romantis

Future Wife – Chapter 2 (Cara Instan)

Future Wife

 

“Bang, Bang Radit. Bang..” Tiara juga ikut berteriak memanggil-manggil nama kakaknya ia tentu tidak ingin di tinggalkan dengan orang-orang asing yang tidak ia kenal. Belum lagi fakta jika dirinya kini menjadi milik orang tersebut. “Bang, jangan tiggalin Tiara, Bang.. Bang Radit….”

Dan ketika Tiara tak juga diam dari rengekannya, sepasang kaki berjalan menuju ke arah mereka. “Permisi.” Suara itu membuat Tiara menghentikan rengekannya, lalu menolehkan kepalanya ke arah suaraa tersebut. Tiara ternganga mendapati siapa yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Anda siapa?” tanya lelali paruh baya itu pada pria yang baru datang menghampirinya.

Pria itu sedikit tersenyum, lalu mengulurkan jemarinya. “Saya Evan Pramudya, kekasih wanita ini.”

***

 

Chapter 2

-Cara instan-

 

Tiara ternganga setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Evan. Apa maksudnya? Dan kenapa bisa lelaki ini berada di tempat seperti ini? Saat Tiara masih bingung mencerna semua kejadian itu di otaknya, lelaki paruh baya yang kini memilikinya itu tertawa lebar menertawakan keberanian Evan.

“Hahaha Anda jangan asal bicara, wanita ini sudah menjadi milik saya karena kakaknya sudah menjualnya dengan saya!”

“Saya akan menebusnya.” Evan berkata dengan santai tanpa ekpresi.

“Berapa uang yang kamu punya, anak muda? Sampai kamu berani-beraninya mau menebus dia dariku?”

Evan tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan dompetnya kemudian memberi lelaki paruh baya itu kartu namanya. Lelaki paruh baya itu menerimanya, membacanya, lalu matanya membulat seketika ke arah Evan.

“Saya pikir, uang saya lebih dari cukup untuk menebus kekasih saya.” Evan berkata dengan nada dingin tanpa ekspresi, hingga siapapun yang menatapnya pasti terintimidasi dengan sikap dan perkataannya.

Lelaki paruh baya itu tampak salah tingkah. Lalu ia mencoba menguasai dirinya dengan berkata “Saya ingin transaksinya di lakukan malam ini juga, di sini, kalau tidak…”

“Anda takut saya berbohong?” Evan memotong kalimat lelaki paruh baya itu. “Anda bisa menemui saya di kantor cabang saya yang di bandung. Jika anda menolak kompromi saya, saya bisa menuntut anda dengan tuntutan perdagangan manusia.”

“Tunggu dulu, apa-apaan ini? Kenapa jadi bawa-bawa hukum?”

“Anda ingin uang? Saya akan memberi Anda sebanyak yang Anda inginkan asalkan Anda mau melepaskan kekasih saya. Tapi tidak sekarang, karena saya tidak menyimpan uang sebanyak itu di kantong saya saat ini. Anda sudah menyimpan kontak saya, saya tidak akan lari.”

Setelah kalimat panjang lebarnya tersebut, Evan meraih pergelangan tangan Tiara dan bersiap mengajak Tiara pergi dari tempat tersebut, tapi kemudian langkahnya di hadang oleh anak buah lelaki paruh baya tersebut. Evan lalu menatap lelaki paruh baya itu sekali lagi dengan tatapan mengintimidasinya, lalu si lelaki paruh baya itu memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Evan dan juga Tiara. Evan melangkah pergi sambil menyeret Tiara.

“Saya akan menagih ke kantor kamu, nanti!” lelaki paruh baya itu berseru keras pada Evan dan Tiara. Namun Evan tidak mengindahkan seruan lelaki paruh baya itu. Ia tetap berjalan keluar dari tempat tersebut masih dengan menyeret Tiara.

***

Evan menyesap anggur yang ada di dalam sebuah gelas yang berada di tangannya. Pikirannya melayang memikirkan apa yang baru saja ia lakukan, astaga, apa ia sudah gila?

Semua itu berawal dari sebuah buku yang ia baca. Buku tentang bagaimana cara melupakan sosok masa lalu yang membayangi. Dalam buku tersebut, tertulis jika ia harus mencari sebuah pelarian, ia harus tetap berjalan kedepan, bahkan mungkin berjalan di luar garis aman. Dengan kata lain, ia harus mencoba hal-hal baru yang mungkin tidak ia sukai hingga ia mampu melupakan permasalahannya.

Maka dari itulah, tadi, ia berada di sebuah tempat yang memang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Tempat yang baginya sangat bising dengan suara musiknya dan juga lampu kerlap kerlipnya. Belum lagi bau rokok tercium di sudut manapun dari tempat tersebut.

Ya, tempat hiburan malam menjadi tujuan pertamanya saat itu. Ia hanya ingin mencoba minum di tempat asing seperti itu, karena sebelumnya, ia memang tak pernah ke tempat sejenis itu. Evan lebih suka menghabiskan waktunya di bar-bar café yang lebih tenang, bukan di tempat hiburan malam seperti itu.

Lalu ketika Evan sudah tidak tahan dengan kebisingan tempat tersebut, ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dan ketika ia akan pergi dari sana, ia mendengar sebuah kegaduhan tak jauh dari tempatnya berdiri. Rasa keingintahuannya begitu besar hingga kakinya melangkah dengan spontan ke arah kegaduhan tersebut, ia sedikit terkejut saat mendapati siapa yang ada di sana.

Itu Tiara, wanita pendiam yang mengasuh anak-anak Davit. Evan tertarik dengan apa yang dilakukan Tiara disana. Kenapa wanita itu meronta? Berteriak memanggil-manggil seseorang? Akhirnya Evan memutuskan untuk mencari tahu dengan mendekat. Lalu semuanya terjadi begitu cepat, ketika tanpa pikir panjang lagi ia memutuskan untuk menolong perempuan itu dengan cara menebusnya, padahal ia tidak yakin apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kini, perempuan itu masih berada di dalam kamar mandinya, sedangkan ia menunggu perempuan itu keluar dan meminta penjelasan tentang apa yang sedang dialami oleh perempuan trsebut.

Evan menyesap anggurnya sekali lagi, sebelum kemudian ia mendengar pintu kamar mandinya dibuka dan mendapati Tiara sudah berdiri di sana dengan wajahnya yang sudah segar. Perempuan itu mengenakan T-shirt miliknya, dengan handuk yang membalut kepalanya yang basah. Entah kenapa Evan merasakan sesuatu yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

“Kemarilah.” Dengan sedikit canggung, Evan memanggil Tiara dan mengajak Tiara untuk duduk di hadapannya.

Tiara tidak menolak, ia menuruti apa yang dikatakan Evan, meski sebenarnya Tiara juga dilanda kecanggungan yang sama besarnya dengan yang dirasakan Evan.

“Berceritalah.”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti.

“Ceritakan apa yang terjadi denganmu tadi. Kenapa kamu bisa sampai ditempat seperti itu dan dengan orang-orang seperti itu.”

Tiara menunduk, ia meremas kedua belah telapak tangannya sendiri, ia tidak tahu harus darimana menceritakan semuanya, dan ia tidak yakin jika dia mampu menceritakan semuanya pada Evan. Apakah masuk akal jika ia bercerita tentang kehidupan pribadinya dengan lelaki yang cukup asing seperti Evan? Tapi, disisi lain, Tiara juga sadar, jika Evan harus mengetahui semuanya, mengingat lelaki itu akan mengeluarkan banyak uang untuk menebusnya.

Tiara menghela napas panjang, sebelum kemudian ia mulai membuka suara. “Bang Radit, kakak saya, dia punya banyak hutang karena bermain judi. Dan dia, menjadikan saya sebagai pelunas hutangnya.”

“Lalu dimana kakak berengsekmu itu?”

“Mungkin di rumah, karena anak buah orang itu tadi menyeretnya keluar.”

Evan mendengus sebal. “Kakak seperti apa yang tega menjual hidup adiknya sendiri?”

“Pak Evan tidak mengerti apa yang terjadi dengan kehidupan kami.”

“Saya tahu saya tidak mengerti, dan saya tidak seharusnya ikut campur dengan masalah kalian. Tapi menjual keluarga sendiri itu benar-benar tidak termaafkan.”

Tiara hanya menunduk, ia terdiam cukup lama, tak berani mengangkat wajahnya apalagi membalas ungkapan kekesalan yang terlontar dari mulut Evan tadi.

“Uum, bagaimanapun juga, saya berterimaksih sekali dengan apa yang sudah pak Evan lakukan. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Mungkin saya harus bekerja ekstra untuk membayar hutang-hutang kami pada pak Evan.” Tiara lalu berdiri, ia merasa kurang nyaman dengan kedekatannya bersama Evan. “Uum, jika berkenan, saya mau izin pulang dulu.”

Evan ikut berdiri seketika. “Tunggu, siapa yang bilang kamu boleh pulang?”

“Maaf?” Tiara menatap Evan dengan wajah bingungnya.

“Kalau kamu pulang, kakak kamu akan berpikir jika dirinya tak perlu susah payah menebus kamu lagi, dan kemungkinan, kamu akan dijual kembali dengan pria hidung belang yang lainnya. Tinggallah di sini, sampai kakak kamu bisa melunasi hutangnya.”

Mata Tiara membulat seketika. “Apa? Sampai kapan? Bang Radit tidak mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam satu atau dua tahun.”

“Setidaknya di sini kamu aman, daripada di tenpat lelaki hidung belang tadi.” Dan setelah kalimatnya itu, Evan pergi meninggalkan Tiara. Tiara hanya bisa menatap kepergian Evan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia akan menjadi tawanan lelaki itu, ya, sepertinya begitu. Tapi bukankah ini lebih baik? Setidaknya Evan tidak macam-macam, dan lelaki itu tidak tampak seperti lelaki berengsek yang ada di tempat hiburan malam tadi.

***

Paginya, Tiara bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan tanpa alasan, karena semalaman ia sudah memikirkan semuanya. Ia berpikir untuk bekerja paruh waktu dengan Evan. Ya, mengurus rumah lelaki itu dan menyiapkan segala keperluannya sepertinya bukan hal yang sulit. Ia akan melakukannya, dan berbicara dengan Evan supaya lelaki itu mau mempertimbangkan pekerjaannya tersebut sebagai sedikit potongan dari hutang mereka.

Tiara cukup lega, karena ternyata Evan memiliki bahan masakan yang bisa dimasak. Hingga Tiara saat ini menghabiskan paginya di dapur rumah Evan. Menyiapkan sarapan tentu bukan hal baru untuk Tiara, tapi yang menjadi masalahnya adalah, apakah lelaki itu mau menikmati masakannya? Apa lelaki itu memiliki selera makan yang sama dengan seleranya? Mengingat itu hati Tiara menciut.

Tapi ia tidak peduli, yang paling penting adalah, ia akan melakukan apapun yang dapat ia lakukan untuk meringankan hutangnya terhadap Evan.

Saat Tiara masih asik di depan kompor, ia tidak menyadari jika kesibukannya memasak sarapan untuk Evan ternyata diperhatikan lelaki itu dari jauh.

Masih mengenakan celana piyamanya dengan bertelanjang dada, Evan melangkahkan kakinya dengan spontan mendekat ke arah meja dapur. Memperhatikan Tiara dari belakang. Perempuan itu benar-benar mirip dengan Karina ketika Karina berada di dapur. Tiara pasti pandai memasak juga, dan entah karena apa, Evan merasa sejuk saat melihat Tiara sibuk di dapurnya.

Mencoba menghilangkan kecanggungan, Evan berjalan menuju ke arah lemari pendingin sembari menyapa Tiara. “Pagi.”

Tiara menatap ke arah Evan, lalu ia membalikkan tubuhnya memunggungi Evan saat ia mendapati Evan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana piyama saja.

Evan mengerutkan keningnya saat melihat tingkah aneh dari Tiara. “Kenapa?” tanyanya bingung.

“Maaf, Pak. Apa nggak sebaiknya Pak Evan pakai baju dulu? Nanti takutnya masuk angin.”

Evan sempat ternganga mendengar kalimat Tiara, tapi setelah itu ia tertawa lebar menertawakan kepolosan Tiara. “Saya sudah biasa telanjang dada seperti ini, jadi mulai sekarang kamu harus membiasakan diri melihatnya.”

“Uum, tapi Pak-”

“Sudahlah, sekarang lanjutin saja masakannya, saya sudah lapar.” Dengan santai dan cuek, Evan berjalan menuju ke meja makan. Sesekali ia masih melirik ke arah Tiara yang tampak mengenyahkan kepergiannya. Ahh, rupanya wanita itu lucu juga, polos dan menggemaskan.

Evan meraih sebuah koran, lalu membacanya sembari menunggu masakan Tiara siap. Meski ia mencoba berkonsentrasi, nyatanya tanpa ia sadari, matanya sesekali melirik ke arah Tiara bahkan tanpa perintah otaknya.

Tak lama, Tiara sudah menyuguhkan sarapan untuknya. Nasi goreng special, tak lupa ia juga membuatkan kopi untuk Evan. Evan melirik ke arah masakan Tiara, tampak enak, dan Evan tak sabar mencicipinya.

“Kopi untuk saya harus dikasih krim yang banyak.” Evan berkomentar.

“Baik, Pak. Saya tambah dulu.”

Evan mengangguk, ia mulai mencoba masakan Tiara, dan ia benar-benar menyukai rasanya.

“Kamu pinter masak.” Evan berkomentar. “Saya jadi inget masakan Karina.” Dengan spontan Evan berkata seperti itu tanpa bisa ia cegah.

“Karina?” Tiara tampak bingung.

Evan sedikit salah tingkah. “Uum, dia adik ipar saya, istri adik saya.” Tiara hanya mengangguk, tak menanggapi lagi apa yang dikatakan Evan tadi. “Kenapa kamu tiba-tiba memasak untuk saya?” tanya Evan yang seketika itu juga membuat Tiara tak enak hati.

“Sebelumnya, saya mau minta maaf, karena sudah membuat berantakan dapur pak Evan.”

“Saya nggak mempermasalahkan hal itu.”

“Uum, jadi begini, saya bisa sambil kerja di sini, mencuci, bersih-bersih bahkan mengurus semua keperluan Pak Evan kalau Pak Evan mengizinkan, supaya, uum, itu hutang kakak saya sedikit lebih ringan.”

Evan tampak berpikir sebentar. “Jadi, kamu akan menyicil hutang dengan tubuhmu?”

“Maaf?” sungguh, Tiara berharap jika ia salah dengar. Apa yang dikatakan Evan tadi membuatnya berpikir yang tidak-tidak.

Tapi Evan malah tertawa lebar. “Ayolah, saya cuma bercanda, jangan terlalu kaku.”

Pipi Tiara merona seketika. Ia menunduk dan tersenyum malu, ia tidak menyangka jika Evan juga memiliki sisi humoris, meski baginya sisi tersebut masih terlalu dipaksakan.

“Oke, itu terserah kamu saja, tapi bukannya kamu juga harus bekerja di rumah Davit?”

“Ya, saya berangkat jam delapan, dan pulang jam Enam sore, sepertinya saya bisa menyelesaikan tugas saya tanpa mengurangi waktu kerja saya di tempat Bu Sherly.”

“Oke, atur bagaimana baiknya, nanti saya akan ngasih kamu daftar apa aja yang harus kamu lakukan.” Tiara mengangguk patuh, dan suasana di antara mereka berdua kembli hening penuh dengan kecanggungan. Sungguh, Evan ingin membunuh seluruh kecanggungan yang ada diantara mereka. Tapi bagaimana??

***

Di kantor…

Evan mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaannya, padahal sejak siang tadi pikirannya menjurus pada sosok yang seharusnya tidak pernah mengganggu kepalanya, siapa lagi jika bukan Tiara.

Tadi siang, lelaki paruh baya yang tadi malam bermasalah dengan Tiara dan kakaknya datang ke kantornya. Untuk apa lagi jika bukan untuk menagih uang untuk menebus Tiara.

Tadi siang….

“Lima ratus juta.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Anda mau memeras saya? Hutang anak itu tidak mungkin sebanyak itu.”

Lelaki paruh baya itu tersenyum menyeringai. “Ya, memang tidak sebanyak itu. Itu adalah Lima kali lipat dari hutang kakaknya.”

“Dan kenapa Anda melipat gandakannya?”

“Karena kamu bukan hanya membayar hutangnya, tapi juga menebus ‘pelunasnya’.”

“Apa?”

Lelaki paruh baya itu berdiri dan tertawa lebar. “Kamu pikir saya tidak tahu? Sebenarnya dia bukan kekasih kamu, kan? Evan Pramudya, Anda baru dua mingguan pindah ke kota ini, mana mungkin Anda menjalin hubungan special dengan perempuan macam dia dalam waktu sesingkat itu?”

“Itu bukan urusan Anda.” Evan ikut berdiri, ia sedikit kesal karena nyatanya lelaki paruh baya itu mampu mengetahui semuanya.

“Ya, bukan urusan saya. Saya hanya mau uang saya.”

Evan menghela napas panjang. Ia mengambil sebuah cek di dalam laci meja kerjanya, menulis nominal yang diinginkan lelaki paruh baya itu, lalu memberikannya begitu saja.

“Jangan ganggu dia lagi.” Evan mendesis tajam.

Lagi-lagi, lelaki paruh baya itu tersenyum miring. “Kenapa kamu mau membayar mahal untuknya? Kamu sedang merencanakan sesuatu? Menginginkan tubuhnya, mungkin.”

“Jaga mulut Anda.”

“Hahahaha.”

Evan mendengus sebal karena ditertawakan.

“Meskipun dia orang miskin, tapi dia cukup cantik, kulitnya putih mulus, membuat lelaki manapun ingin mendaratkan bibirnya pada permukaan kulit lembut wanita itu.”

Evan mengetatkan gerahamnya. Ia tidak suka cara lelaki paruh baya itu mendiskripsikan tubuh Tiara.

Kembali tertawa lebar, lelaki itu menepuk-nepuk pundak Evan. “Kamu menginginkannya, terlihat dari gelagatmu, anak muda.” Lalu lelaki itu berjalan pergi menuju ke arah pintu ruang kerja Evan. “Bagaimanapun juga, senang berbisnis denganmu.” Ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.

 

Berbisnis? Apa-apaan dia? Dan astaga, menginginkan tubuh Tiara? Yang benar saja. Evan menggelengkan kepalanya cepat. Tiba-tiba ia merasa kepanasan, hingga ia meraih gelas yang ada di atas meja kerjanya, menenggak airnya hingga tandas. Evan lantas melonggarkan dasi yang entah kenapa terasa mencekiknya. Sial! Apa yang sedang terjadi dengannya? Apa yang sedang terbayang-bayang dalam pikirannya? Akhirnya Evan memilih bangkit. Entah kenapa ia ingin segera pulang, apa yang membuatnya ingin segera pulang?

***

Evan menenggak minuman kaleng yang berada dalam genggaman tangannya, sesekali ia menyibak gorden jendela rumahnya, rupanya, Tiara belum juga pulang dan astaga, untuk apa juga ia menunggu Tiara?

Saat Evan sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu rumahnya diketuk. Evan bangkit dan segera menuju ke arah pintu depan rumahnya, lalu membukanya. Tampak Tiara sudah berdiri di sana.

“Hei, baru pulang?”

Tiara mengangkat sebelah alisnya. Sungguh, ia sedikit tidak nyaman saat mendengar Evan menyapanya dengan kata ‘pulang’. Seakan-akan, itu adalah rumahnya, rumah mereka berdua.

Oh Tiara, apa yang sudah kamu pikirkan?

“Ya.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, seperti biasa, ia hanya menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya terlalu lama.

“Masuklah, sebelum Davit keluar dan melihatmu ada di depan rumah saya.”

Tiara menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam rumah Evan. “Uum, Pak. Apa saya boleh pulang sebentar? Saya mau mengambil pakaian saya.”

“Kalau kamu pulang, kakak kamu akan tahu kalau kamu bisa bebas sesuka hati. Setidaknya biarkan dia berpikir kalau hidup kamu disini susah, maka dia akan berusaha lebih keras untuk membayar hutangnya.”

“Lalu, pakaian saya?”

“Sementara, pakai saja T-shirt milik saya, nanti kita akan keluar carikan kamu pakaian santai.”

“Tapi Pak, bukannya itu nanti malah menambah hutang kami?”

“Enggak, anggap saja itu saya yang belanjakan.”

“Pak Evan tidak perlu berlebihan.”

“Dan kamu juga jangan terlalu banyak membantah. Sekarang, cepat, buatkan saya makan malam. Saya sudah lapar.” Evan pergi meninggalkan Tiara, sedangkan Tiara hanya bisa ternganga menatap kepergian Evan.

Apa-apaan lelaki itu?

***

Tiara membersihkan dapur serta piring-piring kotor bekas makan malam Evan. Ia sibuk dengan pekerjaannya tersebut hingga tidak sadar jika sejak tadi Evan sudah mengamatinya dari belakang.

Evan sendiri kini sedang memakan buah apel, berdiri di sebelah meja makan dengan sebuah kertas di tangannya. Matanya tak berhenti menatap Tiara dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

Untuk ukuran seorang pembantu rumah tangga, Tiara adalah pembantu yang cantik, dan sialnya, dia juga tampak seksi.

Astaga, apa yang sudah ia pikirkan???

Seksi? Sial! Tiara bahkan memiliki ukuran tubuh mungil dan lebih cocok disebut kurus, bagaimana mungkin ia berpikir jika perempuan itu seksi? Dan lagian, dia masih Dua puluh tahun, sepertinya kurang cocok dengannya yang sudah berumur hampir Tiga puluh tahun.

Evan menggelengkan kepalanya. Sepertinya pikirannya sudah mulai gila. Setelah ia menghabiskan apel dalam genggaman tangannya, kakinya melangkah secara pasti menuju ke arah Tiara.

“Kamu, nggak makan malam?” pertanyaan Evan sontak membuat Tiara menoleh sekilas ke arah Evan, lalu perempuan itu kembali memfokuskan diri pada cucian di hadapannya.

“Saya sudah makan malam di rumah Bu Sherly.”

Evan menggangguk, “Ini, catatan apa saja yang harus kamu lakukan untuk saya.” Evan memberikan kertas yang tadi baru saja ia ambil dari dalam kamarnya setelah ia menghabiskan makan malamnya.

Tiara menghentikan pekerjaannya, ia membilas tangannya yang penuh dengan busa, lalu mengeringkannya dengan lap yang tersedia. Tiara meraih kertas tersebut kemudian membacanya dengan teliti.

Sedangkan Evan, pikirannya kembali menggila. Ia mengamati wajah Tiara yang entah kenapa tampak begitu indah dimatanya. Alis perempuan itu tampak tebal, namun terukir dengan rapih, kulitnya putuh bersih, bahkan sedikit terlihat rona merah di pipinya, apa perempuan itu sedang mengenakan Blush On? Tidak mungkin. Bulu mata Tiara juga tampak panjang dan lentik, padahal Evan tahu jika itu bukan bulu mata palsu. Dan bibir wanita itu, astaga, tampak penuh dengan warna merahnya.

Sial! Evan menegang seketika.

Apa-apaan ini? Padahal Evan yakin, jika Tiara tidak sedang berdandan. Perempuan itu tampak berantakan dengan baju sederhananya, belum lagi rambutnya juga yang tampak berantakan seperti belum di sisir, tapi entah kenapa Evan menginginknnya, menginginkan perempuan itu, meski Evan tak yakin, kenapa dirinya tiba-tiba memiliki keinginan menggelikan yang menggebu-gebu seperti ini.

“Jadi, hanya….” Tiara menghentikan kalimatnya ketika ia mengangkat wajahnya dan mendapati Evan tampak serius memperhatikannya. “Pak?” Tiara memanggil Evan, karena sedikit tidak nyaman, ia berpikir Evan sedang melamun. Belum lagi tatapan lelaki itu yang fokus ke arahnya, dan jarak mereka berdua sudah sangat dekat.

“Ya.” Sial! Evan merasa jika tiba-tiba suaranya sudah menjadi serak.

“Ada apa?” tanya Tiara yang sudah mundur satu langkah. Tidak suka, ya, ia tidak suka ditatap seperti itu.

“Tiara. Saya memiliki cara instan, agar kamu bisa segera meluasi hutang kakak kamu, hingga kamu bisa cepat lepas dari genggaman tangan saya.”

“Uumm, cara instan? Seperti apa, Pak?”

Evan menelan ludahnya dengan susah payah, sebelum menjawab, “Jadilah teman tidur saya, maka saya akan menganggap semuanya sudah lunas.”

-TBC-

4 thoughts on “Future Wife – Chapter 2 (Cara Instan)”

  1. Part 3 blom ada yaa bu ??
    Papa peri keren banget pas adegan dia narik tangan naura keluar dari klub , udah kek CEO” d drama yng lagi nlongin cewe na 😊😊😊
    tapi ko dia berubah jadi mesum gitu yaa , udah kek dirga ma alden az 😂😂😂
    pnsaran ma episode slanjut na , gmn gila na papa peri .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s