romantis

Future Wife – Chapter 8 (Bunga)

 

Chapter 8

-Bunga-

 

Dengan kesal Evan merebahkan tubuhnya di atas sofa tepat di sebelah Davit. Davit sendiri masih asyik dengan tayangan sepak bola yang ia tonton. Jadi ceritanya, TV dia yang di ruang tengah sedang rusak. Davit tidak mungkin menumpang nonton bola di kamar Dirly, karena puteranya itu sudah tidur, dan tak mungkin juga ia menonton bola di kamarnya karena disanapun ada Sherly yang tidur dengan puteri kecil mereka. Sedangkan Davit tak bisa menonton tanpa berteriak-teriak seperti orang gila. Ya, ia memang penggila olah raga.

Dengan bosan dan kesal, Evan menemani Davit. Ia tidak mungkin kembali masuk ke dalam kamarnya dan mencurahkan hasratnya pada Tiara, mengingat ia adalah orang yang ‘vokal’ dalam bercinta. Ia tidak mungkin membiarkan Davit mendengarkan erangan kenikmatan yang keluar denngan spontan dari bibirnya.

Sial! Bahkan membayangkannya saja membuat Evan semakin nyeri menahan hasratnya.

Dengan gelisah, Evan menggerak-gerakkan tubuhnya hingga mau tidak mau membuat Davit menatap ke arahnya.

“Lo kenapa sih?” tanya Davit sedikit risih dengan Evan yang tampak tak dapat diam.

“Lo kapan pulangnya?”

“Lo gila ya? Belum juga dapet setengah permainan, masa lo sudah ngusir gue?”

“Berengsek, gue mau meledak.” Evan melirih pelan.

“Apa?” Davit tidak sempat mendengar apa yang dikatakan Evan.

“Nyaringkan Tvnya, dan demi Tuhan, jangan beranjak dari tempat duduk lo.”

“Lo mau ngapain sih?” tanya Davit tak mengerti.

Evan tidak menjawab, ia bangkit meraih remote TVnya, menaikkan volume suaranya, lalu ia segera pergi meninggalkan Davit. Davit hanya menaikkan sebelah alisnya menatap temannya itu, lalu ia kembali fokus pada pertandingan sepak bola tim kesayangannya.

****

Setelah berlari cepat menuju ke arah kamarnya, Evan masuk lalu mengunci diri. Ia melihat Tiara yang ternyata sudah menunggu. Wanita itu masih setia duduk di pinggiran ranjangnya, dan Evan segera menghampirinya.

“Siapa Pak?” tanya Tiara.

“Davit, numpang nonton bola.”

“Apa?”

“Ya. Sudahlah, lupakan dia, sekarang, kita selesaikan urusan kita.” Ucap Evan sambil meraih pergelangan tangan Tiara.

“Tapi pak Davit.”

“Nggak usah pikirin Davit, dia masih asyik sama dunianya, asal kita nggak berisik, kita aman.”

Dan Tiara mengikuti saja apa rencana Evan. Ia mengikuti ketika Evan menariknya masuk ke dalam kamar mandi. Tiara pasrah saat tiba-tiba Evan menyerangnya, menghimpitnya di antara dinding. Evan segera melucuti pakaiannya sendiri lalu melucuti pakaian Tiara hingga keduanya kini sudah berdiri sama-sama polos.

“Saya hampir gila karena karena memikirkan ini.” Bisik Evan sembari mengangkat sebelah kaki Tiara lalu mencoba menyatukan diri tanpa melakukan pemanasan apapun. Ya, sepertinya sudah tidak perlu pemanasan lagi. Tiara sudah basah, siap menyambutnya. Begitupun dengan dirinya yang sudah tegang, padat, dan siap dipuaskan.

Tiara mengerang, tapi secepat kilat Evan membungkam bibir Tiara dengan telapak tangannya hingga erangan wanita itu tertahankan.

“Kita tidak bisa berisik.” Bisiknya serak.

“Tapi, Pak.” Tiara benar-benar tak dapat menahan erangannya. Tubuh Evan terasa panas membakarnya. Oh, percintaan mereka kali ini benar-benar panas. Dan entah kenapa itu membuat Tiara semakin bergairah. Sejak kapan ia menjadi wanita nakal seperti  ini? Pikirnya dalam hati.

“Baiklah, maka jangan salahkan saya, kalau saya tidak berhenti mencumbu kamu.” Ucap Evan sebelum kemudian ia mendaratkan bibirnya pada bibir Tiara, mencumbunya dengan panas tanpa menghentikan pergerakannya. Ya, rasanya luar biasa, hingga Evan merasa jika dirinya tidak akan cukup melakukannya dalam satu kali pelepasan.

Sial! Tiara benar-benar sudah membuatnya gila. Gila karena tubuh wanita itu.

***

Evan kembali ke tempat Davit yang masih asyik dengan tontonan bolanya. Kali ini, Evan sudah tak lagi menahan kesakitan atau gairahnya lagi. Wajahnya pun tak lagi menegang, yang ada hanya senyuman-senyuman aneh yang membuatnya tampak bodoh karena tersenyum sendiri mengingat kejadian padan di dalam kamar mandinya.

Oh, Evan merasa jika dirinya sedang mencuri-curi kesempatan, seperti Davit adalah orang tua Tiara, dan ia sedang memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Itulah yang membuat Evan tak berhenti tersenyum sendiri.

“Lo kenapa? Senyum-senyum nggak jelas.” Tanya Davit yang memang merasa sedikit aneh dengn Evan yang kembali dengan ekspresi menggelikannya. Wajah temannya itu tak berhenti menyunggingkan senyumannya, belum lagi rona merah diwajah Evan membuat Davit merasa geli sendiri.

“Nggak apa-apa, emangnya kenapa?”

“Kayak orang abis main sabun.”

“Sialan.” Evan mengumpat sambil tertawa. “Gimana bolanya? Menang?”

“Berengsek! Real Madrid kalah. Gue kalah taruhan sama anak buah gue. Sialan!”

Evan tertawa lebar menertawakan kekesalan Davit. “Kan belom selesei.”

“Kurang beberapa menit lagi, nggak akan bisa nyusul. Lo dari mana sih?” tanya Davit yang sontak membuat Evan sedikit salah tingkah.

“Cuci baju di belakang.”

“Kenapa nggak di laundrykan aja? Lo kan CEO.”

“CEO apaan?” Evan mendengus sebal. “Lagian enak dicuci sendiri sambil olah raga.” ucap Evan penuh arti. Astaga, ia kembai teringat Tiara. Sedang apakah wanita itu saat ini? Apa sudah selesai mandi? Apa wanita itu segera tidur? Lamunannya buyar saat Davit kembali mengumpat kasar sambil berdiri.

“Berengsek! Duit 5 juta gue raib.”

Evan mengerutkan keningnya. “Maksud lo?”

“Lo nggak lihat, Bolanya sudah selesai. Gue kalah telak sama anak-anak.”

Evan tahu, anak-anak yang dimaksud Davit adalah anak buahnya di restoran. Tapi Evan masih tidak habis pikir jika Davit akan mengeluarkan uang cukup banyak untuk membayar taruhan konyolnya.

“Gue pulang. Jangan bilang-bilang kalau gue taruhan. Kalo Sherly tahu gue taruhan gini, gue bisa dibunuh.”Evan hanya tertawa lebar, ia ikut bangkit, dan mengantar Davit hingga ke depan pintu rumahnya.

Saat Davit akan pergi, matanya menangkap sebuah rak sepatu yang berada di sebelah pintu rumah masuk rumah Evan, tak ada yang aneh memang, tapi ia menatap sepasang sendal perempuan yang tampak sedikit familiar untuknya. Sendal perempuan? Bukannya Evan tinggal sendiri?

Davit tidak bertanya, karena ia memilih diam. Mungkin Evan memang sedang berhubungan dengan seorang wanita, dan itu memang bukanlah menjadi urusannya. Akhirnya Davit memilih pergi meski dalam hati ia sedikit penasaran dengan sikap aneh Evan sepanjang malam.

***

Hari Sabtu akhirnya tiba juga, hari dimana Evan harus kembali ke Jakarta dan menjemput seseorang di bandara sesuai dengan apa yang diperintahkan ibunya. Evan sebenarnya sudah curiga jika ia akan dijodohkan dengan wanita itu. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak, mungkin, setelah bertemu dengan wanita itu, ia akan berunding dengan wanita itu, agar wanita itu mau menolak perjidohan mereka.

Tapi kini, sudah hampir Dua jam lamanya Evan menunggu wanita itu, tapi ia tak juga  menemukannya. Mamanya tadi juga tidak sepat memberi tahu, naik pesawat apakah wanita itu, dan dari mana. Sial! Evan benar-benar merasa jika dirinya menjadi orang tolol hari ini.

Semuanya tentu karena tadi pagi, ketika ia sengaja berpamitan pada Tiara dengan sesekali menggoda wanita itu.

Tadi pagi….

“Apa yang Pak Evan lakukan?” tanya Tiara yang terdengar tidak nyaman saat Evan tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mendaratkan jemarinya pada sebelah payudara Tiara. Evan bahkan sudah mendaratkan bibirnya pada tengkuk Tiara.

“Enggak, saya cuma mau ngabisin pagi ini dengan begini.”

“Kenapa?”

“Saya mau pulang ke Jakarta, hari ini. Mungkin baru balik senin sore.”

“Kok mendadak?”

“Kenapa? Kamu nggak suka jauh dari saya?”

“Bu-bukan begitu.” Tiara sedikit salah tingkah.

“Lalu?” tanya Evan yang sedikit memancing reaksi Tiara.

“Uuum, Kenapa tiba-tiba pulang? Ada masalah sama keluarga Pak Evan?”

“Nggak ada, kayaknya saya mau dijodohin sama seseorang.” Evan merasakan tubuh Tiara sedikit menegang. Kenapa? Apa Tiara tidak suka? “Kenapa? Kamu nggak suka?”

“Uuum, itu kan bukan urusan saya.”

“Ya, benar sekali. Tapi saya akan mengusahakan supaya wanita itu mau menolak perjodohan kami. Rasanya menggelikan kalau menikah dengan orang yang nggak kita kenal.”

“Kalau wanita itu tidak mau menolak?” tanya Tiara kemudian.

“Kami akan menikah.”

“Lalu?”

“Kamu akan tetap menjadi milik saya, menghiasi ranjang saya, dan melayani saya seperti biasanya.”

“Dan bagaimana dengan wanita itu?”

“Saya akan mengurusnya.”

“Pak…”

“Saya tidak ingin dibantah. Begini saja, saya suka seperti ini.” Lanjut Evan lagi yang saat ini sudah kembali mencumbui sepanjang leher Tiara. Tiara sendiri kembali diam, ia tak bisa berbuat banyak. Ya, Evan memang berkuasa, dan dirinya tidak bisa pergi dari sisi lelaki itu sebelum lelaki itu sendiri yang membuangnya.

 

Lamunan Evan buyar saat ia merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celana yang ia kenakan. Evan merogohnya, sedikit mengernyit saat mendapati nomor baru di sana. Siapa? Akhirnya Evan mengangkatnya.

“Halo?”

“Hai, Evan Pramudya?” tanya suara lembut di seberang telepon.

“Ya, ini siapa?”

“Safriana. Panggil saja Ana. Orang yang kamu jemput siang ini.”

“Ah ya, dimana? Saya sudah nunggu kamu hampir dua jam.” Ucap Evan sembari melirik jam tangannya.

Terdengar suara tawa di seberang telepon hingga membuat Evan mengangkat sebelah alisnya.

“Ada apa?” tanya Evan penasaran, karena ia merasa jika dirinya tidak sedang melucu.

“Maaf, saya sudah di dalam kamar pacar saya, tadi dia yang jemput saya, tapi saya belum sempat menghubungi Anda.”

“Apa?” sungguh, Evan tidak mengerti cara berpikir perempuan ini.

“Saya harap Anda tidak mengungkapkan hal ini pada keluarga kita, bagaimanapun juga, saya masih ingin menikah dengan Anda, terimakasih, sampai jumpa lain waktu.” Lalu sambungan telepon ditutup begitu saja hingga membuat Evan ternganga.

Apa-apaan ini?

***

Akhirnya Evan memilih pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, ia disambut dengan hangat oleh sang Mama dan juga…. Karina. Ya, wanita yang coba ia lupakan, dan Evan baru menyadari, jika memang beberapa hari terakhir, ia tak lagi memikirkan tentang Karina.

“Akhirnya kamu pulang.” Nyonya Pramudya berkata sembari bergelayut di lengan Evan.

“Ma, kan cuma di bandung.”

“Tetep aja, mama kangen, kamu nggak pernah pulang, dan kamu nggak pernah biarin mama main ke sana.”

“Evan sibuk, Ma.” Evan lalu menatap ke arah Karina. Wanita itu sedikit pucat, seperti biasa, ia segera merasa khawatir dengan wanita muda di hadapannya tersebut.

“Kamu, sakit? Kok pucat.”

Karina tersenyum. “Enggak kok, Kak.”

“Biasa, wanita hamil kan memang tampak pucat, apalagi Karin sering anemia.”

“Oh ya? Darren harus lebih perhatian sama kamu.” Ucap Evan dengan lembut, penuh perhatian.

“Tentu saja.” Suara di belakangnya membuat Evan menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Darren berdiri di sana dengan seikat bunga dan juga sebuah kotak. “Aku keluar untuk menuruti apa maunya.” Ucap Darren sembari menyodorkan kotak dan bunga yang dibawanya.

“Oh ya?”

“Ya, ngidam yang aneh, bunga dan cokelat? Yang benar saja.” Darren sedikit menyunggingkan senyumannya sembari menatap Karina, sedangkan Karina hanya menunduk malu-malu.

Evan yang melihatnya merasa sedikit terusik. Ya, bagaimanapun juga, rasa itu masih ada untuk Karina, meski tak sebesar dulu.

Tak sebesar dulu?

“Karin memang ngidamnya aneh, Van. Masa hari-hari dia minta dibeliin bunga sama Darren.” Ucap yang mama yang membuat wajah Karina semakin memerah karena malu.

Evan sendiri hanya tersenyum, ia merasa suasana diantara mereka tak lagi tegang seperti beberapa bulan yang lalu. Mungkin Darren sudah mengerti kalau ia tidak akan mungkin merebut Karina dari sisi adiknya tersebut, mungkin juga Karin sudah melupakan tentang semua yang pernah terjadi diantara mereka, dan mungkin juga, ia sudah merelakan wanita yang dicintainya itu bahagia dengan adiknya.

Benarkah ia sudah merelakannya?

“Kenapa harus bunga?” tanya Evan penasaran.

Darren tidak menjawab, ia membiarkan Karina yang menjawab pertanyaan Evan.

“Nggak apa-apa, kayak manis aja.” Jawab Karina masih dengan wajah memerah.

“Apa semua wanita suka dikasih bunga?” tiba-tiba Evan bertanya dengan spontan.

“Kenapa? Lo mau ngasih seseorangbunga?” Darren bertanya balik.

“Safriana? Kamu mau ngasih dia bunga, kan? Tadi kamu sudah ketemu sama dia, kan? Gimana?” sang Mama segera menyerbu Evan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Safriana? Siapa dia?” tanya Darren sedikit penasaran.

“Calon istri Evan.” Sang Mama menjawab cepat.

“Ma.” Evan ingin meralat ucapan Mamanya.

“Jadi lo mau nikah?” tanya Darren yang tampak senang dengan berita tersebut. Evan tak dapat menjawab banyak, masalahnya, hubungannya dengan Safriana bukan seperti itu. Wanita itu bahkan terdengar suka main-main saat tadi meneleponnya.

Lagi pula, ia bertanya tentang bunga bukan untuk Safriana, tapi untuk….. Sial! Kenapa juga ia memikirkan wanita itu saat seperti ini?

“Sudah-sudah, mending kita masuk dan membahas semua di dalam. Kamu, nginep sini kan malam ini?” sang Mama bertanya pada Evan.

“Aku, pulang Ma.” Entah apa yang membuat Evan menjawab dengan spontan pertanyaan mamanya.

“Pulang? Ini kan rumah kamu.”

“Maksudku, pulang ke Bandung. Besok, aku lagi ada urusan, Ma.”

“Tapi besok kan minggu, Van.”

Evan hanya bisa tersenyum “Maaf, Ma.” Ucapnya dengan sesal.

Ya, sebenarnya ia tak memiliki urusan apapun, tapi Evan merasa jika dirinya ingin segera pulang ke Bandung. Apa karena ada yang menunggunya? Ya, mungkin saja.

Meski kecewa, tapi sang mama mencoba mengerti. Yang pasti, suasana diantara mereka tak lagi setegang dulu, dan itu membuat Nyonya Pramudya dapat menghela napas lega. Rupanya, ide menjodohkan Evan bukanlah hal yang buruk. Pikirnya.

****

Evan tak berhenti menatap setangkai mawar merah buatan yang berada di atas dashboard mobilnya. Bunga itu tadi ia beli ketika diperempatan lampu merah. Saat ada beberapa anak kecil yang menjajakan jualannya berupa suvenir termasuk bunga buatan yang ia beli itu.

Tiba-tiba saja perkataan Karina tadi terngiang di telinganya.

“Nggak apa-apa, kayak manis aja.”

Evan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Apa Tiara akan menganggapnya lelaki yang manis setelah ia memberikan bunga ini pada wanita itu? Apa Tiara akan merona-rona merah seperti Karina saat menerima bunga dari Darren.

Gila! Ini benar-benar gila! Kenapa juga ia memikirkan reaksi Tiara?

Sial! Sepertinya apa yang ia lakukan ini hanya sebuah manifestasi dari perasaannya terhadap Karina yang ia salurkan untuk Tiara. Ya, mungkin hanya itu. Lagi pula itu tidak salah. Baginya, kehadiran Tiara bukan hanya untuk memuaskan hasratnya, tapi juga untuk mencurahkan rasa yang ingin ia curahkan pada sosok Karina. Tidak salah bukan?

Evan menghela napas panjang, sebelum ia keluar dari dalam mobilnya, lalu masuk ke dalam rumahnya. Semoga saja Tiara belum tidur, karena tentunya, ia ingin menghabiskan malam yang panas bersama dengan wanita itu. Ya, apalagi yang ia cari jika bukan tubuh Tiara hingga memilih kembali pulang ke bandung ketimbang menginap di rumah orang tuanya.

Evan membuka pintu rumahnya, masuk, lalu menutup dan mengunci pintu rumahnya. Ia segera mencari Tiara, mungkin wabita itu ada di kamarnya, dan benar saja, saat Evan masuk ke dalam kamarnya, Tiara rupanya baru saja selesai mandi. Wanita itu hanya mengenakan handuk yang membalut tubuh mungil wanita tersebut. Rambutnyapun masih tertutup dengan handuk mungil di kepalanya. Dan ekspresi wanita itu tampak terkejut dengan kedatangan Evan.

“Pak Evan, kok pulang?”

Evan tidak menjawab, ia memilih melangkahkan kakinya dengan pelan tapi pasti ke arah Tiara. Tiara sendiri memilih mundur, menghindar saat Evan mendekat ke arahnya.

“Pak…” Tiara menahan dada Evan yang semakin mendekat, sedangkan kini tubuhnya sudah terhimpit dengan dinding di belakangnya.

“Kamu berniat menggoda saya?”

“Apa?”

Evan menelan ludahnya dengan susah payah. “Saya tidak bisa berpikir jernih lagi saat melihat kamu setengah telanjang begini.”

“Maaf, kalau begitu, biar saya pakai baju dulu.”

“Nggak perlu.” Evan menjawab cepat.

“Lalu?”

Evan terdiam cukup lama. Ia ingin segera menyerang Tiara karena hasrat yang ia rasakan semakin membumbung tinggi. Tapi, ia tidak ingin Tiara melihatnya seperti seorang maniak yang hanya memikirkan selangkangannya. Bagaimanapun juga, Evan ingin terlihat lebih manis dihadapan Tiara, ya, setidaknya itu menyamarkan sikap berengseknya yang sudah memanfaatkan kepolosan wanita ini.

“Ini, buat kamu.” Evan memberikan setangkai bunga yang ia beli tadi.

“Bunga? Buat apa?”

“Oleh-oleh, dari Jakarta.”

“Ke-kenapa ngasih saya oleh-oleh?”

“Karena saya ingin imbalan baliknya.”

“Imbalan balik?” Tiara tidak mengerti. Lalu ia baru mengerti ketika jemari Evan merayap pada sampul handuk yang ia kenakan.

“Kamu, nggak akan menolak saya, bukan, saat saya sudah memberikan kamu bunga?”

Ya, tentu saja Tiara tidak bisa menolaknya. Meski itu hanya bunga buatan yang sederhana, tapi tetap saja, Evan adalah lelaki pertama yang memberinya bunga, dan bagi Tiara, itu adalah sesuatu yang sangat manis dan romantis.

“Ya.” Tanpa sadar Tiara mengucapkan kalimat tersebut. Ia tergoda dengan keromantisan yang diberikan Evan. meski ia tidak tahu, kenapa lelaki ini bersikap seperti ini padanya. Tapi karena bunga ini, Tiara seakan membuka dan membiarkan Evan menyentuh hatinya.

“Kalau begitu, beri saya imbalannya.” Bisik Evan serak sebelum mengangkat wajah Tiara dan mendaratkan bibirnya pada bibir Tiara, melumatnya dengan lembut, mencumbunya penuh dengan gairah, hingga Evan tidak sadar jika apa yang ia lakukan saat ini mampu mengubah perasaan yang dirasakan Tiara terhadapnya…

-TBC-

2 thoughts on “Future Wife – Chapter 8 (Bunga)”

  1. Lama kelamaan rasa cinta yg dimiliki Evan utk Karina prlahan memudar krna skrg ditiap harinya ada Tiara yg sllu ada utknya,,,,,Tiara kmu hrs bsa memporak porandakan hati Evan biar gk prgi kmn mna

    Like

  2. Papa peri knp harus ikut”an darren jadi romantis , kasian tau tiara entar berharap lebih ….
    Berharap banget tiara biza hamil .
    sapa tu cewe songong banget jadi orang 😕

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s