romantis

Secret Wife – Chapter 3 (Terikat Denganku)

Secret Wife

 

Chapter 3

-Terikat denganku

 

Paginya, Alden menikmati sarapannya dengan tenang, meski saat ini ia hanya sendiri di meja makan, tapi ia seperti tidak berselera untuk mengganggu Naura seperti apa yang ia lakukan kemarin. Naura sudah menolaknya, dan itu benar-benar melukai harga dirinya.

Alden hanya bisa sesekali melirik ke arah Naura yang tampak menyibukkan diri dengan pekerjaannya di dapur. Ia tidak bisa berbuat banyak sebelum ia tahu apa yang terjadi dengan Naura, siapa tunangannya, dan apa hubungan mereka benar-benar dilandasi dari cinta atau tidak.

Sial!! Kenapa juga ia terlalu memikirkan tentang perempuan itu? Bukankah yang harus ia pikirkan hanyalah cara bagaimana membawa perempuan itu kembali ke atas ranjangnya? Ya, seharusnya hanya itulah yang ia pikirkan, bukan yang lainnya.

“Pagi.” Alden tersentak saat tiba-tiba Angel menyapanya dengan manja.

“Pagi.” Balas Alden singkat.

“Wooww, sekarang Kak Alden bangunnya pagi-pagi yaa, kenapa? Apa selama tinggal di luar negeri, Kak Alden sudah terbiasa bangun sepagi ini?”

“Tentu saja, di sana aku kerja, mana bisa malas-malasan.” Alden menjawab cuek. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. “Aku nggak lihat mama sepagian ini, kemana?”

“Tadi malam papa dapat telepon dari saudara yang di Jogja, katanya ada yang meninggal, jadi mereka ke sana tadi malam.”

“Kok aku nggak tahu?”

“Kak Alden kan keluar, lagian mereka nggak lama kok, mungkin cuma tiga harian di sana.”

“Baru juga pulang, tapi sudah di tinggal pergi.” Alden menggerutu sebal.

“Oh iya, dan aku juga mau menginap di rumah Mikaela, nanti sore aku berangkat.”

“Kenapa harus menginap di sana?”

“Dia patah hati, Kak. Ayolah, ini urusan wanita.”

“Patah hati?” Alden lalu menggelengkan kepalanya. “Aku nggak nyangka kalau kalian sudah pada tumbuh dewasa.”

“Ya, dan aku nggak nyangka kalau kak Alden masih kayak anak-anak.” Angel tertawa lebar, sedangkan Alden mendengus sebal.

“Kayak anak-anak? apa maksud kamu?”

“Ayolah Kak, jangan berlagak bodoh. Aku hanya ingin segera memiliki kakak ipar, begitupun dengan mama dan papa yang selalu menanyakan kapan kak Alden pulang dengan membawa seorang menantu.”

“Kamu sudah memilikinya.” Alden menjawab dengn ekspresi datarnya.

Bukannya terkejut, Angel malah tertawa lebar, “Hahhahaha jangan ngaco, deh.” Setelah itu Angel bangkit dengan membawa segelas susunya, ia kembali masuk ke dalam kamarnya.

“Kamu sudah memilikinya, Angel. Meski sekarang dia masih memungkiri statusnya.” Lagi, Alden berkata pelan dan penuh penekanan. Ya, kata-katanya itu tentu ditunjukkan untuk seseorang yang berada di dalam ruangan tersebut, siapa lagi jika bukan Naura.

***

Tujuh Tahun yang lalu….

Naura terpekik, saat merasakan sebuah lengan melingkari perutnya dari belakang. Ia menolehkan kepalanya dan alangkah terkejutnya dirinya ketika mendapati Alden berada tepat di belakangnya.

Astaga, apa yang dilakukan lelaki ini? Pikirnya.

Naura sedikit meronta, memohon supaya Alden melepaskannya. Sungguh, ia tidak enak hati jika nanti ada orang yang melihat mereka. Meski sebenarnya Naura tahu jika tak akan ada yang melihat mereka karena kini dirinya sedang berada di loteng, tempat ia menjemur pakaian.

“Tuan, tolong jangan seperti ini.” Naura berkata dengan sedikit canggung.

“Tuan? Aku sudah bilang sama kamu tadi malam, kalau kita sudah menjadi sepasang kekasih.”

“Tapi Tuan….”

“Al. panggil saja Alden.” Alden melepaskan pelukannya, lalu memutar tubuh Naura hingga menghadap ke arahnya. “Kenapa kamu begitu sulit menerima kenyataan ini?” tanya Alden sambil menatap Naura dengan intens, sedangkan Naura memilih menundukkan kepalanya, seakan enggan menatap mata Alden.

“Saya, saya hanya nggak ngerti, kenapa kamu melakukan ini.”

“Karena aku tertarik denganmu, apa itu kurang?”

“Tapi saya cuma….”

“Jangan teruskan. Ayolah, kita bisa menjalani ini. Oke, kalau kamu belum siap, kita bisa menjalaninya secara diam-diam seperti ini. Bolehkah?”

Naura hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Alden seperti sedang mendesaknya, dan ia tentu tidak bisa secara terang-terangan menolak permintaan Alden.

Tanpa diduga, tiba-tiba Alden meraih dagunya, mengangkatnya hingga mau tidak mau wajah Naura terangkat menghadap ke arah Alden.

“Kamu sungguh manis, membuatku ingin selalu mencicipi rasamu.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Alden segera menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Naura. Seperti yang terjadi di malam sebelumnya, Naura sempat terkejut, tapi karena kelembutan Alden, ia menikmati cumbuan tersebut, ia membalasnya, meski dengan ciuman seadanya, karena ia juga tidak pandai berciuman sebelumnya.

 

Naura menggeleng pelan saat bayangan tujuh tahun yang lalu menghantui kepalanya. Mereka bercumbu mesra untuk kedua kalinya di sini, di tempat ini, ketika ia selesai menjemur pakaian seperti sekarang ini. Oh, rasanya Naura ingin menghapus semua kenangan bersama Alden saat itu, kenangan yang membuat dadanya nyeri ketika mengingatnya.

Ketika Naura akan turun, ponselnya berbunyi, ia segera merogoh ponsel yang berada dalam sakunya, melihat sekilas siapa si pemanggil tersbut, lalu senyumnya terukir secara spontan saat mendapati nama Panji di sana.

Panji merupakan pria yang statusnya kini sebagai tunangan Naura. Mereka bertunangan sejak beberapa bulan yang lalu, dan merencanakan pernikahan tahun depan. Meski begitu, perasaan Naura pada Panji tak sebesar perasaan Naura pada pria pertamanya dulu.

Naura segera mengangkat telepon tersebut sebelum ponselnya berhenti berdering. “Halo.”

“Hai, kamu di mana sekarang? Sudah makan siang?”

Naura tersenyum. Panji memang sangat perhatian padanya. “Aku di loteng, habis jemur pakaian, dan aku sudah makan siang. Kamu sendiri lagi ngapain?”

“Aku di kantin kantor. Lagi makan siang.”

“Kok telepon aku? Harusnya kamu ngabisin waktun makan siang kamu dengan makan dan istirahat.”

“Nggak tau kenapa, aku kangen saja. Tadi pagi aku nggak bisa ngantar kamu ke tempat kerja, jadi sekarang aku kangen.”

Naura tertawa lepas. “Sudah pandai ngerayu, ya?”

“Ngerayu tunangan sendiri nggak apa-apa, kan?”

“Iya, iya, nggak apa-apa. Ya sudah, kamu lanjutin makannya, aku masih ada kerjaan lain.”

“Oke, nanti malam kujemput.”

“Iya.”

“Ra, aku sayang kamu.”

Naura terdiam sebentar, sebelum ia membalas ucapan Panji, “Ya, Aku juga sayang kamu.” Lalu sambungan itu terputus. Naura menghela napas panjang sebelum ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku baju yang ia kenakan.

Naura membalikkan tubuhnya, dan bersiap pergi dari tempat itu, tapi kemudian ia terlonjak saat mendapati Alden yang ternyata sudah berdiri santai dengan menyandarkan punggungnya pada dinding. Lengan lelaki itu bersedekap, tapi tatapannya menajam, dan Naura tidak tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu di sini.

Naura memilih mengenyahkan keberadaan Alden, mungkin lelaki itu berada di sana karena keperluan lain, pikirnya. Padahal, dalam hati Naura yang paling dalam, ia tahu, jika Alden berada di sana karenanya.

Naura mencoba berjalan keluar melewati Alden, tapi ketika sampai di hadapan lelaki tersebut, lelaki itu meraih pergelangan tangannya. Naura menatap Alden seketika, ia tidak ingin jika Alden lagi-lagi membahas hubungan mereka.

“Berikan ponsel kamu.”

“Untuk apa?”

“Berikan atau aku akan merebutnya.”

Naura hanya diam, ia tentu tidak akan mematuhi apa yang dikatakan oleh Alden. Mungkin dulu ia akan menurutinya karena ia terlalu bodoh, tapi sekarang, tidak akan.

Tapi secepat kilat Alden merebut ponsel yang berada dalam sakunya. “Tuan, Apa yang anda lakukan?”

Alden tidak menghiraukan Naura, ia sibuk membuka isi dari ponsel Naura, mencari tahu siapa yang tadi menghubungi Naura karena ia sempat mendengar percakapan mereka yang terdengar mesra menurutnya.

Alden menemukannya, di bagian panggilan masuk. Tampak sebuah kontak bernama Panji. Alden menatap Naura seketika. “Siapa Panji?” tanyanya dengan suara menajam.

Naura tidak menjawab, ia memilih diam karena baginya, tidak ada yang perlu ia jelaskan dengan Alden. Ya, hubungannya dengan Alden sudah benar-benar berakhir, dan ia tidak ingin kembali terjerumus dalam hubungan asmara dengan lelaki itu.

“Katakan, siapa dia? Apa dia tunanganmu?” tatapan mata Alden semakin menajam seiring sikap diam yang ditampilkan Naura padanya. Dengan spontan Alden memutar tubuh Naura dan menghimpitnya diantara dinding.

“Dengar, Na. Kamu masih milikku, kamu masih istriku.”

Naura menggeleng pelan. “Kita nggak pernah nikah.”

“Ya, kita pernah nikah.”

“Itu hanya main-main, Al.” Naura melirih.

“Tapi aku tulus melakukannya, Na. aku sungguh-sungguh.”

“Kita sudah selesai sebelum kamu pergi ke luar negeri.”

“Belum.” Alden menjawab cepat. “Tidak ada kata selesai diantara kita.” Alden semakin mendekatkan wajahnya, berharap ia dapat meraih bibir Naura dan melumatnya seperti apa yang ia lakukan kemarin malam. Tapi Naura segera memalingkan wajahnya, menolak secara halus apa yang akan dilakukan Alden padanya.

Sekali lagi, harga diri Alden terlukai, ia tidak pernah ditolak sebelumnya, apalagi dengan wanita yang selama ini masih ia anggap sebagai miliknya. Dengan putus asa, Alden melepaskan tubuh Naura.

“Kamu, sudah benar-benar menganggap hubungan kita selesai?” tanya Alden memastikan.

“Kita sudah selesai sejak aku tahu kalau kamu hanya main-main denganku.”

“Aku tidak pernah main-main.” Alden menggeram kesal. “Dan aku akan membuktikannya ketika aku mampu memenangkan hatimu kembali.” Setelah kalimatnya tersebut, Alden segera pergi meninggalkan Naura.

Mata Naura memejam seketika. Ia takut, sungguh takut, tapi bukan takut dengan Alden, melainkan takut dengan perasaannya sendiri yang mungkin saja akan kembali jatuh pada pesona Alden seperti dulu. Naura menghela napas panjang, saat bayang-bayang masa lalu kembali mengusik pikirannya, bayangan dimana ia masih buta dalam menilai, apakah Alden benar-benar menyayanginya, atau hanya memanfaatkannya saja.

 

“Dimana orang rumah?” Naura yang tadi sibuk mencuci peralatan dapur akhirnya membalikkan tubuhnya saat mendengar pertanyaan tersebut. tampak Alden sedang berdiri mengawasinya di seberang ruangan.

“Bu Alisha keluar sama Angel, ibu ada di atas, lagi jemur pakaian, yang lain sibuk bersih-bersih di ruang lain.”

“Jadi…. Saat ini… kita hanya berdua, di dapun ini?” tanya Alden dengan nada menggoda, lelaki itu bahkan sudah berjalan mendekat ke arah Naura.

“Jangan macam-macam.” Naura kembali membalikan tubuhnya, tak ingin Alden melihat rona merah dipipinya akibat godaan dari lelaki tersebut.

Saat ini, sudah Enam bulan lamanya mereka menjalin hubungan secara diam-diam, dan Naura tidak memungkiri, jika kini Alden sudah mampu mencuri seluruh isi hatinya.

“Ayo, ikut aku.”

Seperti biasa, Alden memperlakukan Naura seenaknya seakan-akan lelaki itu adalah pemilik dari diri Naura. Dan Naura tak bisa menolak, ketika Alden meraih pergelangan tangannya kemudian menyeretnya masuk ke dalam kamar lelaki tersebut.

Ketika keduanya sudah berada di dalam kamar Alden, Alden segera memeluk tubuh Naura. “Aku kangen sama kamu.” ucapnya dengan spontan.

“Kangen? Kita ketemu setiap hari.” jawab Naura yang tidak menolak pelukan dari Alden, entahlah, ia merasa nyaman saat berada dalam pelukan seorang Alden Revaldi.

“Ya,tapi kita tidak bisa melakukan ini.” Alden lalu melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Naura dengan intens, matanya turun pada bibir Naura yang tampak penuh menggoda, kemudian, ia tidak dapat mengelak lagi, jika dirinya begitu menginginkan wanita tersebut.

Alden menyambar bibir Naura, melumatnya penuh gairah, sedangkan Naura hanya bisa membalas lumatan tersebut. Naura tidak memungkiri jika dirinya juga merindukan Alden, merindukan sentuhan lelaki itu yang tampak begitu menyayanginya, jadi Naura membalas semua perlakuan Alden dengan penuh kasih sayang.

Alden semakin menjadi. Ia mendorong sedikit demi sedikit tubuh Naura hingga terbaring di atas ranjangnya. Lalu ia menindih tubuh Naura tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Bibir Alden lalu turun, merambah ke arah dagu Naura, lalu turun lagi mengecupi sepanjang leher jenjang Naura.

“Al…” Naura mendesah. Mendengar desahan Naura sembari memanggil namanya membuat Alden tersenyum senang. Karena bagi Alden, saat Naura memanggilnya dengan hanya menggunakan namanya saja, ia merasa tak ada jarak sedikitpun antara dirinya dan juga Naura.

“Hemm.” Alden tidak menjawab, ia hanya menggeram sembari mengecupi sepanjang kulit halus Naura.

“Kita nggak boleh…” Naura menahan erangannya, astaga, apa yang sedang terjadi dengnnya?

Alden menghentikan aksinya, lalu mengangkat wajahnya ke arah Naura. “Kenapa?” tanyanya bingung.

“Uum, kita nggak boleh melakukan lebih.”

“Kenapa? Karena kita belum nikah?” tanya Alden lagi.

“Ya, itu salah satu alasannya.”

Alden mendengus, sebelum kemudian ia bangkit dan duduk di pinggiran ranjangnya. “Ayo kita menikah.” Ajakan Alden mengejutkan Naura, tapi kemudian Naura dapat menguasai dirinya saat menyadari jika Alden pasti hanya bercanda.

Naura bangun dan duduk di sebelah Alden ia tersenyum kemudian meraih jemari Alden. “Menikah bukan hal yang gampang, lagi pula, bukannya kamu harus ke luar negeri tahun depan?”

“Ya, tapi aku bisa menikahimu sebelum aku pergi.”

“Al, bukannya aku menolak, tapi-”

Alden berlutut seketika di hadapan Naura yang masih duduk di pinggiran ranjangnya. Ia meremas jemari Naura dan berkata “Kita akan menikah dalam waktu dekat, dan kamu akan tetap menjadi milikku, terikat denganku meski aku tidak berada di sisimu.” Kesungguhan yang terdengar dari kata-kata Alden membuat diri Naura luluh seketika, ia terpana dengan ketulusan yang tampak pada diri Alden. Benarkah Alden akan menikahinya dalam waktu dekat? Sunguhkah?

-TBC-

2 thoughts on “Secret Wife – Chapter 3 (Terikat Denganku)”

  1. jadi mereka beneran nikah sirih sblom alden keluar negri ??
    trus apa yng mmbuat mereka putus dan naura sangat membenci alden ??
    jangan bilang ql alden cuma ngencanin naura karna taruhan 😱😱😱😱
    next bu dan tetap semngat yaa , d tunggu kelanjutan na 😘😘😘😘😘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s