romantis

Beautiful Escape – Prolog

Beautiful Escape

 

Karena banyak yang reques, dan aku ada sedikit ide, maka aku buatkan ceritanya Davit (Kembaran Dirga) sama Sherly, istrinya yaa.. ini adalah kisah mereka dari sebelum menikah, semoga suka…

 

Beautiful Escape

 

*Davit Prasetya

*Sherly Amanda

 

 

Prolog

 

 

Davit menatap dua orang perempuan yang baru saja masuk ke dalam kelas bela diri yang sudah mulai sejak setengah jam yang lalu. Alisnya terangkat begitu saja ketika salah satu perempuan yang baru datang tersebut menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat.

Ada apa? Kenapa perempuan itu tampak menatapnya dengan penuh kebencian?

Davit akhirnya berjalan menuju ke arah dua perempuan yang baru datang tersebut, tapi ketika dirinya semakin dekat, perempuan yang menatapnya dengan tatapan tak bersahabat itu malah membalikkan badannya dan bersiap pergi dari hadapannya.

“Hei, tunggu, ada apa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Davit bertanya dengan spontan. Jemarinya bahkan sudah meraih pergelangan tangan perempuan tersebut.

Perempuan itu menolehkan kepalanya ke arah Davit, tatapan matanya menajam seketika, dan Davit tahu jika tatapan tajam itu untuknya.

“Maaf.” Ucap Davit sembari melepaskan cengkeraman tangannya pada peregelangan tangan perempuan tersebut. Perempuan itu lalu melanjutkan langkahnya, berjalan pergi, keluar dari ruangan tempat Davit mengajar kelas bela diri karate.

Davit hanya ternganga melihat kepergian perempuan itu, perempuan cantik dengan tatapan kebenciannya. Ahhh, kenapa ia jadi penasaran karenanya?

***

Sherly terus saja berjalan pergi, melangkah meninggalkan tempat latihan karate yang seharusnya menjadi ia masuki karena ia sudah mendaftar untuk menjadi salah satu murid kelas tersebut mulai hari ini.

Ya, sebenarnya Sherly bukanlah gadis tomboy, seperti temannya, Nina yang mengajaknya ke kelas tersebut. Ia mendaftar kelas tersebut karena ingin mengisi kekosongan hari-harinya. Ia ingin meninggalkan kebiasaan buruk yang sudah dua minggu terakhir menjangkiti dirinya. Kebiasaan buruk melamun dan menangis tidak jelas hanya karena patah hati terhadap lelaki berengsek bernama Dirga Prasetya.

Astaga, bahkan Sherly tidak mengerti, apa yang membuatnya patah hati begitu dalam dengan sosok tersebut. Dirga tak lebih dari laki-laki berengsek yang menganggap kesucian wanita hanya sebagai sebuah mainan. Lelaki itu menduakannya, lalu memutuskannya begitu saja ketika ia menolak untuk di ajak bercinta.

Sangat berengsek, bukan?

Dan tadi, lelaki itu datang menghampirinya seperti seorang tolol yang tidak mengenalinya. Oh, andai saja Sherly memiliki kekuatan super, mungkin ia sudah menendang keras-keras selangkangan lelaki tersebut.

“Sher, mau kemana? Kamu kenapa? Astaga, sampek di hampirin ama pelatih.” Nina menghentikan langkahnya.

Sherly mengerutkan keningnya “Pelatih?” tanyanya sedikit bingung. Ya, setahunya Dirga adalah orang yang suka berkelahi, tapi ia tidak tahu jika lelaki itu menjadi pelatih di kelas bela diri. Dan astaga, Sherly baru sadar, bahwa selama pacaran dengan lelaki tersebut, ia sama sekali tidak mengetahui apapun tentangnya.

“Ya, Kak Davit itu pelatih kita.”

Sherly menatap Nina seketika. “Apa kamu bilang? Davit?”

“Iya, emangnya kenapa?”

Sherly termenung sebentar, lalu memukul kepalanya sendiri seperti orang bodoh. Astaga kenapa ia bisa lupa? Bisa jadi lelaki yang menghampirinya tadi itu adalah kembaran Dirga. Meski Dirga tak banyak bercerita tentang dirinya semasa pacaran dengan Sherly, tapi Sherly sedikit mendengar kabar di kampus mereka, jika Dirga memiliki saudara kembar yang juga kuliah di kampus yang sama hanya saja berbeda fakultas.

“Kamu yakin, nama dia Davit?”

Nina mendengus sebal. “Aku sudah dilatih sama dia sejaak enam bulan yang lalu, kamu pikir selama ini aku salah menyebut namanya?”

“Uuum, dia, dia mirip sama Dirga.”

“Apa? Kamu jangan bercanda ahh.”

Ya, Nina memang belum pernah melihat Dirga, karena mereka berdua bersahabat saat masih SMA ketika keduanya sama-sama tinggal di Bandung, sedangkan ketika di bangku perguruan tinggi, mereka berbeda kampus. Sering kali Sherly bercerita pada Nina tentang Dirga hingga membuat Nina ikutan naik darah, hanya saja, sampai saat ini, Nina belum pernah sekalipun melihat tampang Dirga.

“Iya, kupikir, kupikir… mereka saudara kembar.”

Nina ternganga dengan apa yang baru saja diucapkan Sherly. Begitupun dengan Sherly yang juga masih sibuk mencerna apa yang sedang terjadi.

Davit? Kembaran Dirga? Lalu apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Haruskah ia tetap melaksanakan niatnya untuk menjalani kelas bela diri dengan Davit sebagai pelatihnya? Bisakah ia melihat lelaki itu tanpa mengingat sosok Dirga yang sudah menyakiti hatinya?

 

-TBC-

Davit pas latihan.

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Beautiful Escape – Prolog”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s