romantis

Future Wife – Chapter 7 (Pengganggu!)

Future Wife

 

Chapter 7

-Pengganggu!-

 

 

Evan masih tidak berhenti tersenyum, dengan tatapan mata yang sesekali melirik ke arah Tiara. Tiara sendiri sepertinya lebih memilih menyibukkan diri dengan sarapannya ketimbang harus meladeni lirikan-lirikan mata Evan yang benar-benar mengganggunya. Ia masih kesal dengan apa yang dilakukan Evan tadi pagi. Ya, meski ia tidak merasakan sakit, tapi tetap saja, Evan tidak menghormati keinginannya.

“Jadi, kamu masih marah?” tanya Evan dengan nada menggoda.

“Saya kesal karena Pak Evan bisa berbuat sesuka hati.”

Evan tertawa lebar. “Ayolah, nikmati saja permainan ini.”

Permainan? Sungguh, Tiara tidak mengerti apa yang dimaksud Evan. Jadi lelaki itu hanya menganggap semuanya adalah sebuah permainan? Oh, yang benar saja.

“Sepertinya saya sudah selesai, saya mau berangkat kerja dulu.” ucap Tiara sambil membawa piringnya menuju ke arah bak cuci piring lalu mencucinya sebelum ia berangkat pergi. Ia tidak ingin terlalu lama dihadapan Evan, karena itu membuatnya semakin kesal dengan sikap Evan yang Bossy terhadapnya. Tapi baru saja beberapa langkah ia berjalan, tubuhnya di rengkuh oleh sebuah lengan hingga tubuh belakangnya membentur dada bidang Evan.

“Pak.” Tiara memekik seketika.

“Saat kamu ketus, Saya jadi semakin gemas.”

“Tolong lepaskan. Saya mau kerja.”

“Kamu sekarang juga lagi kerja sama saya.”

“Pak, tolong.” Tiara memohon, sungguh, ia tidak mengerti apa yang dilakukan Evan terhadapnya.

Akhirnya Evan melepaskan rengkuhannya pada tubuh Tiara. Lalu tanpa diduga, ia berkata “Maaf, saya minta maaf sama kamu.”

Tiara menatap Evan seketika. Ia tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi dengan Evan. Kadang, ia melihat Evan sangat baik seperti seorang malaiakat, tapi di sisi lain, Tiara melihat Evan tampak seperti seorang iblis.

“Jangan marah lagi, oke? Saya janji, saya tidak akan melanggar poin Enam lagi.” Evan berkata dengan begitu lembut, dan terkutuklah karena Tiara luluh hanya dengan janji manis Evan tersebut.

“Baiklah, Pak Evan saya maafkan.” Ya, akhirnya Tiara tak ada pilihan lain selain memaafkan Evan. Lagi pula, ia cukup tahu diri dengan posisinya. Tidak mungkin ia bersikap kekanakan dengan selalu membenci Evan atau tidak mau memaafkan lelaki itu.

Tanpa diduga, Evan malah mengulurkan jemarinya mengusap lembut puncak kepala Tiara. “Terimakasih, kamu memang kucing kecil yang sangat patuh.”

Meski tidak suka dengan julukan tersebut yang terdengar seperti ia adalah seekor peliharaan Evan, tapi Tiara tidak membantah. Lagi-lagi, ia hanya bisa pasrah menerima keadaannya.

“Saya hanya belum pandai menahanannya. Kamu harus mengerti.”

Lagi-lagi Tiara hanya diam, tak ada yang bisa ia jawab, karena ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Evan tahu saat Tiara sudah kembali bersikap normal padanya. Ya, saat wanita itu banyak diam dan tidak membantahnya, bagi Evan, saat itulah wanita itu kembali normal.

“Baiklah, lanjutkan pekerjaan kamu, sudah setengah delapan.” ucap Evan sambil kembali duduk ke tempat duduknya di ruang makan. Dan Tiara memilih kembali dengan kesibukannya sebelum ia pergi berangkat kerja. Ya, setidaknya Evan sudah janji tidak akan bersikap curang lagi padanya, meski Tiara tidak tahu apa lelaki itu akan menepati janjinya atau tidak.

***

“Ma, mama apa-apaan?” Evan berdiri seketika saat mengangkat telepon dari sang mama. Saat ini, ia sedang berada di ruang kerjanya. Dan tiba-tiba sang mama menghubunginya, memintanya untuk menemui seseorang.

Ya, sepertinya ia akan dijodohkan. Sial! Padahal Evan sedang tidak ingin memikirkan tentang perjodohan atau masa depan lainnya. Ya, tentu saja semua itu karena cintanya pada Karina yang tak terbalas. Lagi pula, kini ia sudah memiliki mainan baru.

“Kamu hanya menjemputnyadi bandara.”

“Tapi aku tidak mengenalnya, Ma. Tidak, aku tidak mau.”

“Evan, kamu mau buat mama malu? Mama sudah janji kalau kamu yang akan jemput dia.”

Evan menghela napas panjang. Ya, sepertinya ia tidak bisa menolak. “Hanya menjemput, aku tidak mau lebih. Kapan?”

“Sabtu nanti. Sekalian, pulanglah ke Jakarta. Mama khawatir sama kamu.”

Lagi-lagi, Evan menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan pulang.” Lalu sang mama melanjutkan ceritanya, tapi Evan tidak dapat berkonsentrasi dengan apa yang diceritakan sang mama, karena kini, pikirannya kembali pada sosok yang dulu membuatnya jatuh cinta, sosok yang secara tak langsung membuatnya memilih hidup menjauh dari keluarganya.

Ya, Karina Prasetya. Kenapa mengingat nama itu saja membuat jantungnya kembali berdebar? Apa ia masih belum bisa melupakan wanita itu? Apa ia sanggup melihat kebahagiaan Karina dengan Darren nantinya?

***

Saat makan siang tiba, Evan benar-bnar merasa bosan, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Lalu ia teringat bekal yang disiapkan Tiara tadi pagi. Ah, ya, wanita itu benar-benar menggemaskan.

Evan mengeluarkan bekalnya, membukanya, tampak dua potong roti isi tertata rapi di sana, Evan lalu menatapnya sebentar. Ia kembali teringat saat masih tinggal di Jakarta, Karinalah yang menyiapkan bekal makan siang untuknya.

Huuh, Karin lagi. Evan mendengus sebal. Sampai kapan ia akan selalu memikirkan wanita itu?

Akhirnya dengan tak berselera, Evan kembali menutup bekal buatan Tiara. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursinya. Sangat bosan!

Akhirnya, Evan berinisiatif membuka akun jejaring sosialnya. Sepertinya sudah cukup lama ia tidak membukanya. Kemudian rasa penasaran mengusik dirinya saat ingat tentang Tiara. Apa Tiara memiliki akun sosial media? Ya, mengingat wanita itu baru dua puluh tahun, pasti wanita itu memilikinya.

“Tiara.” Evan mencoba mencari di kolom pencarian. Tapi sepertiya nihil, memang banyak nama-nama tersebut, tapi tak satupun ia mendapati wajah Tiara menjadi foto profilnya. Ah sial!  Benar-benar membosankan.

Dengan kesal ia kembali, hampir saja ia menekan tombol keluar sebelum ia melihat postingan foto Davit terbaru di berandanya.

‘Makan siang.’ Captionnya bertuliskan seperti itu. Tapi fotonya yang menarik perhatian Evan. Tampak Tiara berada di dalam foto tersebut, Tiara sedang menyuapi Dirly, putra pertama Davit, sedangkan Davit dan Sherly tampak asyik dengan puteri kecil mereka. Semuanya berada di sebuah tempat yang diyakini Evan adalah restoran milik Davit.

Evan berdiri seketika. Ya, siang ini mungkin akan kembali bersemangat saat ia bisa sesekali menggoda Tiara. Melihat rona merah di wajah wanita itu, kegugupanya, atau mungkin caranya merajuk yang membuat Evan gemas. Ia akan ke sana, ia akan menemui Tiara di sana.

***

Tiara ada di halaman restoran Davit sembari menjaga Dirly yang sedang asyik bermain mobil-mobilan. Ya, hari ini, Sherly mengajaknya makan siang bersama di restoran suaminya, dan kini, wanita itu masih asyik bersama sang suami saat selesai makan siang.

Sesekali Dirly mengajak Tiara memainkan mobil-mobilannya menggunakan remote control, tapi memang dasar Tiaranya yang tidak bisa maka mobil-mobilan Dirly malah menabrak sepasang kaki pengunjung restoran yang baru saja turun dari mobilnya.

Tiara berlari mendekat. “Maaf, saya…” kalimatnya menggantung saat tahu siapa pemilik sepasang sepatu yang tampak mahal itu. Ya, itu Evan, teman tidurnya. Astaga, untuk apa lelaki ini datang kemari?

“Hai.” Evan malah menyapa dengan sedikit menyunggingkan senyumannya. Ya, senyuman misterius menurut Tiara.

“Pak Evan, kenapa ke sini?”

“Saya mau makan siang. Saya tidak mungkin ke sini untuk nemuin kamu apalagi ‘minta jatah’ sama kamu.”

Oh ya, jadi lelaki ini sudah berani mengeluarkan kalimat-kalimat dalam tanda kutip di depan umum? “Uum, maksud saya, tadi saya kan sudah bawakan bekal makan siang.”

“Ini.” Evan menunjukkan bekal yang disiapkan Tiara tadi. “Saya akan makan ini di sini sambil ngopi. Nggak apa-apa kan?”

Ya, sebenarnya itu terserah Evan. Mau lelaki itu menginap di restoran Davitpun bukan urusan Tiara, hanya saja, Tiara kurang nyaman saat berada di ruang publik dengan Evan di sekitarnya.

“Jadi, apa saya harus izin kamu dulu?”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti.

Evan melangkah mendekat, Tiara dengan spontan mundur ke belakang. “Kamu, terlihat tidak suka saya ada di sini.”

“Uuum, kenapa saya tidak suka? Saya biasa-biasa saja.” Tiara mencoba mengendalikan diri agar tidak tampak seperti orang tolol dihadapan Evan.

“Kamu gugup?”

Ya, Tiara memang akan selalu gugup jika Evan selalu menatapnya seperti itu. Oh, apa yang harus ia lakukan?

“Om Epan, masuk sana, ngapain di sini?” Dirly tiba-tiba datang menengahi Evan dan Tiara. Evan menunduk, menatap sekilas ke arah Dirly lalu menatap Tiara dengan mengangkat sebelah alisnya.

“Kamu menduakan saya?”

“Apa?”

“Poin Lima, kamu nggak sedang melanggarnya, kan?”

Tiara ternganga dengan ucapan Evan. Astaga, Dirly hanya seorang balita, dan Evan berkata seolah-olah bocah itu adalah kekasihya? Sebenarnya lelaki ini kenapa sih? Apa dia sedang kehabisan obat?

“Loh, Van, kamu kok di sini?” Suara Sherly membuat Dirly, Evan, dan Tiara menatap ke arah wanita tersebut yang baru saja keluar dari dalam restoran Davit.

“Ya, cari kopi, sambil makan siang.” Jawab Evan dengan santai.

“Oh, masuk aja, ngapain kamu di sana?”

“Om Epan gangguin tante Tiara, Mah.” Dirly yang menjawab.

Mata Evan melirik ke arah Dirly seketika. Sialan! Bocah cilik ini ternyata benar-benar mengibarkan bendera perang kepadanya.

Mata Sherly memicing ke arah Tiara dan Evan seketika. “Gangguin? Gangguin gimana?”

Evan segera menghampiri Sherly dan dengan sok dekatnya ia menggandeng pundak Sherly sembari mengajak wanita itu kembali masuk ke dalam restoran. “Ahh, anak kamu ada-ada aja. Udah, ayo masuk.” Ajak Evan. Evan sempat menolehkan kepalanya ke belakang menatap Dirly dengan tatapan mengancamnya, tapi bukannya takut, bocah cilik itu malah mengolok Evan dengan menjulurkan lidahnya.

Benar-benar sialan!

“Dirly kamu nggak boleh gitu sama Om Evan, dia kan lebih tua dari kamu.” Tiara menegur Dirly saat Evan dan Sherly sudah masuk ke dalam restoran.

“Kamu belain Om Epan, kamu pacaran sama Om Epan ya?”

Tiara tidak bisa menjawab, pipinya tiba-tiba merona seketika. Ahhh anak ini, sepertinya ia dan Evan harus lebih berhati-hati dalam bersikap, meski itu hanya di hadapan Dirly.

***

Evan asyik memakan bekal makan siangnya, sesekali matanya menatap dengan spontan ke arah Tiara yang maih tengah asyik bermain bersama dengan Dirly. Wanita itu ternyata tidak semenyedihkan saat bersamanya, senyumnya tampak indah, dan Tiara tampak lebih cantik ketika tersenyum.

Cantik?

Apa-apaan ini?

Evan menyesap kopinya saat Davit datang menghampirinya. Sedangkan Sherly sibuk menidurkan puteri kecil mereka di ruangan Davit.

“Lo tumben ke sini?”

“Kenapa? Nggak boleh? Sumpek makan siang di kantor sendirian.”

“Makanya cari cewek, biar ada yang nemenin makan siang.”

“Udah punya.” Evan menjawab singkat.

“Beneran? Bukan cewek-cewek malam kan?” tanya Davit dengan wajah yang lebih serius lagi.

“Lo nggak lihat gue sedang bawa bekal? Lo pikir gue nyiapin ini semua sendiri?”

Davit tertawa lebar. “Oohh, jadi lo kesini cuma mau pamer bekal makan siang?”

“Sialan.” Evan mengumpat pelan pada temannya itu. Matanya kembali menatap ke arah Tiara dan Dirly secara spontan tanpa bisa ia cegah, dan itu membuat Davit ikut menatap ke arah dua orang yang tengah asyik bermain tersebut.

“Gue seneng lihat dia bisa ketawa.” Davit mendesah panjang. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, matanya masih menatap ke arah Tiara dan juga Dirly, Puteranya. Keduanya tampak bahagia, tertawa bersama.

Evan mengangkat sebelah alisnya sembari menatap ke arah Davit. “Maksud lo?”

“Tiara, dia masih muda, tapi kehidupannya sudah sangat menyedihkan, gue seneng lihat dia ketawa seperti itu.”

Evan memicingkan matanya ke arah Davit. “Lo, nggak sedang suka sama dia, kan?”

Davit menatap Evan seketika. “Berengsek lo. Gue kan udah ada Sherly, Sialan!” Davit menghela napas panjang. “Dia sedang banyak masalah, kakaknya kemarin masuk penjara. Gue sama Sherly nggak tega lihat dia tinggal sedirian di luar sana. Menurut lo, gue mesti gimana? Apa gue bantu dia dengan cara cariin pengacara?”

“Nggak perlu.” Evan menjawab cepat.

“Kenapa?”

“Bajingan seperti kakaknya itu lebih pantas membusuk di penjara. Lagian lo ngapain sih ngurusin dia? Lo mau Sherly cemburu dengan Tiara karena lo terlalu perhatian sama dia?”

“Gue cuma selalu ingat Karin kalau lagi lihat dia. Jadi gue anggap dia sudah kayak adek gue sendiri. Dan asal lo tahu, Sherly nggak akan pernah cemburu sama Tiara. Yang ada, mungkin pacarnya yang bakal cemburu sama gue. Hahahhaha .” Davit tertawa lebar, sampai ia tidak menyadari kalau wajah Evan sudah mengeras karena ucapannya.

“Jadi, dia sudah punya pacar?”

Davit mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, gue kan nggak 24 jam selalu sama dia, lagian dia masih sangat muda, walau dia hampir menghabiskan semua harinya untuk kerja di rumah gue, tapi dia punya beberapa waktu untuk dirinya sendiri, sangat wajar kalau dia punya pacar, Tiara baik, dan dia cantik.”

Evan menegakkan tubuhnya seketika, tidak suka saat Davit menyebut Tiara cantik. “Cantik?” tanyanya.

“Ya, lo nggak bisa lihat kalau dia cantik? Untuk seukuran pembantu rumah tangga, dia sangat cantik.”

Evan mendengus sebal. “Lebih baik lo cuci mata lo deh, takut katarak itu mata.” Dengan kesal Evan berdiri, menuju ke arah tempat cuci tangan. Sedangkan Davit hanya bisa tertawa lebar menertawakan kelakuan Evan.

Kenapa dengan temannya itu?

***

Tiara sedang memasak makan malam saat ia mendengar pintu depan di buka. Ia tahu jika itu pasti Evan. Dan tumben Evan datang lebih lambat dari biasanya. Tiara menyibukkan diri, seakan tidak peduli dengan kedatangan Evan. Ya, seperti itu lebih baik, memangnya harus bagaimana lagi.

Tapi kegugupan tiba-tiba melanda Tiara ketika ia mendengar langkah demi langkah kaki itu mendekat ke arahnya. Evan mendatanginya, ia tahu itu.

Tiara memberanikan diri membalikkan tubuhnya menatap ke arah Evan yang sepertinya sudah berdiri di belakangnya, dan benar saja, lelaki itu memang sudah berdiri menatapnya dengan tangan yang sudah bersedekap.

“Pak Evan sudah datang?” sebenarnya Tiara enggan menyapanya, tapi mau bagaimana lagi. Ia harus sopan, bagaimanapun juga Evan adalah atasannya.

“Ya.” Evan menjawab pendek. Ia menatap Tiara dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

Tiara merasa risih dengan tatapan mata Evan, hingga mau tidak mau dia bertanya “Ada apa, Pak?”

Evan menggeleng. “Saya hanya bingung, apa yang membuat kamu terlihat cantik di mata Davit?”

“Apa?” Tiara berharap ia salah dengar.

Evan tidak menjawab, ia masih sibuk menatap Tiara seperti sedang menelanjangi wanita itu. Sugguh, sepanjang siang ini, pikiran Evan terganggu dengan perkataan Davit yang menyebut jika Tiara cantik. Dan ia benar-benar tidak suka saat Davit atau orang lain melihat kecantikan Tiara yang baginya cukup tersembunyi.

Sedangkan Tiara sendiri, ia semakin merasa tidak nyaman karena tatapan mata Evan yang benar-benar sangat mengganggunya.

Evan mendekat, sedangkan Tiara dengan spontan mundur menjauh. “Dan satu lagi, kamu punya pacar? Kamu benar-benar melanggar poin lima?”

“Pak Evan ngomong apa? Pacar apa?”

“Kalau begitu, beri tahu saya nama akun sosial media kamu, Facebook? instagram?”

Tiara meggelengkan kepalanya. “Saya tidak punya.”

“Kamu yakin?”

“Ya, Pak. Lagi pula kenapa pak Evan tiba-tiba tanya tentang hal itu?”

“Karena saya tidak suka diduakan.”

“Saya tidak mungkin menduakan Pak Evan.”

Evan menghela napas panjang. “Baiklah.” Evan melirik sekilas ke arah masakan Tiara. “Masak apa? Lanjutkan saja masakan kamu, saya mau mandi dulu.” Tiara hanya mengangguk menanggapi perkataan Evan.

Astaga, sebenarnya apa yang terjadi dengan lelaki itu?

***

Keduanya makan malam dalam diam. Evan tidak banyak bicara, ia memang sengaja makan secepat mungkin agar dapat mengajak Tiara naik ke atas ranjangnya. Ya, entahlah, gairahnya terbangun begitu saja saat melihat Tiara. Apa itu juga yang dirasakan Davit pada Tiara?

Sial! Membayangkan hal itu membuat Evan kesal.

Evan menatap ke arah Tiara yang sudah bangkit dari duduknya. Wanita itu membawa piring kotornya menuju ke arah tempat pencuci piring lalu mencucinya di sana. Evan dengan spontan bangkit, lalu mengikuti Tiara. Ia berdiri tepat di belakang Tiara, dan tanpa banyak bicara, Evan mengulurkan lengannya memeluk tubuh Tiara dari belakang.

“Pak.”

“Cuci tanganmu dan ikut saya.”

“Ke-kemana?”

“Puaskan saya.”

“Pak…”

Tanpa banyak bicara, Evan meraih jemari Tiara yang penuh dengan busa, lalu mencucinya dengan bersih, sebelum kemudian ia mengajak Tiara masuk ke dalam kamarnya.

Ya, sebut saja ia maniak, Evan tidak peduli. Nyatanya Evan benar-benar sudah candu dengan sentuhan tubuh Tiara.

Setelah menutup pintu kamarnya, Evan segera menyerang Tiara. Bibirnya mencumbu habis bibir Tiara, melumatnya dengan panas. Sedangkan tubuhnya sudah mendesak tubuh Tiara dengan dinding.

Tiara pasrah. Ya, ia sadar jika dirinya sudah menjadi milik Evan sepenuhnya. Ia memang memiliki hak untuk menolak, tapi entah kenapa saat ini ia sedang tidak ingin menolak. Evan sangat mempengaruhinya, lelaki itu begitu mengintimidasi hingga membuat Tiara kepanasan hanya karena tatapan-tatapan tajam dan juga sentuhan-sentuhan panas lelaki tersebut.

Tiara mengerang, saat Evan membuka paksa pakaian yang ia kenakan. Jemari lelaki itu menangkup sebelah payudaranya, lalu bibirnya segera mendarat pada puncak payudaranya. Evan bermain di sana, menggodanya, melumatnya, seakan sangat mendamba payudara ranum milik Tiara.

Evan sendiri menggeram. Menikmati setiap jengkal dari tubuh Tiara. Sial! Bagaimana mungkin ia menjadi sangat bergairah ketika berdekatan dengan Tiara? Ia melepaskan bibirnya pada puncak payudara Tiara, lalu membuka T-shirt yang ia kenakan. Dengan cepat Evan membuka celananya karena ia memang tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Tapi belum juga celananya lolos, Evan mendengar bell rumahnya berbunyi.

Napasnya memburu, menatap Tiara karena bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Sugguh, ia sudah menegang, membengkak hampir meledak karena gairah yang sudah menyelimuti dirinya. Tapi ia tidak mungkin mengesampingkan orang yang telah membunyikan bell rumahnya.

“Sial! Siapa yang malam-malam begini datang?” geramnya dengan kesal.

Evan mendengus sebal. Ia membenarkan letak celananya, menegakkan tubuhnya, sebelum kemudian berpesan pada Tiara. “Tunggu di sini, saya mau cek siapa yang datang.”

Tiara hanya mengangguk, ia pun membenarkan letak pakaiannya. Dan membiarkan Evan keluar. “Pak, bajunya?” Tiara mengingatkan Evan jika lelaki itu masih bertelanjang dada dengan tubuh yang penuh dengan keringat.

“Biarin, sebentar saja kok.” Akhirnya, Evan keluar. Dan Tiara menghela napas panjang setelah ia ditinggalkan di dalam kamar Evan sendirian.

***

Masih dengan menggerutu, Evan berjalan menuju ke arah pintu depan rumahnya. Sial! Siapa yang berani mengganggu kesenangannya? Astaga, ia merasa tersiksa saat ini karena pangkal pahanya tak berhenti berdenyut nyeri karena ingin dipuaskan. Andai saja si penekan Bell membunyikan bell rumahnya sepuluh menit kemudian, mungkin ia tidak akan sekesal ini.

Dengan kesal Evan membuka pintu rumahnya, dan sedikit terkejut saat ia mendapati Davit berdiri di depan pintu rumahnya.

“Lo? Ngapain kesini?” tanya Evan dengan spontan yang tampak kental dengan kekesalannya.

“Lo nggak suka gue ke sini?”

“Bukan nggak suka, inikan malam, lo nggak ngapain gitu sama Sherly?”

“Ngapain? Memangnya mau ngapain?” Davit tidak mengerti apa yang diucapkan Evan. “Lo sendiri ngapain malam-malam telanjang keringetan gitu?”

Evan sedikit salah tingkah dengan pertanyaan Davit. “Gue habis olah raga.” Mau tidak mau Evan berbohong.

“Gue mau numpang nonton bola.”

“Apa?” Evan hanya ternganga saat Davit dengan begitu menjengkelkannya masuk ke dalam rumahnya tanpa ia persilahkan.

Pengganggu! Sial! Davit benar-benar menjadi seorang pengganggu yang pastinya sukses membuatnya kesakitan sepanjang malam.

-TBC-

5 thoughts on “Future Wife – Chapter 7 (Pengganggu!)”

  1. Udah ada yang mulai cemburu nih…evan kedadangan tamu tak di undang:-D:-D:-D:-Dgimana nasib evan ma tiara yang sama2 lagi horny:-D:-D:-D:-D

    Like

  2. 😅😅😅
    Yahhh abang davit ganggu org mau ena2 😆😆😆 sabar ya bang epan 😘😘😘 sapa suruh jd org mupeng bgt hahaaa 😂😂

    Like

  3. astagahhhhhh q ngakak bagian ini , kasian banget sih papa peri lagi mo enak” malah ada tamu ga d undang 😀😀 moment na pas banget pula om davit dtang d saat lagi
    panas” na 😁😁
    lagian sejak kapan coba papa peri jadi mesum gini udah kek dirga az 😣

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s