Future Wife – Chapter 5 (Godaan mematikan)

Comments 7 Standard

Future Wife

 

“Saya hanya terlalu bingung, Pak. Saya butuh bantuan.”

“Maka apa yang kamu lakukan sudah benar, saya akan membantu kamu, sebisa saya. Kamu membutuhkan bantuan saya, dan saya membutuhkan sentuhan kamu.” Jemari Evan tiba-tiba terulur, meraih jemari Tiara, lalu membawanya pada bukti gairahnya yang ternyata sudah kembali mengeras, menegang ingin dipuaskan. “Kita saling membutuhkan, tidak ada yang salah dengan hubungan kita.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Evan kembali mencumbu bibir Tiara, melumatnya hingga Tiara kembali terbuai dengan cumbuannya.

Ya, Tiara tidak bisa mundur lagi, ia tidak punya jalan untuk kembali, semuanya sudah menjadi milik Evan, dan ia tidak akan bisa mengambil kembali apa yang sudah ia berikan pada lelaki itu.

***

Chapter 5

-Godaan mematikan-

 

Paginya….

Tiara menyibukkan diri di dalam dapur, ia tidak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan Evan nantinya. Astaga, lelaki itu begitu panas, dan Tiara benar-benar terpengaruh dengan lelaki tersebut.

Tiara menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh terpesona lagi dan lagi dengan Evan. Ia harus ingat jika hubungan mereka hanya sebagai hubungan timbal balik. Ia membutuhkan Evan untuk membantu kesusahannya, sedangkan Evan membutuhkannya untuk memuaskan diri lelaki tersebut, jadi, tak seharusnya ia terpesona apalagi harus terbawa suasana dengan apa yang dilakukan Evan.

Saat Tiara sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ia merasakan sebuah lengan memeluknya dari belakang. Tiara mematung dengan apa yang ia rasakan. Ia tentu tahu jika lengan tersebut adalah milik Evan. Kemudian, ia merasakan sesuatu yang basah membelai leher belakangnya, sebelum ia mendengar sapaan serak yang terdengar dari bibir Evan.

“Pagi.”

Tiara ingin menjawab, tapi bibirnya terasa kelu karena kegugupan melandanya. Akhirnya ia hanya mengangguk pasrah.

Jemari Evan tiba-tiba merayap masuk ke dalam baju yang dikenakan Tiara, menyusupkan diri ke dalam bra yang dikenakan Tiara, lalu menangkup sesuatu yang berada di dalam sana. Satu erangan lolos begitu saja dari bibir Tiara. Astaga, apa yang dilakukan lelaki ini?

“Pak..” Tiara melirih pelan.

“Ya?”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Saya, belum biasa.”

“Maka mulai sekarang biasakanlah.” Evan membelai lembut, menggodanya, hingga mau tidak mau Tiara memejamkan matanya karena frustasi dengan rasa aneh yang diberikan Evan padanya. Sungguh, apa yang sudah terjadi dengannya?

“Kamu membuat saya menegang kembali pagi ini.” Evan berbisik serak. Ia bahkan tidak sadar apa yang sudah ia bisikkan pada Tiara.

“Pak, saya harus berangkat jam delapan nanti.”

Evan menolehkan kepalanya ke arah jam dinding yang ada di belakangnya. “Masih jam Tujuh, masih ada satu jam, saya bisa melakukannya kurang dari satu jam.”

“Tapi Pak.” Tiara tak dapat melanjutkan kalimatnya lagi saat tiba-tiba kepalanya ditolehkan ke belakang lalu bibirnya disambar oleh bibir Evan. Evan melumatnya dengan panas, sepanas tadi malam, dan tubuh Tiara terasa terbakar seketika karena lumatan panas tersebut.

Evan lalu melepaskan pelukannya, ia memposisikan diri Tiara untuk bersandar pda meja dapurnya, mengangkat tubuh mungil wanita itu dan mendudukkannya di atas meja dapurnya. Bibirnya kembali meraih bibir Tiara, memagutnya. Sedangkan tubuhnya kini sudah berada diantara paha Tiara.

“Hemmmm nikmat.” Evan mengerang ketika bibirnya mulai turun merayapi sepanjang leher jenjang milik Tiara.

Tiara sendiri melemparkan kepalanya ke belakang, ia tergoda dengan kenikmatan yang diciptakan oleh Evan. Evan segera membuka paksa baju yang dikenakan Tiara, mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Tiara, lalu menghisapnya. Sedangkan jemarinya kini sudah merayap ke bawah, mencari-cari pusat diri Tiara dan mencoba menggodanya.

“Pak…” Tiara mengerang saat jemari Evan mulai menari diantara pangkal pahanya.

“Ya? Hemmm?” Evan bahkan tidak mempedulikan erangan Taira. Ia melanjutkan aksinya, menecupi dan menggoda puncak payudara Tiara dengan bibirnya, sedangkan jemarinya masih tak berhenti menari di bawah sana.

“Pak, tolong.”

“Ya, tolong apa?”

“Pak..” Tiara hanya mengerang lagi dan lagi. Dan ketika Evan merasa jika Tiara sudah siap dan cukup basah untuknya, ia segera menghentikan aksinya.

Evan segera menurunkan celana yang ia kenakan, membebaskan bukti gairahnya yang sudah menegang dan siap untuk dipuaskan. Tak lupa, ia mengambil bungkusan foil yang berada di dalam saku celananya. Ya, rupanya sebelum menggoda Tiara pagi ini, Evan sudah menyiapkannya. Evan merobeknya, kemudian memasangkannya pada bukti gairahnya, sebelum kemudian ia mulai memasuki diri Tiara.

Tiara mengernyir, merasa tidak nyaman karena belum terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Pun dengan Evan, Ia memang tak pernah melakukan seks sebelumnya kecuali dengan Tiara, dan hanya dengan Tiara, ia ingin mencoba hal-hal baru yang berhubungan dengan seks.

Evan mendorong lagi dan lagi, berusaha menyatukan diri, tapi ternyata masih sangat sulit. Hingga kemudian, ia memilih kembali menggoda Tiara. Mencumbunya kembali, melumatnya dengan lumatan panas hingga Tiara kembali membuka dirinya dan mulai menerima Evan sepenuhnya.

Evan menghentak sekali lagi, hingga tubuh mereka menyatu sepenuhnya. Tiara terasa rapat membungkusnya, sangat kesat hingga membuat Evan merasa sesak.

“Tolong, kamu bisa membunuh saya dengan ini.” Evan berbisik pelan. Ia mencoba menggerakkan dirinya, sedangkan bibirnya kembali meraih puncak payudara Tiara.

Tiara mendesah, napasnya tak beraturan. Oh, ia bahkan tak pernah memikirkan jika akan melakukan hal sepanas ini dengan seorang lelaki, lelaki yang baru saja ia kenal. Astaga, apa yang sudah ia lakukan?

“Pak…” Erangan Tiara semakin keras ketika Evan memompa lebih cepat lagi dari sebelumnya. Iramanya semakin cepat hingga membuat Tiara tak mampu lagi menahan diri dari hantaman gelombang kenikmatan.

Tiara melenguh panjang, pun dengan Evan yang segera meledakkan dirinya di dalam badai kenikmatan yang sedang menghantamnya.

Napas keduanya memburu, saling bersahutan satu sama lain, seakan menandakan jika apa yang baru saja mereka lakukan adalah suatu yang sangat dahsyat dan menakjubkan. Evan melepaskan pelukannya, menarik diri lalu menatap Tiara sejenak. Dengan spontan ia mengecup singkat bibir Tiara kemudian tertawa menertawakan apa yang baru saja mereka lakukan.

Pun dengan Tiara yang segera menunduk malu sambil menyunggingkan senyuman lembutnya.

“Saya benar-benar sudah gila.” Evan berujar seakan mengatai dirinya sendiri. “Saya akan mandi, dan kita akan sarapan bersama.” Ucap Evan sambil membuang bekas pengaman ke dalam tong sampah.

Tiara turun dari atas meja dapur, membenarkan pakaiannya dan alangkah terkejutnya saat Evan kembali mencondongkan tubuhnya yag tinggi itu kepada Tiara hingga Tiara kembali mundur ke belakang.

“Kita bisa mandi bareng supaya menghemat waktu.”

“Saya, mandi di kamar mandi sana saja, Pak.” Tiara dengan gugup menunjuk kamar mandi yang letaknya di sebelah dapur.

Evan melirik sekilas. “Kamu yakin?” Tiara mengangguk pelan masih dengan kegugupan yang melandanya. “Baiklah, saya juga sangsi kalau tidak akan melakukan sesi tambahan saat kita berada di dalam kamar mandi bersama-sama.” Evan menatap Tiara dengan tatapan yang sulit di artikan, bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyuman misterius yang hanya bisa diartikan oleh dirinya sendiri, lalu iapun berjalan pergi meninggalkan Tiara.

Tiara menghela napas panjang ketika Evan sudah tidak berads di sekitarnya. Sungguh, lelaki itu sangat mempengaruhinya, dan Tiara tidak yakin jika ia dapat menahan godaan demi godaan yang diberikan Evan padanya.

***

Keduanya sarapan dalam diam. Tiara sebenarnya ingin mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya. Tentu saja tentang kakaknya dan juga semua hutang-hutangnya, tapi sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat.

Evan tampak cerah pagi ini, dan Tiara tidak ingin mengusik kecerahan hati sang penolongnya tersebut.

“Kamu, sepertinya ada yang inginkamu katakan?” tanya Evan sembari menyesap kopinya.

“Ahh, enggak, Pak.”

“Jadi, apa kita akan membahas hubungan intim kita pagi ini?”

Tiara tersedak seketika saat Evan menyebut kata ‘hubungan intim kita’. Entahlah, sepertinya kedekatan mereka tidak termasuk dalam sebuah keintiman.

“Kamu, nggak apa-apa, kan?”

“Tidak pak.” Tiara meminum air putih di hadapannya.

“Jadi?”

“Uum, sepertinya bukan saat yang tepat untuk membahasnya, Pak.” Tiara melirik ke arah jam dinding yang kini sudah menunjukkan hampir pukul delapan. “Dan tidak akan sempat juga.”

“Baiklah, kita akan membahasnya nanti malam.”

Tiara mengangguk patuh, dan keduanya kembali sibuk dengan pikiran masing-masing, menghabiskan sarapan mereka dalam diam. Ya, kecanggungan kembali menyeruak diantara mereka, dan entah Tiara maupun Evan tak akan mampu menepis kecanggungan tersebut begitu saja.

***

Siang itu, Tiara masih asyik bermain dengan Dirly di ruang bermain. Ia sudah kembali ceria, entah karena apa. Bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyuman-senyuman lembut yang entah kenapa tersungging dengan sendirinya. Kenapa? Apa karena Evan?

Tak berapa lama, Sherly datang dengan Cinta yang berada di dalam gendongannya. “Ada apa, Tiara? Kamu sepertinya ceria sekali hari ini.”

Tiara menatap Sherly seketika, ia tersenyum lembut dan pipinya meraah padam dengan sendirinya. “Ahh, mungkin perasaan Bu Sherly saja.”

“Sebenarnya saya sangat khawatir, tadi malam pak Davit pulang dan bercerita kalau kamu tampak sangat terpukul, saya bahkan menyuruhnya kembali menjemput kamu, tapi dia bilang kamu butuh waktu sendiri.”

Tiara menunduk dan mengangguk pelan.

“Bagaimana dengan kakak kamu?”

Ya, bahkan Tiara melupakan nasib kakaknya karena rasa yang telah diciptakan Evan untuknya sejak semalam hingga saat ini.

“Bang Radit baik.”

“Lalu, apa rencana kamu selanjutnya? Kamu bisa tinggal di sini sesuka hati kamu.”

Tiara menatap Sherly seketika. “Tidak Bu, saya tinggal di rumah saja.”

“Kamu yakin berani tinggal di sana sendiri?”

Tiara mengangguk dengan ragu. Astaga, ia hampir tak pernah berbohong sebelumnya, dan ia bukanlah pembohong yang handal.

“Baiklah, jadi, apa yang membuatmu senyum-senyum sepanjang pagi ini?” gida Sherly lagi hingga kembali membuat pipi Tiara merona.

“Tidak ada, Bu.”

“Benarkah? Ya sudah. Yang penting saya senang karena kamu sudah bisa tersenyum lagi.”

Tiara mengangguk patuh tanpa bisa menghilangkan rona di wajahnya. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya sepanjang hari ini?

***

Sorenya…..

Meski sibuk membantu Sherly menyiapkan makan malam, tapi Tiara masih sesekali bermain dengan Dirly yang tak berhenti menggodanya. Yaa, bocah cilik itu memang sesekali bertindak usil terhadap Tiara hingga dapur Sherly sore itu ramai karena Dirly dan Tiara yang sesekali bercanda gurau.

“Makan malam di sini saja nanti.” Suara Davit membuat semua yang berada di sana menatap ke arah lelaki yang baru saja masuk ke area dapur tersebut. Rupanya Davit baru saja pulang dari restoran miliknya. Ya, Davit memang memilih merintis usahanya sendiri di bidang kuliner ketimbang harus meneruskan usaha orang tuanya.

“Sudah datang?” tanya Sherly sambil mendekat dan memberikan Cinta pada Davit.

“Ya, kalian lagi buat apa?”

“Makan malam, sama cemilan.”

“Masak yang banyak sekalian, biar Tiara makan di sini malam ini, Evan tadi juga telepon, katanya dia mau numpang makan.”

Tubuh Tiara kaku seketika saat mendengar nama Evan di sebutkan. Untung saja saat ini dirinya sedang membelakangi Davit dan Sherly, jadi kedua orang itu tidak melihat betapa pucatnya wajah Tiara ketika Davit menyebut nama Evan tadi.

“Ohh, baguslah. Tolong jagain Cinta dan Dirly dulu ya. Duhh dia nggangguin Tiara terus dari tadi.”

“Oke, oke, Dirly.. Ayo, ikut Papa.” Dan bocah cilik itu segera ikut ayahnya menuju ke arah ruang tengah.

“Jadi, kita tambah masak apa lagi? Duh, saya nggak tahu Evan sukanya masakan apa.” Sherly menggerutu tanpa melihat ekspresi Tiara yang masih kaku.

“Kamu, mau makan malam di sini rame-rame, kan?” tanya Sherly lagi ke arah Tiara.

Tiara tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin menolak, karena Evan saja datang ke rumah ini, masa iya dirinya harus pulang duluan ke rumah Evan, sedangkan jika ia menerima tawaran Sherly, tandanya ia akan satu meja makan dengan Evan, Sherly dan juga Davit, dan Tiara takut jika dirinya tidak bisa mengendalikan diri.

“Gimana? Mau, kan? Ayolah…”Sherly memohon, dan akhirnya, Tiara hanya bisa menganggukkan kepalanya. Astaga, semoga saja Evan tidak mempengaruhinya, semoga saja lelaaki itu tidak membuatnya merah padam dengan jantung yang nyaris melompat dari tempatnya.

***

Makan malam akhirnya tiba juga. Sejak tadi, Tiara hanya bisa diam sembari menundukkan kepalanya, menatap meja makan tanpa banyak kata. Karena dari sudut matanya, ia duh mendapati Evan yang tengah duduk santai dengan Davit.

Entah, keduanya sedang membahas apa, Tiara takut jika Evan akan membahas hubungan mereka dengan Davit. Jika hal itu terjadi, maka Tiara memilih berhenti dari pekerjaannya di rumah Sherly dan Davit karena tentunya pasti sangat memalukan saat dirinya dinilai sebagai perempuan murahan yang menjual tubuhnya hanya untuk hutang.

Tak terasa, semua makanan sudah tertata rapih di atas meja makan. Sherly sudah memanggil Davit dan juga Evan. Keduanya segera menuju ke atah meja makan. Davit duduk di kursi paling ujung, sedangkan Evan duduk di sebelah kiri Davit, Sherlu seperti biasa, duduk di sebelah kanan Davit. Cinta sudah tidur jadi Sherly bisa mengurus Dirly yang ia minta duduk di sebelahnya.

“Tiara duduk saja di sebelah Evan.” Sherly yang meminta.

“Tapu Bu, saya mau nyuapin Dirly.”

“Nggak apa-apa, Dirly sama saya saja, kan Cinta sudah bobok. Udah sana, duduk dan makanlah yang banyak.” Dan akhirnya, mau tidak mau Tiara menuju ke sebelah Evan.

“Ehhemm.” Evan berdehem menetralkan suaranya agar tidak serak. “Sepertinya saya menakutkan sampai-sampai kamu nggak berani duduk di sebelah saya.” Evan menyindir Tiara. Sherly tertawa lebar dengan sindiran tersebut. Padahal ia tidak mengerti apa maksud Evan menyindir Tiara seperti itu.

“Kamu karena terlalu kaku, Van, makanya dia takut gitu.”

“Lalu, gimana biar aku nggak terlihat kaku?” tanya Evan pada Sherly.

“Ajak ngobrol mungkin, biar lebih kenal.” Ketiganya tenggelam dalam percakapan, sedangkan Tiara seakan sibuk mengendalikan dirinya sendiri. Sunggu, perutnya terasa bergejolak karena godaan demi godaan yang dilontarkan Sherly dan juga Evan padanya.

Keempatnya makan dalam suasana hangat. Davit sesekali bercerita tentang seorang pelanggan di restorannya hari ini, sedangkan Evan bercerita tentang perkembangan kantor cabang keluarganya yang sedang ia pimpin.

“Terus, Van, kapan lo bawa cewek kemari?”

Evan tidak bisa menjawab, ia hanya tersenyum karena pertanyaan yang dilontarkan Davit tersebut. Dengan spontan kakinya merayap ke arah kaki Tiara, menggoda betis Tiara dengan jemari kakinya.

Tiara membatu seketika. Rasa geli, rasa terbakar, tumbuh begitu saja di dalam dirinya ketika kulit Evan bersentuhan dengan kulitnya. Sedangkan Evan bersikap biasa-biasa saja seperti tak terjadi apapun di bawah meja makan.

“Nanti lah, gue lagi pengen sendiri dulu.”

“Yakin lo masih seneng sendiri?” tanya Davit sekali lagi.

Bukannya menjawab pertanyaan Davit, Evan malah asyik mencubit betis Tiara dengan jari jemari kakinya hingga Tiara tersedak seketika.

“Minum dulu.” Dengan perhatian Sherly memberi Tiara minum saat melihat Tiara terbatuk-batuk.

Sedangkan Evan berbisik pelan pada Tiara “Kayaknya, kamu sering sekali tersedak saat makan.” Bisikan itu tentu hanya bisa didengar oleh Tiara, hingga membuat Tiara kembali memerah saat mengingat sarapan bersamanya tadi pagi dengan Evan.

“Kamu lagi sakit? Wajahmu merah-merah gitu.” Davit berkomentar ketika melihat wajah Tiara yang merah padam.

“Ya, sejak tadi pagi dia memang gitu, mungkin nggak enak badan atau kenapa?” Sherly menambahi. Ia memang melihat ada yang aneh dengan Tiara, meski wanita itu sesekali tersenyum sendiri, tapi wajahnya juga tak berhenti merah padam. Sherly hanya takut jika ternyata Tiara demam atau yang lainnya.

“Tidak, Bu, saya baik-baik saja.” Tiara menjawab cepat.

“Ya sudah, kita lanjutin makannya.” Akhirnya makan malam kembali berlanjut. Dan kejahilan jari jemari Evan pada betis Tiarapun berlanjut.

***

Akhirnya, Tiara memohon diri setelah makan malam bersama yang ia lalui dengan begitu sulit karena godaan yang diberikan Evan dengan sengaja untuknya. Davit menawarkan diri untuk mengantar Tiara, tapi Tiara menolaknya karena dia tidak mau diantar pulang lalu kembali berjalan kaki ke rumah Evan. Dan ternyata dengan penuh percaya diri, Evan malah menawarkan diri untuk mengantar Tiara, apa maksudnya coba?

Akhirnya, Tiara mengangguk saja. Ia tidak tahu apa yang direncanakan Evan, dan entah kenapa ia percaya saja saat Evan yang meminta untuk mengantarnya.

Kembali merasakan kegugupan ketika ia masuk ke dalam mobil Evan yang berada di halaman rumah lelaki tersebut. Evan sendiri kini sudah duduk di sebelahnya dan menyalakan mesin mobilnya.

“Kamu lucu sekali.” Ucap Evan sambil tersenyum sendiri.

“Saya tidak nyaman saat Pak Evan mengganggu saya di rumah Bu Sherly tadi.”

Evan tertawa lebar. “Kenapa? Saya hanya sedikit main-main. Supaya kamu lebih rileks, kamu terlihat sangat kaku.”

“Tapi itu membuat saya tidak nyaman. Bagaimana kalau Bu Sherly curiga?”

“Sikap kamu yang kaku malah membuat mereka curiga, santai saja, mereka tidak akan tahu hubungan kita.”

“Pak Evan yakin?”

Evan menatap Tiara seketika. “Kenapa? Kamu malu berhubungan badan dengan saya?”

Astaga, dari mana datangnya lelaki ini? Bagaimana mungkin dengan terang-terangan Evan menyebut ‘hubungan badan’ tanpa canggung sedikitpun?

“Saya tidak malu karena itu Pak Evan, saya malu karena saya sudah menjual diri saya untuk sebuah materi. Saya malu dengan diri saya sendiri, dan saya akan lebih malu lagi jika ada orang yang tahu tentang semua ini.”

“Kamu bisa tenang, karena saya tidak akan bercerita dengan siapapun tentang hubungan kita. Semuanya akan aman, tersembunyi dengan rapih tanpa akan ada yang mengetahuinya.”

Tiara menunduk, ia hanya bisa mengangguk menanggapi peryataan Evan. Lalu mobil Evan mulai berjalan. Tiara tidak mengerti Evan akan membawanya kemana.

“Uuum, kita, akan kemana?”

“Memasang kontrasepsi untuk kamu, saya tidak mungkin selalu menggunakan kondom, mengingat itu adalah pemborosan, dan saya juga tidak nyaman menggunakannya.”

Tiara menegakkan tubuhnya seketika. Akan sejauh itukah hubungan mereka sampai-sampai ia harus memasang alat kontrasepsi?

“Kenapa? Kamu tidak suka?” tanya Evan saat melihat gerak gerik tubuh Tiara.

“Uuum, tidak, sya hanya tidak mengangka kalau akan sejauh ini.”

Evan tertawa lebar pada Tiara. “Kamu pikir akan seperti apa? Hanya cukup semalam dan semuanya selesai? Yang benar saja, bahkan seharian ini membayangkan tubuhmu saja saya sudah tergoda. Ya, godaan yang mematikan.” kalimat terakhir diucapkan Evan sambil menatap Tiara dengan sedikit mengerlingkan matanya.

Astaga, apa itu? Apa lelaki ini sedang menggodanya?

“Uuum, seharian ini, tubuh saya juga jadi panas saat mengingat apa yang sudah pak Evan lakukan sama saya.”

“Itu tandanya kita serasi.” Evan menjawab cepat. “Baiklah, kita akan selesaikan ini, lalu membahas masalah kamu, setelah itu, kita bisa menyantap hidangan penutupnya.

Hidangan penutup? Seperti apa? Tiara tak berhenti bertanya-tanya dalam hati. Akankah mereka melakukannya lagi malam ini? Tiap malam? Sampai kapan?

-TBC-

Advertisements

The Secret of Nick Alexander – Prolog

Comments 3 Standard

Hai, aku Nick Alexander, kalau kalian pernah membaca Novel Samantha, maka kalian sudah pasti mengenalku. disini, aku akan sedikit bercerita tentang apa yang kualami, dan hanya di sini, di Blognya temanku, Zenny Arieffka. selamat membaca.

 

Prologue

 

Aku Nick Alexander.

Aku seorang pria dewasa.

Aku seorang Aktor.

Aku seorang anak.

Aku seorang adik.

Aku seorang simpanan.

Aku seorang suami.

Aku seorang calon ayah.

Aku seorang pengecut yang sedang jatuh cinta.

Aku seorang bajingan yang sedang membohongi diriku sendiri.

Aku seorang sialan yang tengah menghukum diriku sendiri.

Dan aku adalah seorang berengsek, yang membiarkan wanita yang kucintai pergi meninggalkanku.

Aku Nick Alexander.

Aku mencintai Samantha.

Dan aku ingin dia kembali.

-TBC-

Future Wife – Chapter 4 (Milik Evan)

Comments 5 Standard

Future Wife

Warning!!! Part mengandung adegan dewasa, yang belum cukup umur dilewatin yaa dekk. hehhehehehehe

 

 

Chapter 4

-Milik Evan-

 

Evan berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul Sepuluh malam, tapi Tiara belum juga pulang. Padahal, setelah malam itu Tiara selalu berangkat pagi sebelum ia keluar dari kamarnya dan pulang sore, sebelum ia pulang dari kantor. Hal itu tentu karena Tiara sengaja menghindarinya. Meski begitu, perempuan itu tidak meninggalkan kewajibannya seperti memasak sarapan, bersih-bersih, atau memasak makan malam untuk Evan.

Tapi hari ini, Evan sedikit heran, saat pulang dari kantor dan mendapati meja makannya masih bersih. Tak ada makan malam di sana, yang artinya Tiara belum pulang. Sepanjang sore, Evan menunggu kedatangan Tiara, tapi hingga sekarang wanita itu belum juga menampakan batang hidungnya.

Evan menyibak gorden jendela rumahnya. Rupanya malam ini hujan deras, apa anak Davit sedang rewel, hingga Tiara tidak bisa pulang?

Evan mendengus sebal. Ia lapar, karena ia memang sengaja tidak makan untuk menunggu Tiara memasakkan makan malam untuknya.

Sial! Apa-apaan ini?

Evan menghela napas panjang. Ia memilih menuju ke arah dapurnya. Sepertinya, malam ini ia akan memakan mie instan, jika ada persediaan mie instan dalam dpurnya, tapi jika tidak, terpaksa ia harus menahan lapas sepanjang malam.

Saat Evan berjalan menuju ke arah dapurnya, pintu depan rumahnya di ketuk oleh seseorang. Siapa? Tidak mungkin jika itu Tiara, karena Tiara sudah memiliki kunci rumahnya, dan tidak perlu lagi mengetuk pintu.

Akhirnya, dengan sedikit malas, Evan berjalan menuju ke arah pintu depan, membukanya, dan alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Tiara yang sudah berdiri di sana dengan tubuh yang sudah basah kuyub.

Tampak menyedihkan, seperti seekor anak kucing yang kehujanan dan ditinggalkan oleh induknya. Ingin rasanya Evan merengkuh tubuh mungil Tiara untuk masuk ke dalam pelukannya.

“Tiara?”

“Pak.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, mata perempuan itu bahkan tampak berkaca-kaca. Kenapa?

“Apa yang kamu lakukan? Masuklah.” Evan menarik pergelangan tangan Tiara hingga Tiara masuk ke dalam rumahnya. Evan menutup pintu rumahnya kemudian ia kembali fokus pada Tiara. “Kenapa kamu baru pulang? Kenapa kamu hujan-hujanan begini?” tanya Evan lagi.

“Pak.”

“Apa kamu tahu kalau saya kelaparan karena tidak ada yang menyiapkan makan malam untuk saya?”

“Maaf, Pak, tapi saya…”

“Cukup! Sekarang masuk dan gantilah bajumu, pakaianmu yang basah membuatku tidak fokus.” Gerutu Evan yang segera membalikkan tubuhnya  membelakangi Tiara dan segera pergi meninggalkan Tiara.

“Pak, tunggu.” Dengan begitu berani, Tiara meraih pergelangan tangan Evan. Evan menghentikan langkahnya lalu menatap pergelangan tangannya yang sedang digenggam oleh Tiara. “Maaf, saya nggak bermaksud.” Tiara melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Evan.

“Ada apa? Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Evan penasaran.

“Uuum, saya menerima tawaran Pak Evan.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksud kamu?”

“Saya mau menjadi ‘Teman Tidur’ Pak Evan.”

Evan sempat ternganga dengan apa yang dikatakan Tiara, tapi kemudian ia segera menguasai dirinya kembali, dan secara spontan, Evan menangkup kedua pipi Tiara lalu secepat kilat, ia menyambar bibir ranum Tiara, bibir yang sudah cukup lama menggodanya.

Tiara sendiri sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Evan. Dirinya diserang begitu saja hingga tak bisa menghindar. Tiara hanya bisa membalas ciuman tersebut dengan apa adanya, karena ini memang ciuman pertama untuknya.

Evan melepaskan tautan hibir mereka. Sial! Bagaimana mungkin ia lepas kendali seperti ini?

“Masuklah.” Tanpa banyak bicara lagi, Evan melangkah lebih dulu menuju ke dalam kamarnya.

Tiara yang masih sedikit shock akhirnya berjalan menuju ke arah kamarnya. Tapi kemudian langkahnya terhenti karena panggilan Evan.

“Apa yang kamu lakukan di sana? Ayo, ikut aku.”

“Tapi, kamar saya kan ke sana?”

“Siapa bilang kamu harus ke kamar kamu? Masuklah ke kamar saya. Karena mulai malam ini, kamu akan menjadi teman tidur saya.”

Tubuh Tiara bergetar seketika. Ia mematung dengan ucapan Evan, tapi kemudian pergelangan tangannya diraih oleh Evan lalu lelaki itu menyeretnya masuk ke dalam kamarnya.

Lagi-lagi, Tiara hanya mematung di tengah-tengah kamar Evan. Ia ragu, apa ia harus membatalkan niatnya? Astaga, apa yang sudah ia lakukan???

Evan kembali menghampiri Tiara sambil memberikan sebuah handuk padanya. “Mandilah dengan air hangat, tubuhmu terlihat menggigil.”

Ya, tentu saja. Tiara meggigil bukan hanya karena tubuhnya yang basah akibat kehujanan, tapi juga karena takut dengan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

“Saya akan buatkan kamu minuman hangat.”

“Pak Evan nggak perlu repot-repot.”

“Nggak repot, kok.” Evan sedikit tersenyum, lalu pergi meninggalkan Tiara.

Tiara menghela napas panjang. Ia memilih masuk ke dalam kamar mandi Evan. Sepertinya, berendam sebentar akan melunturkan semua ketakutannya.

***

Setelah cukup lama berendam, Tiara memilih keluar dari dalam bak mandi. Ia meraih handuk yang diberikan Evan tadi lalu memakainya. Berdiri sebentar di sana, menata hatinya kembali, menyiapkan keberaniannya, apa iya, dirinya harus benar-benar melakukan hal ini?

Keraguan kembali menyeruak dalam benak Tiara. Ahh, betapa bodohnya kamu Tiara, bagaimana mungkin kamu menjual dirimu dan juga harga dirimu seperti ini?

Tiara menghela napas panjang, ia akhirnya membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana. Rupanya, Evan sudah duduk menunggunya di pinggiran ranjang.

Evan menatap Tiara yang baru keluar dari dalam kamar mandi akhirnya berdiri seketika. Secara spontan kakinya melangkah begitu saja menuju ke arah Tiara yang berdiri di depan pintu kamar mandinya. Wanita itu hanya menundukkan kepalanya, sembari memegangi erat-erat sampul handuk yang membalut tubuhnya.

Evan menelan ludah dengan susah payah, ketika melihat bagaimana kulit pundak Tiara yang terekspos di hadapannya. Kaki wanita itu yang telanjang dan terlihat masih basah. Belum lagi, rambut basahnya. Oh, Evan bahkan merasakan jika pangkal pahanya sudah menegang dan siap untuk dibebaskan.

Apa-apaan ini? Sejak kapan ia menjadi lelaki mesum seperti sekarang ini?

Jemari Evan dengan spontan terulur, mengusap lembut pipi Tiara. “Indah.” Gumamnya tanpa sadar.

Tiara mengangkat wajahnya, tampak sendu ekspresinya, tapi tetap saja itu tak mengurangi hasrat sialan di dalam diri Evan. Evan mendekat lagi, lalu kepalanya menunduk, mencari bibir Tiara. Tiara hanya bisa memejamkan matanya ketika bibirnya disapu oleh permukaan bibir Evan.

Evan mencumbunya dengan lembut, dengan penuh penghayatan. Tiara mengikuti ritme dari cumbuan Evan, ia tidak pandai berciuman, jadi yang bisa ia lakukan hanya mengikuti permainan Evan.

Tanpa di duga, tiba-tiba, jemari Evan mendarat pada sampul handuk yang dikenakan Tiara, ia membuka sampul tersebut, hingga handuknya jatuh ke lantai menyisakan tubuh Tiara yang sudah telanjang bulat di hadapannya.

Evan melepaskan tautan bibir mereka, matanya menangkap ketelanjangan Tiara, hingga yang bisa Tiara lakukan hanya menundukkan kepalanya sembari mencoba menutupi ketelanjangannya dengan kedua belah lengannya.

“Tidak apa-apa.” ucap Evan sambil meraih lengan Tiara yang menutupi ketelanjangan tubuhnya.

Evan sedikit tersenyum, matanya berkabut menatap mata Tiara, sedangkan jemarinya sudah mulai membuka kancing kemeja yang ia kenakan. Evan melucuti pakaiannya sendiri satu persatu tanpa meninggalkan tatapan matanya pada mata Tiara, hingga tak lama, Evanpun sudah berdiri tanpa sehelai benangpun tepat di hadapan Tiara.

Evan meraih jemari Tiara, mendaratkan jemari-jemari mungil tersebut pada dada bidangnya, membawanya turun melalui perutnya yang kotak-kotak, lalu turun lagi hingga sampai pada bukti gairahnya.

Tiara sempat ragu dengan apa yang dilakukan Evan, tapi bagaimana lagi, ini adalah pilihannya. Lagi pula, entah kenapa setelah ia melihat Evan yang juga telanjang bulat di hadapannya, sesuatu seakan tersulut didalam dirinya, sesuatu keberanian yang entah datang dari mana.

“Sentuh saya.” Perintah Evan.

Tiara tidak mengerti apa yang harus di sentuh. Ia hanya membelai lembut bukti gairah Evan, memaiankannya dengan rasa takjub. Sedangkan Evan sendiri meraih payudara mungil milik Tiara, menggodanya dan bermain-main di sana dengan jemarinya.

Sebuah gelenyar aneh menerpa diri Tiara, membuat Tiara mengeluarkan erangannya dengan spontan ketika. Evan menghentikan gerakan tangannya.

“Apa ini menyakitimu?” tanyanya dengan suara serak.

Tiara menggeleng pelan. Tidak sakit, tapi rasanya aneh, dan Tiara tidak bisa mengungkapkan hal itu pada Evan.

“Jangan takut, kalau saya menyakiti kamu, kamu hanya perlu bilang ‘berhenti’ maka saya akan berhenti.”

“Baik, Pak.” Tiara mengangguk patuh.

Evan tersenyum, ia melanjutkan apa yang ia lakukan tadi, kepalanya lalu menunduk, dan kembali meraih bibir Tiara. Melumatnya dengan penuh gairah. Evan bahkan samar-samar mengeluarkan erangannya. Astaga, beginikah nikmatnya bercinta.

Belum. Ia bahkan belum menyatukan diri dengan tubuh Tiara, bagaimana mungkin ia sudah berpikir jika dirinya sudah bercinta dengan wanita tersebut? Evan melepaskan tautan bibir mereka, lalu ia mengajak Tiara untuk naik ke atas ranjangnya.

“Tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” gumamnya pelan. Evan meraih sesuatu di dalam laci di meja kecil tepat di sebelah ranjangnya. Itu adalah sekotak alat kontrasepsi yang Evan beli beberapa hari yang lalu setelah ia memutuskan untuk keluar dari zona aman. Sebenarnya, Evan sempat menyesal membeli barang itu, karena ia yakin jika tak akan bisa melakukannya dengan wanita-wanita malam, tapi ia benar-benar tidak menyangka jika barang tersebut akan berguna saat ini.

Evan merobek bungkusan foil itu, lalu measangkan isinya pada pusat gairahnya. Tiara yang sudah duduk di pinggiran ranjang hanya menatapnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

“Apa kamu pikir, saya sudah biasa melakukannya?” tanya Evan masih dengan suara seraknya.

Tiara tidak menjawab, ia hanya menatap Evan dengan sedikit bingung.

“Percaya atau tidak, ini adalah yang pertama untuk saya. Anggap saja saya sedang gila.”

Tiara mengangguk pelan. “Ya, saya juga sedang gila.”

Evan tersenyum lembut. “Kalau begitu, tidak salah jika dua orang yang sama-sama gila menghabiskan malam bersama, kan?”

Tiara menatap Evan, dan sedikit senyuman tersungging begitu saja di wajahnya. Ia mengangguk pelan. Ya, setidaknya, setelah ini ada orang yang membantu menghadapi masalahnya. Setidaknya, ia melakukannya dengan lelaki baik-baik seperti Evan, lelaki yang bertanggung jawab, karena lelaki itu bahkan sudah memikirkan resiko sebelum menyentuhnya.

“Kalau begitu, saya akan memulainya.” ucap Evan yang segera mendorong tubuh Tiara hingga telentang di atas ranjangnya.

Evan menindih tubuh Tiara, jemarinya bermain pada pusat diri Tiara, sedangkan bibirnya tak berhenti mencumbu mesra bibir Tiara supaya wanita itu terpancing gairahnya.

“Pak…” Tiara melirih pelan, tak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini.

“Ya.”

“Jangan.” Tiara mengerang.

“Rileks saja, saya nggak akan nyakitin kamu.” Ya, meski berkata begitu, nyatanya Evan tidak yakin apa dirinya benar-benar tak akan menyakiti diri Tiara.

Evan memposisikan diri, menyentuhkan bukti gairahnya pada pusat diri Tiara yang sudah terasa basah dan menggoda. Tiara gelisah tak menentu ketika Evan mencoba mendesak masuk, melakukan penyatuan yang terasa begitu sulit.

“Jangan tegang.” bisik Evan pelan. “Saya tidak akan menyakiti kamu.” Evan berbisik lagi, setelah itu, ia kembali mencumbu bibir Tiara, seakan mencoba menghilangkan ketegangan yang ada. Tiara menikmatinya, menikmati cumbuan Evan yang begitu memabukkan untuknya. Hingga ketika Evan mendorong lebih keras lagi dari sebelumnya, yang bisa Tiara lakukan hanya mengerang dalam cumbuan tersebut saat tubuhnya menyatu sepenuhnya dengan tubuh Evan.

***

Tengah malam, Evan terbangun ketika mendengar isakan seseorang yang terbaring miring memunggunginya. Itu Tiara. Kenapa? Apa wanita itu menyesal karena sudah memberikan kehormatannya pada Evan?

Evan mengulurkan lengannya, untuk memeluk erat tubuh mungil Tiara dari belakang. Bibirnya entah kenapa ingin sekali menggoda sepanjang pundak telanjang Tiara. Evan memberikan kecupan-kecupan lembut di sana, hingga membuat tubuh Tiara kaku seketika.

“Maaf.” Satu kata, penuh arti, entah apa maksud Evan mengucapkan kata tersebut dengan spontan tanpa bisa ia tahan.

Tiara tidak menjawab, ia masih membatu, bahkan isakannya saja sudah tidak terdengar lagi.

“Kamu sudah memilih jalan ini, jadi kamu tidak bisa mundur lagi.”

“Kenapa Pak Evan melakukan ini?” tanya Tiara dengan nada lirihnya.

Evan menghela napas panjang. “Saya mencintai seseorang, dan saya ingin melupakannya.”

“Dengan cara meniduri wanita lain?”

“Ya.”

“Kenapa harus saya, kenapa Pak Evan tidak menawarkan pada wanita lain yang lebih berpengalaman?”

“Tidak ada wanita lain.”

“Pak Evan bisa membayar wanita malam yang lebih berpengalaman.”

“Saya lebih suka membayar kamu.”

Air mata Tiara menetes dengan sendirinya. Ya, ia kini sudah menjadi wanita bayaran, wanita murahan yang dengan mudahnya melemparkan diri ke atas ranjang lelaki ini. Apa bedanya ia dengan perempuan malam lainnya?

“Dengar.” Evan membalikan tubuh Tiara hingga terbaring miring menatap ke arahnya. “Saya tidak pernah memaksa kamu melakukan ini, kamu sendiri yang berlari pada saya, dan saya tidak akan menolak.”

Ya, Tiara tahu, tak seharusnya ia menyalakan Evan, karena pergulatan panasnya tadi dengan Evan terjadi karena tanpa pemaksaan. Ia sendiri yang sudah memutuskan untuk menjadi teman tidur Evan, jadi tak seharusnya ia menangis seperti saat ini.

“Saya hanya terlalu bingung, Pak. Saya butuh bantuan.”

“Maka apa yang kamu lakukan sudah benar, saya akan membantu kamu, sebisa saya. Kamu membutuhkan bantuan saya, dan saya membutuhkan sentuhan kamu.” Jemari Evan tiba-tiba terulur, meraih jemari Tiara, lalu membawanya pada bukti gairahnya yang ternyata sudah kembali mengeras, menegang ingin dipuaskan. “Kita saling membutuhkan, tidak ada yang salah dengan hubungan kita.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Evan kembali mencumbu bibir Tiara, melumatnya hingga Tiara kembali terbuai dengan cumbuannya.

Ya, Tiara tidak bisa mundur lagi, ia tidak punya jalan untuk kembali, semuanya sudah menjadi milik Evan, dan ia tidak akan bisa mengambil kembali apa yang sudah ia berikan pada lelaki itu.

-TBC-