romantis

Future Wife – Chapter 6 (Kontrak dan Kesepakatan)

Future Wife

 

Chapter 6

-Kontrak dan Kesepakatan-

 

Evan dan Tiara kini sudah kembali dari tempat dokter dimana keduanya baru saja berkonsultasi tentang hubugan mereka. Akhirnya sudah diputuskan, bahwa Tiara akan mengonsumsi pil pencegah kehamilan. Selain karena usia Tiara yang masih sangat muda, pil pencegah kehamilan juga tidak banyak memiliki efek buruk ketimbang kontrasepsi lainnya.

Interaksi diantara mereka kembali terasa canggung, saat tak ada satu orangpun diantara mereka yang mau membuka suaranya. Sebenarnya, Tiara ingin membahas masalahnya dengan Evan, tapi ia tidak enak jika harus mengungkapkan kegundahan hatinya terlebih dahulu. Akhirnya, yang bisa Tiara lakukan hanya diam dan meremas kedua belah telapak tangannya.

“Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan?” tanya Evan pada Tiara tanpa menatap ke arah wanita itu karena kini dirinya lebih memilih berkonsentrasi pada jaanan di hadapannya.

Tiara menatap Evan seketika. Apa ini saatnya ia berbicara tentang masalahnya? “Uum, itu, Bang Radit.”

“Kenapa dengan kakak kamu?”

“Dia, masuk penjara.” Tiara menundukkan kepalanya saat menjawb pertanyaan Evan, subgguh, ia malu memiliki kakak yang seperti itu. Malu dengan kelakuannya.

“Apa? Kenapa bisa?”

“Jadi, kemarinada razia ditempat Bang Radit biasa nongkrong, lalu dia kedapatan sedang membawa barang itu.”

“Narkoba? Ckk, apa coba yang dipikirkan kakak kamu itu? Hidup kalian sudah susah, bagaimana mungkin ia membuatnya lebih susah dengan terjerumus dalam hal-hal seperti itu?”

Tiara tidak menjawab apa yang diucapkan Evan, karena apa yang diucapka Evan memang benar. Mereka sudah kesusahan, seharusnya Abangnya berpikir sebeluk ikut-ikutan masuk dalam lingkaran obat-obatan terlarang.

“Maaf, bukannya saya ingin menggurui, saya hanya sedikit kecewa dengan apa yang dilakukan kakak kamu. Sepertinya, dia memang lebih pantas berada di sana agar tidak semakin menyusahkan kamu.”

“Tapi Pak, salah satu alasan saya memenuhi apa yang Pak Evan inginkan adalah supaya pak Evan mau membantu saya untuk membebaskan Bang Radit.”

“Apa kamu pikir saya adalah orang yang memiliki wewenang untuk membebaskan dia? Hukum tidak bisa dibeli seenaknya, Tiara.”

“Lalu, saya harus bagaimana, Pak?” Tiara melirih. Entahlah, ia mulai merasa putus asa.

Evan menghela napas panjang. “Saya akan coba menelepon pengacara saya, siapa tahu dia bisa bantu untuk meringankan hukuman kakak kamu.”

Dengan spontan, Tiara merangkul lengan Evan. “Pak Evan serius?” tanyanya dengan sedikit kegirangan sampai ia lupa dengan apa yang sedang ia lakukan.

Evan melirik jemari Tiara yang merangkul lengannya, pun dengan Tiara yang juga baru sadaar jika ia sudah merangkul lengan Evan, secepat kilat ia melepaskan rangkulan tangannya tersebut.

“Maaf, saya tidak bermaksud.” Tiara menundukkan kepalanya.

“Kamu seperti sedang menggoda saya.”

“Maaf?” tanya Tiara  tidak mengerti.

“Sentuhan kamu membuat saya terbakar, sial! Sepertinya saya harus mempercepat laju mobil ini.” Dan ketika Evan mempercepat laju mobilnya, Tiara segera mengerti apa yang dimaksud Evan. Ya, ia telah membangunkan singa yang sedang tidur, dan ketika singa itu sudah bangun, ia harus siap menjadi hidangan utamanya.

***

“Aarrgggh.” Tiara mengerang, ketika pergerakan Evan mulai cepat dari sebelumnya. Menghujam lagi dan lagi ke dalam tubuhnya.

Saat ini, keduanya sedang berada di dalam kamar mandi Evan, di bawah guyuran shower dengan posisi Tiara berdiri membelakangai Evan, sedangkan lelaki itu menyatukan diri dari belakang sembari sesekali mengecupi pundak telanjang Tiara.

Evan menghujam lagi dan lagi, sesekali ia menggeram, seperti seekor singa yang sangat berkuasa. Ia sangat menikmati percintaannya dengan Tiara, apalagi saat ia menyatukan diri tanpa alat pengaman. Tubuh Tiara terasa sangat lembut, sesak menghimpitnya. Seakan menyedotnya ke dalam tanpa ingin ditinggalkan.

Jemari Evan meraba puncak payudara Tira, memijatnya, memainkannya hingga Tiara tak mampu menahan diri untuk mengerangkan namanya ketika wanita itu sampai pada puncak kenikmatan. Akhirnya, Evan tak menunggu lama lagi, iaa meledakkan semua gairahnya ke dalam tubuh Tiara.

Aahhhhh, rasanya benar-benar sangat luar biasa, bagaimana mungkin ia tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini sebelumnya? Benar-benar kolot!

Napas keduanya memburu, Tiara bersandar pada dinding kamar mandi Evan yang dilapisi marmer, terasa sangat dingin tapi ia menimpatinya, tubuhnya tetap terasa panas membakar karena tubuh Evan yang masih berkedut di dalamnya.

Evan lalu menarik dirinya, membalikkan tubuh Tiara untuk menghadapnya, sebelum kemudian ia mencumbu bibir ranum Tiara tanpa ampun.

“Terimakasih, sekarang, bisakah kamu menggosok punggung saya?” tanya Evan setelah mencumbu habis bibir Tiara.

Tiara merona, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya sembari memungkiri ketelanjangan mereka berdua. Astaga, bagaimana mungkin ia segila ini??

***

Malam itu, setelah Tiara selesai menyiapkan semua perlengkapan yang akan digunakan Evan besok paginya, Evan memanggilnya ke dalam ruang kerja lelaki itu. Akhirnya Tiara menurut, seperti biasanya.

Tiara dipersiahkan duduk di sebuah sofa panjang dengan Evan di sebelahnya. Dihadapan mereka sudah ada beberapa berkas yang Tiara sendiri tidak mengerti berkas apakah tersebut.

“Baca saja dulu, kalau ada yang kurang jelas, saya akan menjelaskan, kalau ada yang keberatan, kita bisa mempertimbangkannya bersama.”

“Ini apa, Pak?”

“Kontrak kerja, anggap saja begitu.”

“Kerja?”

“Ya, anggap saja kamu sedang bekerj dengan saya.”

Tiara meraih berkas-berkas tersebut lalu mulai membaca poinnya satu demi satu, sedangkan Evan memilih menatap Tiara dengan matanya. Tatapan yang begitu intens hingga Tiara saja mampu merasakan tatapan tersebut.

“Uuum, Pak, poin ini ‘pihak pertama akan menanggung semua beban hidup pihak kedua selama masa kontrak berlaku’.”

“Ya, kenapa dengan itu?”

“Uum, Pak Evan tidak perlu berlebihan, saya, hanya ingin hutang kami lunas, dan Pak Evan membantu kasus kakak saya, Pak Evan tidak perlu menanggung semua biaya hidup saya.”

Evan tersenyum miring. “Kamu tetap akan saya tanggng, suka tidak suka.”

Dan Tiara tidak bisa membantah, ia melanjutkan membaca poin-poin dalam kertas tersebut. “Poin Lima, Tidak ada pria lain dalam kehidupan pihak kedua, tapi pihak pertama dapat dengan bebas membawa perempuan lain atau bahkan menjalin hubungan dengan perempuan lain dihadapan pihak kedua atau dihadapan publik.”

“Kenapa dengan poin itu?”

“Uuum, sepertinya kurang adil.” Tiara menjawab pelan.

Evan tertawa lebar. “Saya laki-laki, gampang bosan, dan saya adalah pihak pertama yang dalam hal ini mengeluarkan materi untuk kamu. Sangat adil untuk saya karena saya memiliki wewenang lebih atas hal ini.”

Tiara menghela napas panjang. Ia akhirnya melanjutkan membaca poin-poin tersebut lagi tanpa membantah dengan jawaban Evan tadi. Ya, lagi pula, pria mana juga yang mau dekat dengannya saat ini? Poin Lima sepertinya bukan masalah yang serius untuknya, karena ia juga tidak sedang ingin menjalin hubungan dalam hal asmara dengan lawan jenis.

Lalu ia berhenti pada poin Tiga belas. “Pak, apa maksudnya poin Tiga belas? Tidak boleh sampai terjadi kehamilan, dan jika sudah terlanjur hamil….”

“Kenapa?”

“Saya kan sudah pakai kontrasepsi, apa poin ini harus ditulis sedangkan saya nggak mungkin hamil?”

“Kontrasepsi hanya usaha untuk mencegah kehamilan, dalam beberapa kasus, ada wanita yang bisa tetap hamil padahal dia sudah menggunakan kontrasespsi, jadi saya tidak bisa mengambil resiko.”

Tiara menampilkan wajah ngerinya. Ya, tentu saja, ia masih Dua puluh tahun, dan ia tidak ingin hamil dengan status hubungan yang seperti ini. “Jadi, saya masih ada kemungkinan untuk hamil?”

“Semua perempuan yang memiliki sel telur dan rahim, masih memiliki kemungkinan hamil jika ‘dibuahi’. tapi tentu saja presentasenya sangat kecil mengingat kita sudah mencegahnya dengan kontrasepsi, jadi kamu tenang saja.”

Tiara menelan ludah dengan susah payah, ia tidak bisa membayangkan jika dirinya akan hami. Tidak! Ia tidak boleh mengalami hal itu dengan Evan.

“Dan jika sudah terlanjur hamil, maka pihak pertama akan mengizinkan pihak kedua melahirkan bayinya dengan syarat, setelah dilahirkan, sang bayi harus dititipkan pada panti asuhan terbaik di kota ini.” Tiara menatap Evan seketika. “Saya tidak bisa menyetujui poin ini.”

“Kenapa? Kamu tidak mau melahirkan? Saya bukan orang jahat yang bisa mengizinkan atau bahkan memaksa orang menggugurkan kandungannya, saya tidak sejahat itu, meski anak itu masuk ke dalam panti asuhan, saya pastikan kalau saya akan menanggung biaya hidupnya.”

Benar-benar sombong, sombong dan arogan! Pikir Tiara.

“Maaf Pak, tapi maksud saya, saya tidak bisa membiarkan bayi saya dirawat oleh orang lain, apalagi di panti asuhan.”

“Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu mau saya menikahi kamu? Ckk, yang benar saja.”

Sakit hati, itulah yang dirasakan Tiara. Rupanya Evan juga bisa merendahkannya seperti saat ini.

“Saya akan merawatnya sendiri.” Tiara menjawab dengan begitu berani.

“Saya tidak akan mengizinkan, karena ujung-ujungnya, kamu akan meminta pertanggung jawaban.”

“Tolong, ganti saja poinnya dengan ‘Pihak kedua yang akan merawat anak tersebut tanpa boleh memberitahukan pada siapapun tentang status anak tersebut’ Saya janji akan tutup mulut, Pak Evan bisa pegang omongan saya.”

Evan menatap Tiara dengan intens, ada ketulusan di dalam sana, ketulusan bercampur dengan kemarahan, yang entah kenapa membuat Evan luluh seketika.

“Baiklah, saya akan menggantinya.” Evan mengalah. Ya, dan Tiara bisa menghela napas lega. Setidaknya, jika nanti ia benar-benar hamil –tapi semoga saja tidak, ia tidak akan dipisahkan dengan calon bayinya.

Tiara melanjutkan membaca poin-poin tersebut. ia berhenti di poin terakhir “Kontrak berlaku selamanya hingga pihak pertama bosan dan memutuskan untuk mengakhiri kontrak dengan surat yang sudah dilegalisir. Maksudnya? Saya akan terikat selamanya?” tanya Tiara tidak percaya dengan apa yang sudak ia baca.

“Jangan berlebihan, saya sudah bilang kalau pria itu gampang bosan, jadi itu tidak mungkin berlaku selamanya.” Evan menjawab dengan santai.

“Tapi, kalau Pak Evan tidak bosan?”

Evan mengangkat kedua bahunya. “Ya terpaksa, kamu akan lebih lama bersama dengan saya.”

Astaga… darimana datangnya lelaki ini? Evan tampak baik, bijaksana, dan kalem di luar, tapi entah kenapa Tiara merasa jika ada sisi mengerikan yang tersembunyi di dalam sifat santai dan kalemnya itu.

“Jika pihak kedua melanggar poin-poin di atas, maka kontrak berakhir dan pihak kedua harus membayar denda sebesar materi yang telah dikeluarkan oleh pihak pertama.”

Tiara kembali menatap ke arah Evan.

Tiara menggelengkan kepalanya. “Ini benar-benar tidak adil untuk saya, Pak.”

“Apa yang membuatnya tidak adil?”

“Saya sudah memberikan apa yang saya punya, harga diri saya, tubuh saya, kehormatan saya, bagaimana mungkin saya harus membayar lagi? Itu merugikan saya.”

“Itu kalau kamu melanggar poin-poinnya, kalau tidak, maka kamu tidak perlu takut untuk membayar. Saya tidak memikirkan materi dendanya, tapi saya memikirkan bagaimana supaya kamu tidak melanggar poin-poin yang ditulis dalam kontrak tersebut.”

Tiara marah, ya, sangat marah, matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jika Evan akan memperlakukannya seperti ini. Tiara berpikir, bahwa Evan dalah sosok penolong yang sebenarnya, tapi nyatanya, lelaki itu tak lebih dari seorang pemangsa yang membabat habis semua buruannya.

Akhirnya dengan sangat kesal, Tiara menandatangani surat-surat tersebut. kontrak dan kesepakatan yang menurut Tiara sangat tidak adil untuknya. Ya, meski begitu, ada beberapa poin-poin yang memang menguntungkan baginya.

Tiara tidak bisa berbuat banyak, bagaimanapun juga, ia ada dipihak orang yang meminta, sedangkan Evan dipihak orang yang berkuasa, bersyukur jika Evan tidak memaksanya yang tidak-tidak. Bahkan ada beberapa poin yang sepertinya disiapkan Evan untuk meringankan bebannya.

Setelah menandatangani surat tersebut. dengan kesal Tiara bangkit. Ia bersiap p[ergi meninggalkan Evan, tapi langkahnya terhenti saat Evan bertanya padanya.

“Mau kemana? Saya belum selesai. Saya ingin bercinta di sofa ini.” Dengan begitu arogannya, Evan mengucapkan kalimat tersebut tanpa kecanggungan sedikitpun.

Tiara menghela napas panjang. Sebelum kemudian ia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Evan dengan tatapan marahnya. “Poin Enam, pihak kedua diperbolehkan menolak ajakan berhubungan intim dengan pihak pertama jika sedang merasa tidak ingin.” Tiara mengingatkan.

Bukannya marah karena ditolak, Evan malah tertawa lebar, dengan santai ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sebelum berkata “Jadi, kamu sudah berani melawan saya?”

“Saya hanya menginginkan waktu sendiri.” Tiara memberanikan diri, meski sebenarnya ia tidak berani melawan Evan, tapi sesekali lelaki itu harus diberi pelajaran karena sudah memperlakukannya seperti ini.

Evan berdiri seketika, lalu melangkah menuju ke arah Tiara, Tiara sempat mundur satu langkah saat Evan mendekatinya, dan itu benar-benar membuat Evan suka. Ia sangat suka saat melihat Tiara ketakutan dibawah tatapannya. Seperti seekor kucing kecil yang kehilangan induknya.

“Poin Tujuh, Pihak kedua tidak boleh menolak ajakan berhubungan intim dengan pihak pertama sebanyak tiga kali berurut-urut.” Kali ini Evan yang mengingatkan dengan suara seraknya. “Maka nikmatilah kesendirian kamu selagi kamu bisa.” Lanjut Evan dengan nada mengancam.

Tiara segera pergi, menjauh dari Evan, ia segera keluar dari tempat kerja Evan dengan sedikit kengerian yang tampak diwajahnya. Astaga, bagaiaman mungkin lelaki itu bersikap seperti itu padanya? Bagaimana mungkin ia akan terikat dengan iblis berbentuk seperti malaikat seperti seorang Evan Pramudya?

Sedangkan Evan sendiri hanya bisa tersenyum menatap ketakutan Tiara. Sial! Apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia berubah menjadi seperti ini? Inikah yang disebut dengan melakukan hal-hal diluar garis amannya? Dapatkah ia melakukannya? Melanjutkan semua kegilaannya bersama dengan Tiara?

***

Paginya, Tiara terbangun dan sedikit terkejut saat mendapati dirnya yang sudah telanjang bulat dibawah selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Ia masih tidur di ruang tamu, karena tadi malam ia tidak ingin disentuh oleh Evan. Tapi yang membuatnya terkejut adalah ketika mendapati Evan yang juga sudah sama-sama telanjang di bawah selimut yang sama dengannya, lelaki itu bahkan sudah memeluknya dari belakang dengan sesekali memainkan jemarinya pada sebelah puncak payudaranya.

“Pak, apa yang terjadi?” tanya Tiara sambil sedikit menjauh.

Evan malah menarik Tiara mendekat lalu secepat kilat ia membalik tubuh mereka hingga kini ia sudah dalam posisi menindih tubuh Tiara. “Saya mau menagih hak saya.” Evan berbisik dengan suara paraunya.

“Tapi pak, saya kan menolak, dan poin nomor Enam…”

“Persetan dengan poin-poinnya. Lagi pula, tidak ada poin yang mengatur jika pihak pertama tidak boleh melanggar poin-poin tersebut.” Evan tersenyum menyeringai.

Curang! Ya, Tiara benar-benar merasa di curangi. Astaga, bagaimana mungkin ia sebodoh ini. Bagaimana mungkin ia kurang teliti dalam membaca surat kontrak tersebut?

“Dan sekarang, saya sedang melanggar poin ke Enam.”

“Pak, ini curang!”

“Saya tidak peduli.” Dan setelah tiga kata tersebut, Evan segera menyambar bibir Tiara, melumatnya dengan panas. Sedangkan yang dibawah sana sudah memposisikan diri untuk memasuki diri Tiara. Ohh, penyatuan yang sejak semalam sudah membayang-bayangi diri Evan hingga ia menahan rasa nyeri sepanjang malam.

Sial! Bagaimana mungkin Tiara bisa merubahnya menjadi maniak seks seperti ini? Kapan ia akan bosan? Kapan ini akan berakhir?

-TBC-

Secret Wife sudah tersedia di google play lohh hehehhe bisa dibeli pakai pulsa. yeaayyy

 

4 thoughts on “Future Wife – Chapter 6 (Kontrak dan Kesepakatan)”

  1. Saya juga ga suka poin k 5 , papa peri egois 😎😎
    dan saya suka poin k 13 apalagi ql sampe tiara hamil , plisssssssss tolong buat tiara hamil ..
    dan dari k 4 pemuda itu q rasa papa peri paling mengerikan 😄😄

    Like

  2. Oooo emang dasar ya ni evan.. awal2 baek2 bak malaikat,, ujung2x brengsek jg 😤😤😤 untung aja ganteng hot bin tajir 😄😄😄
    Sering2 ja van biar cepet hamil tiara 😆😆😆

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s