romantis

Secret Wife – Chapter 6 (Datang Lagi)

Secret Wife

 

kalo sempat besok aku update bianca yaa.. hehehhhe

 

Chapter 6

-Datang lagi-

 

Lamunan Alden buyar saat ia melihat pintu kamar Naura terbuka dan mendapati sosok tersebut baru saja masuk. Alden hanya menatap Naura dengan ekspresinya yang tampak sedikit linglung karena bayang masalalu yang tadi sempat menari dalam kepalanya.

“Kamu, sedang apa?” tanya Naura yang sedikit heran karena Alden berdiri ternganga sembari membawa bingkai fotonya.

Alden yang sudah dapat menguasai dirinya kembali akhirnya menaruh sembarangan bingkai foto yang sejak tadi ia bawa. “Nggak ada apa-apa. Dia sudah pergi?”

Naura mengangguk.

“Bagus.” Alden lalu merapikan penampilannya kembali. “Aku akan pulang.” ucapnya pendek.

Hanya itu saja? Hanya itu yang dikatakan Alden setelah semalaman lelaki itu kembali meyentuhnya seperti dulu? Oh, rupanya Alden memang tidak berubah, lelaki itu masih sama seperti enam tahun yang lalu sebelum mereka berpisah.

Alden keluar begitu saja dari dalam kamar Naura, sedangkan Naura hanya berdiri mematung di sana.

Seperti orang yang tak dihargai, ya, seperti itulah Alden memandangnya, entah dulu, atau sekarang. Lelaki itu tak pernah menghargainya, lelaki itu tak pernah memikirkan perasaannya…..

***

Alden duduk termangu di pinggiran ranjangnya pikirannya berkelana memikirkan apa yang baru saja terjadi dengan dirinya. Naura sepertinya sudah benar-benar bahagia dengan lelaki lain, tapi kenapa ia belum juga dapat merelakannya?

Ketika ia sibuk denganpikirannya sendiri, pintu kamarnya diketuk dari luar. Alden mendesah panjang sebelum berkata “Masuk” untuk si pengetuk pintu.

Rupanya itu Angel, adiknya. “Kakak ngapain di kamar aja, di cariin papa tuh.”

“Mau apa?”

“Nggak tahu, katanya sih mau bahas tentang perusahaan.”

Alden mendengus sebal. “Baru dua hari pulang sudah disuguhin masalah kerjaan.” gerutunya. “Lagian, katanya mereka masih di Jogja.”

“Udah pulang tadi pagi, nggak jadi nginep lama, mama nggak kerasan.”

“Kamu juga, bukannya masih di rumah Om Aaron?”

Angel melemparkan diri di atas ranjang kakaknya. “Mikaela banyak nangis, dan aku bosan mendengarkan ceritanya.”

“Perempuan memang selalu membosankan saat membawa-bawa tentang perasaan.” Alden kembali menggerutu.

“Hei, nggak semuanya, tau! Lagian, kami para wanita nggak akan semembosankan itu kalau kalian para lelaki tidak menyakiti.”

Alden hanya diam, tidak menanggapi perkataan Angel.

“Ngomong-ngomong, aku benar-benar penasaran sama pacar Kak Alden. Ayolah, cerita sedikit.”

“Yang pasti, dia beda sama kamu.”

“Benarkah? Apanya yang beda?”

“Semuanya.” Alden menjawab cepat.

“Kak, ayolah. Apa dia lebih cantik daripada aku?”

Alden tertawa lebar. “Tentu saja, dia bahkan pintar masak, dan dia….” Alden menggantung ucapanya ketika bayangan Naura melintasi pikirannya.  Sial! Wanita itu lagi. Sebenarnya apa yang dilakukan Naura kepadanya hingga ia selalu terbayang-bayang dengan wanita tersebut?

“Kenapa kak?”

“Sudahlah, lupakan.” Mood Alden kembali memburuk setelah mengingat tentang Naura.

“Ngomong-ngomong, pesta akhir minggu nanti, kuharap Kak Alden membawa perempuan itu.”

“Pesta?”

“Ya, pesta selamat datang.”

“Astaga, apa-apaan sih. Nggak perlu pakek pesta segala.”

“Uumm, setau yang kudengar, itu juga sebuah pesta penyambutan Kak Alden di perusahaan.”

“Apa?” Alden kembali mendengus sebal. “Jadi semua karyawan juga bakal di undang?”

“Sepertinya begitu, malah bagus tahu, aku jadi bisa caper-caper sama pegawai papa.”

“Dasar centil!” dan Angel hanya tertawa lebar menanggapi olokan kakaknya. Pikiran Alden kembali melayang, dan ia memilih tak menghiraukan adiknya yang masih tertawa lebar.

***

Naura tetap kerja, ia tidak mungkin cuti kerja hanya karena gugup bertatap muka dengan Alden. Lagi pula, ia tidak memiliki alasan yang tepat untuk tidak bekerja hari ini. Sakit? Alasan itu tidak cukup untuk membuatnya libur kerja, meski jika ia memakai alasan itu, tak akan ada orang yang curiga terhadapnya.

Naura tetap memilih bekerja, karena Alden saja tampak biasa-biasa saja terhadapnya, kenapa ia harus gugup tak menentu? Bagaimanapun juga, kejadian semalam adalah bukan pertama kalinya mereka melakukannya, Naura akan menganggap kejadian semalam hanyalah kesalahan semata yang dikarenakan Alden yang mabuk. Naura tidak ingin berpikir lebih, ia sudah memiliki masa depan dengan Panji dan ia tidak ingin menghancurkannya hanya karena perasaannya sendiri.

Ketika Naura sibuk dengan pekerjaannya yang menyiram bunga di samping rumah keluarga Revaldi, Angel datang mengganggunya.

“Kamu lagi ngapain, Ra?” tanya Angel sambil mengamati beberapa bunga mawar putih.

“Nyiramin ini. Kamu sendiri? Tumben masih di rumah.” Komentar Naura masih dengan menyirami bunga-bunga di hadapannhya. Cara berbicara Naura dengan Angel memang seperti teman biasa, karena Angel sendiri memang ingin diperlakukan seperti itu oleh Naura, Angel lebih menganggap Naura sebagai temannya ketimbang menganggapnya sebagai asisten rumah tangga di rumahnya.

“Malas keluar, ngomong-ngomong, nanti kamu ikut ke pesta, kan?”

“Pesta? Pesta apa?”

“Pesta penyambutan kakak di perusahaan, tunangan kamu itu pasti juga datang.”

“Mungkin ya, tapi dia tidak mengajakku, jadi aku tidak mungkin ikut sendiri.”

“Ayolah, Kak Alden juga datang dengan pasangannya, mungkin.” Angel tak memperhatikan Naura yang segera membatu karena mendengar ucapannya.

“Pasangan?” Naura dengan spontan mengulang kalimat Angel.

“Iya. Ternyata selama ini dia punya pacar, tapi disembunyikan dari kita. Ahh, aku nggak sabar pengen lihat bagaimana sih selera kak Alden.”

Naura tak mengerti apa yang sedang terjadi, ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Yang pasti, perasaannya saat ini sulit digambarkan. Alden punya kekasih? Siapa? Tidak, itu pasti bukan dirinya. Alden tidak mungkin mengajaknya ke pesta tersebut lalu mengenalkan dirinya sebagai pasangan lelaki itu. Tidak, itu tidak mungkin. Lalu, siapakah kekasih Alden? Pada detik itu, Naura tahu, jika dirinya memang belum sepenuhnya merelakan Alden untuk wanita lain, meski nyatanya lelaki itu sudah menyakitinya lebih dari yang ia dapat terima.

***

Alden masih duduk terpaku di pinggiran ranjangnya seperti apa yang ia lakukan tadi siang sebelum Angel menghampirinya. Bedanya, kali ini ia berpikir tentang apa yang baru saja ia bahas bersama dengan Papanya. Rupanya, sang Papa akan mengadakan pesta penyambutan untuknya, dan yang membuat dirnya terganggu adalah sikap papa dan mamanya yang terkesan memaksanya untuk segera menikah.

Meski mama dan papanya tidak menyediakan calon untuknya, tapi tetap saja, Alden sedikit risih jika ditanya tentang pernikahan dan sejenisnya.

Tidak siap?

Ya. Mungkin itu adalah alasan yang kuat kenapa hingga sekarang Alden belum membawa calon ke rumah, padahal usianya sudah menginjak dua puluh delapan tahun. Lalu kapan ia akan mulai siap memikirkan tentang pernikahan?

Alden mendengus sebal. Alisha, mamanya bahkan tadi sempat membahas tentang cucu. Mamanya itu bahkan sudah membayangkan bagaimana jika di dalam rumah mereka nanti ramai tangisan bayi dari Alden.

Cucu?

Bayi?

Yang benar saja. Megingat itu, lagi-lagi Alden teringat dengan masalalunya bersama Naura. Masa lalu yang seharusnya tak pernah lagi ia ingat, karena tujuan ia kembali bukan untuk menguak luka masa lalu, melainkan untuk menata masa depan yang sempat ia hancurkan Enam tahun yang lalu.

Ahh, bayangan itu lagi…

Kenapa?

Kenapa lagi-lagi menghantuinya??

***

 

“Minum ini.” Alden melemparkan begitu saja sebuah botol yang di dalamnya terdapat kapsul-kapsul ilegal yang ia pesan secara online.

Naura meraih botol mungil tersebut, menatapnya dengan bingung. “Apa ini?” tanyanya tak mengerti. Ini sudah satu minggu setelah kejadian dimana ia memberitahukan Alden tentang kehamilannya hingga berujung Alden yang bersikap dingin padanya seperti saat ini.

“Untuk menggugurkan kandungan.” Alden menjawab dengan santai. Ia kini bahkan sudah membelakangi Naura, seakan tidak sudi berlama-lama menatap diri Naura.

“Kamu, benar-benar ingin aku melakukannya?” tanya Naura lagi. Sungguh, Naura sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Saat ini, ia belum genap berusia Sembilan belas tahun, dan dirinya sudah mengandung, hasil dari hubungan gelap bersama anak majikannya, dan yang begitu menyedihkan adalah kenyataan bahwa lelaki itu sama sekali tidak menginginkan bayi mereka, lelaki itu akan meninggalkannya, itu benar-benar membuat Naura bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

“Ya.” Alden menjawab pendek. “Aku belum siap punya bayi, apalagi dengan…” Alden menggantung kalimatnya.

“Aku?” Naura memastikan apa yang ia pikirkan.

Alden menatap Naura kembali. “Sudahlah jangan banyak tanya, cepat minum dan masalah ini akan selesai.”

Naura meremas botol tersebut, ia menundukkan kepalanya karena tidak ingin Alden melihat matanya yang sudah berkaca-kaca.

“A-apa yang terjadi denganku setelah ini?” tanyanya masih dengan menundukkan kepala.

“Obatnya akan cepat bereaksi, kamu akan mengalami pendarahan setelahnya.”

“Apa akan sakit?” tanyanya lagi.

“Tidak sesakit saat aku meninggalkanmu jika kamu masih mempertahankanya.”

Naura menghela napas panjang. “Kamu, tetap bersamaku, setelah ini?” tanya Naura terpatah-patah.

Kali ini giliran Alden yang menghela napas panjang, ia duduk berjongkok di hadapan Naura. “Aku akan selalu menjadi milikmu, sampai kapanpun, begitupun sebaliknya. Tapi tolong, aku hanya belum siap dengan hal ini.”

“Aku, aku takut.”

“Aku juga takut, tapi aku lebih takut berpikir tentang masa depan saat usiaku baru dua puluh dua tahun.”

“Bagaimana dengan orang rumah?” tanya Naura lagi.

“Mama, Papa, dan Angel masih di Jogja, dan mereka baru kembali akhir minggu karena acara pernikahan saudara kami baru di laksanakan lusa. Aku yang akan mengurusmu dan membawamu ke rumah sakit tanpa ada yang curiga.”

“Ibu?”

“Aku yang akan mengurusnya.”

“Bagaimana, kalau dokter….”

“Aku akan membawamu ke rumah sakit dimana tante Dian bekerja sebagai dokter. Aku akan menghubunginya untuk mengurus semua tentang kamu, dan membuat ini semua terlihat seperti sebuah kecelakaan. Tante Dian masih saudara Papa, aku yakin dia mau menolongku.”

“Apa kamu sudah merencanakan semua ini?”

“Merencanakan? Jika aku yang merencanakannya, maka aku tidak akan memintamu menggugurkannya. Kita tidak merencanakan ini, Na. kamu harus tahu kalau ini hanya sebuah kecelakaan.”

“Apa tidak bisa kalau aku melahirkannya saja?”

Tatapan Alden menajam seketika. “Jika kamu melahirkannya, maka aku tidak ingin kita bertatap muka lagi.”

“Tapi aku mencintaimu.” lirih Naura.

“Ya. Aku juga, tapi aku belum siap menghadapi ini. Kamu harus mengerti itu, Na!”

Naura hanya mengangguk. Ya, ia mengerti, ia sangat mengerti jika Alden memang tidak cukup menerima dirinya. Dan itu yang membuat Naura tersakiti. Dengan mata berkaca-kaca dan juga tangan yang setengah gemetar, Naura mmebuka penutup botol tersebut. Tapi dirinya tak cukup kuat untuk membukanya, hingga tiba-tiba jemari Alden terulur merampas botol tersebut.

Naura menatap Alden seketika, berharap jika lelaki itu berubah pikiran, tapi teryata, lelaki itu malah membukakan penutup botol tersebut kemudian memberikannya pada Naura. Naura menerimanya kembali, mengeluarkan Tiga butir kapsul dari dalam botol tersebut. Lalu berkata “Maaf” sebelum menelan semua kapsul-kapsul tersebut.

***   

Naura membuka pintu rumahnya dan mendapati Panji berdiri di sana dengan baju yang sudah setengah basah karena kehujanan. Melihat lelaki itu membuat Naura merasa sangat bersalah. Bagaimana mungkin ia bisa menghianati Panji dengan tidur bersama Alden kemarin malam?

Naura segera mempersilahkan Panji masuk. Lalu ia mengambilkan handuk untuk lelaki tersebut.

“Kamu kenapa kesini? Hujan-hujan gini harusnya kamu langsung pulang aja.”

“Aku khawatir sama keadaan kamu, tadi pagi kamu tampak beda, dan sedikit pucat.”

“Ya, sekarang aku sudah membaik.” Naura menjawab cepat. Ia senang Panji perhatian padanya, tapi dirinya kurang nyaman ketika mengingat jika dirinya sudah berbuat salah dengan menghianati Panji.

Naura meninggalkan Panji menuju ke arah dapur rumahnya, ia akan membuatkan Panji kopi, tapi ketika dirinya menyibukkan diri di depan kompornya, sebuah lengan tiba-tiba melingkari pinggannya.

Naura membatu, ketika menyadari jika itu adalah Panji. Sungguh, sentuhan Panji benar- benar berbeda dengan sentuhan Alden, dan terkutuklah Naura ketika ia menyadari jika dirinya lebih menyukai sentuhan Alden ketimbang sentuhan Panji.

“Kamu benar-benar berbeda, ada apa?” tanya Panji sambil menyandarkan wajahnya pada pundak Naura.

“Uum, aku, aku cuma sedang nggak enak badan.”

“Hanya itu? Kamu terlihat gugup di depanku, kamu seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kenapa, Ra?”

Naura menghela napas panjang, ia membalikkan tubuhnya ke arah Panji. Lalu ia memberanikan diri mengulurkan lengannya untuk melingkari leher Panji.

“Itu hanya perasaanmu saja, aku nggak kenapa-kenapa kok, beneran.”

Panji sedikit tersenyum dengan sikap Naura yang tiba-tiba menjadi manis terhadapnya. Sungguh, ia merindukan Naura yang seperti ini, tapi tadi pagi, sikap Naura berbeda, dan itu membuat Panji tidak suka.

Tanpa banyak bicara lagi, Panji menundukkan kepalanya, lalu mengecup lembut bibir Naura. Naura tidak menolak atau menghindar, karena memang ia adalah milik Panji, tak seharusnya ia menghindari lelaki itu.

“Sepanjang hari aku kepikiran kamu terus, takut kalau kamu kenapa-kenapa. Sikapmu tadi pagi benar-benar aneh.”

“Maafkan aku. Sungguh, aku cuma nggak enak badan. Sekarang duduklah di sana, aku akan membuatkanmu kopi.”

Panji mengangguk patuh. “Hangatkan juga makanan yang kubawakan. Kita makan malam bareng.”

“Oke.” jawab Naura dengan ceria.

Bersama Panji seperti saat ini membuat Naura melupakan sosok Alden, dan ya, seperti itulah yang terjadi dengannya beberapa tahun terakhir. Ia memilih Panji karena lelaki itu mampu membuatnya berpaling dan menghapus sedikit demi sedikit luka di hatinya yang diakibatkan oleh Alden, tapi kini, ketika Alden kembali mengusik kehidupannya, Naura seakan kembali tertarik dengan pesona Alden, meski kini sudah ada Panji di sisinya. Astaga, apa yang harus ia lakukan?

“Sayang.” Panggilan Panji membuat Naura menolehkan kepalanya ke arah lelaki tersebut. Ahh, rasanya senang ketika mendengar panggilan itu dari Panji, meski masih ada rasa tak nyaman saat ia mengingat hubungannya dengan Alden kemarin malam.

“Ya?”

“Akhir minggu nanti, temani aku ke pesta penyambutan anak Pak Brandon, Ya?”

Ya, Panji pasti datang ke acara tersebut, karena Panji merupakan salah satu karyawan di perusahaan milik Pak Brandon yang tak lain adalah ayah dari Alden. Bahkan perkenalan pertama mereka dimulai dari pesta ulang tahun perusahaan tersebut yang turut dihadiri Panji dan juga dirinya yang juga ikut hadir karena ajakan Angel.

“Kenapa? Kamu nggak mau ikut? Kalau kamu nggak ikut, aku juga nggak datang.” ucap Panji ketika Naura terlihat mematung seperti tak menanggapi ajakannya.

“Jangan gitu, ikut pesta di sana bagus untuk kamu, siapa tahu kamu bisa dipromosikan atau ketemu sama orang-orang hebat di sana. Aku akan ikut, nemanin kamu.”

“Beneran?” tanya Panji memastikan.

Naura berjalan menuju ke arah Panji sembari membawakan kopi buatanya. “Iya, aku ikut, demi kamu.” ucapnya sambil menyunggingkan senyumannya. Pada saat bersamaan, ketukan pintu depan rumah Naura membuat naura dan Panji berakhir saling pandang.

“Ada yang datang? Siapa? Malam-malam begini?” tanya Panji heran.

Naura mengangkat kedua bahunya. “Mungkin tetangga, aku lihat dulu.” Jawab Naura sambil berjalan menuju ke arah pintu depan.

Naura membuka pintu depan rumahnya, dan alangkah terkejutnya ketika ia mendapati Alden sudah berdiri di sana.

Astaga, apa yang dilakukan lelaki itu? Kenapa dia datang lagi? Kenapa saat ini? Saat Panji sedang berada di sini? Sungguh, Naura tidak ingin Alden berada di dalam ruangan yang sama dengan dirinya dan Panji, bukan tanpa alasan, karena Naura tidak dapat memastikan apa dirinya dapat mengontrol perasaannya ketika berada di dekat Alden. Dan Naurapun takut, jika Alden berbuat nekat untuk mengganggu hubungannya bersama dengan Panji.

-TBC-

-sampai jumpa di Chapter 7 -Menjadi istriku sekali lagi-

4 thoughts on “Secret Wife – Chapter 6 (Datang Lagi)”

  1. kasian juga yaa jadi panji , dia cuma jadi pelarian buat naura melupakan alden …..
    dan sekrang q pngerti gmn sakit na jadi naura , alden bener” jahat , pntes az naura sulit memaaf kan…
    Plisssssssss na jangan terpesona ma pesona alden , ql perlu kasih dia pelajaran biar tau rasa ….
    ga salah ql q bilang dia tamu ga d undang , deteng dan pergi seenak na 😕😕😕😕😕😕

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s