romantis

Baby, oh baby! – Chapter 7 (Ya, Aku mencintaimu!)

 

Chapter 7

-Ya, Aku mencintaimu!-

 

Empat tahun yang lalu…..

 

Pagi itu, Rosaline sedikit merajuk dengan Dimitri karena Dimitri baru saja mengatakan padanya jika lelaki itu besok akan ada perjalanan bisnis ke London. Ya, selama tinggal di rumah Dimitri, Rose memang sering kali ditinggal Dimitri pergi ke luar kota, atau bahkan luar negeri, namun itu tak lebih lama dari satu atau dua hari. Tapi besok, Dimitri akan berada di London selama mungkin dua minggu lamanya. Bisa dibayangkan bagaimana bosannya Rosaline berada di rumah besar tersebut.

Hubungannya dengan Katavia belum juga membaik, karena gadis itu seakan tidak memberi kesempatan padanya untuk sekedar menyapa. Padahal, Rosaline sudah berusaha belajar bahasa Rusia dengan ibu Dimitri.

Yang dapat Rosaline lakukan saat Dimitri tak berada di rumah nanti mungkin hanya membaca atau menghabiskan waktu di dalam kamar menonton film-film romantis komedi kesukaannya.

Dimitri yang tahu sikap Rosaline yang merajuk akhirnya mendekat ke arah Rosaline, mengusap lembut pipi istrinya itu sembari bertanya. “Kau marah?”

“Tidak, aku hanya kesal.”

“Apa yang membuatmu kesal?”

“Kau.”

“Aku? Ada apa denganku?”

“Kau pergi lama sekali.”Rosaline merajuk, astaga, sepertinya sudah cukup lama ia tidak merajuk dengan seseorang. Dan tidak salah bukan jika ia merajuk dengan suaminya sendiri?

“Aku kerja, Rose. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.”

“Bagaimana jika terjadi sesiatu denganku?”

“Misalnya?”

“Melahirkan mungkin?”

Dimitri tertawa lebar. “Kau tidak hamil, mana mungkin kau melahirkan?”

“Itu perumpamaan, mungkin nanti. Apa kau akan tetap lebih mementingkan pekerjaanmu dibandingkan denganku?”

“Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku, tapi aku akan pulang secepat yang kubisa jika aku dalam keadaan seperti itu.”

Rosaline memainkan dasi Dimitri. “Artinya, kau akan tetap mengutamakan pekerjaanmu.”

“Kau juga.” Dimitri tak mau mengalah.

“Ckk, kau ini, aku hanya…”

“Dimitri, buka pintunya.” Suara panik dari luar disertai dengan ketukan pintu kamar mereka yang cukup keras membuat Dimitri dan Rosaline saling pandang.

“Ibu, apa yang terjadi?”tanya Dimitri pada Rosaline. Rosaline hanya mengangkat kedua bahunya, ia juga tak mengerti kenapa suara itu terdengar sedikit panik.

Akhirnya Dimitri membuka pintu kamarnya dan mendapati Ibunya yang sudah menangis. “Apa yang terjadi?” tanya Dimitri yang sedikit panik.

“Katavia. Astaga, dia pingsan di dalam kamarnya.” ucapnya dalam bahasa Rusia.

Dimitri segera berlari menuju ke arah kamar Katavia dengan panik, begitupun dengan Rosaline yang segera menyusul di belakangnya.

Sampai di sana, Rosaline melihat Dimitri sudah memeluk tubuh Katavia yang terkulai lemas di atas lantai. Dengan panik suaminya itu memanggil-manggil nama Katavia sembari menepuk-nepuk pipi gadis itu.

Lalu semuanya terjadi begitu cepat saat Rosaline melihat Dimitri menggendong Katavia melewati dirinya. Rose hanya ternganga, ia tidak tahu apa yang terjadi, ia seperti orang bodoh yang diacuhkan.

***  

Rosaline masuk ke dalam ruang inap Katavia dan melihat Dimitri masih setia menunggu Katavia di sana. Tadi, saat ibu Dimitri pulang untuk mengambil barang-barang Katavia, Rosaline meminta untuk diajak ke rumah sakit. Dan kini, ia cukup menyesal berada di sana.

Rosaline tahu jika Katavia adalah adik kandung Dimitri, tapi melihat Dimitri yang begitu perhatian pada gadis tersebut hingga mengacuhkannya benar-benar membuat Rose kesal. Cemburu, ya, itulah yang dirasakan Rosaline. Padahal tak seharusnya ia memiliki perasaan seperti itu terhadap Dimitri dan Katavia.

“Bagaimana? Apa dia sudah sadar?” pertanyaan Nyonya Armanzandrov membuat Dimitri menolehkan kepalanya ke arah sang Ibu yang berdiri tepat di sebelah Rosaline.

“Belum, tapi Dokter sudah memberikan penanganan.” Dimitri lalu menatap ke arah Rosaline. “Kau, kemari?”

“Ya, aku mau menggantikanmu.” Jawa Rosaline.

“Jangan, kau pulang saja.”

“Tapi kau besok harus ke London.”

“Aku menunda keberangkatanku.” Dimitri kembali menatap ke arah Katavia yang masih terbaring lemah. “Dia membutuhkanku.” lanjutnya dengan serius.

Sakit, itulah yang dirasakan Rosaline. Entah apa yang membuat hatinya sakit, mungkin karena penolakan Dimitri, atau mungkin karena perhatian yang diberikan lelaki itu pada adiknya hingga membuat Rosaline cemburu dan sakit hati. Entahlah…

“Rose, lebih baik kita keluar.” Nyonya Armanzandrov meminta Rosaline keluar bersamanya. Rosaline hanya menggelengkan kepalanya, “Rose, biarkan Dimitri di sana, kita keluar sebentar, ada yang ingin aku sampaikan.” Rosaline menatap wanita paruh baya itu, lalu menurut saja ketika tubuhnya di ajak keluar oleh wanita tersebut.

***  

Di taman rumah sakit.

Rosaline masih diam tak mengerti apa yang sedang terjadi. Hatinya semakin merasa gelisah saat tahu jika perhatian yang diberikan Dimitri begitu besar terhadap Katavia. Padahal, tadi pagi lelaki itu sudah mengatakan jika akan tetap mempeoritaskan pekerjaannya meski ia sedang dalam kondisi melahirkan, dan tadi, suaminya itu dengan mudah mengatakan jika ia menunda keberangkatannya hanya untuk menemani Katavia.

Sedalam itukah rasa sayang Dimitri terhadap adiknya?

Dan astaga, seharusnya ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Katavia adalah adik kandung Dimitri, tak seharusnya ia merasa cemburu seperti ini.

“Rose, kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Armanzandrov yang kini sudah duduk tepat di sebelah Rosaline.

“Apa, mereka memang sedekat itu?” tanya Rosaline yang wajahnya masih menatap jauh ke arah hamparan taman rumah sakit yang cukup luas tersebut.

“Kau, mungkin sedikit risih.”

“Tidak, aku tidak risih, aku hanya merasa cemburu, padahal aku tidak seharusnya memiliki perasaan itu terhadap hubungan mereka berdua.”

“Rose, berjanjilah padaku jika kau akan berpikiran terbuka dengan semua ini.” Ucap ibu Dimitri sembari menggenggam erat telapak tangan Rosaline.

“Ada apa? Ada yang kalian sembunyikan?” tanya Rosaline penasaran.

“Sebenarnya, aku sendiri tidak yakin, bagaimana bisa Dimitri membawamu pulang, bahkan sudah menikahimu. Aku tidak yakin kenapa dia melakukan itu.”

“Karena dia mencintaiku.” Rosaline menjawab cepat. “Bukankah begitu?” tanyanya meyakinkan pendapatnya.

“Rose, aku ingin bercerita, tapi tolong cerna baik-baik apa yang kuceritakan. Ini hanya berdasarkan pemikiranku, berdasarkan sudut pandang yang kulihat, karena aku sendiri tidak mengerti apa yang dirasakan Dimitri.”

“Ibu, Kau jangan membuatku takut.” Ya, Rosaline merasa takut, takut jika apa yang akan diceritakan sang mertua adalah sesuatu yang membuatnya terluka.

Nyonya Armanzandrov menggelengkan kepalanya, lalu ia mulai bercerita. “Dulu, Dimitri pernah menyukai seseorang, namanya Ana. Dan dia adalah adik kandung Dimitri. Bukan puteriku, tapi puteri dari simpanan suamiku.”

Rosaline membungkam mulutnya sendiri. Tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.

“Dimitri hampir menikahinya, tapi suamiku melarangnya dan menggagalkan pernikahan Dimitri. Ana diusir dari rumah, dan entah sekarang di mana. Bertahun-tahun berlalu, Dimitri tak pernah sekalipun membawa wanita untuk berkencan dengannya. Entah memang tidak pernah atau kami tidak tahu. Tapi semuanya menjadi semakin jelas saat aku melihat kedekatan Dimitri dengan Katavia.”

Rosaline berdiri seketika. “Tidak, jangan diteruskan.”

“Rose, kupikir, Dimitri memang memiliki kecenderungan mencintai adiknya sendiri.”

“Tidak! Itu tidak mungkin!”

“Aku tidak memaksamu untuk percaya, karena aku juga berharap apa yang kupikirkan bukan suatu hal yang benar. Selama ini aku hanya menerka-nerka hal itu, dan berpura-pura tidak tahu apapun. Beruntung ayah mereka sangat jarang berada di rumah, jika ayah mereka tahu, Katavia mungkin bernasib sama dengan Ana. Lalu kedatanganmu sedikit menenangkanku. Kupikir aku berpikir terlalu jauh tentang hubungan mereka.” Ibu Dimitri menghela napas panjang. “Aku berharap banyak padamu, Rose. Jika Dimitri memang sakit, aku ingin kau menyembuhkannya. Tapi jika hanya Katavia yang sakit, maka aku akan berusaha menjauhkannya dari Dimitri.”

Tubuh Rosaline terasa lemas. Tidak. Dimitri tidak mungkin sakit. Lelaki itu adalah lelaki normal yang jatuh cinta padanya secara spontan. Lelaki itu tidak sakit, dan ia tidak perlu menyembuhkannya.

***  

Setelah mengetahui secuil rahasia dari suaminya, Rosaline semakin merasa tidak nyaman dengan hubungannya bersama Dimitri. Ia merasa dibodohi, ia merasa sedikit jauh dengan Dimitri, ia merasa jika ia belum sepenuhnya mengenal sosok Dimitri.

Apalagi, saat kini, ketika keadaan Katavia sudah membaik, dan Dimitri memutuskan untuk pergi berbisnis ke London. Ia merasa jika lelaki itu tengah menghindarinya dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah menari-nari dalam kepalanya.

Ya, setelah dipikir-pikir, semuanya jadi lebih masuk akal. Katavia tidak mungkin semarah itu padanya saat setelah tahu bahwa ia sudah dinikahi Dimitri. Katavia tidak akan begitu membencinya jika mereka tidak memiliki hubungan apapun kecuali sebatas adik dan kakak. Seharusnya Rosaline sadar, seharusnya ia tahu bahwa ada yang tidak beres apalagi setelah ia tahu jika penyebab Katavia pingsan di kamarnya beberapa hari yang lalu adalah karena gadis itu menelan banyak obat penenang hingga overdosis.

Kini, Rosaline merasa kurang nyaman apalagi ketika hanya berdua dengan Katavia di dalam ruang inap gadis tersebut. Karena tadi ia memang diminta ibu Dimitri untuk menemani Katavia sementara wanita itu mengurus segala administrasi rumah sakit karena sore nanti Katavia sudah diperbolehkan pulang.

“Kau tahu, dia hanya mencintaiku.”Rosaline mengangkat wajahnya ketika tiba-tiba Katavia berbicara dengan menggunakan bahasa inggris. Ya, Rose tahu jika gadis itu sedang berbicara dengannya.

“Kau gila? Kau adalah adik kandungnya.” Emosi Rosaline tersulut begitu saja setelah perkataan terang-terangan yang terucap dari bibir Katavia.

“Ya, tapi kami saling mencintai.”

Rosaline berdiri seketika. “Tidak! Dimitri hanya mencintaiku, itu sebabnya dia menikahiku meski kami belum lama saling kenal.”

Katavia tertawa lebar. “Sadarlah, Rose. Kau hanya dijadikan alat untuk menutupi hubungan kami, kau hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus Armanzandrov. Itu saja, tidak lebih.”

Rosaline menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Dimitri sekejam itu. Lelaki itu mencintainya, ya, ia merasakan jika lelaki itu benar-benar mencintainya.

“Kau tahu bukan, yang kami miliki hanya cinta. Meski sebenarnya kami saling bergairah satu sama lain, tapi kami tahu jika kami tidak dapat melakukannya apa lagi membuat keturunan untuk keluarga kami. Maka dari itu, dia mencari seseorang yang dapat dibodohi dengan mudah, dan orang itu adalah Kau.”

“Tidak mungkin.”

“Ya, lihat saja, setelah kau hamil dan melahirkan bayimu nanti, kau akan ditendang dari rumah kami. Anak itu akan menjadi anakku bersama Dimitri, dan kau, kau akan dicampakan dan dilupakan.”

“Kau gila!” karena sudah tidak tahan lagi, Rosaline memilih segera pergi meninggalkan Katavia. Di luar ruang inap Katavia, Rosaline menumpahkan air matanya. Seharusnya ia tidak perlu mendengarkan apa yang dikatakan Katavia, karena mungkin saja itu adalah rencana gadis itu untuk membuatnya membenci Dimitri. Tapi mau memungkiri seperti apapun juga, perkataan Katavia tadi sudah terlanjur menjadi belati yang menyayat hatinya. Jika dipikir, semuanya menjadi lebih masuk akal sekarang.

Ya, Dimitri menginginkan seorang keturunan dan lelaki itu tidak dapat menciptakan seorang keturunan dari wanita yang dicintainya yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri, karena itulah lelaki itu memanfaatkan kehadirannya.

Rosaline segera merogoh ponselnya lalu menghubungi Dimitri saat itu juga. Setelah beberapa kali teleponnya tidak di angkat, akhirnya tak lama Dimitri mengangkat telepon darinya.

“Honey? Apa yang terjadi?”

“Kau, apa kau mencintaiku?” tanya Rosaline secara langsung dengan suara yang sudah terisak.

“Rose, apa yang terjadi?”

“Tolong, jawab saja. Apa kau mencintaiku?”

“Rose-”

“Demi Tuhan! Jawab saja, apa kau mencintaiku?”

“Ya, aku mencintaimu! apa yang terjadi?” Rosaline tidak menjawab, ia segera menutup teleponnya.

Dimitri berbohong. Ya, meski lelaki itu tadi menjawab dengan tegas, tapi hati Rosaline sudah tak percaya lagi dengan apa yang dikatakan lelaki itu. Dimitri tidak mencintainya, lelaki itu hanya memanfaatkannya. Benar-benar bodoh!

-TBC-

Yang penasaran ada hubungan apa antara Ana dan Dimitri, sabar yaa, nanti, akan ada ceritanya kok. setelah ini Chapter selanjutnya sudah bukan Flash back lagi yaa.. hehehhehe

1 thought on “Baby, oh baby! – Chapter 7 (Ya, Aku mencintaimu!)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s