Future Wife – Chapter 8 (Bunga)

Comments 3 Standard

 

Chapter 8

-Bunga-

 

Dengan kesal Evan merebahkan tubuhnya di atas sofa tepat di sebelah Davit. Davit sendiri masih asyik dengan tayangan sepak bola yang ia tonton. Jadi ceritanya, TV dia yang di ruang tengah sedang rusak. Davit tidak mungkin menumpang nonton bola di kamar Dirly, karena puteranya itu sudah tidur, dan tak mungkin juga ia menonton bola di kamarnya karena disanapun ada Sherly yang tidur dengan puteri kecil mereka. Sedangkan Davit tak bisa menonton tanpa berteriak-teriak seperti orang gila. Ya, ia memang penggila olah raga.

Dengan bosan dan kesal, Evan menemani Davit. Ia tidak mungkin kembali masuk ke dalam kamarnya dan mencurahkan hasratnya pada Tiara, mengingat ia adalah orang yang ‘vokal’ dalam bercinta. Ia tidak mungkin membiarkan Davit mendengarkan erangan kenikmatan yang keluar denngan spontan dari bibirnya.

Sial! Bahkan membayangkannya saja membuat Evan semakin nyeri menahan hasratnya.

Dengan gelisah, Evan menggerak-gerakkan tubuhnya hingga mau tidak mau membuat Davit menatap ke arahnya.

“Lo kenapa sih?” tanya Davit sedikit risih dengan Evan yang tampak tak dapat diam.

“Lo kapan pulangnya?”

“Lo gila ya? Belum juga dapet setengah permainan, masa lo sudah ngusir gue?”

“Berengsek, gue mau meledak.” Evan melirih pelan.

“Apa?” Davit tidak sempat mendengar apa yang dikatakan Evan.

“Nyaringkan Tvnya, dan demi Tuhan, jangan beranjak dari tempat duduk lo.”

“Lo mau ngapain sih?” tanya Davit tak mengerti.

Evan tidak menjawab, ia bangkit meraih remote TVnya, menaikkan volume suaranya, lalu ia segera pergi meninggalkan Davit. Davit hanya menaikkan sebelah alisnya menatap temannya itu, lalu ia kembali fokus pada pertandingan sepak bola tim kesayangannya.

****

Setelah berlari cepat menuju ke arah kamarnya, Evan masuk lalu mengunci diri. Ia melihat Tiara yang ternyata sudah menunggu. Wanita itu masih setia duduk di pinggiran ranjangnya, dan Evan segera menghampirinya.

“Siapa Pak?” tanya Tiara.

“Davit, numpang nonton bola.”

“Apa?”

“Ya. Sudahlah, lupakan dia, sekarang, kita selesaikan urusan kita.” Ucap Evan sambil meraih pergelangan tangan Tiara.

“Tapi pak Davit.”

“Nggak usah pikirin Davit, dia masih asyik sama dunianya, asal kita nggak berisik, kita aman.”

Dan Tiara mengikuti saja apa rencana Evan. Ia mengikuti ketika Evan menariknya masuk ke dalam kamar mandi. Tiara pasrah saat tiba-tiba Evan menyerangnya, menghimpitnya di antara dinding. Evan segera melucuti pakaiannya sendiri lalu melucuti pakaian Tiara hingga keduanya kini sudah berdiri sama-sama polos.

“Saya hampir gila karena karena memikirkan ini.” Bisik Evan sembari mengangkat sebelah kaki Tiara lalu mencoba menyatukan diri tanpa melakukan pemanasan apapun. Ya, sepertinya sudah tidak perlu pemanasan lagi. Tiara sudah basah, siap menyambutnya. Begitupun dengan dirinya yang sudah tegang, padat, dan siap dipuaskan.

Tiara mengerang, tapi secepat kilat Evan membungkam bibir Tiara dengan telapak tangannya hingga erangan wanita itu tertahankan.

“Kita tidak bisa berisik.” Bisiknya serak.

“Tapi, Pak.” Tiara benar-benar tak dapat menahan erangannya. Tubuh Evan terasa panas membakarnya. Oh, percintaan mereka kali ini benar-benar panas. Dan entah kenapa itu membuat Tiara semakin bergairah. Sejak kapan ia menjadi wanita nakal seperti  ini? Pikirnya dalam hati.

“Baiklah, maka jangan salahkan saya, kalau saya tidak berhenti mencumbu kamu.” Ucap Evan sebelum kemudian ia mendaratkan bibirnya pada bibir Tiara, mencumbunya dengan panas tanpa menghentikan pergerakannya. Ya, rasanya luar biasa, hingga Evan merasa jika dirinya tidak akan cukup melakukannya dalam satu kali pelepasan.

Sial! Tiara benar-benar sudah membuatnya gila. Gila karena tubuh wanita itu.

***

Evan kembali ke tempat Davit yang masih asyik dengan tontonan bolanya. Kali ini, Evan sudah tak lagi menahan kesakitan atau gairahnya lagi. Wajahnya pun tak lagi menegang, yang ada hanya senyuman-senyuman aneh yang membuatnya tampak bodoh karena tersenyum sendiri mengingat kejadian padan di dalam kamar mandinya.

Oh, Evan merasa jika dirinya sedang mencuri-curi kesempatan, seperti Davit adalah orang tua Tiara, dan ia sedang memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Itulah yang membuat Evan tak berhenti tersenyum sendiri.

“Lo kenapa? Senyum-senyum nggak jelas.” Tanya Davit yang memang merasa sedikit aneh dengn Evan yang kembali dengan ekspresi menggelikannya. Wajah temannya itu tak berhenti menyunggingkan senyumannya, belum lagi rona merah diwajah Evan membuat Davit merasa geli sendiri.

“Nggak apa-apa, emangnya kenapa?”

“Kayak orang abis main sabun.”

“Sialan.” Evan mengumpat sambil tertawa. “Gimana bolanya? Menang?”

“Berengsek! Real Madrid kalah. Gue kalah taruhan sama anak buah gue. Sialan!”

Evan tertawa lebar menertawakan kekesalan Davit. “Kan belom selesei.”

“Kurang beberapa menit lagi, nggak akan bisa nyusul. Lo dari mana sih?” tanya Davit yang sontak membuat Evan sedikit salah tingkah.

“Cuci baju di belakang.”

“Kenapa nggak di laundrykan aja? Lo kan CEO.”

“CEO apaan?” Evan mendengus sebal. “Lagian enak dicuci sendiri sambil olah raga.” ucap Evan penuh arti. Astaga, ia kembai teringat Tiara. Sedang apakah wanita itu saat ini? Apa sudah selesai mandi? Apa wanita itu segera tidur? Lamunannya buyar saat Davit kembali mengumpat kasar sambil berdiri.

“Berengsek! Duit 5 juta gue raib.”

Evan mengerutkan keningnya. “Maksud lo?”

“Lo nggak lihat, Bolanya sudah selesai. Gue kalah telak sama anak-anak.”

Evan tahu, anak-anak yang dimaksud Davit adalah anak buahnya di restoran. Tapi Evan masih tidak habis pikir jika Davit akan mengeluarkan uang cukup banyak untuk membayar taruhan konyolnya.

“Gue pulang. Jangan bilang-bilang kalau gue taruhan. Kalo Sherly tahu gue taruhan gini, gue bisa dibunuh.”Evan hanya tertawa lebar, ia ikut bangkit, dan mengantar Davit hingga ke depan pintu rumahnya.

Saat Davit akan pergi, matanya menangkap sebuah rak sepatu yang berada di sebelah pintu rumah masuk rumah Evan, tak ada yang aneh memang, tapi ia menatap sepasang sendal perempuan yang tampak sedikit familiar untuknya. Sendal perempuan? Bukannya Evan tinggal sendiri?

Davit tidak bertanya, karena ia memilih diam. Mungkin Evan memang sedang berhubungan dengan seorang wanita, dan itu memang bukanlah menjadi urusannya. Akhirnya Davit memilih pergi meski dalam hati ia sedikit penasaran dengan sikap aneh Evan sepanjang malam.

***

Hari Sabtu akhirnya tiba juga, hari dimana Evan harus kembali ke Jakarta dan menjemput seseorang di bandara sesuai dengan apa yang diperintahkan ibunya. Evan sebenarnya sudah curiga jika ia akan dijodohkan dengan wanita itu. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak, mungkin, setelah bertemu dengan wanita itu, ia akan berunding dengan wanita itu, agar wanita itu mau menolak perjidohan mereka.

Tapi kini, sudah hampir Dua jam lamanya Evan menunggu wanita itu, tapi ia tak juga  menemukannya. Mamanya tadi juga tidak sepat memberi tahu, naik pesawat apakah wanita itu, dan dari mana. Sial! Evan benar-benar merasa jika dirinya menjadi orang tolol hari ini.

Semuanya tentu karena tadi pagi, ketika ia sengaja berpamitan pada Tiara dengan sesekali menggoda wanita itu.

Tadi pagi….

“Apa yang Pak Evan lakukan?” tanya Tiara yang terdengar tidak nyaman saat Evan tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mendaratkan jemarinya pada sebelah payudara Tiara. Evan bahkan sudah mendaratkan bibirnya pada tengkuk Tiara.

“Enggak, saya cuma mau ngabisin pagi ini dengan begini.”

“Kenapa?”

“Saya mau pulang ke Jakarta, hari ini. Mungkin baru balik senin sore.”

“Kok mendadak?”

“Kenapa? Kamu nggak suka jauh dari saya?”

“Bu-bukan begitu.” Tiara sedikit salah tingkah.

“Lalu?” tanya Evan yang sedikit memancing reaksi Tiara.

“Uuum, Kenapa tiba-tiba pulang? Ada masalah sama keluarga Pak Evan?”

“Nggak ada, kayaknya saya mau dijodohin sama seseorang.” Evan merasakan tubuh Tiara sedikit menegang. Kenapa? Apa Tiara tidak suka? “Kenapa? Kamu nggak suka?”

“Uuum, itu kan bukan urusan saya.”

“Ya, benar sekali. Tapi saya akan mengusahakan supaya wanita itu mau menolak perjodohan kami. Rasanya menggelikan kalau menikah dengan orang yang nggak kita kenal.”

“Kalau wanita itu tidak mau menolak?” tanya Tiara kemudian.

“Kami akan menikah.”

“Lalu?”

“Kamu akan tetap menjadi milik saya, menghiasi ranjang saya, dan melayani saya seperti biasanya.”

“Dan bagaimana dengan wanita itu?”

“Saya akan mengurusnya.”

“Pak…”

“Saya tidak ingin dibantah. Begini saja, saya suka seperti ini.” Lanjut Evan lagi yang saat ini sudah kembali mencumbui sepanjang leher Tiara. Tiara sendiri kembali diam, ia tak bisa berbuat banyak. Ya, Evan memang berkuasa, dan dirinya tidak bisa pergi dari sisi lelaki itu sebelum lelaki itu sendiri yang membuangnya.

 

Lamunan Evan buyar saat ia merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celana yang ia kenakan. Evan merogohnya, sedikit mengernyit saat mendapati nomor baru di sana. Siapa? Akhirnya Evan mengangkatnya.

“Halo?”

“Hai, Evan Pramudya?” tanya suara lembut di seberang telepon.

“Ya, ini siapa?”

“Safriana. Panggil saja Ana. Orang yang kamu jemput siang ini.”

“Ah ya, dimana? Saya sudah nunggu kamu hampir dua jam.” Ucap Evan sembari melirik jam tangannya.

Terdengar suara tawa di seberang telepon hingga membuat Evan mengangkat sebelah alisnya.

“Ada apa?” tanya Evan penasaran, karena ia merasa jika dirinya tidak sedang melucu.

“Maaf, saya sudah di dalam kamar pacar saya, tadi dia yang jemput saya, tapi saya belum sempat menghubungi Anda.”

“Apa?” sungguh, Evan tidak mengerti cara berpikir perempuan ini.

“Saya harap Anda tidak mengungkapkan hal ini pada keluarga kita, bagaimanapun juga, saya masih ingin menikah dengan Anda, terimakasih, sampai jumpa lain waktu.” Lalu sambungan telepon ditutup begitu saja hingga membuat Evan ternganga.

Apa-apaan ini?

***

Akhirnya Evan memilih pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, ia disambut dengan hangat oleh sang Mama dan juga…. Karina. Ya, wanita yang coba ia lupakan, dan Evan baru menyadari, jika memang beberapa hari terakhir, ia tak lagi memikirkan tentang Karina.

“Akhirnya kamu pulang.” Nyonya Pramudya berkata sembari bergelayut di lengan Evan.

“Ma, kan cuma di bandung.”

“Tetep aja, mama kangen, kamu nggak pernah pulang, dan kamu nggak pernah biarin mama main ke sana.”

“Evan sibuk, Ma.” Evan lalu menatap ke arah Karina. Wanita itu sedikit pucat, seperti biasa, ia segera merasa khawatir dengan wanita muda di hadapannya tersebut.

“Kamu, sakit? Kok pucat.”

Karina tersenyum. “Enggak kok, Kak.”

“Biasa, wanita hamil kan memang tampak pucat, apalagi Karin sering anemia.”

“Oh ya? Darren harus lebih perhatian sama kamu.” Ucap Evan dengan lembut, penuh perhatian.

“Tentu saja.” Suara di belakangnya membuat Evan menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Darren berdiri di sana dengan seikat bunga dan juga sebuah kotak. “Aku keluar untuk menuruti apa maunya.” Ucap Darren sembari menyodorkan kotak dan bunga yang dibawanya.

“Oh ya?”

“Ya, ngidam yang aneh, bunga dan cokelat? Yang benar saja.” Darren sedikit menyunggingkan senyumannya sembari menatap Karina, sedangkan Karina hanya menunduk malu-malu.

Evan yang melihatnya merasa sedikit terusik. Ya, bagaimanapun juga, rasa itu masih ada untuk Karina, meski tak sebesar dulu.

Tak sebesar dulu?

“Karin memang ngidamnya aneh, Van. Masa hari-hari dia minta dibeliin bunga sama Darren.” Ucap yang mama yang membuat wajah Karina semakin memerah karena malu.

Evan sendiri hanya tersenyum, ia merasa suasana diantara mereka tak lagi tegang seperti beberapa bulan yang lalu. Mungkin Darren sudah mengerti kalau ia tidak akan mungkin merebut Karina dari sisi adiknya tersebut, mungkin juga Karin sudah melupakan tentang semua yang pernah terjadi diantara mereka, dan mungkin juga, ia sudah merelakan wanita yang dicintainya itu bahagia dengan adiknya.

Benarkah ia sudah merelakannya?

“Kenapa harus bunga?” tanya Evan penasaran.

Darren tidak menjawab, ia membiarkan Karina yang menjawab pertanyaan Evan.

“Nggak apa-apa, kayak manis aja.” Jawab Karina masih dengan wajah memerah.

“Apa semua wanita suka dikasih bunga?” tiba-tiba Evan bertanya dengan spontan.

“Kenapa? Lo mau ngasih seseorangbunga?” Darren bertanya balik.

“Safriana? Kamu mau ngasih dia bunga, kan? Tadi kamu sudah ketemu sama dia, kan? Gimana?” sang Mama segera menyerbu Evan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Safriana? Siapa dia?” tanya Darren sedikit penasaran.

“Calon istri Evan.” Sang Mama menjawab cepat.

“Ma.” Evan ingin meralat ucapan Mamanya.

“Jadi lo mau nikah?” tanya Darren yang tampak senang dengan berita tersebut. Evan tak dapat menjawab banyak, masalahnya, hubungannya dengan Safriana bukan seperti itu. Wanita itu bahkan terdengar suka main-main saat tadi meneleponnya.

Lagi pula, ia bertanya tentang bunga bukan untuk Safriana, tapi untuk….. Sial! Kenapa juga ia memikirkan wanita itu saat seperti ini?

“Sudah-sudah, mending kita masuk dan membahas semua di dalam. Kamu, nginep sini kan malam ini?” sang Mama bertanya pada Evan.

“Aku, pulang Ma.” Entah apa yang membuat Evan menjawab dengan spontan pertanyaan mamanya.

“Pulang? Ini kan rumah kamu.”

“Maksudku, pulang ke Bandung. Besok, aku lagi ada urusan, Ma.”

“Tapi besok kan minggu, Van.”

Evan hanya bisa tersenyum “Maaf, Ma.” Ucapnya dengan sesal.

Ya, sebenarnya ia tak memiliki urusan apapun, tapi Evan merasa jika dirinya ingin segera pulang ke Bandung. Apa karena ada yang menunggunya? Ya, mungkin saja.

Meski kecewa, tapi sang mama mencoba mengerti. Yang pasti, suasana diantara mereka tak lagi setegang dulu, dan itu membuat Nyonya Pramudya dapat menghela napas lega. Rupanya, ide menjodohkan Evan bukanlah hal yang buruk. Pikirnya.

****

Evan tak berhenti menatap setangkai mawar merah buatan yang berada di atas dashboard mobilnya. Bunga itu tadi ia beli ketika diperempatan lampu merah. Saat ada beberapa anak kecil yang menjajakan jualannya berupa suvenir termasuk bunga buatan yang ia beli itu.

Tiba-tiba saja perkataan Karina tadi terngiang di telinganya.

“Nggak apa-apa, kayak manis aja.”

Evan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Apa Tiara akan menganggapnya lelaki yang manis setelah ia memberikan bunga ini pada wanita itu? Apa Tiara akan merona-rona merah seperti Karina saat menerima bunga dari Darren.

Gila! Ini benar-benar gila! Kenapa juga ia memikirkan reaksi Tiara?

Sial! Sepertinya apa yang ia lakukan ini hanya sebuah manifestasi dari perasaannya terhadap Karina yang ia salurkan untuk Tiara. Ya, mungkin hanya itu. Lagi pula itu tidak salah. Baginya, kehadiran Tiara bukan hanya untuk memuaskan hasratnya, tapi juga untuk mencurahkan rasa yang ingin ia curahkan pada sosok Karina. Tidak salah bukan?

Evan menghela napas panjang, sebelum ia keluar dari dalam mobilnya, lalu masuk ke dalam rumahnya. Semoga saja Tiara belum tidur, karena tentunya, ia ingin menghabiskan malam yang panas bersama dengan wanita itu. Ya, apalagi yang ia cari jika bukan tubuh Tiara hingga memilih kembali pulang ke bandung ketimbang menginap di rumah orang tuanya.

Evan membuka pintu rumahnya, masuk, lalu menutup dan mengunci pintu rumahnya. Ia segera mencari Tiara, mungkin wabita itu ada di kamarnya, dan benar saja, saat Evan masuk ke dalam kamarnya, Tiara rupanya baru saja selesai mandi. Wanita itu hanya mengenakan handuk yang membalut tubuh mungil wanita tersebut. Rambutnyapun masih tertutup dengan handuk mungil di kepalanya. Dan ekspresi wanita itu tampak terkejut dengan kedatangan Evan.

“Pak Evan, kok pulang?”

Evan tidak menjawab, ia memilih melangkahkan kakinya dengan pelan tapi pasti ke arah Tiara. Tiara sendiri memilih mundur, menghindar saat Evan mendekat ke arahnya.

“Pak…” Tiara menahan dada Evan yang semakin mendekat, sedangkan kini tubuhnya sudah terhimpit dengan dinding di belakangnya.

“Kamu berniat menggoda saya?”

“Apa?”

Evan menelan ludahnya dengan susah payah. “Saya tidak bisa berpikir jernih lagi saat melihat kamu setengah telanjang begini.”

“Maaf, kalau begitu, biar saya pakai baju dulu.”

“Nggak perlu.” Evan menjawab cepat.

“Lalu?”

Evan terdiam cukup lama. Ia ingin segera menyerang Tiara karena hasrat yang ia rasakan semakin membumbung tinggi. Tapi, ia tidak ingin Tiara melihatnya seperti seorang maniak yang hanya memikirkan selangkangannya. Bagaimanapun juga, Evan ingin terlihat lebih manis dihadapan Tiara, ya, setidaknya itu menyamarkan sikap berengseknya yang sudah memanfaatkan kepolosan wanita ini.

“Ini, buat kamu.” Evan memberikan setangkai bunga yang ia beli tadi.

“Bunga? Buat apa?”

“Oleh-oleh, dari Jakarta.”

“Ke-kenapa ngasih saya oleh-oleh?”

“Karena saya ingin imbalan baliknya.”

“Imbalan balik?” Tiara tidak mengerti. Lalu ia baru mengerti ketika jemari Evan merayap pada sampul handuk yang ia kenakan.

“Kamu, nggak akan menolak saya, bukan, saat saya sudah memberikan kamu bunga?”

Ya, tentu saja Tiara tidak bisa menolaknya. Meski itu hanya bunga buatan yang sederhana, tapi tetap saja, Evan adalah lelaki pertama yang memberinya bunga, dan bagi Tiara, itu adalah sesuatu yang sangat manis dan romantis.

“Ya.” Tanpa sadar Tiara mengucapkan kalimat tersebut. Ia tergoda dengan keromantisan yang diberikan Evan. meski ia tidak tahu, kenapa lelaki ini bersikap seperti ini padanya. Tapi karena bunga ini, Tiara seakan membuka dan membiarkan Evan menyentuh hatinya.

“Kalau begitu, beri saya imbalannya.” Bisik Evan serak sebelum mengangkat wajah Tiara dan mendaratkan bibirnya pada bibir Tiara, melumatnya dengan lembut, mencumbunya penuh dengan gairah, hingga Evan tidak sadar jika apa yang ia lakukan saat ini mampu mengubah perasaan yang dirasakan Tiara terhadapnya…

-TBC-

Advertisements

Baby, oh Baby!- Chapter 9 (Berkompromi)

Comments 2 Standard

 

Chapter 9

-Berkompromi-

 

“Tidak!” Rosaline berseru keras. “Aku tidak bisa menerimamu kembali.” Jawabnya dengan ketus sembari memakan kembali steaknya. Rose berusaha bersikap seketus mungkin dan senormal mungkin, meski kini sebenarnya jantungnya tak berhenti berdebar cepat karena perkataan dari Dimitri tadi.

“Aku tahu, ini sulit untukmu.”

“Ya, sangat sulit.”

“Setidaknya, berceritalah padaku tentang apa yang terjadi saat itu. kenapa kau tiba-tiba pergi dari rumah. Mungkin setelah itu aku bisa lebih mengerti.”

“Jadi kau masih belum mengerti juga, ya? Baiklah, aku akan memberitahumu secara singkat. Karena aku tidak mau lagi menjadi orang bodoh yang kau manfaatkan.”

“Apa maksudmu, Rose?”

Rosaline menatap Dimitri sekletika. “Jadi, Kate tidak bercerita padamu?” Rosaline tertawa lebar. “Seharusnya kau tidak perlu repot-repot memintaku kembali, kau bisa membayar perempuan manapun untuk mengandung calon penerusmu. Lalu mendepaknya keluar dari istanamu, dan setelah itu kau bisa hidup bahagia, sejahtera bersama adik tercintamu itu.”

“Cukup. Kau terdengar berputar-putar.”

“Kau hanya memanfaatkan kebodohanku, aku tahu itu yang kau lakukan padaku Empat tahun yang lalu.”

“Aku tidak pernah memanfaatkanmu, Rose.”

“Ya! Mana mungkin orang sepertimu bisa jatuh cinta padaku dengan begitu mudah? Itu tidak masuk akal!”

“Karena cinta memang tidak masuk akal, Rose.” Dimitri berkata dengan tenang tapi penuh penekanan.

“Ya, seperti kau jatuh cinta pada adikmu sendiri, bukan?”

“Kau sudah berkata terlalu banyak, kau tidak tahu apa yang kurasakan, dan apa yang sudah terjadi.”

Rosaline berdiri seketika. “Yang kutahu kau memiliki kecenderungan mencintai adikmu sendiri! Dan meski aku tahu seperti itu, dengan bodohnya aku tetap jatuh cinta padamu!”

“Siapa yang berkata seperti itu?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Kau tidak bisa menilai orang hanya dengan persepsimu sendiri.”

“Itu bukan persepsiku, itu kenyataan!”

“Kenyataannya aku jatuh cinta padamu, bukan dengan adikku.” Dimitri masih menjawab pernyataan Rosaline dengan nada tenang, tanpa emosi.

Bohong, jika saat ini Rosaline tidak merasakan tubuhnya bergetar, ia merasa salah tingkah dengan ucapan Dimitri tersebut, padahal ia tahu jika mungkin saja itu hanya rayuan dari Dimitri supaya ia bisa kembali luluh.

“Aku akan berpura-pura untuk tidak mendengar ucapanmu yang menggelikan itu.”

“Kau mendengarnya. Aku mencintaimu.”

Rosaline tersenyum mengejek. “Katakan itu pada dirimu sendiri.” Lalu ia bangkit dan segera pergi meninggalkan Dimitri masuk ke dalam kamarnya.

“Aku tidur di sini, malam ini.” Ucap Dimitri masih dengan tenang.

“Terserah.” Rosaline menjawab dengan ketus tanpa membalikkan tubuhnya untuk menatap kembali ke arah Dimitri.

Dimitri menghela napas panjang. “Keras kepala.” Gerutunya sembari menatap kepergian Rosaline.

***

Malamnya, Rosaline tidur dengan gelisah. Sama seperti malam sebelumnya. Tiba-tiba saja ia merasa kepanasan. Ya, Rosaline tahu, mungkin ini salah satu efek dari kehamilannya. Tapi tetap saja, hal ini sangat menyiksanya. Apalagi kenyataan jika sejak tadi ia berpikir bahwa Dimitri ada di ruang tengah flat rumahnya.

Sedang apakah lelaki itu? Apa sedang tidur? Menonton Tv mungkin? Atau sedang apa? Dan pakaiannya? Apa dia telanjang seperti dulu saat tidur bersamanya? Atau tetap mengenakan kemejanya?

Rosaline menenggelamkan wajahnya pada bantal. Astaga Rose, apa yang sudah kau pikirkan? Jeritnya dalam hati.

Rosaline terduduk seketika. Ia sadar jika dirinya semakin merasa panas, tengorokannya kering, dan tubuhnya entah kenapa tiba-tiba ingin menggeliat dengan sendirinya.

Tuhan!

Cukup dengan siksaan ini!

Rosaline bangkit seketika. Ia memilih segera keluar dari kamarnya, menuju ke arah dapur rumahnya. Berharap jika ia bisa meminum segelas air dingin dan kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan diri.

Tapi saat Rosaline selesai meminum air dinginnya, ia merasakan sebuah lengan melingkari tubuhnya dari belakang.  Lengan kekar yang dulu selalu ia rasakan. Ya, milik siapa lagi jika bukan Dimitri.

Bukannya menolak, Rose malah menikmati sentuhan dari Dimitri, sentuhan yang ia rindukan. Rosaline memejamkan matanya, ia bahkan merasakan sebuah ketegangan yang berasal dari tubuh Dimitri yang menempel pada tubuh bagian belakangnya.

Ya, lelaki itu bergairah, dan Rosalinepun merasakan gairah yang sama dengan lelaki tersebut. Entah karena hormonnya, atau memang karena sentuhan lembut lelaki itu pada tubuhnya.

“Kau, belum tidur?” Dimitri berbisik serak.

“Kau juga.” Secara spontan Rosaline mengucapkan kalimat tersebut. Astaga, apa yang sedang terjadi dengannya?

“Ya, aku tidak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Memikirkanmu.” Dimitri menjawab dengan jujur. Dan itu benar-benar membuat Rosaline semakin tergoda.

Dimitri menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada pundak Rosaline, menghantarkan gelenyar panas pada diri Rosaline. Rosaline memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya karena tidak tahan dengan rasa yang sedang menghantam dirinya. Bibir Diitri menyapu leher Rosaline, lidahnya yang basah menggoda di sana hingga mau tidak mau Rosaline mengerang secara spontan dengan sentuhan lelaki tersebut.

“Dimitri.” Pangilnya dengan suara serak.

“Heeemmm”

“Apa yang kau lakukan?” tanya Rosaline dengan sedikit terpatah-patah.

“Menggodamu.”

“Untuk apa?”

“Aku menginginkanmu, Rose.” Ucapnya dengan suara parau dan Rosaline semakin tak dapat menahan dirinya.

Dimitri meraih jemari Rosaline lalu membawanya pada bukti gairahnya yang sudah menegang. Rose mengerang saat merasakannya, sangat bergairah, dan Rose tahu jika dirinya juga begitu bergairah malam ini. Apa yang harus ia lakukan?

Tanpa di duga, Dimitri menghentikan aksinya, lalu segera mengangkat tubuh Rosaline, hingga Rosaline memekik seketika.

“Apa yang kau lakukan?”

“Menyelesaikan semuanya.” Jawab Dimitri sembari menggendong tubuh Rosaline masuk ke dalam kamar.

Rosaline tidak menolak, karena ia tahu bahwa dirinya sendiri kewalahan dengan gairah yang tak dapat ia bendung. Tubuh telanjang Dimitri semakin memperparah keadaan, apalagi bukti gairah lelaki itu benar-benar membuat Rosaline sesat dengan apa yang sedang ia rasakan.

Ia menginginkan Dimitri, ya, ingin lelaki itu berada di dalamnya saat ini juga.

***

Di dalam kamar, setelah melucuti pakaian Rosaline dan pakaiannya senidri, Dimitri menatap intens tubuh Rosaline yang sudah polos. Wanita itu terbaring di atas ranjang, tampak sempurna dengan tubuh berisinya. Perutnya sedikit membuncit, tempat dimana bayi mereka berlindung, dan Dimitri ragu saat akan melakukan penyatuan dengan tubuh Rosaline.

“Apa yang kau tunggu?” tanya Rosaline yang sudah tampak tidak sabar dengan permainan yang akan diberikan oleh Dimitri.

“Aku…” Dimitri sedikit ragu. “Tidak, kupikir, kau ingin aku lebih lama lagi melakukan pemanasa.”

“Tidak! Cukup! Sekarang kemarilah dan buat aku berteriak.”

“Kau benar-benar menginginkanku, Rose?” Dimitri bertanya dengan nada menggoda.

“Berterimakasihlah pada hormon sialanku.” Meski kesal, tapi Rosaline tidak bisa berbuat banyak. Ia benar-benar membutuhkan Dimitri saat ini, ia tidak bisa menundanya lagi. Gairahnya benar-benar sudah memuncak. Ia ingin dipuaskan malam ini juga.

“Well, terimakasih.” Setelah ucapan singkatnya itu, Dimitri segera memposisikan diri untuk menindih Rosaline. “Apa kau baik-baik saja saat aku menindihmu.”

“Tentu saja, perutku tidak akan meletus hanya karena kau menindihku.”

Dimitri sedikit tersenyum mendengar ucapan Rosaline, “Kau, sekarang lebih banyak bicara.”

“Ya, dan kau sekarang suka menggoda.” Rosaline tak lagi melanjutkan kata-katanya karena Dimitri segera menundukkan kepalanya dan menggapai bibirnya.

Dimitri menciumnya, melumatnya, mencumbunya dengan cumbuan panas. Ya, lelaki itu memang sangat pandai berciuman, bahkan Rosaline masih ingat dengan jelas bagaimana panasnya hubungan ranjang mereka Empat tahun yang lalu, ketika gelora cinta masih ia rasakan. Kini, saat ia melakukannya hanya sebatas ingin mendapatkan pelepasan, nyatanya, tak mengurangi suasana panas diantara mereka.

Dimitri menyiapkan diri untuk menyatu dengan tubuh Rosaline, dan ketika tubuh mereka menyatu sepenuhnya, yang dapat Rosaline lakukan hanya mengerang panjang ketika ia merasakan tubuh Dimitri terasa penuh mengisinya.

“Kau, kau..”

“Apa?” tanya Dimitri dengan tenang tapi penuh penekanan.

“Astaga… kita melakukannya lagi? Oh, aku benar-benar gila.”

“Bukan hanya kau, aku juga.”

“Bergeraklah, kumohon.”

Dimitri sedikit menyunggingkan senyumannya, lalu menundukkan wajahnya kembali untuk meraih bibir Rosaline. “Kau adalah milikku, Rose, dan akan selalu menjadi milikku.” Ucapnya dalam bahasa Rusia sebelum ia menautkan bibirnya kembali dengan bibir Rosaline.

Sedangkan Rosaline sendiri, ia tidak mengerti dan ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan Dimitri. Yang terpenting baginya saat ini adalah gairah sialan yang seakan membakar tubuhnya. Ya, ia membutuhkan Dimitri untuk memadamkan gairahnya, ia membutuhkan lelaki itu untuk mendinginkan rasa panas yang seakan membakar tubuhnya. Tidak salah, bukan, jika ia hanya memanfaatkan kehadiran lelaki itu seperti apa yang diusulkan Ana?

***

Keesokan harinya…

Rosaline terbangun dan mendapati tirai jendela kamarnya sudah setengah terbuka. Matanya menelusuri ke segala penjuru ruangan, dan ia mendapati Dimitri yang sudah tampan duduk di sebuah kursi di ujung ruangan.

Sangat tidak adil! Kenapa lelaki itu selalu tampak tampan dimanapun dan kapanpun dia berada? Sedangkan dirinya? Astaga… Rosaline menggerutu kesal dalam hati sembari menatap dirinya sendiri yang masih telanjang dan berantakan di bawah selimut yang menyelimuti tubuhnya.

“Kau, belum pergi?” tanya Rosaline dengan nada yang kembali di buat ketus seperti tadi malam. Ya, setidaknya ia ingin Dimitri sudah pergi saat ia membuka mata, karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat lelaki itu masih berada di sekitarnya saat ini.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja setelah tadi malam-”

“Cukup. Jangan membahas tentang tadi malam.” Rosaline memotong kalimat Dimitri.

“Kenapa, Rose? Mau dipungkiri seperti apapun juga, tadi malam termasuk dalam salah satu malam terpanas yang pernah kita lalui bersama.”

“Kau tahu, aku hanya melakukannya karena hormon sialanku.”

“Aku tidak peduli. Yang terpenting, kita kembali menyatu.”

Rosaline mendengus sebal. “Sebenarnya, apa yang kau inginkan? Kau ingin meniduriku? Kau seudah mendapatkannya, sekarang pergilah.”

“Bukan hanya menidurimu, aku ingin kau kembali, Rose.”

“Tidak! Kau tahu bahwa jawabannya selalu Tidak!”

Dimitri berdiri, dan berjalan menuju ke arah Rosaline. Ia duduk di pinggiran ranjang dan berkata “Kalau begitu, mari kita berkompromi, demi bayi kita.”

“Apa yang akan kau tawarkan padaku?”

“Aku memiliki apartemen di tengah kota, tak jauh dari pet shopmu. Tinggalah di sana, bersamaku.”

“Tidak, aku lebih suka tinggal sendiri di sini.”

“Kalau begitu, jangan menolak ketika aku mengunjungimu.”

“Tergantung seberapa sering kau mengunjungiku.”

“Setiap hari.”

“Tidak! Kau gila? Aku cukup stress saat kau berada di sekitarku.”

“Tapi semalam kau menikmatinya.”

“Ya, itu hanya seks. Aku menikmati hubungan ranjang kita karena hormonku, bukan berarti aku senang kau selalu berada di sekitarku.”

“Lalu, apa yang kau mau?”

Rosaline berpikir sebentar. “Akhir pekan, kau boleh mengunjungiku sat akhir pekan saja.”

“Kau yakin hanya itu?”

“Ya, dan, uum, mungkin saat aku membutuhkanmu.”

Dimitri sedikit menyunggingkan senyumannya. “Hubungi aku saat kau membutuhkanku. Aku akan datang.”

“Benarkah? Kupikir yang paling penting untukmu adalah pekerjaanmu dan juga-”

“Cukup, Rose.” Dimitri memotong kalimat Rosaline. “Aku tahu di masa lalu aku salah. Karena itu aku ingin menebus semua kesalahanku. Dan kumohon, jangan lagi mengungkitnya. Kita sudah berkompromi, yang artinya kau mau mencoba hubungan ini denganku. Lupakan semua yang terjadi di Rusia.”

“Aku mau berkompromi bukan berarti aku akan melupakannya. Aku masih membencimu.”

“Ya, aku memang pantas di benci.”

Rosaline menghela napas panjang. “Sudahlah, lebih baik kau pergi.”

Dimitri mengangguk sambil melirik jam tangannya. “Aku akan pergi.” Ia lalu melirik ke arah perut Rosaline yang tersembunyi di dalam selimut. Ada sebuah keinginan untuk menyentuhnya, tapi ia tahu, Rose tidak akan membiarkannya.

Dimitri memilih berdiri dan bersiap meningalkan Rosaline.

“Aku sudah membuatkanmu roti isi bacon panggang dengan saus keju. Kupikir kau menyukainya.”

“Kau memasak untukku?”

Dimitri mengangguk. “Sedikit.”

“Baiklah, aku akan memakannya.”

“Hubungi aku, saat kau membutuhkan sesuatu.”

“Ya.” Rose menjawab pendek.

Dengan berat hati, Dimitri membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya meninggalkan Rosaline sendiri di dalam kamarnya. Ya, setidaknya ia tahu bahwa Rosaline sudah bersedia berkompromi dengannya, dan ia tahu bahwa ini adalah langkah besar untuk mendapatkan Rosaline kembali ke sisinya.

Sedangkan Rosaline, ia segera menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Astaga… apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa ia merasakan pipinya memanas hanya karena sadar jika Dimitri begitu perhatian padanya? Ya, dibandingkan Empat tahun yang lalu, Dimitri memang cukup berbeda, lelaki itu lebih perhatian padanya, dan lebih banyak mengalah. Apa Dimitri memiliki rencana lain dibalik itu semua? Ya, pasti lelaki itu memiliki rencana lain. Dan Rose tahu, jika ia harus lebih berhati-hati dan pandai mengontrol dirinya di hadapan Dimitri, agar ia tidak jatuh ke jurang yang sama seperti Empat tahun yang lalu.

 

-TBC-

Baby, Oh Baby! – Chapter 8 (Anak Daddy)

Comments 2 Standard

 

Chapter 8

-Anak Daddy-

 

“Ceritakan padaku, maka aku bisa mengerti apa yang kau rasakan.Aku bisa menerima kebencianmu jika kau mau mengungkapkan semuanya.Bukan malah kabur dengan surat sialan itu.”Dimitri berkata dengan lembut.Ia mendekat ke arah Rosaline, sedangkan Rosaline sendiri sudah mulai terpana dengan kelembutan Dimitri.

Jemari Dimitri kembali terulur meraih dagu Rosaline, mengangkatnya, sedangkan kakinya semakin mendekat hingga jarak diantara keduanya semakin dekat.

“Kau, masih secantik dulu, Rose.”Dimitri berbisik dalam bahasa Rusia. “Aku begitu rindu menyentuhmu.” Bisiknya lagi.

Rosaline tidak menjawab, ia kembali terpana dengan mata Hazel milik Dimitri. Begitu indah, begitu mempesona hingga ketika Dimitri mendekatkan wajahnya, yang dapat Rose lakukan hanya menutup matanya.

Dimitri mendaratkan bibirnya pada bibir Rosaline.Melumatnya dengan lembut, lidahnya menari dengan begitu indah hingga membuat Rosaline terbuai dalam cumbuan lelaki tersebut.

Jemari Dimitri yang lain menelusup masuk ke dalam baju yang dikenakan Rosaline, mendaratkannya pada perut Rose yang sudah membuncit tempat bayinya berlindung di sana. Ya, ini adalah pertama kalinya Dimitri menyentuhnya, padahal sudah sejak lama ia ingin mencurahkan kasih sayangnya pada calon bayi mereka, bahkan kepada Rosaline juga, tapi wanita itu yang selalu menolak kehadirannya.

Dimitri tak kuasa menahan diri saat Rosaline juga membalas cumbuannya.Jemarinya dengan spontan merayap ke atas, dan mendarat sempurna pada payudara ranum milik Rosaline.Dimitri menggodanya, hingga membuat Rosaline mengerang seketika dalam cumbuannya.

Ya, payudaranya memang sangat sensitif semasa hamil ini, bahkan tak jarang Rosaline hampir orgasme saat membersihkannya ketika mandi.Saat Rosaline mengingat itu, Rosaline seakan tersadarkan oleh sesuatu.

Matanya membuka seketika, dan ia begitu terkejut saat sadar jika bibirnya kini masih bertautan dengan bibir mantan suaminya itu.Dengan sisa-sisa kesadarannya, Rosaline mendorong dada Dimitri sekuat tenaga agar tautan bibir mereka terputus dan lelaki itu menjauh darinya.

Napas keduanya memburu ketika bibir mereka tak lagi bertautan.Mata Rosaline menatap marah ke arah mata Dimitri. Oh, bagaiamana mungkin ia tergoda hingga seperti ini? Hampir saja ia takhluk dalam gairah yang diciptakan oleh lelaki itu.

“Kau menikmatinya, Rose.” ucap Dimitri dengan sedikit mengejek.

Rosaline sangat marah dengan ejekan Dimitri.“Pergi saja kau!”

“Tidak, aku akan menginap di sini malam ini.”jawab Dimitri santai sembari membuka mantel yang dikenakannya, menggantungnya di tempat gantungan yang tersedia. Ia lalu menyisingkan kemejanya hingga sesiku, dan sialnya, hal itu membuat Rosaline seakan terbakar oleh sesuatu.

Dimitri tampak begitu panas, otot-otot dilengannya menyembul, dadanya tampak bidang dengan kemeja yang memang didesain melekat pas di tubuhnya. Rosaline merasa iri, Dimitri masih tampak begitu mempesona, begitu menggoda meski usia lelaki sudah menginjak Tiga puluh tiga tahun. Pastinya akan banyak wanita yang tertarik dengan lelaki itu, apalagi saat tahu jika lelaki itu salah seorang pewaris keluarga terkaya di Rusia.

Rosaline menatap dirinya sendiri. Astaga, dibandingkan dengannya, ia sungguh tak ada apa-apanya. Tak ada sesuatu yang dapat dibanggakan dari dirinya, apalagi saat sadar jika kini tubuhnya sudah membengkak karena kehamilannya.Sungguh, ini benar-benar tidak adil untuknya.Dan hal itu membuat Rosaline semakin kesal dengan lelaki tersebut.

“Apa yang kau pikirkan, Rose?”

“Tidak ada.” Jawabnya ketus.

“Kau, ingin berciuman lagi?”

“Yang benar saja.Kalau kau masih berpikiran kotor seperti itu, lebih baik kau angkat kakimu dari flatku.”

Dimitri tersenyum menanggapi keketusan Rosaline. Tanpa diduga, ia malah menuju ke arah dapur sembari membawa bingkisan yang tadi ia bawa dari luar. “Sikapmu berubah drastis, kau sekarang menjadi pemarah, Rose.Dan aku semakin tertarik denganmu.” Dimitri berkomentar sembari mengeluarkan daging yang ia bawa.

“Apa yang kau lakukan?”

“Memasak.”Dimitri menjawab pendek.

“Aku tidak mengizinkanmu memasak di dapurku.”

“Aku tidak meminta izin darimu.”

“Oh Dimitri, sebenarnya apa yang kau inginkan? Tidak bisakah kau meninggalkanku sendiri agar lebih tenang?Kau membuatku stress, dan stress tidak bagus untuk bayi.”

“Kau boleh mengunci dirimu di dalam kamar dengan anjing kecilmu itu, tapi kau tidak bisa mengusirku keluar dari dalam flatmu.”

“Kenapa?”

“Karena aku kan menginap di sini malam ini.Aku yang memutuskan, dan kau tidak bisa melarangku.”

Rosaline mendengus sebal. Dengan kesal ia mengajak Snowky masuk ke dalam kamarnya. Ya, ia tidak dapat berbuat banyak. Memaksa lelaki itu pergi?Yang benar saja. Dimitri tidak akan pergi jika bukan karena keinginannya sendiri. Menyeretnyapun tidak mungkin.Tubuh lelaki itu tinggi besar, berotot dan tampak kuat.Ia tidak mungkin menyeretnya keluar dengan tubuh mungilnya. Oh, bahkan membayangkannya saja membuat Rosaline bergairah.

Sial! Apa-apaan ini? Kenapa juga ia membayangkan tentang tubuh Dimitri?

Sedangkan Dimitri, ia hanya tersenyum mentap kepergian Rosaline. Ya, setidaknya, ia bisa tidur di dalam Flat Rosaline, dan tidur di sana membuat Dimitri lega karena dapat satu langkah lebih dekat dengan wanita itu.

***

Satu setengah jam berlalu, Dimitri sudah selesai dengan masakannya. Ia bahkan sudah menatanya dengan rapih di sebuah meja kecil yang ia yakini sebagai meja makan Rosaline. Aroma masakannya menguar hingga membuat Rosaline mau tidak mau mengintipnya dari balik pintu kamarnya.

Tampak makanan tertata rapih di meja makannya, dan melihat itu membuat perut Rosaline berbunyi. Ya, satu lagi kebiasaan yang ia rasakan ketika hamil. Ia jadi mudah sekali lapar.

Sesekali Rosaline memang masih merasakan mual muntah, tapi sering kali ia merasa jika nafsu makannya bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Dan saat ini, ia sedang merasakannya. Sungguh, kenapa harus saat ini?Ia tidak suka membayangkan makan malam satu meja dengan Dimitri yang begitu mengintimidasinya. Ia tidak suka!

“Ada yang kau inginkan?”Saat Rosaline sibuk dengan lamunannya.Pertanyaan Dimitri sontak membuatnya gelagapan.Rose merasa menjadi orang bodoh saat ini.

Rosaline mencoba mengendalikan dirinya dengan berdiri tegap dan bersedekap.“Kau sungguh tidak sopan, memasak ditempat orang tapi kau akan memakannya secara diam-diam.”

“Aku belum memakannya, aku menunggumu.”

“Oh ya?Sayang sekali aku sedang tidak ingin makan malam bersamamu?”

Dimitri tersenyum melihat tingkah Rosaline.“Benarkah?Padahal aku sudah memasakkan steak yang enak, apa lebih baik aku memakannya dengan Snowky?”

“Hei, Snowky tidak bisa sembarangan makan dengan orang asing.”

Well, kalau begitu aku akan memakannya sendiri.”Dimitri berjalan dengan santai menuju ke arah meja makan.

Rosaline mendengus sebal, ia mengesampingkan rasa malunya dan memilih berjalan mengikuti Dimitri tepat di belakang lelaki itu. Ya, perutnya benar-benar tak dapat di ajak kompromi.Apa karena bayinya? Yang benar saja, bagaimana mungkin bayinya bisa mendukung ayahnya untuk mengerjai dirinya seperti ini?

Kau benar-benar nakal, Baby!Serunya dalam hati sembari melirik ke arah perutnya sendiri.

Tanpa tahu malu, Rosaline duduk begitu saja di kursi yang sudah disiapkan Dimitri.Ia benar-benar mengesampingkan rasa malunya, karena masakan Dimitri tampak begitu menggoda untuknya.

“Rupanya, kau benar-benar lapar.”Dimitri berkomentar.

“Aku akan pura-pura tidak mendengar setiap ejekanmu.”

Dimitri tertawa lebar.“Apa anak Daddy yang ingin makan malam dengan Daddy?”

“Apa?” Rosaline tidak mengerti apa yang diucapkan Dimitri.

“Kau berkata jika kau akan pura-pura tidak mendengarku, maka sekarang aku tidak sedang berbicara denganmu.”

“Lalu?”

“Aku berbicara dengan bayiku.”Dimitri menjawab dengan cuek.

Bayiku?Jadi, Dimitri sedang berbicara dengan bayi mereka?Apa tadi dia bilang? Anak Daddy? Astaga, mengingatnya saja membuat sesuatu berdesir di dadaRosaline.

“Kupikir sekarang kau pandai merayu.”

“Benarkah?Apa kau sedang merasa terayu oleh perkataanku? Padahal aku tidak sedang merayumu.”

“Baiklah, lebih baik kita segera makan, makanannya sudah mendingin.” Rosaline memilih mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Sungguh, ia tak dapat lagi menyembunyikan rona merah di pipinya karena pengaruh dari Dimitri.

Perkataan lelaki itu, pergerakannya, setiap lirikan matanya, bahkan setiap desah napasnya mampu mempengaruhi Rosaline, menarik Rosaline hingga ia merasakan panas yang bersumber dari dalam dirinya. Astaga, apa yang sudah dilakukan lelaki ini terhadapnya?

Dimitri duduk dengan tenang, ia meraih steak yang ada di hadapan Rosaline, dan memotongkannya untuk wanita tersebut.

“Aku bisa memotongnya sendiri.”

“Aku ingin memotongkannya untukmu.”Dimitri menjawab dengan santai.Dan Rosaline kembali kalah dengan lelaki tersebut.

“Makanlah yang banyak, aku bisa memasakkannya untukmu lagi.” Ucap Dimitri sembali memberikan piring tersebut.Lalu Dimitri kembali pada makanannya sendiri.

Rosaline tidak membuang waktu lagi, ia segera menyantap masakan Dimitri. Rasanya sangat Enak, dan Rosaline tidak dapat menyembunyikan ekspresi kenikmatannya setelah menyantap masakan tersebut.

“Kupikir selama ini kau tidak makan dengan baik.”

“Ya, menurutmu bagaimana?Aku masih harus membayar sewa flat ini, dan juga kebutuhan lainnya, setidaknya aku masih memiliki penghasilan yang cukup, dan aku harus menabung untuk bayiku.”

“Kembalilah padaku, kau tidak perlu kesulitan seperti ini.”

Rosaline tertawa seakan mengejek Dimitri.“Ya, kembali padamu dan menjadi barang pajanganmu?”

“Kau memulainya lagi, Rose?”Dimitri mencoba mengendalikan dirinya. Ya, ia tidak suka kembali membahas masalah mereka. Tidak cukupkah mereka hanya hidup bersama tanpa membahas masalah-masalah tersebut?

“Kau yang lebih dulu memulainya.”

“Aku hanya memintamu untuk kembali padaku.”

“Dan aku tidak mau.”

“Baiklah, sebagai gantinya, aku yang akan pindah ke sini dan menemanimu.”

“Hei, aku tidak memintamu.”

“Ya, kau tidak perlu memintaku, karena ini adalah inisiatifku sendiri.”

“Benarkah?Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Bisa dikerjakan secara online, mungkin sekali dua kali pertemuan.”

Rosaline berpikir sebentar.“Tidak, aku tetap tidak mengizinkanmu tinggal di sini.”

“Rose, kita harus mencoba lagi, demi bayi kita.”

“Bayiku. Aku mengandungnya bukan karena kau! Maksudku..”

“Apa?Jika tidak ada aku, kau tak mungkin dapat mengandung.”

“Jika kau mempermasalahkan keterlibatanmu dalam kehamilanku, maka aku bisa membayar sperma yang sudah kau donorkan agar kau bisa melupakannya.”

“Benarkah? Kau mau membayarku dengan apa?” tantang Dimitri.

Ya, dengan apa? Bahkan apa yang ia punya saja tidak sebanding dengan apa yang dimiliki lelaki tersebut.

“Rose, kau tahu yang kuinginkan bukanlah uangmu.Aku ingin kau kembali, aku ingin kau mau berkompromi demi bayi kita.Bisakah?”

Rosaline hanya diam, ia tidak mampu menjawab, bahkan untuk menolak gagasan Dimitri saja, ia tidak sanggup. Perkataan Ana kembali terputar dalam ingatannya, usulan jika ia dapat memanfaatkan kehadiran Dimitri untuk memuaskan hasrat sialannya karena hormonnya yang kacau tampak menggoda untuk Rosaline, dapatkah ia melakukannya? Menerima Dimitri kembali dan hanya memanfaatkan kehadiran lelaki tersebut untuk meredakan dahaga primitifnya?

 

-Tbc-

Baby, oh Baby! – Chapter 6 (Membuat Bayi)

Comments 2 Standard

Chapter 6

-Membuat Bayi-

 

Empat tahun yang lalu….

Dimitri menyusul Katavia dan menghentikan adiknya itu saat gadis itu berada tepat di sebelah kolam renang. Katavia tampak menangis, dan Dimitri tahu jika semua itu karenanya.

Ya, Katavia memang sedikit berbeda, adiknya itu mengidap Brother Complex, dan Dimitri tak dapat berbuat banyak tentang hal itu. Dimitri ingin pergi, agar Katavia bisa sembuh, tapi tidak bisa, karena keluarganya sedang membutuhkan dirinya untuk membantu mengurus perusahaan. Belum lagi ayahnya yang tidak mengetahui keadaan Katavia, dan Dimitri tidak ingin ayahnya tahu, karena jika ayahnya tahu, Dimitri takut Katavia akan di tendang dari rumah mereka seperti apa yang dilakukan ayahnya dulu pada Anastasya dimasa lalu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Dimitri sedikit kesal. Ya, sikap Katavia dapat memicu kecurigaan orang tuanya.Padahal Dimitri sedang berusaha menyembunyikan keadaan Katavia dari keluarganya.

“Kau menikahinya!Bagaimana mungkin kau menikahinya sedangkan kau tahu bahwa aku menyukaimu!”

Secepat kilat Dimitri menyeret Katavia ke tempat yang lebih sepi. Sungguh, ia tidak mau apa yang dikatakan Katavia didengar oleh banyak orang apalagi sampai terdengar kedua orang tua mereka.

“Kate, kau sudah janji tak akan mengungkapkan perasaanmu di hadapan umum.”

“Aku tidak bisa menahannya lagi!Aku mencintaimu!”

“Itu salah, Kate! Aku kakakmu!”

“Kau juga pernah merasakan perasaan seperti ini pada Ana, jadi apa salah jika aku merasakannya padamu.”

“Salah!Aku menyukainya karena aku belum tahu jika dia adikku. Sekarang perasaanku padanya sudah hilang, sejak aku tahu bahwa dia saudara kita. Kau harus mengerti bahwa apa yang kau rasakan padaku ini salah.”

“Aku tidak ingin jauh darimu.Aku mencintaimu.”

“Kate, aku berusaha menyembunyikan keadaanmu dari orang tua kita, karena aku menyayangimu. Aku tidak mau kau ditendang dari rumah ini karena membuat malu nama keluarga dengan perasaan sialanmu.”

Katavia hanya diam, ia tidak dapat menjawab karena apa yang dikatakan Dimitri benar adanya. Ya, jika perasaannya atau kelainannya diketahui oleh kedua orang tua mereka, maka sudah pasti dirinya akan ditendang dari rumah. Tidak mungkin Dimitri, karena Dimitri adalah satu-satunya penerus keluarga mereka.

“Aku menyayangimu, tapi kau harus berusaha untuk sembuh, untuk mengontrol dirimu, dan kau harus kembali melakukan terapi.”

“Tidak.”

“Kate.”

“Aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini padamu.Aku mencintaimu.”

Dimitri menghela napas panjang. “Kalau begitu, kau sendiri. Mulai sekarang, aku tidak akan berdiri dipihakmu lagi. Jika ayah dan ibu mengetahui semuanya, aku tidak bisa membantumu.”

“Kau meninggalkanku?”

“Kau yang membuatku pergi. Kate, aku cukup takut dengan keadaanmu, tapi aku mencoba mengendalikan diriku dan berusaha menyembuhkanmu dengan terapi. Tapi semua percuma jika kau sendiri tidak berusaha.”

“Aku hanya ingin kau.”

“Maka nikmatilah kesendirianmu.” Dimitri akan pergi, tapi langkahnya terhenti dengan pertanyaan Katavia.

“Kenapa kau melakukan ini?Karena wanita Amerika itu?Kau tidak mungkin menyukainya.Dia bahkan tak lebih cantik daripada aku ataupun Ana.”

“Karena cinta tidak butuh kata cantik.”

“Kau tidak mungkin mencintainya!”

Dimitri membalikkan badannya menatap Katavia kembali dan menjelaskan apa yang ada dalam kepalanya. “Kau mengenalku, aku tak banyak dekat dengan perempuan, jika aku menikahinya, itu tandanya aku sudah memilihnya. Dan ketika aku sudah memilih seseorang, maka aku tak akan pernah melepaskannya. Bagiku, itulah yang namanya cinta.”

Setelah kalimat panjang lebarnya tersebut, Dimitri pergi meninggalkan Katavia, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Rosaline berdiri tak jauh dari tempat ia beradu argumen dengan Katavia.

Sial! Berapa banyak Rosaline mendengar percakapan mereka? Apa Rose mengerti apa yang mereka ucapkan tadi?

“Kau, kenapa di sini?” tanya Dimitri yang sudah sedikit khawatir dengan apa yang sudah di dengar Rosaline.

“Aku menyusul kalian, kupikir kau butuh aku untuk menjelaskan pada Kate.”

“Apa yang sudah kau dengar?” tanya Dimitri secara langsung.

“Semuanya, tapi kau tahu jika aku tak bisa bahasa Rusia sama sekali, jadi aku tidak mengerti apa yang kalian ucapkan.Apa yang kalian bahas? Kenapa Kate tampak marah dan sedih?”

“Bukan masalah serius.Ayo, kutunjukkan kamar kita.Kau pasti lelah.”

Rosaline hanya mengikuti saja apa yang dikatakan Dimitri, meski dalam hati sebenarnya ia sudah mencurigai sesuatu, jika pasti ada yang tidak beres dengan Dimitri dan Katavia. Cara mereka berdua meluapkan emosi, lebih mirip dengan sepasang kekasih ketimbang sepasang adik kakak. Tidak! Tidak mungkin seperti itu, mungkin ini hanya perasaannya saja. Pikirnya dalam hati.

***  

Rosaline terbangun dini hari, ketika ia merasakan sebuah lengan merengkuh tubuhnya. Ia membuka matanya lebar-lebar, dan tampak asing dengan tempat tidurnya. Ya, itu adalah kamar Dimitri yang super besar dan tampak mewah. Dan Rose benar-benar merasa kurang nyaman. Ini sudah satu minggu berlalu sejak pertama kali ia diajak ke rumah Dimitri.

Ia hanya takut jika apa yang ia alami saat ini hanyalah mimpi. Sepertinya, sangat mustahil jika tiba-tiba orang seperti Dimitri Armanzandrov jatuh hati padanya. Rose merasa ada sesuatu yang janggal, yang disembunyikan oleh lelaki itu.

Kegelisahan Rosaline akhirnya membangunkan Dimitri, membuat lelaki itu semakin erat memeluk tubuhnya.

“Ada apa? Kau bangun?” tanya Dimitri dengan suara lembut menggoda.

“Ya, aku hanya sedikit berpikir.”

“Apa yang mengganggu pikiranmu?”

“Semuanya.Aku merasa ini hanya mimpi. Aku merasa menjadi seorang cinderella.”

“Ini bukan mimpi, dan kau bukan cinderella. Aku bukan pangeran.”

Rosaline sedikit tersenyum.“Apa yang membuatmu mencintaiku?”

“Lagi-lagi kau bertanya tentang hal itu.Rose, aku tidak mengerti devinisi cinta.Yang kutahu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.Itu saja.”

“Uum, bagaimana jika suatu saat nanti kau bertemu dengan perempuan yang membuatmu lebih tertarik dibandingkan denganku?”

“Aku tidak mudah tertarik dengan seseorang.”

“Tapi kau mudah tertarik denganku.”

“Karena itu kau.Apa kau belum puas?”

Rosaline tersenyum.Ia lalu membalikkan tubuhnya hingga menghadap Dimitri seketika. Jemarinya terulur, meraba dada bidang Dimitri yang telanjang tepat di hadapannya, lalu ia bergumam. “Sebenarnya, aku masih memikirkan Katavia.”

“Kate? Ada apa dengannya?”

“Kau, Uum, maksudku, aku kurang nyaman dengan tatapan matanya.”

“Kenapa?”

“Dia tampak membenciku, bukan sekedar tidak suka. Dia melihatku seakan aku ini musuhnya.”

“Rose, kau hanya belum mengenalnya saja.Begitupun sebaliknya.”

“Aku ingin mengenalnya, tapi dia tampak tidak bersahabat denganku, dia selalu berbahasa Rusia, sedangkan aku tidak mengerti banyak.”

“Dia bisa bahasa inggris, kau bisa mengajaknya bicara terlebih dahulu nanti.”

Rosaline mendesah panjang.“Ya, akan kucoba.”

Lalu tanpa diduga, Dimitri tiba-tiba mendorong tubuh Rosaline hingga kini Rosaline sudah telentang di bawah tindihannya.

“A-apa yang kau inginkan?”

“Membuat bayi.” Jawab Dimitri dengan jujur.Rosaline tersenyum mendengar jawaban tersebut.

“Kau, benar-benar menginginkan seorang bayi?”

“Ya, apa lagi yang kutunggu? Aku sudah 29 tahun, dan aku sudah memiliki istri yang sangat cantik. Apa lagi yang kutunggu?”

Rosaline tersenyum, ia mengulurkan lengannya melingkari leher Dimitri lalu berbisik pelan “Maka mari kita membuat bayi.” Setelah ucapannya tersebut, Rosaline mendekatkan wajahnya, menggapai bibir Dimitri, mencumbunya, seakan meminta Dimitri untuk segera menyentuhnya.

Dimitri tidak menolak. Ia membalas cumbuan Rosaline dengan lumatan lembut dari bibirnya, jemarinya sudah memposisikan bukti gairahnya menyentuh pusat diri Rosaline yang ternyata sudah basah dan siap menerimanya. Lalu, dalam satu kali hentakan, Dimitri menyatukan diri sepenuhnya pada tubuh Rosaline.

Rosaline mengerang dalam cumbuan mereka, begitupun dengan Dimitri, yang segera menggerakkan diri, menghujam lagi dan lagi, mencari-cari kenikmatan untuk dirinya dan juga diri Rosaline.

“Aku mencintaimu, Rose. Aku begitu mencintaimu.” Racaunya lagi-lagi dalam bahasa Rusia.

“Aku tak mengerti.” ucap Rosaline disela-sela desahannya.

Dimitri menghentikan pergerakannya seketika.“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Racauanmu, aku tidak mengerti.”

“Kau tidak perlu mengerti.”

“Tapi aku ingin tahu.”

“Aku mencintaimu, Rose. Aku begitu mencintaimu.”Kali ini Dimitri mengucapkannya dalam bahasa inggris.

“Apa?”

“Ya, itu tadi artinya.” Rosaline tak dapat menjawab saat mengerti apa maksud Dimitri, hanya rona merah di pipinyalah yang mampu menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini, bahagia, senang, gembira, dan entah perasaan apa lagi yang saat ini membuncah di hatinya.

Dimitri mencintainya, dan ia sadar jika dirinyapun sudah jatuh cinta pada lelaki tersebut. sangat sempurna, bukan?

 

-tbc-