romantis

Secret Wife – Chapter 5 (Gugurkan!)

Secret Wife

 

“Kamu mau apa?” tanya Naura masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

“Mau apa lagi? Aku akan menemuinya, dan menunjukkan bagaimana seriusnya hubungan kita.”

“Apa?”

Tidak! Alden tidak boleh melakukannya. Lelaki itu tidak boleh menghancurkan semua impiannya lagi. Cukup impian indah yang ia rajut bersama Alden yang dihancurkan sendiri oleh lelaki itu dulu, tidak sekarang, tidak impiannya bersama dengan Panji.

***

Chapter 5

-Gugurkan!

 

Alden mengenakan pakaiannya dengan cepat, ia sangat bersemangat saat membayangkan bagaimana tunangan Naura nanti hancur dan patah hati karena ulahnya. Senyumnya terukir begitu saja saat memikirkan, jika setelah ini, Naura hanya akan menjadi miliknya. Tapi ketika ia akan membuka pintu kamar Naura, tanpa diduga, ia merasakan sebuah lengan rapuh memeluk tubuhnya dari belakang.

“Kumohon, jangan lakukan.” Suara Naura terdengar lirih, terdengar menyedihkan hingga membuat Alden membatu seketika. “Aku menyayanginya, aku tidak mau dia hancur karena melihatku seperti ini, tolonng, jangan lakukan.” Lanjut Naura yang kini disertai dengan isakannya.

Alden menundukkan kepalanya, melihat lengan rapuh Naura yang memeluk erat tubuhnya dari belakang, seketika itu juga, hatinya seakan runtuh karena sesuatu, ia tidak tega melihat Naura yang memohon seperti ini padanya. Sial! Apa yang terjadi dengan dirinya?

Alden melepaskan pelukan Naura, ia membalikkan tubuhnya, dan mendapati Naura yang ternyata masih telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Wanita itu bahkan mengesampingkan ketelanjangannya hanya untuk mencegahnya pergi, sedalam itukah rasa sayang Naura pada tunangannya?

Naura sendiri hanya menunduk, ia tentu malu ketika harus dihadapkan dalam situasi seperti ini, tapi bagaimana lagi, Alden pasti akan melakukan apapun untuk mencapai keinginannya, dan Naura tidak ingin melukai Panji karena hal ini.

“Pakai bajumu.” Ucap alden dengan setengah menggeram.

Naura mengangkat wajahnya, sempat bingung dengan apa yang dikatakan Alden. Lalu ia melihat Alden yang malah berjalan menuju ke arah ranjangnya lalu duduk di pinggiran ranjangnya.

Seketika itu juga Naura mengerti jika Alden mengalah. Alden tidak bertindak egois untuk menemui Panji dan mengingkapkan hubungan mereka. Secepat kilat Naura menggapai pakaiannya, dan mengenakannya sembari mengesampingkan kecanggungannya karena nyatanya sejak tadi, Alden tidak pernah lepas dari menatapnya.

Ketika Naura sudah selesai dan akan keluar dari kamarnya, Alden kembali menghentikannya dengan menangkap pergelangan tangannya. Lelaki itu berdiri, menatap tajam ke arah Naura hingga NAura merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Alden.

Alden lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, ia kemudian meraih sebuah syal yang memang tergantung pada sebuah gantungan di sebelah pintu kamar Naura. Alden memakaikan syal itu pada leher Naura, dan Naura baru sadar, jika memang lehernya saat ini dipenuhi dengan jejak kemerahan yang diciptakan oleh Alden semalam saat mereka bercinta.

Oh, betapa bodohnya ia karena tidak berpikir sampai kesana. Bagaimana jika tadi Panji melihatnya? Benar-benar bodoh.

“Urusan kita belum selesai, aku tidak menemuinya bukan karena aku mengalah, tapi karena aku kasihan denganmu.”

Ya, tentu saja. Naura tahu jika Alden melakukannya karena kasihan, bahkan sejak dulu, yang dimiliki lelaki itu untuknya hanya sebatas rasa kasihan, tidak lebih. Menyedihkan, bukan? Dan mengingat itu membuat Naura merasakan nyeri di dadanya.

“Aku tahu.” Lirihnya sambil menundukkan kepala.

“Temui dia dalam lima menit, kalau lebih, aku akan keluar.”

Naura mengangguk patuh, setelah itu dia keluar, sesekali merapikan penampilannya. Oh, semoga saja ia tidak terlihat seperti perempuan yang baru saja bercinta. Dan semoga saja Panji tidak menyadarinya.

***

Naura membuka pintu depan rumahnya, dan benar saja, ternyata Panji sudah berada di sana menunggunya. Lelaki itu tampak tampan dengan kemeja sederhananya, sangat berbeda jauh dengan Alden yang selalu tampak berkelas dengan pakaian-pakaian mewahnya. Mengingat Alden, Naura menundukkan kepalanya, ia memegangi syal yang masih melingkari lehernya, takut jika syal itu terlepas lalu Panji melihat semuanya.

“Kamu, belum siap-siap?” tanya panji yang sedikit heran dengan Naura. Ada yang beda dengan perempuan itu, apa Naura sedang tidak sehat?

Dengan spontan jemari Panji terulur dan akan memeriksa kening Naura apakah perempuan itu demam atau tidak, tapi nyatanya, Naura malah mundur dan menghindarinya.

“Ada apa? Kamu sakit?” tanya Panji yang semakin heran dengan tiongkah Naura.

Naura mengangguk pelan. “Ya, aku nggak enak badan, dan mungkin aku nggak kerja hari ini.”

“Kamu ingin sesuatu?” tanya Panji penuh perhatian.

Aku ingin kamu segera pergi dari sini, kumohon, sebelum lelaki di dalam kamarku keluar danmenghancurkan semua mimpi-mimpi kita. Naura melirih dalam hati.

“Naura, wajahmu pucat.” Panji berkata lagi karena Naura hanya melamu dan tak menjawab pertanyaannya. Jemarinya kembali terulur, ingin mengusap lembut pipi Naura, tapi lagi-lagi Naura kembali menghindar dengan mundur beberapa langkah.

“Aku baik-baik saja.” Naura menjawab cepat. “Lebih baik kamu cepat berangkat, nanti telat.” Jika boleh memohon, maka Naura akan memohonn agar Panji segera enyah darirumahnya, sungguh, ia tidak ingin kalau tiba-tiba Alden berubah pikiran dan keluar dari dalam kamarnya. Entah apa yang akan ia katakan pada Panji tentang hal tersebut.

Meski masih sangat heran dengan sikap Naura, tapi Panji hanya bisa mengangguk dan ia melangkah pergi meninggalkan rumah Naura dengan rasa tidak nyamannya.

Setelah memastikan Panji benar-benar pergi dari rumahnya, Naura menghela napas panjang. Ia segera masuk ke dalam. Menutup kembali pintu rumahnya dan segera kembali menghampiri Alden. Semoga saja lelaki itu juga memutuskan untuk segera pergi meninggalkannya, karena jujur saja, Naura tidak dapat memikirkan bagaimana cara menghadapi Alden ketika mereka sudah kembali melakukan hubungan intim seperti tadi malam.

***

Alden menghela napas panjang, mencoba menghilangkan kekesalan di dalam dirinya. Ia mencoba mengontrol emosinya agar kakinya tidak berjalan dengan sendirinya keluar dari kamar mungil milik Naura.

Sial! Ia merasa menjadi seorang pengecut karena bersembunyi di dalam kamar Naura. Kenapa ia melakukannya? Karena kasihan dengan Naura? Berengsek! Seharusnya ia tidak lagi memikirkan rasa kasihannya.

Alden berdiri, berjalan mondar-mandir karena frustasi. Kemudian matanya tertuju pada sebuah meja mungil di ujung ruangan. Kaki Alden melangkah dengan spontan ke sana, meraih sebuah bingkai foto yang terdapat di ujung meja tersebut, lalu menatapnya. Tampak sepasang lelaki dan perempuan yang terlihat bahagia di sana dengan background sebuah taman.

Itu adalah Naura, dan lelaki itu… apakah tunangannya? Naura tampak begitu bahagia di sana. Bahkan Alden tak pernah melihat Naura tertawa lepas seperti itu ketika bersamanya. Apa Naura benar-benar mencintai lelaki itu?

Rahang Alden mengeras seketika saat memikirkan jika mungkin saja Naura memang sangat mencintai lelaki itu. Lalu perkataan Naura tentang pernikahan wanita itu yang akan dilaksanakan tahun depanpun semakin membuat kemarahannya seakan tak terkendali.

Bagaimana mungkin Naura bisa dengan mudah melupakannya? Melupakan hubungan mereka? Sedangkan dirinya hingga saat ini seakan terikat dengan suatu ikatan yang tak nampak. Kenapa? Apakah ini karma yang harus ia terima karena kejadian di masa lalu mereka?

Enam tahun yang lalu…

Alden memutari seisi rumahnya, berharap jika ia menemukan sosok yang ia cari. Ya, siapa lagi jika bukan Naura. Saat ini, sudah hampir satu tahun lamanya ia menjalin hubungan dengan Naura tanpa ketahuan oleh orang rumah. Bulan depan, Alden sudah harus berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studynya, jadi sebelum ia berangkat, ia ingin menghabiskan banyak waktunya hanya berdua dengan Naura, tapi sepanjang sore ini, ia tak juga bertemu dengan perempuan itu, dimana dia?

Akhirnya, Alden menemukan Naura di sebuah ruangan, Naura sedang sibuk menyetrika baju-baju keluarganya. Tanpa sungkan lagi, Alden segera memeluk tubuh Naura dari belakang hingga wanita itu berjingkat karena ulahnya.

“Astaga, kamu membuatku kaget.”

“Dan kamu membuatku kangen.” Alden menjawab cepat.

“Jangan seperti ini, nanti ada yang lihat.”

“Kamu tenang aja, aku sudah menutup pintunya.” 

Naura hanya tersenyum. Ya, tak dapat dipungkiri jika semakin kesini, Alden semakin membuat Naura merasa nyaman,begitupun dengan Alden yang merasakan jika memeluk Naura seperti ini merupakan sebuah kenyamanan yang tak dapat tergambarkan. Alden benar-benar menikmati momen-momen manis mereka.

“Kamu kemana saja, aku nyariin kamu seharian ini, tapi kayaknya kamu lagi banyak kerjaan.”

“Iya, kerjaanku numpuk.”

“Nanti malam, aku mau kamu nemuin aku di dalam kamarku, setelah makan malam.”

“Seperti biasa?” tanya Naura. Ya, selama ini mereka memang sering bertemu secara diam-diam di dalam kamar Alden ketika malam.

“Ya, tapi, kupikir nanti malam sedikit special.”

“Apa yang membuatnya special?”

Alden melepaskan pelukannya, lalu memutar tubuh Naura hingga menghadap tepat ke arahnya. “Aku ingin membuat banyak kenangan manis untuk kita berdua sebelum aku berangkat ke Luar Negeri.”

Naura sempat terpaku menatap ke arah Alden. Ia terlihat tidak suka saat Alden membahas tentang kepergiannya.

“Aku juga ingin memberi tahumu tentang sesuatu.”

Alden tersenyum. “Kamu menyimpan kejutan untukku?” lalu Alden tertawa lebar. “Simpan kejutannya sampai nanti malam.” Dan setelah itu, Alden menangkup kedua pipi Naura lalu mencumbu bibir wanita itu dengan lembut.

Alden melepaskan tautan bibir mereka saat napas keduanya sudah terengah. Ibu jarinya terulur, mengusap lembut ujung bibir Naura, sedangkan matanya tak berhenti menatap bibir Naura yang masih tampak menggiurkan untuknya.

“Aku selalu menyukainya, sampai kapanpun.”

“Apa?” tanya Naura tak mengerti.

“Bibir ini, akan selalu menjadi favoritku.” Naura kembali menunduk, dan sungguh, Alden semakin gemas melihat tingkah Naura.

***   

Malamnya, Alden sudah menunggu Naura cukup lama di dalam kamarnya. Tapi Naura belum juga masuk ke dalam kamarnya. Apa perempuan itu lupa? Alden berdiri dan bersiap menjemput Naura ke dalam kamarnya tapi ketika ia membuka pintu kamarnya, ternyata Naura sudah berdiri di sana.

Secepat kilat Alden menarik tubuh Naura masuk ke dalam kamarnya, setela itu ia memeluk erat tubuh tersebut. tak lupa Alden menutup pintu kamarnya dan juga menguncinya.

“Kukira kamu nggak datang.” Bisik Alden dengan suara seraknya.

“Ibu belum tidur, tadi. Jadi aku nunggu dia sampai tidur dulu.”

“Ya, begitu lebih bagus.” Alden lalu mengajak Naura untuk duduk di pinggiran ranjangnya. “Aku ada sesuatu untuk kamu.” Ucapnya sambil mengambil sesuatu dari dalam laci meja kecil disebelah ranjangnya. Ia memberikan sebuah kotak mungil itu kepada Naura. “Bukalah.”

Dan Naura akhirnya membuka kotak mungil pemberian Alden tersebut. Naura ternganga mendapati isinya. Itu adalah sebuah kalung yang tampak begitu indah. Sederhana namun mempesona.

“Apa ini?” tanyanya sedikit bingung pada Alden.

“Untuk kamu.” Alden mengambil kalung tersebut, lalu berkata “Anggap saja ini pengikat pernikahan kita, karena saat itu aku tidak memberimu cincin pernikahan.”

“Tapi… tidak perlu semewah ini, ibu akan curiga dan bertanya-tanya dari mana aku mendapatkan kalung ini.”

“Bilang saja ini imitasi yang kamu beli di pasar malam.” Alden berseloroh. Ia meminta Naura membalikkan tubuhnya, Naura menurut saja. Lalu Alden memakaikan kalung tersebut hingga melingkar indah di leher Naura.

Alden kembali membalikkan tubuh Naura, lalu mengamatinya dengan seksama.

“Terlihat sangat indah, kalau begini, kamu terlihat pantas bersanding di sampingku.”

“Memangnya selama ini aku terlihat tidak pantas?” tanya Naura mencoba mengorek pendapat Alden.

“Bagiku, kamu selalu pantas bersanding denganku, dengan atau tanpa perhiasan mahal. Tapi bagi orang lain, aku tidak tahu.”

“Jadi, karena itu kamu tidak mengungkapkan tentang hubungan kita?” tanya Naura memberanikan diri.

Alden sempat terdiam sebentar, tapi kemudian ia segera berlutut di hadapan Naura. “Aku hanya meminta kamu untuk bersabar. Tiga tahun, setelah menyelesaikan studyku selama paling lambat Tiga tahun di luar negeri, aku akan kembali dan memperistrimu lagi dihadapan dunia.”

Naura hanya menghela napas panjang.

“Kenapa? Kamu nggak mau menungguku?” tanya Alden ketika mendapati ekspresi wajah Naura yang muram.

“Al, ada yang harus kamu tahu.”

Alden menatap Naura dan hanya mengangkat sebelah alisnya.

“Aku, aku hamil.”

Mata Alden membulat seketika. Dengan spontan ia berdiri seketika. “Apa? Bukannya kamu sudah meminum pil?”

“Uum, aku lupa meminumnya beberapa kali.”

“Lupa?” Alden mengusap rambutnya dengan frustasi. “Bagaimana mungkin kamu bisa melupakan hal yang seserius itu?”

Naura hanya menunduk, ia tidak berani menatap Alden yang tampak murka dihadapannya.

“Apa kamu nggak tau bagaimana seriusnya masalah ini? Aku akan ke luar negeri bulan depan, dan sekarang kamu bilang kamu hamil? Kamu mau aku membatalkan semuanya hanya demi menemanimu?”

“Uumm, aku nggak pernah berpikir seperti itu, aku memberitahumu karena kupikir kamu harus tahu.” Lirih Naura nyaris tak terdengar.

Alden menghela napas panjang, ia membelakangi Naura sebelum berkata dengan begitu kejam hingga membuat Naura mengangkat wajahnya seketika.

 “Gugurkan!” ucapnya dingin tanpa perasaan.

-TBC-

 

 

4 thoughts on “Secret Wife – Chapter 5 (Gugurkan!)”

  1. ingin q berkata kasar , al q ga nyangka u biza sebrengsek ini , dirga mang brengsek tapi ga gila u sampe nyuruh naura mnggugur kan kandungan na …
    q heran knp malah sifat ramma yng nurun ma al knp bukan sifat kake na az 😤😤😤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s