romantis

Secret Wife – Chapter 2 (Tanda Jadi)

Secret Wife

 

Haii, maaf bgt yaa baru update, jadi ceritanya kemarin itu leppynya Mom Hardiscnya rusak, hikks jadi mom belom bisa lanjut, huaaa,,,,, dan sekarang mom baru bisa lanjut lagi nih, happy reading yaa.. hehehheheh. oh, iya, selamat datang juga buat pendatang baru, yang baca Via PC, jangan Horor yaa dengerin backsound suara mommy hahahhahaha. btw, kalian juga boleh Requez lagu lohh buat ganti backsoundnya, hihihi. untuk yang baca via Hp, maap anda belum beruntung, hahhahahah udahh ahh ahppy reading aja wakakakkaka.

 

 

Chapter 2

-Tanda Jadi-

 

Naura menikmatinya, tentu saja. Bibir itu membelai lembut bibirnya, seperti dulu, menggodanya hingga mau tidak mau Naura menikmati apa yang dilakukan oleh Alden, meski sebenarnya ia tahu jika hal tersebut salah.

Salah?

Mengingat kata tersebut, Naura seperti tersadarkan oleh sesuatu. Sekuat tenaga, ia mencoba melepaskan tautan bibir Alden dengan bibirnya, mendorong tubuh lelaki itu sekuat tenaga hingga tautan bibir mereka terlepas.

Napas naura terputus-putus karena kemarahan yang sudah memuncak dikepalanya, namun itu tak menyurutkan keinginan Alden untuk kembali meraup bibir Naura. Alden melakukannya dengan sangat cepat hingga Naura tak bisa menghindar dari tindakan tersebut. Bibir mereka kembali bertautan, Alden mencumbunya dengan panas, dengan keras, hingga Naura mengerang kesakitan.

Sekali lagi, dengan sekuat tenaga, Naura mendorong kuat-kuat dada Alden hingga tautan bibir mereka kembali terputus.

“Tolong! Jangan lakukan!” Naura berseru keras saat Alden akan mendekat kembali pada wajahnya.

“Kamu menikmatinya, Na. aku tahu kamu menikmatinya.”

Naura menggelengkan kepalanya. “Jangan lakukan itu lagi, kumohon.”

“Kenapa? Karena kamu memiliki tunangan?” tantang Alden.

Naura menatap Alden seketika, ia tidak percaya jika Alden mengetahui status terbarunya.

“Kamu masih milikku, bahkan ketika aku meninggalkanmu.”

Naura hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin, Alden masih memikirkan tentang masa lalu mereka. Masalalu yang hanya seperti impian bagi dirinya.

“Aku akan mencari tahu siapa pria sialan itu.”

Naura tersentak dengan ucapan Alden. “Untuk apa?”

“Aku akan memberikan pelajaran padanya, karena dia sudah berani melamar istriku.”

Tidak!

Katakan jika semua ini hanya mimpi. Naura tidak suka jika Alden kembali mengusik hidupnya, apalagi membawa masa lalu suram mereka. Dan satu lagi, ia bukan istri dari seorang Alden Revaldi, ia bukan istrinya. Pernikahan mereka hanya main-main, meski sebenarnya, dulu ia menganggap jika hal tersebut benar-benar terjadi, nyatanya itu hanya sebuah rencana busuk dari seorang Alden Revaldi.

***

Tujuh tahun yang lalu…..

 

“Alden.. Alden…”

“Apaan sih Ma?” Alden menjawab panggilan mamanya dengan malas-malas. Sore ini, ia memang sedang asik memainkan game di dalam kamarnya, dan ia kesal ketika mamanya mengganggunya.

“Bangun dan antar adik kamu ke pesta perpisahan sekolahnya.”

“Kenapa nggak sama Naura saja sih, Ma?”

“Naura juga ikut, tapi mereka nggak ada yang ngantar.”

“Supir?”

“Supir jemput Papa yang baru pulang dari Paris. Ayo bangun dan antar mereka.”

Dengan mendengus sebal, Alden bangkit dari tempat tidurnya. Sedikit malas ia mengambil pakaiannya lalu mengganti pakaiannya tersebut dengan pakaian yang lebih rapih. Ah, sangat mengesalkan sekali. Gerutunya dalam hati.

Saat ini, usia Alden sudah memasuki 21 tahun, sedangkan Angel dan Naura sendiri tiga tahun lebih muda daripada dirinya. Kedua gadis itu memang satu sekolah, bahkan satu kelas, yang baru lulus SMA sekitar tiga minggu yang lalu. Bukan tanpa alasan Alden menolak untuk mengantar keduanya, karena memang sejak beberapa bulan terakhir, Alden memutuskan untuk menghindari salah satu dari mereka. Ya, siapa lagi jika bukan Naura.

Entah kenapa, baginya, Naura saat ini sangat berbeda dengan Naura yang dulu. Perempuan itu tampak mempesona untuknya, dan Alden tidak suka kenyataan jika dirinya mulai tertarik dengan perempuan tersebut.

Semua itu berawal dari pesta ulang tahun Angel yang ke Delapan belas, yang di rayakan sekitar Tiga bulan yang lalu. Naura tampak dewasa, dan cantik dengan gaun yang dibelikan oleh mamanya. Ya, Naura memang sudah dianggap anak sendiri oleh mamanya, tapi apa mamanya itu tidak berpikir jika mendandani Naura seperti itu saat itu membuat Alden tergoda? Ahh sial!

Dan kini, kejadian itu akan terulang lagi, saat Alden yakin jika Naura pasti akan berdandan untuk kedua kalinya di pesta perpisahan sekolahnya. Sial! Apa yang akan terjadi dengannya??

Dengan sedikit acuh, Alden turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Ia segera menuju ke garasi, mengeluarkan mobilnya, dan ternyata dua makhluk cantik itu sudah berada di sana menunggunya.

Sungguh, Alden sudah seperti orang tolol saat ini, ketika ia menatapn Naura dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

Sial!! Naura sudah seperti bebek jelek yang berubah menjadi angsa yang cantik saat ini. Jika ada orang yang tak mengenal siapa Naura dan melihat penampilan Naura malam ini, maka orang itu tentu akan menganggap jika Naura adalah anak orang kaya.

Kecantikannya setara dengan Angel, adiknya, padahal Alden sangat yakin, jika Naura hampir tidak pernah melakukan perawatan kulit seperti yang dilakukan Angel setiap minggunya. Kecantikan Naura terpancar begitu alami, begitu mempesona hingga membuat Alden secara spontan menelan ludahnya dengan susah payah.

Berengsek!

Untuk pertama kalinya, ia bergairah hanya karena melihat perempuan berdiri dengan pakaian lengkapnya. Benar-benar sialan, bukan!

“Kak, kamu ngapain bengong di sana? Ayo berangkat, kita sudah telat.” Angel memprotes.

Dan masih seperti orang tolol, Alden hanya mengangguk sembari berjalan memasuki mobilnya. Matanya sesekali melirik ke arah Naura yang hanya menundukkan kepalanya. Oh, benar-benar bajingan! Ia mengutuk siapa saja yang telah merubah Naura menjadi secantik saat ini.

Alden menghidupkann mesin mobilnya, lalu ia mulai menjalankan mobilnya. Mencoba berkonsentrasi ia mengemudikan mobilnya, namun dengan spontan, sesekali ia melirik ke arah kaca mobilnya yang memantulkan bayangan Naura yang duduk di jok belakang.

“Siapa yang merias?” dengan spontan Alden bertanya.

Angel yang sejak tadi memainkan ponselnya akhirnya mengangkat wajahnya ke arah Alden. “Apa? Siapa? Aku? Aku dandan sendiri.”

“Dia?” Alden menunjuk Naura dengan dagunya.

“Aku juga.” Angel lalu tertawa lebar.

Sial! Alden mengumpat dalam hati. “Apa itu nggak keterlaluan. Kalian baru lulus SMA, nggak seharusnya kalian dandan seperti ini.”

“Ayolah, Kak. Ini pesta perpisahan, masa iya kami harus pakai T-shirt dan jeans tanpa make up sedikitpun?”

“Seperti itu lebih bagus, tidak mengganggu.” Alden berkata cuek.

“Mengganggu? Memangnya kami mengganggu kak Alden?”

Alden tampak salah tingkah. “Udahlah, lupain.” Sungutnya.

“Kak, di perempatan berhenti ya, pacarku jemput.”

“Pacar apa?” mata Alden membulat seketika ke arah Angel.

“Aku sudah Delapan belas tahun, sudah wajar kalau aku punya pacar.”

“Lalu Naura?”

“Kakak antar aja ke tempat acara.”

Oh ya, sempurna bukan? Dengan begitu ia bisa berduaan dengan Naura dan ia akan semakin gila dengan ketegangan sialan di pangkal pahanya. Hebat sekali adiknya ini. Alden tak berhenti menggerutu dalam hati.

***  

“Kita nggak usah ke acara itu saja.” Tiba-tiba Alden berkata memecah keheningan. Saat ini, Alden memang hanya berdua dengan Naura di dalam mobilnya, sedangkan Angel sudah di jemput oleh kekasihnya beberapa menit yang lalu.

“Uum, kalau kita nggak kesana, kita kemana?”

“Temani aku keluar.”

“Kemana?” Naura bertanya lagi.

“Ke tempat temanku.”

Naura tidak mengiyakan, namun, ia juga tak dapat menolak, masalahnya, Alden memang tak bisa ditolak, dan sepertinya, ia tidak memiliki hak untuk menolak, mengingat saat ini dirinya sedang menumpang di mobil Alden.

Sepanjang perjalanan, Naura hanya diam, mau membuka suarapun ia canggung. Alden tampak serius dan berkonsentrasi sata mengemudikan mobilnya, jadi Naura tidak berani untuk sekedar bertanya akan kemanakah mereka.

“Nanti, jangan membantah apapun yang kukatakan.”

“Apa?” Naura tidak mengerti.

“Kamu sudah punya pacar?” tanya Alden tanpa ekspresi.

Pipi Naura memerah seketika. Ia menundukkan kepalanya secara spontan. Selama ini, tak ada yang pernah bertanya tentang hal pribadi seperti ini padanya. Dan Alden menanyakannya dengan santai tanpa ekspresi sedikitpun.

“Kenapa? Kamu belum ada pacar, kan?” tanya Alden lagi memastikan semuanya.

Naura hanya menggeleng pelan. “Siapa juga yang mau pacaran sama saya.” lirih Naura pelan. Ya, siapa juga yang mau berkencan dengannya? Ia hanya anak seorang pembantu, dengan pergaulannya di sekolah yang populer yang hampir seluruh muridnya adalah anak orang berada, Naura tidak berani mendekati murid lain bahkan untuk sekedar berteman.

“Apa salahnya dengan menjadi pacar kamu?”

Pertanyaan Alden membuat Naura mengangkat wajahnya menatap ke arah Alden. Rupanya Alden masih konsentrasi dengan jalanan di hadapannya.

“Kalau begitu, mulai malam ini, kamu sudah menjadi pacarku.”

“Apa?” Naura yakin jika ia hanya salah dengar.

Alden lalu mendaratkan sebelah tangannya pada paha Naura, ia meremasnya pelan sebelum berkata “Ya, kamu jadi pacarku, mulai malam ini. Dan aku tidak terima penolakan.” Dan Naura hanya ternganga menanggapi kalimat Alden tersebut.

 

Itu adalah pertama kalinya Naura menjalin hubungan dengan Alden. Tujuh tahun yang lalu, ketika Naura sedikit demi sedikit mulai jatuh pada pesona seorang Alden Revaldi, sebelum kemudian, lelaki itu menghancurkan semua impian dan harapannya…

***

Alden membanting pintu kamarnya sekeras mungkin. Ia tidak peduli jika apa yang ia lakukan akan membangunkan seisi rumahnya. Alden meremas rambutnya dengan frustasi. Rupanya, Naura sudah berbeda, perempuan itu bukan lagi menjadi perempuan penurut seperti dulu, dan sepertinya, Alden harus bekerja ekstra untuk mendaptkan kembali hati Naura.

Dulu, Naura tidak berani menolaknya, Naura juga tidak berani membantah kata-katanya, tapi kini? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan lelaki yang menjadi tunangan perempuan itu? Sial! Tidak bisa dibiarkan. Alden akan mencari tahu siapa lelaki itu dan menyingkirkannya dari kehidupan Naura. Naura hanya miliknya, entah dulu, atau sekarang, perempuan itu tetaplah menjadi miliknya.

Alden lalu melemparkan diri ke atas ranjang besarnya, ia terbaring nyalang, dengan mata yang menatap ke arah langit-langit kamarnya, lalu sekelebat bayang manis masa lalunya dengan Naura menari di kepalanya.

 

“Kenapa Tuan Alden mengenalkan saya sebagai pacar Tuan?”

“Tuan? Kamu kekasihku sekarang, jadi jangan panggil aku tuan.”

“Tapi-”

“Aku tidak ingin dibantah.” Alden masih berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. “Al, panggil saja begitu. Kamu bisa memanggilku Tuan di depan banyak orang, tapi ketika kita hanya berdua, panggil saja namaku.”

Naura tidak menjawab, ia masih tidak habis pikir dengan Alden yang tadi baru saja mengajaknya ke tempat teman-temannya. Gilanya lagi, lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Alden, dan Naura hanya diam, ia tidak membantah atau meralat ucapan Alden saat itu.

“Kenapa? Kamu nggak suka dengan hubungan kita?”

“Uumm, bukan begitu, saya hanya tidak mengerti, kenapa Tuan-”

“Alden.” Ralat Alden cepat.

“Uum, kenapa kamu melakukan ini sama saya.” Naura masih enggan memanggil Alden dengan namanya saja, dan itu membuat Alden sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Karena aku suka sama kamu, apa itu kurang?”

“Uum, tapi bagaimana bisa suka? Saya kan cuma…”

“Aku juga nggak tau kenapa aku bisa menyukaimu, Na! mungkin karena kamu menggodaku, atau mungkin karena pertahananku terlalu lemah saat melihat perempuan secantik kamu.”

Naura tidak menjawab, hanya tampak rona merah di pipinya yang tampak menyala. Oh, perkataan Alden benar-benar membuat pipinya memanas.

“Saya tidak pernah menggoda kamu.”

“Ya, aku ngerti, tapi bagaimana kalau aku tergoda? Ayolah, aku sudah dewasa, dan melihat kamu berkeliaran di dalam rumahku setiap harinya benar-benar menggangguku.”

“Uum, saya minta maaf, nanti saya akan bilang sama ibu untuk mencari rumah kontrakan-”

“Tidak! Bukan itu maksudku, astaga.” Alden mengerang frustasi. Lalu ia menepikan mobilnya, dan ketika mobilnya berhenti, ia segera menatap ke arah Naura. “Maksudku adalah, kamu sudah membuatku tertarik denganmu, mungkin karena keberadaanmu yang selalu berada di sekitarku, atau mungkin karena faktor lain, aku sendiri tidak tahu, tapi yang terpenting, aku tertarik denganmu, dan aku ingin kamu menjadi kekasihku.”

“Tapi saya-”

“Aku nggak terima penolakan. Seperti yang kukatakan di awal.”

Naura hanya menunduk saat Alden menatapnya dengan intens. Kemudian, Naura merasakan jemari Alden meraih dagunya, mengangkatnya hingga wajah mereka saling beradu pandang cukup lama, hingga kemudian Alden berbisik pelan. “Anggap saja ini tanda jadi hubungan kita.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Alden mendaratkan bibirnya pada bibir Naura.

Naura sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Alden, tapi ia tidak menolak, ia tidak meronta ataupun menghindar. Yang Naura lakukan hanya diam, lalu mengikuti irama bibir Alden yang seakan mengajak bibirnya menari. Menari dengan lembut dan seirama, hingga membuat ciuman pertama mereka terasa begitu manis dan tak kan terlupakan.

Saat setelah bayangan itu menari dalam kepalanya, Alden tersenyum, lalu secara spontan ia meraba bibirnya sendiri. Bibir Naura masih sangat terasa di sana, tapi bukan rasa manis seperti ciuman pertama mereka. Kenapa? Apa karena kini Naura sudah memiliki pria lain yang dicintainya? Atau, karena kesalahan fatalnya di masalalu yang hingga kini membuat Naura belum juga memaafkannya??

-TBC-

btw, ini diapenampakan Alden dan juga Naura yaa.. hehehhe jangaan baper lohh wakakakkakak

3 thoughts on “Secret Wife – Chapter 2 (Tanda Jadi)”

  1. mau dong d kasih tanda jadi ma alden 😍😍😍
    alden mah main sosor az dia …

    yg jadi cast naura cocok tu lemah lembut dan sederhana tapi tetap cantik .

    Like

  2. Alden kok maksa sih nyuruh naura jdi pacarnya…masih penasaran ma mereka pa bener mereka dah nikah tpi keluarga alden kok gak tau pa nikahnya sembunyi”…mang alden bikin kesalahan apa sampai naura gak memaafknnya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s