlibur, atau ke Jakarta mengunjungi orang tua Davit. Tapi terkadang, Tiara juga diajak, tergantung Dirly yang rewel atau tidak.

Dan minggu ini, Evan berharap jika bocah cilik itu tidak akan mengganggu minggunya bersama dengan Tiara.

Sial!

Evan bahkan kembali menegang saat setelah sadar sepenuhnya dari tidurnya dan mengingat betapa panasnya mereka melakukan hubungan ranjang sepanjang malam.

Tiara melayaninya dengan sukarela, wanita itu bahkan menikmati setiap sentuhannya. Tak ada penolakan sedikitpun, ya, seperti biasa, meski ada sedikit kecanggungan, tapi Tiara tidak begitu menampakkannya semalam.

Mereka sudah seperti sepasang kekasih yang tengah dimabuk kasih, mereka sudah seperti sepasang suami istri yang melakukan kewajiban masing-masing, saling memuaskan satu sama lain, menyentuh satu sama lain, bahkan meriakkan nama satu sama lain.

Ya, Tiara meneriakkan namanya tadi malam ketika mencapai puncak kenikmatan, dan Evan benar-benar menyukainya.

Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Evan bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengenakan boxernya lalu segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok gigi.

Setelah itu, dengan semangat Evan mencari Tiara. Mungkin saja wanita itu sedang sibuk di dapurnya. Dan benar saja, Tiara tampak sibuk di dalam dapurnya.

Kenapa? Bukankah ini minggu? Seharusnya wanita itu lebih santai dan tidak perlu sibuk memasak seperti saat ini. Ia bisa memesan makanan untuk mereka sepanjang hari ini, ya, asalkan Tiara mau bermanja-manja dengannya.

Mengingat itu Evan menyunggingkan senyumannya. Tiara? Bermanja-manja? Yang benar saja.

Masih belum menyingkirkan senyum semeringah diwajahnya, Evan berjalan menuju ke arah Tiara, lalu seperti biasa, ia memeluk tubuh wanita itu dari belakang tanpa canggung sedikitpun. Ya, Tiara sudah menjadi miliknya, apa yang ia canggungkan?

Berbeda dengan Evan, tubuh Tiara kaku seketika, perasaan gugup, canggung dan terkejut bercampur aduk menjadi satu hingga membuat Tiara mengeluarkan suaranya dengan spontan. “Pak Evan, ada apa?”

“Kamu ngapain?”

“Saya masak, buat Pak Evan.”

“Ini minggu, nggak usah masak, saya bisa pesan makanan di luar untuk kita sepanjang hari ini.”

“Tapi Pak, hari ini saya harus ke rumah Bu Sherly.”

Evan melepaskan pelukannya seketika. “Kenapa?”

“Bu Sherly tadi telepon, Cinta demam sepanjang malam, dan hari ini mau di bawa ke rumah sakit, padahal Pak Davit sudah janji mau ngajak Dirly ke kebun binatang.”

“Terus?”

“Ya, terpaksa, saya yang harus menemani Dirly hari ini, sedangkan Pak Davit dan Bu Sherly bawa Cinta ke rumah sakit.”

“Sial! Bocah itu lagi.”

“Kenapa Pak?”

“Jadi kamu lebih memilih dia dibandingkan saya?”

“Maaf? Maksud Pak Evan?”

“Kamu lebih milih nemanin bocah ingusan itu ke kebun binatang ketimbang menemani saya seharian di rumah ini?”

“Tapi itu kan sudah pekerjaan saya, Pak.”

Evan mendengus sebal, “Terserah kamu.” ucapnya sembari meninggalkan Tiara menuju ke arah meja makan. Sial! Gagal total semua rencananya untuk menghabiskan waktu berduaan dengan Tiara sepanjang hari ini, dan semua itu karena bocah ingusan itu.

Sedangkan Tiara sendiri hanya menatap kepergian Evan dengan penuh tanya. Ada apa dengan lelaki itu? Dasar aneh! Pikirnya.

***

Tiara sedang menyiapkan perlengkapan Dirly yang akan bergi ke kebun binatang dengannya, tapi tiba-tiba ia mendengar panggilan dari Sherly hingga membuatnya bangkit dan menuju ke arah wanita tersebut yang berada di ruang makan.

Sampai di sana, Tiara sedikit terkejut ketika mendapati Evan yang ternyata sudah ikut bergabung dengan Sherly dan juga Davit.

Ada apa lagi? Apa yang diinginkan lelaki itu? tanya Tiara dalam hati.

“Tiara, sini sebentar.”

“Iya, Bu?”

“Gini, saya pikir lebih baik kamu ke kebun binatangnya di temani sama Evan, deh.”

Tiara menatap Evan seketika, sedangkan Evan sendiri sekilas mengerlingkan matanya sembari melirik ke arah Tiara. Padahal lelaki itu sedang menyesap kopinya.

“Loh, tapi, Bu-”

“Evan kan libur kerja, katanya tadi dia bosen di rumah, makanya dia main ke sini, jadi saya minta dia temani kamu selama saya ke rumah sakit. Nggak apa-apa kan kalau kamu pergi bertiga?” tanya Sherly memastikan.

“Uum, ya nggak apa-apa sih, Bu. Cuma-”

“Om Epan ngapain sih ikutan?” Dirly yang baru keluar dari kamarnya akhirnya menyahut.

“Dirly, nggak boleh gitu sama Om Epan.” Sherly menegur puteranya. “Saya khawatir aja kalau kalian cuma pergi berdua, lagian saya nggak tau nanti bisa berapa lama di rumah sakit.”

Tiara mengangguk patuh. “Iya, Bu, nggak apa-apa, kami pergi bertiga kalau gitu.”

“Huuuhh nggak asyik.” Dirly merajuk.

“Nanti Om Beliin kembang gula.” Bujuk Evan.

“Nggak mau.”

“Kembang gula buat apa? Elo CEO masa bujuknya pakek kembang gula.” Davit ikut berkomentar.

“Terus maunya apa?”

“Mobil-mobilan kek, apa kek, jangan-jangan lo kalo ngerayu cewek cuman pakek bunga plastik, bukan berlian.”

“Sialan lo.” Evan mengumpat kesal karena merasa tersindir dengan ucapan Davit.

Sedangkan Tiara segera menunduk malu. Pipinya memerah seketika saat merasa jika Davit sedang menyindir dirinya dan juga Evan karena rayuan Evan tadi malam yang mampu menakhlukkan dirinya, padahal lelaki itu hanya membawa setangkai bunga mawar plastik.

***

Di kebun binatang….

Evan tidak berhenti mendengus sebal karena melihat pemandangan di hadapannya. Tampak Tiara yang sedang asyik bersama dengan Dirly. Mengunjungi satu kandang hewan lalu berpindah ke kandang yang lainnya. Sesekali keduanya bercanda, bermain tebak-tebakan dan lain sebagainya.

Evan merasa dirinya sedang dicuekin oleh keduanya, dan itu benar-benar membuat Evan sebal.

Tujuannya ikut ke kebun binatang hari ini adalah karena ingin menggoda Tiara, tapi bagaimana cara menggodanya jika Dirly saja tidak sedikitpun menjauh dari diri Tiara. benar-benar menyebalkan.

Dengan langkah pasti, Evan berjalan mendekat ke arah Tiara. Lalu memisah Dirly dan Tiara yang memang sedang berdiri bersampingan.

“Kalian lagi apa? Lihat kuda? Wahhh, saya juga mau dong di ajak lihat kuda.” Evan yang menengahi Dirly dan Tiara akhirnya membuka suara, berharap bisa bergabung dengan keduanya.

“Kuda? Itu kan Zebra, Om.” Dirly menjawab.

“Saya tahu, saya cuma mau nge tes kamu aja.” Evan lalu melirik ke arah Tiara. “Kamu senang ada di sini?”

Tiara mengangguk. “Saya nggak pernah ke tempat wisata kalau nggak di ajak Bu Sherly.”

“Benarkah? Lain kali saya bisa ajak kamu.” Evan menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Tiara “Sambil bulan madu.”

Tiara menjauh seketika. “Pak Evan tolong jangan membahas itu di sini.” Wajah Tiara memerah seketika. Astaga, apa bisa lelaki ini pikirannya tidak menjurus ke hal-hal seperti itu?

Sedangkan Evan, dia malah tertawa lebar menertawakan pipi Tiara yang merona merah karena godaannya. Ya, inilah yang ia inginkan. Menggoda Tiara benar-benar membuatnya senang, meski sebenarnya, ia juga menegang setelah menatap rona merah di pipi wanita tersebut.

“Om, Om Epan sana dong, aku kan mau dekat sama Tiara.” Dirly menarik-narik Evan berharap jika Evan mau mengalah padanya.

“Apaan sih ini, kamu sana, lihat gajah sana.” Evan tak mau mengalah.

“Om Epan, nanti Dirly bilang sama Mama loh.”

“Masa anak cowok suka ngadu.”

“Pokoknya Om Epan sana.” Dirly menarik tubuh Evan dan memposisikan dirinya untuk dekat dengan Ditara.

“Kamu yang sana.” Evan mengangkat tubuh Dirly dan dan menurunkannya jauh dari Tiara. Lalu Dirly berlari, kembali mendekat ke arah Tiara tapi Evan lagi-lagi mengangkat tubuhnya dan menjauhkannya dari diri Tiara. Hal tersebut terjadi berulang-ulang hingga yang bisa Tiara lakukan hanya menggelengkan kepalanya dan menertawakan kekonyolan Dirly dan juga Evan.

***

“Ini buat kamu.” Evan memberikan minuman dingin pada Tiara. Saat ini keduanya sedang duduk di sebuah bangku sembari mengawasi Dirly yang sedang asyik bermain ayunan.

“Terimakasih.” Ucap Tiara sambil menundukkan kepalanya. Jika boleh jujur, Tiara kurang nyaman dengan sikap Evan yang perhatian pada dirinya. Astaga, tapi ini hanya sebuah minuman dingin, seharusnya tidak di hitung dengan sebuah perhatian.

“Saya sudah lama nggak jalan-jalan gini.” Tiaba-tiba Evan berkomentar.

“Pak Evan sibuk kerja.”

“Ya, dan tidak ada yang di ajak jalan juga.”

“Ohh.” Hanya itu jawaban Tiara.

Evan menatap ke arah Tiara. Ya, wanita ini memang tidak banyak berbicara, tapi kadang Evan merasa kesal, kenapa Tiara seakan tidak ingin tahu banyak tentangnya? Kenapa Tiara tidak bertanya apa yang terjadi dengannya sampai ia memanfaatkan kehadiran wanita tersebut?

“Kadang, saya bingung apa yang sedang kamu rasakan?”

Tiara menatap Evan seketika “Maksud Pak Evan?”

“Kamu membuat saya menebak-nebak apa yang sedang ada di dalam pikiran kamu.”

“Uum, kenapa Pak Evan harus menebaknya?”

“Saya juga tidak tahu, saya cuma ingin tahu saja, apa yang sedang kamu pikirkan. Kenapa kamu tidak tanya, kenapa saya melakukan semua ini? Memanfaatkan kehadiran kamu seperti ini.”

Tiara tersenyum, ia menundukkan kepalanya dan menatap minuman dingin yang berada dalam genggaman tangannya. “Kadang saya berpikir, bahwa saya tidak berhak tahu apa yang terjadi, cukup dengan masalah saya teratasi, maka saya sudah lega, saya tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Pak Evan, toh, Pak Evan tidak akan bercerita sama saya walau saya bertanya. Maksud saya, siapa saya? Saya tidak punya hak untuk sekedar bertanya.”

Evan tercenung mendengar jawaban Tiara yang terdengar menyedihkan di telinganya. Ya, ia memang keterlaluan karena sudah memperlakukan Tiara seperti budak, setidaknya, ia harus lebih peka lagi, lebih bersikap manis lagi pada wanita tersebut agar wanita itu tidak merasa jika dirinya hanya sebagai pemuas saja. Mungkin dengan bercerita pada Tiara bisa membangun jalinan pertemanan antara mereka, bukan hanya sekedar seks dengan kecanggungan seperti selama ini.

Evan menghela napas panjang. “Saya jatuh cinta sama seseorang.”

Tiara menatap Evan seketika.

“Istri adik saya. Saya nggak tahu kenapa dia bisa memilih adik saya, Darren, dari pada saya. Padahal, sejak dulu, saya selalu memberi perhatian padanya, menunjukkan rasa sayang saya padanya, tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain.”

“Karena itu Pak Evan pindah ke Bandung?”

“Ya. Saya memang sudah merelakannya, tapi mau dipungkiri seperti apapun juga, saya tidak bisa melihat mereka selalu bersama, apalagi satu rumah dengan mereka.”

“Saya turut prihatin.”

“Saya tidak butuh rasa kasihan kamu.” Evan meminum minuman dinginnya. “Saya hanya berusaha menjadi sosok lain. Bukan lelaki lemah dan tidak menarik seperti sebelumnya.”

“Siapa yang bilang begitu?”

“Tidak ada. Saya hanya merasa seperti itu. Menyedihkan, lemah, kalah.”

“Pak Evan tidak seperti itu.”

Evan menatap Tiara dengan sorot mata tajamnya. “Benarkah? Lalu apa yang kamu lihat dari saya.”

“Pak Evan cukup mengintimidasi, kadang tampak misterius, dan juga…. Panas.” Entah apa yang membuat Tiara mengucapkan kalimat tersebut. Mungkin karena mata Evan yang membiusnya hingga membuatnya mengucapkan kalimat itu secara spontan.

Bukannya tersanjung, Evan malah tertawa lebar hingga membuat Tiara bingung, apa ada yang lucu dengan ucapannya?

“Kenapa Pak Evan tertawa?”

“Enggak, kadang, kamu tampak polos dan menggemaskan, membuat saya gemas dan ingin menggigit kamu.”

“Menggigit?” Tiara tidak tahu apa menggigit yang diucapkan Evan memiliki makna tersendiri atau bagaimana. Sedangkan Evan, lagi-lagi ia tertawa melihat kebingungan yang terpancar jelas dari wajah Tiara.

Setelah puas tertawa, Evan membuka suaranya lagi. “Saya sudah menyewa pengacara untuk mengurus kasus kakak kamu.”

Tiara mengangkat wajahnya dan kembali menatap Evan dengan penuh harap.

“Pengacara saya sudah mempelajari kasusnya, dia bilang, mungkin kakak kamu tidak bisa bebas begitu saja, tapi dia akan berusaha meringankan hukuman yang akan diterima kakak kamu di sidang nanti.”

Dengan spontan, Tiara mencengkeram pergelangan tangan Evan. “Pak Evan janji akan meringankan hukumannya?”

Evan melirik ke arah jemari Tiara yang mencengkeramnya, hingga membuat Tiara melepaskannya seketika.

“Maaf.” Lirihnya.

“Ya, Pengacara saya berjanji akan mengusahakannya.”

Tiara tersenyum bahagia. “Terimakasih, Pak.”

“Kamu, benar-benar sayang sama kakak kamu sampai berani berbuat begitu jauh.”

“Sepertinya saya sudah pernah bilang, Bang Radit adalah satu-satunya kkeluarga yang saya miliki, sebejat apapun dirinya, dia tetap kakak saya, karena bagaimanapun juga, di dunia ini, tidak ada yang lebih menyayangi saya seperti dia.”

Evan hanya menatap Tiara dengan rasa iba. Menyayangi? Jika benar si bajingan itu menyayangi Tiara, hidup Tiara tidak akan semenyedihkan ini. Apa mata Tiara buta hingga tak dapat melihat mana rasa sayang sesungguhnya? Atau, apa wanita itu hanya mencoba memungkiri dirinya sendiri dan bersikap seolah ia adalah adik kesayangan kakaknya? Yang benar saja.

Saat Evan sibuk menataap ke arah Tiara seakan pandangannya terkunci pada wanita tersebut yang sibuk menundukkan wajahnya, ia merasakan seorang menarik-narik jaket yang ia kenakan.

Evan tersadarkan dari lamunannya dan mendapati Dirly sudah berdiri tepat di sebelahnya.

“Ada apa?” tanya Evan dengan nada yang di buat kesal. Ia tidak suka saat Dirly kembali mengganggu kedekatannya dengan Tiara.

“Om Epan, Dirly mau….” Dirly menggantung kalimatnya lagi.

“Mau apa lagi? Ice cream? Tadi kan Om sudah belikan Dua.”

“Bukan.”

“Lalu?”

Dirly menarik-narik tubuh Evan agar Evan mau menunduk karena dia ingin berbisik pada telinga Evan. akhirnya Evan menuruti apa mau Dirly dan membiarkan Dirly berbisik pada telinganya.

Setelah selesai, Evan menatap Dirly dengan tatapan ngerinya. “Ayolah Bung, toiletnya di sana, kamu bisa pipis sendiri tanpa memintaku untuk menemanimu.”

“Ada apa Pak?” tanya Tiara yang baru sadar jika Dirly sudah berada di sebelah Evan.

“Dia mau pipis, dan memintaku untuk menemaninya. Yang benar saja.”

Tiara terkikik geli. “Tolong Pak Evan temani, ya? Biasanya Bu Sherly yang nemani Dirly pipis.”

“Kenapa bukan kamu? Kamu kan yang ngasuh dia.”

“Sejak beberapa bulan yang lalu, Dirly sudah nggak mau pipis sama saya lagi, katanya malu. Bu Sherly bilang kalau Dirly nggak mau pipis di depan calon istrinya.”

“Calon apa?” mata Evan membulat seketika dan itu semakin membuat Tiara tak dapat menahan tawanya. Mata Evan lalu menatap tajam ke arah Dirly. “Kamu mau nikahin dia?”

“Iya.” Dirly menjawab dengan polos.

“Hei, Bung. Kamu bahkan belum bisa pipis sendiri, bagaimana mungkin kamu menunjuk seseorang sebagai calon istri?”

“Om Epan, aku sudah nggak tahan.”

“Pak, lebih baik Pak Evan segera bawa Dirly ke toilet, sebelum dia ngompol.”

“Ngompol?” Evan berdiri seketika. Dan dengan menggerutu sebal, ia mengangkat tubuh Dirly begitu saja sambil berlari menuju ke arah toilet.

***

Tiara sudah menunggu Evan dan Dirly di depan pintu toilet. Ia masih tidak berhenti tersenyum sendiri saat mengingat bagaimana ekspresi ngeri Evan saat membayangkan Dirly ngompol.

Astaga, lelaki itu ternyata memiliki sisi yang asyik, sisi yang mampu membuatnya tersenyum. Lalu Tiara juga ingat percakapan serius mereka tadi. Saat ia mendengar Evan bercerita tentang masalah lelaki tersebut, Tiara merasa tersentuh, seakan Evan menunjukkan sisi rapuhnya pada Tiara, dan itu benar-benar membuat Tiara bingung dengan perasaan yang tiba-tiba ia rasakan.

Lalu, sikap Evan yang bertanggung jawab dengan kasus kakaknya, membuat mata Tiara terbuka, jika sebenarnya, sosok Evan bukanlah sosok iblis yang selama ini ia kenal dan hanya memanfaatkan kehadirannya saja. Evan menepati janjinya untuk menolong dirinya, dan entah kenapa, Tiara terpeson dengan hal itu.

Saat Tiara melamunkan kebersamaannya dengan Evan. sosok itu keluar dari dalam toilet bersama dengan Dirly.

Tiara segera menghamriri keduanya, ia mengambil tissue basah dan berjongkok untuk membersihkan jemari mungil Dirly.

“Bagaimana? Lega?”

“Ya, Om Epan hebat, aku diajari pipis dengan benar.”

“Benarkah? Wahh, kayaknya kamu harus baikan sama Om Epan.” Ucap Tiara masih dengan mengusap jemari Dirly dengan tissue basah.

“Nggak mau, Om Epan mau merebut kamu, jadi kami tetap berperang.”

Tiara hanya tersenyum mendengar ucapan Dirly, hal tersebut tak luput dari tatapan mata Evan ke arah Tiara. Tiara tampak keibuan, walau ia tahu jika usia wanita itu masih sangat muda. Evan sangat menikmati interaksi antara Dirly dan Tiara, dan hal itu membuat sesuatu mengusik dasar hatinya yang paling dalam.

Dengan spontan, Evan ikut berjongkok di hadapan Tiara, tepat di sebelah Dirly. Lalu dia mengulurkan kedua belah telapak tangannya pada Tiara. “Saya juga ingin dibersihkan.” Ucap Evan dengan suara yang tiba-tiba terdengar parau.

Tiara menatap Evan seketika, dan tanpa membalas ucapan Evan, Tiara mengambil beberapa lembar tissue basah, lalu membersihkan telapak tangan Evan dengan tissue basah tersebut.

Mata Evan terpaku menatap Tiara yang tampak polos, wanita itu fokus membersihkan kedua belah telapak tangannya. Sebuah rasa kembali menggelitik hatinya, seakan memerintahkan jantungnya agar berdebar sekencang-kencangnya hingga terasa memukul rongga dadanya.

Sial! Apa-apaan ini?

-TBC-

4 thoughts on “Future Wife – Chapter 9 (Kebun Binatang)”

  1. sekarang evan yng memburu ma dirly ,
    trus gmn perasaan tiara entar ngeliat papa peri nikah ma perempuan lain .
    q papa peri udah mulai ada sesuatu ma tiara tapi dia belom menyadari na .

    next buuuu jangan lama” 😘😘😘😘

    Like

  2. Asyik…
    Perang antara Kids Jaman Now dan Kids Jaman Old di mulai, bikin ceritanya serasa komedi..😊😊😊
    Di tambah papa peri yang kini mulai menunjukan sisi rapuh nya di depan Angle Tiara..

    Jangan up lama2 lagi mom…
    Sukses terus…
    Aamiin..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s