Baby, oh baby! – Chapter 7 (Ya, Aku mencintaimu!)

Comment 1 Standard

 

Chapter 7

-Ya, Aku mencintaimu!-

 

Empat tahun yang lalu…..

 

Pagi itu, Rosaline sedikit merajuk dengan Dimitri karena Dimitri baru saja mengatakan padanya jika lelaki itu besok akan ada perjalanan bisnis ke London. Ya, selama tinggal di rumah Dimitri, Rose memang sering kali ditinggal Dimitri pergi ke luar kota, atau bahkan luar negeri, namun itu tak lebih lama dari satu atau dua hari. Tapi besok, Dimitri akan berada di London selama mungkin dua minggu lamanya. Bisa dibayangkan bagaimana bosannya Rosaline berada di rumah besar tersebut.

Hubungannya dengan Katavia belum juga membaik, karena gadis itu seakan tidak memberi kesempatan padanya untuk sekedar menyapa. Padahal, Rosaline sudah berusaha belajar bahasa Rusia dengan ibu Dimitri.

Yang dapat Rosaline lakukan saat Dimitri tak berada di rumah nanti mungkin hanya membaca atau menghabiskan waktu di dalam kamar menonton film-film romantis komedi kesukaannya.

Dimitri yang tahu sikap Rosaline yang merajuk akhirnya mendekat ke arah Rosaline, mengusap lembut pipi istrinya itu sembari bertanya. “Kau marah?”

“Tidak, aku hanya kesal.”

“Apa yang membuatmu kesal?”

“Kau.”

“Aku? Ada apa denganku?”

“Kau pergi lama sekali.”Rosaline merajuk, astaga, sepertinya sudah cukup lama ia tidak merajuk dengan seseorang. Dan tidak salah bukan jika ia merajuk dengan suaminya sendiri?

“Aku kerja, Rose. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.”

“Bagaimana jika terjadi sesiatu denganku?”

“Misalnya?”

“Melahirkan mungkin?”

Dimitri tertawa lebar. “Kau tidak hamil, mana mungkin kau melahirkan?”

“Itu perumpamaan, mungkin nanti. Apa kau akan tetap lebih mementingkan pekerjaanmu dibandingkan denganku?”

“Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku, tapi aku akan pulang secepat yang kubisa jika aku dalam keadaan seperti itu.”

Rosaline memainkan dasi Dimitri. “Artinya, kau akan tetap mengutamakan pekerjaanmu.”

“Kau juga.” Dimitri tak mau mengalah.

“Ckk, kau ini, aku hanya…”

“Dimitri, buka pintunya.” Suara panik dari luar disertai dengan ketukan pintu kamar mereka yang cukup keras membuat Dimitri dan Rosaline saling pandang.

“Ibu, apa yang terjadi?”tanya Dimitri pada Rosaline. Rosaline hanya mengangkat kedua bahunya, ia juga tak mengerti kenapa suara itu terdengar sedikit panik.

Akhirnya Dimitri membuka pintu kamarnya dan mendapati Ibunya yang sudah menangis. “Apa yang terjadi?” tanya Dimitri yang sedikit panik.

“Katavia. Astaga, dia pingsan di dalam kamarnya.” ucapnya dalam bahasa Rusia.

Dimitri segera berlari menuju ke arah kamar Katavia dengan panik, begitupun dengan Rosaline yang segera menyusul di belakangnya.

Sampai di sana, Rosaline melihat Dimitri sudah memeluk tubuh Katavia yang terkulai lemas di atas lantai. Dengan panik suaminya itu memanggil-manggil nama Katavia sembari menepuk-nepuk pipi gadis itu.

Lalu semuanya terjadi begitu cepat saat Rosaline melihat Dimitri menggendong Katavia melewati dirinya. Rose hanya ternganga, ia tidak tahu apa yang terjadi, ia seperti orang bodoh yang diacuhkan.

***  

Rosaline masuk ke dalam ruang inap Katavia dan melihat Dimitri masih setia menunggu Katavia di sana. Tadi, saat ibu Dimitri pulang untuk mengambil barang-barang Katavia, Rosaline meminta untuk diajak ke rumah sakit. Dan kini, ia cukup menyesal berada di sana.

Rosaline tahu jika Katavia adalah adik kandung Dimitri, tapi melihat Dimitri yang begitu perhatian pada gadis tersebut hingga mengacuhkannya benar-benar membuat Rose kesal. Cemburu, ya, itulah yang dirasakan Rosaline. Padahal tak seharusnya ia memiliki perasaan seperti itu terhadap Dimitri dan Katavia.

“Bagaimana? Apa dia sudah sadar?” pertanyaan Nyonya Armanzandrov membuat Dimitri menolehkan kepalanya ke arah sang Ibu yang berdiri tepat di sebelah Rosaline.

“Belum, tapi Dokter sudah memberikan penanganan.” Dimitri lalu menatap ke arah Rosaline. “Kau, kemari?”

“Ya, aku mau menggantikanmu.” Jawa Rosaline.

“Jangan, kau pulang saja.”

“Tapi kau besok harus ke London.”

“Aku menunda keberangkatanku.” Dimitri kembali menatap ke arah Katavia yang masih terbaring lemah. “Dia membutuhkanku.” lanjutnya dengan serius.

Sakit, itulah yang dirasakan Rosaline. Entah apa yang membuat hatinya sakit, mungkin karena penolakan Dimitri, atau mungkin karena perhatian yang diberikan lelaki itu pada adiknya hingga membuat Rosaline cemburu dan sakit hati. Entahlah…

“Rose, lebih baik kita keluar.” Nyonya Armanzandrov meminta Rosaline keluar bersamanya. Rosaline hanya menggelengkan kepalanya, “Rose, biarkan Dimitri di sana, kita keluar sebentar, ada yang ingin aku sampaikan.” Rosaline menatap wanita paruh baya itu, lalu menurut saja ketika tubuhnya di ajak keluar oleh wanita tersebut.

***  

Di taman rumah sakit.

Rosaline masih diam tak mengerti apa yang sedang terjadi. Hatinya semakin merasa gelisah saat tahu jika perhatian yang diberikan Dimitri begitu besar terhadap Katavia. Padahal, tadi pagi lelaki itu sudah mengatakan jika akan tetap mempeoritaskan pekerjaannya meski ia sedang dalam kondisi melahirkan, dan tadi, suaminya itu dengan mudah mengatakan jika ia menunda keberangkatannya hanya untuk menemani Katavia.

Sedalam itukah rasa sayang Dimitri terhadap adiknya?

Dan astaga, seharusnya ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Katavia adalah adik kandung Dimitri, tak seharusnya ia merasa cemburu seperti ini.

“Rose, kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Armanzandrov yang kini sudah duduk tepat di sebelah Rosaline.

“Apa, mereka memang sedekat itu?” tanya Rosaline yang wajahnya masih menatap jauh ke arah hamparan taman rumah sakit yang cukup luas tersebut.

“Kau, mungkin sedikit risih.”

“Tidak, aku tidak risih, aku hanya merasa cemburu, padahal aku tidak seharusnya memiliki perasaan itu terhadap hubungan mereka berdua.”

“Rose, berjanjilah padaku jika kau akan berpikiran terbuka dengan semua ini.” Ucap ibu Dimitri sembari menggenggam erat telapak tangan Rosaline.

“Ada apa? Ada yang kalian sembunyikan?” tanya Rosaline penasaran.

“Sebenarnya, aku sendiri tidak yakin, bagaimana bisa Dimitri membawamu pulang, bahkan sudah menikahimu. Aku tidak yakin kenapa dia melakukan itu.”

“Karena dia mencintaiku.” Rosaline menjawab cepat. “Bukankah begitu?” tanyanya meyakinkan pendapatnya.

“Rose, aku ingin bercerita, tapi tolong cerna baik-baik apa yang kuceritakan. Ini hanya berdasarkan pemikiranku, berdasarkan sudut pandang yang kulihat, karena aku sendiri tidak mengerti apa yang dirasakan Dimitri.”

“Ibu, Kau jangan membuatku takut.” Ya, Rosaline merasa takut, takut jika apa yang akan diceritakan sang mertua adalah sesuatu yang membuatnya terluka.

Nyonya Armanzandrov menggelengkan kepalanya, lalu ia mulai bercerita. “Dulu, Dimitri pernah menyukai seseorang, namanya Ana. Dan dia adalah adik kandung Dimitri. Bukan puteriku, tapi puteri dari simpanan suamiku.”

Rosaline membungkam mulutnya sendiri. Tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.

“Dimitri hampir menikahinya, tapi suamiku melarangnya dan menggagalkan pernikahan Dimitri. Ana diusir dari rumah, dan entah sekarang di mana. Bertahun-tahun berlalu, Dimitri tak pernah sekalipun membawa wanita untuk berkencan dengannya. Entah memang tidak pernah atau kami tidak tahu. Tapi semuanya menjadi semakin jelas saat aku melihat kedekatan Dimitri dengan Katavia.”

Rosaline berdiri seketika. “Tidak, jangan diteruskan.”

“Rose, kupikir, Dimitri memang memiliki kecenderungan mencintai adiknya sendiri.”

“Tidak! Itu tidak mungkin!”

“Aku tidak memaksamu untuk percaya, karena aku juga berharap apa yang kupikirkan bukan suatu hal yang benar. Selama ini aku hanya menerka-nerka hal itu, dan berpura-pura tidak tahu apapun. Beruntung ayah mereka sangat jarang berada di rumah, jika ayah mereka tahu, Katavia mungkin bernasib sama dengan Ana. Lalu kedatanganmu sedikit menenangkanku. Kupikir aku berpikir terlalu jauh tentang hubungan mereka.” Ibu Dimitri menghela napas panjang. “Aku berharap banyak padamu, Rose. Jika Dimitri memang sakit, aku ingin kau menyembuhkannya. Tapi jika hanya Katavia yang sakit, maka aku akan berusaha menjauhkannya dari Dimitri.”

Tubuh Rosaline terasa lemas. Tidak. Dimitri tidak mungkin sakit. Lelaki itu adalah lelaki normal yang jatuh cinta padanya secara spontan. Lelaki itu tidak sakit, dan ia tidak perlu menyembuhkannya.

***  

Setelah mengetahui secuil rahasia dari suaminya, Rosaline semakin merasa tidak nyaman dengan hubungannya bersama Dimitri. Ia merasa dibodohi, ia merasa sedikit jauh dengan Dimitri, ia merasa jika ia belum sepenuhnya mengenal sosok Dimitri.

Apalagi, saat kini, ketika keadaan Katavia sudah membaik, dan Dimitri memutuskan untuk pergi berbisnis ke London. Ia merasa jika lelaki itu tengah menghindarinya dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah menari-nari dalam kepalanya.

Ya, setelah dipikir-pikir, semuanya jadi lebih masuk akal. Katavia tidak mungkin semarah itu padanya saat setelah tahu bahwa ia sudah dinikahi Dimitri. Katavia tidak akan begitu membencinya jika mereka tidak memiliki hubungan apapun kecuali sebatas adik dan kakak. Seharusnya Rosaline sadar, seharusnya ia tahu bahwa ada yang tidak beres apalagi setelah ia tahu jika penyebab Katavia pingsan di kamarnya beberapa hari yang lalu adalah karena gadis itu menelan banyak obat penenang hingga overdosis.

Kini, Rosaline merasa kurang nyaman apalagi ketika hanya berdua dengan Katavia di dalam ruang inap gadis tersebut. Karena tadi ia memang diminta ibu Dimitri untuk menemani Katavia sementara wanita itu mengurus segala administrasi rumah sakit karena sore nanti Katavia sudah diperbolehkan pulang.

“Kau tahu, dia hanya mencintaiku.”Rosaline mengangkat wajahnya ketika tiba-tiba Katavia berbicara dengan menggunakan bahasa inggris. Ya, Rose tahu jika gadis itu sedang berbicara dengannya.

“Kau gila? Kau adalah adik kandungnya.” Emosi Rosaline tersulut begitu saja setelah perkataan terang-terangan yang terucap dari bibir Katavia.

“Ya, tapi kami saling mencintai.”

Rosaline berdiri seketika. “Tidak! Dimitri hanya mencintaiku, itu sebabnya dia menikahiku meski kami belum lama saling kenal.”

Katavia tertawa lebar. “Sadarlah, Rose. Kau hanya dijadikan alat untuk menutupi hubungan kami, kau hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus Armanzandrov. Itu saja, tidak lebih.”

Rosaline menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Dimitri sekejam itu. Lelaki itu mencintainya, ya, ia merasakan jika lelaki itu benar-benar mencintainya.

“Kau tahu bukan, yang kami miliki hanya cinta. Meski sebenarnya kami saling bergairah satu sama lain, tapi kami tahu jika kami tidak dapat melakukannya apa lagi membuat keturunan untuk keluarga kami. Maka dari itu, dia mencari seseorang yang dapat dibodohi dengan mudah, dan orang itu adalah Kau.”

“Tidak mungkin.”

“Ya, lihat saja, setelah kau hamil dan melahirkan bayimu nanti, kau akan ditendang dari rumah kami. Anak itu akan menjadi anakku bersama Dimitri, dan kau, kau akan dicampakan dan dilupakan.”

“Kau gila!” karena sudah tidak tahan lagi, Rosaline memilih segera pergi meninggalkan Katavia. Di luar ruang inap Katavia, Rosaline menumpahkan air matanya. Seharusnya ia tidak perlu mendengarkan apa yang dikatakan Katavia, karena mungkin saja itu adalah rencana gadis itu untuk membuatnya membenci Dimitri. Tapi mau memungkiri seperti apapun juga, perkataan Katavia tadi sudah terlanjur menjadi belati yang menyayat hatinya. Jika dipikir, semuanya menjadi lebih masuk akal sekarang.

Ya, Dimitri menginginkan seorang keturunan dan lelaki itu tidak dapat menciptakan seorang keturunan dari wanita yang dicintainya yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri, karena itulah lelaki itu memanfaatkan kehadirannya.

Rosaline segera merogoh ponselnya lalu menghubungi Dimitri saat itu juga. Setelah beberapa kali teleponnya tidak di angkat, akhirnya tak lama Dimitri mengangkat telepon darinya.

“Honey? Apa yang terjadi?”

“Kau, apa kau mencintaiku?” tanya Rosaline secara langsung dengan suara yang sudah terisak.

“Rose, apa yang terjadi?”

“Tolong, jawab saja. Apa kau mencintaiku?”

“Rose-”

“Demi Tuhan! Jawab saja, apa kau mencintaiku?”

“Ya, aku mencintaimu! apa yang terjadi?” Rosaline tidak menjawab, ia segera menutup teleponnya.

Dimitri berbohong. Ya, meski lelaki itu tadi menjawab dengan tegas, tapi hati Rosaline sudah tak percaya lagi dengan apa yang dikatakan lelaki itu. Dimitri tidak mencintainya, lelaki itu hanya memanfaatkannya. Benar-benar bodoh!

-TBC-

Yang penasaran ada hubungan apa antara Ana dan Dimitri, sabar yaa, nanti, akan ada ceritanya kok. setelah ini Chapter selanjutnya sudah bukan Flash back lagi yaa.. hehehhehe

Advertisements

Baby, oh Baby! – Chapter 5 (Istana dan Gadis Manja)

Comments 5 Standard

Baby, oh Baby!

 

Dimitri kembali duduk di kursinya, lalu ia mempersilahkan wanita di hadapannya itu duduk. “Duduklah, kita akan makan siang sebelum membahas semuanya, Ana.” ucapan Dimitri tenang, namun matanya menatap wanita itu dengan penuh arti.Sedangkan wanita yang bernama Ana itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Dimitri.

Ahhh, ternyata lelaki itu masih sama, senang sekali mengintimidasi lawannya dengan tatapan mata tajamnya…

***

Chapter 5

-Istana dan Gadis Manja-

 

Setelah menghabiskan makan siangnya, Ana memakan makanan penutupnya dengan mata yang sesekali meliri ke arah Dimitri. Sedangkan Dimitri sendiri tampak sibuk dengan kopinya. Lelaki itu tak tampak ingin memulai pembicaraan hingga Ana akhirnya mebuka suara.

“Apa yang ingin kau bahas?” tanyanya secara langsung.

“Kau, sudah selesai dengan makan siangmu?”Dimitri bertanya balik.

“Seperti yang kau lihat.” jawab Ana. “Jadi, apa yang terjadi dengan Rosaline?”

Dimitri menghela napas panjang.“Mungkin kau pikir ini sedikit menggelikan, tapi aku ingin tahu, apa dia memiliki teman kencan?”

Ana mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa kau menanyakan tentang hal itu?”

“Aku melihat dia cukup dekat dengan pria lain di dalam tokonya.”

“Mungkin itu hanya pelanggannya.”

Dimitri sedikit tersenyum masam. “Dia tidak mengakuiku di depan pria itu.”

Ana tertawa lebar.“Jadi kau kesal karena hal itu? Ayolah, kau sudah membiarkannya pergi selama Empat tahun tanpa mengejarnya, kau seharusnya bersyukur karena dia tidak berkencan dengan pria manapun selama itu.”

“Kau yakin?”

“Kak, Aku selalu berada di sisinya, kau tahu.”

Dimitri tersenyum sebal.“Ana, jangan lagi memanggilku dengan panggilan menggelikan itu.”

Lagi-lagi, Ana tersenyum lebar.“Baiklah, tapi kau harus tahu, Rose tidak dekat dengan siapapun.” Ana meminum jusnya, lalu melanjutkan kalimatnya.“Bahkan tadi malam saja, dia berkata jika dia ingin bercinta denganmu.”

“Apa?”

“Ya, kau tahu, hormon ibu hamil.”

“Kau bercanda?”

“Dia meneleponku sepanjang malam, berharap jika aku bisa mengalihkan dia dari gairahnya.Yang benar saja.”Ana tertawa lebar.“Kau harus menempel dengannya agar dia tidak lagi mengganggu malam-malamku bersama Sean.”

Dimitri sedikit tersenyum, ia mengaduk kopinya dan bertanya. “Kau masih dengan pria inggris itu?” tanya Dimitri tanpa melihat ke arah Ana.

“Sean? Ya, tentu saja. Dia sudah melamarku. Lihat ini.”Ana menunjukkan jari manisnya yang sudah dilingkari cincin pemberian Sean, kekasihnya.

Dimitri melirik sekilas lalu berkomentar.“Kau, tampak bahagia dengannya.”

“Ya, dan akupun berharap kau bahagia dengan Rosaline.”Dimitri tersenyum dan kembali menatap ke arah kopinya. Lalu jemari Ana meraih jemari Dimitri. “Aku membantumu untuk kembali mendapatkan Rose, Aku ingin kau memiliki kebahagiaan yang sebenarnya seperti yang kurasakan. Aku tidak ingin kau seperti Katavia.”

Wajah Dimitri mengeras seketika saat mendengar nama itu di sebut. Katavia Armanzandrov, adiknya, dan, adik Ana juga tentunya. Perempuan yang setengah gila karena jatuh cinta pada dirinya yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri. Tapi Dimitri tak dapat menghakimi Katavia, mengingat itu adalah sebuah kelainan. Tentu saja berbeda dengan apa yang ia rasakan dulu kepada Ana.

“Kau, bisa bahagia, bukan?” tanya Ana sekali lagi.

Dimitri menatap Ana dengan mata tajamnya.“Ya, tentu saja.”

“Rose mencintaimu, aku harap kalian mendapatkan kebahagiaan kalian. Dan sepertinya, kau harus bekerja ekstra.”

“Maksudmu?”

“Sepertinya di tahu hubunganmu yang tak biasa dengan Katavia.”

“Benarkah?”

“Ya, baru tadi malam dia bercerita padaku, bahwa dia pergi karena merasa jika kau memanfaatkannya.”

Dimitri menghela napas panjang.“Apa yang harus kulakukan selanjutnya?”

“Buat dia kembali mencintaimu, aku tahu Rose belum bisa melupakanmu, dia hanya terlalu kecewa padamu.”

“Kau tahu bukan, jika aku bukan tipe pria yang suka menggoda atau merayu wanita? Sungguh, ini sama sekali bukan diriku.”

Ya, tentu saja Ana tahu, lelaki macam apa Dimitri. Lelaki ini memang memiliki segalanya. Tampan, kaya, berkuasa, tapi dia bukan sosok romantis, atau sosok berengsek yang memanfaatkan kekuasaannya untuk bermain-main dengan perempuan.

Ana bahkan tidak yakin, jika dulu Dimitri mampu menakhlukkan hati Rosaline. Ya, walau pertemuan keduanya sudah ia dan Dimitri rencanakan, tapi tetap saja, sikap Dimitri yang kaku membuat Ana sedikit ragu.

“Hei, kau bisa memanfaatkan hormonnya yang sedang kacau.”

“Maksudmu?”

Ana tersenyum penuh arti.“Kau tentu tahu apa maksudku.”

Ya, Dimitri tahu. Tapi ia tidak yakin dapat melakukannya. Membawa Rosaline ke atas ranjangnya dan menjalin keintiman kembali seperti dulu. Dapatkah ia melakukannya?

***

Malamnya…

Dengan sedikit malas Rosaline membuka pintu flatnya. Dia tahu jika yang datang adalah Dimitri karena lelaki itu sudah bilang padanya tadi siang.Tapi tetap saja, rasa kesalnya tak berkurang sedikitpun saat tahu jika Dimitri memang benar-benar datang untuk mengajaknya makan malam bersama.

“Kau tidak perlu repot-repot. Aku sudah makan malam.”Jawab Rosaline dengan sedikit ketus.

“Kau tidak pandai berbohong.”

“Ayolah, aku hanya tidak ingin menghabiskan malamku denganmu.”Akhirnya Rosaline mengaku.“Kau membuatku terganggu!” lanjutnya lagi.

“Biarkan aku masuk.”

“Tidak!”Rosaline berseru keras. Ya, ia tidak akan membiarkan Dimitri masuk, karena jika lelaki itu masuk ke dalam flatnya malam ini, maka ia tidak dapat berjanji jika bisa menjaga diri dan perasaannya agar tidak tergoda dengan lelaki itu.

“Rose, ini tidak adil untukku.Bayi itu adalah milikku juga.”

“Jika aku tahu bahwa kau sang pendonor sperma, maka aku akan menolak mengandungnya.”

“Ucapanmu sudah keterlaluan, Rose.”

“Maksudku, kau tidak memiliki hak, di sini akulah yang memutuskan untuk mengandung bayi ini. Meski itu bukan dirimu, meski sang pendonor itu adalah pria lain, aku tetap tidak bisa menerimanya. Karena aku memutuskan hal ini sendiri.”

“Dan karena ini milikku, maka aku memiliki hak sebesar dirimu.”Dimitri mengucapkan kalimat tersebut sambil menerobos masuk, mendorong pintu flat Rosaline dan masuk begitu saja meski Rosaline sebenarnya tidak mengizinkannya masuk.

Snowky menggonggong, melompat-lompat kearah Dimitri, seakan tidak suka dengan kedatangan lelaki itu.

“Anjing yang pintar.”Dimitri berkomentar. Ia senang jika Rosaline ada yang menjaga, meski itu hanya seekor anjing.

“Aku tidak mempersilahkan kau masuk. Kenapa kau tetap masuk?”Rosaline bertanya tanpa bisa menyembunyikan kekesalannya. Sungguh, ia tidak ingin Dimitri berada di sini malam ini, apalagi dengan sikap arogan dan begitu mengintimidasinya.

Jemari Dimitri terulur, mencoba meraih pipi Rosaline, tapi secepat kilat Rose menampiknya.

“Jangan coba-coba.”Rosaline mengingatkan.

“Kau masih milikku, Rose.”

Rosaline tertawa seakan menertawakan perkataan Dimitri.“Katakan itu pada adikmu.”

“Apa yang dikatakan Kate kepadamu?”

“Tidak ada.”

“Ceritakan padaku, maka aku bisa mengerti apa yang kau rasakan. Aku bisa menerima kebencianmu jika kau mau mengungkapkan semuanya. Bukan malah kabur dengan surat sialan itu.”

Mengatakannya? Tidak bisa, bahkan untuk mengingatnya saja, Rosaline merasa sakit hati….

Empat tahun yang lalu…

Rosaline masih tidak menyangka jika saat ini, statusnya sudah berubah menjadi seorang istri, setelah kemarin sore, Dimitri memperistrinya di sebuah gereja sederhana yang hanya disaksikan oleh pendeta.

Kini, lelaki itu mengajaknya pulang.Ya, pulang ke rumah lelaki tersebut. Astaga, bahkan hingga saat ini, Rosaline tidak banyak mengenal Dimitri. Ia benar-benar bodoh, padahal belum genap sebulan ia berkenalan dengan Dimitri, dan ia menerima begitu saja ajakan lelaki itu untuk menikah.

Terkadang, Rose takut, jika Dimitri bukanlah orang yang baik.Ia takut karena ia sudah terlanjur jatuh hati dengan lelaki itu bahkan sejak pertama kali bertemu dan menatap mata Hazelnya. Maka dari itu, kini, Rose tak dapat menyembunyikan perasaan gugupnya. Perutnya terasa melilit, seperti ia akan menghadapi sebuah peristiwa besar.

Hal tersebut tak lepas dari pandangan Dimitri, hingga Dimitri bertanya lembut padanya. “Kau, baik-baik saja?” tanya Dimitri yang masih berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.

“Jika boleh jujur, aku sedang tidak baik-baik saja.”

Dimitri sedikit tersenyum.“Ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Ya, Astaga, aku merasa bodoh. Aku masih tidak percaya jika kita sudah menikah. Aku menikah dengan orang asing?”

“Aku bukan orang asing, Rose.Aku suamimu.”

“Well, sebelumnya kau adalah orang asing. Aku bahkan tidak mengenal keluargamu, tidak tahu dimana rumahmu.”

“Kau akan tahu setelah ini.” Dimitri menjawab dengan tenang.

“Maksudku, seharusnya aku tahu sebelum kita menikah, bukan setelahnya.”

“Kupikir itu bukan masalah, karena aku yakin, kau tidak akan berubah pikiran setelah tahu semuanya.”

Well, benarkah? Ya, jika Dimitri bukan seorang gembel dengan banyak hutang, maka Rosaline tidak akan berubah pikiran. Rosaline memang sudah jatuh hati dengan Dimitri, tapi memikirkan jika mungkin saja lelaki itu adalah seorang yang tak memiliki pekerjaan atau bahkan mungkin memiliki banyak hutang membuat Rose berpikir dua kali untuk melanjutkan pernikahan mereka. Bukannya Rosaline mata duitan, tapi ia mencoba berpikir realistis. Hidupnya sendiri saja masih pas-pasan, tidak mungkin ia menerima beban Dimitri jika benar lelaki itu kekurangan seperti yang ia pikirkan.

Tapi kemudian, Rosaline menegakkan punggungnya seketika, ketika Dimitri berhenti di depan sebuah pagar besar yang lebih cocok disebut dengan benteng sebuah istana.

Apa mereka akan mengunjungi tempat bersejarah dahulu sebelum pulang ke rumah Dimitri?

Benteng atau gerbang besar itu akhirnya terbuka secara otomatis setelah Dimitri mengeluarkan sesuatu seperti alat mengenal dari dashboard mobilnya dan ditempelkan pada alat yang tersedia disisi gerbang.

“Kau bekerja di sini?” tanya Rosaline dengan wajah polosnya.

Dimitri tertawa, ia menggelengkan kepalanya dan masih mengemudikan mobilnya masuk  ke dalam gerbang tersebut.

Rosaline sempat ternganga menatap pemandangan di hadapannya. Itu seperti sebuah mansion, tidak. Mungkin lebih cocok di sebut dengan istana. Sangat besar, sangat indah. Tempat apa ini? Tanyanya dalam hati.

“Kau tidak perlu ternganga seperti itu.” Dimitri berkomentar dengan sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Kau bekerja di sini?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Ini rumahku, Rose. Kita akan tinggal di sini sementara dan pindah setelah aku menemukan rumah baru untuk kita berdua.”

“Kau bercanda?” Rosaline masih tidak percaya jika apa yang ia lihat adalah rumah DImitri. Ia memang tidak suka berpikir jika Dimitri adalah lelaki miskin, tapi Astaga, ini terlalu berlebihan untuknya.

Dimitri menggelengkan kepalanya masih dengan senyuman lembutnya ia menjawab “Ini rumah keluarga Armanzandrov.”

Sial! Mengetahui hal ini tidak membuat Rosaline senang atau membaik, tidak, mungkin lebih ke gugup.Ia merasa Dimitri semakin mengintimidasinya berkali-kali lipat dari pada sebelum ia tahu siapa sosok lelaki yang sudah menjadi suaminya itu sebenarnya.

Jika benar Dimitri adalah pemilik istana ini, maka bisa dibilang jika lelaki ini adalah salah satu milyader dari Rusia.Tapi kenapa Dimitri memilihnya? Menikahinya begitu saja padahal mereka belum lama saling kenal. Apa Dimitri tidak takut tertipu dengan orang asing?

“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Dimitri saat ia sudah memarkirkan mobil yang mereka kendarai di tempat parkir yang sudah disediakan.

“Kau, tidak bercanda tentang hal ini, bukan?”

“Apa yang membuatmu berpikir aku sedang bercanda?”

“Kau, jika kau pemilik istana ini, maka siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa memilihku?”

Dimitri sedikit tersenyum. Ya, lagi-lagi senyum itu. “Keluarga Armanzandrov adalah salah satu klan keluarga terkaya dan terpandang di Rusia. Aku hanya bisa bercerita tentang itu. Karena jika aku menceritakan usaha kami, maka itu tidak akan ada akhirnya. Kau juga tak akan mengerti.”

“Lalu kenapa aku? Kenapa kau berada di Kremlin saat itu? Kenapa kau menolongku, turis yang sedang sial. Bahkan saat ini aku merasa seperti seorang pengemis saat di hadapanmu.”

“Rose. Jangan seperti ini. Mungkin itu sudah takdir, aku berada di sana karena kupikir aku sudah cukup lama tidak ke sana. Lalu aku melihatmu jatuh tak berdaya, melihat tangismu yang seketika itu juga menyentuh hatiku. Aku tidak pernah merasa kekurangan, tapi denganmu, aku merasakan hal itu. Aku menyukaimu, Rose, aku mencintaimu, karena itulah aku memilihmu.”

“Dan orang tuamu? Apa mereka akan menerima pilihanmu?”

“Ya, tentu saja. Mereka akan menerima apapun pilihanku, apalagi jika wanita itu mampu memberi mereka seorang penerus.”

“Maksudmu, kau ingin, aku mengandung bayimu?” Rosaline bertanya dengan sedikit tak percaya.Ya, karena selama menjalin hubungan dengan Dimitri, mereka tak pernah sekalipun membahas tentang bayi. Bukannya tidak suka, tapi itu malah membuat Rose terharu karena Dimitri rela penerusnya dikandung oleh wanita biasa-biasa saja sepertinya.

Jemari Dimitri terulur mengusap lembut pipi Rosaline.“Ya, tentu saja. Kau istriku, hanya kau yang boleh mengandung dan melahirkan bayi-bayiku nantinya.”

Terharu, tersentuh, dan entah perasaan apalagi yang dirasakan oleh Rosaline saat itu. Ya, setidaknya pengakuan Dimitri saat itu mampu menyuntikkan sebuah kepercayaan diri, bahwa ia memang spesial untuk lelaki ini, dan ia pantas bersanding dengan lelaki ini.

***  

Nyonya Armanzandrov menyambutnya dengan bahagia. Rupaya, ibu Dimitri bukanlah seseorang yang memandang orang lain dari status sosialnya. Dengan senang hati, Rose di ajak berkeliling rumah yang lebih cocok di sebut sebagai istana tersebut.

Entah sudah berapa banyak pelayan berseragam yang ia temui di sana. Sayangnya, tak seorangpun di sana yang dapat berbahasa inggris karena mereka menggunakan bahasa rusia.

“Kau akan senang tinggal di sini.” ucap ibu Dimitri. “Kami akan memanjakanmu seperti seorang puteri.” Lanjutnya lagi dengan aksen khas orang Rusia.

“Terimakasih.” Hanya itu yang dapat Rose ucapkan.Ia tidak tahu harus berkata apa lagi, meskipun wanita itu tak lagi muda, nyatanya ia mampu mengintimidasi Rosaline hanya dengan setiap pergerakannya.

“Dimitri.” Sebuah panggilan memaksa semua orang yang berada di sana menoleh ke arah suara tersebut, termasuk Rosaline.

Rosaline melihat seorang gadis cantik dengan rambut berwarna madu datang menghampiri mereka. Dengan mesra gadis itu merangkul lengan Dimitri tanpa canggung sedikitpun. Bahkan gadis itu melemparkan tatapan tidak sukanya ke arah Rosaline.

“Katavia, kenalkan, ini Rose, istri kakakmu.”

Rosaline tersenyum saat tahu siapa gadis yang tampak manja di hadapannya itu. Rupanya itu adik Dimitri. Dengan senang hati Rose mengulurkan telapak tangannya, berharap dapat berkenalan dan menjadi teman baik Katavia.

“Rose.” Rosaline memperkenalkan diri sambil mengulurkan telapak tangannya.

Bukannya menerima uluran tangan Rosaline, Katavia malah menatap Rosaline dengan tatapan penuh kebencian. Lalu ia menatap Dimitri dengan mata marahnya.

“Kau menikah dengannya?” tanya gadis manja itu pada Dimitri dengan nada tidak suka.

Rosaline merasa ada sesuatu yang janggal. Apa mungkin Katavia belum rela ditinggal kakaknya menikah? Apa gadis itu takut perhatian Dimitri kurang terhadapnya? Ya, mungkin saja begitu. Rosaline mencoba berpikir positif.

“Ya, Kate. Rose adalah istriku.” Dimitri menjawab dengan tenang, tapi terselip sebuah ketegasan dalam setiap perkataannya .

“Kau mengkhianatiku! Kau menyakitiku! Aku membencimu!” seruan-seruan itu terucap dalam bahasa Rusia hingga membuat Rosaline bingung karena tak mengerti. Tapi terlihat jelas pada ekspresi wajah Katavia, bahwa gadis itu sedang marah dan sangat tidak suka dengan kehadirannya.

Gadis itu berlari pergi, dan Dimitri segera berlari menyusulnya, meninggalkannya seperti orang bodoh yang tidak mengerti apapun.

Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

-TBC-

Baby, oh Baby! – Chapter 4 (Mengintimidasi)

Comments 2 Standard

Baby, oh Baby!

 

Chapter 4

-Mengintimidasi-

 

Keesokan harinya, Rosaline merasa tubuhnya letih, karena ia baru tidur ketika pagi menjelang. Saat ini, Rose memilih menenggelamkan diri di meja kasir Pet Shop nya. Perkataan Ana semalaman terputar lagi dan lagi dalam kepalanya.

Apa iya dirinya harus memikirkan kehadiran Dimitri? Memanfaatkan kehadiran lelaki tersebut mungkin? Oh sial! Bahkan hingga kini saja gairahnya masih ada –meski tak separah tadi malam, membuat Rose membayangkan hal-hal panas ketika berada di atas ranjang.

‘Ping’

Pintu Pet Shop nya di buka dari luar, tanda jika ada pelanggan masuk. Rosaline bangkit seketika bersiap untuk menyambut pelanggannya. Tapi yang datang ternyata bukan seorang pelanggan, melainkan lelaki menyebalkan yang semalaman membuatnya tak dapat tidur.

Ya, siapa lagi jika bukan Dimitri.

Rosaline mendengus sebal. Astaga, untuk apa lagi lelaki itu datang kemari? Tidak cukupkah ia terganggu karena gairah sialan yang menimpanya sepanjang malam?

“Untuk apa lagi kau kemari?” tanya Rose dengan nada ketus.

“Itu bukan sapaan yang ramah untuk pelanggan.”

“Kau bukan pelanggan tokoku.”

“Mulai hari ini, aku akan menjadi pelanggan tokomu.”

“Oh ya?” Rosaline bersedekap. “Jadi, apa yang kau cari Tuan Rusia?”

Dimitri tersenyum dengan ucapan Rosaline yang baginya sangat lucu. “Hanya sebuah pengikat untuk anjing kecilku.”

“Kupikir kau tidak memiliki anjing.”

“Rupanya kau sudah cukup mengenalku.”

“Belum cukup jauh, sampai aku tidak sadar jika kau sedang mengelabuiku.”

“Ckk, ayolah Rose, lupakan masa lalu kita.” Dimitri lalu berjalan menuju ke arah jajaran aksesoris untuk hewan-hewan peliharaan. Jemarinya mengamati beberapa kalung anak anjing yang tergantung rapih di sana. “Apa yang terjadi tadi malam?” tiba-tiba Dimitri bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kalung-kalung tersebut. Tentu ia bertanya karena ingin mengubah topik pembicaraan mereka yang selalu berputar pada masa lalu.

“Apa? Memangnya apa yang terjadi?”

“Lampu flatmu menyala hingga pagi, ada apa? Kau susah tidur?”

Bagaimana bisa Dimitri tahu? “Kau, bagaimana bisa tahu?”

“Aku mengamatimu.”

“Astaga, kau bear-benar menyebalkan.” Emosi Rose meledak seketika. Sungguh, ia tidak suka saat tahu jik Dimitri mengetahui setiap gerak-geriknya.

“Aku hanya khawatir terjadi apa-apa denganmu, jika kau mau tinggal bersamaku, mungkin aku bisa tenang.”

“Dalam mimpimu!” Rose berseru kesal. “Aku tidak akan pernah mau tinggal bersamamu.”

“Kau yakin, Rose?”

“Lebih baik kau pergi. Sungguh, aku bisa stress saat kau terlalu lama berada di sekitarku.”

Dimitri hanya tersenyum menanggapi permintaan Rosline, lalu ia meraih sebuah kalung anjing kecil, dan memberikannya pada Rosaline. “Berapa?”

“Ambil saja jika itu bisa membawamu untuk segera pergi dari hadapanku.”

“Rupanya, kau masih sangat membenciku.” Mata Dimitri menatap tajam ke arah Rosaline, lalu matanya turun, menatap perut Rose yang sudah sedikit tampak karena blouse yang dikenakan Rose sedikit ketat. “Jika ada apa-apa, hubungi aku.”

“Tidak perlu.” Rosaline menjawab dengan ketus.

“Kalau begitu, aku akan selalu berada di sekitarmu.”

“Ayolah, kau membuatku seakan tercekik, aku tidak suka diawasi.”

“Kalau begitu, hubungi aku jika ada sesuatu.” Dimitri tampak begitu serius. Dan itu benar-benar membuat Rosaline terbius kembali oleh pesona lelaki itu. Dimitri mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah kartu nama,lalu memberikannya pada Rosaline. “Kontak baruku.”

Rosaline membacanya sekilas, lalu kembali menatap Dimitri “Kau, kau tinggal di sini?” tanyanya tak percaya.

Ya, selama ini Rose berpikir jika Dimitri hanya menginap di sebuah hotel untuk mengganggunya, ia tidak berpikir jika Dimitri akan pindah ke New York.

“Ya, karenamu.”

Rosaline mendengus sebal. “Pergilah.” Sungguh, ia tidak suka dengan ucapan-ucapan Dimitri yang mampu mengintimidasinya.

“Nanti malam, aku akan menjemputmu untuk makan malam bersama.”

“Tidak!”

“Aku sedang tidak meminta izin.” Dimitri masih tersenyum ketika membalikan diri dan bersiap pergi meninggalkan Rosaline.

“Dimitri, kau-” Rose menghentikan kalimatnya saat mendapati seorang pelanggan masuk ke dalam pet shopnya. “Oh, hai.” Itu Alan Parker, pelanggan setia tokonya. Dan ekspresi Rose segera berubah ketika kedatangan Alan.

“Hai.” Alan menyapanya dengan lembut.

Dimitri yang baru akan membuka pintu toko Rosaline menghentikan pergerkannya, ia menatap seketika ke arah Rosline dan lelaki yang baru saja masuk tersebut. Tampak keduanya berinteraksi dengan akrab.

“Kau baru buka?” tanya Alan.

“Ya, tadi malam aku susah tidur.”

“Karena bayinya?”

Rosaline tertawa. “Ya, sepertinya begitu.” Rose melirik sekilah ke arah Dimitri yang ternyata masih berada di ambang pintu tokonya, kenapa lelaki itu tak juga pergi?

Alan akhirnya menyadari jika tatapan mata Rose jatuh pada seseorang di belakangnya. Alan menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Dimitri dan juga Rose yang saling melemparkan pandangan sekan hanya mereka yang tahu apa arti tatapan mata tersebut.

Alan lalu kembali menatap Rose, dan bertanya “Siapa?”

Rose tersenyum menatap Alan dan menjawab “Bukan siapa-siapa, hanya pelanggan biasa.”

Mendengar jawab dari Rosaline membuat Dimitri sedikit menyunggingkan senyumannya, tapi matanya menatap tajam ke arah wanita itu, setelah itu, Dimitri memutuskan untuk keluar. Ya, tak ada gunanya lagi ia di sana, karena jika ia masih berada di sana, ia tidak yakin dapat mengontrol emosinya.

Setelah keluar beberapa langkah dari pintu pet shop Rosaline, Dimitri mengeluarkan ponselnya, ia tampak menghubungi seseorang.

“Temui aku saat makan siang.” ucapnya dengan serius.

“Baiklah. Di tempat biasa.” Jawab suara lembut di seberang. Setelah itu, Dimitri menutup teleponnya tersebut. sebelum ia masuk ke dalam limusinnya yang terparkir tepat di depan pet shop Rosaline.

***

“Jadi, dia ayah dari bayimu?” tanya Alan sekali lagi. Saat ini, Alan dan Rosaline sedang menghabiskan waktu makan siang mereka di sebuah cofee shop tepat di seberang Pet Shop milik Rosaline.

Alan memang merupakan pelanggan setia Rosaline, dari Alan lah, Rose mendapatkan Snowky. Ya, Snowky merupakan salah satu anak dari anjing Alan. Dulu, Rose pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan Alan, tapi karena lelaki itu terlalu baik, Rose tidak bisa memanfaatkan lelaki itu untuk menjadi pelariannya dalam melupakan sosok Dimitri.

Rose juga sempat berpikir jika Alan adalah sosok pendonor yang cocok untuk memberinya bayi, tapi ia berpikir lebih jauh lagi, saat ia hamil anak Alan, mereka pasti tak akan dapat berteman seperti ini lagi.

Rose mendesah panjang. “Ya, dialah orangnya.”

Alan tersenyum. “Sepertinya kau beruntung, Rose. Dia tampak sempurna.”

“Ya, mungkin. Jika kami belum pernah menikah sebelumnya.”

“Apa?” Mata Alan membulat seketika.

“Dia mantan suamiku.” Rosaline mendesah panjang.

“Woww, sepertinya kalian memang berjodoh.”

“Alan, aku sedang tidak ingin bercanda.” Rose memakan saladnya. “Hubungan kami sangat buruk. Aku bahkan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Dan dengan adanya bayi ini, semuanya jadi semakin rumit.”

Well, aku hanya ingin menghiburmu, kau tampak sedikit tertekan.”

“Ya, setelah aku tahu bahwa dia orangnya, aku merasa kurang nyaman.”

“Kenapa?”

Rosaline menggelengkan kepalanya. Ya, ia tidak mungkin mengatakannya pada Alan, bahkan dengan Ana yang notabene lebih dekat dengannya saja, Rose tak pernah menceritakannya. Karena menceritakan semua masa lalunya seperti sedang mengorek luka lamanya.

“Kau tahu, dia hanya mencintaiku.” Itu bukan sebuah pertanyaan.

“Kau gila? Kau adalah adik kandungnya.”

“Ya, tapi kami saling mencintai.”

“Tidak! Dimitri hanya mencintaiku, itu sebabnya dia menikahiku meski kami belum lama saling kenal.”

Wanita di hadapannya itu tertawa lebar. “Sadarlah, Rose. Kau hanya dijadikan alat untuk menutupi hubungan kami, kau hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus Armanzandrov. Itu saja, tidak lebih.” Rosaline hanya ternganga mendengar ucapan wanita itu, ia mencoba memungkiri setiap kata yang terucap dari bibir wanita itu, tapi pikirannya berkata jika semuanya menjadi sangat masuk akal. Ya, tak ada yang kebetulan, semua memang sudah direncanakan Dimitri. Ia sudah ditipu oleh lelaki itu….

***

Dimitri tersenyum setelah melihat seorang wanita mendatangi meja makannya. Ia segera berdiri dan menyambut kedatangan wanita itu yang segera mengecup sisi kanan dan kiri pipinya dengan lembut.

“Kau tampak sangat tegang.” Wanita itu berucap sembari menyunggingkan senyumannya, jemarinya bahkan mengusap lembut pipi Dimitri, berharap jika ketegangan Dimitri lenyap karena sentuhannya.

“Ya, kau tentu tahu karena siapa.”

“Rosaline? Ayolah, sekarang apa lagi?”

Dimitri kembali duduk di kursinya, lalu ia mempersilahkan wanita di hadapannya itu duduk. “Duduklah, kita akan makan siang sebelum membahas semuanya, Ana.” ucapan Dimitri tenang, namun matanya menatap wanita itu dengan penuh arti. Sedangkan wanita yang bernama Ana itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Dimitri.

Ahhh, ternyata lelaki itu masih sama, senang sekali mengintimidasi lawannya dengan tatapan mata tajamnya…

-TBC-

Diary kepenulisan – Part 6 (Lelah)

Comments 5 Standard

Lelah

 

Hai, malam, gimana kabarnya nih… wahhh aku baru nyapa lagi. heheheheh

ngggak tau nih, mau cerita apa, aku juga bingung. kalo yang sedang kurasakan saat ini sih, aku sedang sedih. dan sangat lelah. makanya aku coba mencurahkan kesedihanku di sini.

“Sedih kenapa mom?”

Banyak Faktornya, dan aku nggak bisa cerita satu persatu. tapi, satu hal yang sedang kursakan saat ini, bahwa aku sedang sangat lelah.

Aku ingin kembali pada masa-masa dulu. masa dimana aku hanya menulis di blog ini sesuka hatiku tanpa gangguan apapun. hanya nulis untuk kalian tanpa mengenal siapapun yang akan menyakitiku sampai seperti ini. aku ingin hanya menulis, tanpa ada orang yang mendekatiku, lalu diam-diam mengkhianatiku, menusukku dari belakang, membuatku kecewa. orang-orang yang sempat sangat dekat denganku, bahkan begitu kental, tapi kemudia mereka pergi begitu saja, tanpa kabar, Aku sudah tidak membutuhkan mereka lagi.

sungguh. aku sangat benci dengan muka dua. T_T

intinya aku sangat lelah. aku ingin balik seperti dulu, tenang, sama seperti ketika aku nulis bad boy series dan yang lainnya.

aku sudah lelah…

aku ingin kembali….

Baby, oh Baby! – Chapter 3 (Aku ingin bercinta)

Comments 3 Standard

Baby, oh Baby!

 

Chapter 3

-Aku ingin bercinta-

 

Empat tahun yang lalu…..

Satu minggu berlalu setelah menghabiskan waktu bersama, membuat Rosaline mengenal Dimitri lebih dekat dari sebelumnya. Lelaki itu sangat perhatian, bahkan bisa dibilang romantis, padahal hubungan mereka tak lebih dari sebatas kenalan.

Tapi tadi, saat keduanya terpana satu sama lain ketika melihat keindahan danau Onega, membuat Rosaline tidak menyangka jika Dimitri akan menautkan bibir mereka disana. Membakar tubuh mereka dengan gairah yang menyala-nyala. Bagaiamana mungkin ia merasakan perasaan seperti ini pada orang seasing Dimitri?

Dimitri lalu mengajaknya kembali dengan cepat, bahkan lelaki itu memilih menyewa hotel yang letaknya tak jauh dari danau. Dan kini, mereka tengah sibuk mencurahkan hasrat masing-masing.

“Aku menginginkanmu, Rose….”

“Aku mencintaimu…”

“Kau begitu cantik…”

“Biarkan aku memilikimu, maka akan kuberikan segalanya untukmu….”

Entah apa saja kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Dimitri. Racauan-racauan tak jelas dalam bahasa Rusia, hingga yang dapat Rosaline lakukan hanya mengerang membalas semua racauan dari lelaki tersebut.

Rosaline telentang dengan pasrah di atas ranjang, sedangkan tubuhnya sudah polos setelah Dimitri melucutinya. Kini, lelaki itu tengah sibuh membuka pakaiannnya sendiri, membuat Rose takjub dengan keindahan yang terpampang sempurna di hadapannya.

Tubuh Dimitri tampak kekar, berotot, dengan kulit putih khas orang Rusia. Lelaki itu tampak menggairahkan ketika tubuhnya sudah polos sama seperti dirinya. Rosaline menggeliat tak menentu di atas ranjang. Padahal Dimitri belum menyentuhnya. Dan ketika Dimitri membebaskan bukti gairahnya, yang bisa Rose lakukan hanya menahan napasnya, saat tahu betapa menakjubkannya bukti gairah lelaki itu.

Rosaline terduduk seketika, berharap jika Dimitri mengizinkannya untuk menyentuh bukti girah lelaki itu. Tapi apa yang Rose inginkan nyatanya tidak terpenuhi, saat Dimitri memilih kembali mendorong tubuh Rosaline hingga wanita itu kembali telentang di bawah tindihannya.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Dimitri dengan suara yang sudah serak.

“Menyentuhmu, aku ingin menyentuh milikmu.”

“Tidak akan kubiarkan.”

“Kenapa?” Rose bertanya dengan penasaran.

“Karena aku yang akan menyentuhmu.” Dan setelah itu, Dimitri kembali melumat bibir Rosaline. Jemarinya sudah bergerilya, mencari pusat diri Rosaline, memainkannya, menggodanya, hingga yang dapat Rose lakukan hanya mengerang pasrah dalam cumbuan Dimitri.

Bibir Dimitri turun kebawah, meninggalkan Rose dengan desahan-desahan panjangnya, lalu bibirnya mendarat pada puncak payudara wanita itu, melumatnya, menghisapnya, sedangkan jemarinya sudah membelai lembut pusat diri Rosaline.

Erangan yang keluar dari bibir Rose tak mampu membuat Dimitri bertahan, erangan itu bagaikan nyanyian erotis yang mampu meningkatkan gairahnya secara pelan tapi pasti. Oh, Rosaline benar-benar membuatnya frustasi dengan gairah yang menghantamnya lagi dan lagi.

Hingga ketika Dimitri tak mampu lagi menahannya, ia menghentikan aksinya lalu berkata lembut pada Rose. “Aku akan memulainya.”

Rosaline tidak menjawab,ia hanya mengangguk pasrah, sibuk dengan kenikmatan yang menyerangnya hingga ia tidak peduli ketika Dimitri memasang pengaman pada bukti gairahnya sebelum menyatukan diri seketika dengan dirinya.

“Rose, kau, luar biasa.” ucapnya dalam bahasa Rusia.

Rosaline tidak menjawab, karena ia masih sibuk mengontrol diri agar tidak berteriak ketika Dimitri terasa penuh mengisinya. Dimitri mulai bergerak, bibirnya kembali meraih bibir Rosaline, melumatnya bahkan sesekali menggigitnya. Keduanya begitu menikmati percintaan panas pertama mereka, hingga mereka tidak sadar, jika sejak saat itu, tubuh mereka seakan candu satu dengan yang lainnya.

“Karena kau, aku melakukannya bukan hanya karena bayinya, tapi karena kau. Karena aku menginginkanmu.”

Dimitri menarik Rosaline mendekat ke arahnya, mengulurkan jemarinya untuk mengusap lembut pipi Rosaline. Rose yang masih terpana dengan kelembutan Dimitri tidak menyadari jika kini wajahnya sudah semakin dekat dengan wajah Dimitri.

“Karena kau, karena aku menginginkanmu.” Dimitri mengulangi kalimtnya lagi dengan suara nyaris tak terdengar, ia semakin mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

Rosaline semakin terpana ketika melihat bibir Dimitri, ia bahkan sudah menjinjitkan kakinya berharp bisa meraih bibir lelaki itu dan melumatya. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa berdekatan seperti ini saja membuat Rosaline merasa terbakar?

“Kau, ingin menciumku, Rose?” pertanyaan Dimitri sontak menyadarkan Rosaline dari fantasinya.

Ya, sial! Ia bahkan sempat berfantasi bahwa malam ini dirinya akan mendesah dibawah tindihan Dimitri.

Secapat kilat Rosaline melepaskan diri dari Dimitri, ia bahkan mendorong dada Dimitri agar menjauh dari dirinya. Rosaline menatap Dimitri dengan tatapan marah, marah karena lelaki itu sudah mampu membuatnya tergoda kembali. Sedangkan Dimitri, ia malah tersenyum melihat tingkah Rosaline.

Rosaline membalikkan diri, berjalan cepat meninggalkan Dimitri. Lalu langkahnya terhenti saat ia mendengar teriakan Dimitri.

“Kau masih mencintaiku, aku tahu, Rose!” Lelaki itu berteriak tapi dengan nada santai, bahkan lelaki itu menyisipkan senyuman mengejeknya hingga membuat Rosaline semakin kesal.

Dengan kesal Rosaline membalikkan tubuhnya dan berseru keras pada Dimitri “Pergilah ke neraka!” lalu ia kembali berjalan cepat meninggalkan Dimitri yang tak berhenti menyunggingkan senyuman kemenangannya.

Rose masih menjadi miliknya, wanita itu tak akan lepas dari genggaman tanganya….

***

Hingga menjelang pagi, mata Rosaline tak dapat tertutup. Ia gelisah tak menentu di atas ranjangnya. Entahlah, ia bahkan tidak mengerti kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Bayangan tubuh telanjang Dimitri menari-nari dalam kepalanya. Membangkitkan fantasinya pada malam ini.

Astaga, apa yang sedang terjadi dengannya?

Rosaline bangkit, menyalakan lampu, lalu memilih keluar dari dalam kamarnya menuju ke arah dapur, sepertinya ia butuh minuman dingin untuk meredakan hawa panas di dalam tubuhnya.

Setelah menuangkan segelas air dingin, Rose menenggaknya hingga tandas, tapi ia merasa panas di dalam dirinya belum juga padam. Apa yang terjadi denganmu, Rose? Tanyanya pada dirinya sendiri.

Akhirnya, Rosaline meraih ponselnya, lalu menghubungi Ana. Ya, hanya Ana lah, teman yang sudah seperti saudaranya sendiri, dan wanita itu pastinya mau ia repotkan dengan curhatannya di tengah malam seperti saat ini.

Ana sepertinya sedang tidur karena temannya itu tak juga mengangkat telepon darinya, tapi Rose tidak patah semangat, ia menelepon lagi dan lagi karena ia memang butuh teman bicara agar pikirannya tidak memikirkan hal-hal panas yang membuat akal sehatnya hilang.

Setelah mencoba berkali-kali, Rosaline bersyukur karena Ana akhirnya mengangkat telepon darinya. Meskipun wanita itu terdengar kesal saat mengangkat telepon darinya.

“Rose,apa yang terjadi?” ya, itu adalah percampuran antara kesal dan juga khawatir.

“Uuum, apa aku mengganggumu? aku hanya butuh teman bicara.”

“Rose, ini sudah menjelang pagi, dan kau menggangguku hanya karena kau butuh teman bicara? Ini tidak lucu. Aku akan menutup teleponnya.”

“Ana, tolong. Jika kau membiarkan aku sendiri malam ini, maka aku bisa gila.”

“Apa yang terjadi? Astaga, aku sedang memiliki malam yang panas dengan Sean, dan kau mengganggunya.” Ana benar-benar terdengar kesal, dan Rose benar-benar menyesal karena sudah mengganggu temannya itu.

“Maaf, tapi kupikir, ini juga kesalahanmu.”

“Apa yang membuatku salah?”

Rosaline memejamkanmatanya frustasi. “Karena kau sudah membiarkan pria Rusia itu mengusik hidupku kembali.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Ada apa dengan Dimitri?” Ya, ketika Rosaline mengatakan ‘Pria Rusia’ maka Ana tahu jika yang dimaksud Rosaline adalah Dimitri.

Rose hanya diam, ia tidak tahu harus bagaimana menceritakan keadaannya pada Ana.

“Kenapa lagi, Rose?” tanya Ana lagi.

“Ya Tuhan! Aku ingin bercinta dengannya.” Rose tidak mengerti setan apa yang saat ini sedang bersemayam di dalam dirinya hingga ia mengucapkan kalimat menggelikan itu.

Setelah beberapa detik tak bereaksi, terdengar tawa lebar dari seberang telepon. “Astaga Rose, kau ingin seks?” tanya Ana dengan nada menggoda, dan sungguh, itu benar-benar membuat Rosaline kesal.

“Sepertinya aku memang salah sudah menghubungimu.” ucap Rosaline sembari bersiap menutup teleponnya

“Rose, tunggu.” Teriakan Ana membuat Rosaline menghentikan aksinya untuk menutup sambungan telepon. “Aku tidak bisa membantu banyak, tapi sedikit informasi, bahwa kebanyakan ibu hamil memang selalu menginginkan seks.”

“Maksudmu?”

“Hormon kalian sedang kacau, jadi keinginan untuk bercintapun semakin meningkat.”

“Jadi, aku akan sering mengalami hal ini?”

“Ya, bahkan mungkin lebih parah lagi.”

“Kau bercanda?” Rosaline bergidik ngeri. Sungguh, ia tidak bisa membiarkan dirinya gila karena ingin bercinta. Apalagi saat ia sedang tidak memiliki teman untuk diajak bercinta.

“Rose, sebaiknya kau memikirkan kahadiran Dimitri. Kupikir… dia cukup menarik untuk dijadikan teman bercinta.” ucap Ana diiringi dengan tawa khasnya.

Ya, sempurna! Ana memang benar-benar sudah gila karena berani mengusulkan ide gila itu padanya.

Dimitri memang cukup menarik, Tidak! Bahkan sangat menarik untuk diajak bercinta. Rosaline tahu bagaimana mahirnya lelaki itu ketika di atas ranjang. Tapi menjadikan lelaki itu hanya sebagai teman bercinta untuk memuaskan dahaganya tanpa melibatkan perasaannya benar-benar mustahil. Ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri, bahkan hingga kini, Rose tidak yakin, apa ia sudah mampu melupakan perasaannya dulu pada lelaki itu, atau belum.

Nyatanya, hingga kini, Dimitri masih sangat mempengaruhinya, mengintimidasinya hingga membuatnya seakan kehilagan akal sehatnya.

Tuhan! Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana mungkin ia mendapatkan nasib sesial ini?

-TBC-

Baby, oh Baby! – Chapter 2 (Aku menginginkanmu!)

Comments 3 Standard

Baby, oh Baby!

 

Chapter 2

-Aku menginginkanmu!-

 

“Kau tidak bisa lari menghindari dia selamanya, Rose.” Ana berkomentar dengan napas terengah, karena saat ini ia sedang berlari di atas treadmill.

Ya, saat ini, Rosaline menghabiskan sorenya di tempat Gym bersama dengan Ana. Setidaknya ia ingin bersama temannya itu ketimbang harus di rumah sendirian lalu digaggu lagi oleh Dimitri.

“Dan kau selaku pembuat masalah harus membantuku menghindarinya.”

“Kau belum juga memaafkan aku tentang hal itu?”

“Ya, ini benar-benar gila, Ana. Aku meninggalkannya Empat tahun yang lalu karena aku merasa dia memperlakukanku sebagai ternak untuk melahirkan keturunan untuknya, dan kini, kau sekan mewujudkan keinginannya.”

Ana menghentikan mesin treadmillnya. “Tunggu dulu, kau tidak bercerita begitu. Kau hanya bercerita kalau Dimitri menyukai wanita lain.”

“Ya, dan dia tidak bisa mencetak keturunan dengan wanita itu, maka dari itu dia memanfaatkanku, turis tolol yang mau dia nikahi setelah sebulan berkenalan.”

“Kau bicara apa? Kenapa dia tidak bisa membuat keturunan dengan wanita itu?”

Rosaline mematikan mesin treadmillnya. “Karena wanita itu adalah adik kandungnya sendiri. Kau puas?” Ana ternganga dengan apa yang baru saja diucapkan Rosaline. Sister complex? Apa Dimitri mengidap kelainan itu? Yang benar saja.

Empat Tahun yang lalu….

“Tuan, Anda tidak perlu melakukan ini.” Sungguh, Rose tidak menyangka jika lelaki yang baru saja ia temui menolongnya, memeblikannya sebuah kamera yang baginya cukup mahal.

“Dimitri, panggil saja begitu.” Lelaki yang mengenalkan diri sebagai Dimitri itu malah tersenyum lembut pada Rosaline. Rose terpana dengan senyuman tersebut.

“Rose. Rosaline Dawson.” Rose mengenalkan diri, ia baru sadar jika sejak tadi mereka belum mengetahui nama satu sama lain.

“Rose Dawson? Tittanic?” tanya Dimitri hingga membuat Rose tertawa lebar.

“Ya, mungkin ibuku terobsesi dengan film itu.”

“Baiklah, Rose. Ada yang kau perlukan lagi?”

“Sungguh, ini berlebihan untukku. Kau tidak perlu membelikanku kamera seperti ini.”

“Aku tidak tega melihatmu menangis seperti tadi.”

“Kekanakan, ya?” Rose merasa sangat malu. Tapi bagaimana lagi, ia tidak mungkin menggunakan sisa uangnya untuk membeli sebuah kamera. Dan ia juga sangat menyesal karena kameranya patah dan  rusak.

“Tidak, sedikit lucu saja.”

“Apa yang lucu?”

Dimitri tertawa. “Bagaimana jika kau balas saja apa yang sudah kuberikan padamu.”

“Membalasnya? Dengan apa?”

“Menghabiskan waktumu di sini denganku, kita bisa mengunjungi tempat wisata bersama-sama. Aku akan menemanimu. Bagaimana?”

Mata Rose berbinar seketika. Ya, itu sangat sempurna. Ia memang membutuhkan seorang pemandu wisata, dan dengan adanya Dimitri, bukankah itu sangat sempurna?

“Kau yakin? Maksudku, aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membayarmu.”

Lagi-lagi Dimitri tertawa lebar. “Aku tidak membutuhkan uang, cukup menghabiskan liburan denganmu, itu saja.” Dan ya, Rosaline tak dapat menolak apa yang diusulkan Dimitri. Masalahnya ia sudah sangat terpana dengan sosok lelaki itu. Dan ia tak tahu apa yang membuatnya begitu tertarik dengan lelaki ini hingga ia tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja ia dapatkan karena terlalu dekat dengan orang asing.

 

Rosaline mengguyur tubuhnya ketika bayangan Empat tahun yang lalu kembali teringat dalam pikirannya. Bayangan ketika Dimitri dapat dengan mudah menjeratnya dalam pesona lelaki tersebut. sungguh bodoh!

Selesai menggosok seluruh bagian dari kulitya, Rose mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu memakai pakaian gantinya. T-shirt yang sudah terasa lebih sesak dari sebelumnya. Ya, mungkin karena payudaranya yang sedikit membesar, atau mungkin karena pinggangnya yang semakin melebar efek dari kehamilan yang ia alami.

Rose keluar, menuju ruang ganti, yang ternyata di sana sudah ada Ana yang masih setia menunggunya. Temannya itu sudah siap, dan melihat Ana di sana membuat Rose kembali teringat dengan masalahnya dengan Dimitri.

“Kau tampak kesal. Kau masih memikirkan Dimitri? Kau boleh menginap di rumahku malam ini.” Tawar Ana.

“Aku hanya kesal karena bajuku mulai terasa sesak.”

Ana memutar bola matanya. “Ayolah Rose, berat badanmu bahkan belum naik 10 pound.”

“Tapi aku sudah merasa seperti babi yang siap dipotong.”

Ana tertawa lebar, ia meraih tasnya sembari mengajak Rosaline keluar dari tempat Gym. “Tunggu saja sampai usia kandunganmu menginjak Tujuh hingga sembilan bulan.”

“Kenapa? Apa yang yang akan kualami?”

Masih dengan tertawa, Ana menjawab “Tidak, kau hanya akan susah tidur, susah melihat jempol kakimu, sakit pinggang dan yang paling menyebalkan adalah, kau akan berteman dengan toilet.”

“Oh yang benar saja, kupikir ada yang lebih mengerikan dari itu.” Ana tidak menjawab, karena ia memilih menyikut Rosaline sembari meminta Rosaline untuk menolehkan kepalanya ke belakang. Rose akhirnya menangkap isyarat Ana, dan dia benar-benar terkejut saat mendapati Dimitri sudah berdiri tegap tepat di belakangnya dengan kedua belah tangannya yang masuk ke dalam saku mantelnya.

“A-apa yang kau lakukan disini?”

“Mencarimu.”

“Apa?”

“Kau benar-benar melarikan diri, Rose. Tapi kau tidak akan bisa lari kemana-mana.”

“Kau membayar orang untuk mengawasi kemanapun aku pergi?”

“Ya.” Dimitri tidak menyangkal. “Dan sekarang aku menjemputmu.”

“Tidak! Aku akan tinggal di rumah Ana untuk sementara waktu.”

“Rose.” Ana memotong kalimat Rosaline. “Sepertinya, kau memang harus pulang dengan dia.”

Rosaline membulatkan matanya ke arah Ana. “Kenapa? Kau tidak sedang diancam oleh dia,kan?”

“Tidak, Rose.”

Tapi Rosaline tetap saja menatap ke arah Dimitri dengan tatapan tajam membunuhnya. “Apa yang sedang kau rencanakan? Kau mengancamnya? Atau kau sedang membayarnya untuk berpihak padamu?”

“Aku hanya butuh sedikit dukungan, Rose.” Lagi-lagi, Dimitri tidak mengelak.

“Persetan denganmu!” Rosaline berseru keras sembari berjalan pergi meninggalkan Dimitri dan juga Ana.

Ana memanggil-manggil nama Rosaline, ia bahkan akan mengejar Rosaline, tapi Dimitri memintanya untuk tidak ikut campur urusan mereka.

“Terimakasih atas perhatianmu, tapi aku yang akan menyelesaikan msalahku dengan dia.” Setelah itu Dimitri berjalan cepat menyusul Rosaline tepat di belakang wanita itu. Ana hanya ternganga melihat kejadian itu. Astaga, Rose pasti akan sangat membencinya, tapi bagaimana lagi, ia tak bisa berbuat banyak.

***

“Apa yang kau inginkan?!” Rosaline berseru keras saat ia tahu jika Dimitri berjalan tepat di belakangnya. Bahkan hingga kini dirinya sudah hampir sampai di flat sewaannya.

“Aku ingin melindungimu.”

“Apa? Yang benar saja.”

“Rose, kau berjalan terlalu cepat, kau bisa tersandung dan jatuh.”

“Aku tidak peduli.” Rosaline semakin mempercepat langkahnya, begitupun dengan Dimitri, karena ia tidak ingin berada terlalu jauh dengan wanita itu.

“Kenapa kau sangat membenciku?”

Rosaline berhenti, ia membalikkan tubuhnya seketika. “Kenapa? Jadi kau belum mengerti juga?”

“Apa karena aku tidak mengejarmu saat kau pergi meninggalkanku dengan surat sialan itu?”

“Apa?”

“Perusahaanku sedang dalam masalah saat itu, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuatnya stabil kembali. Aku tidak mungkin meninggalkannya saat itu.”

“Dan aku tidak peduli dengan cerita dramatismu. Lebih baik, kau kembali saja ke negaramu, dan biarkan aku hidup sendiri tanpa gangguanmu.”

“Tidak bisa, Rose, aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu.”

“Kenapa? Karena bayinya? Kau bisa menghamili wanita lain lagi dan membuatnya mengandung bayimu. Jadi lupakan saja bayi ini.” Rosaline membalikkan tubuhnya dan bersiap berjalan meninggalkan Dimitri. Tapi secepat kilat Dimitri meraih pergelangan tangannya lalu menariknya hingga tubuh Rose membentur pada tubuhnya.

“Apa yang kau katakan? Aku tidak menginginkan wanita lain mengandung bayiku, aku hanya ingin kau.”

Rosaline meronta. “Aku tidak ingin kau memperlakukanku seperti ternak.”

“Kau bukan ternak, kau istriku.”

“Kita sudah berpisah! Lepaskan aku!” Rosaline berseru keras. Tapi Dimitri tidak mengindahkan seruannya. “Jika kau berpikir aku akan menyerah dan menyerahkan bayi ini untukmu, maka kau salah. Aku tidak akan pernah melakukannya.”

“Karena kau, aku melakukannya bukan hanya karena bayinya, tapi karena kau. Karena aku menginginkanmu.”

Rosaline sempat ternganga dengan ucapan Dimitri. Ia menatap mata hazel milik lelaki itu, lalu seakan mata itu kembali menghisapnya, menenggelamkannya dalam sebuah rasa yang dulu pernah ia rasakan pada Dimitri. Tidak! Bahkan sekarangpun Rose masih merasakannya. Lalu bayangan itu kembali mencuat dalam ingatanya, bayangan ketika lelaki ini memperlihatkan ketulusannya empat tahun yang lalu, hingga membuat Rosaline jatuh lagi dan lagi dalam pesonanya.

“Aku menginginkanmu, Rose….”

“Aku mencintaimu…”

“Kau begitu cantik…”

“Biarkan aku memilikimu, maka akan kuberikan segalanya untukmu….”

-TBC-

Baby, oh Baby! – Chapter 1 (Kamera)

Comments 4 Standard

Baby, oh Baby!

 

Haiiii, seperti Samantha, kisah ini berlatar tempat di luar negeri, jadi aku mencoba menulis ala-ala novel terjemahan gitu. hahhahha tiap partnya akan sedikit lebih pendek dari cerita2ku sebelumnya, karena aku maunya Update sesering mungkin, walau nggak tiap hari. wakakakkakak semoga suka yaaa wakakakak

 

Chapter 1

-Kamera-

 

Rosaline tidak berhenti memuntahkan isi di dalam perutnya sepagian ini. Ya, kehamilannya kini memang sudah menginjak usia lebih dari Tiga bulan, tapi mual muntah masih saja ia rasakan apalagi saat pagi-pagi seperti saat ini.

Setelah sudah merasa cukup, Rosaline keluar dari kamar mandi. Ia memilih menenggelamkan diri di atas sofa santainya yang ada di ruang tengah flat mungil yang ia sewa. Ini adalah hari minggu, sepertinya menghabiskan waktu di depan televisi bukanlah hal yang membosankan. Pikirnya.

Tak lupa, Rose menyiapkan cemilan siangnya dengan secangkir cokelat panas. Seekor anjing datang menghampirinya. Snowky ia memanggilnya. Anjing berjenis Siberian Husky itu memang sudah sejak dua tahun terakhir menemani hari-harinya.

“Hei, hei, kemarilah.” ucapnya pada Snowky. Snowky melompat ke arah Rosaline lalu menggulingka dirinya dengan sesekali mengendus wajah Rosaline. Rosaline terkikik bahagia. Sungguh, adanya Snowky memang membuat harinya terasa lebih sempurna, ia sedikit menghilangkan kesepiannya dengan kehadiran Snowky, dan dengan adanya bayinya nanti, Rosaline yakin jika kehidupanya akan semakin sempurna.

Saat Rosaline asyik bermanja-manja dengan Snowky, pintu Flatnya di ketuk seseorang. Rose diam sebentar, berpikir kira-kira siapa yang datang minggu-minggu seperti ini.

Ya, Rosaline adalah anak tunggal, sedangkan kedua orang tuanya sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan, yang artinya ia tidak memiliki keluarga lagi di dunia ini. Kehidupanya dulu sangat susah, ia menjual barang berharga milik kedua orang tuanya untuk bertahan hidup dan untuk modal usahanya dalam membuka toko hewan peliharaan dan keperluannya. Hingga kini, yang bisa ia lakukan hanya menyewa flat sederhana. Ya, tentu saja itu sesuai dengan penghasilan dari usahanya.

Sebuah keberuntungan ia dapatkan Empat tahun yang lalu, saat ia memenangkan sebuah undian untuk berlibur selama sebulan ke Rusia. Dari sanalah kehidupan asmaranya dimulai. Ia bertemu dengan sosok asing, tampan, dan berkarisma. Lelaki itu bernama Dimitri Armanzandrov. Rose jatuh cinta pada pandangan pertama dengan lelaki itu. Hingga ketika lelaki itu tiba-tiba melamarnya, yang dapat Rose lakukan hanya menerimanya.

Rosaline menggelengkan kepalanya seketika. Sungguh,ia tidak ingin lagi mengingat-ingat masa lalunya bersama dengan Dimitri. Lelaki licik yang seharusnya tidak ia cintai. Rose kembali menghela napas panjang.ia baru sadar ketika terdengar kembali sebuah ketukan pintu.

Apa itu orang pesuruh Dimitri?

Karena hampir setiap hari, orang pesuruh Dimitri datang ke rumahnya untuk membawakan sesuatu, entah itu makanan yang bergizi atau lain sebagainya. Sungguh, Rose malah merasa semakin risih dengan apa yang sudah dilakukan lelaki itu.

Mendengus sebal, Rose bangkit dan berjalan menuju ke arah pintu dengan Snowky yang setia menemani di sisiya. Ia masih berharap jika yang datang bukanah pesuruh Dimitri, melainkan Ana, atau pelanggan dari tokohnya mungkin. Sungguh, Rose sangat tidak suka jika ia harus kembali berurusan dengan Dimitri.

Tapi ketik ia membuka pintu flatnya, hampir terkejut ketika ia mendapati sosok itu. Dimitri Armanzandrov tengah berdiri menjulang di ambang pintu. Tinggi, kekar, dan tampan, seperti biasa. Tampak berkuasa dengan setelannya. Sungguh, lelaki ini sangat tidak pantas berada di flat sederhananya ini.

“Apa kabar?” tanyanya dengan penuh kearoganan. Ya, seperti biasa.

Sejak hari itu, hari dimana ia diberi tahu Ana tentang ayah bayi yang ia kandung, hidup Rose kembali seperti sebuah mimpi buruk. Meski Dimitri tidak menemuinya lagi –karena ia tahu bahwa lelaki itu pasti akan sangat sibuk dengan pekerjaannya, tapi tetap saja, banyak pesuruh Dimitri yag datang kepadanya. Dan itu benar-benar membuat Rose terganggu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Rose dengan nada tidak suka.

“Itu bukan sambutan yang baik, Rose.”

“Aku memang tidak sedang menyambut baik kedatanganmu.”

Dimitri tersenyum penuh misterius, dan sungguh, Rose tidak menyukai senyum itu. “Aku datang untuk mengunjungi bayiku.”

“Apa?”

“Kau, menolak semua pemberianku, dan itu membuatku datang menemuimu, kau sudah salah karena berani melawanku, Rose.”

Sungguh, Rosaline sangat ingin mencakar wajah lelaki yang sok keren di hadapannya itu, tapi Rose tak dapat memungkiri jika ia masih menyimpan hati untuk lelaki ini. Ahh, kenapa Dimitri kembali hadir dalam kehidupannya? Kenapa pada saat seperti ini? Pada keadaan seperti ini?

“Tolong, aku sudah meminta supaya kau tidak lagi mengganggu kehidupanku.”

“Aku tidak mengganggumu, aku hanya ingin dekat dengan bayiku.”

“Bayiku!” Rosaline berseru cepat sambil mendaratkan telapak tangannya pada perutnya sendiri. “Jika kau berpikir aku akan menyerahkan bayiku untukmu, maka kau salah besar.”

“Rose.”

“Aku tidak peduli apa yang kau katakan. Aku tidak memintamu untuk mendonorkan spermamu. Jika kau berpikir bahwa kau turut handil dalam kehamilanku, maka kau  salah, lebih baik kau salahkan Ana, kenapa dia memasukkan spermamu ke dalam rahimku.”

“Cukup, Rose.” Dimitri menggeram kesal. “Kupikir kau berbicara terlalu banyak.”

“Ya, aku akan terus berbicra sebelum kau pergi dari sini.”

“Aku tidak akan pergi, karena aku akan menghabiskan mingguku bersamamu.”

“Apa?”

Lalu tanpa banyak bicara, Dimitri masuk begitu saja ke dalam flat milik Rosaline, Snowky menggonggong karena menganggap Dimitri adalah orang asing, mungkin anjing itu tidak suka dengan kedatangan Dimitri.

“Sepertinya kau memiliki pegawal.” Dimitri melirik ke arah Snowky.

“Snowky, kemarilah.” Rosaline berjongkok dan Snowky segera menghambur ke arahnya

Dimitri menatap ke segala penjuru ruangan. Lalu berkomentar. “Flat ini terlalu kecil untuk bayi.”

“Aku tidak membutuhkan komentarmu.”

“Rose, kita harus memikirkan masa depan kita.”

“Masa depan kita? Maaf, harus kukoreksi kalau ini hanya tentang masa depanku. Kau tidak termasuk di dalamnya.”

“Sayang sekali, kau sudah menarikku masuk ke dalamnya dengan mengandung bayiku.”

“Oh Dimitri, sebenarnya apa yang kau inginkan?” Rosaline mendesah frustasi, sungguh, ia membenci hal ini. Ia tidak suka jika lelaki ini ikut campur dengan kehidupanya.

Dimitri berjalan mendekat, lalu mengusap lembut puncak kepala Rosaline. “Aku hanya ingin hubungan kita membaik.”

Rosaline sempat terpana dengan kelembutan Dimitri, tapi kemudian ia segera menepis semua perasaannya. Rosaline menggelengkan kepalanya. “Tidak! Hubungan kita tidak akan kembali membaik karena pengkhianatanmu dulu terhadapku.”

“Rose, kau  masih memikirkan tentang hal itu?”

“Ya, sampai kapanpun. Aku tidak akan pernah bisa melupakan saat aku ditipu habis-habisan oleh pria Rusia.”

“Rose.”

“Lebih baik kau pergi. Stress tida baik untuk ibu hamil, dan melihatmu di sini membuatku semakin stress.”

Dimitri menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan pergi. Nanti malam aku akan menemuimu kembali untuk memastikan keadaanmu.”

Ya terserah. Rose menggumam dalam hati, karena nanti malam ia akan mencari cara agar tidak bertemu dengan Dimitri. Rose menutup pintu flatnya lalu menguncinya dari dalam, setelah itu, ia menghela napas panjang.

Sial! Bayang pertemua pertamanya dengan Dimitri Empat tahun yang lalu tiba-tiba mencuat begitu saja dalam kepalanya.

Empat Tahun yang lalu…..

Kremlin, adalah salah satu tempat yang dikunjungi Rosaline, ia sudah menyiapkan kamera dan lain sebagainya untuk mengambil gambar-gambar di benteng bersejarah tersebut. saat ia asyik mengambil gambar denga kameranya, tiba-tiba tubuhnya di tabrak oleh seseorang dari belakang hingga ia tersungkur.

Rosaline mengerang kesakitan, karena lutut dan telapak tangannya tergores, belum lagi kenyataan jika kamera yang ia bawah patah karena jatuh tertindih oleh tubuhnya.

“Nona, Anda tidak apa-apa?” Seorang lelaki berjongkok menolong Rosaline. Lelaki tampan dengan mata Hazelnya. Oh, Rosaline bahkan sempat ternganga karena terpana dengan mata keindahan mata tersebut.

“Ya, saya, baik-baik saja.”

“Anda terluka.” Lelaki itu menatap telapak tangan Rosaline.

“Ya, sepertinya begitu.”

“Dan kamera Anda….” Lelaki itu meraih kamera Rosaline yang sudah patah.

Sungguh, Rose merasa sangat sial. Apa yang akan ia lakukan dengan sebuah kamera yang sudah patah? Astaga, bagaimana mungkin ia bisa seceroboh ini? Sedih, tentu saja. Masih banyak tempat yang harus ia kunjungi, ia bahkan berjanji bahwa dirinya akan mengambil gambarnya sendiri di tempat-tempat indah itu. Dan kini, tanpa kamera semuanya sepertinya menjadi angan belaka.

“Kau, benar-benar baik-baik saja?” lelaki itu bertanya sekali lagi kali ini bukan dengan nada formal.

Rose menatap lelaki itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “Kameraku patah, astaga, apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin mengambil gambar dengan ponselku.” Lalu seperti anak kecil, Rosaline menangis sesenggukan menangisi kesialannya.

Oh, bukakah itu hanya sebuah kamera? Ya, tapi karena kamera itulah ia mengenal sosok tersebut. sosok tampan yang mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, hingga Rosaline tahu jika semua itu adalah awal dari mimpi buruknya.

-TBC-