romantis

Future Wife – Chapter 3 (Teman Tidur)

Future Wife

 

Follow IG : @Zennyarieffka

Like Fanspage Facebook : Zenny Arieffka- Mamabelladramalovers

untuk mendapatkan informasi updatetan terbaru yaa…

 

 

Chapter 3

-Teman Tidur-

 

Mata Tiara membulat seketika. Dengan spontan kakinya mundur menjauhi Evan. Lengannya ia silangkan di depan dadanya. Astaga, bagaimana mungkin lelaki ini berkata seperti itu? Menjadi teman tidur? Apa maksudnya?

“Jangan takut.” Evan berkata cepat.

“Dua menit yang lalu saya tidak takut, tapi setelah Pak Evan berkata seperti itu, saya berpikir untuk segera lari dari hadapan Pak Evan.” Tiara menjawab dengan jawaban polosnya.

Evan tersenyum lembut. “Saya hanya memberi solusi.”

“Itu bukan solusi, Pak Evan memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan.”

Well, saya tidak memaksa kamu, saya hanya memberikan pilihan, karena kebanyakan orang memilih cara instan walau dia tahu itu merugikannya. Tak ada salahnya jika saya mencoba menawarkannya pada kamu, kan?”

“Tapi saya bukan kebanyakan orang. Saya akan kerja keras semampu saya, tanpa harus menjual tubuh saya.”

Lagi-lagi Evan tersenyum, kali ini sambil menganggukkan kepalanya. “Untuk seorang yang kesusahan, kamu ternyata masih memiliki harga diri yang tinggi.”

“Jika saya sudah tidak memiliki harga diri, saya tidak akan bekerja dengan Bu Sherly, tapi akan bekerja di rumah Bordil.” Tiara menjawab dengan ketus. Sugguh, ia tidak suka dengan sikap Evan yang berpikir bahwa dirinya bisa dibeli dengan uang. Ya, meskipun ia tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan, setidaknya ia memiliki sesuatu yang akan ia simpan hingga pangerannya nanti datang padanya dengan cinta.

“Baiklah.” Evan hanya tertawa. Lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara, tapi sebelum itu, ia berpesan “Tapi kalau kamu berubah pikiran, datang saja sama saya, tawaran saya masih berlaku sampai kamu mampu melunasi hutang-hutang kakakmu.”

Setelahnya, Evan pergi dengan masih dengan senyum terukir di wajahnya, sedangkan Tiara mulai kesal dengan sikap Evan. Ya, senyum Evan itu, terlihat seperti senyum nakal, dan Tiara tidak suka saat melihatnya.

***

Masuk ke dalam kamar, Evan menutup pintu kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Setelah itu ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarnya. Jemarinya meraba dada kirinya yang tiba-tiba saja berdebar tak menentu, dan sial! Evan sadar jika kini pangkal pahanya sudah berdenyut nyeri.

Ia menginginkan Tiara, ya, ia menginginkannya. Dan apa-apaan ini? Padahal, ia tak pernah mengingnkan perempuan hingga terasa nyeri seperti saat ini.

Sejak kecil, perasaannya hanya tumbuh untuk sosok Karina, rasa cinta yang murni. Setelah dewasa, Evan memang sesekali tergoda untuk memiliki diri Karina, ia ingin menyentuh wanita itu dengan sentuhan intim, tapi rasa cintanya yang begitu besar membuatnya melupakan hasrat primitifnya pada sosok Karina. Evan memilih mengubur hasrat-hasrat panas tersebut dan memupuk rasa cintanya. Tapi kini, saat ia bertemu dengan sosok Tiara, hasrat-hasrat tersebut seakan membeludak di dalam dadanya. Menghantarkan sengatan aneh yang menyerang seluruh syaraf-syarafnya.

Evan menginginkan sebuah pelesapas.

Ahh sial! Kenapa jadi begini?

Ia bahkan belum pernah melakukan hubungan badan sekalipun dengan wanita manapun, tapi tadi, ia bersikap seolah-olah menjadi seorang berengsek yang hanya memikirkan selangkangannya.

Bagaimana bisa Tiara membuatnya seperti ini?

Evan akhirnya memilih masuk ke dalam kamar mandinya, melucuti semua pakaiannya, lalu menyalakan air shower. Sepertinya, mandi air dingin adalah solusi yang baik. Ia tidak mungkin membiarkan pangkal pahanya menegang sepanjang malam akibat keinginannya yang tidak terpenuhi.

Sial! Ia benar-benar sudah mulai gila.

***

Paginya, Evan keluar dari dalam kamarnya saat ia sudah rapih. Berharap jika ia melihat Tiara yang masih sibuk di dapurnya dan mengamati wanita itu lagi secara diam-diam. Tapi ketika ia menuju ke arah dapur, semuanya sudah sepi. Tak ada Tiara di sana. Evan melirik sekilas ke arah meja makan, rupanya di sana sudah tersedia sarapan untuknya, lengkap degan secangkir kopi dan juga koran paginya.

Evan menuju ke arah meja makan tersebut, tampak sebuah note yang berisi :

“Sarapan, kopi, dan koran paginya sudah saya siapkan, Pak. Saya berangkat kerja dulu.”

Evan melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, seharusnya Tiara belum berangkat. Tapi kenapa wanita itu berangkat pagi-pagi sekali?

Satu-satunya alasan adalah bahwa wanita itu sedang menghindarinya. Tiara pasti enggan bertatap muka dengannya lagi karena pengajuan yang tak masuk akal darinya tadi malam.

Ahhh, wanita itu benar-benar membuat Evan gemas.

Evan tersenyum, ia duduk menyesap kopinya lalu meraih koran di hadapannya. Baru juga ia membaca tajuk utama dalam koran tersebut, ia sudah menaruhnya kembali. Terasa ada yang kosong, tapi apa?

Evan menghela napas panjang. Selama ini, ia memang tak pernah hidup jauh dari keluarganya. Tapi karena Karina, ia memilih mengasingkan diri, hidup dengan kekosongan, kesepian. Lalu kemarin, ketika ia bangun tidur, ia sudah mendapati Tiara yang sibuk di dapurnya, mengingatkannya kembali pada saat-saat dimana ia hidup dengan keluargnya, tidak sendirian.

Lalu tadi malam, dengan bodohnya ia mengacaukan semuanya. Tiara pasti ketakutan, dan tampak juga raut marah dan tersinggung dari wajah wanita itu semalam. Ah, benar-benar bodoh!

Evan menatap hidangan di hadapannya dengan tak berselera, ada nasi goreng seperti kemarin, yang pastinya rasanya sama enaknya, tapi entah kenapa Evan tak nafsu memakannya. Akhirnya Evan bangkit kembali, ia akan ke rumah Davit, dan mencari tahu, apa Tiara benar-benar di sana, atau mungkin wanita itu kabur karena takut dengan ucapannya semalam.

***

Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintu di hadapannya di buka. Evan mendapati Sherly berdiri di ambang pintu dengan menggendong puteri kecilnya.

“Loh, Van, kok tumben pagi-pagi ke sini?”

“Uuum, ini, mau minta gula.” Evan memang datang dengan membawa cangkir kopinya. Ia harus memiliki alasan, tidak mungkin ia bilang jika dirinya ke sana untuk mencari tahu dimana Tiara.

“Ohh, masuk aja, ikut sarapan sekalian.” tawar Sherly.

“Memangnya kamu masak?”

“Enggak, mana mungkin aku bisa masak kalau Cinta lagi rewel gini.” Sherly menimang-nimang putri kecilnya yang belum genap berusia satu tahun. “Tiara yang masak sarapan, nggak tahu, tumben dia datang pagi-pagi banget.”

Evan tersenyum penuh arti, “Ahh, ya, tentu saja, aku mau sarapan gratis di sini.”

Evan masuk ke dalam dan segera menuju ke arah ruang makan yang memang menyatu dengan dapur. Senyumnya kembali tersungging saat mendapati Tiara sedang sibuk dengan pekerjaannya. Wanita itu bahkan tidak menyadari jika kini Evan sedang menatapnya dari belakang.

Evan berjalan pelan, menuju ke arah Tiara, lalu ia berbisik “Pagi.” Hingga membut Tiara berjingkat seketika.

“Pak Evan?” ucapnya tak percaya.

“Ya.”

“Ke-kenapa?”

“Saya sedang minta gula.” Jawab Evan santai sambil mencari-cari letak gula di dapur rumah Davit.

“Tapi, kopinya tadi sudah saya kasih-”

“Pagi Van.” Sapaan Davit, sontak memotong kalimat Tiara.

Evan menolehkan kepalanya ke belakang. “Pagi.”

“Cari apa lo di sana?”

“Cari gula.”

Davit tertawa lebar. “CEO macam apa lo sampek-sampek nggak punya gula.”

Evan juga akhirnya ikut tertawa. “Sialan. Gue bangkrut, karena baru saja bayarin hutang seseorang.” Evan menjawab dengan sedikit menyindir. Tiara tentu tahu jika yang dimaksud Evan adalah hutang-hutang kakaknya.

“Bangkrut? Yang bener aja, lo. Mending lo ikutan bisnis kuliner sama gue.” Davit duduk di kursinya, menyesap kopi yang memang sudah tersedia di sana tanpa memperhatikan Evan lagi. Ia memilih meraih koran paginya sembari memakan selembar roti tawar.

Sedangkan Evan, ia berpura-pura meraih gula dan memasukkannya ke dalam cangkir kopi yang ia bawa dari rumah. Tak lupa, ia juga berbisik pelan ke arah Tiara.

“Saya tahu kamu sedang menghindari saya.”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti apa yang dikatakan Evan.

“Sayangnya, kamu tidak akan bisa lari dari saya.” Evan berkata lagi masih dengan menuangkan gula pada cangkir kopinya.

“Saya tidak bermaksud-”

“Tiara.” Panggilan dari Sherly menghentikan kalimat Tiara.

“Iya, Bu.”

“Bisa tolong Dirly sebentar? Ini Cinta nggak mau di tinggal.”

“Baik Bu.” Dan akhirnya Tiara memilih pergi meninggalkan Evan.

Evan sendiri memilih menuju ke arah meja makan, dimana di sana masih terlihat Davit yang serius dengan koran paginya.

“Serius amat, ada berita apa?”

“Nggak penting.” Davit menjawab cepat. “gimana kerjaan lo? Dan yang paling penting, apa lo sudah dapat gandengan?”

“Lo apaan sih? Nggak penting banget yang di tanyain.”

“Van, lo sudah hampir Tiga puluh tahun, Anak gue sudah dua, si Dirga sudah nikah, bahkan adek lo aja udah nikah. Lo kapan?”

Evan memilih diam dan hanya mengaduk-aduk kopinya, ia tidak ingin membahas masalah pribadi itu dengan Davit.

“Lo sudah nggak mikirin Karin lagi, kan?”

Ya, Davit tentu saja sudah tahu tentang masalah Evan, karena beberapa saat yang lalu, Karina masuk rumah sakit, dan di sana, Karin bercerita semua tentang masalahnya dengan Evan dan juga Darren.

“Enggak.”

“Terus, apa yang lo tunggu?”

“Lo pikir cari pasangan hidup itu segampang ngupil?”

“Ya.” Davit menjawab cuek. “gue hanya perlu sebulan untuk jadian sama Sherly, dan lima bulan untuk melamarnya.”

“Jangan samakan sama pengalaman lo.”

“Lalu?”

“Sudah ah, jangan bahas lagi.” Evan meminum kopinya, tapi kemudian ia segera menyemburkannya kembali sambil mengumpat “Sialan!”

“Kenapa?”

“Kemanisan.” Ucap Evan sambil membersihkan bibirnya dengan tissue yang tersedia. Sedangkan Davit hanya bisa tertawa lebar menertawakan temannya tersebut.

***

Di tempat lain.

“Ayolah Pa, Papa pasti punya kenalan, kan? Mama nggak tega lihat Evan hidup menyendiri di sana. Kalau Evan sudah ada istri, pasti dia bisa balik hidup di sini tanpa ada kecanggungan lagi dengan Karina maupun Darren.” Tampak, seorang perempuan paruh baya sedang membujuk suaminya.

“Kenalan sih banyak, Ma, tapi kan nggak semua kenalan Papa memiliki anak perempuan yang siap nikah, dan kalaupun ada, belum tentu dia mau di jodohkan. Evanpun demikian, belum tentu dia mau dijodohkan.”

“Tapi nggak ada salahnya mencoba, kan Pa?”

“Ma, jangan gegabah, Papa nggak mau anak-anak menikah karena paksaan. Biarlah Evan mencari kebahagiaannya sendiri dulu.”

“Ahhh, Papa ini, biar mama saja nanti yang tanya-tanya sama teman-teman arisan Mama.”

“Ma.”

“Pa, Mama hanya kasihan saat melihat Evan sedih ketika melihat kebersamaan Darren dan Karin di rumah ini. Mama ingin semuanya segera kembali normal dan Evan bisa balik ke rumah ini lagi tanpa kecanggungan-kecanggungan diantara mereka.”

Lelaki paruh baya itu menghela napas panjang. “Baiklah, atur bagaimana baiknya, tapi kalau dia nggak mau, jangan dipaksa.”

Perempuan paruh baya itu tersenyum senang, akhirnya, ia bisa berbuat sesuatu untuk putera kesayangannya.

***

Tiga hari berlalu.

Sore itu, Tiara sedang menemani Dirly main di dalam kamarnya. Keduanya sedang asyik bermain sampai tidak sadar jika Sherly sedang menatap keduanya dengan penuh senyuman.

“Sayang, kemarilah.” Davit yang memang tidak berangkat kerja dan memilih menghabiskan waktunya di depan televisi sesorean ini memanggil Sherly untuk segera menghampirinya.

“Ada apa?” Sherly datang menghampiri Davit.

Davit menyaringkan volume TV di hadapannya. “Itu, bukannya kakaknya Tiara?” Davit menunjuk ke arah TV.

Sherly menatap ke layar datar di hadapannya, mengamatinya dengan seksama, Sherly menajamkan pendengarannya hingga ia dapat mencerna berita apa yang sedang ia lihat.

Penggerebekan tempat hiburan malam, beberapa tamu terciduk sedang menggunakan ganja. Begitulah yang ia dengar, hingga ia segera menatap ke arah suaminya.

“Astaga, gimana dengan Tiara?” tanyanya khawatir pada Davit. Ya, tentu saja, Tiara sudah seperti adik kandungnya sendiri. Melihat pemberitaan tersebut tentu membuat Sherly mengkhawatirkan kehidupan Tiara selanjutnya.

“Ada apa, Bu?” suara Tiara yang tiba-tiba terdengar itu membuat Sherly terkejut. Rupanya Tiara sudah keluar dan dia mendengar apa yang diucapkan Sherly barusan. Tiara menatap ke arah TV yang memang masih menyiarkan berita tersebut.

Tiara hanya bisa ternganga melihatnya, matanya berkaca-kaca seketika saat melihat berita penggerebekan di sebuah tempat hiburan malam yang juga melibatkan kakaknya.

“Bang Radit.” Lirihnya.

***

Hanya bisa menangis sesenggukan saat melihat sang kakak ada di balik kaca pembatas ketika malam itu juga Tiara mengunjungi kakaknya. Sang kakak menampilkan wajah santainya, seperti tak terjadi apapun, padahal Taira sudah menangis sesenggukan membayangkan bagaimana nasib mereka kedepannya.

“Ngapain kamu kesini? Bukannya kamu sudah senang sama orang kaya itu?”

“Apa?”

“Orang yang menahanmu kemarin sudah cerita sama aku, kataya kamu sudah di tebus oleh laki-laki kaya raya. Bagaimana bisa? Karena kamu menjadi simpanannya?”

“Bang, bagaimana mungkin Bang Radit berpikir seperti itu? Pak Evan adalah orang yang baik, dia menolongku saat Bang Radit menjualku, aku harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumahnya agar bisa melunasi hutang-hutang kita, Bang.”

Radit malah tersenyum mengejek. “Oh ya? Memangnya kamu bisa melunasinya? Asal kamu tahu, hutangku pada si tua bangka itu sebanyak Seratus Juta, sedangkan si tua bangka itu menjualmu pada dia sebanyak Lima ratus juta. Kamu bisa mencicilnya? Dengan apa? Sampai matipun kamu nggak akan bisa membayarnya.”

Tiara membungkam mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya. Ia tidak menyangka jika Evan akan mengeuarkan uang sebanyak itu untuk menyelamatkannya, dan astaga, apa ia bisa membayarnya?

“Dengar. Sekarang, kamu hanya sendirian di luar sana. Jika kamu bisa mengeluarkanku dari sini, kita bisa melunasi hutang-hutang itu bersama-sama.”

Tiara menggelegkan kepalanya. Ia tentu ingin mengeluarkan kakaknya dari sana, tapi bagaimana caranya? Ia bahkan tidak memiliki apapun untuk dijadikan jaminan kebebasan sang kakak.

“Lakukan apa saja untuk mengeluarkanku dari sini.”

Tiara masih menangis, ia menggelengkan kepalanya tanpa bisa membalas ucapan sang kakak. Ya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

“Maaf, waktunya habis.” Seorang penjaga datang dan membawa Radit kembali menuju sel tahanan.

“Keluarkan aku dari sini, Tiara. Masa depan kita tergantung sama kamu.” Pesan Radit sebelum menghilang di balik pintu.

Tiara menangis, ia bangkit lalu keluar dari sana. Menuju ke mobil Davit yang berada di parkiran. Ya, Davitlah tadi yang mengantarnya, dan Davit memilih menunggu Tiara di luar dengan alasan tak mau mengganggu pertemuan Tiara dengan kakaknya.

“Hei, sudah balik?” tanya Davit yang segera menghampiri Tiara yang sudah msuk ke dalam mobilnya.

Tiara tidak menjawab karena dia masih sibuk dengan tangisannya. Davit sendiri mengerti apa yang dirasakan Tiara. Tiara sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, kecuali kakak berengseknya. Dan sekarang, mereka harus dipisahkan karena kasus ini. Davit memilih masuk ke dalam mobilnya. Dan segera menjalankan mobilnya. Mungkin Tiara masih shock, lebih baik ia mengantar Tiara pulang supaya wanita itu segera istirahat di rumahnya.

***

“Kamu yakin berani tinggal sendiri?” tanya Davit memastikan ketika sudah sampai di rumah Tiara dan wanita itu keluar dari dalam mobilnya.

Tiara hanya mengangguk, air matanya masih menetes dengan sendirinya.

“Kamu bisa tinggal di rumah kami sementara selama kasus kakak kamu berlangsung, kami sangat tidak keberatan. Dirly juga pasti akan sangat senang.” Davit menawarkan. Karena sungguh, ia tidak tega mendapati Tiara hidup sebatang kara saat kakak berengseknya menjalani hukuman di dalam sel tahanan.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya baik-baik saja.”

Davit menghela napas panjang. “Baiklah, kalau ada apa-apa, hubungi saya atau Sherly secepatnya, oke?”

Tiara tersenyum dan hanya bisa mengangguk patuh. Akhirnya Davit menyalakan mesin mobilnya, lalu mengemudikannya meninggalkan Tiara sendiri di depan rumahnya.

Tiara masih mematung di halaman rumahnya, ia menatap rumahnya dan tangisnya kembali menjadi. Tuhan, apa yang harus ia perbuat selanjutnya? Ia kini sendiri, sang kakak entah berapa lama berada di dalam tahanan, sedangkan hutang-hutangnya…. Astaga, apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia perbuat agar kakaknya segera keluar dari dalam tahanan?

Hujan tiba-tiba saja turun, menguyur tubuh Tiara yang masih mematung di halaman rumahnya. Oh, dirinya kini berada pada titik terendah dalam hidupnya, Tiara bahkan berpikir jika tak ada gunanya lagi ia hidup di dunia ini.

Tiara mendongakkan wajahnya ke arah langit, membiarkan wajahnya tertimpa derasnya air hujan. Ia ingin berteriak, meneriakkan semua kegalauan hatinya, tapi semuanya seakan tercekat di dalam tenggorokan. Yang bisa Tiara lakukan hanya menangis… menangis… menangis…. Lalu, bayangan itu datang.

“Datang saja sama saya, tawaran saya masih berlaku sampai kamu mampu melunasi hutang-hutang kakakmu.”

Tiara membuka matanya seketika. Apa ia harus meminta bantuan lelaki itu? Menjadi teman tidurnya? Tanpa pikir panjang lagi, Tiara melangkahkan kakinya, berlari secepat mungkin sebelum pikirannya berubah.

Ya, hanya Evan yang mampu membantunya, hanya Evan yang mampu menariknya dari semua masalah pelik yang sedang menimpanya.

***

Tiara mengabaikan tubuhnya yang sudah basah kuyub karena hujan, ia bahkan tidak menghiraukan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar cepat sampai di rumah Evan, dan cara satu-satunya adalah ia harus berlari secepat mungkin mengabaaikan hujan yang tak berhenti mengguyurnya.

Akhirnya, sampailah juga Tiara di depan rumah Evan, tanpa ragu sedikitpun, Tiara mengetuk pintu rumah tersebut, berharap Evan belum tidur dan segera membukakan pintu untuknya. Dan benar saja, tak berapa lama, pintu di hadapannya di buka mendapati Evan yang berdiri di ambang pintu.

“Tiara?” Evan tampak tertkejut dengan apa yang dia lihat.

“Pak.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, semuanya seakan tercekat di tenggorokan, hanya matanya yang kembali berkaca-kaca seakan ingin menumpahkan semua kesedihan di hadapan Evan.

“Apa yang kamu lakukan? Masuklah.” Evan menarik pergelangan tangan Tira hingga Tiara masuk ke dalam rumahnya. Evan menutup pintu rumahnya kemudian ia kembali fokus pada Tiara. “Kenapa kamu baru pulang? Kenapa kamu hujan-hujanan begini?” tanya Evan lagi.

“Pak.”

“Apa kamu tahu kalau saya kelaparan karena tidak ada yang menyiapkan makan malam untuk saya?”

“Maaf, Pak, tapi saya…”

“Cukup! Sekarang masuk dan gantilah bajumu, pakaianmu yang basah membuatku tidak fokus.” Gerutu Evan yang segera membalikkan tubuhnya membelakangi Tiara dan segera pergi meninggalkan Tiara.

“Pak, tunggu.” Dengan begitu berani, Tiara meraih pergelangan tangan Evan. Evan menghentikan langkahnya lalu menatap pergelangan tangannya yang sedang digenggam oleh Tiara. “Maaf, saya nggak bermaksud.” Tiara melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Evan.

“Ada apa? Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Evan penasaran.

“Uuum, saya menerima tawaran Pak Evan.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksud kamu?”

“Saya mau menjadi ‘Teman Tidur’ Pak Evan.”

Evan sempat ternganga dengan apa yang dikatakan Tiara, tapi kemudian ia segera menguasai dirinya kembali, dan secara spontan, Evan menangkup kedua pipi Tiara lalu secepat kilat, ia menyambar bibir ranum Tiara, bibir yang sudah cukup lama menggodanya….

-TBC-

7 thoughts on “Future Wife – Chapter 3 (Teman Tidur)”

  1. Knp TBC sii bu , evan lagi bersemangat tu malah tbc gmn sii ibu ini bikin reader na panas dingin az ….
    tapi evan ma darren sama yaa mereka masih sama” perjaka sblom darren nikah ma tiara 😊😊😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s