romantis

Future Wife – Chapter 4 (Milik Evan)

Future Wife

Warning!!! Part mengandung adegan dewasa, yang belum cukup umur dilewatin yaa dekk. hehhehehehehe

 

 

Chapter 4

-Milik Evan-

 

Evan berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul Sepuluh malam, tapi Tiara belum juga pulang. Padahal, setelah malam itu Tiara selalu berangkat pagi sebelum ia keluar dari kamarnya dan pulang sore, sebelum ia pulang dari kantor. Hal itu tentu karena Tiara sengaja menghindarinya. Meski begitu, perempuan itu tidak meninggalkan kewajibannya seperti memasak sarapan, bersih-bersih, atau memasak makan malam untuk Evan.

Tapi hari ini, Evan sedikit heran, saat pulang dari kantor dan mendapati meja makannya masih bersih. Tak ada makan malam di sana, yang artinya Tiara belum pulang. Sepanjang sore, Evan menunggu kedatangan Tiara, tapi hingga sekarang wanita itu belum juga menampakan batang hidungnya.

Evan menyibak gorden jendela rumahnya. Rupanya malam ini hujan deras, apa anak Davit sedang rewel, hingga Tiara tidak bisa pulang?

Evan mendengus sebal. Ia lapar, karena ia memang sengaja tidak makan untuk menunggu Tiara memasakkan makan malam untuknya.

Sial! Apa-apaan ini?

Evan menghela napas panjang. Ia memilih menuju ke arah dapurnya. Sepertinya, malam ini ia akan memakan mie instan, jika ada persediaan mie instan dalam dpurnya, tapi jika tidak, terpaksa ia harus menahan lapas sepanjang malam.

Saat Evan berjalan menuju ke arah dapurnya, pintu depan rumahnya di ketuk oleh seseorang. Siapa? Tidak mungkin jika itu Tiara, karena Tiara sudah memiliki kunci rumahnya, dan tidak perlu lagi mengetuk pintu.

Akhirnya, dengan sedikit malas, Evan berjalan menuju ke arah pintu depan, membukanya, dan alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Tiara yang sudah berdiri di sana dengan tubuh yang sudah basah kuyub.

Tampak menyedihkan, seperti seekor anak kucing yang kehujanan dan ditinggalkan oleh induknya. Ingin rasanya Evan merengkuh tubuh mungil Tiara untuk masuk ke dalam pelukannya.

“Tiara?”

“Pak.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, mata perempuan itu bahkan tampak berkaca-kaca. Kenapa?

“Apa yang kamu lakukan? Masuklah.” Evan menarik pergelangan tangan Tiara hingga Tiara masuk ke dalam rumahnya. Evan menutup pintu rumahnya kemudian ia kembali fokus pada Tiara. “Kenapa kamu baru pulang? Kenapa kamu hujan-hujanan begini?” tanya Evan lagi.

“Pak.”

“Apa kamu tahu kalau saya kelaparan karena tidak ada yang menyiapkan makan malam untuk saya?”

“Maaf, Pak, tapi saya…”

“Cukup! Sekarang masuk dan gantilah bajumu, pakaianmu yang basah membuatku tidak fokus.” Gerutu Evan yang segera membalikkan tubuhnya  membelakangi Tiara dan segera pergi meninggalkan Tiara.

“Pak, tunggu.” Dengan begitu berani, Tiara meraih pergelangan tangan Evan. Evan menghentikan langkahnya lalu menatap pergelangan tangannya yang sedang digenggam oleh Tiara. “Maaf, saya nggak bermaksud.” Tiara melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Evan.

“Ada apa? Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Evan penasaran.

“Uuum, saya menerima tawaran Pak Evan.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksud kamu?”

“Saya mau menjadi ‘Teman Tidur’ Pak Evan.”

Evan sempat ternganga dengan apa yang dikatakan Tiara, tapi kemudian ia segera menguasai dirinya kembali, dan secara spontan, Evan menangkup kedua pipi Tiara lalu secepat kilat, ia menyambar bibir ranum Tiara, bibir yang sudah cukup lama menggodanya.

Tiara sendiri sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Evan. Dirinya diserang begitu saja hingga tak bisa menghindar. Tiara hanya bisa membalas ciuman tersebut dengan apa adanya, karena ini memang ciuman pertama untuknya.

Evan melepaskan tautan hibir mereka. Sial! Bagaimana mungkin ia lepas kendali seperti ini?

“Masuklah.” Tanpa banyak bicara lagi, Evan melangkah lebih dulu menuju ke dalam kamarnya.

Tiara yang masih sedikit shock akhirnya berjalan menuju ke arah kamarnya. Tapi kemudian langkahnya terhenti karena panggilan Evan.

“Apa yang kamu lakukan di sana? Ayo, ikut aku.”

“Tapi, kamar saya kan ke sana?”

“Siapa bilang kamu harus ke kamar kamu? Masuklah ke kamar saya. Karena mulai malam ini, kamu akan menjadi teman tidur saya.”

Tubuh Tiara bergetar seketika. Ia mematung dengan ucapan Evan, tapi kemudian pergelangan tangannya diraih oleh Evan lalu lelaki itu menyeretnya masuk ke dalam kamarnya.

Lagi-lagi, Tiara hanya mematung di tengah-tengah kamar Evan. Ia ragu, apa ia harus membatalkan niatnya? Astaga, apa yang sudah ia lakukan???

Evan kembali menghampiri Tiara sambil memberikan sebuah handuk padanya. “Mandilah dengan air hangat, tubuhmu terlihat menggigil.”

Ya, tentu saja. Tiara meggigil bukan hanya karena tubuhnya yang basah akibat kehujanan, tapi juga karena takut dengan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

“Saya akan buatkan kamu minuman hangat.”

“Pak Evan nggak perlu repot-repot.”

“Nggak repot, kok.” Evan sedikit tersenyum, lalu pergi meninggalkan Tiara.

Tiara menghela napas panjang. Ia memilih masuk ke dalam kamar mandi Evan. Sepertinya, berendam sebentar akan melunturkan semua ketakutannya.

***

Setelah cukup lama berendam, Tiara memilih keluar dari dalam bak mandi. Ia meraih handuk yang diberikan Evan tadi lalu memakainya. Berdiri sebentar di sana, menata hatinya kembali, menyiapkan keberaniannya, apa iya, dirinya harus benar-benar melakukan hal ini?

Keraguan kembali menyeruak dalam benak Tiara. Ahh, betapa bodohnya kamu Tiara, bagaimana mungkin kamu menjual dirimu dan juga harga dirimu seperti ini?

Tiara menghela napas panjang, ia akhirnya membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana. Rupanya, Evan sudah duduk menunggunya di pinggiran ranjang.

Evan menatap Tiara yang baru keluar dari dalam kamar mandi akhirnya berdiri seketika. Secara spontan kakinya melangkah begitu saja menuju ke arah Tiara yang berdiri di depan pintu kamar mandinya. Wanita itu hanya menundukkan kepalanya, sembari memegangi erat-erat sampul handuk yang membalut tubuhnya.

Evan menelan ludah dengan susah payah, ketika melihat bagaimana kulit pundak Tiara yang terekspos di hadapannya. Kaki wanita itu yang telanjang dan terlihat masih basah. Belum lagi, rambut basahnya. Oh, Evan bahkan merasakan jika pangkal pahanya sudah menegang dan siap untuk dibebaskan.

Apa-apaan ini? Sejak kapan ia menjadi lelaki mesum seperti sekarang ini?

Jemari Evan dengan spontan terulur, mengusap lembut pipi Tiara. “Indah.” Gumamnya tanpa sadar.

Tiara mengangkat wajahnya, tampak sendu ekspresinya, tapi tetap saja itu tak mengurangi hasrat sialan di dalam diri Evan. Evan mendekat lagi, lalu kepalanya menunduk, mencari bibir Tiara. Tiara hanya bisa memejamkan matanya ketika bibirnya disapu oleh permukaan bibir Evan.

Evan mencumbunya dengan lembut, dengan penuh penghayatan. Tiara mengikuti ritme dari cumbuan Evan, ia tidak pandai berciuman, jadi yang bisa ia lakukan hanya mengikuti permainan Evan.

Tanpa di duga, tiba-tiba, jemari Evan mendarat pada sampul handuk yang dikenakan Tiara, ia membuka sampul tersebut, hingga handuknya jatuh ke lantai menyisakan tubuh Tiara yang sudah telanjang bulat di hadapannya.

Evan melepaskan tautan bibir mereka, matanya menangkap ketelanjangan Tiara, hingga yang bisa Tiara lakukan hanya menundukkan kepalanya sembari mencoba menutupi ketelanjangannya dengan kedua belah lengannya.

“Tidak apa-apa.” ucap Evan sambil meraih lengan Tiara yang menutupi ketelanjangan tubuhnya.

Evan sedikit tersenyum, matanya berkabut menatap mata Tiara, sedangkan jemarinya sudah mulai membuka kancing kemeja yang ia kenakan. Evan melucuti pakaiannya sendiri satu persatu tanpa meninggalkan tatapan matanya pada mata Tiara, hingga tak lama, Evanpun sudah berdiri tanpa sehelai benangpun tepat di hadapan Tiara.

Evan meraih jemari Tiara, mendaratkan jemari-jemari mungil tersebut pada dada bidangnya, membawanya turun melalui perutnya yang kotak-kotak, lalu turun lagi hingga sampai pada bukti gairahnya.

Tiara sempat ragu dengan apa yang dilakukan Evan, tapi bagaimana lagi, ini adalah pilihannya. Lagi pula, entah kenapa setelah ia melihat Evan yang juga telanjang bulat di hadapannya, sesuatu seakan tersulut didalam dirinya, sesuatu keberanian yang entah datang dari mana.

“Sentuh saya.” Perintah Evan.

Tiara tidak mengerti apa yang harus di sentuh. Ia hanya membelai lembut bukti gairah Evan, memaiankannya dengan rasa takjub. Sedangkan Evan sendiri meraih payudara mungil milik Tiara, menggodanya dan bermain-main di sana dengan jemarinya.

Sebuah gelenyar aneh menerpa diri Tiara, membuat Tiara mengeluarkan erangannya dengan spontan ketika. Evan menghentikan gerakan tangannya.

“Apa ini menyakitimu?” tanyanya dengan suara serak.

Tiara menggeleng pelan. Tidak sakit, tapi rasanya aneh, dan Tiara tidak bisa mengungkapkan hal itu pada Evan.

“Jangan takut, kalau saya menyakiti kamu, kamu hanya perlu bilang ‘berhenti’ maka saya akan berhenti.”

“Baik, Pak.” Tiara mengangguk patuh.

Evan tersenyum, ia melanjutkan apa yang ia lakukan tadi, kepalanya lalu menunduk, dan kembali meraih bibir Tiara. Melumatnya dengan penuh gairah. Evan bahkan samar-samar mengeluarkan erangannya. Astaga, beginikah nikmatnya bercinta.

Belum. Ia bahkan belum menyatukan diri dengan tubuh Tiara, bagaimana mungkin ia sudah berpikir jika dirinya sudah bercinta dengan wanita tersebut? Evan melepaskan tautan bibir mereka, lalu ia mengajak Tiara untuk naik ke atas ranjangnya.

“Tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” gumamnya pelan. Evan meraih sesuatu di dalam laci di meja kecil tepat di sebelah ranjangnya. Itu adalah sekotak alat kontrasepsi yang Evan beli beberapa hari yang lalu setelah ia memutuskan untuk keluar dari zona aman. Sebenarnya, Evan sempat menyesal membeli barang itu, karena ia yakin jika tak akan bisa melakukannya dengan wanita-wanita malam, tapi ia benar-benar tidak menyangka jika barang tersebut akan berguna saat ini.

Evan merobek bungkusan foil itu, lalu measangkan isinya pada pusat gairahnya. Tiara yang sudah duduk di pinggiran ranjang hanya menatapnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

“Apa kamu pikir, saya sudah biasa melakukannya?” tanya Evan masih dengan suara seraknya.

Tiara tidak menjawab, ia hanya menatap Evan dengan sedikit bingung.

“Percaya atau tidak, ini adalah yang pertama untuk saya. Anggap saja saya sedang gila.”

Tiara mengangguk pelan. “Ya, saya juga sedang gila.”

Evan tersenyum lembut. “Kalau begitu, tidak salah jika dua orang yang sama-sama gila menghabiskan malam bersama, kan?”

Tiara menatap Evan, dan sedikit senyuman tersungging begitu saja di wajahnya. Ia mengangguk pelan. Ya, setidaknya, setelah ini ada orang yang membantu menghadapi masalahnya. Setidaknya, ia melakukannya dengan lelaki baik-baik seperti Evan, lelaki yang bertanggung jawab, karena lelaki itu bahkan sudah memikirkan resiko sebelum menyentuhnya.

“Kalau begitu, saya akan memulainya.” ucap Evan yang segera mendorong tubuh Tiara hingga telentang di atas ranjangnya.

Evan menindih tubuh Tiara, jemarinya bermain pada pusat diri Tiara, sedangkan bibirnya tak berhenti mencumbu mesra bibir Tiara supaya wanita itu terpancing gairahnya.

“Pak…” Tiara melirih pelan, tak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini.

“Ya.”

“Jangan.” Tiara mengerang.

“Rileks saja, saya nggak akan nyakitin kamu.” Ya, meski berkata begitu, nyatanya Evan tidak yakin apa dirinya benar-benar tak akan menyakiti diri Tiara.

Evan memposisikan diri, menyentuhkan bukti gairahnya pada pusat diri Tiara yang sudah terasa basah dan menggoda. Tiara gelisah tak menentu ketika Evan mencoba mendesak masuk, melakukan penyatuan yang terasa begitu sulit.

“Jangan tegang.” bisik Evan pelan. “Saya tidak akan menyakiti kamu.” Evan berbisik lagi, setelah itu, ia kembali mencumbu bibir Tiara, seakan mencoba menghilangkan ketegangan yang ada. Tiara menikmatinya, menikmati cumbuan Evan yang begitu memabukkan untuknya. Hingga ketika Evan mendorong lebih keras lagi dari sebelumnya, yang bisa Tiara lakukan hanya mengerang dalam cumbuan tersebut saat tubuhnya menyatu sepenuhnya dengan tubuh Evan.

***

Tengah malam, Evan terbangun ketika mendengar isakan seseorang yang terbaring miring memunggunginya. Itu Tiara. Kenapa? Apa wanita itu menyesal karena sudah memberikan kehormatannya pada Evan?

Evan mengulurkan lengannya, untuk memeluk erat tubuh mungil Tiara dari belakang. Bibirnya entah kenapa ingin sekali menggoda sepanjang pundak telanjang Tiara. Evan memberikan kecupan-kecupan lembut di sana, hingga membuat tubuh Tiara kaku seketika.

“Maaf.” Satu kata, penuh arti, entah apa maksud Evan mengucapkan kata tersebut dengan spontan tanpa bisa ia tahan.

Tiara tidak menjawab, ia masih membatu, bahkan isakannya saja sudah tidak terdengar lagi.

“Kamu sudah memilih jalan ini, jadi kamu tidak bisa mundur lagi.”

“Kenapa Pak Evan melakukan ini?” tanya Tiara dengan nada lirihnya.

Evan menghela napas panjang. “Saya mencintai seseorang, dan saya ingin melupakannya.”

“Dengan cara meniduri wanita lain?”

“Ya.”

“Kenapa harus saya, kenapa Pak Evan tidak menawarkan pada wanita lain yang lebih berpengalaman?”

“Tidak ada wanita lain.”

“Pak Evan bisa membayar wanita malam yang lebih berpengalaman.”

“Saya lebih suka membayar kamu.”

Air mata Tiara menetes dengan sendirinya. Ya, ia kini sudah menjadi wanita bayaran, wanita murahan yang dengan mudahnya melemparkan diri ke atas ranjang lelaki ini. Apa bedanya ia dengan perempuan malam lainnya?

“Dengar.” Evan membalikan tubuh Tiara hingga terbaring miring menatap ke arahnya. “Saya tidak pernah memaksa kamu melakukan ini, kamu sendiri yang berlari pada saya, dan saya tidak akan menolak.”

Ya, Tiara tahu, tak seharusnya ia menyalakan Evan, karena pergulatan panasnya tadi dengan Evan terjadi karena tanpa pemaksaan. Ia sendiri yang sudah memutuskan untuk menjadi teman tidur Evan, jadi tak seharusnya ia menangis seperti saat ini.

“Saya hanya terlalu bingung, Pak. Saya butuh bantuan.”

“Maka apa yang kamu lakukan sudah benar, saya akan membantu kamu, sebisa saya. Kamu membutuhkan bantuan saya, dan saya membutuhkan sentuhan kamu.” Jemari Evan tiba-tiba terulur, meraih jemari Tiara, lalu membawanya pada bukti gairahnya yang ternyata sudah kembali mengeras, menegang ingin dipuaskan. “Kita saling membutuhkan, tidak ada yang salah dengan hubungan kita.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Evan kembali mencumbu bibir Tiara, melumatnya hingga Tiara kembali terbuai dengan cumbuannya.

Ya, Tiara tidak bisa mundur lagi, ia tidak punya jalan untuk kembali, semuanya sudah menjadi milik Evan, dan ia tidak akan bisa mengambil kembali apa yang sudah ia berikan pada lelaki itu.

-TBC-

5 thoughts on “Future Wife – Chapter 4 (Milik Evan)”

  1. Horeeeeeee akhir na evan udah ga perjaka lagi 😍😍😍😍
    aduhhhhh evan ko keren banget yaa , gila siapa yng biza menolak pesona seorang evan pramudya coba ….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s