romantis

Bianca – Chapter 3 (Lebih panas dari sang CEO)

Bianca

Haiii maapp baru sempat up cerita ini, dan maap bgt karena kemaleman, hahahah iya karena aku lagi asyik nonton bang Mario Maurer A.k.a bang Ramma Aditya yang lagi main Pee mak di trans 7. hhahahah oke. gitu aja, happy reading, semoga suka yaa.. hheheheh

 

Jason sendiri langsung menaiki motornya, lalu mengenakan helmnya. Ia kembali sedikit melirik ke arah Bianca. Bianca masih berdiri di sana dengan wajah lucunya. Ahh, wajah itu sedikit mirip dengan Felly, tapi sikapnya sangat mirip dengan Sienna. Jason kemudian menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan Bianca begitu saja dengan berbagai macam pikiran di kepalanya. Bolehkan ia menjadikan gadis tadi sebagai pengobat luka patah hatinya?

Ketika Jason sudah pergi dari hadapannya, Bianca mulai membalikkan tubuhnya, masih dengan sedikit linglung karena pertemuan tak terduga tadi, Bianca melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu toko ice cream milik Felly. Tapi baru berapa langkah, ia kembali membalikkan tubuhnya saat mendengar suara motor Jason kembali di belakangnya.

Bianca menatap Jason dengan heran, kemudian ia melihat Jason membuka kaca helm yang ia kenakan, lalu pria itu bertanya. “Bolehkah aku menyimpan nomor ponselmu?”

***

Chapter 3

-Lebih panas dari sang CEO-

 

Jason keluar dari dalam kamar mandi, berharap kegilaannya sudah luntur saat setelah ia mandi dan menggosok seluruh permukaan kulitnya. Nyatanya, ketika ia keluar dari dalam kamar mandinya, ia masih mendapati seorang perempuan dengan tubuh telanjangnya dan berselimutkan bedcover miliknya. Kenapa perempuan itu belum pergi? Pikirnya.

“Pagi.” Si perempuan menyapanya dengan manja.

“Kenapa kamu masih di sini?” tanyanya dengan nada dingin. Sungguh, ia tidak suka mendapati perempuan yang habis ditidurinya masih berada di atas ranjangnya ketika pikirannya sudah mulai waras seperti saat ini.

“Kenapa bagaimana? Memangnya aku harus apa?”

“Pakai bajumu dan keluar dari sini.” Oh, Jason bahkan tak mengenali dirinya sendiri saat ini. Sial! Ini semua tentu karena si Troy. Temannya yang sudah setengah gila. Dan kenapa juga ia ikutan gila seperti si Troy?

Seminggu terakhir ia lalui dengan sangat berat. Pertama, karena hubungannya yang sudah benar-benar putus dengan Felly. Seminggu yang lalu, Jason kembali menemui Felly di toko ice cream milik perempuan itu. Berharap jika hubungannya akan membaik, meski ia tahu jika tak ada harapan lagi karena Felly sudah menikah dan sedang mengandung bayi pria lain. Tapi Jason mencoba tidak peduli. Rasa cintanya terlalu dalam, perasaannya sudah dibutakan oleh cinta kepada perempuan tersebut. Jason bahkan menawarkan diri untuk menjadi yang kedua untuk Felly, tapi dengan tegas, perempuan itu menolaknya.

“Maaf, Jase, Aku nggak bisa. Tidak akan ada orang kedua untukku. Karena yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, hanya satu orang, yaitu kak Raka. Aku tidak bisa menduakannya dengan laki-laki lain.”

Begitulah jawaban Felly yang hingga kini masih mendengung di telinganya, masih terputar di kepalanya, hingga membuat Jason sakit saat mengingatnya.

Sejak detik itu, Jason tahu jika ia sudah tak mungkin lagi bersatu dengan Felly. Felly sudah menolaknya dan menutup semua kesempatan untuknya. Yang bisa Jason lakukan hanyalah mencoba melupakan perempuan itu. Tapi bagaimana caranya?

Saran Troy adalah satu-satunya solusi dari semua masalahnya. Ya, temannya itu menyarankan untuk mencari pelarian, mengencani banyak wanita hingga membuatnya dapat membunuh rasa cinta di hatinya. Tapi bisakah?

Hingga hari ini, entah sudah berapa banyak perempuan yang ia tiduri selama seminggu terakhir. Perempuan-perempuan bayaran yang disediakan oleh Troy, tentu saja perempuan itu sudah diharuskan tutup mulut tentang skandal yang sudah ia lakukan ini.

Hati Jason berkata, jika semua ini salah, tak seharusnya ia melakukan hal ini, ia harus segera mengakhirinya, tapi ia tidak ingin bayang Felly kembali menghantuinya.

Jason menatap ke arah perempuan yang berada diatas ranjangnya, perempuan itu berdiri dengan tubuh telanjangnya. Mungkin berharap jika Jason akan tergoda karena ketelanjangannya. Tapi perempuan itu salah. Demi Tuhan, Jason sama sekali tak tergoda, Jason bahkan memalingkan wajahnya karena muak melihat pemandangan di hadapannya.

“Kamu berbeda dengan semalam.” Perempuan itu berkomentar, karena merasa dicampakan, perempuan itu segera memunguti pakaiannya lelu mengenakannya dengan cepat.

“Semalam hanya efek Alkohol, jadi lupakan.”

Jawaban Jason benar-benar membuat perempuan itu kesal. Ya, walau ia hanya perempuan bayaran, tapi tetap saja, Jason adalah pria tampan dengan karir cemerlangnya, siapa yang tidak ingin berhubungan dengan dia? Apalagi saat mengingat bagaimana panasnya lelaki itu saat di atas ranjang. Perempuan itu bahkan bersedia untuk diajak naik ke atas ranjang Jason untuk kedua kalinya meski tidak di bayar.

“Jadi, semua artis seperti ini, Ya? Kupikir kamu berbeda.”

“Semua sama. Kami berengsek seperti yang diberitakan. Sekarang keluarlah, sebelum pengawalku menyeretmu keluar dari kamar ini.”

Dengan wajah memerah karena malu diperlakukan seperti itu, perempuan itu segera pergi keluar dari dalam kamar hotel yang disewa Jason. Jason sendiri menghela napas panjang setelah perempuan tersebut keluar dari kamarnya. Ia menuju ke sebuah sofa panjang di dalam kamar tersebut. Jason lalu meraih ponselnya dan membuka-buka semua sosial medianya.

Benar-benar membosankan. Tak ada yang bisa ia lakukan saat akhir minggu seperti ini ketika ia tak ada jadwal manggung. Karena tentunya teman-teman sebandnya lebih sibuk dengan pasangan masing-masing.

Cukup lama Jason membuka-buka sosial medianya dan berakhir dengan bosan karena tidak ada yang ia lakukan. Membalas pesan-pesan dari fansnyapun tidak ia lakukan karena pesan tersebut sudah menumpuk puluhan ribu, belum lagi komentar-komentar mereka.

Akhirnya Jason menyerah dengan kebosanannya dan memilih mencari nomor ponsel Troy, menghubungi temannya itu siapa tahu saja temannya itu kenal dengan salah seorang perempuan yang dapat diajaknya untuk menghabiskan hari yang membosankan ini.

Tapi ketika ia membuka kontak di ponselnya, pada baris teratas ia mendapati nama ‘Babee’, Jason mengangkat sebelah alisnya, mengingat siapakah pemilik nomor ponsel tersebut. Karena seingatnya, ponselnya hanya berisi nomor-nomor orang-orang terdekatnya saja. Ujung bibirnya tertarik saat mengingat siapa pemilik kontak bernama ‘Babee’ tersebut.

Itu Bianca, perempuan yang tak sengaja bertemu dengannya seminggu yang lalu saat ia keluar dari dalam toko ice cream milik Felly. Perempuan yang tampaknya akan asyik untuk diajak menghabiskan hari yang begitu membosankan untuknya saat ini.

Jason berpikir sebentar, apa tidak apa-apa menghubungi gadis itu saat ini? Apa ia akan mengganggu? Atau, apa gadis itu akan sama membosankan seperti gadis-gadis kebanyakan? Jason ragu, ya, karena ini adalah pertama kalinya ia akan menghubungi perempuan yang cukup asing baginya, menghubungi hanya untuk mengajaknya main, bukan tidur bersama seperti perempuan-perempuan murahan yang pernah ia hubungi sebelumnya.

Jason menghela napas panjang sebelum kemudian mengambil langkah untuk benar-benar menghubungi Bianca.

***

Satu minggu berlalu setelah kejadian hari itu. Hari dimana seorang Jason Febrian, vokalis tampan dengan aurah panasnya meminta nomor ponsel Bianca. Bianca tentu tidak menyianyiakan hal tersebut. Dengan segera ia memberi Jason informasi kontaknya. Namun nyatanya, seminggu berlalu, pria itu tak kunjung menghubungi Bianca.

Kesal, tentu saja. Apalagi hari-hari pertama setelah Bianca memberikan nomor ponselnya pada Jason. Setiap menit Bianca menyempatkn diri mengecek ponselnya, siapa tahu saja Jason menghubunginya, nyatanya, hingga satu minggu berlalu, yang didapatkan Bianca hanya sebuah kekecewaan.

Apa Jason sedang sibuk? Atau, apa lelaki itu memang hanya berniat mempermainkannya saja. Sial! Mungkin saja Jason hanya mempermainkannya saja. Ingat Bee, dia artis papan atas, mana mau dia berhubungan denganmu, apalagi dimatanya kamu hanya seorang fans yang sama dengan yang lainnya.

Bianca mendengus sebal. Mau dipungkiri seperti apapun juga, nyatanya ia benar-benar kesal dengan Jason. Jika Jason tidak berniat untuk menghubunginya, seharusnya pria itu tidak perlu meminta nomor ponselnya hingga ia tidak perlu gelisah tak menentu menunggu panggilan atau pesan dari pria itu.

Bianca meminum jus di hadapannya dengan kesal hingga ia berakhir terbatuk-batuk karena tersedak.

“Astaga, kamu kenapa, Bee?” Sienna yang memang kini duduk di sebelahnya memberinya tissue, tapi sialnya, kakak iparnya tersebut juga menertawakan kekonyolannya.

“Kamu kenapa? Aneh banget, sejak tadi aku lihat kamu hanya cemberut melulu.” Sienna bertaya lagi saat Bianca sudah membaik.

Bianca tentu tidak menceritakan pertemuannya dengan Jason pada Sienna maupun Felly. Yang benar saja, Sienna pasti akan mengoloknya habis-habisan saat perempuan itu tahu jika ia sedang berharap-harap cemas dengan telepon dari Jason.

“Nggak apa-apa.” Bianca menjawab dengan cuek.

“Mungkin dia lagi nunggu telepon dari pacarnya, Si.” Felly menyahut, dia datang dengan membawa sebuah nampan yang berisi cemilan untuk Sienna dan Bianca.

Sienna tertawa lebar. “Pacar? Mana mungkin dia punya pacar? Pacarnya kan cuma CEO-CEO di dalam novel, Fell.” Sindir Sienna masih dengan tertawa lebar.

Bianca memberengut kesal. “Enak saja. Aku nggak suka sama CEO kayak suami-suami kalian. Apaan, paling juga nggak HOT.”

“Oh ya? Memangnya cowok yang hot itu seperti apa?” tanya Sienna.

“Yang jelas bukan kayak kak Aldo, apalagi Kak Raka. Yang benar saja, mereka kaku dan membosankan.”

“Hei, tapi kak Aldo panas saat di atas ranjang, tahu. Dan aku yakin kak Raka juga gitu, mengingat Felly langsung hamil dalam semalam.”

“Sienna.” Felly memerah karena ucapan Sienna. Ahh, gadis itu benar-benar.

“Panas tidaknya seseorang tidak dilihat dari apa dia mampu menghamilimu dalam semalam. Lagian, kalian hamil dalam semalam itu karena kak Aldo dan Kak Raka tidak profesional sampai tidak kenal apa yang namanya kondom.”

“Bee. Astaga, ternyata kalian sama saja.” Felly menggelengkan kepalanya lalu ia memilih melangkah pergi menjauh dari kedua kakak beradik yang menurutnya sudah sama-sama gila karena ucapan mereka.

Sienna bukannya marah, ia malah tertawa lebar setelah mendengar kalimat panjang lebar dari Bianca dan juga reaksi Felly akan hal tersebut.

“Kamu sudah gila?” Binca tidak mengerti kenapa kakak iparnya itu tertawa terbahak-bahak karena ucapannya.

“Ya, kita kan sama-sama sudah gila.”

“Enak aja, kamu aja sana yang gila.”

“Ayolah Bee, kamu nggak asik.” Sienna lalu meminum jusnya, sebelum ia berkata lagi “Jadi, menurutmu, pria yang Hot itu seperti apa?”

“Entahlah, mungkin pria yang berlari kesana kemari dengan keringat di tubuhnya, mugkin?”

“Lalu?” Sienna memancing lagi.

“Bertatto.”

“Lalu?” tanya Sienna lagi, padahal ia mulai mengerti arah pembicaraan Bianca meski gadis itu tidak sadar jika kini dirinya sedang di pencing oleh Sienna.

“Yang pasti, dia tampak seperti bad boy dengan penampilannya, dan dia tentu menarik perhatian banyak wanita.” Dengan santai, Bianca meminum jusnya kembali.

Well, sepertinya ciri-ciri yang kamu sebutkan semuanya terdapat pada diri Jason.”

Dengan spontan Bianca menyemburkan jus yang diminumnya tersebut, hingga tak sengaja semburan tersebut terarah pada wajah Sienna yang memang duduk dihadapannya. Bianca terkejut dengan apa yang terjadi, hingga ia hanya ternganga saat melihat wajah Sienna yang penuh dengan semburan jus darinya, sedangkan Sienna segera menjeritkan nama Bianca sekeras-kerasnya karena kesal dengan apa yang dilakukan adik iparnya tersebut.

***

Bianca tak berhenti tertawa lebar saat mengingat bagaimana lucunya wajah Sienna tadi saat ia tak sengaja menyembur kakak iparnya itu dengan jus yaang ia minum. Sienna sangat murka, dan melihat Sienna murka merupakan hal langka untuk Bianca.

Kini, Sienna masih di dalam toilet untuk membersihkan dirinya, sedangkan Bianca masih sesekali tertawa sendiri sepereti orang gila karena mengingat kejadian tadi.

“Bee, kamu keterlaluan.” Felly datang sambil menegur Bianca. Bagaimanapun juga, Sienna adalah kakak ipar Bianca, harusnya Bianca menghormatinya meski usia Sienna jauh lebih muda.

“Astaga, aku nggak sengaja, sumpah.”

“Tapi kamu bisa kan berhenti menertawakannya?”

“Hahahhaha, oke, oke. Ya ampun, dia lucu sekali tadi, aku sampai gemas.”

“Dia kakak iparmu, Bee.”

“Yes, I know. Tapi aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.” Lagi-lagi Bianca terkikik geli.

Ketika Bianca sibuk dengan tawa cekikikannya, ponselnya berbunyi. Bianca melirik sekilas dan melihat nomor baru sedang menghubunginya. Akhirnya Bianca mengabaikannya. Ya, ia sama sekali tidak suka dengan pemanggil nomor baru, karena biasanya, nomor-nomor tersebut hanya untuk menggodanya saja.

Ketika Bianca membiarkan ponselnya berdering terus menerus, Felly bertanya “Kenapa nggak kamu angkat?”

“Malas, nomor baru, paling cuma missed call aja.”

Felly tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Ya ampun Bee, sejak tadi kamu mantengin ponsel kamu terus, sekarang pas bunyi, kamu malah mengabaikannyaa.”

Oh Sial!! Bianca baru ingat, kalau sejak seminggu yang lalu, ia memang menunggu nomor baru masuk ke dalam panggilannya, nomor yang mungkin saja milik seorang Jason. Dengan segera Bianca meraih ponselnya, tapi ketika ia akan mengangkat telepon tersebut, deringnya sudah mati.

“Yaaahhhh apa-apaan sih ini. Nyebelin banget.” Bianca menggerutu kesal.

“Tuh kan, pasti ada yang kamu tungguin.” Goda Felly.

Bianca mendengus sebal. “Itu Fell…” saat Bianca akan bercerita dengan Felly tentang Jason, ponselnya kembali berdering. Bianca dan Felly sempat saling pandang sebentar karena sama-sama terkejut, lalu secepat kilat Bianca mengangkat panggilan tersebut.

“Halo?” Bianca menyapa penuh harap.

“Hai, Bee.”

Ya, Bianca merasakan jantungnya seakan ingin meledak saat ini juga. Itu Jason, ya, benar-benar Jason. Dan astaga, Bianca masih tak menyangka jika lelaki itu benar-benar menghubunginya, meski sangat terlambat. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa ia merasa sangat bersemangat saat berhubungan dengan lelaki itu?

***

Dengan langkah ragu, Bianca memasuki sebuah lift di sebuah gedung apartemen. Lift tersebut menuju ke lantai 25. Lantai dimana ia akan bertemu dengan Jason.

Ya, tadi saat Jason menghubunginya, lelaki itu memintanya untuk mendatangi lelaki tersebut di apartemen ini. Apartemen yang keamanannya sangat terjaga, karena untuk memasuki apartemen ini saja Bianca harus melewati beberapa penjagaan. Pantas saja penyanyi sekelas Jason tinggal di apartemen ini.

Jantung Bianca tak berhenti berdebar kencang, saat mengingat jika dirinya akan kembali bertemu dengan sosok Jason. Astaga, sebenarnya ada apa dengan dirinya?

Bianca tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi melihat Jason yang tampak begitu menggoda malam itu ketika ia melihat aksi panggungnya, Bianca selalu merasa terbakar saat mengingat tentang Jason. Apa-apaan ini?

Bianca menggelengkan kepalanya ketika otaknya mulai berpikir semakin jauh tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi diantara dirinya dengan Jason. Sial! Ini pasti karena novel-novel Romance dewasa yang sering ia baca, hingga ketika ia membayangkan tentang Jason, pikirannya selalu menjurus kepada hal-hal mesum.

Bee, kamu harus mulai menghilangkan kebiasaan burukmu itu! gerutunya pada dirinya sendiri.

Tak lama pintu lift di hadapannya terbuka. Jantung Bianca semakin berdebar kencang. Apalagi saat melihat beberapa laki-laki tinggi tegap berpakaian serba hitam berdiri di ujung lantai tersebut.

Bianca keluar dari dalam lift itu, sesekali ia merapikan rambutnya yang sengaja ia cat pirang. Kakinya melangkah menuju pintu paling ujung. Pintu yang tampak di jaga ketat oleh beberapa laki-laki tinggi tegap yang Bianca yakini adalah Bodyguard Jason. Saat Bianca sudah berada di depan pintu apartemen Jason, seorang Bodyguard bertanya padanya.

“Nona Bianca?”

“Ya, saya.” Bianca menjawab dengan sedikit gugup.

“Silahkan masuk.” ucap sang Bodyguard sembari membukakan pintu tersebut untuk Bianca.

Bianca meganggu, dan kakiya mulai melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Sedikit terkejut ketika ia menolehklan kepalanya ke belakang ternyata pintu masuk di tutup oleh Bodyguard tersebut.

“Hai, Bee, baru sampai?” suara tersebut sontak membuat Bianca menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Dan demi Tuhan! Bianca menyesal karena sudah menolehkan kepalanya ke sana.

Tampak Jason berdiri di depan pintu kamar mandinya dengan tubuh dan rambut yang masih basah. Hanya berbalutkan handuk kecil yang melilit pinggangnya. Sungguh, lelaki itu tampak begitu panas dengan tubuh tegap yang tampak begitu perkasa. Oh, bahkan Bianca mengakui jika Jason lebih panas dari sang CEO di dalam novel-novel romance dewasa yang pernah ia baca sebelumnya. Astaga, bagaimana tubuhnya tak terbakar ketika menatap pemandangan panas di hadapannya seperti saat ini?

 

-TBC-

13 thoughts on “Bianca – Chapter 3 (Lebih panas dari sang CEO)”

  1. nungguin cerita ini dari kemarin akhirnya update juga:-D:-D:-Dsuka sama keakraban siena sama bianca gak kaya kakak adik dua”nya sama” gila dan mesum:-D:-D:-Dkayaknya bianca cuma jadi pelarian nya jason buat ngelupain felly…gak sabar nunggu kelanjutannya moga gak lama updatenya:-D:-D

    Like

  2. 3 brsaudara ini klo kumpul jd rame bgt dgn aksi sling mnjhilinya,,,,
    Bianca merasa di php in nih ama Jason,,pdhl Jason gk ingat hehe
    Jgn smpe deh Bianca jd pelariannya…..

    Like

  3. Akhirnya update jg bianca… kangen bgt ama si eneng 1 nie…
    Mudahan lah neng bianca kgk jd pelarianx si jason…
    Udh ngebayangin yg hot2 malah tbc 😂😂😂

    Like

  4. buu sperti na q mulai jatuh cinta ma certa ini 😊😊😊😊😊
    suka liat scen mereka ber 3 , cewe ql udah ngumpul obrolan na ga jauh” dari cowo dan sejenis na 😂😂😂
    woy sii jason mang mnggoda sangat , jadi ga sabar nunggu hot na jason ngajak bebe k atas ranjang na 😂😂😂

    tapi q malah kangen ma seina dan aldo , jadi pngen baca mereka lagi 😭😭😭😭😭

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s