romantis

Secret Wife – Chapter 9 (Goresan luka masalalu)

Secret Wife

 

Chapter 9

-Goresan luka masalalu

 

Wajah Alden masih pucat karena melihat keadaan Naura, tapi ia tak bisa berhenti terlalu lama. Ia harus membawa Naura ke rumah sakit secepatnya. Segera ia menyalakan mesin mobilnya kembali lalu menjalankan mobilnya secepat mungkin ke rumah sakit.

“Al…” lagi-lagi Naura merintih hingga membuat Alden semakin panik.

“Jangan membuatku takut, Na.”

“Aku nggak kuat.”

“Tolong, jangan buat aku ketakutan.” Alden masih mengemudikan mobilnya. Sesekali ia mengumpat karena ia masuk jalan padat merayap. Sial! Jika begini terus, bisa-bisa ia terlambat membawa Naura ke rumah sakit.

Alden melihat jauh ke depan, tak jauh dari sana ternyata ada sebuah klinik bersalin, mungkin bukan klinik besar tapi ia berharap jika klinik itu dapat menolong Naura. Alden sedikit menepikan mobilnya, ia keluar dari dalam mobil, tak peduli jika mobil-mobil di belakangnya membunyikan klakson untuknya.

Ya, orang-orang itu pasti marah karena dengan berhentinya Alden di sana, maka kemacetan semakin parah. Namun Alden tidak peduli, ia memutari mobilnya lalu mengeluarkan Naura dari sana.

“Kenapa berhenti di sini?”

“Aku akan menggendongmu ke klinik itu.”

“Tapi, rumah sakit tempat tante kamu-”

“Yang paling penting adalah keselamatan kamu.” Alden menjawab dengan cepat.

“Hei mas, tolong jangan parkir di sini, ini memperparah kemacetan.” Seorang lelaki paruh baya menegur Alden.

“Istri saya pendarahan, saya nggak bisa nunggu di dalam mobil, saya harus menggendongnya ke klinik itu.” Alden tidak lagi menghiraukan lelaki paruh baya itu atau keadaaan di sekitarnya. Yang menjadi pioritasnya saat ini hanyalah Naura. Bagaimana ia bisa membawa Naura secepat mungkin ke klinik itu untuk mendapatkan pertolongan.

“Al….”

“Jangan banyak bicara.” desis Alden tajam.

“Apa kamu menyesal?”Naura bertanya dengan lirih.

Alden tetap berlari, ia menatap Naura sebentar, tapi tidak menjawab pertanyaan perempuan itu. Naura hanya bisa menangis, bukan hanya karena kesakitan yang menderanya, tapi juga karena sikap Alden yang tidak menunjukkan sedikitpun menyesalannya.

Setelah berlari secepat yang ia bisa, tak berapa lama, sampailah mereka pada halaman klinik tersebut. Alden segera membawa Naura ke dalam UGD.

“Ada apa, Pak.”

“Dia, dia pendarahan.” Jawab Alden masih dengan kepanikannya.

“Silahkan tunggu di luar.”

“Tapi…”

“Al…” Naura merengek, ia tentu tidak ingin Alden meninggalkannya pada saat seperti ini.

“Maaf, Pak. Sudah prosedurnya begitu.”

Palan-pelan Alden mundur, matanya masih tak lepas dari menatap Naura yang masih meringis kesakitan di atas ranjang UGD. Lalu dengan spontan ia berkata.

“Selamatkan mereka.” Ucapnya pelan. Alden tidak sadar dengan apa yang ia katakan, tapi setelah beberapa detik berlalu, ia baru sadar, jika apa yang ia lakukan benar-benar salah. Tak seharusnya ia memperlakukan Naura seperti itu, tak seharusnya ia menyingkirkan darah dagingnya hanya karena keegoisannya.

Rasa takutnya menghadapi masa depan di usia muda tak sebanding dengan rasa takutnya kehilangan sosok Naura. Dan betapa bodohnya dirinya ketika ia memaksa Naura menelan pil-pil penggugur kandungan itu.

“Selamatkan mereka! Selamatkan mereka!” Alden berseru keras. Berteriak ketika pintu UGD mulai di tutup. Ya, mereka harus selamat, Naura dan bayinya harus selamat, jika tidak, maka Alden tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.

***  

Alden masih terduduk lemas di sebuah kursi kecil yang berada di sebelah ranjang yang di tiduri Naura. Saat ini, Naura sudah keluar dari UGD dan perempuan itu sudah dipindahkan ke dalam ruang inap untuk memulihkan keadaannya pasca keguguran.

Ya, bayinya tak dapat diselamatkan. Dan hal itulah yang kini membuat Alden terduduk lemas tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Sedangkan Naura tak berhenti menangis, meski wanita itu tak mengeluarkan suaranya, namun air matanya tak berhenti mengalir dari pelupuk matanya.

Naura tidak peduli, meski sikap aneh yang mereka tampilkan mengundang bisik-bisik dari beberapa teman sekamarnya, yang Naura pedulikan hanya kesedihan mendalamnya akibat kehilangan calon bayinya.

Pun dengan Alden, ia juga tidak peduli, saat banyak orang menatap mereka dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, karena sejak masuk kamar tersebut, Naura sudah menangis sedangkan ia sudah linglung seperti orang tolol.

Alden kemudian berdiri hingga membuat Naura menatapnya seketika.

“Aku pergi dulu.” ucapnya dingin.

“Kamu, mau ninggalin aku?”

“Kamu pikir aku akan melakukannya setelah melihatmu seperti tadi?” Alden bertanya dengan tajam, ia sangat tersinggung saat mendapati Naura menuduhnya yang bukan-bukan. “Aku hanya ingin mencari udara segar, berada di sini terlalu lama membuatku sesak.”

“Kamu marah?” tanya Naura dengan hati-hati. Ya, Alden seperti orang yang sedang marah, tapi Naura tidak tahu apa yang membuat lelaki itu marah. Kemauan Alden sudah ia turuti, seharusnya lelaki itu tidak bersikap seperti ini padanya.

“Ya, sangat marah. Marah dengan diriku sendiri.” Setelah ucapannya tersebut. Alden keluar dari dalam ruang inap Naura. Yang bisa Naura lakukan hanya kembali menangis. Menangisi semua kebodohannya. Sungguh, ia sangat menyesal melakukan kejahatan yang baru saja ia lakukan. Meski ia sangat mencintai Alden, seharusnya hatinya tak dibutakan dengan cinta tersebut. Alden boleh tidak mau bertanggung jawab padanya, atau meninggalkannya, tapi seharusnya ia tidak menuruti apa mau lelaki itu untuk membunuh calon bayi mereka.

***   

Minum lagi dan lagi, hingga Alden tidak tahu dan sudah tak dapat menghitung, berapa banyak botol alkohol yang tadi di tegaknya. Dirga, temannya, yang berada di sana hanya bisa menatap Alden dengan sesekali menggelengkan kepalanya.

Tadi, Alden tiba-tiba menghubungi Dirga, lalu mengajak Dirga minum. Dirga tahu jika temannya itu sedang memiliki masalah serius, karena tidak biasanya Alden minum seperti orang gila seperti saat ini. Tapi Dirga tidak bertanya apa masalah Alden. Karena ia hanya akan membuka suaranya jika Alden sendiri yang mau bercerita tentang masalahnya.

Alden mengisi gelasnya lagi saat gelas di hadapannya kosong. Tapi kemudian, Dirga mencegahnya.

“Lo sudah terlalu banyak minum.”

“Ya, biar. Gue mau minum sampek mampus.”

Dirga tertawa lebar. “Kalau begitu, minumlah lagi, kalo perlu gue yang bayarin sampek lo bener-bener mampus.”

“Bangsat lo!”

Dirga menepuk pundak Alden. “Lo ada masalah? Gue pikir lo nggak pernah punya masalah. Well, gue nggak tau apa yang nimpa kehidupan elo, karena lo sendiri nggak pernah cerita sama gue atau temen yang lainnya.”

“Gue baru saja jadi pembunu.”

“Apa?” Dirga terkejut seketika. Ia berharap jika dirinya salah dengar.

“Gue baru bunuh anaknya Naura, anak gue.”

“Lo ngomong apa sih? Lo udah punya anak? Tunggu dulu, Naura? Istri bohongan lo?” tanya Dirga sambil mengingat-ingat tentang seseorang yang beberapa bulan yang lalu dinikahi Alden.

Alden berdiri seketika, meski tubuhnya sedikit sempoyongan karena mabuk, tapi itu tidak menghalangi dirinya untuk meraih kerah baju yang dikenakan Dirga.

“Naura istri sah gue! Pernikahan kami bukan bohongan, atau mainan!”

“Tapi lo sudah mainin dia, Al. lo harus sadar!”

“Bangsat!” dengan spontan Alden melayangkan pukulannya pada wajah Dirga hingga Dirga tersungkur ke lantai.

Dirga mengusap ujung bibirnya yang mulai mengeluarkan darah. “Bajingan!” setelah umpatan kerasnya tersebut, Dirga bangit dan menerjang tubuh Alden. Mengumpat kasar dan memukuli temannya itu hingga sadar dari kegilaannya.

***  

Setelah menghabiskan waktu di parkiran kelab malam bersama dengan Dirga karena keduanya di tendang oleh keamanan kelab tersebut akibat kerusuhan yang mereka lakukan, Alden memilih kembali ke klinik saat waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Sebenarnya Alden sudah dilarang masuk, tapi karena dia bilang Naura adalah istrinya dan sedang sendiri dan tak ada yang menjaga di dalam ruang inapnya, maka Alden diperbolehkan masuk asalkan tidak mengganggu pasien yang lainnya.

Alden masuk lalu membuka tirai paling  ujung, tempat dimana Naura terbaring nyenyak di sana. Perempuan itu sepertinya tidak menyadari kehadirannya, dan yang bisa Alden lakukan hanya mengamati setiap jengkal tubuh Naura tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Matanya lalu menatap ke arah meja mungil yang berada di sebelah ranjang Naura. Di meja itu masih terdapat sebuah nampan yang lengkap dengan menu makan malam. Apa Naura tidak makan?

Akhirnya Alden memilih membangunkan Naura, hingga tak lama, perempuan itu membuka matanya dan sedikit terkejut saat mendapati wajah Alden yang sudah setengah babak belur.

“Al, kamu kenapa?” tanya Naura dengan wajah khawatirnya.

“Jangan pikirin aku. Kamu nggak makan? Kenapa makanannya nggak berkurang?”

“Aku nggak nafsu makan.”

Ya, itu juga yang dirasakan Alden saat ini. “Tapi kamu harus makan, Na. kamu harus makan biar cepat sehat.”

Tanpa di duga, Naura kembali menangis. “Aku merasa menjadi orang terjahat di dunia, Al. aku nggak bisa makan apapun, karena mengingat apa yang baru saja kulakukan, semua itu membuatku mual, membuatku membenci diriku sendiri.”

Alden duduk di pinggiran ranjang Naura. Ia mengulurkan jemarinya lalu mengusap lembut pipi Naura. “Percayalah, itu juga yang sedang kurasakan.”Alden melirih.

“Kamu, menyesal?” tanya Naura tiba-tiba. Alden tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan. Lalu, tanpa diduga, Naura duduk dan segera memeluk tubuh Alden.

“Jangan begini, Na.”

“Aku merasa sendiri, Al. aku merasa serba salah.”

“Aku yang salah, jadi berhenti menyalakan dirimu sendiri.” Alden melepaskan pelukannya pada tubuh Naura, lalu ia meraih nampan di atas meja kecil di sebelah ranjang  yang di tiduri Naura. “Ayo, makan, aku akan menyuapimu.”

Naura menggeleng pelan.

“Na..”

“Aku mau makan, asal kamu juga makan.”

Alden sedikit tersenyum, lalu mengangguk. Keduanya akhirnya makan bersama, meski masakannya tidak enak, terasa hambar, terasa dingin, tapi keduanya tetap makan untuk menyemangati satu sama lain.

***   

Alden berakhir tidur di atas ranjang kecil dan sempit karena ditiduri oleh dirinya dan juga Naura. Ya, Naura di rawat di ruangan biasa, dengan Tiga orang pasien di dalam ruang yang sama. Ranjangnya pun tak sebesar ranjang di rumah sakit kamar VIP, tak ada juga fasilitas lengkap lainnya seperti di kamar VIP. Tapi Alden tidak mempermasalahkannya, yang paling penting adalah, bagaimana caranya melewati semuanya, semua mimpi buruk yang sudah ia berikan pada Naura.

“Al, ibu bagaimana?” pertanyaan Naura membuat Alden menundukkan kepalanya. Saat ini Naura sedang tidur miring meringkuk di dalam dada bidangnya.

“Aku sudah meneleponnya tadi. Aku bilang kamu baik-baik saja. Dan hanya ada sedikit masalah dengan rahim kamu. Bukan berarti aku bercerita kalau kamu hamil dan mengalami pendarahan.”

“Aku takut dia curiga.”

“Nggak ada yang curiga, semua akan baik-baik saja dan kembali normal, besok.”

“Kamu, tetap pergi pada jadwal awal?” tanya Naura lagi.

Alden mengeratkan pelukannya. “Na, bagaimana, kalau kita menikah saja?”

Naura mengangkat wajahnya seketika. “A-apa maksud kamu? Kita kan sudah menikah.”

“Menikah secara sah di mata agama maupun hukum, menikah di hadapan banyak orang, bukan sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya.”

“Al… bagaimana dengan study kamu? Ba-bagaimana dengan keluarga kamu?” tanya Naura dengan terpatah-patah. Ia masih tidak menyangka jika Alden akan mengucapkan kalimat tadi.

“Keluargaku akan menerima apapun pilihanku, mereka akan menerimamu, sedangkan studyku, aku bisa melanjutkannya di dalam negeri.”

“Jangan begitu, Al. kamu akan ngecewain keluarga kamu.”

“Tapi aku nggak mau ninggalin kamu, Na. Aku nggak mau ninggalin kamu setelah apa yang sudah terjadi dengan kita hari ini.”

“Aku baik-baik saja, aku akan menunggumu, hanya tiga tahun, kan?”

“Enggak. Aku tetap nggak mau pergi.”

“Al. tolong jangan buat aku semakin merasa bersalah.”

“Apa maksud kamu?”

Mata Naura kembali berkaca-kaca. “Aku sudah membunuh calon bayiku, aku tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama dengan membunuh masa depan suamiku.”

Suami?

Deg

Deg

Deg

Alden sempat ternganga saat mendengar kalimat Naura tersebut. Ya, jika di ingat-ingat, maka ini adalah pertama kalinya Naura menyebutnya sebagai seorang suami, padahal……

“Kamu harus tetap pergi, dan kembali dalam waktu tiga tahun, aku akan menunggumu.”

Alden kembali memeluk erat tubuh Naura. “Ya, aku akan kembali, dan memperistrimu sekali lagi di hadapan dunia.” Janji Alden dengan sungguh-sungguh.

Naura tersenyum mendengar janji Alden yang terdengar tulus di telinganya. Aahhh, padahal seperti ini saja, Naura sudah bahagia. Menjadi istri rahasia dari Alden saja sudah membuat Naura berbunga-bunga, karena ketika mereka bersama, Alden menjadi miliknya seutuhnya, meski tak jarang kearoganan lelaki itu membuatnya sebal, keegoisannya membuat Naura kesal. Tapi, bukankah itu yang namanya pernikahan? Ada manis dan juga pahitnya seperti yang ia rasakan saat ini bersama dengan Alden. Ya, Alden mungkin masih belum siap menjadi ayah saat ini, tapi ketulusan lelaki itu padanya membuat Naura mengerti, jika suatu saat, lelaki itu akan memberinya lebih, melebihi yang ia inginkan.

Berbeda dengan Naura yang sudah merasa sedikit berbunga-bunga, Alden merasakan sebaliknya. Ia merasa semakin ketakutan, takut jika Naura meninggalkannya, takut jika wanita itu membencinya setelah tahu apa yang sudah ia lakukan selama ini pada Naura, setelah tahu bahwa hubungan mereka sebenarnya tak lebih dari sandiwara jahat yang sudah di atur sedemikian rupa oleh Alden hanya karena keinginannya untuk memiliki tubuh Naura. Bagaimana jika Naura mengetahuinya? Haruskah semua ini berakhir begitu saja?

Tidak!

Alden tidak ingin semuanya berakhir begitu saja.

Karena meski semua ini awalnya hanya sebuah sandiwara untuk membodohi Naura, nyatanya ia menikmati semua sandiwaranya, ia ingin memainkan perannya sampai akhir. Bahkan jika bisa, ia ingin hidup di dalam sandiwara tersebut asalkan Naura tetap mencintainya, dan tidak berbalik membencinya setelah mengetahui semuanya….

-TBC-

5 thoughts on “Secret Wife – Chapter 9 (Goresan luka masalalu)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s