romantis

Future Wife – Chapter 1 (Pelunas Hutang)

Future Wife

 

Chapter 1

-Pelunas Hutang-

 

Tiara berlari lebih cepat dari sebelumnya, sesekali ia menolehkan kepalanya ke belakang, takut-takut jika sang kakak menyusulnya dan menyeretnya kembali pulang.

Keluar dari dalam gang sempit, Tiara berjalan lurus menuju ke sebuah kompleks perumahan asri, tempat dimana dirinya bekerja selama beberapa bulan terakhir menjadi seorang Babysister. Bisa dibilang, ia bukan Babysister biasa, karena nyatanya tugasnya tidak hanya fokus mengurus anak-anak melainkan membantu sang pemilik rumah juga, mengingat si pemilik rumah tidak memakai jasa pelayan lainnya.

Si pemilik rumah itu bernama Sherly, seorang wanita yang baginya masih cukup muda namun memiliki sifat mandiri karena mampu mengurus semua keperluan rumah tangganya sendiri tanpa bantuan pembantu rumah tangga.

Saat itu, Tiara memang tengah sibuk mencari pekerjaan untuk membiayai kehidupannya dan juga kakaknya. Ya, Tiara memang hanya tinggal dengan sang kakak, kakak yang baginya cukup berengsek karena hanya menghabiskan waktunya di tempat perjudian. Ketika Tiara melamar pekerjaan di sebuah mini market, tak sengaja ia menemukan sebuah dompet di depan mini market tempat ia melamar pekerjaan. Beruntung ketika ia melihat isi dompet itu ternyata ada sebuah KTP si pemilik dompet yang ternyata rumahnya tak jauh dari mini market tersebut, akhirnya, Tiara memutuskan mengantar dompet tersebut pada sang pemiliknya. Singkat cerita, Tiara diberi imbalan oleh sang pemilik dompet, tapi Tiara menolaknya, dan ketika si pemilik dompet berkata “Andai saja ada yang bisa saya bantu..” entah kenapa dengan spontan Tiara menjawab “Saya hanya butuh pekerjaan.” Si pemilik Dompet tersenyum, dan berbekal kejujuran Tiara saat itu, kini Tiara dipercaya untuk mengasuh puteri bungsu si pemilik dompet.

Ya, itu adalah Bu Sherly. Wanita yang bagi Tiara amat sangat baik. Bu Sherly bukan hanya seorang majikan untuk Tiara, tapi juga sudah seperti teman. Usianya mungkin empat tahun lebih tua dibandingkan Tiara yang kini baru berusia Dua puluh tahun, tapi Bu Sherly memposisikan diri sebagai teman, sebagai kakak untuk Tiara, itulah yang membuat Tiara betah bekerja dengan sosok tersebut.

Tak terasa, Tiara sudah jauh berjalan, hingga kini sampailah dirinya pada rumah yang beberapa bulan terakhir menjadi tempat ia mengais rezeki. Sampai di halaman rumah tersebut, Tiara di sambut oleh seorang anak lelaki yang usianya belum genap Tiga tahun, Dirly, nama anak lelaki itu, putera pertama Bu Sherly dengan Pak Davit.

“Hei, kamu telat.”  Ucap bocah kecil itu dengan suaranya yang masih cadel, dan Tiara hanya bisa menyunggingkan senyumannya.

“Maaf ya, tadi aku ngurus rumah dulu. Papa sudah berangkat?”

“Belom, karena ada tamu.”

“Tamu? Tamu siapa?”

“Om Epan, kamu gak boleh genit cama om Epan.”  Tiara hanya mengerutkan keningnya. Tapi kemudian ia kembali tersenyum. Ahh, bocah kecil ini memang selalu menampilkan kecemburuannya. Bahkan dengan Cinta, adiknya yang belum genap berusia satu tahunpun, Dirly tak segan-segan menampilkan kecemburuannya. Menurut cerit Bu Sherly, Dirly bahkan pernah bilang kalau sudah besar nanti mau menikahi Tiara. Dan itu sontak membuat Tiara tertawa lebar.

“Enggak dong, kan Tante Tiara punyanya Dirly.” Balas Tiara.

“Ayo macuk, minta di gendong.” Dan Tiara segera menggendong bocah kecil itu sembari masuk ke dalam rumah.

***

Evan menatap sarapan di hadapannya dengan tak berselera. Bukan karena dia tidak suka dengan masakannya, tapi karena ia masih memikirkan tentang seseorang yang ia tinggalkan. Seseorang yanmg begitu ia cintai namun tak bisa ia miliki karena seseorang tersebut telah menjadi milik adiknya sendiri. Maka dari itulah ia bisa berada di sini.

Awalnya, Evan memutuskan untuk kabur ke Villanya yang letaknya memang agak jauh dari rumah Davit. Seharian di Villa tanpa melakukan apapun akhirnya membuat Evan bosan, tak ada teman, tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan. Pekerjaanpun belum bisa ia sentuh karena pikirannya hanya jatuh pada sosok Karina, wanita yang begitu ia cintai. Akhirny, tadi malam Evan memutuskan untuk pergi ke rumah Davit, dan memilih menumpang di rumah Davit karena merasa lebih nyaman tinggal di sana.

“Lo nggak sarapan?” tanya Davit sembarimemakan nasi goreng di hadapannya.

“Gue nggak biasa sarapan pagi.” Itu hanya alasan Evan. Sebenarnya ia tidak nafsu makan karena teringat Karina yang biasanya menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan keluarganya.

“Kalau di sini, lo harus biasakan diri untuk sarapan pagi. Lagian masakan bini gue enak, tau.”

Evan hanya sedikit menyunggingkan senyumannya. “Gue mau cari rumah yang deket rumah lo, di Villa gue nggak betah, bosen.”

“Bilang aja kalau lo takut tinggal sendirian di sana.”

“Berengsek lo.” Evan mengumpat pelan.

“Tinggal di sini saja, ada banyak kamar kosong di sini.” Sherly menawari. “Atau kalau enggak kamu bisa beli rumah sebelah, lumayan buat investasi.”

“Rumah sebelah mana?” Evan bertanya penuh semangat.

“Tepat di samping kanan rumah ini, nggak sebesar rumah ini sih, tapi kalau lo tinggal di sana sendiri, gue rasa sudah cukup besar buat lo.”

“Lo ada kontak si pemilik rumah?”

“Catet aja nanti pas keluar, di gerbangnya tertulis di spanduk besar.” Evan hanya mendengus sebal menanggapi ucapan Davit.

Saat Evan akan menyantap nasi goreng di hadapannya, sebuah suara mau tak mau memaksana mengangkat wajah dan menatap ke arah suara tersebut. tampak Dirly, putera pertama Davit datang di gendong seorang wanita muda yang entah kenapa membuatnya terpesona saat menatpnya, bukan tanpa alasan, karena wanita itu membuatnya mengingat kembali sosok Karina di rumah.

“Baru datang?” Sherly menyapa wanita muda itu. Dan Evan masih sibuk memperhatikan kedatangan wanita muda itu.

“Iya, Bu. Tadi beres-beres rumah dulu.”

“Kamu sarapan aja dulu, biar saya yang jaga Cinta dulu, nanti gantian.”

“Jangan Bu, Bu Sherly aja yang sarapan dulu, saya nanti saja.” Lalu wanita itu berjalan pergi meninggalkan dapur menuju ke sebuah ruangan yang diyakini Evan sebagai ruangan anak-anak.

“Siapa dia?” dengan spontan Evan bertanya pada Davit.”

“Oh dia, dia Tiara, yang ngasuh anak-anak gue.”

“Dia terlihat seperti masih anak-anak.”

“Ya, umurnya mungkin baru dua puluh tahunan.” Davit menjawab sembari menyantap sarapannya. “Tapi yang membuat kami percaya sama dia, dia orang yang jujur, dan entah kenapa setiap kali gue lihat dia, gue teringat Karina.”

Evan yang sejak tadi menatap ke arah ruang anak-anak, kini menatap Davit seketika. “Benarkah? Gue pikir, cuma gue yang melihatnya seperti melihat Karina.”

“Ya, selain tubuh kurus keringnya yang ngingetin gue sama adek gue itu, Tiara juga nggak punya teman, seperti Karina yang hanya menghabiskan waktunya di rumah. Bedanya, Karin punya dua kakak yang sangat menyayanginya, sedangkan Tiara?”

“Kenapa?” entah karena apa Evan penasaran.

“Lupakan saja, gue kalau ingat kakaknya, rasanya pengen gue bunuh hidup-hidup.”  Ohh, itu bukan cerita yang bagus, itu bukan suatu cerita yang membahagiakan, tapi entah kenapa Evan jadi penasaran dengan apa yang sudah di alami wanita muda itu.

“Hei, kalian kenapa malah asyik bergosip ria? Habiskan sarapannya dan cepat berangkat kerja, sudah siang ini.” Sherly akhirnya berseru pada keduanya.

“Iya, iya sayang. Bawel banget, sih.” Jawab Davit sembari memanyunkan bibirnya. Dan yang bisa Evan lakukan hanya tersenyum melihat interaksi suami istri di hadapannya ini.

Ahhh andai saja……

***

Lelah membersihkan segala penjuru ruangan, Evan akhirnya beristirahat sebentar di ruang tengah. Ya, hari ini adalah hari dimana ia pindah rumah, menempati rumah yang baru ia beli yang letaknya tepat di samping rumah Davit.

Evan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ia menghela napas panjang sembari melihak ke arah sekelilingnya.

Apa ini? Kenapa ia menjadi sepengecut ini? Lari dari kenyataan seperti seorang pecundang. Tidak, ia kabur meninggalkan rumah bukan karena ia rela dan ikhlas melepaskan Karin untuk Darren, adiknya. Ia pergi meninggalkan rumah hanya karena ia tidak ingin tersakiti sat melihat kebersamaan Karina dan Darren. Sangat pengecut bukan?

Evan tahu pasti, jika melupakan Karina bukan seperti membalikan telapak tangan. Karina merupakan cinta pertamanya, dan sejak remaja ia sudah jatuh cinta pada perempuan itu. Tapi demi Tuhan, Evan harus melupakan wanita itu. Evan akan melakukan apa saja asalkan ia mampu berpaling dari sosok Karina.

Lamunan Evan buyar ketika ia mendengar pintu depan di ketuk oleh seseorang. Siapa? Apakah Davit? Bukankah seharusnya temannya itu ada di kantor saat ini? Dengan sedikit malas Evan bangkit menuju ke arah pintu depan lalu membukanya.

Jantungnya berdebar seketika saat mendapati seorang wanita muda berdiri di hadapannya sembari membawa rantang yang ia yakini berisi makan siang.

“Hai.” Dengan spontan Evan menyapa wanita tersebut.

Wanita itu hanya mengangguk sopan. “Ini, ada kiriman makan siang dari Bu Sherly.”

“Oh, oke. Masuk dulu, aku ganti tempatnya.” Evan menerima rantang tersebut lalu mengajkak Tiara masuk. Dan Tiara menurutinya. Rupanya Tiara tidak sendiri, Dirly ternyata juga ikut sembari menari-narik rok yang dikenakan Tiara.

“Jadi, kamu bekerja dengan Davit?” tanya Evan memecah keheningan.

Tiara hanya mengangguk, meski ia tahu jika Evan tak menatapnya, ia masih saja tak bersuara. Entahlah, ia hanya merasa canggung dengan orang baru.

“Jadi, nama kamu Tiara?” tanya Evan sambil menoleh ke arah Tiara.

“Iya, Pak.”

Evan tertawa lebar. “Pak? Saya pikir saya nggak setua itu.”

“Maaf.” Tiara hanya menundukkan kepalanya.

Masih dengan tertawa, Evan menuju ke arah Tiara. Ia lalu mengulurkan jemarinya dan memperkenalkan diri. “Evan. Kupikir, kamu perlu tahu namaku karena aku tidak suka dipanggil dengan panggilan Pak, atau yang lainnya.”

Tiara menyambut uluran tangan Evan tanpa bersuara sedikitpun.

“Ada masalah?” tanya Evan saat melihat kebisuan Tiara.

“Tidak, pak.”

Evan kembali tertawa lebar. “Oke, sepertinya kamu lebih nyaman memanggilku dengan panggilan tersebut.” Evan lalu menatap Tiara dengan intens. Sungguh, wanita ini benar-benar mengingatkannya dengan sosok Karina, dan Evan tidak mengerti apa yang membuatnya mengingat Karina saat menatap wajah Tiara.

Wajah wanita itu tentu berbeda dengan wajah Karina, tapi entahlah, ada satu titik dimana ia melihat diri Karina pada diri Tiara. Dan hingga kini, Evan tidak tahu apa itu.

Evan menyadari jika dirinya kembali melamun saat Tiara dengan paksa melepaskan  uluran tangannya yang ternyata sejak tdi masih digenggam erat oleh Evan.

“Ohh, maaf, saya melamun. Kamu mengingatkan saya dengan seseorang.” Evan berkomentar, tapi Tiara tiak menanggapi.

“Kami permisi, Pak.” Tiara segera bergegas pergi karena sudah merasa tidak nyaman dengan kedekatannya bersama Evan.

Evan hanya mengangguk, ia melihat tubuh Tiara yang semakin menajuhinya. Lalu wanita itu berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah Evan.

“Uum, nanti malam, Bu Sherly mengundang Pak Evan makan malam.”

Evan tersenyum dan ia hanya berkata “Oke.”

Lalu Tiara kembali berjalan meninggalkannya. Perempuan itu hilang dibalik pintu depan rumahnya, dan setelah Tiara tak ada lagi di hadapannya, Evan menghela napas panjang. Jemarinya dengan spontan meraba dada kirinya, dada yang sejak tadi seakan bertabuh kencang karena sesuatu.

Sial! Apa ini?

***  

“Tiara! Buka pintunya!!” Gerodan pintu kamarnya membuat Tiara beringut di ujung ruangan. Ahh kakaknya kembali menggila, dan Tiara sudah mengerti hal itu.

Ini entah sudah ke berapa kalinya sang kakak pulng dalam keadaan mabuk. Marah-marah tidak jelas, bahkan kadang kakaknya itu berteriak-teriak seperti orang gila.

Bang Radit, Tiara biasa memanggilnya seperti itu. Kakaknya yang kerjanya hanya sebagai supir taksi online, namun kebiasaan buruknya membuat kehidupannya semakin terlilit hutang. Ya, apa lagi jika bukan bermain judi.

Saat setelah pulang bekerja, bang Radit tidak seger pulang, lelaki itu memilih mnghabiskan waktunya di meja judi, bermain wanita, dan juga meminum-minuman keras, maka tak jarang lelaki itu pulang dalam keadaan mabuk seperti saat ini.

“Buka! Sialan!!”

Astaga, meski begitu, kakaknya itu tak pernah semarah ini padanya. Meski sering mabuk-mabukan dan bermain perempuan, kakakny itu seakan selalu dapat mengontrol diri saat berhadapan dengan dirinya, namun Tiara merasa jika itu berbeda dengan saat ini.

“Dalam hitungan ke Lima, kalau kamu nggak buka pintu kamarmu, aku akan mendobraknya, Satu…”

Tiara semakin ketakutan.

“Dua…”

Dan akhirnya Tiara menyerah, ia segera bangkit menuju ke arah pintu kamarnya, lalu membukanya, berharap jika sang Abang tidak marah lagi terhadapnya.

“Iya, Bang.”

Radit tersenyum, ia mengusap lembut puncak kepala Tiara. “Adik yang baik, pakai bajumu yang paling bagus.”

“Untuk apa, Bang?”

“Jangan banyak tanya. Cepat ganti baju.” Dan Tiara akhirnya hanya menurut saja apa yang dikatakan Kakaknya.

***

Tiara masih tidak menyangka jika kakaknya akan sekejam ini padanya. Sang kakak ternyata menyeretnya ke sebuah tempat hiburan malam, tempat dimana kakaknya itu menghabiskan uangnya untuk bermain judi.

Dan kini Tiara baru tahu jika sang kakak ternyata sudah memiliki hutang yang menggunung karena kebiasaan buruknya tersebut. lebih gilanya lagi, sang kakak menyeretnya ke tempat ini adalah untuk menjadikannya sebagai pelunas hutang. Benar-benar keterlaluan!

“Rupanya, kamu memiliki barang yang cukup bagus untuk melunasi hutangmu.” Si pemilik suara itu adalah lelaki paruh baya yang lebih cocok dipanggil Tiara sebagai ayah. Dan secara teknis, kini Tiara adalah milik lelaki itu.

“Jangan bangga dulu, aku akan segera menebusnya.” Radit berkata dengan serius. Bagaimanapun juga, Tiara adalah adiknya, dan sungguh, ia benar-benar merasa sangat berengsek saat menukarkan Tiara dengan hutang-hutangnya.

“Dan sebelum itu terjadi, dia milikku, ingat, penebusan harus Tiga kali lipat dari hutang kamu!”

“Bang, kamu nggak serius dengan ini, kan?” Tiara merengek.

“Kamu tenang saja, aku akan menebusmu nanti.”

“Tapi kapan? Jangan harap Bang Radit bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk menebusku melalui judi.”

“Tiara.” Radit akan berbicara lagi tapi ucapannya terpotog oleh geraman lelaki paruh baya di hadapannya.

“Jangan banyak omong, cepat, angkat kakimu dari sini.” Lelaki itu memerintahkan anak buahnya untuk menyeret Radit pergi dari hadapannya.

“Bajingan!” Radit mengumpat keras pada lelaki itu sembari berusaha melepaskan dari dari anak buah lelaki itu yang menyeretnya menjauh.

“Bang, Bang Radit. Bang..” Tiara juga ikut berteriak memanggil-manggil nama kakaknya ia tentu tidak ingin di tinggalkan dengan orang-orang asing yang tidak ia kenal. Belum lagi fakta jika dirinya kini menjadi milik orang tersebut. “Bang, jangan tiggalin Tiara, Bang.. Bang Radit….”

Dan ketika Tiara tak juga diam dari rengekannya, sepasang kaki berjalan menuju ke arah mereka. “Permisi.” Suara itu membuat Tiara menghentikan rengekannya, lalu menolehkan kepalanya ke arah suaraa tersebut. Tiara ternganga mendapati siapa yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Anda siapa?” tanya lelali paruh baya itu pada pria yang baru datang menghampirinya.

Pria itu sedikit tersenyum, lalu mengulurkan jemarinya. “Saya Evan Pramudya, kekasih wanita ini.”

-TBC-

4 thoughts on “Future Wife – Chapter 1 (Pelunas Hutang)”

  1. Huwaahhhhhhhh itu d atas penampakan foto” papa peri ma tiara yaa ???
    ciyeeeeee papa peri lagi menjelma menjadi malaikat , ok ditunggu next na …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s