romantis

Secret Wife – Chapter 11 (Hanya ingin melihatmu)

 

Secret Wife

 

Alden menunduk, ia tidak tahu harus menjawab apa, semua perasaan di dalam dadanya seakan-akan teraduk menjadi satu. Kerinduan yang membuncah pada sosok Naura, penyesalan yang tak pernah ada akhirnya untuk sosok tersebut, serta rasa ingin memiliki yang kian hari kian bertambah untuk wanita itu, membuat Alden menghela napas panjang dan dengan spontan menjawab “Untuk Naura, aku menyimpan semua itu untuk Naura.”

Dan ya, Alisha dapat menebaknya dengan sempurna. Alisha tadi sempat curiga, jika kalung dan cincin itu sengaja Alden beli untuk Naura, dan ternyata, apa yang ia pikirkan tidaklah meleset. Alden mencintai Naura, Alisha tahu itu, karena ia dapat melihat dengan jelas dari ekspresi yang terukir di wajah puteranya, dari mata yang seakan turut serta berbicara. Tapi apa yang membuat puteranya itu menyembunyikan semuanya? Apa yang membuat Alden hanya bisa menyimpan barang-barang tersebut layaknya mengubur rasa cintanya tanpa memberitahukan pada dunia tentang apa yang ia rasakan sebenarnya?

****  

Chapter 11

-Hanya ingin melihatmu-

 

“Ka- kamu yakin, Sayang?” tanya Alisha yang seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri jika Alden tidak salah berbicara.

Alden meminta kembali kotak tersebut, lalu Alisha mengembalikan kotak berisi berlian itu pada Alden. “Sudahlah Ma, lupakan saja.”

“Kenapa? Kalau kamu mencintai seseorang, maka berjuanglah untuk mendapatkan orang tersebut.”

“Aku tidak mencintainya, Ma.”

“Kalau kamu nggak mencintainya, kamu nggak akan mungkin menyimpan barang-barang ini untuknya.”

Alden hanya diam terpaku. Ya, ia sendiri tidak mengerti, perasaan apa yang sedang ia rasakan pada Naura.

“Sebenarnya mama sudah lama curiga dengan hubungan kamu dan Naura, apalagi saat itu, mama sempat memergoki Naura keluar dari dalam kamar kamu saat tengah malam.”

Alden menatap sang mama seketika. “Ma.”

“Ya, mama nggak sengaja melihatnya. Beberapa kali mama ingin bertanya sama kamu, tapi mama urungkan, karena mungkin suatu saat kamu akan bercerita dengan sendirinya sama Mama. Lalu semuanya terjadi begitu cepat ketika kamu ke luar negeri, dan mama sudah melupakan semuanya. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan kalian?”

Oh, Alden tak mungkin menceritakan semuanya dengan sang mama. Menceritakan semua kebejatan yang ia lakukan terhadap Naura.

“Semuanya sudah jadi masa lalu.” Alden berdiri seketika lalu menyimpan kotak tersebut ke dalam lemarinya.

“Benarkah? Hanya masa lalu tanpa arti? Yang mama lihat, interaksi antara kamu dan Naura beberapa hari terakhir sangat berbeda dengan Tujuh tahun yang lalu. Apa yang sudah terjadi, Al?”

“Kami sudah putus, Ma. Jadi wajar saja kalau interaksi kami jadi canggung satu sama lain.”

“Enggak, kalian nggak sedang canggung satu sama lain. Naura melihatmu dengan mata yang melukiskan kesedihan, sedangkan kamu melihat Naura dengan penuh penyesalan, meski rasa memiliki masih sangat kental tampak di mata kamu.”

Alden mendengus sebal. “Mama apaan sih? Mama kayak pakar ekspresi aja.”

“Bukan hanya mama, Al. bahkan Angel juga melihat hal yang sama dengan apa yang mama lihat.”|

“Ckk, Mama sama Angel terlalu banyak nonton sinetron yang nggak mutu.”

“Kami nggak suka sinetron, kami lebih suka drama korea.”

“Drama apa yang mama suka?”

“Alden! Kita nggak sedang berbagi sinopsis drama yang pernah mama tonton, kita sedang membahas tentang hubungan kamu dengan Naura.”

“Nggak ada lagi yang perlu di bahas, Ma. Sekarang mendingan mama balik dan tidur, ini sudah malam. Aku mau keluar sebentar.”

“Kemana? Bukan ke rumah Naura, Kan?”

“Enggak.”

“Angel bilang kamu kemarin nginep di sana.”

Lagi-lagi Alden mendengus sebal. “Angel cuma ngada-ngada, sudah mendingan mama balik ke kamar dan tidur, Papa pasti sudah nungguin.” ucap Alden yang dengan kurang ajarnya mendorong tubuh sang Mama menuju ke arah pintu.

“Tapi, pesta nanti kamu ngajak Naura, kan?”

“Enggak, dia datang sama tunangannya.”

Dan Alisha baru ingat jika Naura sudah memiliki tunangan. Oh, apa ini alasan kenapa Alden memungkiri perasaannya? Inikah alasan kenapa puteranya itu memilih mengubur semuanya dari pada mengungkapkannya pada Naura? Jika memang benar begitu, Alden saat ini pasti sedang dalam fase patah hati, dan sebagai ibu, ia seharusnya mengerti.

Alisha akhirnya memilih mengalah, ia membuka pintu kamar Alden dan keluar dari sana, tapi sebelum ia menutup kembali pintu kamar Alden, ia kembali berpesan.

“Al, kalau ada apa-apa, cerita sama Mama, Mama akan selalu ada untuk kamu.”

Alden tersenyum dan mengangguk patuh. Lalu Alisha pergi, tak lupa, ia menutup pintu kamar Alden. Alden menghela napas panjang setelah sang mama menghilang di balik pintu. Ia lelah, lelah menutupi semuanya, haruskah ia mulai membuka satu demi satu rahasia masa lalu suramnya?

***

Naura sedikit bingung, saat tiba-tiba Panji mengajaknya makan malam di sebuah rumah makan. Memang bukan makan malam yang mewah, tapi tetap saja itu membuat Naura bertanya-tanya. Masalahnya, mereka tidak sedang merayakan perayaan apapun, dan lagian, kemarin malam, Panji marah terhadapnya, bahkan tadi pagi, lelaki itu tidak kunjung menghubunginya. Bagaimana mungkin malam ini Panji bersikap biasa-biasa saja seperti sedang tidak terjadi apapun?

Naura masih menunduk, di hadapannya sudah terdapat buku menu, tapi ia masih tidak tahu harus memilih menu apa. Perasaannya campur aduk. Panji tidak seperti biasanya, dan itu benar-benar membuat Naura kurang nyaman.

Belum lagi tentang apa yang sudah terjadi dengannya sepanjang hari ini. Tadi pagi sampai siang, ia direpotkan dengan Alden yang berada di rumahnya, bersikap seenaknya sendiri, lalu mengorek-ngorek luka masa lalu mereka. Belum cukup dengan itu, Alden juga asal bicara dengan Angel, hingga membuat Angel sesorean ini mengamatinya terus menerus. Angel bahkan secara terang-terangan bertanya padanya tadi sore…

“Jadi, beneran kakak nginep di rumah kamu?” sedikit terkejut karena tanpa basa-basi Angel menanyakan pertanyaan tersebut pada Naura ketika gadis itu datang menghampiri Naura

“Uum, jangan percaya, dia cuma mengada-ada.”

“Mengada-ada bagaimana? Kalian bahkan pulang bareng. Dan ini, wajahmu tampak merah padam seperti sedang menyembunyikan sesuatu.”

Naura tak lagi menjawab, ia memilih diam, karena tentu saja ia takut salah kata. Jika keluarga Revaldi harus mengetahui tentang hubungan gelap mereka selama ini, maka Aldenlah yang harus menceritakan semuanya, bukan dirinya.

“Ra, bukannya aku nggak setuju kakak punya hubungan sama kamu, tapi kamu kan sudah ada tunangan? Aku cuma nggak mau Kak Alden tersakiti dan patah hati karena hal ini.”

Tersakiti? Patah hati? Astaga…. Bahkan selama ini, dirinyalah yang tersakiti karena sikap Alden, Aldenlah yang selama Enam tahun terakhir mematahkan hatinya, ketika ia tahu jika semua yang terjadi padanya tak lebih dari sebuah rencana kejam lelaki itu.

“Kamu tenang aja, nggak ada hubungan apa-apa kok diantara kami.”

“Tapi kakak terlihat tertarik sama kamu.”

“Mungkin hanya perasaan kamu saja.”

Angel tidak membalas pernyataan Naura, ia hanya menatap Naura, mengamati gerak gerik Naura, sedangkan Naura sendiri mencoba tidak terpengaruh, ia memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya ketimbang harus membahas tentang Alden bersama dengan Angel.

“Ada yang kamu sembunyikan, aku tahu jika ada yang kalian sembunyikan.”

“Aku tidak bisa memaksamu mempercayaiku, jadi, semua terserah kamu saja.”

Angel mendengus sebal. “Ya, percuma juga bertanya denganmu, kamu pasti akan tutup mulut sampai kapanpun.” Setelah kalimtnya tersebut, Angel memilih pergi dari hadapan Naura. Naura berakhir dengan menghela napas panjang. Ya, setidaknya hari ini I bisa menghindar dari Angel, entah selanjutnya.

 

“Kenapa kamu nggak pesan apapun?” pertanyaan Panji membuat Naura mengangkat wajahnya seketika. Naura baru sadar jika sejak tadi dirinya hanya bengong menatap daftar menu di hadapannya.

“Uuum, aku nggak terbiasa ke tempat seperti ini sebelumnya, jadi aku nggak tahu harus pesan apa.”

Ya, memang, itu bukanlah restoran mewah, tapi tetap saja, untuk Naura yang hanya sekelas pembantu rumah tangga, ia hampir tak pernah makan di restoran-restoran seperti ini.

“Benarkah? Kupikir dia sering mengajakmu ke tempat seperti ini.” Panji menyindir.

Naura mengerutkan keningnya. “Dia?” tanya Naura dengan ekspresi bingungnya.

Panji tidak menjawab, ia malah memesan makanan kepada seorang pelayan yang memang sedang menuggu di meja mereka. Naura hanya diam, ia menunggu supaya pelayan itu segera pergi, lalu bertanya pada Panji tentang apa yang dimaksud lelaki itu.

“Apa maksud kamu?”

“Alden. Kamu ada hubungan serius sama dia, kan?”

Alden lagi? Astaga, tidak bisakah hidupnya tenang sehari saja tanpa bermasalah dengan lelaki itu? Dan Panji, bukankah lelaki ini sudah melupakan semua tentang kemarin malam, makanya dia mengajaknya makan malam bersama ke tempat seperti ini?

“Kupikir kamu sudah meluakan semuanya.”

“Ya, sebenarnya sudah, tapi aku berubah pikiran saat tadi pagi ke rumah kontrakanmu dan mendapati lelaki itu ada di sana.”

Mata Naura membulat seketika, ia tidak menyangka jika Panji tadi pagi datang ke rumahnya.

“Dia, menginap di rumahmu, kan?”

“Hanya menginap, kami nggak ngelakuin apa-apa.”

“Jadi, kalian benar-benar memiliki hubungan serius?”

“Panji, itu hanya masa lalu. Masa depanku sekarang bersama kamu.”

“Tapi kamu terlihat nggak yakin dengan ucapanmu, Ra. Kamu terlihat ragu-ragu seperti saat awal-awal kita berhubungan dulu. Kenapa? Karena dia, kan?”

Naura meraih telapak tangan Panji, lalu menggenggamnya erat-erat. “Tolong, jangan membahas tentang dia lagi.”

“Bagaimana mungkin aku tidak membahasnya sedangkan kamu saja masih berhubungan dengannya.”

Naura akan menjawab lagi, tapi ia mengurungkan niatnya ketika seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.

“Lebih baik kita makan, kita akan membahasnya lagi, nanti.”

Ya, Naura tak punya pilihan lain. Ia harus menyelesaikan masalahnya sebelum Panji semakin marah, lalu impiannya untuk membina keluarga bersama Panji hancur begitu saja karena perasaan labilnya.

***

Kembali menjadi orang gila, karena saat ini Alden sudah menunggu Naura di depan rumah perempuan itu.

Sial!

Padahal, tadi Alden berencana menghabiskan malamnya di tempat hiburan malam, tapi entah kenapa rasanya ia ingin sekali menghampiri Naura.

Alden sudah berusaha, berusaha untuk mengendalikan dirinya, membangun dirinya menjadi sosok yang baru, sosok yang tak akan pernah lagi tersentuh dengan kerapuhan seorang Naura, tapi tetap saja. Bayang masa lalu mereka selalu menghantui, penyesalan seperti tak berujung. Dan Alden bingung, apa yang harus ia perbuat selanjutnya.

Berkali-kali, Alden mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Naura sudah memiliki masa depan dengan lelaki lain, Naura sudah bahagia, Naura sudah melupakannya, Naura bukan lagi menjadi miliknya, tapi keyakinan itu sendiri seakan tidak cukup untuk menjerat sesuatu di dalam dirinya untuk tidak kembali mengganggu perempuan itu.

Alden berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah Naura. Entah apa yang membuatnya ke sini, alasan apa yaang akan ia berikan pada Naura jika wanita itu bertanya, untuk apa dirinya kemari?

Tidak mungkin Alden menjawab bahwa ia hanya ingin bertemu dengan Naura tanpa alasan masuk akal  lainnya.

Ketika Alden sibuk memikirkan alasan apa yang akan ia berikan pada Naura saat wanita itu bertanya nanti, sosok yang selalu mengganggu pikirannya itu akhirnya datang juga.

Sial!

Nyatanya Naura datang bersama tunangan sialanya. Keduanya berboncengan dengan motor butut milik Panji. Ya, setidaknya begitulah pandangan Alden.

Naura sempat ternganga saat mendapati Alden sudah menunggu di depan pintu rumahnya. Astaga, apa lagi yang dilakukan lelaki itu? Kenapa ia datang di saat waktu yang tidak tepat? Saat masalahnya dengan Panji belum berakhir?

Panjipun demikian. Ia tidak suka ketika dirinya mulai berpikir bahwa Alden datang kembali ke rumah Naura hanya untuk kembali menginap di rumah Naura. Ya, Panji tidak suka pemikiran tersebut.

Hingga akhirnya, Panji berjalan cepat mendahului Naura untuk segera menghadapi Alden.

“Anda kemari lagi?” tanya Panji tanpa basa-basi.

“Ya, anda juga.” jawab Alden dengan dingin. Matanya segera memicing ke arah Naura yang sudar berdiri di belakang Panji.

“Ya, saya tunangannya, jadi sangat wajar kalau saya datang kemari setiap hari.”

Alden tersenyum miring. “Begitukah?”

Pani mengangguk dengan pasti. “Sebenarnya apa yang ingin Anda sampaikan hingga Anda datang kembali kemari?”

“Tidak ada.” Alden menjawab cepat.

“Lalu?”

Alden mendekat satu langkah. Matanya masih tak berhenti menatap Naura meski wanita itu memilih menunduk dan bersembunyi dari tajamnya tatapan mata Alden.

“Saya hanya ingin melihatnya.”

Hanya kalimat sederhana, tapi tentu saja itu membuat Panji tidak suka. “Dia milik saya.” Panji menggeram. Sungguh, ia tidak suka dengan sikap sok yang ditampilkan oleh Alden;.

Bukannya marah, Alden malah tertawa seakan menertawakan Panji. Ia lalu menepuk pundak Panji dan berkata. “Jauh sebelum Anda mengenalnya, dia sudah menjadi milik saya.” Mata Alden lalu melirik sekilas ke arah Naura, dan berkata pelan, “Hanya ingin melihatmu, tak ada alasan masuk akal lainnya yang membawaku kemari.” Setelah kalimatnya yang sedikit membingungkan untuk Naura tersebut, Alden berjalan pergi meninggalkan rumah Naura. Sedangkan Panji sendiri sudah mengepalkan jemarinya. Ingin rasanya ia melayangkan tinjunya pada wajah Alden yang sok tampan itu, tapi Panji mencoba mengendalikan dirinya, karena yang terpenting baginya saat ini adalah Naura. Ya, hanya Naura.

***

“Hanya ingin melihatmu, tak ada alasan masuk akal lainnya yang membawaku kemari.”

Kata-kata itu terputar lagi dan lagi di kepala Naura hingga entah sudah berapa kali Naura menggelengkan kepalanya untuk menepis semua ucapan Alden yang membuat jantungnya menggila tak terkendali.

Padahal. Saat ini dirinya sudah berada di dalam rumahnya dengan Panji yang masih duduk membatu di hadapannya. Oh, apa yang akan terjadi selanjutnya? Lagi pula, kenapa juga Alden datang dan memperkeruh suasana?

“Ini nggak bisa dibiarkan.” Suara Panji membuat Naura menatap ke arah lelaki tersebut.

“Apa maksud kamu?”

“Alden, dia benar-benar menginginkan kamu, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”

“Panji, aku milikmu, jadi tolong, jangan memikirkan tentang dia lagi.”

“Kamu memintaku untuk tidak memikirkan dia, tapi sejak tadi, kamu mikirin dia, kan? Apa kamu mulai tergoda dengan ucapannya yang sok keren itu?”

“Aku tidak tergoda, dan aku tidak mau tergoda lagi dengannya.”

“Maka dari itu, buktikan padaku. Buktikan kalau dia tidak akan mengganggu hubungan kita.”

“Dengan apa? Bahkan kata-kataku saja tidak akan cukup untuk membuatmu percaya. Kami memang memiliki masa lalu, tapi sungguh, aku ingin lepas dari semua masa lalu itu, aku benar-benar ingin lepas dari dia. Jadi tolong, percayalah denganku.”

Panji bangkit, lalu duduk berjongkok di hadapan Naura, menggenggam erat jemari Naura sembari berkata “Menikahlah denganku, maka aku akan membunuh semua keraguanku.”

“Kita memang akan menikah, tahun depan, kan?”

Panji menggelengkan kepalanya. “Bukan tahun depan, tapi dua bulan dari sekarang.”

“Apa?” Naura membulatkan matanya seketika. Ya, tentu saja, meski baginya pernikahannya dengan Panji akan dilaksanakan tahun depan, tapi selama ini ia belum mempersiapkan diri untuk menjadi istri Panji. Jadi, ketika Panji ingin mempercepat pernikahan mereka, Naura sungguh terkejut dan tak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Atau, apa ia memang tak pernah ingin mempersiapkan diri untuk menjadi istri dari lelaki tersebut?

-TBC-

3 thoughts on “Secret Wife – Chapter 11 (Hanya ingin melihatmu)”

  1. yng suka nnton drama korea mah author na bukan alisha 😀😀
    kek na naura mang blom siap buat menikah ma panji , dia masih setengah hati , karna walau bagaiman pun pesona alden terlalu kuat untuk d abay kan 😂😂😂
    tumben hari ini alden keren 😍😍😍😍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s