Future Wife – Chapter 3 (Teman Tidur)

Comments 7 Standard

Future Wife

 

Follow IG : @Zennyarieffka

Like Fanspage Facebook : Zenny Arieffka- Mamabelladramalovers

untuk mendapatkan informasi updatetan terbaru yaa…

 

 

Chapter 3

-Teman Tidur-

 

Mata Tiara membulat seketika. Dengan spontan kakinya mundur menjauhi Evan. Lengannya ia silangkan di depan dadanya. Astaga, bagaimana mungkin lelaki ini berkata seperti itu? Menjadi teman tidur? Apa maksudnya?

“Jangan takut.” Evan berkata cepat.

“Dua menit yang lalu saya tidak takut, tapi setelah Pak Evan berkata seperti itu, saya berpikir untuk segera lari dari hadapan Pak Evan.” Tiara menjawab dengan jawaban polosnya.

Evan tersenyum lembut. “Saya hanya memberi solusi.”

“Itu bukan solusi, Pak Evan memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan.”

Well, saya tidak memaksa kamu, saya hanya memberikan pilihan, karena kebanyakan orang memilih cara instan walau dia tahu itu merugikannya. Tak ada salahnya jika saya mencoba menawarkannya pada kamu, kan?”

“Tapi saya bukan kebanyakan orang. Saya akan kerja keras semampu saya, tanpa harus menjual tubuh saya.”

Lagi-lagi Evan tersenyum, kali ini sambil menganggukkan kepalanya. “Untuk seorang yang kesusahan, kamu ternyata masih memiliki harga diri yang tinggi.”

“Jika saya sudah tidak memiliki harga diri, saya tidak akan bekerja dengan Bu Sherly, tapi akan bekerja di rumah Bordil.” Tiara menjawab dengan ketus. Sugguh, ia tidak suka dengan sikap Evan yang berpikir bahwa dirinya bisa dibeli dengan uang. Ya, meskipun ia tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan, setidaknya ia memiliki sesuatu yang akan ia simpan hingga pangerannya nanti datang padanya dengan cinta.

“Baiklah.” Evan hanya tertawa. Lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara, tapi sebelum itu, ia berpesan “Tapi kalau kamu berubah pikiran, datang saja sama saya, tawaran saya masih berlaku sampai kamu mampu melunasi hutang-hutang kakakmu.”

Setelahnya, Evan pergi dengan masih dengan senyum terukir di wajahnya, sedangkan Tiara mulai kesal dengan sikap Evan. Ya, senyum Evan itu, terlihat seperti senyum nakal, dan Tiara tidak suka saat melihatnya.

***

Masuk ke dalam kamar, Evan menutup pintu kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Setelah itu ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarnya. Jemarinya meraba dada kirinya yang tiba-tiba saja berdebar tak menentu, dan sial! Evan sadar jika kini pangkal pahanya sudah berdenyut nyeri.

Ia menginginkan Tiara, ya, ia menginginkannya. Dan apa-apaan ini? Padahal, ia tak pernah mengingnkan perempuan hingga terasa nyeri seperti saat ini.

Sejak kecil, perasaannya hanya tumbuh untuk sosok Karina, rasa cinta yang murni. Setelah dewasa, Evan memang sesekali tergoda untuk memiliki diri Karina, ia ingin menyentuh wanita itu dengan sentuhan intim, tapi rasa cintanya yang begitu besar membuatnya melupakan hasrat primitifnya pada sosok Karina. Evan memilih mengubur hasrat-hasrat panas tersebut dan memupuk rasa cintanya. Tapi kini, saat ia bertemu dengan sosok Tiara, hasrat-hasrat tersebut seakan membeludak di dalam dadanya. Menghantarkan sengatan aneh yang menyerang seluruh syaraf-syarafnya.

Evan menginginkan sebuah pelesapas.

Ahh sial! Kenapa jadi begini?

Ia bahkan belum pernah melakukan hubungan badan sekalipun dengan wanita manapun, tapi tadi, ia bersikap seolah-olah menjadi seorang berengsek yang hanya memikirkan selangkangannya.

Bagaimana bisa Tiara membuatnya seperti ini?

Evan akhirnya memilih masuk ke dalam kamar mandinya, melucuti semua pakaiannya, lalu menyalakan air shower. Sepertinya, mandi air dingin adalah solusi yang baik. Ia tidak mungkin membiarkan pangkal pahanya menegang sepanjang malam akibat keinginannya yang tidak terpenuhi.

Sial! Ia benar-benar sudah mulai gila.

***

Paginya, Evan keluar dari dalam kamarnya saat ia sudah rapih. Berharap jika ia melihat Tiara yang masih sibuk di dapurnya dan mengamati wanita itu lagi secara diam-diam. Tapi ketika ia menuju ke arah dapur, semuanya sudah sepi. Tak ada Tiara di sana. Evan melirik sekilas ke arah meja makan, rupanya di sana sudah tersedia sarapan untuknya, lengkap degan secangkir kopi dan juga koran paginya.

Evan menuju ke arah meja makan tersebut, tampak sebuah note yang berisi :

“Sarapan, kopi, dan koran paginya sudah saya siapkan, Pak. Saya berangkat kerja dulu.”

Evan melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, seharusnya Tiara belum berangkat. Tapi kenapa wanita itu berangkat pagi-pagi sekali?

Satu-satunya alasan adalah bahwa wanita itu sedang menghindarinya. Tiara pasti enggan bertatap muka dengannya lagi karena pengajuan yang tak masuk akal darinya tadi malam.

Ahhh, wanita itu benar-benar membuat Evan gemas.

Evan tersenyum, ia duduk menyesap kopinya lalu meraih koran di hadapannya. Baru juga ia membaca tajuk utama dalam koran tersebut, ia sudah menaruhnya kembali. Terasa ada yang kosong, tapi apa?

Evan menghela napas panjang. Selama ini, ia memang tak pernah hidup jauh dari keluarganya. Tapi karena Karina, ia memilih mengasingkan diri, hidup dengan kekosongan, kesepian. Lalu kemarin, ketika ia bangun tidur, ia sudah mendapati Tiara yang sibuk di dapurnya, mengingatkannya kembali pada saat-saat dimana ia hidup dengan keluargnya, tidak sendirian.

Lalu tadi malam, dengan bodohnya ia mengacaukan semuanya. Tiara pasti ketakutan, dan tampak juga raut marah dan tersinggung dari wajah wanita itu semalam. Ah, benar-benar bodoh!

Evan menatap hidangan di hadapannya dengan tak berselera, ada nasi goreng seperti kemarin, yang pastinya rasanya sama enaknya, tapi entah kenapa Evan tak nafsu memakannya. Akhirnya Evan bangkit kembali, ia akan ke rumah Davit, dan mencari tahu, apa Tiara benar-benar di sana, atau mungkin wanita itu kabur karena takut dengan ucapannya semalam.

***

Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintu di hadapannya di buka. Evan mendapati Sherly berdiri di ambang pintu dengan menggendong puteri kecilnya.

“Loh, Van, kok tumben pagi-pagi ke sini?”

“Uuum, ini, mau minta gula.” Evan memang datang dengan membawa cangkir kopinya. Ia harus memiliki alasan, tidak mungkin ia bilang jika dirinya ke sana untuk mencari tahu dimana Tiara.

“Ohh, masuk aja, ikut sarapan sekalian.” tawar Sherly.

“Memangnya kamu masak?”

“Enggak, mana mungkin aku bisa masak kalau Cinta lagi rewel gini.” Sherly menimang-nimang putri kecilnya yang belum genap berusia satu tahun. “Tiara yang masak sarapan, nggak tahu, tumben dia datang pagi-pagi banget.”

Evan tersenyum penuh arti, “Ahh, ya, tentu saja, aku mau sarapan gratis di sini.”

Evan masuk ke dalam dan segera menuju ke arah ruang makan yang memang menyatu dengan dapur. Senyumnya kembali tersungging saat mendapati Tiara sedang sibuk dengan pekerjaannya. Wanita itu bahkan tidak menyadari jika kini Evan sedang menatapnya dari belakang.

Evan berjalan pelan, menuju ke arah Tiara, lalu ia berbisik “Pagi.” Hingga membut Tiara berjingkat seketika.

“Pak Evan?” ucapnya tak percaya.

“Ya.”

“Ke-kenapa?”

“Saya sedang minta gula.” Jawab Evan santai sambil mencari-cari letak gula di dapur rumah Davit.

“Tapi, kopinya tadi sudah saya kasih-”

“Pagi Van.” Sapaan Davit, sontak memotong kalimat Tiara.

Evan menolehkan kepalanya ke belakang. “Pagi.”

“Cari apa lo di sana?”

“Cari gula.”

Davit tertawa lebar. “CEO macam apa lo sampek-sampek nggak punya gula.”

Evan juga akhirnya ikut tertawa. “Sialan. Gue bangkrut, karena baru saja bayarin hutang seseorang.” Evan menjawab dengan sedikit menyindir. Tiara tentu tahu jika yang dimaksud Evan adalah hutang-hutang kakaknya.

“Bangkrut? Yang bener aja, lo. Mending lo ikutan bisnis kuliner sama gue.” Davit duduk di kursinya, menyesap kopi yang memang sudah tersedia di sana tanpa memperhatikan Evan lagi. Ia memilih meraih koran paginya sembari memakan selembar roti tawar.

Sedangkan Evan, ia berpura-pura meraih gula dan memasukkannya ke dalam cangkir kopi yang ia bawa dari rumah. Tak lupa, ia juga berbisik pelan ke arah Tiara.

“Saya tahu kamu sedang menghindari saya.”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti apa yang dikatakan Evan.

“Sayangnya, kamu tidak akan bisa lari dari saya.” Evan berkata lagi masih dengan menuangkan gula pada cangkir kopinya.

“Saya tidak bermaksud-”

“Tiara.” Panggilan dari Sherly menghentikan kalimat Tiara.

“Iya, Bu.”

“Bisa tolong Dirly sebentar? Ini Cinta nggak mau di tinggal.”

“Baik Bu.” Dan akhirnya Tiara memilih pergi meninggalkan Evan.

Evan sendiri memilih menuju ke arah meja makan, dimana di sana masih terlihat Davit yang serius dengan koran paginya.

“Serius amat, ada berita apa?”

“Nggak penting.” Davit menjawab cepat. “gimana kerjaan lo? Dan yang paling penting, apa lo sudah dapat gandengan?”

“Lo apaan sih? Nggak penting banget yang di tanyain.”

“Van, lo sudah hampir Tiga puluh tahun, Anak gue sudah dua, si Dirga sudah nikah, bahkan adek lo aja udah nikah. Lo kapan?”

Evan memilih diam dan hanya mengaduk-aduk kopinya, ia tidak ingin membahas masalah pribadi itu dengan Davit.

“Lo sudah nggak mikirin Karin lagi, kan?”

Ya, Davit tentu saja sudah tahu tentang masalah Evan, karena beberapa saat yang lalu, Karina masuk rumah sakit, dan di sana, Karin bercerita semua tentang masalahnya dengan Evan dan juga Darren.

“Enggak.”

“Terus, apa yang lo tunggu?”

“Lo pikir cari pasangan hidup itu segampang ngupil?”

“Ya.” Davit menjawab cuek. “gue hanya perlu sebulan untuk jadian sama Sherly, dan lima bulan untuk melamarnya.”

“Jangan samakan sama pengalaman lo.”

“Lalu?”

“Sudah ah, jangan bahas lagi.” Evan meminum kopinya, tapi kemudian ia segera menyemburkannya kembali sambil mengumpat “Sialan!”

“Kenapa?”

“Kemanisan.” Ucap Evan sambil membersihkan bibirnya dengan tissue yang tersedia. Sedangkan Davit hanya bisa tertawa lebar menertawakan temannya tersebut.

***

Di tempat lain.

“Ayolah Pa, Papa pasti punya kenalan, kan? Mama nggak tega lihat Evan hidup menyendiri di sana. Kalau Evan sudah ada istri, pasti dia bisa balik hidup di sini tanpa ada kecanggungan lagi dengan Karina maupun Darren.” Tampak, seorang perempuan paruh baya sedang membujuk suaminya.

“Kenalan sih banyak, Ma, tapi kan nggak semua kenalan Papa memiliki anak perempuan yang siap nikah, dan kalaupun ada, belum tentu dia mau di jodohkan. Evanpun demikian, belum tentu dia mau dijodohkan.”

“Tapi nggak ada salahnya mencoba, kan Pa?”

“Ma, jangan gegabah, Papa nggak mau anak-anak menikah karena paksaan. Biarlah Evan mencari kebahagiaannya sendiri dulu.”

“Ahhh, Papa ini, biar mama saja nanti yang tanya-tanya sama teman-teman arisan Mama.”

“Ma.”

“Pa, Mama hanya kasihan saat melihat Evan sedih ketika melihat kebersamaan Darren dan Karin di rumah ini. Mama ingin semuanya segera kembali normal dan Evan bisa balik ke rumah ini lagi tanpa kecanggungan-kecanggungan diantara mereka.”

Lelaki paruh baya itu menghela napas panjang. “Baiklah, atur bagaimana baiknya, tapi kalau dia nggak mau, jangan dipaksa.”

Perempuan paruh baya itu tersenyum senang, akhirnya, ia bisa berbuat sesuatu untuk putera kesayangannya.

***

Tiga hari berlalu.

Sore itu, Tiara sedang menemani Dirly main di dalam kamarnya. Keduanya sedang asyik bermain sampai tidak sadar jika Sherly sedang menatap keduanya dengan penuh senyuman.

“Sayang, kemarilah.” Davit yang memang tidak berangkat kerja dan memilih menghabiskan waktunya di depan televisi sesorean ini memanggil Sherly untuk segera menghampirinya.

“Ada apa?” Sherly datang menghampiri Davit.

Davit menyaringkan volume TV di hadapannya. “Itu, bukannya kakaknya Tiara?” Davit menunjuk ke arah TV.

Sherly menatap ke layar datar di hadapannya, mengamatinya dengan seksama, Sherly menajamkan pendengarannya hingga ia dapat mencerna berita apa yang sedang ia lihat.

Penggerebekan tempat hiburan malam, beberapa tamu terciduk sedang menggunakan ganja. Begitulah yang ia dengar, hingga ia segera menatap ke arah suaminya.

“Astaga, gimana dengan Tiara?” tanyanya khawatir pada Davit. Ya, tentu saja, Tiara sudah seperti adik kandungnya sendiri. Melihat pemberitaan tersebut tentu membuat Sherly mengkhawatirkan kehidupan Tiara selanjutnya.

“Ada apa, Bu?” suara Tiara yang tiba-tiba terdengar itu membuat Sherly terkejut. Rupanya Tiara sudah keluar dan dia mendengar apa yang diucapkan Sherly barusan. Tiara menatap ke arah TV yang memang masih menyiarkan berita tersebut.

Tiara hanya bisa ternganga melihatnya, matanya berkaca-kaca seketika saat melihat berita penggerebekan di sebuah tempat hiburan malam yang juga melibatkan kakaknya.

“Bang Radit.” Lirihnya.

***

Hanya bisa menangis sesenggukan saat melihat sang kakak ada di balik kaca pembatas ketika malam itu juga Tiara mengunjungi kakaknya. Sang kakak menampilkan wajah santainya, seperti tak terjadi apapun, padahal Taira sudah menangis sesenggukan membayangkan bagaimana nasib mereka kedepannya.

“Ngapain kamu kesini? Bukannya kamu sudah senang sama orang kaya itu?”

“Apa?”

“Orang yang menahanmu kemarin sudah cerita sama aku, kataya kamu sudah di tebus oleh laki-laki kaya raya. Bagaimana bisa? Karena kamu menjadi simpanannya?”

“Bang, bagaimana mungkin Bang Radit berpikir seperti itu? Pak Evan adalah orang yang baik, dia menolongku saat Bang Radit menjualku, aku harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumahnya agar bisa melunasi hutang-hutang kita, Bang.”

Radit malah tersenyum mengejek. “Oh ya? Memangnya kamu bisa melunasinya? Asal kamu tahu, hutangku pada si tua bangka itu sebanyak Seratus Juta, sedangkan si tua bangka itu menjualmu pada dia sebanyak Lima ratus juta. Kamu bisa mencicilnya? Dengan apa? Sampai matipun kamu nggak akan bisa membayarnya.”

Tiara membungkam mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya. Ia tidak menyangka jika Evan akan mengeuarkan uang sebanyak itu untuk menyelamatkannya, dan astaga, apa ia bisa membayarnya?

“Dengar. Sekarang, kamu hanya sendirian di luar sana. Jika kamu bisa mengeluarkanku dari sini, kita bisa melunasi hutang-hutang itu bersama-sama.”

Tiara menggelegkan kepalanya. Ia tentu ingin mengeluarkan kakaknya dari sana, tapi bagaimana caranya? Ia bahkan tidak memiliki apapun untuk dijadikan jaminan kebebasan sang kakak.

“Lakukan apa saja untuk mengeluarkanku dari sini.”

Tiara masih menangis, ia menggelengkan kepalanya tanpa bisa membalas ucapan sang kakak. Ya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

“Maaf, waktunya habis.” Seorang penjaga datang dan membawa Radit kembali menuju sel tahanan.

“Keluarkan aku dari sini, Tiara. Masa depan kita tergantung sama kamu.” Pesan Radit sebelum menghilang di balik pintu.

Tiara menangis, ia bangkit lalu keluar dari sana. Menuju ke mobil Davit yang berada di parkiran. Ya, Davitlah tadi yang mengantarnya, dan Davit memilih menunggu Tiara di luar dengan alasan tak mau mengganggu pertemuan Tiara dengan kakaknya.

“Hei, sudah balik?” tanya Davit yang segera menghampiri Tiara yang sudah msuk ke dalam mobilnya.

Tiara tidak menjawab karena dia masih sibuk dengan tangisannya. Davit sendiri mengerti apa yang dirasakan Tiara. Tiara sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, kecuali kakak berengseknya. Dan sekarang, mereka harus dipisahkan karena kasus ini. Davit memilih masuk ke dalam mobilnya. Dan segera menjalankan mobilnya. Mungkin Tiara masih shock, lebih baik ia mengantar Tiara pulang supaya wanita itu segera istirahat di rumahnya.

***

“Kamu yakin berani tinggal sendiri?” tanya Davit memastikan ketika sudah sampai di rumah Tiara dan wanita itu keluar dari dalam mobilnya.

Tiara hanya mengangguk, air matanya masih menetes dengan sendirinya.

“Kamu bisa tinggal di rumah kami sementara selama kasus kakak kamu berlangsung, kami sangat tidak keberatan. Dirly juga pasti akan sangat senang.” Davit menawarkan. Karena sungguh, ia tidak tega mendapati Tiara hidup sebatang kara saat kakak berengseknya menjalani hukuman di dalam sel tahanan.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya baik-baik saja.”

Davit menghela napas panjang. “Baiklah, kalau ada apa-apa, hubungi saya atau Sherly secepatnya, oke?”

Tiara tersenyum dan hanya bisa mengangguk patuh. Akhirnya Davit menyalakan mesin mobilnya, lalu mengemudikannya meninggalkan Tiara sendiri di depan rumahnya.

Tiara masih mematung di halaman rumahnya, ia menatap rumahnya dan tangisnya kembali menjadi. Tuhan, apa yang harus ia perbuat selanjutnya? Ia kini sendiri, sang kakak entah berapa lama berada di dalam tahanan, sedangkan hutang-hutangnya…. Astaga, apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia perbuat agar kakaknya segera keluar dari dalam tahanan?

Hujan tiba-tiba saja turun, menguyur tubuh Tiara yang masih mematung di halaman rumahnya. Oh, dirinya kini berada pada titik terendah dalam hidupnya, Tiara bahkan berpikir jika tak ada gunanya lagi ia hidup di dunia ini.

Tiara mendongakkan wajahnya ke arah langit, membiarkan wajahnya tertimpa derasnya air hujan. Ia ingin berteriak, meneriakkan semua kegalauan hatinya, tapi semuanya seakan tercekat di dalam tenggorokan. Yang bisa Tiara lakukan hanya menangis… menangis… menangis…. Lalu, bayangan itu datang.

“Datang saja sama saya, tawaran saya masih berlaku sampai kamu mampu melunasi hutang-hutang kakakmu.”

Tiara membuka matanya seketika. Apa ia harus meminta bantuan lelaki itu? Menjadi teman tidurnya? Tanpa pikir panjang lagi, Tiara melangkahkan kakinya, berlari secepat mungkin sebelum pikirannya berubah.

Ya, hanya Evan yang mampu membantunya, hanya Evan yang mampu menariknya dari semua masalah pelik yang sedang menimpanya.

***

Tiara mengabaikan tubuhnya yang sudah basah kuyub karena hujan, ia bahkan tidak menghiraukan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar cepat sampai di rumah Evan, dan cara satu-satunya adalah ia harus berlari secepat mungkin mengabaaikan hujan yang tak berhenti mengguyurnya.

Akhirnya, sampailah juga Tiara di depan rumah Evan, tanpa ragu sedikitpun, Tiara mengetuk pintu rumah tersebut, berharap Evan belum tidur dan segera membukakan pintu untuknya. Dan benar saja, tak berapa lama, pintu di hadapannya di buka mendapati Evan yang berdiri di ambang pintu.

“Tiara?” Evan tampak tertkejut dengan apa yang dia lihat.

“Pak.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, semuanya seakan tercekat di tenggorokan, hanya matanya yang kembali berkaca-kaca seakan ingin menumpahkan semua kesedihan di hadapan Evan.

“Apa yang kamu lakukan? Masuklah.” Evan menarik pergelangan tangan Tira hingga Tiara masuk ke dalam rumahnya. Evan menutup pintu rumahnya kemudian ia kembali fokus pada Tiara. “Kenapa kamu baru pulang? Kenapa kamu hujan-hujanan begini?” tanya Evan lagi.

“Pak.”

“Apa kamu tahu kalau saya kelaparan karena tidak ada yang menyiapkan makan malam untuk saya?”

“Maaf, Pak, tapi saya…”

“Cukup! Sekarang masuk dan gantilah bajumu, pakaianmu yang basah membuatku tidak fokus.” Gerutu Evan yang segera membalikkan tubuhnya membelakangi Tiara dan segera pergi meninggalkan Tiara.

“Pak, tunggu.” Dengan begitu berani, Tiara meraih pergelangan tangan Evan. Evan menghentikan langkahnya lalu menatap pergelangan tangannya yang sedang digenggam oleh Tiara. “Maaf, saya nggak bermaksud.” Tiara melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Evan.

“Ada apa? Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Evan penasaran.

“Uuum, saya menerima tawaran Pak Evan.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksud kamu?”

“Saya mau menjadi ‘Teman Tidur’ Pak Evan.”

Evan sempat ternganga dengan apa yang dikatakan Tiara, tapi kemudian ia segera menguasai dirinya kembali, dan secara spontan, Evan menangkup kedua pipi Tiara lalu secepat kilat, ia menyambar bibir ranum Tiara, bibir yang sudah cukup lama menggodanya….

-TBC-

Advertisements

Future Wife – Chapter 2 (Cara Instan)

Comments 4 Standard

Future Wife

 

“Bang, Bang Radit. Bang..” Tiara juga ikut berteriak memanggil-manggil nama kakaknya ia tentu tidak ingin di tinggalkan dengan orang-orang asing yang tidak ia kenal. Belum lagi fakta jika dirinya kini menjadi milik orang tersebut. “Bang, jangan tiggalin Tiara, Bang.. Bang Radit….”

Dan ketika Tiara tak juga diam dari rengekannya, sepasang kaki berjalan menuju ke arah mereka. “Permisi.” Suara itu membuat Tiara menghentikan rengekannya, lalu menolehkan kepalanya ke arah suaraa tersebut. Tiara ternganga mendapati siapa yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Anda siapa?” tanya lelali paruh baya itu pada pria yang baru datang menghampirinya.

Pria itu sedikit tersenyum, lalu mengulurkan jemarinya. “Saya Evan Pramudya, kekasih wanita ini.”

***

 

Chapter 2

-Cara instan-

 

Tiara ternganga setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Evan. Apa maksudnya? Dan kenapa bisa lelaki ini berada di tempat seperti ini? Saat Tiara masih bingung mencerna semua kejadian itu di otaknya, lelaki paruh baya yang kini memilikinya itu tertawa lebar menertawakan keberanian Evan.

“Hahaha Anda jangan asal bicara, wanita ini sudah menjadi milik saya karena kakaknya sudah menjualnya dengan saya!”

“Saya akan menebusnya.” Evan berkata dengan santai tanpa ekpresi.

“Berapa uang yang kamu punya, anak muda? Sampai kamu berani-beraninya mau menebus dia dariku?”

Evan tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan dompetnya kemudian memberi lelaki paruh baya itu kartu namanya. Lelaki paruh baya itu menerimanya, membacanya, lalu matanya membulat seketika ke arah Evan.

“Saya pikir, uang saya lebih dari cukup untuk menebus kekasih saya.” Evan berkata dengan nada dingin tanpa ekspresi, hingga siapapun yang menatapnya pasti terintimidasi dengan sikap dan perkataannya.

Lelaki paruh baya itu tampak salah tingkah. Lalu ia mencoba menguasai dirinya dengan berkata “Saya ingin transaksinya di lakukan malam ini juga, di sini, kalau tidak…”

“Anda takut saya berbohong?” Evan memotong kalimat lelaki paruh baya itu. “Anda bisa menemui saya di kantor cabang saya yang di bandung. Jika anda menolak kompromi saya, saya bisa menuntut anda dengan tuntutan perdagangan manusia.”

“Tunggu dulu, apa-apaan ini? Kenapa jadi bawa-bawa hukum?”

“Anda ingin uang? Saya akan memberi Anda sebanyak yang Anda inginkan asalkan Anda mau melepaskan kekasih saya. Tapi tidak sekarang, karena saya tidak menyimpan uang sebanyak itu di kantong saya saat ini. Anda sudah menyimpan kontak saya, saya tidak akan lari.”

Setelah kalimat panjang lebarnya tersebut, Evan meraih pergelangan tangan Tiara dan bersiap mengajak Tiara pergi dari tempat tersebut, tapi kemudian langkahnya di hadang oleh anak buah lelaki paruh baya tersebut. Evan lalu menatap lelaki paruh baya itu sekali lagi dengan tatapan mengintimidasinya, lalu si lelaki paruh baya itu memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Evan dan juga Tiara. Evan melangkah pergi sambil menyeret Tiara.

“Saya akan menagih ke kantor kamu, nanti!” lelaki paruh baya itu berseru keras pada Evan dan Tiara. Namun Evan tidak mengindahkan seruan lelaki paruh baya itu. Ia tetap berjalan keluar dari tempat tersebut masih dengan menyeret Tiara.

***

Evan menyesap anggur yang ada di dalam sebuah gelas yang berada di tangannya. Pikirannya melayang memikirkan apa yang baru saja ia lakukan, astaga, apa ia sudah gila?

Semua itu berawal dari sebuah buku yang ia baca. Buku tentang bagaimana cara melupakan sosok masa lalu yang membayangi. Dalam buku tersebut, tertulis jika ia harus mencari sebuah pelarian, ia harus tetap berjalan kedepan, bahkan mungkin berjalan di luar garis aman. Dengan kata lain, ia harus mencoba hal-hal baru yang mungkin tidak ia sukai hingga ia mampu melupakan permasalahannya.

Maka dari itulah, tadi, ia berada di sebuah tempat yang memang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Tempat yang baginya sangat bising dengan suara musiknya dan juga lampu kerlap kerlipnya. Belum lagi bau rokok tercium di sudut manapun dari tempat tersebut.

Ya, tempat hiburan malam menjadi tujuan pertamanya saat itu. Ia hanya ingin mencoba minum di tempat asing seperti itu, karena sebelumnya, ia memang tak pernah ke tempat sejenis itu. Evan lebih suka menghabiskan waktunya di bar-bar café yang lebih tenang, bukan di tempat hiburan malam seperti itu.

Lalu ketika Evan sudah tidak tahan dengan kebisingan tempat tersebut, ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dan ketika ia akan pergi dari sana, ia mendengar sebuah kegaduhan tak jauh dari tempatnya berdiri. Rasa keingintahuannya begitu besar hingga kakinya melangkah dengan spontan ke arah kegaduhan tersebut, ia sedikit terkejut saat mendapati siapa yang ada di sana.

Itu Tiara, wanita pendiam yang mengasuh anak-anak Davit. Evan tertarik dengan apa yang dilakukan Tiara disana. Kenapa wanita itu meronta? Berteriak memanggil-manggil seseorang? Akhirnya Evan memutuskan untuk mencari tahu dengan mendekat. Lalu semuanya terjadi begitu cepat, ketika tanpa pikir panjang lagi ia memutuskan untuk menolong perempuan itu dengan cara menebusnya, padahal ia tidak yakin apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kini, perempuan itu masih berada di dalam kamar mandinya, sedangkan ia menunggu perempuan itu keluar dan meminta penjelasan tentang apa yang sedang dialami oleh perempuan trsebut.

Evan menyesap anggurnya sekali lagi, sebelum kemudian ia mendengar pintu kamar mandinya dibuka dan mendapati Tiara sudah berdiri di sana dengan wajahnya yang sudah segar. Perempuan itu mengenakan T-shirt miliknya, dengan handuk yang membalut kepalanya yang basah. Entah kenapa Evan merasakan sesuatu yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

“Kemarilah.” Dengan sedikit canggung, Evan memanggil Tiara dan mengajak Tiara untuk duduk di hadapannya.

Tiara tidak menolak, ia menuruti apa yang dikatakan Evan, meski sebenarnya Tiara juga dilanda kecanggungan yang sama besarnya dengan yang dirasakan Evan.

“Berceritalah.”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti.

“Ceritakan apa yang terjadi denganmu tadi. Kenapa kamu bisa sampai ditempat seperti itu dan dengan orang-orang seperti itu.”

Tiara menunduk, ia meremas kedua belah telapak tangannya sendiri, ia tidak tahu harus darimana menceritakan semuanya, dan ia tidak yakin jika dia mampu menceritakan semuanya pada Evan. Apakah masuk akal jika ia bercerita tentang kehidupan pribadinya dengan lelaki yang cukup asing seperti Evan? Tapi, disisi lain, Tiara juga sadar, jika Evan harus mengetahui semuanya, mengingat lelaki itu akan mengeluarkan banyak uang untuk menebusnya.

Tiara menghela napas panjang, sebelum kemudian ia mulai membuka suara. “Bang Radit, kakak saya, dia punya banyak hutang karena bermain judi. Dan dia, menjadikan saya sebagai pelunas hutangnya.”

“Lalu dimana kakak berengsekmu itu?”

“Mungkin di rumah, karena anak buah orang itu tadi menyeretnya keluar.”

Evan mendengus sebal. “Kakak seperti apa yang tega menjual hidup adiknya sendiri?”

“Pak Evan tidak mengerti apa yang terjadi dengan kehidupan kami.”

“Saya tahu saya tidak mengerti, dan saya tidak seharusnya ikut campur dengan masalah kalian. Tapi menjual keluarga sendiri itu benar-benar tidak termaafkan.”

Tiara hanya menunduk, ia terdiam cukup lama, tak berani mengangkat wajahnya apalagi membalas ungkapan kekesalan yang terlontar dari mulut Evan tadi.

“Uum, bagaimanapun juga, saya berterimaksih sekali dengan apa yang sudah pak Evan lakukan. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Mungkin saya harus bekerja ekstra untuk membayar hutang-hutang kami pada pak Evan.” Tiara lalu berdiri, ia merasa kurang nyaman dengan kedekatannya bersama Evan. “Uum, jika berkenan, saya mau izin pulang dulu.”

Evan ikut berdiri seketika. “Tunggu, siapa yang bilang kamu boleh pulang?”

“Maaf?” Tiara menatap Evan dengan wajah bingungnya.

“Kalau kamu pulang, kakak kamu akan berpikir jika dirinya tak perlu susah payah menebus kamu lagi, dan kemungkinan, kamu akan dijual kembali dengan pria hidung belang yang lainnya. Tinggallah di sini, sampai kakak kamu bisa melunasi hutangnya.”

Mata Tiara membulat seketika. “Apa? Sampai kapan? Bang Radit tidak mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam satu atau dua tahun.”

“Setidaknya di sini kamu aman, daripada di tenpat lelaki hidung belang tadi.” Dan setelah kalimatnya itu, Evan pergi meninggalkan Tiara. Tiara hanya bisa menatap kepergian Evan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia akan menjadi tawanan lelaki itu, ya, sepertinya begitu. Tapi bukankah ini lebih baik? Setidaknya Evan tidak macam-macam, dan lelaki itu tidak tampak seperti lelaki berengsek yang ada di tempat hiburan malam tadi.

***

Paginya, Tiara bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan tanpa alasan, karena semalaman ia sudah memikirkan semuanya. Ia berpikir untuk bekerja paruh waktu dengan Evan. Ya, mengurus rumah lelaki itu dan menyiapkan segala keperluannya sepertinya bukan hal yang sulit. Ia akan melakukannya, dan berbicara dengan Evan supaya lelaki itu mau mempertimbangkan pekerjaannya tersebut sebagai sedikit potongan dari hutang mereka.

Tiara cukup lega, karena ternyata Evan memiliki bahan masakan yang bisa dimasak. Hingga Tiara saat ini menghabiskan paginya di dapur rumah Evan. Menyiapkan sarapan tentu bukan hal baru untuk Tiara, tapi yang menjadi masalahnya adalah, apakah lelaki itu mau menikmati masakannya? Apa lelaki itu memiliki selera makan yang sama dengan seleranya? Mengingat itu hati Tiara menciut.

Tapi ia tidak peduli, yang paling penting adalah, ia akan melakukan apapun yang dapat ia lakukan untuk meringankan hutangnya terhadap Evan.

Saat Tiara masih asik di depan kompor, ia tidak menyadari jika kesibukannya memasak sarapan untuk Evan ternyata diperhatikan lelaki itu dari jauh.

Masih mengenakan celana piyamanya dengan bertelanjang dada, Evan melangkahkan kakinya dengan spontan mendekat ke arah meja dapur. Memperhatikan Tiara dari belakang. Perempuan itu benar-benar mirip dengan Karina ketika Karina berada di dapur. Tiara pasti pandai memasak juga, dan entah karena apa, Evan merasa sejuk saat melihat Tiara sibuk di dapurnya.

Mencoba menghilangkan kecanggungan, Evan berjalan menuju ke arah lemari pendingin sembari menyapa Tiara. “Pagi.”

Tiara menatap ke arah Evan, lalu ia membalikkan tubuhnya memunggungi Evan saat ia mendapati Evan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana piyama saja.

Evan mengerutkan keningnya saat melihat tingkah aneh dari Tiara. “Kenapa?” tanyanya bingung.

“Maaf, Pak. Apa nggak sebaiknya Pak Evan pakai baju dulu? Nanti takutnya masuk angin.”

Evan sempat ternganga mendengar kalimat Tiara, tapi setelah itu ia tertawa lebar menertawakan kepolosan Tiara. “Saya sudah biasa telanjang dada seperti ini, jadi mulai sekarang kamu harus membiasakan diri melihatnya.”

“Uum, tapi Pak-”

“Sudahlah, sekarang lanjutin saja masakannya, saya sudah lapar.” Dengan santai dan cuek, Evan berjalan menuju ke meja makan. Sesekali ia masih melirik ke arah Tiara yang tampak mengenyahkan kepergiannya. Ahh, rupanya wanita itu lucu juga, polos dan menggemaskan.

Evan meraih sebuah koran, lalu membacanya sembari menunggu masakan Tiara siap. Meski ia mencoba berkonsentrasi, nyatanya tanpa ia sadari, matanya sesekali melirik ke arah Tiara bahkan tanpa perintah otaknya.

Tak lama, Tiara sudah menyuguhkan sarapan untuknya. Nasi goreng special, tak lupa ia juga membuatkan kopi untuk Evan. Evan melirik ke arah masakan Tiara, tampak enak, dan Evan tak sabar mencicipinya.

“Kopi untuk saya harus dikasih krim yang banyak.” Evan berkomentar.

“Baik, Pak. Saya tambah dulu.”

Evan mengangguk, ia mulai mencoba masakan Tiara, dan ia benar-benar menyukai rasanya.

“Kamu pinter masak.” Evan berkomentar. “Saya jadi inget masakan Karina.” Dengan spontan Evan berkata seperti itu tanpa bisa ia cegah.

“Karina?” Tiara tampak bingung.

Evan sedikit salah tingkah. “Uum, dia adik ipar saya, istri adik saya.” Tiara hanya mengangguk, tak menanggapi lagi apa yang dikatakan Evan tadi. “Kenapa kamu tiba-tiba memasak untuk saya?” tanya Evan yang seketika itu juga membuat Tiara tak enak hati.

“Sebelumnya, saya mau minta maaf, karena sudah membuat berantakan dapur pak Evan.”

“Saya nggak mempermasalahkan hal itu.”

“Uum, jadi begini, saya bisa sambil kerja di sini, mencuci, bersih-bersih bahkan mengurus semua keperluan Pak Evan kalau Pak Evan mengizinkan, supaya, uum, itu hutang kakak saya sedikit lebih ringan.”

Evan tampak berpikir sebentar. “Jadi, kamu akan menyicil hutang dengan tubuhmu?”

“Maaf?” sungguh, Tiara berharap jika ia salah dengar. Apa yang dikatakan Evan tadi membuatnya berpikir yang tidak-tidak.

Tapi Evan malah tertawa lebar. “Ayolah, saya cuma bercanda, jangan terlalu kaku.”

Pipi Tiara merona seketika. Ia menunduk dan tersenyum malu, ia tidak menyangka jika Evan juga memiliki sisi humoris, meski baginya sisi tersebut masih terlalu dipaksakan.

“Oke, itu terserah kamu saja, tapi bukannya kamu juga harus bekerja di rumah Davit?”

“Ya, saya berangkat jam delapan, dan pulang jam Enam sore, sepertinya saya bisa menyelesaikan tugas saya tanpa mengurangi waktu kerja saya di tempat Bu Sherly.”

“Oke, atur bagaimana baiknya, nanti saya akan ngasih kamu daftar apa aja yang harus kamu lakukan.” Tiara mengangguk patuh, dan suasana di antara mereka berdua kembli hening penuh dengan kecanggungan. Sungguh, Evan ingin membunuh seluruh kecanggungan yang ada diantara mereka. Tapi bagaimana??

***

Di kantor…

Evan mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaannya, padahal sejak siang tadi pikirannya menjurus pada sosok yang seharusnya tidak pernah mengganggu kepalanya, siapa lagi jika bukan Tiara.

Tadi siang, lelaki paruh baya yang tadi malam bermasalah dengan Tiara dan kakaknya datang ke kantornya. Untuk apa lagi jika bukan untuk menagih uang untuk menebus Tiara.

Tadi siang….

“Lima ratus juta.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Anda mau memeras saya? Hutang anak itu tidak mungkin sebanyak itu.”

Lelaki paruh baya itu tersenyum menyeringai. “Ya, memang tidak sebanyak itu. Itu adalah Lima kali lipat dari hutang kakaknya.”

“Dan kenapa Anda melipat gandakannya?”

“Karena kamu bukan hanya membayar hutangnya, tapi juga menebus ‘pelunasnya’.”

“Apa?”

Lelaki paruh baya itu berdiri dan tertawa lebar. “Kamu pikir saya tidak tahu? Sebenarnya dia bukan kekasih kamu, kan? Evan Pramudya, Anda baru dua mingguan pindah ke kota ini, mana mungkin Anda menjalin hubungan special dengan perempuan macam dia dalam waktu sesingkat itu?”

“Itu bukan urusan Anda.” Evan ikut berdiri, ia sedikit kesal karena nyatanya lelaki paruh baya itu mampu mengetahui semuanya.

“Ya, bukan urusan saya. Saya hanya mau uang saya.”

Evan menghela napas panjang. Ia mengambil sebuah cek di dalam laci meja kerjanya, menulis nominal yang diinginkan lelaki paruh baya itu, lalu memberikannya begitu saja.

“Jangan ganggu dia lagi.” Evan mendesis tajam.

Lagi-lagi, lelaki paruh baya itu tersenyum miring. “Kenapa kamu mau membayar mahal untuknya? Kamu sedang merencanakan sesuatu? Menginginkan tubuhnya, mungkin.”

“Jaga mulut Anda.”

“Hahahaha.”

Evan mendengus sebal karena ditertawakan.

“Meskipun dia orang miskin, tapi dia cukup cantik, kulitnya putih mulus, membuat lelaki manapun ingin mendaratkan bibirnya pada permukaan kulit lembut wanita itu.”

Evan mengetatkan gerahamnya. Ia tidak suka cara lelaki paruh baya itu mendiskripsikan tubuh Tiara.

Kembali tertawa lebar, lelaki itu menepuk-nepuk pundak Evan. “Kamu menginginkannya, terlihat dari gelagatmu, anak muda.” Lalu lelaki itu berjalan pergi menuju ke arah pintu ruang kerja Evan. “Bagaimanapun juga, senang berbisnis denganmu.” Ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.

 

Berbisnis? Apa-apaan dia? Dan astaga, menginginkan tubuh Tiara? Yang benar saja. Evan menggelengkan kepalanya cepat. Tiba-tiba ia merasa kepanasan, hingga ia meraih gelas yang ada di atas meja kerjanya, menenggak airnya hingga tandas. Evan lantas melonggarkan dasi yang entah kenapa terasa mencekiknya. Sial! Apa yang sedang terjadi dengannya? Apa yang sedang terbayang-bayang dalam pikirannya? Akhirnya Evan memilih bangkit. Entah kenapa ia ingin segera pulang, apa yang membuatnya ingin segera pulang?

***

Evan menenggak minuman kaleng yang berada dalam genggaman tangannya, sesekali ia menyibak gorden jendela rumahnya, rupanya, Tiara belum juga pulang dan astaga, untuk apa juga ia menunggu Tiara?

Saat Evan sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu rumahnya diketuk. Evan bangkit dan segera menuju ke arah pintu depan rumahnya, lalu membukanya. Tampak Tiara sudah berdiri di sana.

“Hei, baru pulang?”

Tiara mengangkat sebelah alisnya. Sungguh, ia sedikit tidak nyaman saat mendengar Evan menyapanya dengan kata ‘pulang’. Seakan-akan, itu adalah rumahnya, rumah mereka berdua.

Oh Tiara, apa yang sudah kamu pikirkan?

“Ya.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, seperti biasa, ia hanya menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya terlalu lama.

“Masuklah, sebelum Davit keluar dan melihatmu ada di depan rumah saya.”

Tiara menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam rumah Evan. “Uum, Pak. Apa saya boleh pulang sebentar? Saya mau mengambil pakaian saya.”

“Kalau kamu pulang, kakak kamu akan tahu kalau kamu bisa bebas sesuka hati. Setidaknya biarkan dia berpikir kalau hidup kamu disini susah, maka dia akan berusaha lebih keras untuk membayar hutangnya.”

“Lalu, pakaian saya?”

“Sementara, pakai saja T-shirt milik saya, nanti kita akan keluar carikan kamu pakaian santai.”

“Tapi Pak, bukannya itu nanti malah menambah hutang kami?”

“Enggak, anggap saja itu saya yang belanjakan.”

“Pak Evan tidak perlu berlebihan.”

“Dan kamu juga jangan terlalu banyak membantah. Sekarang, cepat, buatkan saya makan malam. Saya sudah lapar.” Evan pergi meninggalkan Tiara, sedangkan Tiara hanya bisa ternganga menatap kepergian Evan.

Apa-apaan lelaki itu?

***

Tiara membersihkan dapur serta piring-piring kotor bekas makan malam Evan. Ia sibuk dengan pekerjaannya tersebut hingga tidak sadar jika sejak tadi Evan sudah mengamatinya dari belakang.

Evan sendiri kini sedang memakan buah apel, berdiri di sebelah meja makan dengan sebuah kertas di tangannya. Matanya tak berhenti menatap Tiara dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

Untuk ukuran seorang pembantu rumah tangga, Tiara adalah pembantu yang cantik, dan sialnya, dia juga tampak seksi.

Astaga, apa yang sudah ia pikirkan???

Seksi? Sial! Tiara bahkan memiliki ukuran tubuh mungil dan lebih cocok disebut kurus, bagaimana mungkin ia berpikir jika perempuan itu seksi? Dan lagian, dia masih Dua puluh tahun, sepertinya kurang cocok dengannya yang sudah berumur hampir Tiga puluh tahun.

Evan menggelengkan kepalanya. Sepertinya pikirannya sudah mulai gila. Setelah ia menghabiskan apel dalam genggaman tangannya, kakinya melangkah secara pasti menuju ke arah Tiara.

“Kamu, nggak makan malam?” pertanyaan Evan sontak membuat Tiara menoleh sekilas ke arah Evan, lalu perempuan itu kembali memfokuskan diri pada cucian di hadapannya.

“Saya sudah makan malam di rumah Bu Sherly.”

Evan menggangguk, “Ini, catatan apa saja yang harus kamu lakukan untuk saya.” Evan memberikan kertas yang tadi baru saja ia ambil dari dalam kamarnya setelah ia menghabiskan makan malamnya.

Tiara menghentikan pekerjaannya, ia membilas tangannya yang penuh dengan busa, lalu mengeringkannya dengan lap yang tersedia. Tiara meraih kertas tersebut kemudian membacanya dengan teliti.

Sedangkan Evan, pikirannya kembali menggila. Ia mengamati wajah Tiara yang entah kenapa tampak begitu indah dimatanya. Alis perempuan itu tampak tebal, namun terukir dengan rapih, kulitnya putuh bersih, bahkan sedikit terlihat rona merah di pipinya, apa perempuan itu sedang mengenakan Blush On? Tidak mungkin. Bulu mata Tiara juga tampak panjang dan lentik, padahal Evan tahu jika itu bukan bulu mata palsu. Dan bibir wanita itu, astaga, tampak penuh dengan warna merahnya.

Sial! Evan menegang seketika.

Apa-apaan ini? Padahal Evan yakin, jika Tiara tidak sedang berdandan. Perempuan itu tampak berantakan dengan baju sederhananya, belum lagi rambutnya juga yang tampak berantakan seperti belum di sisir, tapi entah kenapa Evan menginginknnya, menginginkan perempuan itu, meski Evan tak yakin, kenapa dirinya tiba-tiba memiliki keinginan menggelikan yang menggebu-gebu seperti ini.

“Jadi, hanya….” Tiara menghentikan kalimatnya ketika ia mengangkat wajahnya dan mendapati Evan tampak serius memperhatikannya. “Pak?” Tiara memanggil Evan, karena sedikit tidak nyaman, ia berpikir Evan sedang melamun. Belum lagi tatapan lelaki itu yang fokus ke arahnya, dan jarak mereka berdua sudah sangat dekat.

“Ya.” Sial! Evan merasa jika tiba-tiba suaranya sudah menjadi serak.

“Ada apa?” tanya Tiara yang sudah mundur satu langkah. Tidak suka, ya, ia tidak suka ditatap seperti itu.

“Tiara. Saya memiliki cara instan, agar kamu bisa segera meluasi hutang kakak kamu, hingga kamu bisa cepat lepas dari genggaman tangan saya.”

“Uumm, cara instan? Seperti apa, Pak?”

Evan menelan ludahnya dengan susah payah, sebelum menjawab, “Jadilah teman tidur saya, maka saya akan menganggap semuanya sudah lunas.”

-TBC-

Future Wife – Chapter 1 (Pelunas Hutang)

Comments 5 Standard

Future Wife

 

Chapter 1

-Pelunas Hutang-

 

Tiara berlari lebih cepat dari sebelumnya, sesekali ia menolehkan kepalanya ke belakang, takut-takut jika sang kakak menyusulnya dan menyeretnya kembali pulang.

Keluar dari dalam gang sempit, Tiara berjalan lurus menuju ke sebuah kompleks perumahan asri, tempat dimana dirinya bekerja selama beberapa bulan terakhir menjadi seorang Babysister. Bisa dibilang, ia bukan Babysister biasa, karena nyatanya tugasnya tidak hanya fokus mengurus anak-anak melainkan membantu sang pemilik rumah juga, mengingat si pemilik rumah tidak memakai jasa pelayan lainnya.

Si pemilik rumah itu bernama Sherly, seorang wanita yang baginya masih cukup muda namun memiliki sifat mandiri karena mampu mengurus semua keperluan rumah tangganya sendiri tanpa bantuan pembantu rumah tangga.

Saat itu, Tiara memang tengah sibuk mencari pekerjaan untuk membiayai kehidupannya dan juga kakaknya. Ya, Tiara memang hanya tinggal dengan sang kakak, kakak yang baginya cukup berengsek karena hanya menghabiskan waktunya di tempat perjudian. Ketika Tiara melamar pekerjaan di sebuah mini market, tak sengaja ia menemukan sebuah dompet di depan mini market tempat ia melamar pekerjaan. Beruntung ketika ia melihat isi dompet itu ternyata ada sebuah KTP si pemilik dompet yang ternyata rumahnya tak jauh dari mini market tersebut, akhirnya, Tiara memutuskan mengantar dompet tersebut pada sang pemiliknya. Singkat cerita, Tiara diberi imbalan oleh sang pemilik dompet, tapi Tiara menolaknya, dan ketika si pemilik dompet berkata “Andai saja ada yang bisa saya bantu..” entah kenapa dengan spontan Tiara menjawab “Saya hanya butuh pekerjaan.” Si pemilik Dompet tersenyum, dan berbekal kejujuran Tiara saat itu, kini Tiara dipercaya untuk mengasuh puteri bungsu si pemilik dompet.

Ya, itu adalah Bu Sherly. Wanita yang bagi Tiara amat sangat baik. Bu Sherly bukan hanya seorang majikan untuk Tiara, tapi juga sudah seperti teman. Usianya mungkin empat tahun lebih tua dibandingkan Tiara yang kini baru berusia Dua puluh tahun, tapi Bu Sherly memposisikan diri sebagai teman, sebagai kakak untuk Tiara, itulah yang membuat Tiara betah bekerja dengan sosok tersebut.

Tak terasa, Tiara sudah jauh berjalan, hingga kini sampailah dirinya pada rumah yang beberapa bulan terakhir menjadi tempat ia mengais rezeki. Sampai di halaman rumah tersebut, Tiara di sambut oleh seorang anak lelaki yang usianya belum genap Tiga tahun, Dirly, nama anak lelaki itu, putera pertama Bu Sherly dengan Pak Davit.

“Hei, kamu telat.”  Ucap bocah kecil itu dengan suaranya yang masih cadel, dan Tiara hanya bisa menyunggingkan senyumannya.

“Maaf ya, tadi aku ngurus rumah dulu. Papa sudah berangkat?”

“Belom, karena ada tamu.”

“Tamu? Tamu siapa?”

“Om Epan, kamu gak boleh genit cama om Epan.”  Tiara hanya mengerutkan keningnya. Tapi kemudian ia kembali tersenyum. Ahh, bocah kecil ini memang selalu menampilkan kecemburuannya. Bahkan dengan Cinta, adiknya yang belum genap berusia satu tahunpun, Dirly tak segan-segan menampilkan kecemburuannya. Menurut cerit Bu Sherly, Dirly bahkan pernah bilang kalau sudah besar nanti mau menikahi Tiara. Dan itu sontak membuat Tiara tertawa lebar.

“Enggak dong, kan Tante Tiara punyanya Dirly.” Balas Tiara.

“Ayo macuk, minta di gendong.” Dan Tiara segera menggendong bocah kecil itu sembari masuk ke dalam rumah.

***

Evan menatap sarapan di hadapannya dengan tak berselera. Bukan karena dia tidak suka dengan masakannya, tapi karena ia masih memikirkan tentang seseorang yang ia tinggalkan. Seseorang yanmg begitu ia cintai namun tak bisa ia miliki karena seseorang tersebut telah menjadi milik adiknya sendiri. Maka dari itulah ia bisa berada di sini.

Awalnya, Evan memutuskan untuk kabur ke Villanya yang letaknya memang agak jauh dari rumah Davit. Seharian di Villa tanpa melakukan apapun akhirnya membuat Evan bosan, tak ada teman, tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan. Pekerjaanpun belum bisa ia sentuh karena pikirannya hanya jatuh pada sosok Karina, wanita yang begitu ia cintai. Akhirny, tadi malam Evan memutuskan untuk pergi ke rumah Davit, dan memilih menumpang di rumah Davit karena merasa lebih nyaman tinggal di sana.

“Lo nggak sarapan?” tanya Davit sembarimemakan nasi goreng di hadapannya.

“Gue nggak biasa sarapan pagi.” Itu hanya alasan Evan. Sebenarnya ia tidak nafsu makan karena teringat Karina yang biasanya menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan keluarganya.

“Kalau di sini, lo harus biasakan diri untuk sarapan pagi. Lagian masakan bini gue enak, tau.”

Evan hanya sedikit menyunggingkan senyumannya. “Gue mau cari rumah yang deket rumah lo, di Villa gue nggak betah, bosen.”

“Bilang aja kalau lo takut tinggal sendirian di sana.”

“Berengsek lo.” Evan mengumpat pelan.

“Tinggal di sini saja, ada banyak kamar kosong di sini.” Sherly menawari. “Atau kalau enggak kamu bisa beli rumah sebelah, lumayan buat investasi.”

“Rumah sebelah mana?” Evan bertanya penuh semangat.

“Tepat di samping kanan rumah ini, nggak sebesar rumah ini sih, tapi kalau lo tinggal di sana sendiri, gue rasa sudah cukup besar buat lo.”

“Lo ada kontak si pemilik rumah?”

“Catet aja nanti pas keluar, di gerbangnya tertulis di spanduk besar.” Evan hanya mendengus sebal menanggapi ucapan Davit.

Saat Evan akan menyantap nasi goreng di hadapannya, sebuah suara mau tak mau memaksana mengangkat wajah dan menatap ke arah suara tersebut. tampak Dirly, putera pertama Davit datang di gendong seorang wanita muda yang entah kenapa membuatnya terpesona saat menatpnya, bukan tanpa alasan, karena wanita itu membuatnya mengingat kembali sosok Karina di rumah.

“Baru datang?” Sherly menyapa wanita muda itu. Dan Evan masih sibuk memperhatikan kedatangan wanita muda itu.

“Iya, Bu. Tadi beres-beres rumah dulu.”

“Kamu sarapan aja dulu, biar saya yang jaga Cinta dulu, nanti gantian.”

“Jangan Bu, Bu Sherly aja yang sarapan dulu, saya nanti saja.” Lalu wanita itu berjalan pergi meninggalkan dapur menuju ke sebuah ruangan yang diyakini Evan sebagai ruangan anak-anak.

“Siapa dia?” dengan spontan Evan bertanya pada Davit.”

“Oh dia, dia Tiara, yang ngasuh anak-anak gue.”

“Dia terlihat seperti masih anak-anak.”

“Ya, umurnya mungkin baru dua puluh tahunan.” Davit menjawab sembari menyantap sarapannya. “Tapi yang membuat kami percaya sama dia, dia orang yang jujur, dan entah kenapa setiap kali gue lihat dia, gue teringat Karina.”

Evan yang sejak tadi menatap ke arah ruang anak-anak, kini menatap Davit seketika. “Benarkah? Gue pikir, cuma gue yang melihatnya seperti melihat Karina.”

“Ya, selain tubuh kurus keringnya yang ngingetin gue sama adek gue itu, Tiara juga nggak punya teman, seperti Karina yang hanya menghabiskan waktunya di rumah. Bedanya, Karin punya dua kakak yang sangat menyayanginya, sedangkan Tiara?”

“Kenapa?” entah karena apa Evan penasaran.

“Lupakan saja, gue kalau ingat kakaknya, rasanya pengen gue bunuh hidup-hidup.”  Ohh, itu bukan cerita yang bagus, itu bukan suatu cerita yang membahagiakan, tapi entah kenapa Evan jadi penasaran dengan apa yang sudah di alami wanita muda itu.

“Hei, kalian kenapa malah asyik bergosip ria? Habiskan sarapannya dan cepat berangkat kerja, sudah siang ini.” Sherly akhirnya berseru pada keduanya.

“Iya, iya sayang. Bawel banget, sih.” Jawab Davit sembari memanyunkan bibirnya. Dan yang bisa Evan lakukan hanya tersenyum melihat interaksi suami istri di hadapannya ini.

Ahhh andai saja……

***

Lelah membersihkan segala penjuru ruangan, Evan akhirnya beristirahat sebentar di ruang tengah. Ya, hari ini adalah hari dimana ia pindah rumah, menempati rumah yang baru ia beli yang letaknya tepat di samping rumah Davit.

Evan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ia menghela napas panjang sembari melihak ke arah sekelilingnya.

Apa ini? Kenapa ia menjadi sepengecut ini? Lari dari kenyataan seperti seorang pecundang. Tidak, ia kabur meninggalkan rumah bukan karena ia rela dan ikhlas melepaskan Karin untuk Darren, adiknya. Ia pergi meninggalkan rumah hanya karena ia tidak ingin tersakiti sat melihat kebersamaan Karina dan Darren. Sangat pengecut bukan?

Evan tahu pasti, jika melupakan Karina bukan seperti membalikan telapak tangan. Karina merupakan cinta pertamanya, dan sejak remaja ia sudah jatuh cinta pada perempuan itu. Tapi demi Tuhan, Evan harus melupakan wanita itu. Evan akan melakukan apa saja asalkan ia mampu berpaling dari sosok Karina.

Lamunan Evan buyar ketika ia mendengar pintu depan di ketuk oleh seseorang. Siapa? Apakah Davit? Bukankah seharusnya temannya itu ada di kantor saat ini? Dengan sedikit malas Evan bangkit menuju ke arah pintu depan lalu membukanya.

Jantungnya berdebar seketika saat mendapati seorang wanita muda berdiri di hadapannya sembari membawa rantang yang ia yakini berisi makan siang.

“Hai.” Dengan spontan Evan menyapa wanita tersebut.

Wanita itu hanya mengangguk sopan. “Ini, ada kiriman makan siang dari Bu Sherly.”

“Oh, oke. Masuk dulu, aku ganti tempatnya.” Evan menerima rantang tersebut lalu mengajkak Tiara masuk. Dan Tiara menurutinya. Rupanya Tiara tidak sendiri, Dirly ternyata juga ikut sembari menari-narik rok yang dikenakan Tiara.

“Jadi, kamu bekerja dengan Davit?” tanya Evan memecah keheningan.

Tiara hanya mengangguk, meski ia tahu jika Evan tak menatapnya, ia masih saja tak bersuara. Entahlah, ia hanya merasa canggung dengan orang baru.

“Jadi, nama kamu Tiara?” tanya Evan sambil menoleh ke arah Tiara.

“Iya, Pak.”

Evan tertawa lebar. “Pak? Saya pikir saya nggak setua itu.”

“Maaf.” Tiara hanya menundukkan kepalanya.

Masih dengan tertawa, Evan menuju ke arah Tiara. Ia lalu mengulurkan jemarinya dan memperkenalkan diri. “Evan. Kupikir, kamu perlu tahu namaku karena aku tidak suka dipanggil dengan panggilan Pak, atau yang lainnya.”

Tiara menyambut uluran tangan Evan tanpa bersuara sedikitpun.

“Ada masalah?” tanya Evan saat melihat kebisuan Tiara.

“Tidak, pak.”

Evan kembali tertawa lebar. “Oke, sepertinya kamu lebih nyaman memanggilku dengan panggilan tersebut.” Evan lalu menatap Tiara dengan intens. Sungguh, wanita ini benar-benar mengingatkannya dengan sosok Karina, dan Evan tidak mengerti apa yang membuatnya mengingat Karina saat menatap wajah Tiara.

Wajah wanita itu tentu berbeda dengan wajah Karina, tapi entahlah, ada satu titik dimana ia melihat diri Karina pada diri Tiara. Dan hingga kini, Evan tidak tahu apa itu.

Evan menyadari jika dirinya kembali melamun saat Tiara dengan paksa melepaskan  uluran tangannya yang ternyata sejak tdi masih digenggam erat oleh Evan.

“Ohh, maaf, saya melamun. Kamu mengingatkan saya dengan seseorang.” Evan berkomentar, tapi Tiara tiak menanggapi.

“Kami permisi, Pak.” Tiara segera bergegas pergi karena sudah merasa tidak nyaman dengan kedekatannya bersama Evan.

Evan hanya mengangguk, ia melihat tubuh Tiara yang semakin menajuhinya. Lalu wanita itu berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah Evan.

“Uum, nanti malam, Bu Sherly mengundang Pak Evan makan malam.”

Evan tersenyum dan ia hanya berkata “Oke.”

Lalu Tiara kembali berjalan meninggalkannya. Perempuan itu hilang dibalik pintu depan rumahnya, dan setelah Tiara tak ada lagi di hadapannya, Evan menghela napas panjang. Jemarinya dengan spontan meraba dada kirinya, dada yang sejak tadi seakan bertabuh kencang karena sesuatu.

Sial! Apa ini?

***  

“Tiara! Buka pintunya!!” Gerodan pintu kamarnya membuat Tiara beringut di ujung ruangan. Ahh kakaknya kembali menggila, dan Tiara sudah mengerti hal itu.

Ini entah sudah ke berapa kalinya sang kakak pulng dalam keadaan mabuk. Marah-marah tidak jelas, bahkan kadang kakaknya itu berteriak-teriak seperti orang gila.

Bang Radit, Tiara biasa memanggilnya seperti itu. Kakaknya yang kerjanya hanya sebagai supir taksi online, namun kebiasaan buruknya membuat kehidupannya semakin terlilit hutang. Ya, apa lagi jika bukan bermain judi.

Saat setelah pulang bekerja, bang Radit tidak seger pulang, lelaki itu memilih mnghabiskan waktunya di meja judi, bermain wanita, dan juga meminum-minuman keras, maka tak jarang lelaki itu pulang dalam keadaan mabuk seperti saat ini.

“Buka! Sialan!!”

Astaga, meski begitu, kakaknya itu tak pernah semarah ini padanya. Meski sering mabuk-mabukan dan bermain perempuan, kakakny itu seakan selalu dapat mengontrol diri saat berhadapan dengan dirinya, namun Tiara merasa jika itu berbeda dengan saat ini.

“Dalam hitungan ke Lima, kalau kamu nggak buka pintu kamarmu, aku akan mendobraknya, Satu…”

Tiara semakin ketakutan.

“Dua…”

Dan akhirnya Tiara menyerah, ia segera bangkit menuju ke arah pintu kamarnya, lalu membukanya, berharap jika sang Abang tidak marah lagi terhadapnya.

“Iya, Bang.”

Radit tersenyum, ia mengusap lembut puncak kepala Tiara. “Adik yang baik, pakai bajumu yang paling bagus.”

“Untuk apa, Bang?”

“Jangan banyak tanya. Cepat ganti baju.” Dan Tiara akhirnya hanya menurut saja apa yang dikatakan Kakaknya.

***

Tiara masih tidak menyangka jika kakaknya akan sekejam ini padanya. Sang kakak ternyata menyeretnya ke sebuah tempat hiburan malam, tempat dimana kakaknya itu menghabiskan uangnya untuk bermain judi.

Dan kini Tiara baru tahu jika sang kakak ternyata sudah memiliki hutang yang menggunung karena kebiasaan buruknya tersebut. lebih gilanya lagi, sang kakak menyeretnya ke tempat ini adalah untuk menjadikannya sebagai pelunas hutang. Benar-benar keterlaluan!

“Rupanya, kamu memiliki barang yang cukup bagus untuk melunasi hutangmu.” Si pemilik suara itu adalah lelaki paruh baya yang lebih cocok dipanggil Tiara sebagai ayah. Dan secara teknis, kini Tiara adalah milik lelaki itu.

“Jangan bangga dulu, aku akan segera menebusnya.” Radit berkata dengan serius. Bagaimanapun juga, Tiara adalah adiknya, dan sungguh, ia benar-benar merasa sangat berengsek saat menukarkan Tiara dengan hutang-hutangnya.

“Dan sebelum itu terjadi, dia milikku, ingat, penebusan harus Tiga kali lipat dari hutang kamu!”

“Bang, kamu nggak serius dengan ini, kan?” Tiara merengek.

“Kamu tenang saja, aku akan menebusmu nanti.”

“Tapi kapan? Jangan harap Bang Radit bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk menebusku melalui judi.”

“Tiara.” Radit akan berbicara lagi tapi ucapannya terpotog oleh geraman lelaki paruh baya di hadapannya.

“Jangan banyak omong, cepat, angkat kakimu dari sini.” Lelaki itu memerintahkan anak buahnya untuk menyeret Radit pergi dari hadapannya.

“Bajingan!” Radit mengumpat keras pada lelaki itu sembari berusaha melepaskan dari dari anak buah lelaki itu yang menyeretnya menjauh.

“Bang, Bang Radit. Bang..” Tiara juga ikut berteriak memanggil-manggil nama kakaknya ia tentu tidak ingin di tinggalkan dengan orang-orang asing yang tidak ia kenal. Belum lagi fakta jika dirinya kini menjadi milik orang tersebut. “Bang, jangan tiggalin Tiara, Bang.. Bang Radit….”

Dan ketika Tiara tak juga diam dari rengekannya, sepasang kaki berjalan menuju ke arah mereka. “Permisi.” Suara itu membuat Tiara menghentikan rengekannya, lalu menolehkan kepalanya ke arah suaraa tersebut. Tiara ternganga mendapati siapa yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Anda siapa?” tanya lelali paruh baya itu pada pria yang baru datang menghampirinya.

Pria itu sedikit tersenyum, lalu mengulurkan jemarinya. “Saya Evan Pramudya, kekasih wanita ini.”

-TBC-

Future Wife – Prolog

Comments 3 Standard

Future Wife

 

Yuukkk kenalan dulu sama bang Epan yaaa hahahhahaha

 

Prolog

 

Evan menatap bayangan rumah dari kaca spion mobilnya. Bayangan itu semakin lama semakin menjauh, lalu menghilang ketika ia sampai pada tikungan. Sepertinya pergi adalah jalan satu-satunya yang akan diambil oleh Evan. Pergi dan menjadi seorang pengecut karena tidak mampu melihat orang yang ia cintai bahagia dengan adik kandungnya sendiri.

Ya, bukan ia merelakan, ia hanya tidak mampu menggapai kebahagiaannya. Ia hanya tidak mampu mendapatkan apa yang ia inginkan, hingga ia memilih menjauh dan berusaha melupakan semuanya. Tapi bisakah ia melakukannya?

Evan menghela napas panjang. Ahh, sepertinya ia harus berubah. Ia tidak akan mungkin hanya menjadi lelaki baik-baik saja yang membosankan sembari menunggu wanita yang ia cintai membalas cintanya, ia tidak mungkin lagi melakukan hal tersebut, karena ia tahu, Karina, wanita yang ia cintai itu tidak akan mungkin datang kepadanya. Rasa cinta Karina pada Darren yang tak lain adalah adik kandung Evan, sangat besar. Bahkan wanita itu rela berbuat egois dengan menjebak Darren agar mau menikahinya.

Evan hanya bisa meringis dengan rasa sakit di hatinya. Ia tertawa, menertawakan dirinya sendiri karena selama ini ia hanya bisa menunggu Karina tanpa bisa berbuat banyak, hingga yang terjadi adalah, Karina jatuh cinta dengan Darren, bukan dirinya.

Benar-benar menyedihkan.

Kini, Evan memilih kabur, pindah keluar kota. Membangun sosok dirinya yang baru, membuang semua masa lalunya yang begitu menyedihkan. Ya, ia tampan, punya kekuasaan, kenapa ia tidak memanfaatkan semuanya untuk mendapatkan kebahagiaannya?

-TBC-

Bianca – Chapter 3 (Lebih panas dari sang CEO)

Comments 13 Standard

Bianca

Haiii maapp baru sempat up cerita ini, dan maap bgt karena kemaleman, hahahah iya karena aku lagi asyik nonton bang Mario Maurer A.k.a bang Ramma Aditya yang lagi main Pee mak di trans 7. hhahahah oke. gitu aja, happy reading, semoga suka yaa.. hheheheh

 

Jason sendiri langsung menaiki motornya, lalu mengenakan helmnya. Ia kembali sedikit melirik ke arah Bianca. Bianca masih berdiri di sana dengan wajah lucunya. Ahh, wajah itu sedikit mirip dengan Felly, tapi sikapnya sangat mirip dengan Sienna. Jason kemudian menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan Bianca begitu saja dengan berbagai macam pikiran di kepalanya. Bolehkan ia menjadikan gadis tadi sebagai pengobat luka patah hatinya?

Ketika Jason sudah pergi dari hadapannya, Bianca mulai membalikkan tubuhnya, masih dengan sedikit linglung karena pertemuan tak terduga tadi, Bianca melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu toko ice cream milik Felly. Tapi baru berapa langkah, ia kembali membalikkan tubuhnya saat mendengar suara motor Jason kembali di belakangnya.

Bianca menatap Jason dengan heran, kemudian ia melihat Jason membuka kaca helm yang ia kenakan, lalu pria itu bertanya. “Bolehkah aku menyimpan nomor ponselmu?”

***

Chapter 3

-Lebih panas dari sang CEO-

 

Jason keluar dari dalam kamar mandi, berharap kegilaannya sudah luntur saat setelah ia mandi dan menggosok seluruh permukaan kulitnya. Nyatanya, ketika ia keluar dari dalam kamar mandinya, ia masih mendapati seorang perempuan dengan tubuh telanjangnya dan berselimutkan bedcover miliknya. Kenapa perempuan itu belum pergi? Pikirnya.

“Pagi.” Si perempuan menyapanya dengan manja.

“Kenapa kamu masih di sini?” tanyanya dengan nada dingin. Sungguh, ia tidak suka mendapati perempuan yang habis ditidurinya masih berada di atas ranjangnya ketika pikirannya sudah mulai waras seperti saat ini.

“Kenapa bagaimana? Memangnya aku harus apa?”

“Pakai bajumu dan keluar dari sini.” Oh, Jason bahkan tak mengenali dirinya sendiri saat ini. Sial! Ini semua tentu karena si Troy. Temannya yang sudah setengah gila. Dan kenapa juga ia ikutan gila seperti si Troy?

Seminggu terakhir ia lalui dengan sangat berat. Pertama, karena hubungannya yang sudah benar-benar putus dengan Felly. Seminggu yang lalu, Jason kembali menemui Felly di toko ice cream milik perempuan itu. Berharap jika hubungannya akan membaik, meski ia tahu jika tak ada harapan lagi karena Felly sudah menikah dan sedang mengandung bayi pria lain. Tapi Jason mencoba tidak peduli. Rasa cintanya terlalu dalam, perasaannya sudah dibutakan oleh cinta kepada perempuan tersebut. Jason bahkan menawarkan diri untuk menjadi yang kedua untuk Felly, tapi dengan tegas, perempuan itu menolaknya.

“Maaf, Jase, Aku nggak bisa. Tidak akan ada orang kedua untukku. Karena yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, hanya satu orang, yaitu kak Raka. Aku tidak bisa menduakannya dengan laki-laki lain.”

Begitulah jawaban Felly yang hingga kini masih mendengung di telinganya, masih terputar di kepalanya, hingga membuat Jason sakit saat mengingatnya.

Sejak detik itu, Jason tahu jika ia sudah tak mungkin lagi bersatu dengan Felly. Felly sudah menolaknya dan menutup semua kesempatan untuknya. Yang bisa Jason lakukan hanyalah mencoba melupakan perempuan itu. Tapi bagaimana caranya?

Saran Troy adalah satu-satunya solusi dari semua masalahnya. Ya, temannya itu menyarankan untuk mencari pelarian, mengencani banyak wanita hingga membuatnya dapat membunuh rasa cinta di hatinya. Tapi bisakah?

Hingga hari ini, entah sudah berapa banyak perempuan yang ia tiduri selama seminggu terakhir. Perempuan-perempuan bayaran yang disediakan oleh Troy, tentu saja perempuan itu sudah diharuskan tutup mulut tentang skandal yang sudah ia lakukan ini.

Hati Jason berkata, jika semua ini salah, tak seharusnya ia melakukan hal ini, ia harus segera mengakhirinya, tapi ia tidak ingin bayang Felly kembali menghantuinya.

Jason menatap ke arah perempuan yang berada diatas ranjangnya, perempuan itu berdiri dengan tubuh telanjangnya. Mungkin berharap jika Jason akan tergoda karena ketelanjangannya. Tapi perempuan itu salah. Demi Tuhan, Jason sama sekali tak tergoda, Jason bahkan memalingkan wajahnya karena muak melihat pemandangan di hadapannya.

“Kamu berbeda dengan semalam.” Perempuan itu berkomentar, karena merasa dicampakan, perempuan itu segera memunguti pakaiannya lelu mengenakannya dengan cepat.

“Semalam hanya efek Alkohol, jadi lupakan.”

Jawaban Jason benar-benar membuat perempuan itu kesal. Ya, walau ia hanya perempuan bayaran, tapi tetap saja, Jason adalah pria tampan dengan karir cemerlangnya, siapa yang tidak ingin berhubungan dengan dia? Apalagi saat mengingat bagaimana panasnya lelaki itu saat di atas ranjang. Perempuan itu bahkan bersedia untuk diajak naik ke atas ranjang Jason untuk kedua kalinya meski tidak di bayar.

“Jadi, semua artis seperti ini, Ya? Kupikir kamu berbeda.”

“Semua sama. Kami berengsek seperti yang diberitakan. Sekarang keluarlah, sebelum pengawalku menyeretmu keluar dari kamar ini.”

Dengan wajah memerah karena malu diperlakukan seperti itu, perempuan itu segera pergi keluar dari dalam kamar hotel yang disewa Jason. Jason sendiri menghela napas panjang setelah perempuan tersebut keluar dari kamarnya. Ia menuju ke sebuah sofa panjang di dalam kamar tersebut. Jason lalu meraih ponselnya dan membuka-buka semua sosial medianya.

Benar-benar membosankan. Tak ada yang bisa ia lakukan saat akhir minggu seperti ini ketika ia tak ada jadwal manggung. Karena tentunya teman-teman sebandnya lebih sibuk dengan pasangan masing-masing.

Cukup lama Jason membuka-buka sosial medianya dan berakhir dengan bosan karena tidak ada yang ia lakukan. Membalas pesan-pesan dari fansnyapun tidak ia lakukan karena pesan tersebut sudah menumpuk puluhan ribu, belum lagi komentar-komentar mereka.

Akhirnya Jason menyerah dengan kebosanannya dan memilih mencari nomor ponsel Troy, menghubungi temannya itu siapa tahu saja temannya itu kenal dengan salah seorang perempuan yang dapat diajaknya untuk menghabiskan hari yang membosankan ini.

Tapi ketika ia membuka kontak di ponselnya, pada baris teratas ia mendapati nama ‘Babee’, Jason mengangkat sebelah alisnya, mengingat siapakah pemilik nomor ponsel tersebut. Karena seingatnya, ponselnya hanya berisi nomor-nomor orang-orang terdekatnya saja. Ujung bibirnya tertarik saat mengingat siapa pemilik kontak bernama ‘Babee’ tersebut.

Itu Bianca, perempuan yang tak sengaja bertemu dengannya seminggu yang lalu saat ia keluar dari dalam toko ice cream milik Felly. Perempuan yang tampaknya akan asyik untuk diajak menghabiskan hari yang begitu membosankan untuknya saat ini.

Jason berpikir sebentar, apa tidak apa-apa menghubungi gadis itu saat ini? Apa ia akan mengganggu? Atau, apa gadis itu akan sama membosankan seperti gadis-gadis kebanyakan? Jason ragu, ya, karena ini adalah pertama kalinya ia akan menghubungi perempuan yang cukup asing baginya, menghubungi hanya untuk mengajaknya main, bukan tidur bersama seperti perempuan-perempuan murahan yang pernah ia hubungi sebelumnya.

Jason menghela napas panjang sebelum kemudian mengambil langkah untuk benar-benar menghubungi Bianca.

***

Satu minggu berlalu setelah kejadian hari itu. Hari dimana seorang Jason Febrian, vokalis tampan dengan aurah panasnya meminta nomor ponsel Bianca. Bianca tentu tidak menyianyiakan hal tersebut. Dengan segera ia memberi Jason informasi kontaknya. Namun nyatanya, seminggu berlalu, pria itu tak kunjung menghubungi Bianca.

Kesal, tentu saja. Apalagi hari-hari pertama setelah Bianca memberikan nomor ponselnya pada Jason. Setiap menit Bianca menyempatkn diri mengecek ponselnya, siapa tahu saja Jason menghubunginya, nyatanya, hingga satu minggu berlalu, yang didapatkan Bianca hanya sebuah kekecewaan.

Apa Jason sedang sibuk? Atau, apa lelaki itu memang hanya berniat mempermainkannya saja. Sial! Mungkin saja Jason hanya mempermainkannya saja. Ingat Bee, dia artis papan atas, mana mau dia berhubungan denganmu, apalagi dimatanya kamu hanya seorang fans yang sama dengan yang lainnya.

Bianca mendengus sebal. Mau dipungkiri seperti apapun juga, nyatanya ia benar-benar kesal dengan Jason. Jika Jason tidak berniat untuk menghubunginya, seharusnya pria itu tidak perlu meminta nomor ponselnya hingga ia tidak perlu gelisah tak menentu menunggu panggilan atau pesan dari pria itu.

Bianca meminum jus di hadapannya dengan kesal hingga ia berakhir terbatuk-batuk karena tersedak.

“Astaga, kamu kenapa, Bee?” Sienna yang memang kini duduk di sebelahnya memberinya tissue, tapi sialnya, kakak iparnya tersebut juga menertawakan kekonyolannya.

“Kamu kenapa? Aneh banget, sejak tadi aku lihat kamu hanya cemberut melulu.” Sienna bertaya lagi saat Bianca sudah membaik.

Bianca tentu tidak menceritakan pertemuannya dengan Jason pada Sienna maupun Felly. Yang benar saja, Sienna pasti akan mengoloknya habis-habisan saat perempuan itu tahu jika ia sedang berharap-harap cemas dengan telepon dari Jason.

“Nggak apa-apa.” Bianca menjawab dengan cuek.

“Mungkin dia lagi nunggu telepon dari pacarnya, Si.” Felly menyahut, dia datang dengan membawa sebuah nampan yang berisi cemilan untuk Sienna dan Bianca.

Sienna tertawa lebar. “Pacar? Mana mungkin dia punya pacar? Pacarnya kan cuma CEO-CEO di dalam novel, Fell.” Sindir Sienna masih dengan tertawa lebar.

Bianca memberengut kesal. “Enak saja. Aku nggak suka sama CEO kayak suami-suami kalian. Apaan, paling juga nggak HOT.”

“Oh ya? Memangnya cowok yang hot itu seperti apa?” tanya Sienna.

“Yang jelas bukan kayak kak Aldo, apalagi Kak Raka. Yang benar saja, mereka kaku dan membosankan.”

“Hei, tapi kak Aldo panas saat di atas ranjang, tahu. Dan aku yakin kak Raka juga gitu, mengingat Felly langsung hamil dalam semalam.”

“Sienna.” Felly memerah karena ucapan Sienna. Ahh, gadis itu benar-benar.

“Panas tidaknya seseorang tidak dilihat dari apa dia mampu menghamilimu dalam semalam. Lagian, kalian hamil dalam semalam itu karena kak Aldo dan Kak Raka tidak profesional sampai tidak kenal apa yang namanya kondom.”

“Bee. Astaga, ternyata kalian sama saja.” Felly menggelengkan kepalanya lalu ia memilih melangkah pergi menjauh dari kedua kakak beradik yang menurutnya sudah sama-sama gila karena ucapan mereka.

Sienna bukannya marah, ia malah tertawa lebar setelah mendengar kalimat panjang lebar dari Bianca dan juga reaksi Felly akan hal tersebut.

“Kamu sudah gila?” Binca tidak mengerti kenapa kakak iparnya itu tertawa terbahak-bahak karena ucapannya.

“Ya, kita kan sama-sama sudah gila.”

“Enak aja, kamu aja sana yang gila.”

“Ayolah Bee, kamu nggak asik.” Sienna lalu meminum jusnya, sebelum ia berkata lagi “Jadi, menurutmu, pria yang Hot itu seperti apa?”

“Entahlah, mungkin pria yang berlari kesana kemari dengan keringat di tubuhnya, mugkin?”

“Lalu?” Sienna memancing lagi.

“Bertatto.”

“Lalu?” tanya Sienna lagi, padahal ia mulai mengerti arah pembicaraan Bianca meski gadis itu tidak sadar jika kini dirinya sedang di pencing oleh Sienna.

“Yang pasti, dia tampak seperti bad boy dengan penampilannya, dan dia tentu menarik perhatian banyak wanita.” Dengan santai, Bianca meminum jusnya kembali.

Well, sepertinya ciri-ciri yang kamu sebutkan semuanya terdapat pada diri Jason.”

Dengan spontan Bianca menyemburkan jus yang diminumnya tersebut, hingga tak sengaja semburan tersebut terarah pada wajah Sienna yang memang duduk dihadapannya. Bianca terkejut dengan apa yang terjadi, hingga ia hanya ternganga saat melihat wajah Sienna yang penuh dengan semburan jus darinya, sedangkan Sienna segera menjeritkan nama Bianca sekeras-kerasnya karena kesal dengan apa yang dilakukan adik iparnya tersebut.

***

Bianca tak berhenti tertawa lebar saat mengingat bagaimana lucunya wajah Sienna tadi saat ia tak sengaja menyembur kakak iparnya itu dengan jus yaang ia minum. Sienna sangat murka, dan melihat Sienna murka merupakan hal langka untuk Bianca.

Kini, Sienna masih di dalam toilet untuk membersihkan dirinya, sedangkan Bianca masih sesekali tertawa sendiri sepereti orang gila karena mengingat kejadian tadi.

“Bee, kamu keterlaluan.” Felly datang sambil menegur Bianca. Bagaimanapun juga, Sienna adalah kakak ipar Bianca, harusnya Bianca menghormatinya meski usia Sienna jauh lebih muda.

“Astaga, aku nggak sengaja, sumpah.”

“Tapi kamu bisa kan berhenti menertawakannya?”

“Hahahhaha, oke, oke. Ya ampun, dia lucu sekali tadi, aku sampai gemas.”

“Dia kakak iparmu, Bee.”

“Yes, I know. Tapi aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.” Lagi-lagi Bianca terkikik geli.

Ketika Bianca sibuk dengan tawa cekikikannya, ponselnya berbunyi. Bianca melirik sekilas dan melihat nomor baru sedang menghubunginya. Akhirnya Bianca mengabaikannya. Ya, ia sama sekali tidak suka dengan pemanggil nomor baru, karena biasanya, nomor-nomor tersebut hanya untuk menggodanya saja.

Ketika Bianca membiarkan ponselnya berdering terus menerus, Felly bertanya “Kenapa nggak kamu angkat?”

“Malas, nomor baru, paling cuma missed call aja.”

Felly tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Ya ampun Bee, sejak tadi kamu mantengin ponsel kamu terus, sekarang pas bunyi, kamu malah mengabaikannyaa.”

Oh Sial!! Bianca baru ingat, kalau sejak seminggu yang lalu, ia memang menunggu nomor baru masuk ke dalam panggilannya, nomor yang mungkin saja milik seorang Jason. Dengan segera Bianca meraih ponselnya, tapi ketika ia akan mengangkat telepon tersebut, deringnya sudah mati.

“Yaaahhhh apa-apaan sih ini. Nyebelin banget.” Bianca menggerutu kesal.

“Tuh kan, pasti ada yang kamu tungguin.” Goda Felly.

Bianca mendengus sebal. “Itu Fell…” saat Bianca akan bercerita dengan Felly tentang Jason, ponselnya kembali berdering. Bianca dan Felly sempat saling pandang sebentar karena sama-sama terkejut, lalu secepat kilat Bianca mengangkat panggilan tersebut.

“Halo?” Bianca menyapa penuh harap.

“Hai, Bee.”

Ya, Bianca merasakan jantungnya seakan ingin meledak saat ini juga. Itu Jason, ya, benar-benar Jason. Dan astaga, Bianca masih tak menyangka jika lelaki itu benar-benar menghubunginya, meski sangat terlambat. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa ia merasa sangat bersemangat saat berhubungan dengan lelaki itu?

***

Dengan langkah ragu, Bianca memasuki sebuah lift di sebuah gedung apartemen. Lift tersebut menuju ke lantai 25. Lantai dimana ia akan bertemu dengan Jason.

Ya, tadi saat Jason menghubunginya, lelaki itu memintanya untuk mendatangi lelaki tersebut di apartemen ini. Apartemen yang keamanannya sangat terjaga, karena untuk memasuki apartemen ini saja Bianca harus melewati beberapa penjagaan. Pantas saja penyanyi sekelas Jason tinggal di apartemen ini.

Jantung Bianca tak berhenti berdebar kencang, saat mengingat jika dirinya akan kembali bertemu dengan sosok Jason. Astaga, sebenarnya ada apa dengan dirinya?

Bianca tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi melihat Jason yang tampak begitu menggoda malam itu ketika ia melihat aksi panggungnya, Bianca selalu merasa terbakar saat mengingat tentang Jason. Apa-apaan ini?

Bianca menggelengkan kepalanya ketika otaknya mulai berpikir semakin jauh tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi diantara dirinya dengan Jason. Sial! Ini pasti karena novel-novel Romance dewasa yang sering ia baca, hingga ketika ia membayangkan tentang Jason, pikirannya selalu menjurus kepada hal-hal mesum.

Bee, kamu harus mulai menghilangkan kebiasaan burukmu itu! gerutunya pada dirinya sendiri.

Tak lama pintu lift di hadapannya terbuka. Jantung Bianca semakin berdebar kencang. Apalagi saat melihat beberapa laki-laki tinggi tegap berpakaian serba hitam berdiri di ujung lantai tersebut.

Bianca keluar dari dalam lift itu, sesekali ia merapikan rambutnya yang sengaja ia cat pirang. Kakinya melangkah menuju pintu paling ujung. Pintu yang tampak di jaga ketat oleh beberapa laki-laki tinggi tegap yang Bianca yakini adalah Bodyguard Jason. Saat Bianca sudah berada di depan pintu apartemen Jason, seorang Bodyguard bertanya padanya.

“Nona Bianca?”

“Ya, saya.” Bianca menjawab dengan sedikit gugup.

“Silahkan masuk.” ucap sang Bodyguard sembari membukakan pintu tersebut untuk Bianca.

Bianca meganggu, dan kakiya mulai melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Sedikit terkejut ketika ia menolehklan kepalanya ke belakang ternyata pintu masuk di tutup oleh Bodyguard tersebut.

“Hai, Bee, baru sampai?” suara tersebut sontak membuat Bianca menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Dan demi Tuhan! Bianca menyesal karena sudah menolehkan kepalanya ke sana.

Tampak Jason berdiri di depan pintu kamar mandinya dengan tubuh dan rambut yang masih basah. Hanya berbalutkan handuk kecil yang melilit pinggangnya. Sungguh, lelaki itu tampak begitu panas dengan tubuh tegap yang tampak begitu perkasa. Oh, bahkan Bianca mengakui jika Jason lebih panas dari sang CEO di dalam novel-novel romance dewasa yang pernah ia baca sebelumnya. Astaga, bagaimana tubuhnya tak terbakar ketika menatap pemandangan panas di hadapannya seperti saat ini?

 

-TBC-

Beautiful Escape – Prolog

Comments 2 Standard

Beautiful Escape

 

Karena banyak yang reques, dan aku ada sedikit ide, maka aku buatkan ceritanya Davit (Kembaran Dirga) sama Sherly, istrinya yaa.. ini adalah kisah mereka dari sebelum menikah, semoga suka…

 

Beautiful Escape

 

*Davit Prasetya

*Sherly Amanda

 

 

Prolog

 

 

Davit menatap dua orang perempuan yang baru saja masuk ke dalam kelas bela diri yang sudah mulai sejak setengah jam yang lalu. Alisnya terangkat begitu saja ketika salah satu perempuan yang baru datang tersebut menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat.

Ada apa? Kenapa perempuan itu tampak menatapnya dengan penuh kebencian?

Davit akhirnya berjalan menuju ke arah dua perempuan yang baru datang tersebut, tapi ketika dirinya semakin dekat, perempuan yang menatapnya dengan tatapan tak bersahabat itu malah membalikkan badannya dan bersiap pergi dari hadapannya.

“Hei, tunggu, ada apa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Davit bertanya dengan spontan. Jemarinya bahkan sudah meraih pergelangan tangan perempuan tersebut.

Perempuan itu menolehkan kepalanya ke arah Davit, tatapan matanya menajam seketika, dan Davit tahu jika tatapan tajam itu untuknya.

“Maaf.” Ucap Davit sembari melepaskan cengkeraman tangannya pada peregelangan tangan perempuan tersebut. Perempuan itu lalu melanjutkan langkahnya, berjalan pergi, keluar dari ruangan tempat Davit mengajar kelas bela diri karate.

Davit hanya ternganga melihat kepergian perempuan itu, perempuan cantik dengan tatapan kebenciannya. Ahhh, kenapa ia jadi penasaran karenanya?

***

Sherly terus saja berjalan pergi, melangkah meninggalkan tempat latihan karate yang seharusnya menjadi ia masuki karena ia sudah mendaftar untuk menjadi salah satu murid kelas tersebut mulai hari ini.

Ya, sebenarnya Sherly bukanlah gadis tomboy, seperti temannya, Nina yang mengajaknya ke kelas tersebut. Ia mendaftar kelas tersebut karena ingin mengisi kekosongan hari-harinya. Ia ingin meninggalkan kebiasaan buruk yang sudah dua minggu terakhir menjangkiti dirinya. Kebiasaan buruk melamun dan menangis tidak jelas hanya karena patah hati terhadap lelaki berengsek bernama Dirga Prasetya.

Astaga, bahkan Sherly tidak mengerti, apa yang membuatnya patah hati begitu dalam dengan sosok tersebut. Dirga tak lebih dari laki-laki berengsek yang menganggap kesucian wanita hanya sebagai sebuah mainan. Lelaki itu menduakannya, lalu memutuskannya begitu saja ketika ia menolak untuk di ajak bercinta.

Sangat berengsek, bukan?

Dan tadi, lelaki itu datang menghampirinya seperti seorang tolol yang tidak mengenalinya. Oh, andai saja Sherly memiliki kekuatan super, mungkin ia sudah menendang keras-keras selangkangan lelaki tersebut.

“Sher, mau kemana? Kamu kenapa? Astaga, sampek di hampirin ama pelatih.” Nina menghentikan langkahnya.

Sherly mengerutkan keningnya “Pelatih?” tanyanya sedikit bingung. Ya, setahunya Dirga adalah orang yang suka berkelahi, tapi ia tidak tahu jika lelaki itu menjadi pelatih di kelas bela diri. Dan astaga, Sherly baru sadar, bahwa selama pacaran dengan lelaki tersebut, ia sama sekali tidak mengetahui apapun tentangnya.

“Ya, Kak Davit itu pelatih kita.”

Sherly menatap Nina seketika. “Apa kamu bilang? Davit?”

“Iya, emangnya kenapa?”

Sherly termenung sebentar, lalu memukul kepalanya sendiri seperti orang bodoh. Astaga kenapa ia bisa lupa? Bisa jadi lelaki yang menghampirinya tadi itu adalah kembaran Dirga. Meski Dirga tak banyak bercerita tentang dirinya semasa pacaran dengan Sherly, tapi Sherly sedikit mendengar kabar di kampus mereka, jika Dirga memiliki saudara kembar yang juga kuliah di kampus yang sama hanya saja berbeda fakultas.

“Kamu yakin, nama dia Davit?”

Nina mendengus sebal. “Aku sudah dilatih sama dia sejaak enam bulan yang lalu, kamu pikir selama ini aku salah menyebut namanya?”

“Uuum, dia, dia mirip sama Dirga.”

“Apa? Kamu jangan bercanda ahh.”

Ya, Nina memang belum pernah melihat Dirga, karena mereka berdua bersahabat saat masih SMA ketika keduanya sama-sama tinggal di Bandung, sedangkan ketika di bangku perguruan tinggi, mereka berbeda kampus. Sering kali Sherly bercerita pada Nina tentang Dirga hingga membuat Nina ikutan naik darah, hanya saja, sampai saat ini, Nina belum pernah sekalipun melihat tampang Dirga.

“Iya, kupikir, kupikir… mereka saudara kembar.”

Nina ternganga dengan apa yang baru saja diucapkan Sherly. Begitupun dengan Sherly yang juga masih sibuk mencerna apa yang sedang terjadi.

Davit? Kembaran Dirga? Lalu apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Haruskah ia tetap melaksanakan niatnya untuk menjalani kelas bela diri dengan Davit sebagai pelatihnya? Bisakah ia melihat lelaki itu tanpa mengingat sosok Dirga yang sudah menyakiti hatinya?

 

-TBC-

Davit pas latihan.