romantis

Baby, oh Baby!- Chapter 9 (Berkompromi)

 

Chapter 9

-Berkompromi-

 

“Tidak!” Rosaline berseru keras. “Aku tidak bisa menerimamu kembali.” Jawabnya dengan ketus sembari memakan kembali steaknya. Rose berusaha bersikap seketus mungkin dan senormal mungkin, meski kini sebenarnya jantungnya tak berhenti berdebar cepat karena perkataan dari Dimitri tadi.

“Aku tahu, ini sulit untukmu.”

“Ya, sangat sulit.”

“Setidaknya, berceritalah padaku tentang apa yang terjadi saat itu. kenapa kau tiba-tiba pergi dari rumah. Mungkin setelah itu aku bisa lebih mengerti.”

“Jadi kau masih belum mengerti juga, ya? Baiklah, aku akan memberitahumu secara singkat. Karena aku tidak mau lagi menjadi orang bodoh yang kau manfaatkan.”

“Apa maksudmu, Rose?”

Rosaline menatap Dimitri sekletika. “Jadi, Kate tidak bercerita padamu?” Rosaline tertawa lebar. “Seharusnya kau tidak perlu repot-repot memintaku kembali, kau bisa membayar perempuan manapun untuk mengandung calon penerusmu. Lalu mendepaknya keluar dari istanamu, dan setelah itu kau bisa hidup bahagia, sejahtera bersama adik tercintamu itu.”

“Cukup. Kau terdengar berputar-putar.”

“Kau hanya memanfaatkan kebodohanku, aku tahu itu yang kau lakukan padaku Empat tahun yang lalu.”

“Aku tidak pernah memanfaatkanmu, Rose.”

“Ya! Mana mungkin orang sepertimu bisa jatuh cinta padaku dengan begitu mudah? Itu tidak masuk akal!”

“Karena cinta memang tidak masuk akal, Rose.” Dimitri berkata dengan tenang tapi penuh penekanan.

“Ya, seperti kau jatuh cinta pada adikmu sendiri, bukan?”

“Kau sudah berkata terlalu banyak, kau tidak tahu apa yang kurasakan, dan apa yang sudah terjadi.”

Rosaline berdiri seketika. “Yang kutahu kau memiliki kecenderungan mencintai adikmu sendiri! Dan meski aku tahu seperti itu, dengan bodohnya aku tetap jatuh cinta padamu!”

“Siapa yang berkata seperti itu?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Kau tidak bisa menilai orang hanya dengan persepsimu sendiri.”

“Itu bukan persepsiku, itu kenyataan!”

“Kenyataannya aku jatuh cinta padamu, bukan dengan adikku.” Dimitri masih menjawab pernyataan Rosaline dengan nada tenang, tanpa emosi.

Bohong, jika saat ini Rosaline tidak merasakan tubuhnya bergetar, ia merasa salah tingkah dengan ucapan Dimitri tersebut, padahal ia tahu jika mungkin saja itu hanya rayuan dari Dimitri supaya ia bisa kembali luluh.

“Aku akan berpura-pura untuk tidak mendengar ucapanmu yang menggelikan itu.”

“Kau mendengarnya. Aku mencintaimu.”

Rosaline tersenyum mengejek. “Katakan itu pada dirimu sendiri.” Lalu ia bangkit dan segera pergi meninggalkan Dimitri masuk ke dalam kamarnya.

“Aku tidur di sini, malam ini.” Ucap Dimitri masih dengan tenang.

“Terserah.” Rosaline menjawab dengan ketus tanpa membalikkan tubuhnya untuk menatap kembali ke arah Dimitri.

Dimitri menghela napas panjang. “Keras kepala.” Gerutunya sembari menatap kepergian Rosaline.

***

Malamnya, Rosaline tidur dengan gelisah. Sama seperti malam sebelumnya. Tiba-tiba saja ia merasa kepanasan. Ya, Rosaline tahu, mungkin ini salah satu efek dari kehamilannya. Tapi tetap saja, hal ini sangat menyiksanya. Apalagi kenyataan jika sejak tadi ia berpikir bahwa Dimitri ada di ruang tengah flat rumahnya.

Sedang apakah lelaki itu? Apa sedang tidur? Menonton Tv mungkin? Atau sedang apa? Dan pakaiannya? Apa dia telanjang seperti dulu saat tidur bersamanya? Atau tetap mengenakan kemejanya?

Rosaline menenggelamkan wajahnya pada bantal. Astaga Rose, apa yang sudah kau pikirkan? Jeritnya dalam hati.

Rosaline terduduk seketika. Ia sadar jika dirinya semakin merasa panas, tengorokannya kering, dan tubuhnya entah kenapa tiba-tiba ingin menggeliat dengan sendirinya.

Tuhan!

Cukup dengan siksaan ini!

Rosaline bangkit seketika. Ia memilih segera keluar dari kamarnya, menuju ke arah dapur rumahnya. Berharap jika ia bisa meminum segelas air dingin dan kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan diri.

Tapi saat Rosaline selesai meminum air dinginnya, ia merasakan sebuah lengan melingkari tubuhnya dari belakang.  Lengan kekar yang dulu selalu ia rasakan. Ya, milik siapa lagi jika bukan Dimitri.

Bukannya menolak, Rose malah menikmati sentuhan dari Dimitri, sentuhan yang ia rindukan. Rosaline memejamkan matanya, ia bahkan merasakan sebuah ketegangan yang berasal dari tubuh Dimitri yang menempel pada tubuh bagian belakangnya.

Ya, lelaki itu bergairah, dan Rosalinepun merasakan gairah yang sama dengan lelaki tersebut. Entah karena hormonnya, atau memang karena sentuhan lembut lelaki itu pada tubuhnya.

“Kau, belum tidur?” Dimitri berbisik serak.

“Kau juga.” Secara spontan Rosaline mengucapkan kalimat tersebut. Astaga, apa yang sedang terjadi dengannya?

“Ya, aku tidak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Memikirkanmu.” Dimitri menjawab dengan jujur. Dan itu benar-benar membuat Rosaline semakin tergoda.

Dimitri menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada pundak Rosaline, menghantarkan gelenyar panas pada diri Rosaline. Rosaline memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya karena tidak tahan dengan rasa yang sedang menghantam dirinya. Bibir Diitri menyapu leher Rosaline, lidahnya yang basah menggoda di sana hingga mau tidak mau Rosaline mengerang secara spontan dengan sentuhan lelaki tersebut.

“Dimitri.” Pangilnya dengan suara serak.

“Heeemmm”

“Apa yang kau lakukan?” tanya Rosaline dengan sedikit terpatah-patah.

“Menggodamu.”

“Untuk apa?”

“Aku menginginkanmu, Rose.” Ucapnya dengan suara parau dan Rosaline semakin tak dapat menahan dirinya.

Dimitri meraih jemari Rosaline lalu membawanya pada bukti gairahnya yang sudah menegang. Rose mengerang saat merasakannya, sangat bergairah, dan Rose tahu jika dirinya juga begitu bergairah malam ini. Apa yang harus ia lakukan?

Tanpa di duga, Dimitri menghentikan aksinya, lalu segera mengangkat tubuh Rosaline, hingga Rosaline memekik seketika.

“Apa yang kau lakukan?”

“Menyelesaikan semuanya.” Jawab Dimitri sembari menggendong tubuh Rosaline masuk ke dalam kamar.

Rosaline tidak menolak, karena ia tahu bahwa dirinya sendiri kewalahan dengan gairah yang tak dapat ia bendung. Tubuh telanjang Dimitri semakin memperparah keadaan, apalagi bukti gairah lelaki itu benar-benar membuat Rosaline sesat dengan apa yang sedang ia rasakan.

Ia menginginkan Dimitri, ya, ingin lelaki itu berada di dalamnya saat ini juga.

***

Di dalam kamar, setelah melucuti pakaian Rosaline dan pakaiannya senidri, Dimitri menatap intens tubuh Rosaline yang sudah polos. Wanita itu terbaring di atas ranjang, tampak sempurna dengan tubuh berisinya. Perutnya sedikit membuncit, tempat dimana bayi mereka berlindung, dan Dimitri ragu saat akan melakukan penyatuan dengan tubuh Rosaline.

“Apa yang kau tunggu?” tanya Rosaline yang sudah tampak tidak sabar dengan permainan yang akan diberikan oleh Dimitri.

“Aku…” Dimitri sedikit ragu. “Tidak, kupikir, kau ingin aku lebih lama lagi melakukan pemanasa.”

“Tidak! Cukup! Sekarang kemarilah dan buat aku berteriak.”

“Kau benar-benar menginginkanku, Rose?” Dimitri bertanya dengan nada menggoda.

“Berterimakasihlah pada hormon sialanku.” Meski kesal, tapi Rosaline tidak bisa berbuat banyak. Ia benar-benar membutuhkan Dimitri saat ini, ia tidak bisa menundanya lagi. Gairahnya benar-benar sudah memuncak. Ia ingin dipuaskan malam ini juga.

“Well, terimakasih.” Setelah ucapan singkatnya itu, Dimitri segera memposisikan diri untuk menindih Rosaline. “Apa kau baik-baik saja saat aku menindihmu.”

“Tentu saja, perutku tidak akan meletus hanya karena kau menindihku.”

Dimitri sedikit tersenyum mendengar ucapan Rosaline, “Kau, sekarang lebih banyak bicara.”

“Ya, dan kau sekarang suka menggoda.” Rosaline tak lagi melanjutkan kata-katanya karena Dimitri segera menundukkan kepalanya dan menggapai bibirnya.

Dimitri menciumnya, melumatnya, mencumbunya dengan cumbuan panas. Ya, lelaki itu memang sangat pandai berciuman, bahkan Rosaline masih ingat dengan jelas bagaimana panasnya hubungan ranjang mereka Empat tahun yang lalu, ketika gelora cinta masih ia rasakan. Kini, saat ia melakukannya hanya sebatas ingin mendapatkan pelepasan, nyatanya, tak mengurangi suasana panas diantara mereka.

Dimitri menyiapkan diri untuk menyatu dengan tubuh Rosaline, dan ketika tubuh mereka menyatu sepenuhnya, yang dapat Rosaline lakukan hanya mengerang panjang ketika ia merasakan tubuh Dimitri terasa penuh mengisinya.

“Kau, kau..”

“Apa?” tanya Dimitri dengan tenang tapi penuh penekanan.

“Astaga… kita melakukannya lagi? Oh, aku benar-benar gila.”

“Bukan hanya kau, aku juga.”

“Bergeraklah, kumohon.”

Dimitri sedikit menyunggingkan senyumannya, lalu menundukkan wajahnya kembali untuk meraih bibir Rosaline. “Kau adalah milikku, Rose, dan akan selalu menjadi milikku.” Ucapnya dalam bahasa Rusia sebelum ia menautkan bibirnya kembali dengan bibir Rosaline.

Sedangkan Rosaline sendiri, ia tidak mengerti dan ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan Dimitri. Yang terpenting baginya saat ini adalah gairah sialan yang seakan membakar tubuhnya. Ya, ia membutuhkan Dimitri untuk memadamkan gairahnya, ia membutuhkan lelaki itu untuk mendinginkan rasa panas yang seakan membakar tubuhnya. Tidak salah, bukan, jika ia hanya memanfaatkan kehadiran lelaki itu seperti apa yang diusulkan Ana?

***

Keesokan harinya…

Rosaline terbangun dan mendapati tirai jendela kamarnya sudah setengah terbuka. Matanya menelusuri ke segala penjuru ruangan, dan ia mendapati Dimitri yang sudah tampan duduk di sebuah kursi di ujung ruangan.

Sangat tidak adil! Kenapa lelaki itu selalu tampak tampan dimanapun dan kapanpun dia berada? Sedangkan dirinya? Astaga… Rosaline menggerutu kesal dalam hati sembari menatap dirinya sendiri yang masih telanjang dan berantakan di bawah selimut yang menyelimuti tubuhnya.

“Kau, belum pergi?” tanya Rosaline dengan nada yang kembali di buat ketus seperti tadi malam. Ya, setidaknya ia ingin Dimitri sudah pergi saat ia membuka mata, karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat lelaki itu masih berada di sekitarnya saat ini.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja setelah tadi malam-”

“Cukup. Jangan membahas tentang tadi malam.” Rosaline memotong kalimat Dimitri.

“Kenapa, Rose? Mau dipungkiri seperti apapun juga, tadi malam termasuk dalam salah satu malam terpanas yang pernah kita lalui bersama.”

“Kau tahu, aku hanya melakukannya karena hormon sialanku.”

“Aku tidak peduli. Yang terpenting, kita kembali menyatu.”

Rosaline mendengus sebal. “Sebenarnya, apa yang kau inginkan? Kau ingin meniduriku? Kau seudah mendapatkannya, sekarang pergilah.”

“Bukan hanya menidurimu, aku ingin kau kembali, Rose.”

“Tidak! Kau tahu bahwa jawabannya selalu Tidak!”

Dimitri berdiri, dan berjalan menuju ke arah Rosaline. Ia duduk di pinggiran ranjang dan berkata “Kalau begitu, mari kita berkompromi, demi bayi kita.”

“Apa yang akan kau tawarkan padaku?”

“Aku memiliki apartemen di tengah kota, tak jauh dari pet shopmu. Tinggalah di sana, bersamaku.”

“Tidak, aku lebih suka tinggal sendiri di sini.”

“Kalau begitu, jangan menolak ketika aku mengunjungimu.”

“Tergantung seberapa sering kau mengunjungiku.”

“Setiap hari.”

“Tidak! Kau gila? Aku cukup stress saat kau berada di sekitarku.”

“Tapi semalam kau menikmatinya.”

“Ya, itu hanya seks. Aku menikmati hubungan ranjang kita karena hormonku, bukan berarti aku senang kau selalu berada di sekitarku.”

“Lalu, apa yang kau mau?”

Rosaline berpikir sebentar. “Akhir pekan, kau boleh mengunjungiku sat akhir pekan saja.”

“Kau yakin hanya itu?”

“Ya, dan, uum, mungkin saat aku membutuhkanmu.”

Dimitri sedikit menyunggingkan senyumannya. “Hubungi aku saat kau membutuhkanku. Aku akan datang.”

“Benarkah? Kupikir yang paling penting untukmu adalah pekerjaanmu dan juga-”

“Cukup, Rose.” Dimitri memotong kalimat Rosaline. “Aku tahu di masa lalu aku salah. Karena itu aku ingin menebus semua kesalahanku. Dan kumohon, jangan lagi mengungkitnya. Kita sudah berkompromi, yang artinya kau mau mencoba hubungan ini denganku. Lupakan semua yang terjadi di Rusia.”

“Aku mau berkompromi bukan berarti aku akan melupakannya. Aku masih membencimu.”

“Ya, aku memang pantas di benci.”

Rosaline menghela napas panjang. “Sudahlah, lebih baik kau pergi.”

Dimitri mengangguk sambil melirik jam tangannya. “Aku akan pergi.” Ia lalu melirik ke arah perut Rosaline yang tersembunyi di dalam selimut. Ada sebuah keinginan untuk menyentuhnya, tapi ia tahu, Rose tidak akan membiarkannya.

Dimitri memilih berdiri dan bersiap meningalkan Rosaline.

“Aku sudah membuatkanmu roti isi bacon panggang dengan saus keju. Kupikir kau menyukainya.”

“Kau memasak untukku?”

Dimitri mengangguk. “Sedikit.”

“Baiklah, aku akan memakannya.”

“Hubungi aku, saat kau membutuhkan sesuatu.”

“Ya.” Rose menjawab pendek.

Dengan berat hati, Dimitri membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya meninggalkan Rosaline sendiri di dalam kamarnya. Ya, setidaknya ia tahu bahwa Rosaline sudah bersedia berkompromi dengannya, dan ia tahu bahwa ini adalah langkah besar untuk mendapatkan Rosaline kembali ke sisinya.

Sedangkan Rosaline, ia segera menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Astaga… apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa ia merasakan pipinya memanas hanya karena sadar jika Dimitri begitu perhatian padanya? Ya, dibandingkan Empat tahun yang lalu, Dimitri memang cukup berbeda, lelaki itu lebih perhatian padanya, dan lebih banyak mengalah. Apa Dimitri memiliki rencana lain dibalik itu semua? Ya, pasti lelaki itu memiliki rencana lain. Dan Rose tahu, jika ia harus lebih berhati-hati dan pandai mengontrol dirinya di hadapan Dimitri, agar ia tidak jatuh ke jurang yang sama seperti Empat tahun yang lalu.

 

-TBC-

2 thoughts on “Baby, oh Baby!- Chapter 9 (Berkompromi)”

  1. Knp dimi ga mo mengatakan yng sbner na ma rose coba biar rose ga salah paham lagi ..
    aaahhhhhh dimi bener” bikin orang jatuh cinta .

    Like

  2. Dengan begini mereka akan sering bertemu dan berinteraksi..
    Dan kesalahpahaman antara mereka akan segera berakhir..
    Oh mata Hazelnya Daddy Dimi bikin jatuh hati di tambah sikap lembut dan pengertiannya..bikin hati ini gk bisa berpaling..

    Up nya jangan lama2 mom..
    Mom belle emang Ratu..👍👍👍👍👍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s