romantis

Secret Wife – Chapter 4 (Pengalaman Pertama)

Secret Wife

 

Selamat bermalam mingguan, ini adalah updetan terakhirku di tahun 2017 yaa, lanjut lagi 2018 yeaayy, selamat tahun baru semuanya… 

 

Chapter 4

-Pengalaman pertama-

 

Satu minggu setelah kejadian di dalam kamar Alden, Alden benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Naura sempat bingung, ketika tiba-tiba Alden mengajaknya keluar dari rumahnya. Keduanya ternyata menuju ke sebuah hotel, dimana disana sudah terdapat penata rias lengkap dengan penata busananya.

“Ini, ada apa?” Naura masih bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Alden.

Alden tersenyum, jemarinya mengusap lembut pipi Naura, dan ia berkata “Kita akan menikah hari ini.”

“Apa? Maksudnya?”

“Ya.” Alden melirik ke arah jam tangannya, “Tiga jam lagi penghulunya akan datang.”

“Penghulu? Al, kupikir kamu nggak serius dengan hal ini.”

“Aku serius, makanya aku melakukan semua ini untukmu, kita benar-benar akan menikah sore ini.”

“Lalu bagaimana dengan keluarga kita?”

Alden terdiam sebentar. “Aku akan memberitahukannya nanti.” Pada detik itu, Naura merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Alden, dan entah kenapa, ia mulai merasa ragu dengan lelaki itu.

***   

“Sah.”

“Sah.”

“Sah.”

Suara-suara itu masih terngiang di telinga Naura. Suara seorang penghulu yang baginya masih cukup muda, lalu beberapa saksi yang disiapkan oleh Alden, dan juga beberapa teman-teman Alden yang datang di sana. Tak ada yang Naura kenali disana kecuali Alden dan beberapa teman lelaki itu yang pernah dikenalkan padanya.

Dan kini, dirinya sudah seperti orang linglung ketika ia sibuk memikirkan apa yang baru saja terjadi dengannya.

“Hei, apa yang kamu pikirkan?” sentuhan jemari Alden di pundaknya membuatnya terlonjak seketika. Dengan spontan Naura menjauh, lalu ia menatap Alden yang ternyata sudah selesai mandi dan hanya mengenakan kimononya saja.

“Kenapa? Ada yang kamu pikirkan? Kamu, tampak takut denganku.”

“Uum, enggak. Aku hanya masih sulit menerima kenyataan ini.”

Alden mendekat “Kenyataan kalau kamu sudah menjadi istriku?”

“Al, kupikir, ini salah. Seharusnya kalau kita menikah, kita harus melibatkan orang tua, dan-”

Alden menangkup kedua pipi Naura seketika “Aku akan memberitahukan pada mereka nanti.”

“Kapan?”

“Setelah aku siap.”

“Apa yang membuatmu tidak siap? Apa karena status sosialku?”

Alden diam seketika. “Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu ingin aku menarik kata-kataku didepan penghulu tadi? Dengar Na, apapun yang kamu pungkirin sekarang, kamu sudah menjadi istriku, pernikahan kita sah di mata Agama.”

Naura hanya menunduk, dan ia tak dapat membantah apapun. Ya, mereka memang sudah menikah, dan statusnya kini sudah berubah menjadi seorang istri dari Alden Revaldi.

“Maaf, kalau aku sudah membuatmu takut, atau membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin membuat ini mudah untuk kamu, dan aku.”

Mudah? Mudah dalam hal apa? Pikir Naura, tapi ia tentu tidak dapat menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.

Alden kembali mengusap lembut pipi Naura, kemudian ia mengangkat dagu Naura. “Jadi, kamu mau memaafkan aku, kan?” tanya Alden memastikan.

Naura menatap Alden, dan mau tidak mau ia tersenyum kemudian mengangguk lembut pada sosok di hadapannya tersebut.

Alden semakin mendekat, bahkan ia sudah menempelkan tubuhnya pada tubuh Naura. “Jadi, apa aku sudah boleh meminta ‘Hakku’?”

Sungguh, pertanyaan yang terlontar dari bibir Alden tersebut segera membuat Naura bimbang. Apa karena ini Alden menikahinya secara diam-diam? Hanya karena lelaki itu ingin memiliki tubuhnya tanpa kata dosa yang membayanginya?

***   

Alden masih menyesap minuman di hadapannya. Meski ia sudah setengah mabuk karena sudah berjam-jam berada di bar tersebut, nyatanya ia belum juga ingin pulang. Kedatangannya tadi ke tempat ini adalah untuk menemui temannya yang bernama Dirga. Ia mendengar kabar jika lelaki itu baru saja melakukan pernikahan, dan ia tidak menyangka jika akan menemukan temannya itu dalam keadaan yang terlihat sedikit frustasi di tempat ini.

Setelah puas beberapa jam minum bersama dan saling bercerita, akhirnya Dirga memutuskan untuk pulang, tapi Alden memutuskan untuk tetap berada di tempatnya saat ini.

Alden menghela napas panjang, Dirga memang tampak sudah berbeda. Ya, meski lelaki itu tidak menunjukkan secara gamblang jika ia mencintai istri yang baru ia nikahi, tapi Alden dapat melihat dengan jelas jika Dirga mencintai wanita itu.

Lalu, apakah yang ia rasakah pada Naura sama dengan apa yang dirasakan Dirga pada istrinya?

Oh, tentu saja tidak!

Dulu, ia hanya tertarik secara fisik saja dengan sosok Naura, dan hal itu pulalah yang terjadi dengannya saat ini. Ia hanya tertarik secara fisik dengan perempuan itu, tidak lebih. Ia tidak akan pernah punya cinta, karena baginya, cinta hanya sebuah ilusi, cinta hanya sebuah kegilaan yang akan membuatnya jauh dari kewarasan, dan Alden tidak ingin mengalaminya.

Alden kembali menegak menuman di hadapannya, lalu ia bangkit. Membayar tagihannya setelah itu ia berjalan pergi. Mungkin, ia akan singgah ke rumah bordil untuk mencari perempuan yang dapat memuaskan hasratnya malam ini. Ya, tentu saja ia sangat berhasrat, dan dirinya harus mendapatkan pelepasan malam ini juga.

***

Sesekali mengumpat kasar, Alden menatap sebuah rumah sederhana yang entah sudah berapa jam lamanya ia tatap. Kakinya ingin melangkah ke sana, tapi sebagian kewarasannya mencegah.

Ya, itu adalah rumah Naura, entah kenapa mobilnya berjalan dengan sendirinya ke arah rumah wanita tersebut, padahal ia sangat ingin melupakan wanita itu malam ini. Ia ingin memakai jasa wanita penghibur untuk memuaskann hasratnya malam ini, tapi tetap saja, tak dapat dipungkiri jika tubuh Nauralah yang membuatnya membara seperti saat ini.

Ya, ia hanya ingin menyeret tubuh wanita itu ke atas ranjangnya, ia hanya menginginkan wanita itu, bukan yang lainnya.

Alden akhirnya keluar dari dalam mobilnya, dengan langkah sedikit terhuyung, ia menuju ke arah pintu rumah Naura. Alden mengetuknya dengan keras sambil memanggil-manggil nama perempuan itu.

“Na, Na, buka pintunya.”

Lagi dan lagi, Alden mengetuk sambil memanggil-manggil nama Naura, hingga tak lama, pintu tersebutpun dibuka dari dalam.

Naura benar-benar terkejut saat mendapati Alden yang tiba-tiba saja terhuyung ke arahnya, lelaki itu tampak ingin memeluknya, tapi lebih terlihat seperti orang yang sedang mabuk, yang tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya.

“Tuan, apa yang tuan Alden lakukan di sini?”

“Menemui istriku.”

“Tuan, jangan seperti ini.”

“Biarkan aku masuk, Na. aku merindukanmu, aku menginginkanmu.” Lalu tanpa di duga, Alden mendorong tubuh Naura masuk ke dalam, tak lupa ia juga menutup pintu di belakangnya dengan kakinya.

“Tuan, apa yang Anda-” Naura tak dapat melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba bibirnya disambar oleh bibir Alden. Alden melumatnya dengan panas, mencumbunya penuh dengan gairah, hingga Naura kembali luluh dengan apa yang dilakukan lelaki tersebut.

Alden mendorong sedikit demi sedikit tubuh Naura ke dalam sebuah ruangan yang ia yakini sebagai kamar Naura, karena memang ruangan tersebut tadi terbuka dan tampak ranjang Naura terbentang di sana.

Masuk kedalam ruangan tersebut, Alden menutupnya dengan sebelah kakinya, sama seperti saat ia menutup pintu depan rumah Naura tadi.

Sedikit demi sedikit, Alden mulai melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Naura, sedangkan Naura masih terbuai dengan cumbuan yang diberikan Alden padanya.

Alden kemudian melepaskan tautan bibir mereka, ia menatap Naura yang sudah setengah telanjang di hadapannya. Perempuan itu menunduk, dan tampak raut penyesalan di wajah wanita tersebut.

Alden mengangkat dagu Naura, hingga wajah wanita itu menatap ke arahnya. “Apa kamu tahu kalau aku begitu merindukanmu?” bisik Alden dengan suara seraknya.

“Jangan lanjutkan, kumohon, aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti dulu.”

“Tidak ada kesalahan yang sama, Na.” Karena tidak ingin beradu argumen lagi, Alden kembali mencumbu bibir Naura, melakukannya dengan lembut dan menggoda, hingga membuat Naura mau tidak mau jatuh kembali ke dalam lubang yang sama, lubang kesalahan yang di buat oleh Alden, persis dengan kejadian beberapa tahun yang lalu…

***

“Kamu akan menyukainya.” Suara Alden terdengar lembut, terdengar seperti mantera yang mampu menenangkan hati Naura.

Saat ini, keduanya masih berada di dalam kamar hotel yang sudah disewa oleh Alden, kamar yang akan menjadi saksi penyatuan antara dua insan yang tengah dimabuk asmara.

Naura sudah terbaring di atas ranjang tanpa sehelai benangpun. Begitupun  dengan Alden yang juga sudah telanjang dengan posisi menindih tubuh Naura. Keduanya sudah sama-sama panas, sama-sama bergairah karena pemanasan yang sudah cukup lama dilakukan oleh Alden terhadap tubuh Naura.

Namun, saat Alden akan menyatukan dirinya, ia melihat ketakutan yang tampak jelas dimata Naura, hingga kemudian ia mengatakan pada Naura jika semua akan baik-baik saja.

“Aku tidak akan menyakitimu, Na. Percayalah.” Lagi, Alden mencoba meyakinkan Naura.

“Uum, ini, ini, pengalaman pertama untukku, jadi aku takut-”

“Tidak ada yang perlu kamu takutkan.” Alden memotong kalimat Naura dengan cepat. “Aku akan membuat ini menjadi indah untuk kita berdua.” ucapan Alden terdengar seperti sebuah sumpah, hingga membuat Naura kembali terpana, ia mengganggukkan kepalanya begitu saja, lalu tak lama, ia merasakan pusat gairah Alden menyentuh titik sensitifnya.

Naura merasa tidak nyaman, ya, tentu saja. Masalahnya ini adalah pertama kalinya ia melakukan hal seintim ini dengan seorang lelaki. Memperlihatkan setiap jengkal dari tubuhnya terhadap lelaki tersebut, walau kenyataannya mereka baru saja melakukan sebuah pernikahan kilat, namun tetap saja, itu tak mengurangi ketidaknyamanan Naura pada kejadian ini.

Naura mengerang, ketika merasakan Alden mencoba menyatukan diri dengannya, lelaki itu tampak kesulitan, tapi tak ada yang dapat Naura lalukan selain mengerang kesakitan.

Lalu Alden menghentikan aksinya, ia kembali menatap wajah Naura dan tersenyum lembut kepadanya. “Jangan tegang, aku tidak akan bisa melakukannya kalau kamu saja tidak menerimaku sepenuhnya.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan?”

“Nikmati saja.”

“Rasanya tidak nyaman.”

Jemari Alden terulur,mengusap lembut bibir ranum Naura. “Aku akan membuatmu lebih nyaman, aku akan membuatmu menerimaku sepenuhnya.” Setelah ucapannya tersebut, Alden kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Naura, melumatnya dengan lembut, hingga membuat Naura melupakan ketidaknyamanannya. Naura tergoda, Naura kembali merasakan gairahnya terbangun, hingga ia tidak sadar jika Alden kembali memasukinya sedikit demi sedikit.

Alden mencoba sepelan mungkin, agar ia tidak menyakiti diri Naura. Alden bahkan melupakan gairahnya sendiri yang seakan ingin meledak karena melihat tubuh panas Naura. Tiba saatnya ketika Alden menemukan penghalang di antara mereka, dengan pelan tapi pasti, Alden mendorong lebih keras lagi, hingga tubuh mereka menyatu dengan sempurna.

Naura mengerang kesakitan, Alden tahu itu. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan karena memang seperti itulah prosesnya. Yang bisa Alden lakukan hanyalah menenangkan Naura kembali, membangun gairah primitif dari wanita tersebut dengan cara mengecupi sepanjang kulit halusnya.

Apa yang dilakukan Alden nyatanya tidak sia-sia, ketika ia mendengar erangan Naura berubah menjadi desahan demi desahan pendek yang menggoda. Naura kembali bergairah, Alden tahu itu, dan Alden memutuskan untuk menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, mencari kepuasan untuk dirinya dan juga diri Naura. Oh, betapa indahnya pengalaman pertama mereka, pengalaman pertama yang membuat tubuh keduanya candu akan sentuhan satu dengan yang lainnya.

***  

Paginya, Alden terbangun dan merasakan kepalanya sedikit pusing karena efek alkohol. Ia sedikit mengerjap saat mendapati dirinya tidak terbangun di ranjang besarnya, di kamar mewahnya, melainkan disebuah ranjang mungil di dalam sebuah kamar sederhana.

Alden melirik ke arah tubuhnya sendiri yang ternyata masih telanjang dengan selimut yang berada pada pinggangnya. Ia menolehkan kepalanya ke samping, dan mendapati tubuh Naura yang ternyata masih sama telanjangnya dan terbaring miring memunggunginya.

Sial!

Ia benar-benar melakukannya lagi dengan Naura.

Secara implusif, Alden mengulurkan jemarinya menyentuh pundak Naura. “Na, kamu, baik-baik saja, Kan?”

“Jangan sentuh aku.” Suara Naura terdengar serak ditelinga Alden. Wanita itu menangis.

“Na, jangan berlebihan, kita hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri pada umumnya.”

Naura bangun seketika, ia bahkan tidak menghiraukan ketelanjangannya di hadapan Alden.

“Kita bukan suami istri pada umumnya! Hubungan kita tidak normal, jadi jangan lakukan ini lagi!” Naura berseru keras. Sungguh, ia benar-benar tidak megerti jalan pikiran Alden.

Alden sempat terdiam sebentar, tapi ketika Naura bangkit dan mengenakan pakaiannya, Alden berkata “Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu ingin hubungan kita seperti suami istri pada umumnya? Jika iya, maka aku akan melakukannya, aku akan menikahimu kembali.”

“Tidak!” Naura menatap Alden, matanya berkaca-kaca seketika. “Aku hanya ingin kamu melupakanku, Aku sudah bahagia dengan lelaki lain, aku bahkan akan menikah awal tahun depan dengannya, jadi kumohon, jangan lakukan ini lagi.”

Jemari Alden mengepal seketika, sungguh, ia tidak menyukai kenyataan tesebut, ia tidak suka saat Naura berkata jika wanita itu sudah bahagia dengan lelaki lain, sedangkan dirinya? Sial! Ia jauh dari kata bahagia.

Alden berdiri seketika, ia meraih pergelangan tangan Naura, dan akan kembali beradu argumen dengan wanita tersebut, tapi sebelum ia membuka suaranya, suara ketukan pintu depan membuat keduanya terpaku dan saling pandang satu sama lain.

“Ra, kamu sudah siap? Aku tunggu di sepan.”

Naura membulatkan matanya seketika ke arah Alden. Itu adalah suara Panji yang kini sudah menunggu untuk menjemputnya. Ya, setiap pagi Panji memang menyempatkan diri untuk menjemput Naura ketika lelaki itu tidak ada rapat mendadak atau tidak sedang kesiangan, dan kini? Ahh kenapa harus hari ini?

Wajah Naura memucat seketika ketika membayangkan jika mungkin saja Panji tidak sabar dan masuk begitu saja ke dalam rumahnya atau bahkan ke kamarnya dan mendapati Alden dan dirinya berada di sana dalam keadaan sama-sama telanjang. Sungguh, Naura tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tanpa diduga, pada saat itu juga, Alden segera meraih pakaiannya, lalu mengenakannya dengan cepat. Oh, apa yang akan dilakukan lelaki itu? Mengingat siapa Alden membuat Naura berpikir jika mungkin saja lelaki itu akan memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Panji salah paham.

“Kamu mau apa?” tanya Naura masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

“Mau apa lagi? Aku akan menemuinya, dan menunjukkan bagaimana seriusnya hubungan kita.”

“Apa?”

Tidak! Alden tidak boleh melakukannya. Lelaki itu tidak boleh menghancurkan semua impiannya lagi. Cukup impian indah yang ia rajut bersama Alden yang dihancurkan sendiri oleh lelaki itu dulu, tidak sekarang, tidak impiannya bersama dengan Panji.

-TBC-

Maasih banyak kejanggalan-kejanggalan dan juga rahasia yang belum terungkap, jadi, selamat menunggu yaaa.. wakakakkak

3 thoughts on “Secret Wife – Chapter 4 (Pengalaman Pertama)”

  1. parah parah parah siapa tu yng d sewa alden buat jadi penghulu ma saksi ??knp d skip bu biarkan alden dan naura mengulang malam yng indah itu 😂😂
    alden bener” teman na dari iblis dia mnghalal kan berbagai cara buat dapetin tubub naura …

    bearti nunggu setaun lagi baru ketemu ma alden ….
    Selamat mnyambut 2018 bu , tetap semangat dan jaga kesehatan biar alden ma evan na jln terus 😘😘😘😘😘

    Like

  2. Wow gak nyangka alden mau melakukan nikah siri hanya karna tergoda tubuh naura… jdi alden suka ma naura hanya pura”…gak sabar nunggu kelanjutannya pa alden akan benar” bertemu ma panji…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s