romantis

Secret Wife – Chapter 1 (Masih Seindah dulu)

Secret Wife (The Wedding #4)

 

Chapter 1

-Masih seindah dulu-

 

“Kakak.” Panggilan manja itu membuat Alden menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Angel, adiknya berada tak jauh di seberang meja dapur. “Apa yang kakak lakukan di sana?” tanya Angel sembari menatap kedekatan Alden dengan Naura.

“Ahh, aku cuma mau di bikinkan kopi, memangnya apa lagi?” ucap Alden sembari melirik ke arah Naura dengan lirikan melecehkan.

Ya, seperti dulu, seperti biasanya.

Angel berjalan mendekat, mengamati sang kakak dan juga perempuan sederhana di hadapannya. “Kakak masih kenal dia? Ini Naura, anaknya Bibi Tina yang dulu kerja di sini.”

“Ya, kakak masih bisa sedikit mengingatnya.”

Naura hanya mampu menunduk. Ia tidak suka di tatap seperti itu oleh Alden. Tapi mau bagaimana lagi, Alden adalah majikannya, jadi ia tidak dapat memprotes apa yang di lakukan lelaki itu.

“Bi Tina sudah nggak ada, jadi sekarang Naura yang gantiin Bibi kerja di sini.”

“Jadi, dia masih tinggal di sini?” pertanyaan itu mungkin terdengar biasa saja bagi Angel, tapi tentu berbeda dengan Naura. Ada nada mengancam yang terselip dalam setiap katanya, yang entah mengapa membuat Naura terancam atas keberadaan Alden.

“Enggak, Naura nggak tinggal di sini lagi, dia sudah ada rumah kontrakan sendiri, tapi dia kerja di sini sampai malam. Dan aku suka dengan keberadaannya di sini, setidaknya aku tidak kesepihan, bukan begitu kan, Ra?”

Naura hanya mengangguk tanpa berani mengangkat wajahnya.

Well, sepertinya aku juga akan senang dengan keberadaannya di sini.” Lagi-lagi, kalimat itu diucapkan Alden dengan begitu santai. Tapi entah kenapa Naura menangkap maksud lain dalam ucapan lelaki tersebut.

Astaga… tidak! Jangan lagi, jangan lagi seperti dulu.

***

Menyiapkan makan malam memanglah menjadi kebiasaan Naura sebelum dia pulang dari bekerja dirumah sebuah keluarga yang sudah seperti keluarganya sendiri. Keluarga yang ia kenal sejak ia berumur Sepuluh tahun.

Ya, keluarga Revaldi sudah seperti keluarga kedua untuknya. Ketika ayahnya kabur meninggalkannya dan juga ibunya, ia bergantung pada keluarga ini. Ibu Alisha, Nyonya dari keluarga Revaldi benar-benar sangat baik. Wanita itu mau menampungnya di rumah ini, padahal saat itu ia hanya anak dari seorang pembantu rumah tangga di rumahnya. Naura merasa sangat beruntung, karena ia juga disekolahkan oleh keluarga Revaldi hingga lulus SMA. Sungguh, Naura tidak tahu harus membalas kebaikan keluarga itu dengan apa, yang Naura tahu adalah ketika ibunya meninggal dua tahun yang lalu, sang ibu berpesan agar Naura tetap melayani keluarga Revaldi apapun yang terjadi. Dan kini, ia melakukan apa yang dipesankan mendiang ibunya.

Malam ini sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya, jika sebelumnya Naura bisa dengan leluasa menata makan malam dengan pelayan-pelayan lainnya diruang makan, maka malam ini ia merasa kepercayaan dirinya sedang diuji ketika ia merasakan sepasang mata tajam tak berhenti mengamati gerak geriknya.

Mata siapa lagi jika bukan mata seorang Alden Revaldi?

Astaga, Naura bahkan tidak habis pikir, apa yang dilakukan pria itu di ruang makan ketika jam makan malam belum tiba?

Sesekali mata Naura melirik ke arah Alden. Pria itu duduk santai mengawasi apa yang ia lakukan. Mata pria itu masih setajam dulu, rahangnya tampak tegas, dan bibirnya… Ah, bibir yang selalu menyunggingkan senyuman yang tampak melecehkan dimatanya.

Alden masih sama seperti dulu. Seperti enam tahun yang lalu ketika mereka berdua terlibat dalam suatu hubungan gelap hingga membuat Naura tak dapat berpaling dari pria lain selain pria itu.

Naura menggelengkan kepalanya, ketika bayangan masalalu mulai menghantuinya. Bayang masalalu yang terasa indah namun juga begitu menyakitkan ketika ia mengingatnya.

Dengan memberanikan diri dan mencoba tak menghiraukan keberadaan Alden, Naura berjalan menuju ke arah meja makan sembari membawa piring-piring kosong. Ia meletakkan piring-piring tersebut pada tempatnya seperti biasa, hingga ketika Naura meletakkan piring kosong tersebut tepat di hadapan Alden, tubuhnya membatu ketika jemari Alden dengan sengaja menyentuh jemarinya.

Naura melirik ke arah Alden, dan seperti biasa, lelaki itu menatapnya dengan tatapan yang melecehkan. Oh, ia benci sekali dengan tatapan itu.

“Maaf.” Naura mencoba melepaskan jemarinya, tapi jemari Alden semakin erat menggenggamnya. Mata Naura segera mengawasi ke segala penjuru, takut jika apa yang di lakukan Alden di lihat oleh pelayan-pelayan lain, ia dapat menghela napas lega saat pelayan-pelayan lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Naura kembali menatap Alden, dan memohon agar Alden melepaskan genggaman tangannya. Sungguh, ia tidak mau jika ada yang melihat tindakan Alden yang tentunya akan membuat orang yang melihatnya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan mereka berdua.

“Kamu menghindar, Na?”

Naura hanya menggelengkan kepalanya. Tubuhnya bergetar ketika mendengar Alden memanggilnya dengan panggilan tersebut. Ya, Hanya Alden yang memanggilnya dengan panggilan “Na” bukan “Ra” atau “Naura” seperti yang lainnya.

“Kalau tidak, nanti malam aku tunggu di kamarku.”

Mata Naura membulat seketika ke arah Alden. “Maaf?” tanyanya tak percaya. Ia berharap jika apa yang ia dengar itu salah.

“Kamu mendengarnya, kan? Aku menunggumu di kamarku setelah makan malam.”

“Maaf, tapi…”

“Ambilkan makan malamku, cepat. Aku sudah lapar.” Alden memotong kalimat Naura hingga Naura sadar jika ia tidak memiliki hak untuk menolak majikannya. Ahhh, kenapa selalu seperti ini.

Naura berbalik, meninggalkan Alden dengan perasaan yang sudah campur aduk. Alden memintanya untuk ke kamar lelaki itu nanti, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia menuruti apa yang diinginkan Alden? Astaga…

***

Hingga jam setengah sepuluh malam, Alden masih menunggu Naura di dalam kamarnya. Tadi, setelah makan malam, ia segera masuk ke dalam kamarnya. Berharap jika naura segera menyusulnya karena ia ingin memberikan sesuatu pada perempuan tersebut.

Alden melirik sebuah kotak kecil di atas meja di sebelah ranjangnya. Meraih kotak tersebut lalu membukanya. Alden berakhir dengan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum seakan menertawakan dirinya sendiri.

Sial! Untuk apa juga ia membelikan perempuan itu hadiah mewah seperti itu? Sungguh, barang itu pasti tidak akan cocok dikenakan oleh Naura.

Alden kembali menutupnya, menaruh kotak tesebut di tempat semula. Ia lalu melirik ke arah jam tangannya dan berakhir menghela napas panjang. Alden terpaksa bangkit, mau tidak mau ia harus menyeret Naura untuk masuk ke dalam kamarnya, ia tidak peduli jika akan ada orang di dalam rumah ini yang tahu tentang hubungan mereka, nyatanya, Alden sudah sangat merindukan perempuan tersebut.

Ya, merindukan tubuhnya…

Turun dari kamarnya yang berada di lantai dua, Alden segera menuju ke arah dapur. Rupanya, di dapur sudah sepi, tak ada lagi aktivitas di sana. Alden menuju ke ruang tengah, dimana di sana terdapat Brandon Revaldi, Ayahnya yang kini tengah menonton siaran langsung pertandingan sepak bola.

“Pa, kok sudah sepi.” Alden mencoba mencari tahu tapi tidak ingin terlalu mencolok.

“Hei, kemarilah. Temani papa nonton bola.” Ajak Brandon pada putera pertamanya.

Mau tidak mau Alden duduk di sebelah Brandon. “Yang lain kemana?”

“Adik kamu sudah tidur, mama juga sudah tidur karena tadi merasa kurang enak badan. Jadi papa nonton bola sendirian.”

Ohh, bukan itu yang ingin diketauhi Alden. Ia hanya ingin bertanya, dimana Naura?

“Maksud Alden, para pelayan rumah. Kok sudah sepi.”

“Sudah pada istirahat mungkin, besok kan bangun pagi. Kenapa? Kamu ingin dibuatkan sesuatu?”

Alden menggeleng dengan malas. Sungguh, ia hanya ingin tahu dimana keberadaan Naura.

“Sayang sekali Naura sudah pulang, kalau masih disini, mungkin dia sudah nyiapin cemilan malam untuk kita.”

Alden menatap sang ayah seketika. “Pulang?” Ahh iya, bukankah tadi siang Angel sempat bilang jika Naura sudah mengontrak rumah sendiri? Sial! Berani-beraninya perempuan itu menolak ajakannya dan tak menghiraukan perintahnya.

“Ya, pulang ke rumah kontrakannya.”

Alden menurunkan bahunya sembari menghela napas panjang. Brandon menatap ke arah Alden, sepertinya Alden kecewa dengan jawabannya. Tapi apa yang membuatnya kecewa?

“Kamu kenapa? Ada yang menganggu pikiranmu?” Brandon bertanya lagi.

“Enggak, Pa. tadi cuma mau ngasih oleh-oleh buat Naura.”

Brandon mengangkat sebelah alisnya. “Naura? Kamu, membelikan sesuatu untuk dia?”

Alden sedikit salah tingkah dengan pertanyaan ayahnya, tapi ia mencoba mengendalikan dirinya.

“Uum, ya, aku kan kenal dia sejak kecil. Dan aku tahu dari Angel kalau dia masih bekerja di rumah kita, jadi aku belikan dia sesuatu, Pa.”

Brandon menganggukkan kepalanya seakan mengerti apa yang diucapkan puteranya tersebut. “Ya, Papa ngerti. Kamu bisa ngasih barangnya besok, atau mungkin menyusul ke rumah kontrakannya.”

Alden menatap ayahnya dengan semangat. “Papa tahu dimana rumah kontrakannya?”

“Ya, tentu saja. Keluar dari perumahan, kamu hanya perlu belok kiri, lalu lurus saja, sebelum perempatan pertama, ada sebuah gang besar, kamu masuk saja, rumah kontrakan Naura adalah rumah nomor 5 dari ujung gang.”

Alden berdiri seketika. “Terimakasih infonya, Pa.” dengan semangat Alden meninggalkan ayahnya. Tapi pertanyaan ayahnya membuat Alden menghentikan langkahnya seketika.

“Kamu, beneran nggak ada apa-apa sama dia, kan?”

Alden tertawa lebar. “Enggak lah, Pa. mana mungkin aku ada apa-apa sama dia, dia kan hanya pelayan di rumah ini.”

“Papa nggak pernah membedakan orang dari statusnya. Papa hanya nggak mau kalau kamu menaruh hati dengan perempuan yang sudah menjadi milik orang.”

Tubuh Alden kaku seketika. “Milik orang? Maksudnya?”

“Naura sudah punya tunangan, jadi lebih baik, kamu jangan terlalu dekat dengannya.” Dan Alden hanya bisa mematung setelah mendengar apa yang di ucapkan ayahnya. Tunangan? Bagaimana mungkin perempuan itu sudah memiliki tunangan?

***

Entah sudah berapa lama, Alden menatap rumah sederhana itu dari dalam mobilnya. Ia ingin turun dan bertamu ke rumah Naura, tapi entah kenapa perkataan ayahnya tadi seakan menghantuinya.

Naura sudah memiliki tunangan, dan mungkin saja perempuan itu sudah bahagia dengan tunangannya. Tapi jujur saja, Alden tidak suka menerima kenyataan itu.

Alden menghela napas panjang sebelum kemudian ia memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri rumah Naura. Persetan dengan status Naura, persetan dengan perempuan itu yang mungkin saja sudah bahagia dengan kekasihnya. Nyatanya, ia adalah lelaki pertama dari perempuan tersebut dan ia kembali karena ingin menagih haknya.

Alden mengetuk pintu di hadapannya berkali-kali, tapi si pemilik pintu tak kunjung membukanya. Akhirnya Alden mengetuknya lebih keras lagi, dan tak berapa lama, pintu di buka dari dalam mendapati Naura yang yang sudah berdiri di balik pintu dengan wajah terkejutnya.

“Tuan-”

Naura tak dapat melanjutkan kalimatnya saat tubuhnya sudah di dorong masuk ke dalam oleh Alden. Dengan segera Alden menutup pintu di belakangnya kemudian mengimpit tubuh Naura diantara dinding.

“A-apa yang kamu lakukan?”

“Jadi, kamu berani menolak permintaanku? Berani membantahku, Na?”

Naura tidak menjawab, ia memilih menolehkan kepalanya ke samping ketika Alden menatapnya dengan tatapan mata membaranya. Jemari Alden meraih dagu Naura, menolehkan wajah naura dengan paksa ke arahnya. Lalu jemari itu menelusuri sepanjang garis pipi Naura dengan gerakan menggoda hingga yang bisa Naura lakukan hanya memejamkan matanya sembari menahan napasnya karena kedekatan yang begitu intim antara ia dengan Alden.

“Kamu masih seindah dulu, Na. Dan aku sangat menyukainya.” Lalu tanpa banyak bicara lagi, Alden segera menyambar bibir ranum Naura, bibir yang selalu membayanginya selama enam tahun terakhir. Oh, rasanya masih sama, bahkan Alden merasakan jika bibir tersebut lebih padat dan berisi dari sebelumnya. Nauranya yang dulu masih sama, tapi sedikit berubah, dan perubahan tersebut membuat Alden semakin mengingingkan wanita tersebut.

-TBC-

 

Spoiler part 2

 

Kamu masih milikku, bahkan ketika aku meninggalkanmu.”

Naura hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin, Alden masih memikirkan tentang masa lalu mereka. Masalalu yang hanya seperti impian bagi dirinya.

“Aku akan mencari tahu siapa pria sialan itu.”

Naura tersentak dengan ucapan Alden. “Untuk apa?”

“Aku akan memberikan pelajaran padanya, karena dia sudah berani melamar istriku.”

Tidak!

 

8 thoughts on “Secret Wife – Chapter 1 (Masih Seindah dulu)”

  1. Kake na alden masih hidup kan bu ?
    entar ql alden nikah kake ma om na harus d hadir kan yaa bu , ma sahabat” kake na juga , biar kita biza reunian …
    sifat alden ga jauh dari bapa na , tapi tengil na mirip ma om na , mereka mang keluarga pnakluk perempuan dan suka memaksa 😂😂😂😂

    pntes az judul na istri rahasia , ternyata mereka punya hubungan terlarang toh , seru tu ql sampe dirga tau .

    semangat bu ditunggu part 2 na , semoga ga sampe taun depan yaa .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s