romantis

Secret Wife – Chapter 10 (Untuk Naura)

Secret Wife

Follow IG : @Zennyarieffka

Like Fanspage Facebook : Zenny arieffka – Mamabelladramalovers

agar nggak ketinggalan updatetan cerita2 aku yaa… hehehehhe

 

 

Chapter 10

-Untuk Naura

 

“Ya! Kamu tahu! Kamu melihat dan mendengar apa yang kukatakan saat itu!”

Naura menatap Alden cukup lama, tapi kemudian ia kembali duduk, mencoba mengendalikan dirinya sendiri agar tidak terpengaruh oleh Alden.

“Sepertinya kamu sudah baikan, lebih baik kamu pulang, karena aku juga harus segera berangkat kerja.”

“Percakapan kita belum selesai, Na.”

“Sudah. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi diantara kita.”

Naura segera bangkit dan pergi masuk ke dalam kamarnya. Sungguh, ia tidak ingin lagi mengingat tentang masa lalu mereka. Masa lalu yang begitu menyakitkan, karena ia tidak hanya kehilangan calon bayinya saja, melainkan kehilangan cinta dan juga kepercayaan yang sudah ia berikan pada seorang Alden Revaldi.

***

Cukup lama Naura berada di dalam kamarnya. Berharap jika Alden cukup tahu diri lalu pergi dengan sendirinya setelah melihatnya masuk ke dalam kamar. Tapi ia salah, saat ia keluar dari dalam kamarnya, ia masih mendapati Alden yang duduk santai di ruang tamu rumahnya.

Naura menghela napas panjang, sepertinya harinya tidak akan berjalan dengan baik. Kenapa Alden masih saja mengganggunya? Astaga.

“Akhirnya kamu keluar juga.”

“Tentu saja, aku harus berangkat kerja.”

“Kita berangkat bareng.”

“Apa?” Naura sempat terkejut mendengar ucapan Alden.

“Kenapa? Kamu kerja di rumahku, dan aku akan pulang. Jadi kita bisa berangkat bareng.”

“Tapi apa kata orang saat melihat kita berangkat bareng?”

“Aku nggak peduli kata orang, karena aku lebih peduli dengan kata hatiku.”

Naura memutar bola matanya ke arah lain. “Andai saja kamu melakukan itu sejak dulu, mungkin aku bisa memaafkanmu.” Naura menggerutu pelan. Alden tentu saja sedikit mendengar gerutuhan Naura, tapi ia tidak menanggapinya.

“Baiklah, ayo kita berangkat.”

Ya, mau tidak mau Naura mengikuti apa yag diperintahkan Alden. Masalahnya ini sudah siang, jika ia mempertahankan egonya untuk tetap berangkat sendiri dengan berjalan kaki, mungkin ia akan lebih telat lagi. Meski keluarga Alden tak akan mempermasalahkannya, tapi tetap saja, Naura tidak enak dengan pekerja yang lainnya.

Alden keluar di susul dengan Naura yang ada di belakangnya. Setelah mengunci pintu rumah kontrakannya, Naura segera menyusul Alden yang sudah masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di seberang jalan.

Alden sedikit tersenyum saat melihat Naura duduk di jok sebelahnya. “Aku ingat saat kamu pertama kali duduk di sana ketika malam pesta perpisahan di sekolahmu.”

Ya. Tentu saja, itu adalah malam dimana hubungan mereka baru saja di mulai. Naura tentu tak dapat melupakannya. Tapi yang paling ia ingat adalah saat terakhir kali ia duduk di sebelah Alden ketika pulang dari klinik setelah ia keguguran.

“Aku malah mengingat saat terakhir kali aku duduk di posisi ini dengan kamu yang mengemudikan mobil di sebelahku, kita sama-sama terdiam, karena kamu tidak berani menjelaskan apapun padaku.” Sindir Naura.

“Na.”

“Aku sudah kesiangan, jadi lebih baik kamu segera mengemudikan mobilmu sebelum aku berubah pikiran.”

“Tentang Jefry….”

Naura menutup telinganya dengan kedua belah telapak tangannya. “Aku nggak mau mendengarnya lagi.”

Alden menghela napas panjang. “Baiklah, memang tidak ada yang perlu dijelaskan, karena itu semua memang murni kesalahanku, aku hanya butuh pengampunan darimu. Dan aku akan menuntut itu sampai kamu benar-benar mau mengampuniku.”

Setelah kalimatnya tersebut, Alden segera menjalankan mobilnya. Ia tidak peduli dengan Naura yang memilih memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ya, ia mengerti betul apa yang dirasakan wanita itu, meski selama ini Alden mencoba memungkirinya, nyatanya ia sangat tahu jika dirinya sudah menggoreskan luka begitu dalam di dada Naura.

***

Panji menatap bayangan di hadapannya sembari mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia mencengkeram erat kemudi mobil yang sedang ia tumpangi saat ini.

Tadi pagi, ia berencana menemui Naura seperti biasanya. Meski tadi malam ia pulang dalam keadaan marah dan kesal, tapi ia berinisiatif untuk memperbaiki hubungannya dengan Naura karena bagaimanapun juga mereka akan segera menikah. Tapi ketika sampai tak jauh dari rumah Naura, ia melihat mobil Alden yang terparkir di tempat yang sama seperti kemarin.

Kepala Panji segera dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk tentang Naura dan juga Alden. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Apa mereka memiliki hubungan khusus?

Sebagai pria dewasa, Panji tentu sudah berpikir jauh, apalagi saat melihat tanda-tanda merah yang terukir pada permukaan leher Naura. Ya, Alden pasti sengaja melakukannya, tapi yang ia bingungkan, kenapa Naura mau?

Kini, kecurigaan Panji semakin nyata. Ketika tadi pagi ia mendapati mobil Alden di sana, ia sudah memutuskan kembali, lalu menghubungi temannya dan meminjam mobil temannya itu untuk memata-matahi Alden dan Naura.

“Jadi, mereka benar-benar memiliki hubungan di belakangmu?” suara lembut itu bertanya hingga membuat Panji sadar, jika sejak tadi ia tidak sendiri di dalam mobil tersebut. Lisa, sang pemilik mobil meminta ikut serta, karena jika Panji tidak mengizinkannya, maka Lisa tidak akan meminjamkan mobilnya pada Panji.

“Sepertinya begitu.”

“Duh. Ji. Mending kamu lupain dia deh. Apa sih yang kamu cari dari perempuan macam itu? Dia itu nggak ada istimewanya sedikitpun.”

“Aku mencintainya.”

“Tapi cinta itu nggak buta, Ji. Kamu bisa lihat sendiri kan kalau dia ada main di belakangmu? Belum nikah aja udah diginiin, gimana kalau udah nikah?”

Panji hanya bisa terdiam. Ya, ucapan Lisa memang ada benarnya juga, seharusnya ia bersikap tegas, Naura adalah miliknya, ketika ia ingin mempertahankan seseorang, harusnya ia tak tanggung-tanggung. Tak seharusnya ia menjadi pengecut seperti sekarang ini. Ia harus mempertahankan Naura, tapi jika wania itu masih mengkhianatinya, ia harus bisa meninggalkannya.

“Kita balik saja.” Ucap Panji dengan dingin.

“Lalu bagaimana dengan mereka?”

“Aku nggak peduli, toh, dia benar-benar sudah mengkhianatiku.”

“Dan kamu tetap akan berhubungan dengan perempuan itu?”

“Kita lihat saja nanti.” Panji menyalakan mobil Lisa, lalu mengemudikannya. Ya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya, yang pasti, ia sudah mengetahui semuanya, dan ia tidak akan mau dibodohi lagi dengan Naura maupun Alden.

***

“Kita berhenti di sini, aku akan turun di sini dan jalan kaki ke rumahmu.”

“Enggak perlu, kita langsung berhenti di rumahku saja.”

“Tapi Al, aku nggak enak sama yang lainnya.”

“Aku nggak peduli.”

Naura menghela napas panjang. “Tolong, jangan buat aku semakin sulit.”

“Aku nggak mempersulitmu, lagian nggak akan ada yang mempermasalahkan kedekatan kita.”

Dan Naura hanya bisa kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ya, mau melawan seperti apapun, ia akan kalah. Alden memang tak pernah mau di batah, entah dulu atau sekarang, lelaki itu sama saja.

Akhirnya Alden benar-benar menurunkan Naura di halaman rumahnya. Sedikit lega karena tak ada yang melihatnya turun dari mobil Alden, setidaknya menurut Naura begitu, tapi ia salah, saat tiba-tiba ia mendengar seruan Angel dari ayunan yang berada di samping halaman rumah Alden.

“Hei, kalian pulang bersama?!” Angel sedikit berseru sembari berlari mendekat. Sungguh, Angel ingin tahu apa yang terjadi. Bagaimana bisa Naura berangkat bersama dengan Alden yang baru saja pulang setelah semalaman tidak pulang?

“Uum, tadi aku nggak sengaja-”

“Ya, emangnya kenapa kalau kami bareng-bareng?” Alden memotong kalimat Naura.

“Kok bisa? Kakak kan nggak pulang semalaman, lagian emangnya kakak tahu dimana rumah Naura?”

“Tau. Aku nginep di rumahnya semalam.” Jawab Alden santai sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.

“Apa?” Angel terkejut dengan jawaban Alden, pun dengan Naura yang tidak menyangka jika Alden akan berkata jujur pada Angel. Angel segera menatap Naura penuh tanya, sedangkan Naura memilih menundukkan kepalanya, ia tidak mungkin menceritakan semuanya pada Angel, yang seharusnya bercerita adalah Alden, bukan dirinya.

Angel segera berlari mengikuti Alden. Ia tahu pasti jika Naura tidak akan membuka mulutnya, dan ia akan menuntut penjelasan pada kakaknya itu.

Sebenarnya, sudah sejak dulu, Angel sedikit curiga dengan kedekatan Naura dan Alden. Meski keduanya tidak pernah menunjukkan kedekatannya secara teraang-terangan, tapi dari cara menatap Alden pada Naura membuat Angel curiga, jika ada yang disembunyikan kakaknya itu.

“Kak. Apa maksud kakak dengan menginap di rumah Naura?” Angel bertanya saat ia sudah sampai di dalam kamar Alden.

“Apa kamu nggak bisa keluar? Aku mau ganti baju.”

“Enggak, sebelum kak Alden ceritain semuanya. Ada hubungan apa antara kak Alden sama Naura.”

“Nggak ada.” Alden menjawab cuek sambil membuka bajunya. Ia menuju ke arah lemari pakaiannya lalu mengambil sebuah T-shirt untuk ia kenakan.

“Ayolah kak, jangan bohong. Aku sudah curiga sejak kak Alden belum berangkat ke LN.”

“Memangnya apa yang kamu curigain?”

“Kakak suka sama Naura?” mata Angel memicing pada Alden.

Alden tidak tahu harus menjawab apa. “Anggap aja begitu.”

“Itu bukan jawaban, Kak.”

“Lalu kamu mau dengar jawaban apa dariku? Ya. Memangnya salah kalau aku menyukainya?”

Angel sempat ternganga mendengar jawaban yang terlontar dari bibir kakaknya. “Kak Alden, benar-benar suka?”

“Ya, aku menyukainya, sejak tujuh tahun yang lalu.”

Setelah jawabannya tersebut, Alden keluar begitu meninggalkan Angel yang masih ternganga di tengah-tengah kamar Alden.

***

Sepanjang hari, Angel menghabiskan waktunya hanya untuk mengawasi Naura dari jauh. Alden belum juga kembali setelah pergi keluar tadi. Sedangkan Naura memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Ingin rasanya Angel menghampiri Naura dan menanyakan semuanya. Tapi ia cukup mengenal siapa Naura. Naura tidak akan mungkin menceritakan semuanya begitu saja.

“Kamu lagi ngapain, Sayang? Kayaknya fokus banget liatin dapur.” Suara lembut itu membuat Angel menegakkan tubuhnya seketika. Ia sudah mendapati sang Mama yang duduk tepat di sebelahnya.

“Eh, Ma. Nggak apa-apa kok.” Angel sedikit salah tingkah. Ingin rasanya ia bertanya dengan mamanya, tapi apa yang harus ditanyakan?

“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Alisha lagi pada puterinya.

“Uum, itu Ma. Gimana kalau tiba-tiba kak Alden selama ini menjalin hubungan dengan seorang wanita secara diam-diam?”

Alisha tersenyum lembut. “Gimana apanya? Yang bagus dong, kakak kamu sudah Dua puluh delapan tahun, malah bagus kalau dia punya hubungan dengan wanita. Apalagi hubungan yang serius.”

“Tapi, kalau wanitanya adalah salah satu wanita di rumah ini, gimana Ma?”

Alisha mengerutkan keningnya seketika. “Apa maksud kamu?”

“Uuum, aku curiga kakak punya hubungan sama Naura.”

Alisha segera menatap ke arah Naura yang tampak sibuk di dapurnya. Ya, Naura. Sebenarnya sudah sangat lama Alisha mencurigai hubungaan keduanya, tapi Alisha memilih diam, karena Alden sendiri saja tidak pernah ingin menceritakan apapun kepadanya.

Meski begitu, Alisha tentu dapat menilai. Alden adalah puteranya, ia mengenal Alden bahkan sejak Alden masih di dalam kandungannya. Alisha tahu pasti jika ada yang disembunyikan puteranya tersebut, ketika ia melihat Alden sedang menatap Naura, seakan-akan hanya Nauralah yang menjadi titik fokus dari puteranya tersebut.

Tatapan Alden pada Naura mengingatkan tatapan Brandon, suaminya pada dirinya saat dulu. Ketika mereka masih dimabuk dengan asmara. Ya, Alden tampak memuja Naura, meski puteranya itu memilih menyembunyikan semuanya.

Ada suatu titik, dimana Alisha ingin bertanya pada Alden tentang hubungannya dengan Naura, tapi Alisha mengurungkan niatnya. Mungkin Alden memiliki alasan tersendiri kenapa puteranya itu menyembunyikan hubungan mereka, dan Alisha ingin Alden menceritakan itu semua sendiri, bukan karena paksaan darinya. Tapi semakin lama ia menunggu, Alden tak kunjung bercerita tentang hubungannya dengan Naura, padahal ia sempat meyakini tentang hubungan keduanya apalagi setelah ia melihat Naura keluar dari kamar Alden pada tengah malam sekitar tujuh tahun yang lalu.

“Kenapa kamu bisa curiga?” Alisha bertanya pada Angel dengan wajah seriusnya.

“Mama nggak curiga sama sekali? Dulu pas kak Alden belum berangkat ke LN, aku sudah sempat curiga saat melihat Naura malu-malu dibawah tatapan Kakak. Dan tadi, kakak pulang bareng sama Naura, setelah semalaman nggak pulang. Pas aku tanya kok bisa? Kakak malah menjawab dengan santai kalau dia semalam menginap di rumah Naura.”

“Kamu yakin?”

“Ma, masa Angel salah dengar sih?”

“Lalu kenapa kakak kamu menyembunyikan semuanya? Dia bisa cerita sama mama, toh mama nggak akan melarang dia menjalin hubungan dengan siapapun, asalkan itu wanita-baik-baik.”

Angel mengangkat kedua bahunya. “Entahlah Ma. Mungkinkah kakak cuma main-main sama Naura?”

“Main-main? Kalau kakak kamu main-main apalagi dengan Naura, mama yang akan menghukumnya.” Alisha menatap Naura dari kejauhan. “Naura sudah seperti puteri mama sendiri, mama mengenalnya sejak dia kecil, jangankan Alden, kakak kamu, jika ada orang lain yang berani menyakitinya, Mama yang akan turun tangan membelanya.” Alisha menghela napas panjang. “Mama sudah nggak bisa menunggu penjelasan kakak kamu terlalu lama lagi, nanti malam, mama sendiri yang akan menanyakan ada hubungan apakah diantara mereka.”

“Kalau mereka benar-benar ada hubungan?”

“Mama akan memaksa kakak kamu untuk segera menikahi Naura.”

“Tapi Ma, Naura kan sudah ada tunangan.”

“Ya, kalau Naura benar-benar mencintai tunangannya, maka dia tidak mungkin menjalin hubungan serius dengan kakak kamu.”

“Bagaimana kalau cuma Kak Alden yang menyukai Naura?”

“Kita lihat saja nanti. Apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.” Ya, karena Alisha sendiri tidak tahu, apa yang akan ia lakukan selanjutnya jika kenyataannya hanya Alden yang memiliki rasa untuk Naura.

***

Malamnya, Alisha benar-benar melakukan apa yang ia katakan tadi sore dengan Angel. Alisha menuju ke kamar Alden setelah makan malam. Biasanya, Alden segera pergi, entah kemana, tapi malam ini, Alisha akan menahan Alden di kamarnya dan bertanya sampai ke akar-akarnya tentang apa yang terjadi diantara puteranya itu dengan Naura.

Alisha melihat Alden yang duduk termenung sendiri di dalam kamarnya. Puteranya itu duduk di pinggiran ranjang dengan posisi membelakangi pintu. Alden tidak tahu jika Alisha masuk begitu saja ke dalam kamarnya.

Alisha hanya melihat Alden yang sibuk menatap sebuah kotak yang ternyata berisikan sebuah kalung berlian dengan sebuah cincin dengan model sederhana. Untuk siapakah Alden menyimpan barang-barang itu?

“Al.” Akhirnya, Alisha memilih menyapa Alden hingga membuat Alden sedikit berjingkat dan segera menutup kotak mungil yang ada di dalam genggaman tangannya.

“Mama, mama kok ada di sini?”

Alisha tersenyum, ia berjalan menuju ke arah Alden, lalu duduk di sebelah puteranya tersebut. “Ada yang pengen mama omongin sama kamu.”

“Kalau itu masalah perusahaan atau pernikahanku, maka lebih baik mama balik. Maaf aku kasar, Ma. Tapi sungguh, Alden sedang nggak mau bahas itu lagi.”

“Sebenarnya bukan itu yang ingin mama bahas sama kamu. Tapi, setelah melihat apa yang kamu genggam, mama jadi tertarik untuk bernyata, apa itu?”

Alden menghela napas panjang. Lalu memberikan kotak mungil tersebut pada sang mama. “Berlian.” ucapnya sedikit malas.

Alisha membuka kotak tersebut, ia terpesona dengan keindahan berlian tersebut, meski potongannya sederhana, tapi Alisha sangat suka melihatnya. “Sejak kapan kamu memiliki barang ini?”

“Kalungnya sudah kubeli sebelum aku ke LN, sedangkan cincinya, aku beli dua tahun yang lalu saat aku jalan-jalan ke Paris dengan beberapa temanku.”

“Kok mama baru tahu kalau kamu punya barang-barang indah seperti ini?”

“Aku sengaja menyimpannya, Ma.”

Alisha mengangkat wajahnya, menatap Alden dengan mata penuh tanya. “Untuk siapa? Ini bukan untuk Mama atau Angel, kan?”

Alden menunduk, ia tidak tahu harus menjawab apa, semua perasaan di dalam dadanya seakan-akan teraduk menjadi satu. Kerinduan yang membuncah pada sosok Naura, penyesalan yang tak pernah ada akhirnya untuk sosok tersebut, serta rasa ingin memiliki yang kian hari kian bertambah untuk wanita itu, membuat Alden menghela napas panjang dan dengan spontan menjawab “Untuk Naura, aku menyimpan semua itu untuk Naura.”

Dan ya, Alisha dapat menebaknya dengan sempurna. Alisha tadi sempat curiga, jika kalung dan cincin itu sengaja Alden beli untuk Naura, dan ternyata, apa yang ia pikirkan tidaklah meleset. Alden mencintai Naura, Alisha tahu itu, karena ia dapat melihat dengan jelas dari ekspresi yang terukir di wajah puteranya, dari mata yang seakan turut serta berbicara. Tapi apa yang membuat puteranya itu menyembunyikan semuanya? Apa yang membuat Alden hanya bisa menyimpan barang-barang tersebut layaknya mengubur rasa cintanya tanpa memberitahukan pada dunia tentang apa yang ia rasakan sebenarnya?

-TBC-

4 thoughts on “Secret Wife – Chapter 10 (Untuk Naura)”

  1. alden bikin baper deh 😢😢😢
    somoga alisa biza mmbantu hubungan mereka , senang melihat alisa ma angel yng welkam ma hubungan alden ma naura …

    aaahhhhh dari awal q mang ga srek ma panji 😂😂😂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s