romantis

Baby, oh Baby! – Chapter 6 (Membuat Bayi)

Chapter 6

-Membuat Bayi-

 

Empat tahun yang lalu….

Dimitri menyusul Katavia dan menghentikan adiknya itu saat gadis itu berada tepat di sebelah kolam renang. Katavia tampak menangis, dan Dimitri tahu jika semua itu karenanya.

Ya, Katavia memang sedikit berbeda, adiknya itu mengidap Brother Complex, dan Dimitri tak dapat berbuat banyak tentang hal itu. Dimitri ingin pergi, agar Katavia bisa sembuh, tapi tidak bisa, karena keluarganya sedang membutuhkan dirinya untuk membantu mengurus perusahaan. Belum lagi ayahnya yang tidak mengetahui keadaan Katavia, dan Dimitri tidak ingin ayahnya tahu, karena jika ayahnya tahu, Dimitri takut Katavia akan di tendang dari rumah mereka seperti apa yang dilakukan ayahnya dulu pada Anastasya dimasa lalu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Dimitri sedikit kesal. Ya, sikap Katavia dapat memicu kecurigaan orang tuanya.Padahal Dimitri sedang berusaha menyembunyikan keadaan Katavia dari keluarganya.

“Kau menikahinya!Bagaimana mungkin kau menikahinya sedangkan kau tahu bahwa aku menyukaimu!”

Secepat kilat Dimitri menyeret Katavia ke tempat yang lebih sepi. Sungguh, ia tidak mau apa yang dikatakan Katavia didengar oleh banyak orang apalagi sampai terdengar kedua orang tua mereka.

“Kate, kau sudah janji tak akan mengungkapkan perasaanmu di hadapan umum.”

“Aku tidak bisa menahannya lagi!Aku mencintaimu!”

“Itu salah, Kate! Aku kakakmu!”

“Kau juga pernah merasakan perasaan seperti ini pada Ana, jadi apa salah jika aku merasakannya padamu.”

“Salah!Aku menyukainya karena aku belum tahu jika dia adikku. Sekarang perasaanku padanya sudah hilang, sejak aku tahu bahwa dia saudara kita. Kau harus mengerti bahwa apa yang kau rasakan padaku ini salah.”

“Aku tidak ingin jauh darimu.Aku mencintaimu.”

“Kate, aku berusaha menyembunyikan keadaanmu dari orang tua kita, karena aku menyayangimu. Aku tidak mau kau ditendang dari rumah ini karena membuat malu nama keluarga dengan perasaan sialanmu.”

Katavia hanya diam, ia tidak dapat menjawab karena apa yang dikatakan Dimitri benar adanya. Ya, jika perasaannya atau kelainannya diketahui oleh kedua orang tua mereka, maka sudah pasti dirinya akan ditendang dari rumah. Tidak mungkin Dimitri, karena Dimitri adalah satu-satunya penerus keluarga mereka.

“Aku menyayangimu, tapi kau harus berusaha untuk sembuh, untuk mengontrol dirimu, dan kau harus kembali melakukan terapi.”

“Tidak.”

“Kate.”

“Aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini padamu.Aku mencintaimu.”

Dimitri menghela napas panjang. “Kalau begitu, kau sendiri. Mulai sekarang, aku tidak akan berdiri dipihakmu lagi. Jika ayah dan ibu mengetahui semuanya, aku tidak bisa membantumu.”

“Kau meninggalkanku?”

“Kau yang membuatku pergi. Kate, aku cukup takut dengan keadaanmu, tapi aku mencoba mengendalikan diriku dan berusaha menyembuhkanmu dengan terapi. Tapi semua percuma jika kau sendiri tidak berusaha.”

“Aku hanya ingin kau.”

“Maka nikmatilah kesendirianmu.” Dimitri akan pergi, tapi langkahnya terhenti dengan pertanyaan Katavia.

“Kenapa kau melakukan ini?Karena wanita Amerika itu?Kau tidak mungkin menyukainya.Dia bahkan tak lebih cantik daripada aku ataupun Ana.”

“Karena cinta tidak butuh kata cantik.”

“Kau tidak mungkin mencintainya!”

Dimitri membalikkan badannya menatap Katavia kembali dan menjelaskan apa yang ada dalam kepalanya. “Kau mengenalku, aku tak banyak dekat dengan perempuan, jika aku menikahinya, itu tandanya aku sudah memilihnya. Dan ketika aku sudah memilih seseorang, maka aku tak akan pernah melepaskannya. Bagiku, itulah yang namanya cinta.”

Setelah kalimat panjang lebarnya tersebut, Dimitri pergi meninggalkan Katavia, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Rosaline berdiri tak jauh dari tempat ia beradu argumen dengan Katavia.

Sial! Berapa banyak Rosaline mendengar percakapan mereka? Apa Rose mengerti apa yang mereka ucapkan tadi?

“Kau, kenapa di sini?” tanya Dimitri yang sudah sedikit khawatir dengan apa yang sudah di dengar Rosaline.

“Aku menyusul kalian, kupikir kau butuh aku untuk menjelaskan pada Kate.”

“Apa yang sudah kau dengar?” tanya Dimitri secara langsung.

“Semuanya, tapi kau tahu jika aku tak bisa bahasa Rusia sama sekali, jadi aku tidak mengerti apa yang kalian ucapkan.Apa yang kalian bahas? Kenapa Kate tampak marah dan sedih?”

“Bukan masalah serius.Ayo, kutunjukkan kamar kita.Kau pasti lelah.”

Rosaline hanya mengikuti saja apa yang dikatakan Dimitri, meski dalam hati sebenarnya ia sudah mencurigai sesuatu, jika pasti ada yang tidak beres dengan Dimitri dan Katavia. Cara mereka berdua meluapkan emosi, lebih mirip dengan sepasang kekasih ketimbang sepasang adik kakak. Tidak! Tidak mungkin seperti itu, mungkin ini hanya perasaannya saja. Pikirnya dalam hati.

***  

Rosaline terbangun dini hari, ketika ia merasakan sebuah lengan merengkuh tubuhnya. Ia membuka matanya lebar-lebar, dan tampak asing dengan tempat tidurnya. Ya, itu adalah kamar Dimitri yang super besar dan tampak mewah. Dan Rose benar-benar merasa kurang nyaman. Ini sudah satu minggu berlalu sejak pertama kali ia diajak ke rumah Dimitri.

Ia hanya takut jika apa yang ia alami saat ini hanyalah mimpi. Sepertinya, sangat mustahil jika tiba-tiba orang seperti Dimitri Armanzandrov jatuh hati padanya. Rose merasa ada sesuatu yang janggal, yang disembunyikan oleh lelaki itu.

Kegelisahan Rosaline akhirnya membangunkan Dimitri, membuat lelaki itu semakin erat memeluk tubuhnya.

“Ada apa? Kau bangun?” tanya Dimitri dengan suara lembut menggoda.

“Ya, aku hanya sedikit berpikir.”

“Apa yang mengganggu pikiranmu?”

“Semuanya.Aku merasa ini hanya mimpi. Aku merasa menjadi seorang cinderella.”

“Ini bukan mimpi, dan kau bukan cinderella. Aku bukan pangeran.”

Rosaline sedikit tersenyum.“Apa yang membuatmu mencintaiku?”

“Lagi-lagi kau bertanya tentang hal itu.Rose, aku tidak mengerti devinisi cinta.Yang kutahu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.Itu saja.”

“Uum, bagaimana jika suatu saat nanti kau bertemu dengan perempuan yang membuatmu lebih tertarik dibandingkan denganku?”

“Aku tidak mudah tertarik dengan seseorang.”

“Tapi kau mudah tertarik denganku.”

“Karena itu kau.Apa kau belum puas?”

Rosaline tersenyum.Ia lalu membalikkan tubuhnya hingga menghadap Dimitri seketika. Jemarinya terulur, meraba dada bidang Dimitri yang telanjang tepat di hadapannya, lalu ia bergumam. “Sebenarnya, aku masih memikirkan Katavia.”

“Kate? Ada apa dengannya?”

“Kau, Uum, maksudku, aku kurang nyaman dengan tatapan matanya.”

“Kenapa?”

“Dia tampak membenciku, bukan sekedar tidak suka. Dia melihatku seakan aku ini musuhnya.”

“Rose, kau hanya belum mengenalnya saja.Begitupun sebaliknya.”

“Aku ingin mengenalnya, tapi dia tampak tidak bersahabat denganku, dia selalu berbahasa Rusia, sedangkan aku tidak mengerti banyak.”

“Dia bisa bahasa inggris, kau bisa mengajaknya bicara terlebih dahulu nanti.”

Rosaline mendesah panjang.“Ya, akan kucoba.”

Lalu tanpa diduga, Dimitri tiba-tiba mendorong tubuh Rosaline hingga kini Rosaline sudah telentang di bawah tindihannya.

“A-apa yang kau inginkan?”

“Membuat bayi.” Jawab Dimitri dengan jujur.Rosaline tersenyum mendengar jawaban tersebut.

“Kau, benar-benar menginginkan seorang bayi?”

“Ya, apa lagi yang kutunggu? Aku sudah 29 tahun, dan aku sudah memiliki istri yang sangat cantik. Apa lagi yang kutunggu?”

Rosaline tersenyum, ia mengulurkan lengannya melingkari leher Dimitri lalu berbisik pelan “Maka mari kita membuat bayi.” Setelah ucapannya tersebut, Rosaline mendekatkan wajahnya, menggapai bibir Dimitri, mencumbunya, seakan meminta Dimitri untuk segera menyentuhnya.

Dimitri tidak menolak. Ia membalas cumbuan Rosaline dengan lumatan lembut dari bibirnya, jemarinya sudah memposisikan bukti gairahnya menyentuh pusat diri Rosaline yang ternyata sudah basah dan siap menerimanya. Lalu, dalam satu kali hentakan, Dimitri menyatukan diri sepenuhnya pada tubuh Rosaline.

Rosaline mengerang dalam cumbuan mereka, begitupun dengan Dimitri, yang segera menggerakkan diri, menghujam lagi dan lagi, mencari-cari kenikmatan untuk dirinya dan juga diri Rosaline.

“Aku mencintaimu, Rose. Aku begitu mencintaimu.” Racaunya lagi-lagi dalam bahasa Rusia.

“Aku tak mengerti.” ucap Rosaline disela-sela desahannya.

Dimitri menghentikan pergerakannya seketika.“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Racauanmu, aku tidak mengerti.”

“Kau tidak perlu mengerti.”

“Tapi aku ingin tahu.”

“Aku mencintaimu, Rose. Aku begitu mencintaimu.”Kali ini Dimitri mengucapkannya dalam bahasa inggris.

“Apa?”

“Ya, itu tadi artinya.” Rosaline tak dapat menjawab saat mengerti apa maksud Dimitri, hanya rona merah di pipinyalah yang mampu menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini, bahagia, senang, gembira, dan entah perasaan apa lagi yang saat ini membuncah di hatinya.

Dimitri mencintainya, dan ia sadar jika dirinyapun sudah jatuh cinta pada lelaki tersebut. sangat sempurna, bukan?

 

-tbc-

2 thoughts on “Baby, oh Baby! – Chapter 6 (Membuat Bayi)”

  1. Sempurna 😍😍😍
    aduhhhhh dimi bener” yaa tau cara na bikin orang tak berdaya ,
    tapi author na jauh na jauh lebih keren karna tau bagaiman cara bikin reader na klepek” 😊😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s