romantis

Secret Wife – Chapter 7 (Menjadi istriku sekali lagi)

Secret Wife

 

Naura berjalan menuju ke arah Panji sembari membawakan kopi buatanya. “Iya, aku ikut, demi kamu.” ucapnya sambil menyunggingkan senyumannya. Pada saat bersamaan, ketukan pintu depan rumah Naura membuat naura dan Panji berakhir saling pandang.

“Ada yang datang? Siapa? Malam-malam begini?” tanya Panji heran.

Naura mengangkat kedua bahunya. “Mungkin tetangga, aku lihat dulu.” Jawab Naura sambil berjalan menuju ke arah pintu depan.

Naura membuka pintu depan rumahnya, dan alangkah terkejutnya ketika ia mendapati Alden sudah berdiri di sana.

Astaga, apa yang dilakukan lelaki itu? Kenapa dia datang lagi? Kenapa saat ini? Saat Panji sedang berada di sini? Sungguh, Naura tidak ingin Alden berada di dalam ruangan yang sama dengan dirinya dan Panji, bukan tanpa alasan, karena Naura tidak dapat memastikan apa dirinya dapat mengontrol perasaannya ketika berada di dekat Alden. Dan Naurapun takut, jika Alden berbuat nekat untuk mengganggu hubungannya bersama dengan Panji.

 

Chapter 7

-Menjadi istriku sekali lagi

 

“Ka-kamu?” Naura terpatah-patah, masih mencoba mengendalikan dirinya karena keterkejutan saat mendapati Alden yang sudah berdiri di hadapannya.

“Ya, kenapa? Kamu terlihat tidak suka saat aku datang.”

Oh tentu saja, di dalam ada Panji, ia sangat tidak suka dengan kedatangan Alden malam ini. Bahkan jika di dalam tak ada Panjipun, Naura tetap tidak menyukai kedatangan Alden karena lelaki itu pasti memberikan efek yang buruk bagi dirinya.

“Sudah malam, aku tidak menerima tamu.” Naura akan menutup pintu rumahnya, tapi Alden segera menghalanginya dengan menahan pintu tersebut agar tidak tertutup.

“Tidak akan kubiarkan.” Geram Alden setengah kesal karena mendapat penolakan dari Naura.

“Tolong, pulanglah.” Naura memohon masih dengan mencoba menutup pintu rumahnya.

“Sayang, ada apa?” suara dari dalam membuat Naura kehilangan kekuatannya hingga membuat Alden membuka kembali pintu rumah Naura dengan sangat mudah.  Naura menolehkan kepalanya ke dalam rumah, berharap jika Panji tidak keluar, tapi harapan tinggalah sebuah harapan, nyatanya lelaki itu tampak berjalan keluar menuju ke arahnya.

“Jadi, karena ada dia di sini, makanya kamu menolakku?” bisikan Alden terdengar seperti sebuah geraman.

Naura menatap Alden seketika. Sungguh, ia berharap jika Alden dapat mengendalikan dirinya hingga tidak merusak hubungannya dengan Panji.

“Siapa?” tanya Panji yang kini sudah menatap ke arah Alden.

Alden sendiri segera melemparkan pandangannya ke arah Panji, mengamati lelaki itu dengan sepasang mata tajamnya. Sungguh, Alden tidak suka. Bukan karena lelaki itu terlihat lebih tampan atau lebih kaya daripada dirinya, tapi karena lelaki itu tampak sederhana seperti Naura, tampak serasi dengan Naura, dan itu yang membuat Alden sangat tidak suka.

“Uum, ini, puteranya Bu Alisha.” Naura menjawab seadanya.

“Oh, jadi ini putera sulungnya pak Brandon yang baru pulang dari luar negeri, ya?” tanya Panji lagi.

Naura hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh, ia tidak tahu harus menjawab apa lagi.

“Kenapa nggak di suruh masuk?” tanya Panji lagi.

“Ya, seharusnya saya di persilahkan masuk.” Alden membuka suaranya penuh dengan kearoganan.

“Uum, tapi, kita kan mau makan malam berdua.” Naura berbisik ke arah Panji, agar Panji tidak mempersilahkan Alden masuk dan mengganggu kebersamaan mereka. Namun bisikannya tersebut nyatanya terdengar oleh telinga Alden.

Alden tersenyum miring. “Jadi seperti itukah sambutanmu pada tamu?” sindirnya.

“Maaf, kami nggak bermaksud.” Panji yang menjawab. “Sayang, kita bisa makan malam bareng, lagian di luar hujan, sangat tidak sopan jika ada orang bertamu tapi kita malah mengusirnya.” Kali ini Panji yang berbisik ke arah Naura.

Naura hanya mendesah panjang. Sungguh, jika Panji tahu bagaimana hubungannya dengan Alden, apa lelaki itu masih bisa mempersilahkan Alden masuk seperti saat ini?

“Mari, silahkan masuk.” Panji mempersilahkan Alden masuk.

Tanpa sungkan sedikitpun, Alden masuk begitu saja melewati Naura yang hanya bisa mendengus sebal karena kedatangan Alden.

“Ngomong-ngomong, kenapa Anda kemari malam-malam?”

Pertanyaan yang masuk akal yang dilontarkan oleh seorang tunangan saat mendapati rumah tunangannya dikunjungi oleh lawan jenis malam-malam seperti ini. Namun, itu benar-benar membuat jantung Naura tak berhenti berdebar kencang karena takut. Ya. Naura takut jika Alden menjawab pertanyaan Panji dengan sesuka hatinya.

“Saya hanya mengantar undangan.” Jawab Alden masih dengan mengendalikan dirinya agar tidak terpengaruh oleh emosi yang sudah membara di dalam dirinya.

“Undangan?”

“Ya, undangan untuk Naura di pesta penyambutan akhir minggu nanti.”

“Ohh iya, saya tahu, meski Naura hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga di sana, namun saya mendengar semua kebaikan keluarga Revaldi yang menganggap Naura sudah seperti kerabat sendiri.” Ya, Panji memang tahu hal itu, Naura sering bercerita bagaimana baiknya keluarga Revaldi terhadapnya. “Tapi Anda tidak perlu khawatir, Naura akan datang bersama saya, bukan begitu, Sayang?”

Naura yang memilih menyibukkan diri di dapur hanya bisa menjawab “Ya.” Tanpa menoleh ke arah Panji dan Alden yang sudah duduk di ruang makannya.

Alden benar-benar tidak menyukai jawaban Panji, itu semakin membuat dirinya tertantang untuk menghadapi lelaki itu.

“Ohh, begitu. Saya kira, Naura bisa pergi dengan saya, sebagai pasangan saya seperti sebelum-sebelumnya.”

“Maaf?” Panji berharap jika ia salah dengar, atau paling tidak, Alden salah dalam berbicara.

“Ya, dulu, saya sering pergi ke pesta bersama dengan Naura, dan dia sebagai pasangan saya.” Alden meyakinkan Panji.

“Hanya pesta saat sekolah.” Naura menjawab cepat. Kini, Naura sudah kembali di hadapan kedua lelaki itu. Tatapan matanya menajam ke arah Alden, berharap jika Alden mengerti bahwa dirinya tidak suka ketika lelaki itu membahas masa lalu mereka di hadapan Panji.

Alden sedikit tersenyum. “Ya, pesta sekolah yang berujung manis.” sindirnya penuh arti.

Tentu saja hal itu mengingatkan Naura dengan awal mula hubungannya dengan Alden ketika pesta perpisahan sekolahnya. Ahh, Alden benar-benar mampu membuatnya salah tingkah, dengan tatapan-tatapan mengintimidasi dari lelaki itu, dengan cara bicaranya, bahkan dengan setiap gerak tubuhnya. Tuhan, semoga saja Panji tidak menyadarinya. Batin Naura.

Naura tidak lagi menjawab, ia tahu, jika ia menjawab, maka Alden akan semakin menunjukkan hubungan mereka di hadapan Panji, dan Naura tidak ingin hal itu terjadi. Naura memilih menundukkan kepalanya dan mulai mengajak keduanya makan malam.

Ya, lebih baik mereka makan dalam keadaan saling diam, ketimbang mereka harus mendengarkan dongeng masa lalu yang seakan-akan dibuat begitu indah oleh Alden.

***

Makan malam dalam keheningan itupun akhirnya berakhir. Sungguh, seenak apapun masakan yang dibawakan Panji untuknya, nyatanya Naura tak dapat menikmatinya karena kehadiran Alden di sana. Ia tidak suka dengan kedatangan Alden malam ini, sangat tidak suka.

Rasa takut menyelimutinya, ketika mungkin saja tiba-tiba ego Alden kambuh lalu menceritakan semua masa lalu mereka pada Panji. Jika hal itu terjadi, Naura yakin jika panji tidak akan mungkin memaafkannya. Hubungan mereka akan hancur, dan ia akan kembali hancur karena seorang Alden Revaldi.

Alden sendiri merasakan hal yang sama, ia tidak menikmati makan malamnya, karena keintiman yang tampak terjalin diantara Panji dengan Naura. Keduanya memang tidak melakukan kontak fisik apapun, tapi cara pandang keduanya, cara naura melemparkan senyum pada Panji, cara Naura melayani Panji, Alden tidak suka. Alden merasa jika Naura sudah memperlakukan Panji sebagai suaminya, padahal, ialah suami wanita tersebut, walau ia tahu, hanya dirinya sendirilah yang menganggap pernikahan mereka di masalalu itu nyata.

Sesekali Alden bahkan berpikir untuk mengungkapkan semua rahasia tentang hubungan gelapnya bersama Naura pada Panji, tapi di sisi lain, Alden memikirkan bagaimana perasaan Naura. Lagi pula, jika ia melakukan itu, bisa dipastikan kalau Naura akan membencinya. Dan ia tidak akan mengambil resiko itu. Ia akan merebut Naura tanpa membuat perempuan itu semakin membencinya.

“Sudah jam sepuluh.” Panji bergumam memecah keheningan. Ya, setelah makan malam bersama tadi, ketiganya duduk di ruang tamu rumah Naura. Sesekali Alden bertanya tentang pekerjaan Panji yang ternyata bekerja di perusahaan Ayahnya.  Begitupun dengan Panji yang sesekali bertanya tentang kehidupan di luar negeri.

Tak ada pembahasan pribadi selama itu, namun sesekali ketiganya hening karena kehabisan bahan pembicaraan.

Alden melirik jam tangannya. “Ya, sepertinya sudah malam.” ucapnya.

“Anda, tidak pulang?” akhirnya Panji menyuarakan isi hatinya. Ia tidak suka saat ada lelaki lain berkunjung ke rumah tunangannya, apalagi sampai malam begini. Apa jika saat ini tak ada dirinya, lelaki itu masih berada di sini? Panji bertanya-tanya dalam hati.

“Oh ya, tentu saja saya akan pulang. Anda sendiri?” Alden bertanya balik. Sungguh, ia tidak suka jika  apa yang ada dalam pikirannya terjadi. Ya, saat ini Panji adalah tunangan Naura, dan ia tidak menyukai gagasan jika lelaki itu akan menginap di rumah Naura.

“Saya juga akan pulang.”

“Oh ya? Saya pikir Anda akan…”

Panji tersenyum “Tidak, saya bukan pria semacam itu.” Ia menatap Naura dan mengusap lembut puncak kepala Naura. “Saya mencintainya, dan saya akan menjaganya sampai hari H.”

Alden benar-benar merasa tersinggung dengan pernyataan Panji, padahal tak ada yang salah dari pernyataan lelaki tersebut. Entahlah, ia hanya merasa jika Panji seperti sedang menyindirnya. Tapi di lain sisi, Alden seakan ingin menari-nari dengan bahagia, karena jika Panji tipe orang yang seperti itu, maka itu tandanya jika lelaki itu belum pernah menyentuh Naura sekalipun. Betapa bahagianya Alden saat menyadari jika Naura hanya pernah dimiliki oleh dirinya.

Alden berdiri seketika. Setidaknya ia bisa meninggalkan Naura dengan tenang. Salah satu alasan kenapa ia belum juga pulang malam ini adalah karena ia tidak suka membayangkan jika Naura dan Panji akan berduaan kemudian melakukan hubugan intim seperti dirinya. Tapi setelah mendengar sendiri pengakuan Panji, membuat Alden yakin, bahwa tak akan terjadi apapun diantara keduanya malam ini.

“Baiklah, kalau begitu saya permisi pulang dulu.” Panji dan Naura ikut berdiri. “Apa kamu bisa antar aku keluar sebentar? Ada yang ingin aku katakan.” ucap Alden pada Naura.

Naura menatap Panji sebentar, seperti sedang meminta izin, dan Panji hanya mengangguk, menyatakan persetujuannya. Akhirnya Naura ikut keluar, mengantar Alden sampai ke seberang jalan, tempat di mana mobil Alden terparkir, sedangkan Panji hanya bisa menunggu di ambang pintu rumah Naura sembari mengamati keduanya dari jauh.

“Aku ingin memukul wajahnya yang sok alim.” gerutu Alden saat sudah dekat di mobilnya.

“Apa?”

“Dengar, aku sama sekali tidak menyukainya.”

“Aku tidak pernah memaksa kamu menyukainya, ini hubungan kami, jadi kamu tidak perlu-”

“Kamu masih istriku, Na! kamu harus ingat itu.”

Naura menggelengkan kepalanya. “Tidak pernah ada pernikahan diantara kita.”

“Na.”

“Tolong. Panji sedang melihat.” Naura sedikit menjauh saat Alden berusaha menyentuh kedua bahunya.

Alden menghela napas panjang. “Datanglah ke pesta bersamaku.”

Naura kembali menggelengkan kepalanya. “Aku akan datang dengan Panji.”

“Aku akan mengenalkanmu sebagai kekasihku di hadapan banyak orang.”

“Aku sudah tidak membutuhkannya.”

“Na.”

“Hubungan kita sudah benar-benar selesai, tolong, jangan lagi membahasnya.”

“Aku pernah memintamu menungguku.”

“Ya, hanya tiga tahun, tapi kamu pergi selama Enam tahun tanpa kabar.”

“Apa karena itu kamu berhenti menungguku?”

“Tidak.” Naura menjawab tegas. “Aku tidak pernah menunggumu, karena hubungan kita sudah berakhir sejak sebelum kamu pergi.”

“Bagiku belum pernah berakhir.” Alden menjawab dengan tajam. Naura segera membalikkan tubuhnya, ia tahu jika Alden sudah mengeluarkan kata-kata tajamnya, maka pada detik itu, keegoisan lelaki itu sudah menguasai dirinya.

“Lebih baik kamu pulang, sudah sangat malam.” ucap Naura sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Alden, tapi baru satu langkah, langkahnya kembali terhenti karena ucapan Alden.

“Aku pernah berjanji akan kembali dan memperistrimu lagi di hadapan dunia, dan karena janji itulah alasanku kembali saat ini.”

“Apa?” Naura tidak mengerti.

“Kamu akan menjadi milikku, Na. Kamu akan menjadi istriku sekali lagi.”

Naura sempat ternganga, tapi kemudian ia dapat menguasai dirinya dan membalikkan badannya kembali untuk menatap Alden, tapi nyatanya, lelaki itu sudah masuk ke dalam mobilnya. Astaga, apa yang baru saja ia dengar?

***

Naura masih sedikit tidak paham dengan apa yang baru saja terjadi, ia masih bingung memikirkan kata-kata terakhir Alden yang tadi diucapkan lelaki itu sebelum pergi.

“Kamu akan menjadi milikku, Na. Kamu akan menjadi istriku sekali lagi.”

Istri yang bagaimana? Istri rahasia? Istri tanpa buku nikah? Istri yang tidak diperbolehkan mengandung darah dagingnya? Atau istri main-main seperti yang dulu pernah dilakukan Alden padanya?

Sungguh, jika itu yang dimaksud Alden, maka Naura akan berusaha pergi sejauh mungkin dari hadapan lelaki itu.

“Aku tidak suka dengan dia.” Ketika Naura sibuk dengan pikirannya sendiri tentang Alden, suara Panji membuatnya sadar bahwa kini dirinya sudah berada di dalam ruang tengah rumahnya bersama dengan Panji, tunangannya. Astaga, tak seharusnya ia memikirkan tentang lelaki lain saat ini.

“Ya?”

“Alden Revaldi, aku tidak suka dia.”

Naura tersenyum lembut. “Kenapa?”

“Aku tidak suka cara dia menatapmu.”

“Memangnya seperti apa caranya menatapku?”

“Seperti kamu adalah miliknya.”

“Kamu bisa aja, mungkin itu hanya perasaan kamu.”

“Naura, aku serius, ada hubungan apa antara kamu dengan dia?”

“Panji, dia adalah anak dari majikanku.”

“Aku tidak melihat seperti itu. Anak majikan kamu tidak mungkin repot-repot datang kesini untuk mengundangmu secara pribadi.”

Naura hanya menundukkan kepalanya. Ia bukanlah pembohong yang handal, jadi ia memilih diam ketimbang harus berbohong lebih banyak pada Panji.

Tiba-tiba, Naura merasakan jemarinya digenggam erat oleh Panji. “Aku mencintaimu, aku tidak suka memikirkan jika kamu memiliki hubungan special dengan lelaki lain apalagi jika lelaki itu adalah dia.”

“Kami tidak sedang menjali hubungan.” Naura melirih pelan tanpa berani menatap ke arah Panji.

“Tapi aku melihat mobilnya terparkir di sana tadi pagi saat aku menunggumu.”

Naura menatap Panji seketika, wajahnya memucat saat mungkin saja Panji dapat menebak dengan tepat apa yang sebenarnya terjadi diantara ia dengan Alden.

“Aku tahu jika mungkin saja ada yang kamu sembunyikan dariku, tapi jika kamu belum siap menceritakannya, maka aku akan menunggu sampai kamu siap. Aku hanya tidak suka jika kamu terlalu dekat dengannya.”

“Itu hanya masa lalu.”

“Kamu yakin?” Panji memastikan.

Naura mengangguk pelan, seakan dirinya tidak yakin untuk menceritakan atau membahas semuanya dengan Panji.

Panji menghela napas panjang. Ia melirik ke arah jam tangannya, lalu berdiri dan berkata “Sudah malam, lebih baik aku pulang.”

Naura ikut berdiri, ia hanya mengangguk dengan lembut. Lalu tiba-tiba ia merasakan tubuhnya diraih oleh Panji, dan dipeluk erat oleh lelaki itu.

“Aku mencintaimu.” Hanya dua kata, dua kata yang sering kali diucapkan oleh Panji untuknya.

Panji melepaskan pelukannya, lalu ia menangkup kedua pipi Naura, kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir Naura. Panji melumatnya dengan lembut, sedangkan Naura hanya bisa membalasanya.

Cumbuan Panji lalu merambat pada rahang Naura, kemudian turun lagi pada permukaan leher wanita tersebut, tapi ketika Panji melihatnya, Panji sempat terpaku menatap beberapa jejak kemerahan yang terukir jelas di sana.

“Apa ini?” tanyanya sambil menyentuh bekas-bekas kemerahan tersebut.

Naura yang tadi sempat terbuai, kini sadar seketika. Ia segera menjauh, dan menutupi lehernya dengan rambut panjangnya seperti tadi. Panji menatap naura penuh tanya, sedangkan Naura sudah berkaca-kaca, tak tahu apa yang harus ia katakan pada Panji. Haruskah ia jujur, ataukah ia berbohong sekali lagi untuk menutupi pengkhianatannya?

-TBC-

4 thoughts on “Secret Wife – Chapter 7 (Menjadi istriku sekali lagi)”

  1. iiihhhhh panji jeli juga yaa , tapi ko q aga ragu yaa ma panji , jadi inget ma ethan dulu 😤😤😤
    Pria yng egois , suka semau na sendiri tapi sayang ganten , jadi ga biza bener” benci 😊😊😊
    Semangat bu d tunggu part selanjut na 😘😘😘😘😘

    Like

  2. Mata panji jeli juga yaa , tapi q aga ragu ma panji , jadi inget ethan dulu 😤😤😤😤😤
    entah apa yng akan terjadi ql sampe panji tau yng sebner na , jadi deg”an saya …
    alden bener” pria yng egois dan suka semau na sendiri , untung ganteng jadi ga biza benci” lama” ..

    Semngat bu d tunggu part selanjut na 😘😘😘😘😘😘

    Like

  3. Ceritanya berasa pendek hehehe…apa yang akan dilakukan panji ketika naura jujur ma masa lalunya… Alden sih meninggalkan jejak jadi ketahuan deh ma panji… Moga cepet updatenya:-D:-D:-D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s